Wednesday, 14 August 2019

[Review Buku] The Tattooist of Auschwitz oleh Heather Morris


The Tattooist of Auschwitz adalah salah satu rekomendasi Bill Gates periode musim panas 2019, dan saya tidak menyukainya.

Akar permasalahan dari ketidakcocokan saya dengan The Tattoist of Auschwitz adalah format awalnya yang berbentuk screenplay. Pengembangan yang dilakukan penulis hingga bisa menjadi sebuah novel menurut saya sangat bare minimum karena ketika dibaca, narasinya terasa singkat, padat, dan jelas. Tentu ini bisa jadi poin positif bagi pembaca yang masih belajar Bahasa Inggris atau mencari bacaan ringan. Tetapi bagi pembaca yang serius ingin mendalami kisah Holokaus, world building yang seadanya membuat sulit untuk membayangkan kengerian yang dialami penghuni kamp konsentrasi Auschwitz, Birkenau. Terlebih, ketika membaca novel ini saya baru saja menamatkan The Great Alone yang memiliki deskripsi sangat apik. Jadi memang terasa anjlok sekali ketika baca The Tattoist of Auschwitz.


Hal lain yang membuat saya tidak semangat membaca buku ini adalah fakta bahwa novel ini diangkat dari kisah nyata Lale Sokolov. Sang penulis mendengarkan kisahnya langsung dari Lale, untuk kemudian di-cross check ulang dengan arsip sejarah yang ada. Mungkin ya, saya bakal bisa lebih hormat sama Lale kalau dia tidak mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seseorang yang saking karismatiknya, secara tidak sadar orang-orang bisa tertarik untuk mendengarkan dan menuruti apa yang dia katakan (how proud you can be to be able to describe yourself as charming and charismatic???). Rasanya penulis terlalu berfokus sama Lale dan apa yang ia pikirkan sehingga detail-detail penting yang seharusnya dibahas secara lebih dalam jadi luput dari perhatian pembaca. Salah satu contohnya adalah karakter Herr Doktor Josef Mengele. Penggambaran karakter Josef Mengele menurut saya cuma setengah-setengah sehingga saya tidak cukup penasaran buat (setidaknya) googling sekejam apa dia di dunia nyata (karena di novelnya penceritaannya nanggung). Saya baru ngeh kalau dia itu benar-benar jahanam ketika baca memoir Morgue: A Life in Death meskipun kemunculan Josef Mengele di situ jauh lebih sedikit dari di The Tattoist of Auschwitz. Ironis, ya. Awalnya malah saya nggak sadar kalau Mengele yang dimaksud di Morgue adalah Mengele yang sama di The Tattoist of Auschwitz, saking tidak terkesan apa-apa sama penceritaan di The Tattoist of Auschwitz.

Karakter Lale yang tidak humble (tetapi ingin dianggap humble dan karismatik) membuat saya sulit untuk mengapresiasi hal-hal positif tentangnya, bahkan sejak awal cerita. Misalnya nih, penguasaan bahasa yang ia miliki (Slowakia, Jerman, Rusia, Perancis, Hungaria, dan sedikit Polandia). Sebagai seorang penerjemah, kesan saya soal kemampuan Lale tentu sangat dalam. Apalagi ketika mengetahui kalau kemampuan bahasa Lale memungkinkan dia untuk bekerja sebagai tätowierer, sebuah jabatan dengan berbagai privilege dan benar-benar menyelamatkannya dari ancaman yang berkali-kali datang. Wow, kan. Harusnya. Melalui jabatannya itu, Lale memang berhasil menyelamatkan banyak orang, termasuk dirinya sendiri. Tetapi dia juga membuat banyak orang celaka. Saya sudah berusaha untuk berpemikiran terbuka dalam menghadapi novel ini, namun tetap kecewa hingga akhir cerita.

