Wednesday, 11 April 2018

Portal Baru untuk Menambah Ilmu: MEDIUM


Buat kalian yang ngikutin akun Instagram saya, pasti beberapa hari ini terganggu banget sama spam di Instastory. Mohon maklum ya, saya lagi kampung banget sama salah satu aplikasi super keren yang direkomendasikan teman. Namanya Medium. Jadi tuh, aplikasi ini semacam blog mini tempat orang-orang hebat menulis artikel (yang hebat pula!), berbobot tapi singkat. Tiap artikel diberi keterangan durasi bacanya, sekitar 5-15 menit. Buat kalian yang kzl baca Line Today yang isinya Ayu Ting Ting dan artikel abal dari so-called jurnalis bermodalkan screenshot instagram artis dan informasi cetek, sepertinya Medium adalah alternatif membaca yang lebih berfaedah!

Saturday, 17 March 2018

Fanfiction Terbaik yang Pernah Saya Baca!

Fanfiction sebenarnya bukan pilihan utama saya ketika mencari bacaan. Karena seperti kita tahu, sebuah karya yang dipublikasi sendiri kadang tidak konsisten dan kurang rapi, mengingat tidak ada peran editor profesional di dalamnya. Namun, beberapa waktu lalu saya mendadak kangen dengan kisah Bella Swan dan Edward Cullen, and the movie kinda ruined the original story for me. Jadi, terpaksa deh lari ke fanfiction.


Terlepas dari ejekan banyak orang, saya tidak malu mengakui bahwa Twilight Saga adalah karya luar biasa yang mengubah (sebagian kecil) dunia literatur fiksi hingga menjadi seperti sekarang. Beberapa penulis terkenal pun mengaku bahwa Stephenie Meyer adalah inspirasi mereka dalam menulis. Meskipun tidak bisa dihindari kalau sebagian besar pembaca di Goodreads menganggap kalau karyanya itu sampah, tetep aja tuh banyak yang ketagihan buat baca ulang lagi dan lagi. Saya sendiri bisa mengenali bahwa Stephenie Meyer punya nadanya sendiri dalam menulis, yang membuat kita bisa “terbius” dan terasa seperti masuk dalam dunia fiksi ciptaannya (edisi terjemahan Bahasa Indonesia milik Gramedia juga sangat bagus dan sukses menyampaikan cerita layaknya versi asli. Good job penerjemah!).

Sunday, 17 December 2017

[Review Buku] The Seven Husbands of Evelyn Hugo, karya Taylor Jenkins Reid

Selamat sore teman-teman.

Sudah tiga hari saya menunggu inspirasi menulis thesis untuk datang, tapi yang terjadi hanya menunda, menunda, dan menunda. Oleh karena itu, saya putuskan lebih baik menulis review novel saja. Siapa tahu habis ini writing block akan hilang.


Kali ini, saya akan me-review novel yang beberapa hari lalu saya tamatkan, The Seven Husbands of Evelyn Hugo. Penulis dari novel ini tidaklah asing bagi saya; Taylor Jenkins Reid. Novel beliau terdahulu yang berjudul After I Do, meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Ngena dan nonjok banget. Tamat novel itu, hati saya luka-luka.

Nah, nggak heran jika pada novel ini saya memiliki ekspektasi yang cukup tinggi. Dan untungnya, ekspektasi itu dapat terpenuhi.


The Seven Husbands of Evelyn Hugo bercerita tentang Monique Grant, seorang jurnalis newbie di tabloid Vivant. Suatu ketika, Monique mendapatkan kesempatan langka dan mustahil didapatkan oleh jurnalis kasta sudra macam dia: mewawancarai aktris legendaris Evelyn Hugo mengenai gaun-gaun ikoniknya yang akan ia lelang. Evelyn ini mungkin bagi kita setara dengan Audrey Hepburn. Atau, lebih tepatnya sih, Marilyn Monroe. Di masanya dulu, Evelyn adalah simbol dari kesuksesan, keseksian, dan skandal. Tidak hanya filmnya saja yang diminati oleh masyarakat, intrik kehidupannya juga selalu menarik untuk diikuti. Termasuk, ketujuh pernikahan yang ia jalani.

