Showing posts with label 2 stars. Show all posts
Showing posts with label 2 stars. Show all posts

Monday, 18 February 2019

[Review Buku] 99 Percent Mine oleh Sally Thorne

We’re all shareholders in Tom Valeska: Jamie, Megan, and me. His mom and my parents. Loretta and Patty. Everyone who’s ever met him wants a piece of him, because he’s the best person there is. I quickly count up all of those people. I include his dentist and doctor. Maybe he’s only 1 percent mine. That has to be enough. I have to share.

Ini dia buku baru dari Sally Thorne yang lagi dipuji-puji banyak booktuber akhir-akhir ini. Karena saya suka The Hating Game—novel  debut dia—makanya saya coba baca 99 Percent Mine. Am I liking it as much as The Hating Game? Surprisingly, no.

Mari kita ulas.

Saturday, 24 December 2016

[Review Buku] Tone Deaf oleh Olivia Rivers

Tone Deaf
penulis Olivia Rivers
288 halaman, Young Adult (YA)/ Romance
Rating: 
Dipublikasikan 3 Mei 2016 oleh Sky Pony Press

Ali Collins was a child prodigy destined to become one of the greatest musicians of the twenty-first century—until she was diagnosed with a life-changing brain tumor. Now, at seventeen, Ali lives in a soundless world where she gets by with American Sign Language and lip-reading. She’s a constant disappointment to her father, a retired cop fighting his own demons, and the bruises are getting harder to hide.
When Ali accidentally wins a backstage tour with the chart-topping band Tone Deaf, she’s swept back into the world of music. Jace Beckett, the nineteen-year-old lead singer of the band, has a reputation. He’s a jerk and a player, and Ali wants nothing to do with him. But there’s more to Jace than the tabloids let on. When Jace notices Ali’s bruises and offers to help her escape to New York, Ali can’t turn down the chance at freedom and a fresh start. Soon she’s traveling cross-country, hidden away in Jace’s RV as the band finishes their nationwide tour. With the help of Jace, Ali sets out to reboot her life and rediscover the music she once loved.

Tone Deaf, adalah novel yang saya pilih murni dikarenakan sampulnya yang cantik. Nah, buat kalian yang tertarik juga untuk membacanya….. mungkin harus saya ingatkan lebih dulu ya, kalau di balik sampulnya yang bagus, novel ini memiliki cukup banyak triggers yang lebih baik dihindari oleh pembaca yang sensitif terhadap beberapa isu, antara lain: mental illness (PTSD), child abuse, LGBT (dalam novel ini masuk pada kategori gay), death, addiction, dan depression.  

Tuesday, 6 December 2016

[Review Buku] Royally Screwed oleh Emma Chase

Royally Screwed (Royally #1)
penulis Emma Chase
276 halaman, New Adult (NA)/ Romance
Rating: 
Dipublikasikan 18 Oktober 2016 oleh Emma Chase LLC

Nicholas Arthur Frederick Edward Pembrook, Crowned Prince of Wessco, aka His Royal Hotness, is wickedly charming, devastatingly handsome, and unabashedly arrogant; hard not to be when people are constantly bowing down to you. 
Then, one snowy night in Manhattan, the prince meets a dark haired beauty who doesn't bow down. Instead, she throws a pie in his face.
Nicholas wants to find out if she tastes as good as her pie, and this heir apparent is used to getting what he wants. 
Dating a prince isn't what waitress Olivia Hammond ever imagined it would be.
There's a disapproving queen, a wildly inappropriate spare heir, relentless paparazzi, and brutal public scrutiny. While they've traded in horse drawn carriages for Rolls Royces, and haven't chopped anyone's head off lately, the royals are far from accepting of this commoner. 
But to Olivia, Nicholas is worth it.
Nicholas grew up with the whole world watching, and now Marriage Watch is in full force. In the end, Nicholas has to decide who he is and, more importantly, who he wants to be: a King... or the man who gets to love Olivia forever.

Nama Emma Chase sepertinya sudah tidak asing lagi buat para pembaca romance di Indonesia, terutama setelah novel debutnya, seri Tangled, diterjemahkan oleh Penerbit Gagas Media. Selain seri Tangled, Emma Chase juga sudah merampungkan seri Legal Brief, berisi 3 novel yang sama-sama witty, sexy, and sensually written. Royally Screwed sendiri merupakan novel terbaru beliau, yang mengusung tema mengenai *guess it* kerajaan. Sampai di titik ini, pembaca setia Emma Chase sudah bejibun, karena memang Emma Chase punya tangan “ajaib” untuk menciptakan cerita yang unik nan bikin nagih. Percaya atau tidak, kebanyakan fans setia Emma Chase muncul sejak ia menerbitkan novel debutnya lho, suatu pencapaian yang terbilang istimewa untuk seorang penulis yang awalnya bukanlah siapa-siapa. Tapi, sekarang, siapa coba yang nggak gemes sama tingkah Drew Evans dan si kecil James Evans? We’re all wanted to be adored by them, and we’re all wanted to be Kate Brooks.