Mengenai kisah cinta antara Lale dan Gita, ugh I feel so bad for saying this… tapi jujur saja saya bingung menghadapi mereka. Sejak kenal Gita, Lale yang tidak begitu profesional jadi semakin tidak profesional. Gemas sekali membaca saat-saat ketika Lale (dan orang-orang dekatnya!) hampir celaka hanya karena mereka tidak bisa menahan nafsu. Gita juga tidak digambarkan secara memorable sehingga saya selalu bertanya-tanya ini orang apa spesialnya sih kok sampai rela nekat ini itu demi bisa bertemu dan bertemu. Apa tidak sadar jika nyawa saudara-saudara sekalian terancam setiap waktu, hmm? Sempat-sempatnya. And don't let me start with Lale's cheesy pickup lines. A tragedy.


Kesimpulannya, tidak ada—saya ulang, tidak ada!—manfaat yang bisa saya ambil ketika menamatkan novel ini. Cuma menambah emosi dan mengurangi saldo rekening. Padahal, saya termasuk orang yang oportunis dan selalu berusaha mengambil manfaat dan pelajaran dari apa yang saya alami maupun konsumsi. Setamatnya novel ini, saya tidak dapat pengetahuan baru mengenai Holokaus. Saya juga tidak bisa mengambil pelajaran berharga apapun dari kisah Lale dan Gita. Terus, belum ada semingguan, sebagian besar cerita sudah terhapus dari memori. Dan yang paling bikin bete lahir batin nih, novel ini membuat saya kena reading block! Ya nasib. Untung waktu itu beli novelnya pas ada diskon lumayan banyak (dari Rp 243.000 jadi Rp 111.000), jadi emosi yang kerasa juga jadi agak kediskon.

Saturday, 10 August 2019

[Review Buku] The Great Alone oleh Kristin Hannah


Di Bulan Agustus ini, saya mulai menjalankan resolusi untuk membaca historical fiction, genre yang rupanya masih jarang sekali terpegang. Buku yang pertama saya pilih adalah The Great Alone yang memenangkan Goodreads Choice Awards 2018 kategori The Best Histofical Fiction. Saya benar-benar memulai buku ini tanpa membaca sinopsis atau ulasan tentangnya terlebih dahulu, agar kesan ke cerita yang ditawarkan benar-benar orisinil. Saya rasa, ini adalah pendekatan yang paling tepat ketika ingin membaca fiksi.

The Great Alone menceritakan tentang kehidupan keluarga Allbright yang harus berpindah-pindah mengikuti kondisi sang ayah, Ernt Allbright, yang menderita PTSD sepulangnya dari perang Vietnam. Pada suatu ketika, Ernt menerima surat dari ayah Bo Harlan—sahabatnya yang meninggal dalam penyanderaan bersama Ernt—yang menyatakan bahwa Bo mewariskan tanah dan rumah yang ia miliki di Kaneq, Alaska, kepadanya. Ernt memandang wasiat Bo sebagai tiket emas untuk memulai kehidupan baru, sehingga keluarga Allbright akhirnya menjual segala yang mereka punya untuk pindah ke Kaneq.

Someone said to me once that Alaska didn’t create character; it revealed it.

Karena cerita ini terjadi di tahun 1970-an, tentu Alaska yang dituju oleh Allbright masih berbentuk hutan rimba; belum ada listrik dan jalan yang memadai. Terlebih, lahan milik Bo berada di ujung peradaban, jadi ya paling mblusuk. Untungnya, warga Kaneq memiliki kebiasaan saling bantu-membantu, khususnya bagi pendatang baru yang akan mengurus lahan mendiang tetangga kesayangan mereka. Pagi-siang-malam, berhari-hari, mereka gotong royong membersihkan rumah lama Bo agar layak dihuni keluarga Allbright. Mereka juga sangat mewanti-wanti keluarga Allbright untuk mulai menimbun persediaan bahan makanan dan peralatan untuk musim dingin, karena musim dingin di Alaska sangat kejam dan selalu menelan korban.

