Monday, 31 December 2018

Menutup 2018

Di pertengahan tahun 2018, saya memulai suatu proyek rahasia. Sebenarnya proyek ini bukan baru banget, karena beberapa kali sebelumnya sudah pernah saya lakukan—cuma ya memang kurang intens saja hehe. Nama proyeknya adalah “Posting Pencapaian Kamu Hari Ini”. Instagram adalah media yang saya pilih. Makanya, kalau kalian follow akun IG saya, kelihatan kalau saya akhir-akhir ini rajin upload. Tipikal anak yang suka ngebut di akhir deadline.

Proyek ini terinspirasi dari #The100DaysProject yang digagas oleh Elle Luna dan Lindsey Jean Thompson. Mereka lebih ke seni lukis gitu. Nah karena saya nggak menekuni seni lukis, maka saya pilih Pencapaian saja. Anything, lah. Dan kenapa saya nggak ikut sekalian 100 hari intens? Karena saya nggak se-masokis itu sama diri sendiri LOL. Saya cukup tahu sama kapasitas diri, sejauh mana saya bisa maksa diri untuk melakukan sesuatu. Sebagai gantinya, saya tetapkan waktu selesainya di akhir tahun 2018.

Tujuan sebenarnya dari proyek ini tentu bukanlah buat pamer. Saya cukup sadar kalau followers saya sangat sedikit. Lagian, pencapaian saya bukan sesuatu yang WAH banget. Saya hanya ingin membuktikan sama diri sendiri, “Ini lho…kamu bisa berkarya. Minggu lalu, dua hari lalu, dan kemarin, kamu sudah sukses berkarya. Jangan potong rantai progress kamu hari ini!” 


Mungkin belum banyak yang tahu ya, tapi sejak pertengahan tahun 2018, saya mengalami kejadian yang sangat membuat terpukul. Semua semangat dalam hidup berasa tercabut sampai ke akarnya. Sulit sekali untuk memulai hari, padahal bagi saya pagi adalah cerminan kinerja saya sepanjang hari. Ketika pagi loyo, bisa ditebak seharian bakal males-malesan. Hasilnya? Berminggu-minggu saya cuma ngendon di kamar sambil meratapi nasib. Hingga akhirnya saya berpikir, enough is enough. Saya nggak bisa membuang waktu yang sangat berharga ini… di periode yang paling penting pada masa S2 ini… dengan berlarut dalam kesedihan. Hence, I started this awesome project.


Saya baru sadar saya itu jenius ketika saya memilih tema Pencapaian ini. Begini… untuk bisa mencapai sesuatu, kita biasanya memulai hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Untuk memulai itu, diperlukan rasa percaya diri dan bekal riset yang banyak (saya bukan tipe yang asal nyemplung ketika mau melakukan suatu hal). Dengan kata lain, beberapa bulan ini secara intens saya telah memaksa diri saya sendiri untuk keluar dari zona nyaman. Saya nggak cuma bangkit dari keterpurukan. Saya berlatih untuk maju ke depan.

Dan tahu nggak dari semua pencapaian, apa yang paling saya tekuni? Memasak.

Kenapa memasak? Karena saya lemah di bidang ini. Saya itu tipe yang nggak bisa sedep kalau masak. Kalau baca resep dan nemu kata-kata “garam secukupnya” atau “sesuai selera”, pasti langsung mutung. Saya juga kalau nyuguhi teh ke tamu itu pasti kalau enggak kelewat manis ya kelewat sepet. Pokoknya selalu ada sensasi kayak ada yang ninggal di tenggorokan gitu lah. Dengan adanya proyek ini, saya bertekad untuk belajar habis-habisan tentang teknik memasak. Untung ya sudah banyak banget media berbagi di internet, dari mulai Cookpad hingga Youtube. Kalau kuota lagi cekak, buka Cookpad. Kalau lagi di kos temen atau kafe yang wifi-nya kenceng, langsung borong download tutorial masak di Youtube. Sifat oportunis saya beneran keluar maksimal demi bikin proyek ini sukses (PS: bisa dilihat kemajuan saya di bidang per-teh-an di postingan ini).


