Saturday, 18 May 2019

[Review Buku] What I Talk About When I Talk About Running oleh Haruki Murakami


Tahun 2013 adalah pertama kalinya saya serius mendalami literatur luar negeri. Masih ingat betul, salah satu buku yang saya pilih adalah milik Murakami: What I Talk About When I Talk About Running. Saya cari versi cetaknya, saya garis bawahi kata yang asing (banyak banget), dan saya baca sampai di titik saya menyerah. Saat itu saya tahu kalau Haruki Murakami adalah penulis hebat, sehingga karyanya pasti bagus. Tapi toh, saya tetap nggak mudeng di buku ini dia ngomong apa dan berhenti di bab kedua.

Enam tahun kemudian, saya membuka buku ini kembali. Kemampuan Bahasa Inggris saya sudah mengalami perbaikan yang signifikan, sampai di titik dimana saya nggak hanya ngerti dia ngomong apa, tetapi juga bisa merasakan emosi seperti apa yang Murakami tuturkan di kata-kata yang dia susun. Pada akhirnya, saya bisa memahami apa yang orang-orang elukan tentang kehebatan Murakami. Buku ini adalah media dimana saya bisa benar-benar melihat seperti apa buah dari kerja keras dan konsistensi mempelajari Bahasa Inggris tanpa henti.

Pain is inevitable. Suffering is optional.

What I Talk About When I Talk About Running adalah buku pertama (dan hingga saat ini, satu-satunya) Murakami yang saya baca. Pendekatan yang saya ambil sama seperti ketika membaca Roxane Gay: melalui memoir yang mereka tulis. Berbeda dengan Hunger milik Roxane Gay, saya bisa menerima What I Talk About When I Talk About Running. Dari sini saya mendapati kenyataan bahwa penulis tersohor baru bisa saya nikmati karyanya ketika saya sudah jelas bisa menikmati memoir mereka. Memoir yang merupakan refleksi “suara hati” si penulis menjadi acuan apakah saya satu visi (atau, tidak berada dalam kubu yang sangat berseberangan) dalam suatu hal.

Most of what I know about writing I’ve learned through running every day. These are practical, physical lessons. How much can I push myself? How much rest is appropriate—and how much is too much? How far can I take something and still keep it decent and consistent? When does it become narrow-minded and inflexible? How much should I be aware of the world outside, and how much should I focus on my inner world? To what extent should I be confident in my abilities, and when should I start doubting myself? I know that if I hadn’t become a long-distance runner when I became a novelist, my work would have been vastly different. How different? Hard to say. But something would have definitely been different.

Seperti judulnya, What I Talk About When I Talk About Running membahas tentang hobi besar Haruki Murakami: lari. Pandangannya mengenai olahraga yang dianggap orang-orang bisa memunculkan “inspirasi” bagi penulis (lari bukan metode untuk mencari inspirasi bagi Murakami, melainkan sarana untuk bisa menikmati waktu pribadi dalam diam demi mempertahankan kesehatan mentalnya), metode yang ia pakai untuk bisa menyelesaikan marathon, dan kesusahan-kesusahan yang ia alami yang jarang dibicarakan oleh pelari profesional pada umumnya, dipecah dalam 9 bab yang setiap babnya menceritakan perjuangannya menaklukkan marathon negara-negara berbeda. Pemikiran-pemikiran Murakami mengenai lari meresonansi caranya menulis buku. Dan secara tidak mengejutkan, saya merefleksikan pemikiran Murakami ke dalam etika kerja yang saya punya. 

Murakami (atau lebih tepatnya, si Penerjemah buku ini) mampu mengungkapkan dengan baik passion dari penulis serta pandangannya atas berbagai hal. Tulisan dari Murakami jadi tampak bernyawa dan memotivasi bagi saya. Meskipun buku ini diterbitkan hampir 10 tahun yang lalu, efeknya terasa sehebat buku nonfiksi bestseller terkini yang lagi nangkring di rak toko buku. Saya terutama suka dengan realisasi diri yang ada di balik kalimat-kalimat humble berikut:

What’s crucial is whether your writing attains the standards you’ve set for yourself.

At least that’s why I’ve put in the effort day after day: to raise my own level.

In long-distance running the only opponent you have to beat is yourself, the way you used to be.

I can see that during my twenties my worldview changed, and I matured.

I’ve gradually come to the realization that this kind of pain and hurt is a necessary part of life.

…and that’s why I’ve had to constantly keep my body in motion, in some cases pushing myself to the limit, in order to heal the loneliness I feel inside and to put it in perspective.

I’m the kind of person who has to experience something physically, actually touch something, before I have a clear sense of it. No matter what it is, unless I see it with my own eyes I’m not convinced.