Sejauh ini, penulis sangat lihai dalam mendeskripsikan keindahan Alaska beserta masyarakat asli Kaneq. Transisi antara kehidupan keluarga Allbright sebelum dan sesudah pindah bisa nampak kontras (dalam imajinasi saya, pergantian antara nuansa warna coklat ke warna hijau ke warna putih kentara sekali). Salah satu contohnya bisa dilihat di paragraf ini:

The season of melting, movement, noise, when the sunlight tenatively came back, shone down on dirty, patchy snow. The world shifted, shrugging off the cold, making sounds like great gears turning. Blocks of ice as big as houses broke free, floated downstream, hitting anything in their way. Trees groaned and fell over as the wet, unstable ground moved beneath them. Snow turned to slush and then to water that collected in every hollow and indentation in the land.

Penulis juga sangat cermat membubuhkan layer pada karakter Ernt dan Cora, sepasang suami istri yang saling mencintai dengan cara yang ekstrim, membuat kita waspada dengan cara mereka menghadapi persoalan yang datang bahkan sejak awal cerita dan cemas akan nasib anak mereka, Leni. Lampu merah peringatan seakan menyala terus, mengindikasikan bahwa kondisi Ernt yang sangat ceria pasca pindah ke Kaneq akan semakin menurun seiring bergantinya musim. Bersama Leni, kita akan ikut terjebak dalam masalah yang ditimbulkan oleh perilaku Ernt dan pasifnya Cora dalam mencegah memburuknya keadaan. 

All this time, Dad had taught Leni how dangerous the outside world was. The truth was that the biggest danger of all was in her own home.

“I can’t,” Mama finally said, and Leni thought they were the saddest, most pathetic words she’d ever heard.

Hubungan antara Ernt dan Cora yang toxic ini mendominasi cerita bagian awal, membuat saya berpikir bahwa novel ini hanya bisa dibaca oleh mereka-mereka yang tidak sedang mengalami depresi.There’s something dark about this book. Meskipun Leni (yang jadi fokus sudut pandang cerita) cukup jeli untuk memilah tindakan orangtuanya yang tidak wajar, setiap ada krisis terjadi…. rasanya terlalu mengerikan untuk dicerna pembaca yang punya sejarah kelam seputar kekerasan dalam rumah tangga maupun korban perilaku manipulatif pasangan.

Seperti yang telah diduga, cerita akan semakin kompleks seiring bergantinya musim. Kesetiaan Cora, rasa sayang Leni, dan kerukunan Kaneq semakin diuji dengan memburuknya kondisi Ernt. Pembaca benar-benar disuguhkan seperti apa rasanya hidup dengan seseorang yang abusif dan manipulatif, membuat saya berpikir novel ini hampir sama dengan It Ends with Us milik Colleen Hoover. Tetapi eksekusinya jelas lebih bagus di The Great Alone, karena sang penulis tahu cara menulis untuk tidak meromantisasi tindakan manipulatif sebagai bentuk cinta. Di The Great Alone, kacamata pembaca rasanya lebih jernih untuk melihat kalau hal seperti itu salah. Kita bisa menunjuk adegan mana saja memunculkan red flag, suatu keterampilan penting untuk mendeteksi dan mencegah masuknya seseorang yang abusif dan manipulatif di hidup kita. Pengalaman saya sama The Great Alone mungkin bisa digambarkan dengan: datang untuk cerita fiktif rekreatif, pulang dengan bekal ilmu kehidupan tambahan. 

Namun pada akhirnya, saya tetap harus kecewa dengan perkembangan karakter Leni. Melihat tindak-tanduk dia di awal cerita, saya kira dia bakal tumbuh menjadi pribadi yang pandai atau minimal, intuitif. Kan dia ceritanya dibesarkan di lingkungan yang menantang, gitu. Rupanya, dia malah jadi karakter yang harus berkali-kali diselamatkan orang lain murni karena dia bodoh (arti: sudah berkali-kali diingatkan dan diberi arahan, eh ujung-ujungnya dilanggar). Saya bisa maklum ketika usia Leni masih belasan; pubertas dan sebagainya memang faktor yang susah dikendalikan. Tetapi ketika dia sudah berusia 25 tahun dan masih terlalu polos hingga akhirnya Large Marge dan kakek Leni harus pakai koneksi mereka untuk menyelamatkan Leni…. ugh girl when are you gonna learn. Untuk karakter-karakter lain macam Cora dan Ernt, saya sejak awal memang tidak mengharapkan perkembangan karakter yang berarti sih, jadi ya saya biasa aja ngelihat mereka jumpalitan kesana-kemari tanpa ada arah perubahan yang jelas. 


