Saturday, 9 May 2020

A Life Update

Selamat siang dari Pangandaran.

Hari ini saya libur. Jadi, bisa menyisihkan sebagian waktu untuk menulis. Mungkin belum banyak yang tahu, tapi selama beberapa bulan ini saya bekerja sebagai PA salah satu mantan Menteri Indonesia. Jauh sebelum COVID-19 menelan banyak korban, Ibu sudah berinisiatif untuk melakukan social distance, sehingga sudah cukup lama kami WFFH, Work from ((Her)) Home, sibuk bekerja sambil tetap aktif belajar di kediamannya.  

Mengenai social distance ini, dari Instagram, saya melihat teman-teman saya yang di rumah saja jadi aktif memasak. Beberapa malah berhasil menamatkan buku-buku yang selama ini menumpuk saja di kamar. Saya ikut berbahagia.

Di sini, kami para PA juga sering bereksperimen dalam memasak. Karena semua bahan dan alat tersedia, apa saja siap digas. Apa sih yang tidak bisa kita lakukan di sini? Senyum merekah ketika bau brownies dipanggang memenuhi resto, rasa terkejut ketika cireng sukses tanpa ada bentat, dan hal-hal kecil lainnya mewarnai hari-hari kami. Paket-paket pun semakin sering tiba, dari mulai baju tambahan, skincare, camilan yang sebenarnya bisa dibeli di toko seberang, sampai terakhir ada ukulele dan sepaket alat lukis lengkap dengan penyangga kanvasnya. Setiap malam setelah pekerjaan selesai, kita akan bermain bersama-sama. Kami memang sudah lama tidak bertemu keluarga, tetapi kami saling memiliki satu sama lain. 

Mungkin kalian berpikir, saya bakal sibuk menamatkan buku-buku saya ya di malam-malam itu. Tapi kenyataannya, prestasi membaca saya nol besar. Tidak ada buku yang ditamatkan sama sekali sejak mulai bekerja, meski memang yang sudah terbaca setengah ada beberapa. Saya sudah menyempatkan waktu, tapi kadang keinginan melanjutkan sudah kandas ketika waktu luangnya tiba. Kadang pun, jadwal tidur lebih terasa penting dibandingkan rekreasi otak (yang kalau dipikir-pikir lagi, pilihan baca saya lebih ke bikin otak makin panas sih HEHE).

Hingga akhirnya kemarin saya membolak-balik salah satu buku koleksi Ibu. Beliau sangat menyukai arsitektur, desain, kelautan, dan buku masak. Kecuali buku masak, buku-buku beliau adalah hal baru bagi saya, dan sangat menggugah rasa penasaran. Tidak lama, saya berhasil menamatkan satu buku dari rak. Seluruh dunia harus tahu! Saya kembali jadi pembaca ulung yang tamat 1 buku dalam waktu kurang dari 1 hari!


Hehe. Ya gimana nggak tamat dalam sehari, kalau isinya gambar semua. Buku ini sebenarnya adalah kumpulan desain rumah karya arsitek-arsitek di seluruh dunia. Dari mulai yang desainnya kotak-kotak macam setting film distopia, rumah homey, rumah kelewat mahal, hingga ala vila, semua ada. Secara tidak langsung, saya memfavoritkan beberapa dan meh pada nyaris 90%-nya. Nggak bisa gitu lho membayangkan melepas uang miliaran (yang sepersepuluhnya saja saat ini saya belum punya) untuk ditukar dengan tempat semacam itu. Saya jadi paham selera saya seperti apa. Kalau uang saya sudah banyak, mungkin suatu saat saya akan memilih hunian seperti ini:


Jadi pengen baca buku-buku lain, karena memang selalu menyenangkan membuka diri kepada hal-hal baru di hidup ini. Kapan-kapan akan saya update lagi prestasi membaca saya di sini. 

Buat kalian yang lagi berjuang PSBB, jaga kesehatan dan tetap waras di situasi ini ya, semua! Cari hobi baru, kesibukan baru, dan maksimalkan saat-saat berkumpul bersama keluarga. Oh ya, ibadahnya diperkuat juga, karena sudah mendekati akhir Bulan Ramadhan. Semoga kita bisa selamat dari musibah besar ini :)

Sampai jumpa di situasi yang lebih mendukung lagi, ya :)

Tuesday, 11 February 2020

[Review Buku] Alone in the Kitchen with an Eggplant diedit oleh Jenni Ferrari-Adler


Alone in the Kitchen with an Eggplant: Confessions of Cooking for One and Dining Alone adalah sebuah antologi yang direkomendasikan Goodreads berdasarkan alrogitma histori bacaan saya. Karena judulnya menarik dan sedikit bersinggungan dengan kehidupan yang saat ini saya jalani, akhirnya saya memutuskan untuk membacanya.

Buku ini berisi “pengakuan” beberapa penulis tentang kebiasaan mereka ketika makan sendirian. Ada yang membencinya, ada yg menunggu-nunggu saat ini tiba, ada yang hanya bisa bermimpi melakukannya karena tuntutan keluarga, ada yang lukewarm saja, dan persepsi-persepsi jujur lainnya. Mau penulis besar atau penulis kecil, semua pendapat mereka valid. Sudut pandang mereka menguji kemampuan saya untuk memposisikan diri di "sepatu" milik orang lain.