…needless to say, it takes quite a bit of time, plus effort, to go through each stage, step by step, and arrive at a conclusion. Sometimes it takes too long, and by the time I’m convinced, it’s already too late. But what’re you going to do? That’s the kind of person I am.

Dari berbagai filosofi lari milik Murakami yang benar-benar merefleksikan kehidupan saya, terdapat satu kutipan yang benar-benar menggambarkan perjuangan saya dalam hal akademik. Murakami secara luwes menjelaskan perasaannya ketika menerjang jarak “batas aman” miliknya melalui kalimat: “Up to nineteen miles I’m sure I can run a good time, but past twenty-two miles I run out of fuel and start to get upset at everything. And at the end I feel like a car that’s run out of gas. But after I finish and some time has passed, I forget all the pain and misery and am already planning how I can run an even better time in the next race.” 

Ketika pertama menyusun rencana tesis, saya tahu saya akan menerjang batas aman yang seumur hidup saya punya. Jangan tanya semenderita apa saya waktu proses eksekusinya; sudah dalam taraf menyeret diri dari hari ke hari. Tetapi penderitaan itu saya alami dengan penuh kesadaran kalau hasil akhirnya dapat memberikan kemudahan bagi banyak pengusaha UMKM. Untuk mendapatkan hasil sesuai standar pribadi, saya benar-benar harus mendorong diri sendiri dengan iming-iming jajanan atau gelato atau drama korea. Saya jadi paham sama apa arti “musuh terbesar adalah diri sendiri,” karena hari ke hari, saya harus atur strategi biar progress saya maju ke depan dan bukannya mundur ke belakang (atau lebih parah, mandeg di tengah-tengah). Sebegitu sensitifnya saya sama tesis saat itu, waktu dekan saya bercanda “Gimana, kapan lanjut S3?” saya membalas dengan guyonan juga tapi sambil bergidik. Rupanya, ketika semua sudah selesai, beberapa bulan sudah lewat, saya mendapati kalau saya sudah siap jika memang takdir menuntun saya buat lanjut S3. Saya bahkan positif bisa lebih kuat dalam menanggung tekanan penelitian yang semakin rumit.

Just… accept me when I’m being dramatic. I just need to complain. After that, I’ll give my very best at every step needed.

Begitulah. Memoir dari Murakami ini memiliki peran besar untuk membantu saya “mengenali” diri saya sendiri, baik dalam hal filosofi hidup yang saya pegang maupun etika kerja yang saya lakukan selama ini. Saya dulu nggak sadar kalau saya sangat kompetitif, perfeksionis, dan persuasif—karena lebih sering menampilkan emosi mager dan bodo amat sama masalah orang lain. Saya juga ternyata mudah defensif ketika rencana hidup yang sudah ditata matang-matang diremehkan atau dianggap angin lalu ketika seorang lelaki meminta saya untuk give all up buat “jadi ibu rumah tangga saja”—padahal sebelumnya saya kira saya itu tipe yang mengikuti arus. Membaca buku ini benar-benar membuka mata tetapi juga menghabiskan waktu yang cukup lama karena sedikit-sedikit saya harus berhenti dan berpikir. Mengganggu flow membaca saya yang biasanya bisa tamat 5-6 buku per bulan.

Selain sebagai media refleksi, informasi berharga yang disajikan Murakami dalam memoir ini adalah penjelasan di balik layar mengenai kegagalan dan penderitaan dia selama berlatih untuk marathon. Kita tidak bisa menjumpai hal semacam ini di sembarang buku self-help. Kejujuran Murakami dalam mengakui kelemahannya dalam satu hal serta upaya gigihnya untuk tetap maju memantik motivasi di diri saya untuk terus meningkatkan kualitas diri dengan berani mengenali kelemahan-kelemahan yang saya punya. Hanya dengan begitu saya bisa tahu harus fokus improve di bagian mana.

Exerting yourself to the fullest within your individual limits: that’s the essence of running, and a metaphor for life—and for me, for writing as well.

Saturday, 4 May 2019

[Favourite Quotes] King of Scars by Leigh Bardugo

People say we can understand a person from what she/he highlighted on the books they read. What passages really spoke to them? What wisdom they gathered from the characters’ dialogues? Or, what they thought about some provoking lines that convey their way of thinking? So, here’s my highlighted lines from Leigh Bardugo’s novel King of Scars. This is what you’ll see when you borrowed my tattered copy. Now you can judge me all you want. 


“A handsome monster husband who put a crown on her head? It’s a perfect fairy tale to sell to some starry-eyed girl. She can lock you in at night and kiss you sweetly in the morning, and Ravka will be secure.”

Pointless questions. There was no answer that would bring him back.

Saints, she missed him. The ache of his absence felt like a hook lodged inside her heart. The hurt was always there, but in moments like these, it was as if someone had seized hold of the line and pulled.