Namanya manusia memang tidak baik kalau terlalu berharap.

Kesimpulannya, The Great Alone cocok dibaca buat kalian yang penasaran sama rasanya hidup bersama seseorang yang manipulatif dan abusif. Cukup netral dan edukatif. Oh ya, di sepertiga akhir cerita ada plot twist yang cukup bikin deg-degan loh, pemirsa. Lumayan lah jadi nggak senep gara-gara ketemu Ernt sama Cora mulu. Yang paling berkesan bagi saya sih gaya penulisan Kristin Hannah ya, jadi sepertinya ke depan bakal baca karya lain dari dia (The Nightingale, mungkin?). The Great Alone bisa dibilang merupakan awal yang baik untuk petualangan saya mengeksplor genre historical fiction.

Sunday, 4 August 2019

[Review Buku] Maybe You Should Talk to Someone oleh Lori Gottlieb


Maybe You Should Talk to Someone menambah daftar memoar yang saya tamatkan tahun 2019, kali ini membahas tentang bidang psikoterapi. Seperti apa kehidupan pribadi dan profesional seseorang yang bekerja sebagai psikoterapis? Bagaimana cara dia membangun hubungan dengan pasien? Kesulitan-kesulitan apa saja yang dia hadapi dalam bekerja dan apa yang dia lakukan untuk mengatasinya? Dibahas dengan lengkap di sini. Sang penulis, Lori Gottlieb, memiliki gaya menulis yang sangat mudah diikuti berkat latar belakang pendidikan dan pengalaman pekerjaannya sebelum menjadi seorang psikoterapis. Tema yang dia bahas pun menarik, mengingat tidak semua orang punya privilige atau bersedia untuk berkonsultasi dengan psikoterapis. Maka tidak heran jika memoar ini memuncaki daftar terlaris Amazon dan daftar paling sering dibaca Goodreads selama belasan minggu.

Secara garis besar, Maybe You Should Talk to Someone membahas kehidupan Lori pasca ditinggalkan oleh kekasihnya (dengan alasan yang tidak masuk akal) dan kehidupan Lori sebagai seorang psikoterapis. Banyak pembaca yang bosan dengan kegalauan Lori, tetapi menurut saya, bagian itulah yang membedakan memoar ini dengan memoar bertema psikologi lainnya. Lori dengan jujur menceritakan bahwa dalam perkara menangani sakit hatinya sendiri, ia tidak bisa bertindak profesional dan membutuhkan bantuan orang lain. Teman-teman dalam lingkaran karirnya memiliki pandangan yang saling berlawanan mengenai kondisi Lori. Pada akhirnya, Lori mencari bantuan kepada Wendell, seorang psikoterapis yang benar-benar asing baginya. Karena bagaimanapun, seseorang yang diperlukan Lori adalah yang netral dan tidak memihak siapa-siapa. Dari perjuangan Lori inilah pembaca bisa melihat sisi manusiawi seorang psikoterapis, yang tetap punya insecurity dan bisa tersesat dalam pikiran-pikiran negatif meskipun pekerjaan sehari-hari mereka adalah membantu dan membimbing orang lain melihat masalah secara jernih tanpa ada bias penilaian.

Tidak kalah menarik dengan kisah pribadi Lori adalah kisah pasien-pasien yang ia tangani. Di sini pembaca bisa menilai secakap apa Lori sebagai seorang psikoterapis melalui interaksinya dengan beberapa pasien dengan masalah hidup yang beragam. Keluwesan Lori dalam menulis membuat penceritaan bagian ini menyenangkan untuk diikuti. Tidak heran jika pada akhirnya pembaca jadi punya keterikatan emosional dengan pasien-pasien Lori, mengingat pembaca mengikuti perjalanan mereka dari saat pertama kali berkonsultasi (dengan masalah yang begitu ruwet) hingga sesi terakhir mereka. Hal ini membuat pengalaman membaca Maybe You Should Talk to Someone menjadi lebih personal; kita ikut sedih ketika takdir berbeda dari rencana yang mereka tetapkan, kita ikut bangga ketika mereka mengalami progress yang berarti, dan yang paling penting, kita ikut belajar mengenai cara menghadapi masalah dengan kepala dingin melalui interaksi Lori (sebagai psikoterapis) kepada pasien dan interaksi Wendell kepada Lori (sebagai pasien).