Kini, ketika Evelyn sudah menginjak usia 80-an, ia mulai membuka dirinya kepada publik. Monique mungkin merupakan satu-satunya jurnalis yang akan mewawancarai Evelyn sejak entah tahun kapan. Bagaimana dan kok bisa, masih jadi misteri bagi Monique maupun pembaca.

Namun, ternyata bukan gaun yang ingin dibicarakan oleh Evelyn, melainkan kisah hidupnya. Evelyn ingin mengungkap rahasia yang selama ini ia simpan dalam sebuah biografi, dan ia hanya bersedia memberikan kisah itu kepada Monique untuk ditulis.

Wednesday, 20 September 2017

HEY IT'S BEEN A WHILE



Hai teman-teman. Kapan terakhir kali saya menyapa kalian?

Banyak sekali hal yang mungkin terlewat untuk diabadikan oleh blog ini sejak hiatus. Mari saya ringkaskan untuk kalian: 

(1) Setelah lulus S1 dan merasakan "kebebasan" fana, saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan S2. Alhamdulillah, Allah memudahkan niat saya untuk belajar lagi dengan didapatkannya Beasiswa Unggulan Kemendikbud 2017. Tidak hanya bebas SPP,  biaya hidup tiap bulan dan biaya buku saya ditanggung oleh pemerintah.

(2) Saat ini saya memasuki semester kedua, dan sudah gas pol buat persiapan thesis dan juga mengejar tugas setiap minggu. Huhuhu maafkan ya kalau beberapa bulan belum sempat update blog ini dan balesin komentar-komentar kalian. Saya janji akan semakin rajin curi-curi waktu apdet blog di antara sibuknya kebut tugas ban binge-watching drama Korea! (Hospital Ship is REALLY GOOD btw).
 
(3) Laptop saya rusak! File ebook hilang semua! Jujur inilah yang membuat saya sangat down dan selalu merasa tidak siap untuk kembali ke dunia per-blog-buku-an. Rasanya saya bukanlah pecinta buku tanpa adanya buku-buku yang saya sayangi itu. Untung sebagian sempat di-backup di laptop pacar DAN KEMARIN LAPTOP DIA SEMPAT EROR JUGA ASTAGA DAN LIKE AN ASSHOLE GIRLFRIEND I AM, HAL PERTAMA YANG SAYA KHAWATIRKAN ADALAH KOLEKSI EBOOK SAYA DAN BUKANNYA LAPTOP DIA. ((But they're my babies, tho))

(4) Walaupun belum menemukan waktu untuk berbagi review dan pendapat tentang buku, saya tetap rajin membaca novel dan bahkan kini sudah merambah ke biografi dan nonfiksi lain. Kalau sempat bakal saya share ya :) Bisa dibilang proses membaca saya lumayan melambat karena PERCY aka MY TRUSTY TAB rusaaaak juga. Cuma mengandalkan iBooks hape dan malas juga kalo kelamaan baca dari layar kecil. Tapi mengingat Percy sudah tua dan sepertinya memang saatnya pensiun, saya tidak banyak mengeluh. Sekarang sedang proses menabung lagi buat beli yang lebih bagus dan awet hehehe doakan ya!

Okedeh kayaknya segitu aja update dari saya. How about you, guys? Saya bakal senang sekali berbagi kabar dengan kalian di kolom komentar.

Have a nice day.



Bonus penampakan ribetnya saya tiap nugas di perpus:

 

Sunday, 14 May 2017

Ulasan Serial TV Thirteen Reasons Why


Thirteen Reasons Why. Judul yang tidak asing bagi saya. Ya gimana, sejak pertama kali tertarik dengan dunia fiksi luar negeri, novel ini adalah salah satu yang saya koleksi. Namun saya tidak pernah punya keberanian untuk membacanya. Hingga akhirnya ketika Netflix mengangkatnya menjadi serial TV tahun inidan menjadi tontonan laris bagi remaja ASsaya menjadi tergugah. Apa yang membedakannya dengan novel-novel lain yang diangkat ke layar kaca/ lebar? Kenapa Thirteen Reasons Why begitu sukses dan diminati?