“The enemy is already inside you, the bad cells eating the others slowly, right there in your lungs. Unusual in a man so young. You’re dying, Captain Birgir,” she said softly, almost kindly. “I’m just going to help you along.”

Above all else, be thieves. Take the work of their enemies and turn it against them. It didn’t matter if Ravka got to the technology first as long as they found ways to make it better. The Fjerdans had developed an engine to drive wagons and armored tank battalions, so the Ravkans had made it powerful enough to move massive ships. The Fjerdans had built steel aircraft that didn’t require Squaller skill to pilot, so Ravka’s Fabrikators stole the design and constructed sleeker flyers in safer, lighter aluminum. The second rule? Be fast.

For Nikolai, a problem had always presented an opportunity no different than the one offered by a Fjerdan engine. You stripped it down to its parts, figured out what drove it, then used those pieces to build something that worked for you instead of against you.

It was one thing to find happiness and lose it, quite another to have someone else’s happiness thrust at you like an unwanted second slice of cake. Then again, she’d never refused a second slice of cake. This will be good for me, she told herself. Like green vegetables and lessons in arithmetic. And I’ll probably enjoy it just as much.

“Do that thing you do where you use too many words to say something simple and confuse the issue.”

“Try not to break her of it.”
No one has, Nina. No one ever will.
I’m not so sure, Matthias. War hadn’t done it. Captivity. Torture. But loss was something different, because she saw no end to it, only the far horizon, stretching on and on.

Little red bird, every day you choose the work of living. Every day you choose to go on. There is no failure here, Nina.

Zoya’s eyes were hard as gems. “I’m not here to debate theology with a mop handle.”

Tolya set the chess piece down. “Time and translation may have muddied the facts.”
“Let’s hope they were very muddied,” said Nikolai. “Possibly sunk in a swamp.”

“Sitting idle in the palace with nothing but her grief to occupy her mind was no good for her.”

“Hand me that brandy,” said Zoya. “I can’t tolerate this degree of stupidity on a clear head.”

“You may well be right,” said Nikolai, forcing himself to find the diplomacy that had always served him well. If you listened to a man’s words, you might learn his wants. The trick was to look into his heart and discover his needs. 

Since Nikolai could not be important, he turned his clever mind to the task of becoming charming. His mother was vain, so he paid her compliments. He dressed impeccably in colors that suited her tastes, and whenever he visited her, he made sure to bring her a small gift—a box of sweets, orchids from the hothouse. He pleased her friends with amusing gossip, recited bits of doggerel, and imitated his father’s ministers with startling accuracy. He became a favorite at the queen’s salons, and when he didn’t make an appearance, her ladies were known to exclaim, “Where is that darling boy?”
With his father, Nikolai spoke of hunting and horseflesh, subjects about which he cared nothing but that he knew his father loved. He praised his father’s witty conversation and astute observations and developed a gift for making the king feel both wise and worldly.

He did it because he liked learning the puzzle of each person. He did it because it felt good to feel his influence and understanding grow. But above all else, he did it because he knew he needed to rescue his country.

“But you can’t. So the question is whether you want to hate what you are and put yourself at greater risk of discovery, or accept this thing inside you and learn to control it.”

She wished she had Inej’s gift for spywork or Kaz’s gift for scheming, but she only seemed to have Jesper’s gift for bad decisions.

“You’ve spent your life only choosing the paths at which you knew you could excel. It’s made you lazy.”

“All fuels burn differently. Some faster, some hotter. Hate is one kind of fuel. But hate that began as devotion? That makes for another kind of flame.”

The idea that this was a thing he could face and conquer, or even be destroyed by, was so much easier to accept than the notion of a nightmare he would have to endure forever. He’d begun to believe this thing would be with him always. 

“Just listen to her. Ask her questions. Women don’t want to be seduced. They want to be seen and listened to. You can’t do either of those things if you’re thinking up strategies on how to win her over—or reciting the Fourth Epic of Kregi.”

“Keep reciting poetry and I will personally drown you in the lake,” said Tamar.

“He complained,” Nina said—and suddenly she had to look away, because it was not some fictional merchant who had come to mind but Matthias with his strict propriety and his disapproving glower and his loving, generous heart. “He complained all the time.”


“No. We didn’t always agree.” She smiled, tasting salt on her lips. “In fact, we almost never agreed. But he loved me. And I loved him.”

“It’s okay,” said Nina. “The hurt just still catches me by surprise. It’s a sneaky little podge.”

“I had hoped by now you would be further along.”
Zoya planted her fists on her hips. “I’m doing brilliantly.”

Men looked at her and wanted to believe they saw goodness beneath her armor, a kind girl, a gentle girl who would emerge if only given the chance. 

“Most women suffer thorns for the sake of the flowers. But we who would wield power adorn ourselves in flowers to hide the sting of our thorns.”