Many people don’t know that Elisabeth Kübler-Ross’s familiar stages of grieving—denial, anger, bargaining, depression, acceptance—were conceived in the context of terminally ill patients learning to accept their own deaths. It wasn’t until decades later that the model came to be used for the grieving process more generally. It’s one thing to “accept” the end of your own life, as Julie is struggling to do. But for those who keep on living, the idea that they should be getting to acceptance might make them feel worse (“I should be past this by now”; “I don’t know why I still cry at random times all these years later”). Besides, how can there be an endpoint to love and loss? Do we even want there to be? The price of loving so deeply is feeling so deeply—but it’s also a gift, the gift of being alive. If we no longer feel, we should be grieving our own deaths.

Namun, tetap ada perasaan mengganjal bagi saya ketika membaca memoar ini, yaitu berkaitan dengan data kerahasiaan pasien. Meskipun Lori sudah mengantongi ijin dari pasien-pasien yang dibahas di sini dan mengganti detail-detail mengenai mereka, rasanya kurang etis untuk menjabarkan secara panjang lebar mengenai aib dan musibah yang sedang mereka alami. Yang paling riskan adalah identitas John, produser acara TV Amerika yang pernah menyabet Emmy. Pengembangan karakternya yang begitu mengagumkan membuat banyak pembaca bertanya-tanya siapa identitas dia sesungguhnya di dunia nyata. Apakah Lori sudah berpikiran cukup jauh untuk mengganti detail penting dalam kehidupan karir John di buku agar tidak mudah terlacak oleh netijen S3 ilmu detektif internet?

Saya juga bertanya-tanya mengenai praktik terapi yang dilakukan Lori dan Wendell. Membaca interaksi dan jenis-jenis pasien yang ditangani, saya merasa bahwa Lori dan Wendell adalah psikoterapis high-end. Dengan jadwal pertemuan rutin (seminggu sekali) dan frekuensi yang cukup banyak, sepertinya tidak semua orang bisa membayar jasa Lori dan Wendell. Asuransi kesehatan yang umum dipakai masyarakat Amerika juga tidak mungkin bisa meng-cover semua tagihannya. Oleh karena itu, muncul pertanyaan: apakah benar kehebatan praktik psikoterapi yang dilakukan Lori dan Wendell adalah standar praktik yang ada? Atau hanya orang-orang kaya saja yang bisa dapat efek seperti itu? Takutnya, mengingat yang diceritakan oleh Lori hanya kisah sukses dan mengharukan, nanti pembaca jadi punya ekspektasi yang kelewat tinggi dan tidak realistis ketika memutuskan untuk mendatangi psikoterapis. Apalagi sudah bayar mahal, kan, bakal sakit hati banget kayaknya kalau ujung-ujungnya gagal/tidak cocok.

Oleh karena itu, saya merasa sangat bingung menghadapi memoar ini. Di satu sisi, saya belajar banyak hal. Tetapi saya cemas apakah manfaat yang saya dapatkan adalah hasil dari mengorbankan kemaslahatan beberapa pihak? Apakah memoar ini menunjukkan kredibilitas Lori sebagai seorang profesional atau malah merusaknya? 

Monday, 29 July 2019

[Review Buku] 1Q84 oleh Haruki Murakami


Di waktu istirahat kerja, saya membaca 1Q84 sebagai selingan dan hiburan. Tidak disangka, saya bisa menamatkan raksasa setebal 1.184 halaman ini. Lebih tidak disangka lagi, saya bisa meluangkan waktu untuk menulis ulasannya. 