Saya cukup bangga di penghujung tahun 2018 (akhir periode yang saya tentukan), saya masih konsisten untuk melakukan proyek Posting Pencapaian. Memang kalau bagi yang follow saya, cukup bikin kesel ya kok banyak foto masakan berterbaran. I know this is not what you signed up for when you clicked that Follow button. Tapi percayalah, saya nggak berharap like dari kalian kok. Saya juga nggak sedih kalau kalian nge-skip fotonya. Saya hanya butuh media untuk terus memotivasi. Dan sejauh ini, Instagram works wonder! Jadi saya mohon, abaikan saja kalau ada foto masakan saya nampang. 

Dari kolase di Instagram, saya bisa melihat secara nyata betapa banyak progress yang saya alami. Yang kelihatan di sana mungkin cuma “Wah, Sany bisa bikin banyak masakan juga ya.” Tapi dari lubuk hati terdalam, diri saya yang pertengahan tahun lalu lembek macam kentang tumbuk sadar, kalau 6 bulan ini saya belajar banyak pengetahuan soal bahan dan teknik masak, beli investasi berbagai alat masak dan bumbu-bumbu yang belum pernah dipakai sebelumnya, serta interaksi sama banyak ahli masakmulai dari Ibu temen sampai para Ibu-ibu hits pemilik akun masak saya ajak ngobrol. I did something beside crying. I did a lot of things, actually. Dan itulah tujuan sesungguhnya dari proyek ini. Untuk menyadarkan diri kalau saya bisa survive melewati tragedi besar dalam hidup melalui hal-hal kecil nan positif yang saya lakukan untuk diri sendiri. I cooked at my sad days, I cooked at my happy days, and I ordered GoFood on my stressful-thesis-deadline days. I always made sure my belly is full with delicious goodness, no matter how shattered my heart was. That was how I supported my own self.


Tentu ada yang dikorbankan. Karena waktu senggang teralihkan untuk nonton video tutorial dan baca artikel self-help di Medium (because, you know, I needed help), proyek baca saya jadi keteteran. Goodreads nggak ke-update, blog nggak keurus, novel baru yang tahun lalu ditunggu-tunggu rilis pun nggak kepegang. Tapi itu yang dinamakan hidup ya…kita bertumbuh dan berprogres. Penurunan angka baca di Goodreads tidak mempresentasikan penurunan kualitas hidup saya. Bahkan, banyak yang merasa tahun ini saya mengalami peningkatan kualitas hidup yang super pesat. Saya jadi tahu bagaimana rasanya dikhianati, saya jadi tahu siapa yang teman siapa yang hilang, saya jadi bisa mengenal diri sendiri secara lebih mendalam, dan yang paling penting…saya tahu saya bisa bangkit ketika dibuat jatuh. 2018 grows me through pains and struggles, and for that I’m forevel grateful.

Terima kasih 2018 buat pembelajaran yang sangat berharga. Saya siap menyambut 2019 dengan proyek-proyek hebat berikutnya.

Friday, 28 December 2018

[Review Singkat] Turtles All the Way Down


Target baca novel tahun ini keteteran banget. Saya cuma sempat baca beberapa. Apa aja-nya sih...saya lupa (RIP akun Goodreads yang nggak pernah diperbarui). Makanya, untuk mengobati rasa bersalah di penghujung tahun ini, kemarin saya baca novelnya John Green yang paling anyar... Turtles All the Way Down (TATWD). Saya sengaja pilih ini karena John Green adalah penulis favorit putri Bill Gates, Phoebe. Novel ini masuk dalam rekomendasi tahunan Bill Gates di websitenya, gatesnotes.com tahun lalu. Dan karena saya sudah bertekad mau mengikuti jejak baca Bill Gates, saya pikir, why not

"I've read a couple of John's books and enjoyed each one, and his latest is no exception. Turtles All the Way Down tells a story of Aza Holmes, a high school student from Indianapolis. When a local billionaire goes missing and a $100,000 reward is offered for information about his disappearance, she and her best friend decide to track him down."