“Are we not all things?”

“this is where you belong. Here they will see the jewel you are inside, not just your pretty eyes.”

“And still the wound bleeds,” said the dragon. “You will never be truly strong until it closes.”
“I don’t want it to heal,” Zoya said angrily, her cheeks wet with tears. Below, she saw the version of Novokribirsk that existed in this twilight world, a black scar across the sands. “I need it.”
The wound was a reminder of her stupidity, of how readily she’d been willing to put her faith in the Darkling’s promise of strength and safety, of how easily she’d given up her power to him—and no one had needed to force her down the aisle to make her do it. She’d done it gladly. You and I are going to change the world, he’d told her. And she’d been fool enough to believe him.

“Every lover I’ve taken has asked about those scars. I make up a new story for each of them.”

“He left his mark on me and I on him. We did each other damage. It deserves to be remembered.”

“’Beware of power, Zoya. There is no amount of it that can make them love you.’”

“I wanted … strength. Safety. I never wanted to feel helpless again.”

“Nina tucked two tiny quail eggs into her skirts in case Trassel had a taste for the finer things, and found herself wondering if they might finish with sugared almond cookies. One could plot violent espionage and still hope for dessert.”

But each day he might endeavor to earn it. If he dared continue on with this wound in his heart. If he dared to be the man he was instead of praying to return to the man he’d once been.

“Stop punishing yourself for being someone with a heart. You cannot protect yourself from suffering. To live is to grieve. You are not protecting yourself by shutting yourself off from the world. You are limiting yourself, just as you did with your training.”

Zoya had loved him with all the greedy, worshipful need in her girlish heart. She had believed he prized her, that he cared for her. She would have done anything for him, fought and died for him. And he had known that.

“I haven’t been asking the right questions, have I? ”

“Are you all right?” he asked.
“Fine,” she replied.
“You’re sure?”
“Which one of us gets to kill the monk?”
“You’re fine.”

Saturday, 27 April 2019

A Letter of Apology (And My Sad Attempt to Make It Right)

Saya keluar dari lubang vakum untuk menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya untuk teman-teman yang sudah meninggalkan komentar di blog ini tetapi belum dibalas. Sesungguhnya, saya sudah berusaha membalasnya. Tetapi, blogspot kadang tidak mendeteksi saya sebagai User dan komentar yang sudah saya tulis pada akhirnya tidak terposting. Meskipun hanya ada dua komentar (pembaca lain cenderung menyapa saya lewat DM instagram @nukhbahsany atau lewat email nukhbahsany@gmail.com), fakta ini cukup membuat saya tidak enak hati karena kalian sungguh sangat baik sama saya namun saya terlalu gaptek untuk membalas kebaikan kalian. Jadi, saya memutuskan untuk membalasnya lewat satu postingan blog saja ya, biar lebih gampang ngetiknya.

Sakinah on Maret: Kembali ke Novel, Menyambung Pertemanan, dan Mempertahankan Ketenangan Batin commented:
Sepertinya bulan ini lagi kalang - kabut yah ka... keep fighting yah ku selalu menunggu review nya loooh..
Pertama jadi silent reader nih.. tapi reviewnya kaka tuh sangaaaaaaat inspiring bangeeet.. sampe - sampe mau mulai lagi nih buat namatin buku buku yg belum selesai... hehe

SANY:
Percaya atau enggak, saya saat ini lagi dalam posisi paling nganggur haha tetapi memang paling nggak bisa buat diem aja karena otak gampang bosan. Akhirnya bikin resolusi untuk mencatat semua yang saya baca di buku catatan dan memposting ulasannya di blog. Selain bikin kelihatan sibuk, metode ini sukses bikin otak saya lebih aktif buat mengolah informasi yang masuk. Jadi, saya nggak nggih-nggih aja, gitu, waktu membaca. Tetap berusaha sekritis mungkin karena saya merasa saya punya beban pertanggungjawaban moral buat kalian yang baca blog saya.
Alhamdulillah kalau ulasan yang saya tulis menginspirasi buat kalian membaca buku. Jujur saya nggak pernah menyangka kalau ada orang-orang yang serius ngikutin blog saya, apalagi sampai tergugah atau termotivasi buat membaca buku gara-gara saya. Huhuhu selalu terharu saya tuh tiap ada yang komen kayak gini *wipe tears* terutama di masa-masa ketika saya lagi sedih banget atau lagi down, bikin semangat buat nulis ulasan-ulasan yang lebih bermanfaat lagi. Terima kasih yaa sudah baik sekali sama saya, Sakinah. Semoga sukses dan semakin rajin membaca!