1Q84 adalah novel kedua Haruki Murakami yang saya baca setelah Norwegian Wood. Tema yang dipakai adalah Magical Realism, dimana Q pada judul merupakan istilah pembeda yang disematkan sang tokoh utama untuk melabeli dunia aneh yang tidak sengaja dimasukinya: dunia dengan dua buah bulan dan bayang-bayang ancaman The Little People pembuat air chrysalis. Q pada judul juga membedakan novel ini dengan masterpiece George Orwell, 1984, yang tentu sudah memiliki penggemar fanatiknya sendiri.

Novel tebal ini dibagi menjadi 3 buku; terjemahan Indonesia memisahkan tiap bagian dalam 3 buku yang berbeda, sedangkan edisi Bahasa Inggris yang saya baca menggabungkan ketiganya dalam satu buah buku yang berat. Layaknya karya Murakami lainnya, versi Bahasa Inggris diterjemahkan oleh Jay Rubin (buku 1 & 2) dan Philip Gabriel (buku 3). Saya sudah pernah baca terjemahan Jay Rubin di Norwegian Wood dan terjemahan Philip Gabriel di What I Talk About When I Talk About Running, sehingga ekspektasi saya sama peralihan bahasa di 1Q84 cukup besar. 

Fakta mengejutkan yang saya temukan adalah Jay Rubin dan Philip Gabriel menerjemahkan jatah mereka secara mandiri (tidak pakai acara kerja kelompok). Entah karena mereka sudah paham sama gaya Murakami atau karena peran editor yang kerja keras bagai kuda ya, hasil terjemahan keduanya bisa menyatu dengan baik tanpa terlihat terlalu berbeda. Meskipun harus saya akui bagian milik Philip Gabriel sedikit lebih bagus sih, lebih mengalun. Hasil terjemahan Jay Rubin ketika dibaca agak kaku dan kurang bisa menyampaikan unsur magis khas Murakami ke pembaca (saya membandingkan hasil karya dia di sini sama di Norwegian Wood yang menurut saya sangat breath-taking in a way that brings a sense of calmness for the reader). Ada dua kemungkinan hal ini bisa terjadi: (a) Murakami sendiri yang memilih gaya menulis yang berbeda atau (b) gaya menerjemahkan Jay Rubin yang berubah. Apapun itu, saya rasa sangat disayangkan ini terjadi, terutama ketika porsi beliau lebih besar dan tema novelnya memang sengaja ingin melenceng dari realita kehidupan kita. 

Untuk cerita sendiri, saya nggak ingin terlalu mengkritisinya karena novel ini saya baca untuk menghibur diri daripada bengong. Nah, apakah cukup menghibur? Hmm, lumayan adalah jawaban yang paling tepat. Ide ceritanya bagus, tetapi eksekusinya terasa terlalu dipanjang-panjangkan di beberapa titik dan kurang ngegas di titik-titik lainnya. Pertemuan Aomame dan Tengo, misalnya, diulur oleh Murakami macam petualangan Hachi si anak lebah yang ingin bertemu ibunya; alias cerita sudah hampir tamat tapi kok tidak ketemu-ketemu juga. Gumash sendiri saya bacanya. Di sisi lain, penceritaan The Little People hanya muncul sekelebat. The Little People jadi terkesan seperti tokoh yang tidak penting, karena jika mereka dihilangkan (atau diganti sebagai tokoh yang tidak nampak tapi punya kekuatan gaib), sebenarnya tidak bakal ada perbedaan besar dari segi plot. Padahal mereka harusnya jadi poin penting di novel ini, kan? Oleh karena itu, saya rasa novel ini cukup menghibur tapi tidak bisa memaksimalkan potensi ide ceritanya yang sangat menjanjikan.