Lucu mungkin ya bagi Bill Gates membaca buku tentang perasaan anak seorang milyuner yang hidup dalam bayang-bayang identitas ayahnya. Bahkan dia sempat bercanda, "While I hope I'm nothing like the morally bankrupt Russellhe wants to give all of his money to his pet lizard and was under investigation for fraud and bribery—I think my own kids can relate to some of Davis' experiences." Jadi makin semangat deh untuk membaca novel ini; untuk tahu gimana rasanya jadi Phoebe Gates. OK.

Permulaan cerita berjalan mulus. Bahkan saya sempat tertawa berkali-kali. Humor cerdas khas John Green terasa kental sekali dalam tokoh Aza. Tapi, semakin lama, alurnya mulai melambat. Deskripsi John Green tentang OCD yang dialami Aza juga mulai membuat saya nggak nyaman karena? Saya sedikit bisa relate

Tapi overall, saya cukup menikmati novel ini sebagai selingan segar di antara banyak biografi dan buku psikologi yang saya baca tahun ini. Tidak se-memorable Looking for Alaska, I might say. Cuma saya sangat menghargai karya TATWD lebih pada…novel ini merupakan bukti nyata kesuksesan John Green untuk keluar dari bayang-bayang kespektakuleran The Fault in Our Stars. Terus berkarya, Mr. Green!


Saya membaca novel ini dalam dua format: ebook dan audiobook. Menurut saya narator audiobooknya bagus. Cuma ya nggak yang spektakuler gitu. Kadang saya bosan sama cara dia membawakan cerita. Tapi, karena saya akhir-akhir ini lagi hobi jadi bibik (nyuci piring, ngelap kaca, ngepel), versi audiobook ini sangat membantu saya biar kerjanya nggak sambil bengong. Paling nggak bisa saya kalau otak nganggur. Bisa ngelantur kemana-mana nanti. Jadi ya, saya cukup merekomendasikan versi audiobooknya. 

Thursday, 13 December 2018

India dari Sudut Pandang The Economist

Minggu ini saya tergugah dengan salah satu artikel dari The Economist. Dari semua isu penting yang dibahas (Brexit, Presiden Perancis vs Yellow Vest, USA, satelit, dan lain-lain), saya justru penasaran dengan pembahasan singkat tentang masalah yang sedang dialami India. 

Ok u got my attention, sir.

Yep, India sedang menderita karena polusi.

Saturday, 1 December 2018

Serba-serbi Teh

“Tea is more delicate than coffee, infinitely more interesting than water, healthier and more subtle than soda. It is the perfect beverage—one that can be drunk frequently and in great quantities with pleasure and without guilt.”

Salah satu teman setia saya ketika membaca buku, menulis jurnal, atau mengerjakan tesis adalah teh. Seringnya kopi sih, tapi saya akan menyeduh teh ketika dosis kopi yang masuk ke badan sudah overload. Teh yang pertama kali saya konsumsi itu suatu merek teh celup punya Bapak yang astaga super sepat dan meninggalkan rasa tidak nyaman di tenggorokan ketika ditelan. Apa yang bisa dinikmati dari minuman seperti ini?

[Spoiler: bukan tehnya yang nggak enak, sayaahh yang bikinnya ngawur]

Namun, pertanyaan besar itulah yang akhirnya membuat saya melakukan riset SUPER MENDALAM tentang teh. Saya baca buku yang khusus membahas teh, nonton video-video di Youtube tentang teh, hingga menumbuhkan kebiasaan untuk berdiri lama sekali di rak bagian teh ketika pergi ke supermarket hanya untuk melihat dan memegang macam-macam teh yang mereka jual. Am I competent or just weird?