Farah Putrizeti on [Review Buku] Educated oleh Tara Westover commented:
Hai! Terima kasih atas review menarik dan on-point ini.
Saya setuju dengan poin tentang bagaimana pendidikan sayangnya tidak menjadi fokus dalam memoir ini. Saya berharap dampak pendidikan dalam mengubah Tara menjadi individu yang lebih baik ditekankan dalam memoirnya. Eh ternyata pembaca malah dibuat emosi karena Keluarga Westover yang disfungsional...

SANY:
Halo. Wah terima kasih ya sudah mampir di ulasan ini! Sepertinya memang banyak yang kurang sreg ya tentang fokus pendidikan Tara yang tidak terlalu ditekankan. Apalagi letaknya di bagian belakang, setelah beratus-ratus lembar penuh cerita derita Tara. Beberapa orang terlanjur menyerah (did not finish) karena nggak kuat—atau memang nggak peduli—sama kisah Tara sehingga nggak dapat cerita perjuangan Tara untuk kuliah. Padahal, kisah kuliah dia bagus sekali, membuat kita lebih bersyukur karena kita bisa belajar dengan nyaman dan memotivasi kita buat belajar lebih keras. Tinggal diperdalam dan dijelaskan lebih lengkap saja. Mungkin karena ini memoir dan bukannya self-help, ya, jadi porsinya tidak mendominasi.

Saya harap ke depannya masalah blogpost ini bisa diperbaiki. In the meantime, tolong jangan ragu buat menyapa saya di platform-platform manapun. Saya nggak judes kok, cuma gaptek saja haha! (Well, saya nggak gaptek-gaptek amat sih. Khusus buat blogpost ini memang bandel banget setting-nya). Sapaan dari kalian selalu bikin saya semakin bersemangat buat nulis di sini.

Sampai jumpa di ulasan buku selanjutnya! 

Wednesday, 24 April 2019

[Review Buku] Keep Going oleh Austin Kleon

Beberapa hari ini saya mengalami reading block terparah sepanjang sejarah membaca saya. Setelah saya analisis, penyebab utamanya adalah sifat serakah yang saya punya. Katakan saat ini saya membaca buku A, sudah sampai beberapa bab dan teranotasi dengan baik. Tidak lama, buku B yang sudah saya tunggu-tunggu terbit. Akhirnya nggak sabar untuk baca buku B. Baru juga dapat setengah, pesanan buku C dari tiga minggu lalu datang. Langsung disampul dan dibaca di tempat. Begitu terus sampai akhirnya otak saya bingung dan tertekan. Apapun yang saya baca rasanya tidak bisa teresapi dengan baik. 

Akhirnya saya mengambil langkah besar untuk mengkandangkan semua buku-buku ke rak dan BERJANJI PADA DIRI SENDIRI UNTUK NGGAK NGUTAK-ATIK BUKU-BUKU ITU LAGI kecuali kalau memang pengen masokis dan mengulang perasaan tidak menyenangkan itu. Sebagai gantinya, selama beberapa hari ini saya lebih intens dalam hal ibadah, olahraga, dan menonton drama. 


Kemudian, saya menemukan fakta bahwa penulis favorit saya, Austin Kleon, baru saja menerbitkan buku ketiganya, Keep Going. Buku ini bisa dibilang datang di saat tepat, yaitu ketika otak saya sudah benar-benar terprogram ulang dan fresh. Bukunya yang tipis dan penuh coretan-coretan dari penulis benar-benar memanjakan mata dan otak sekaligus. Selain itu, pembaca semakin dipermudah dengan kemampuan penulis untuk menyampaikan ide-idenya dalam tulisan yang ringkas dan menggunakan bahasa ringan seperti yang digunakan sehari-hari. Yang paling penting bagi saya adalah konten di dalamnya, yaitu pembahasan yang khusus ditujukan bagi seniman yang sedang menghadapi masa-masa sulit. Meskipun saya bukan seniman, banyak pemikiran-pemikiran dari penulis yang bisa diterapkan ke fase hidup saya yang saat ini sedang kurang motivasi dan krisis inspirasi.

Dari semua ide yang diajukan penulis, yang paling mengena bagi saya adalah “Make List,” karena sudah saya praktekkan sejak lama. Kegiatan menulis jurnal terbukti ampuh untuk meluapkan perasaan sekaligus mencatat kemajuan proses kita dari tahun ke tahun. Tidak peduli apakah hari tersebut adalah hari tersibuk atau hari terkelam di kehidupan saya, saya selalu menyempatkan waktu sekitar 5 menit untuk mencatat apa saja yang terjadi hari itu (hari terkelam menurut saya adalah hari dimana isi jurnal sangat juicy dan “berbobot”). Tentu ada hari-hari ketika saya lupa nulis atau cenderung masa bodoh dengan kegiatan yang saya masukkan di dalamnya, tetapi outlier seperti itu hanya sekitar 10% dari keseluruhan. Seingat saya, kebiasaan ini dimulai setelah menamatkan buku pertama penulis, Steal Like an Artist, dan semakin intens setelah menamatkan buku ketiganya. Jadi, saya memang berhutang budi sekali sama Austin Kleon mengenai kebiasaan yang membentuk kepribadian saya saat ini.