Untuk karakternya sendiri, Haruki Murakami bisa dibilang punya bakat untuk menciptakan karakter-karakter yang nggak saya suka. Sama kasusnya dengan Toru dan Naoko di Norwegian Wood, saya NGGAK PEDULI sama Aomame dan Tengo. Sangat sulit untuk menikmati jalannya cerita ketika saya nggak bisa bersimpati sama karakter-karakter utama. Setidaknya di Norwegian Wood, saya terhibur dengan deskripsi latar Murakami yang membius—membuat saya seolah-olah masuk ke dalam cerita dan ikut menikmati pergantian musim yang dialami tokoh. Karena 1Q84 lemah dalam hal deskripsi dan urusan bius-membius ini, saya jadi masa bodoh sama tindakan-tindakan mereka. Err, ada dua pengecualian, ding. Yang pertama adalah makanan sederhana yang disiapkan Tengo, bikin saya tertarik buat ganti menu sehari-hari (sayur dan telur rebus? Sesekali protein yang dimasak dengan bumbu utama kecap asin? Kayaknya bisa jadi angin segar di tengah-tengah bombardir aneka gorengan yang saya konsumsi selama beberapa hari terakhir). Yang kedua adalah tokoh Mr. Ushikawa, satu dari segelintir tokoh yang punya ambisi dan karakteristik menonjol di novel ini. Selain itu sih, rasanya ingin cepat-cepat menamatkan biar bisa tahu akhirnya gimana dan move on ke buku lain. AND DON’T LET ME START WITH THE FAITHFUL LOVE BETWEEN AOMAME AND TENGO THAT’S BEEN STEADILY FLOURISHING FOR MORE THAN 20 YEARS SKSDJSKFHFK SO SILLY AND UNREALISTIC

“In this world, there is no absolute good, no absolute evil,” the man said. “Good and evil are not fixed, stable entities but are continually trading places. A good may be transformed into an evil in the next second. And vice versa. Such was the way of the world that Dostoevsky depicted in The Brothers Karamazov. The most important thing is to maintain the balance between the constantly moving good and evil. If you lean too much in either direction, it becomes difficult to maintain actual morals. Indeed, balance itself is the good. This is what I mean when I say that I must die in order to keep things in balance.”

Begitulah kesan saya soal 1Q84. Novel ini bukan tipe yang menyenangkan untuk dibaca ulang; sekali saja cukup, itupun saya merasa capeeek sekali pas baca bab-bab terakhirnya. Mungkin saya sudah sepuh dan nggak bisa menikmati buku-buku raksasa lagi kali, ya. Tamat ini pun saya sampai harus melakukan kegiatan pemulihan sehari penuh. Buku selanjutnya sepertinya bakal yang tipis dan enteng buat dipahami saja. 

Saturday, 27 July 2019

The Deckled Edges, Pahami Dulu Sebelum Komplain

Masih ingat ketika saya bilang lagi baca Upheaval? Sebenarnya ada kisah yang cukup memalukan di balik pengalaman saya beli buku tersebut.

Seperti biasa, saya beli Upheaval di website Periplus.com. Waktu itu, bukunya lagi didiskon lumayan banyak sehingga saya bisa memprioritaskannya sebagai buku yang akan dibeli di Bulan Juni. Statusnya juga in stock (dalam artian, sudah tersedia di gudang mereka di Indonesia), jadi saya cuma perlu menunggu waktu kirim dari kurir SAP saja. Namun, ketika saya menerima paket tersebut dan membukanya, ada hal yang tidak biasa.


Kondisi halaman yang tidak rata adalah hal yang pertama saya sadari ketika membuka kardus dan segel Upheaval. Dengan perasaan malu saya mengakui kalau reaksi yang saya berikan, tanpa filter, adalah: (1) jengkel, (2) ambil foto kondisi buku dari SEMUA sisi, dan (3) mengadu ke Periplus. Maklum, jiwa perfeksionis saya langsung risih melihat keadaan buku yang nggak rata terlebih ketika tahu sampulnya yang bagian bawah seperti tercakar. Saat itu saya mengirim email ke CS-nya, yang hingga beberapa hari kemudian tidak dibalas. Besoknya, saya terinspirasi buat follow up ke room-chat di website mereka—yang selalu kedap-kedip dan cukup mengganggu kalau lagi buka jendela selancar lain itu, lho—dan untungnya langsung dibalas. CS yang saat itu diteruskan ke saya dengan sabar menjelaskan kalau buku saya tidak cacat (sayangnya saya tidak sempat mengambil tangkapan layar dan akhirnya otomatis ter-log out dari percakapan ketika jendela Periplus.com saya tutup).