Tuesday, 13 September 2016

[Review Buku] Famous in Love oleh Rebecca Serle

Famous in Love (Famous in Love #1)
penulis Rebecca Serle
309 halaman, YA (Young Adult)
Rating: 
Dipublikasikan 23 Oktober 2014 oleh Macmillan Children’s Book

Halo. Bisa menyempatkan waktu juga untuk mengurus blog lagi. Vakum lebih dari sebulan ini bukan berarti saya libur baca buku, lho. Malah, saya cukup berbangga diri karena sudah menamatkan lima—iya, LIMA!!!—buku Game of Thrones yang tebelnya kayak ganjel roda truk itu. Tapi, saya nggak siap buat mereview mereka hahah karena selain sudah tercampur aduk antara kisah-kisah di tiap bukunya, saya takut kalau nantinya review-review itu malah memberikan banyak spoiler. Makanya, saya review buku terakhir yang saya tamatkan saja ya…

Saturday, 2 July 2016

[Review Buku] Written in the Stars oleh Aisha Saeed

Written in the Stars
penulis Aisha Saeed
277 halaman, Young Adult
Rating: 
Dipublikasikan 24 Maret 2015 oleh Nancy Paulsen Books

Ini adalah kali kedua saya mencoba menulis review untuk novel Written in the Stars. Soalnya yang pertama penuh dengan caci maki jadi nggak begitu pas untuk di-publish. Hmm mari kita coba sekali lagi.

Saturday, 21 May 2016

[Review Buku] Girl Online oleh Zoe Sugg

Girl Online (Girl Online #1)
penulis Zoe Sugg
352 halaman, YA/ Bullying
Rating: 
Dipublikasikan 25 November 2014 oleh Atria/ Keyword Press


Girl online, going offline xxx

Banyak yang belum familiar sama nama Zoe Sugg. Tapi kalau sama Zoella pasti tahu, kan? Yaaaaa minimal pernah dengar sekilas gitu deh. Kalau ada yang belum tahu juga, Zoella itu seorang YouTuber terkenal, fokusnya sih ke bidang beauty dan vlog. Subscribernya udah berjuta-juta, karena tema video yang dia upload selalu menarik, kreatif, girl-ish, daaaaan siapa sih yang nggak emesh sama aksen Britishnya itoh?


Nah, Zoella merupakan salah satu dari beberapa Youtubers beken yang diberi kesempatan untuk menerbitkan bukunya sendiri. Awalnya saya kira Girl Online ini merupakan sebuah biografi seorang Zoella, tapi ternyata saya salah. Girl Online adalah novel fiksi mengenai seorang anonymous blogger Girl Online, Penny Porter.


Monday, 29 February 2016

[Review Buku] Suicide Notes from Beautiful Girls oleh Lynn Weingarten

Suicide Notes from Beautiful Girls
penulis Lynn Weingarten
336 halaman, YA/ Suicide/ Mystery
Rating: 
Dipublikasikan 2 Juli 2015 oleh Simon Pulse

Sudah cukup lama saya menamatkan novel ini. Cuma ya baru sekarang sempat buat reviewnya. Kalau bisa jujur sih novel dari Lynn Weingarten ini awalnya tidak menarik perhatian saya karena desain sampulnya yang kelewat sederhana. Korek yang hangus? Apa coba maksudnya? #TEAMSUKANYINYIRDULUANKALOADACOVERJELEK. Ditambah lagi saya asing banget sama nama penulisnya, belum pernah dengar sama sekali.

Tapi kepalang tanggung sudah terlanjur terbaca beberapa halaman, akhirnya saya lanjutkan. Dan ternyata saya sangat menikmati buku ini, yang kemudian membuat saya mempertanyakan kewarasan mental saya. Karena bisa dibilang novel ini bercerita tentang sekumpulan cewek psycho. Dan saya menyukainya! WAIT, WHAT!!


Monday, 16 March 2015

[Book Review] Confess by Colleen Hoover

Confess
penulis Colleen Hoover
320 halaman, New Adult/ Contemporary Romance
Rating: 
Dipublikasikan 10 Maret 2015 oleh Atria Books

SINOPSIS:
Auburn Reed has her entire life mapped out. Her goals are in sight and there’s no room for mistakes. But when she walks into a Dallas art studio in search of a job, she doesn’t expect to find a deep attraction to the enigmatic artist who works there, Owen Gentry.

For once, Auburn takes a risk and puts her heart in control, only to discover Owen is keeping major secrets from coming out. The magnitude of his past threatens to destroy everything important to Auburn, and the only way to get her life back on track is to cut Owen out of it.