Untuk mendapatkan jawabannya, saya beranikan diri untuk membaca novelnya yang sudah terabaikan dan terlupakan selama bertahun-tahun karena tertumpuk oleh novel-novel lain. You guys, saya senang karena dulu ketika belum tertarik, saya tidak memaksakan diri untuk membacanya. Karena novel itu seperti jodoh, akan cocok jika bertemu pada saat yang tepat.

Setelah saya selesai menonton serial ini (dan juga membaca novelnya), dapat saya simpulkan pendapat saya kenapa serial TV Thirteen Reasons Why bisa laris bak Samyang Fire Noodle kala belum diimpor resmi di Indonesia:

Saturday, 6 May 2017

[Review Buku] Always and Forever, Lara Jean oleh Jenny Han

Always and Forever, Lara Jean
(buku ketiga dan terakhir dari seri To All the Boys I’ve Loved Before)
penulis Jenny Han
336 halaman, Young Adult
Rating: image
Dipublikasikan 2 Mei 2017 oleh Simon & Schuster Book

Dalam wawancaranya dengan salah satu jurnalis berita online, Jenny Han mengaku bahwa masih ada dua poin mengenai kisah Lara Jean yang belum sempat dieksplor pada buku kedua, PS I Still Love You. Salah satu poinnya adalah bagaimana Lara Jean menyambut masa-masa kelulusan SMA dan masuk universitas.

Karena itulah Jenny Han merasa masih bisa membuka kembali kisah Lara Jean dan Peter Kavinsky di buku ketiga (dan juga terakhir, suwer deh kali ini yang terakhir >.<) walaupun pada mulanya seri To All the Boys I’ve Loved Before direncanakan berakhir pada buku kedua.

Ekspektasi pada buku ketiga sungguh besar, karena siapa yang bisa menolak untuk bertemu kembali dengan keluarga Song dan uhuk, my luv Peter Kavinsky? Dan setelah kurang lebih setahun menunggu, plus sedikit kecewa karena tanggal terbitnya mundur hingga Mei, akhirnya kita bisa menikmati hangatnya kisah hidup Lara Jean bersama orang-orang di sekitarnya sekali lagi.

Wednesday, 3 May 2017

Review Buku Pertama Saya Sejak Hiatus: Holding Up the Universe

Dua tahun lalu saya membaca sebuah novel bertema mental health+suicide dan novel tersebut mengubah cara saya memandang dunia ini. Penulisnya saat itu masih terasa asing, walaupun demikian kata-kata yang ia tulis sangatlah indah dan tragis dan lucu. Pokoknya semua perasaan campur aduk jadi satu ketika membacanya. Saya pun merasakan keterikatan yang amat sangat kepada kedua tokohnya, terutama si tokoh laki-laki, walaupun saya tidak menderita penyakit mental yang sama dengannya.

Sudah tahu novel apa yang saya maksud? (gambar di sebelah gede banget yak)

Novel fenomenal tersebut adalah All the Bright Places (ATBP), karya Jennifer Niven. Pasti beberapa dari kalian sudah tidak asing lagi ya. Atau mungkin sudah pada membacanya, karena sejak terbit novel ini udah booming banget dan menjadi PENGHANCUR HATI PARA PEMBACANYA UHUK!!!

Wednesday, 22 February 2017

[Review Buku] Crazy, Busy, Guilty oleh Lauren Sams

Crazy, Busy, Guilty
penulis Lauren Sams
384 halaman, New Adult
Rating: 
Dipublikasikan 3 Januari 2017

“Oh, OK. Ellie, I need you to repeat something after me. You ready?”
She sighed again. “No”
“Ellie—“
“Alright. What?”
“Repeat after me. ‘I, Eleanor Hughes—'“
“I, Eleanor Hughes.”
“Am a good mother.”
Third sigh. “Am a good mother.”
“And I understand—“
“And I understand—“ I could practically hear the eyerolling at this point.
“That it is completely ridiculous—“
“That it is completely ridiculous—“
“To expect a four-year-old—“
“To expect a four-year-old—“
“To read, write, or tie his own shoelaces.”
“To read, write, or tie his own shoelaces.”
 “Much less learn a musical instrument.”
“Much less learn a musical instrument.”
 “Much less two musical instruments.”
“Much less two musical instruments.”
 “Because he is four.”
“Georgie—“
“Ellie! Repeat. ‘Because he is four.'”
“Because he is four.”