“Your list is your past and your future. Carry at all times. Prioritize: today, this week, and eventually. You will someday die with items still on your list, but for now, while you live, your list helps prioritize what can be done in your limited time.”
—Tom Sachs

Di poin “Make List” ini, selain memberi berbagai rekomendasi “daftar” yang bisa kita buat untuk memaksimalkan kegiatan kita, penulis juga menyarankan untuk membaca ulang apa yang sudah kita tulis selama ini. Bagian ini cukup menyeramkan buat saya, mengingat ada beberapa hal yang sepertinya belum siap saya baca (that good old days, full of happy memories). Namun, saya rasa cepat atau lambat saya harus melakukannya. Tinggal menunggu saat yang tepat, yang penting saat ini sudah diniatkan.

Saya juga suka sama poin “Finish Each Day and Be Done With It,” karena ide utamanya adalah seberat apapun harimu, berjuanglah sampai di penghujung hari agar bisa STOP, istirahat sekaligus introspeksi, untuk kemudian siap-siap untuk berjuang lagi esok hari. Tidak perlu terlalu menghajar diri jika kinerja kita hari ini tidak memenuhi standar pribadi kita. Saya selalu punya standar sangat tinggi terhadap apa yang saya lakukan atau impikan untuk diraih, jadi saran penulis untuk “go easy on yourself, a little self-forgiveness goes a along way” terasa seperti kompres dingin buat hati yang mulai cenut-cenut karena merasa gagal.

A day that seems like waste now might turn out to have a purpose or use or beauty to it later on.

Dalam hal pikiran yang sedang suntuk atau stres berkepanjangan, penulis menyarankan untuk jalan kaki. Pergi keluar rumah setiap hari, tidak peduli jam berapa kamu bangun (beberapa orang suka menyerah duluan kalau waktu mulai mereka nggak cukup pagi bagi standar khalayak umum, akhirnya alasan “besok aja” terus deh) sambil bawa headset atau kamera HP untuk memfasilitasi inspirasi. Pokoknya jalan duluan lah; jauh atau dekat, sudah mandi apa belum, di kampus atau di kantor, sendirian atau bareng-bareng (saya sih merekomendasikannya sendirian). Niscaya pikiran-pikiran yang mbulet akan satu-persatu terurai.

Walking really is a magic cure for people who want to think straight. “Solvitur ambulando,” said Diogenes the Cynic two millennia ago. “It is solved by walking.”

Selain jalan kaki, penulis juga menyarankan untuk beberes, meskipun menurutnya metode Marie Kondo tidak akan cocok bagi seniman. Beberes di sini lebih ke proses menyibukkan tangan agar otak punya ruang untuk berpikir bebas. Mekanismenya hampir sama seperti aktivitas kerajinan tangan, yang sudah saya buktikan merupakan media paling asyik buat bengong produktif. Hasil akhirnya bukan aneka kerajinan yang lucu, melainkan ruang kerja yang lebih rapi dan bersih dari debu. Saat beberes juga seniman biasanya akan menemukan printilan-printilan yang akan memunculkan ide kreatif baginya. Poin beberes ini lebih saya aplikasikan dalam bentuk mengucek pakaian dan menjemurnya secara manual (jadi nggak pakai mesin cuci, lumayan hemat listrik hehe), mencuci piring dan perkakas masak kotor yang ada setiap lewat dapur (yang, selalu saja menumpuk hmph), mengepel lantai kamar, dan yang paling elit adalah mengelap kaca besar di kamar. Percaya atau tidak, semuanya benar-benar menenangkan. Dan karena saya melakukannya sedikit demi sedikit, rasa puas karena sudah menciptakan ruang buat bengong produktif cenderung melebihi rasa capeknya.


Poin terakhir, yang menurut saya paling magical, adalah “Plant Your Garden.” Secara harfiah, saya sudah menanami taman di belakang rumah saya, jadi saya agak mengerti sih fungsi dari tanam-menanam ini buat ketenangan batin. Tetapi penulis di sini lebih menekankan filosofi pohon maple milik Corita Kent. Pohon maple yang bersemi paling meriah adalah yang berhasil bertahan menghadapi musim dingin paling parah sebelumnya. Ketika gundul dan nampak hampir mati, tidak ada yang percaya kalau pohon itu bakal sukses bertahan. Namun, justru di periode itulah dia berproses mati-matian. Tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga menabung nutrisi untuk blooming di periode ketika dia siap nanti.