The last thing Owen wants is to lose Auburn, but he can’t seem to convince her that truth is sometimes a subjective as art. All he would have to do to save their relationship is confess. But in this case, the confession can be much more destructive than the actual sin…


REVIEW:

Auburn kesulitan mencari uang untuk membayar jasa seorang pengacara. Pekerjaan utamanya sebagai karyawan salon tidak bisa menutup besarnya biaya yang ia butuhkan. Di usianya yang ke-21, hidupnya berantakan karena dia terlalu banyak mengambil keputusan yang salah di hidupnya. Setiap hari ia hanya menangisi nasib buruknya dan berharap keajaiban akan datang dan menyelamatkannya.

Keajaiban akhirnya datang dalam bentuk tanda HELP WANTED, Knock to Apply di sebuah bangunan yang selalu ia lewati ketika berangkat dan pulang bekerja.


Awalnya Auburn sangsi, karena Owen, sang pemilik bangunan yang ternyata juga merupakan studio itu bersedia membayar $100 per jamnya. What kind of weirdo does that? Apa pekerjaan yang sebenarnya ditawarkan oleh Owen? Pertanyaan itu terjawab ketika Auburn memasuki studio milik Owen yang ternyata, akan dibuka untuk pameran kurang satu jam lagi. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di studio tersebut, Auburn langsung terpesona dengan lukisan-lukisan yang ada di sana. Bukan hanya karena lukisan-lukisan tersebut luar biasa indah (beberapa gambar lukisan dilampirkan dalam buku ini), tapi karena setiap lukisan diwakili oleh secarik kertas Pengakuan a.k.a Confess. Tiap harinya, orang-orang menuliskan Pengakuan di secarik kertas kecil dan memasukannya ke selot pintu studio Owen, yang kemudian akan dijadikan inspirasi olehnya dalam melukis. Pengakuan-pengakuan itulah yang membuat tiap lukisan begitu indah, jujur, dan menuntut untuk didengar (ok well, dibaca… atau dilihat, you know what I mean). Berbagai emosi langsung berkecamuk dalam diri Auburn ketika melihat dan membaca Pengakuan di tiap-tiap lukisan yang ada di sana.

Di luar segala prasangka yang Auburn punya, dia ternyata menikmati pekerjaan barunya sebagai asisten Owen dalam melayani pengunjung pameran. Ditambah, uang yang ia hasilkan cukup untuk menumbuhkan kembali harapannya dalam menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi.

Namun pertemuannya dengan Owen menyeretnya dalam masalah yang lebih besar. Masalah yang mengancamnya untuk kehilangan orang yang selama ini susah payah ia perjuangkan.

Source

Saya sudah baca beberapa novel Colleen Hoover, namun belum semua. Hal ini mungkin sudah cukup saya jadikan bukti bahwa saya berpendapat CoHo memakai formula yang nyaris sama di novel-novelnya. Kalau di Confess ini, mungkin bedanya ada di ketiadaan puisi yang selama ini setia muncul di beberapa judul… setahu saya sih yang pakai puisi itu Slammed, Point of Retreat, This Girl, dan Ugly Love. Plot cerita, kondisi emosi tokoh (dalam artian apa yang saya rasakan ketika membaca narasi dari tokoh-tokohnya), gaya penulisan…. sama. Bisa dibilang ini membuat CoHo memiliki gaya yang khas di mata saya dibanding penulis lain, namun di sisi lain saya juga mulai bosan ketika ia membahas hal itu lagi, itu lagi. Pakai cara yang begitu lagi, begitu lagi.


Yang jadi masalah adalah Confess diceritakan bergantian dari sudut pandang Auburn dan Owen. Kemotonan pada gaya penulisan menyebabkan baik suara Auburn dan suara Owen bagi saya sama. Terlebih, si Owen ini makin kesini makin mirip sama Will Cooper-nya Slammed Series. Duh, jeng. Aku kudu piye. Seharusnya diceritakan dari salah satu tokoh aja cukup lah, daripada jadinya kayak gini.

Dan duh, kemana perginya CoHo yang dulu sering bikin hancur perasaan saya? Jalan cerita Confess ini jauuuuuh banget dari ekspektasi yang saya pasang. Hambar, terlalu banyak drama, dan bikin pusing saking capeknya saya rolled eyes rolled eyes mulu. Karena ketika masalah datang, yang seharusnya kamu lakuin adalah berpikir dan cari solusi biar masalahnya cepetan selesai. Bukannya malah flashback ke masa lalu dan sibuk nyusun kata-kata puitis.

Untungnya Confess ini lumayan asyik juga buat ngabisin waktu, daripada bengong. Dan syukur deh sukses menarik saya dari book hangover yang akhir-akhir ini lagi melanda. Apalagi banyak gambar lukisan keren yang ada di beberapa bagian buku. Oooookay, I guess. 

Kesimpulannya….. Confess ini enggak sekacrut Ugly Love. Tapi tetep aja, tidak memenuhi harapan saya sebagai penggemar lama CoHo. Jadi dua bintang cukup lah, atas nama masa lalu, ok?


Some secrets should never turn into confessions. I know that better than anyone.


Novel ini saya rekomendasikan buat yang belum pernah baca karya Colleen Hoover sebelumnya. Kalau sudah pernah, yaudah berarti jangan hahaha.