Thursday, 2 February 2017

[Review Audiobook] Stalking Jack the Ripper oleh Kerri Maniscalco

Stalking Jack the Ripper
penulis Kerri Maniscalco, narator Nicola Barber
Unabridged Audiobook, 9 jam 26 menit
Historical Fiction/ Misteri
Rating: 
Dipublikasikan 20 September 2016 oleh Hachette Audio

Presented by James Patterson's new children's imprint, this deliciously creepy horror novel has a storyline inspired by the Ripper murders and an unexpected, blood-chilling conclusion...
Seventeen-year-old Audrey Rose Wadsworth was born a lord's daughter, with a life of wealth and privilege stretched out before her. But between the social teas and silk dress fittings, she leads a forbidden secret life.
Against her stern father's wishes and society's expectations, Audrey often slips away to her uncle's laboratory to study the gruesome practice of forensic medicine. When her work on a string of savagely killed corpses drags Audrey into the investigation of a serial murderer, her search for answers brings her close to her own sheltered world.
The story's shocking twists and turns, augmented with real, sinister period photos, will make this dazzling debut from author Kerri Maniscalco impossible to forget.

Tahun 2016 yang begitu berkesan bagi saya sudah selesai. Di tahun ini, saya benar-benar pushed myself to the limit; biar bisa seleseiin skripsi dan cepet lulus, dapat break untuk nganggur pasca kuliah yang ternyata benar-benar saya butuhkan, menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion, hingga alhamdulillah diberi kesempatan untuk bisa menimba ilmu lagi. Di tahun ini pula, saya menemukan novel terbaik (there, sudah saya bold, italic, dan underline, jadi nggak bakal kelewat sama kalian) dari penulis yang belum pernah saya dengar sebelumnya….

Saturday, 24 December 2016

[Review Buku] Tone Deaf oleh Olivia Rivers

Tone Deaf
penulis Olivia Rivers
288 halaman, Young Adult (YA)/ Romance
Rating: 
Dipublikasikan 3 Mei 2016 oleh Sky Pony Press

Ali Collins was a child prodigy destined to become one of the greatest musicians of the twenty-first century—until she was diagnosed with a life-changing brain tumor. Now, at seventeen, Ali lives in a soundless world where she gets by with American Sign Language and lip-reading. She’s a constant disappointment to her father, a retired cop fighting his own demons, and the bruises are getting harder to hide.
When Ali accidentally wins a backstage tour with the chart-topping band Tone Deaf, she’s swept back into the world of music. Jace Beckett, the nineteen-year-old lead singer of the band, has a reputation. He’s a jerk and a player, and Ali wants nothing to do with him. But there’s more to Jace than the tabloids let on. When Jace notices Ali’s bruises and offers to help her escape to New York, Ali can’t turn down the chance at freedom and a fresh start. Soon she’s traveling cross-country, hidden away in Jace’s RV as the band finishes their nationwide tour. With the help of Jace, Ali sets out to reboot her life and rediscover the music she once loved.

Tone Deaf, adalah novel yang saya pilih murni dikarenakan sampulnya yang cantik. Nah, buat kalian yang tertarik juga untuk membacanya….. mungkin harus saya ingatkan lebih dulu ya, kalau di balik sampulnya yang bagus, novel ini memiliki cukup banyak triggers yang lebih baik dihindari oleh pembaca yang sensitif terhadap beberapa isu, antara lain: mental illness (PTSD), child abuse, LGBT (dalam novel ini masuk pada kategori gay), death, addiction, dan depression.