“That, in a way, is very much how I feel about my life,” she said. “Whether it will ever be recognizable by anyone else I don’t know, but I feel that great new things are happening very quietly inside me. And I know these things have a way, like the maple tree, of finally bursting out in some form.”

For Kent, the tree came to represent creativity itself. Like a tree, creative work has seasons. Part of the work is to know which season you’re in, and act accordingly. In winter, “the tree looks dead, but we know it is beginning a very deep process, out of which will come spring and summer.”


Jadi, kita memang harus paham dengan periode dimana kita berada (serta tanaman apa yang akan kita tanam). Saat ini sih saya masih di periode musim dingin, sedang mempersiapkan diri untuk merekah di musim semi nanti. Mengetahui posisi kita saat ini benar-benar membantu dalam penentuan timeline/rencana kita ke depan. Selain itu, menyenangkan kan melihat masa vakum kita dari segi positif? Ini semua mungkin terjadi berkat buku kecil ini. Dan sebenarnya, masih banyak poin bagus yang diberikan oleh penulis dalam hal menumbuhkan inspirasi di masa sulit, tetapi rasanya tidak mungkin untuk membahas semua poinnya di ulasan ini. Yang jelas, saya akan selalu (dan selalu!) berhutang budi kepada Austin Kleon atas pola pikir yang spektakuler dan positif, yang sudah memberikan perubahan besar pada kehidupan saya.

Every day is a potential seed that we can grow into something beautiful. There’s no time for despair. “The thing to rejoice in is the fact that one had the good fortune to be born,” said the poet Mark Strand. “The odds against being born are astronomical.” None of us know how many days we’ll have, so it’d be a shame to waste the ones we get.

Friday, 19 April 2019

[Review Buku] An Anonymous Girl oleh Greer Hendricks & Sarah Pekkanen

Di ulasan Little Fires Everywhere, untuk pertama kalinya saya memakai buku catatan dengan loose leaf polos. Rupanya, saya nggak bisa bikin catatan yang “lurus” seperti ketika pakai buku catatan polos berjilid. Tulisan saya di situ pun jadi acak-acakan dan paragrafnya naik-naik ke puncak gunung. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk beli loose leaf dengan pola titik-titik (dotted) dan kotak-kotak (grid) untuk membantu saya nulis lurus tanpa mendistraksi mata dari garis yang dibuat oleh pabrik. Ini bukan semata pembelian impulsif di atas jam 12 malam sih, karena sesungguhnya paling nggak bisa saya tuh pakai loose leaf bergaris yang umum dijual di toko. Garisnya terlalu tebal sehingga tintanya bakal balapan sama tinta pulpen saya. Kesimpulannya, g o o d b y e money.


Paket datang tepat sebelum saya berangkat menginap beberapa hari di rumah teman, sehingga saya cuma punya sedikit waktu buat ambil foto. Cukup kaget sama ukurannya yang segede kotak sepatu. Pikir saya, pantas saja mahal… karena ternyata kertasnya tebaaaaal dan saya pesannya banyaaaaak (harus beli minimal 5 barang biar bisa bebas dari ongkos kirim uhuk). Ketebalan lembaran loose leaf yang dua kali lipat dari yang biasa kita beli di toko dikarenakan fungsi sesungguhnya bukan buat nulis catatan biasa, tapi untuk brush lettering. Wow, secara tidak sadar saya naik kelas dari tukang nulis sembarangan menjadi insan a e s t h e t I c. 

Uang saya nggak sia-sia sih, karena terjadi perbaikan mencengangkan pada catatan saya untuk novel yang minggu ini saya baca: An Anonymous Girl.


Can we appreciate this beauties~

An Anonymous Girl merupakan novel thriller yang direkomendasikan Goodreads, menempati peringkat kedua setelah The Silent Patient. Alasan saya lebih pilih ini adalah tagline mereka yang bilang kalau novel ini “psikologi” banget. Cocok sama saya yang lagi mendalami ilmu ini. Hitung-hitung, cari ilmu dan hiburan sekaligus gitu. Saya memang sepertinya sedang jengah sama nonfiksi yang membutuhkan banyak konsentrasi dan ruang ingat.


Novel ini bercerita tentang Jessica, seorang MUA yang tertarik untuk berpartisipasi dalam penelitian seorang psikiater di New York, Dr. Shields, mengenai etika dan moralitas. Jessica bersedia untuk menjadi subjek wawancara—dia dapat info ini dari hasil curi dengar percakapan telepon klien riasnya—karena sedang membutuhkan uang untuk pengobatan adiknya. Bayaran yang diberikan oleh Dr. Shields tidak main-main, 500 USD sekali datang (jadi malu yang kemarin cuma ngasih gelas ke responden). Jessica tidak sadar, dengan mengintervensi penelitian ini, dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya membuka kenangan menyakitkan, yang kemudian akan menariknya dalam intrik kehidupan keluarga Dr. Shields yang berbahaya.