Yang bisa saya simpulkan dari percakapan saya sama CS Periplus adalah kondisi buku yang saya terima adalah sebuah tren yang sedang marak diikuti oleh penerbit-penerbit besar luar negeri, the deckled edges. Mereka ingin mereplikasi kondisi-kondisi buku jaman dulu, ketika mesin dan teknologi penerbitan belum canggih sehingga mengharuskan pembeli buku untuk mengiris tiap pasangan halaman secara manual menggunakan pisau seiring perjalanan membaca mereka. Saya langsung membayangkan seorang lord duduk di kursi mewah ruang membaca miliknya, dengan buku di atas meja kayu jati megah, serius menyerap tiap ilmu di tiap halaman sambil sesekali… mengiris lembaran pakai pisau khusus. Karena diiris dengan pisau itulah, hasil akhir ketika buku dibaca cenderung tidak rata. 

Jadi, ini adalah keputusan desain dengan tujuan aesthetic dan sentimental. Agak berani juga, mengingat terdapat kelompok pembaca buku yang sangat protektif terhadap kondisi buku yang mereka miliki (masih ingat drama tentang melipat ujung halaman sebagai penanda vs memakai pembatas buku?). Saya untungnya masuk ke kelompok yang tidak begitu protektif berkat kegiatan menganotasi buku yang sudah dua tahunan ini saya lakukan; secara teknis, menganotasi membuat buku yang saya punya rusak. Tetapi, saya kadang lupa kalau jiwa pembaca saya sebelum masa-masa anotasi adalah jiwa yang SANGAT protektif terhadap buku. Saya bahkan sempat marah ke teman yang mengembalikan Perahu Kertas dalam keadaan lecek seperti habis tenggelam di kubangan. Mungkin, jiwa perfeksionis masa lalu itulah penyebab reaksi dadakan grusa-grusu saya ke CS Periplus (saya harap saya sudah minta maaf ke CS mereka, beneran lupa karena histori chat hilang). Tapi setelah paham kondisinya, saya langsung santai kok. Batal ke fotokopian juga, buat minta bantu potongin gradakannya pake mesin mereka. ALL IS WELL, EVERYBODY. I CAN PEACEFULLY STAY AT HOME WITHOUT FUMING AT MY BOOKSELLER.



Ketika saya melihat ulasan buku website Amazon pun banyak yang “terbakar” macam saya kemarin. Bahkan, beberapa konsumen beneran sampai menukar buku yang mereka beli karena dikira dapat produk cacat. Tentunya, pengganti yang mereka dapat punya kondisi yang sama-sama gradakan. Hal tersebut membuat mereka-mereka yang masih belum mengerti mengurangi penilaian bintang ulasan Amazon, suatu hal yang merugikan pihak-pihak yang tidak bersalah pada proses rantai pasokan. Ini menunjukkan bahwa penerbit-penerbit tersebut gagal memberikan edukasi—atau setidaknya pemberitahuan—bagi konsumen mereka ketika meluncurkan inovasi baru. Padahal, inovasi dan edukasi konsumen adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Hal inilah yang sebenarnya mendorong saya untuk menulis postingan ini; saya mau mencegah kalian-kalian untuk nggak langsung marah ke penjual (yang mungkin nggak bersalah sama sekali) dan mencoba mengapresiasi buku yang sudah ada di tangan kalian. Atau, untuk ikhlas pergi ke fotokopian dan merapikan jilidnya sendiri kalau memang dirasa terlalu mendistraksi kegiatan membaca kalian.

Dari kejadian ini, saya merasa berterima kasih sama Periplus karena sudah sabar menghadapi komplain saya. Saya juga jadi dapat ilmu baru, kan? Ke depan, saya tentu bakal lebih santai dan riset kecil-kecilan ke google dulu sebelum berasumsi yang aneh-aneh.