Friday, 24 January 2020

[Review Buku] My Year of Rest and Relaxation oleh Otessa Moshfegh


Semingguan ini saya nemu buku aneh-aneh deh. Setelah tamat Convenience Store Woman (novel Jepang pendek, habis dalam sekali rebahan), saya memutuskan untuk lanjut ke My Year of Rest and Relaxation yang meskipun sekilas tampak seperti memoar, rupanya adalah sebuah novel juga. Tidak disebutkan sama sekali nama protagonis/narator di novel ini, sehingga saya cukup bingung gimana cara menyebut protagonisnya dalam ulasan ini. Pakai sebutan "narator" saja, ya.

My Year of Rest and Relaxation menceritakan tentang keinginan sang narator untuk melakukan hibernasi selama setahun penuh. Karena dia yatim piatu dan memiliki lingkaran pertemanan yang sangat sempit, tidak ada yang menghalanginya untuk melaksanakan proyek gilanya tersebut. Pertemuannya dengan dr. Tuttle, psikiater kurang laku yang tidak memegang teguh kode etik dokter, memudahkan jalannya untuk mengakses obat-obatan yang ia butuhkan untuk tidur lelap tanpa dicurigai perusahaan asuransi kesehatan ataupun pihak apotek. Sehingga, bring it on, I guess?

Wednesday, 15 January 2020

Buku Terbaik Versi Nukhbah Sany Tahun 2019

Pencapaian membaca tahun 2019 bisa dibilang sangat memuaskan. Di tahun 2019, saya menetapkan beberapa resolusi membaca, antara lain (1) sebisa mungkin mengulas buku yang sudah ditamatkan di blog, (2) quality over quantity dalam hal memilih bacaan, dan (3) mulai mengeksplor berbagai genre nonfiksi. Berkat konsistensi menjalankan resolusi tersebut—dibantu dengan iPad dan beberapa pihak memberi saya hadiah dalam bentuk buku—saya berhasil menamatkan 66 buku. 

Jawaban atas "Kok bisa sih punya waktu buat baca buku segitu banyak?" adalah, "Saya menyempatkannya."

Resolusi nomor satu sudah saya upayakan semampunya, sehingga postingan di blog tahun 2019 jadi jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya. Berkat resolusi kedua, saya jadi semakin selektif dalam membeli buku. Tidak ada lagi timbunan buku baru menggunung yang terabaikan di rak, dan hal tersebut secara signifikan membuat hati lebih plong. Berkat resolusi ketiga, saya berhasil keluar dari jerat reading slump, bahkan saat ini masih jatuh cinta setengah mati dengan genre memoar dan biografi sejarah dari tokoh-tokoh penting. Sepertinya, saya akan menerapkan kembali ketiga resolusi membaca tersebut di tahun 2020. Dengan tekanan yang lebih ringan, karena waktu luang sudah tidak sebanyak tahun lalu.

Dari 66 buku yang terbaca di tahun 2019, ada segelintir kecil yang berhasil mendapatkan predikat 5 bintang. Setelah saya pikir-pikir lagi, buku yang mendapat predikat bintang 5 bukanlah buku yang saking berkesannya, membuat saya kepikiran berbulan-bulan setelah ditamatkan. Buku dengan predikat 5 bintang adalah buku yang membantu saya di saat yang tepat. Biasanya saya baca untuk kepentingan rekreatif, namun khusus bagi mereka, fungsinya lebih kepada praktikal—membimbing saya untuk menjalani hidup yang lebih baik saat menghadapi suatu masalah atau saat mandeg di situ-situ saja. Jika disuruh baca ulang, paling saya tidak akan kasih 5 bintang lagi, karena saat ini statusnya sudah move on, sudah punya masalah baru yang memerlukan pemecahan dari buku lain. Oleh karena itu, besar kemungkinan buku 5 bintang versi saya belum tentu akan jadi 5 bintang versi kalian.

Saturday, 11 January 2020

[Review Buku] Who Thought This Was a Good Idea? oleh Alyssa Mastromonaco

Hari ini saya nganggur. Karena bingung mau ngapain yang nggak perlu buang uang, akhirnya memutuskan untuk anteng di rumah sambil Konmari lemari baju. Lumayan, jadi agak mabok uap setrikaan. Siapa kemarin yang ngaku anak minimalis? NOT me, because clearly I’ve been hoarding all the clothes that I could get. Ya gimana, tiap stres, mampirnya ke toko kain. Kainnya terus sampai ke tukang jahit. Sejak terakhir melakukan Konmari, lemari saya sudah penuh tumpukan lagi. 


Lemari sudah rapi, baju yang tidak spark joy sudah dipisahkan, jadi sekarang saya bakal cerita soal buku yang terakhir ditamatkan saja. 2020 diawali dengan baik oleh memoar milik Alyssa Mastromonaco, berjudul Who Thought This Was a Good Idea? And Other Questions You Should Have Answers to When You Work in the White House. Mastromonaco adalah salah satu orang penting di balik kesuksesan karir Barack Obama dari jaman masih jadi Senator hingga mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat periode kedua, sehingga poin jualan buku ini memang: “Seperti apa sih rasanya kerja bareng Obama?”