Menurut saya, ada dua plot twist besar di novel ini. Yang pertama: Dr. Shields adalah seorang perempuan. Reaksi saya terwakili dengan baik dengan pemikiran Jessica berikut:

I don’t know why I assumed she was male. Thinking back, I realize Ben only called her “Dr. Shields.” The way I incorrectly pictured her probably says something about me.

Kenapa ya kita secara otomatis menganggap mayoritas orang-orang yang pintar dan sukses itu laki-laki—kecuali kalau memang sejak awal secara spesifik subjek yang dipakai adalah “she” dan bukannya “he”? Dengan banyaknya buku feminis dan memoir perempuan-perempuan sukses di dunia yang sudah saya baca, saya kira saya tidak akan terjebak dalam plot twist ini. Rupanya tidak juga. Padahal, sampul bukunya juga jelas-jelas menampilkan foto dua perempuan. Bukti kalau saya masih perlu banyak belajar untuk mengkoreksi pola pikir yang masih suka kebawa arus stereotip gender.

Plot twist kedua adalah tujuan utama Dr. Shields melakukan penelitian ini. Alasan Dr. Shields melakukan penelitian mengenai etika dan moral adalah untuk membuktikan apakah sifat tidak setia yang dimiliki suaminya merupakan sesuatu yang terjadi satu kali saja atau memiliki kemungkinan untuk terulang. Dengan kata lain, Dr. Shields menggunakan ilmu pengetahuan untuk menebak pola perilaku perselingkuhan suaminya sendiri. Pada akhirnya, terdapat dua pertanyaan yang ingin dijawab oleh Dr. Shields: (1) Haruskah hukuman yang diterima Thomas sepadan dengan kesalahan yang dia lakukan? dan (2) Apakah korban punya hak untuk menentukan pertanggungjawaban yang layak diterima pelaku?

…an affair shatters a relationship, leaving the betrayed to grapple with feelings of rage and pain. Forgiveness is not always possible, forgetting is unrealistic.

GUYS! Guuuuyyyyssss! Jangan pernah macam-macam sama seorang intelektual kalau kalian nggak mau punya nasib seperti suami Dr. Shields, Thomas. Novel ini benar-benar membuka mata saya kalau kalian berani cari gara-gara sama seseorang macam Dr. Shields, pembalasan yang kalian terima akan sangat terencana, menyakitkan, dan nyaris tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Mereka dapat memanipulasi pembenaran yang sangat meyakinkan dan memiliki banyak akses untuk mewujudkan rencananya.


Saya harus menekankan di sini kalau tindakan Dr. Shields tidak bisa diterima, baik sebagai seorang profesional maupun sebagai istri. Namun, sifat buruknya muncul akibat perlakuan suaminya. Sayang rasanya melihat seorang yang begitu brilian harus “rusak” karena tindakan seseorang yang egois. 

Every lifetime contains pivot points—sometimes flukes of destiny, sometimes seemingly preordained—that shape and eventually cement one’s path.
These moments, as unique to each individual as strands of DNA, can at their best cause the sensation of a catapult into the shimmer of stars. At the opposite extreme, they can feel like a descent into quicksand.

Sejujurnya, hampir semua tokoh di novel ini nggak ada yang beres sih (kecuali Noah). Jessica yang di sini tampak sebagai korban di antara hubungan Dr. Shields dan Thomas pun sebenarnya sangat problematic karena (a) dia diam-diam mendengarkan ulang pesan suara dari ponsel klien MUA-nya, Taylor, dan (b) dia mengaku sebagai “Taylor” ketika kenalan dengan Noah. Jessica melakukan itu semua tanpa perasaan bersalah sedikit pun, bikin saya curiga jangan-jangan dia sosiopat. Nggak kaget, sih, ketika Jessica mengakui perbuatannya ke Taylor demi mendapat informasi tentang orang yang pertama menawarkan 500 USD tersebut, si Taylor langsung cemas dan melangkah mundur sedikit demi sedikit. You’re rather scary, sis

Begitulah ulasan suka-suka dari saya. Setelah membaca dari awal sampai akhir, saya bisa membenarkan sih kalau novel ini memang psikologi banget, khususnya bagian bab Dr. Shields. Tetapi ya novel ini menurut saya b aja, dengan akhir cerita yang dipaksakan. Agak melebih-lebihkan kalau novel ini masuk genre thriller, karena nggak bikin deg-degan juga. Pelajaran yang bisa saya ambil dari tragedi di novel ini cuma: kalian boleh kok pakai behavioral science untuk menebak pola perilaku seseorang (khususnya yang menyakiti kita), tapi mbok ya jangan dijadikan penelitian beneran gitu .-.

Yeah, funeral to your career.