Wednesday, 2 January 2019

Menemukan Cinta Baru: Buku Masak dan Hal-hal Baik Tentangnya

Saya mengawali tahun 2019 dengan hobi baru: baca buku masak. Tepatnya, buku masak terbitan luar negeri.


Semua ini berkat Chrissy Teigen yang sukses menarik minat saya ke dunia perbuku-masak-an lewat Cravings dan Cravings: Hungry for More. Meski saya nggak bisa mereplikasi resep-resep luar biasa dia karena miskin keterbatasan biaya buat beli bahan-bahan, saya sangat SANGAT bahagia waktu membolak-balik Cravings 1 dan Cravings 2. Pengikut setia akun Chrissy pasti tahu ya betapa sassy-nya dia dalam mengekspresikan pikiran maupun membalas ejekan para trolls di dunia maya. Nah, kelucuan khas Chrissy terefleksikan dengan baik di buku masaknya, menjadikan bukunya itu nggak serius-serius banget. Memang mulanya banyak orang yang meremehkan niat Chrissy untuk berbagi resep masak gara-gara doi seorang model, yang erat dengan stereotip suka diet dan nggak “kenal” sama masakan enak. Namun, pada akhirnya orang-orang yang recook masakan-masakan dia malah jadi super ketagihan dan menjadikan Cravings 1 dan Cravings 2 sebagai sebuah quest untuk ditaklukkan (mungkin mereka nggak tahu kalau sebelum terkenal si Chrissy itu punya blog masakan berisi resep-resep mudah dan enak dan penuh tips lifehack. Lihat aja dari jumlah keju dan bacon yang dia rekomendasikan. It basically SCREAMS quality).  Interaksinya dengan John Legend yang SUPER PURE juga menjadi nilai lebih yang selalu saya tunggu-tunggu ketika membacanya.

Lama-kelamaan, membolak-balik buku dan majalah masak menjadi terapi tersendiri bagi saya buat menenangkan pikiran. Everything is fine! Here’s a picture of perfectly cooked pasta and grilled cheese as you like! And it comes with instructions!



Nggak peduli kita butuh 3 jenis keju dari 3 negara yang berbeda buat mengeksekusinya. Pura-pura acuh juga kalau buat bikin pasta ini, kita butuh cooking cream yang kalau beli di Superindo harganya bisa lebih dari Rp 30.000 sekotak kecil. Dan, nggak perlu tuh memperhitungkan fakta kalau di rumah, yang doyan makanan kayak beginian cuma saya. Asal ada gambar bagus dan narasi yang menghibur, saya anggap saya butuh buku masak itu.



Hal yang sama juga berlaku buat buku Scoop Adventures: The Best Ice Cream of The 50 States. Apa saya punya mesin es krim? Enggak, mahal banget cuy. Apa saya mau repot-repot pesan bahan es krim super langka yang mungkin cuma bisa didapatkan di Shoppee lewat pre-order dan diimpor khusus dari luar negeri dan harus beli dalam batch besar? No, I don’t have the patience. Apa saya punya kulkas yang kinerja freezer-nya oke? Waduh, kulkas saya yang sekarang aja sudah lama teriak minta diganti. But do all of that facts stop me from reading it, though?


Sebagai pecinta es krim dan gelato sejati, saya semangat banget waktu tahu buku ini adaDi luar sana, seorang yang sangat suka es krim membeli mesin pembuat es krim yang sangat mahal dan berepot-repot melakukan eksperimen berbagai resep es krim yang unik dan lezat. Kerennya, resep yang sudah susah-payah dia sempurnakan itu, dibagikan dengan suka rela di blog yang dia punya. Hingga akhirnya resep-resepnya disatukan dalam buku ini, dengan dibantu banyak pemilik kedai es krim lokal hebat di berbagai daerah penjuru dunia. Buku ini adalah bukti nyata dari konsep sharing is caring.

Mungkin karena saya sudah tahu betapa banyak cinta yang dituangkan dalam menyusun buku ini, membacanya menimbulkan perasaan bahagia yang sudah lama nggak saya rasakan. Semua itu didukung dengan bahasa penyampaiannya yang mudah dipahami, narasi yang sarat dengan informasi berharga seputar es krim, serta foto-fotonya  yang menggugah selera (saya mengapresiasi sekali usaha fotografer untuk mendapatkan foto-foto super keren di buku ini karena memotret es krim tidak mudah dan harus dilakukan S E G E R A setelah di-scoop mengingat es krim buatan rumahan melelehnya cepat). Secara keseluruhan, tiga buku di atas lebih manjur dari buku self-help manapun dalam membangun mood saya di awal tahun 2019.

Ini salah satu kalimat favorit saya dari penulis Scoop Adventures, karena merefleksikan dengan baik seberapa besar cinta saya pada hobi yang saat ini saya tekuni, memasak:

My love of all things ice cream stayed with me as I celebrated many milestones. Through college, marriage, moving across country, and starting my first real job, my passion for ice cream never wavered. My experiments with ice cream continued through it all…. Ice cream kept me grounded and focused on a passion while the rest of life flew by. Do I ever get sick of ice cream, you ask? Well, it is a lot like other things I love—I got sick of it every once in a while, but it is not long before I figure out I cannot live without it.

Dengan caranya tersendiri, buku-buku masak menawarkan pembelajaran penting buat saya, yaitu kita bisa berbagi cinta yang tulus tanpa merasa rugi. Kita membantu orang lain bahagia melalui resep makanan yang akan dia masak dengan tangan mereka sendiri. Atau skenario yang lebih baik lagi, kita menyediakan media bonding bagi mereka dan orang terkasih melalui sebuah kudapan lezat, tanpa perlu pergi ke restoran. The best part, though….we help them with STYLE. 

Saya nggak pernah menyangka bisa mendapatkan penghiburan dari buku masak. Apalagi buku masak luar negeri yang jelas-jelas resepnya nggak bakal saya replikasi. Tapi saya bersyukur karena sudah menemukan mereka, memutuskan untuk membaca mereka, dan bisa menyadari betapa besar dampak mereka ke perluasan perspektif yang sedang saya lakukan. Buku masak benar-benar “buku yang tepat di saat yang tepat” buat saya di tahun 2019. Saya rasa ini merupakan awal yang baik untuk kembali mendalami berbagai genre buku dan membaginya di blog buku yang sempat terabaikan tahun lalu.

Bonus: Salah satu resep dari buku Scoop Adventures. 5/5 stars. Klik gambar untuk melihat dengan jelas.



Monday, 31 December 2018

Menutup 2018

Di pertengahan tahun 2018, saya memulai suatu proyek rahasia. Sebenarnya proyek ini bukan baru banget, karena beberapa kali sebelumnya sudah pernah saya lakukan—cuma ya memang kurang intens saja hehe. Nama proyeknya adalah “Posting Pencapaian Kamu Hari Ini”. Instagram adalah media yang saya pilih. Makanya, kalau kalian follow akun IG saya, kelihatan kalau saya akhir-akhir ini rajin upload. Tipikal anak yang suka ngebut di akhir deadline.

Proyek ini terinspirasi dari #The100DaysProject yang digagas oleh Elle Luna dan Lindsey Jean Thompson. Mereka lebih ke seni lukis gitu. Nah karena saya nggak menekuni seni lukis, maka saya pilih Pencapaian saja. Anything, lah. Dan kenapa saya nggak ikut sekalian 100 hari intens? Karena saya nggak se-masokis itu sama diri sendiri LOL. Saya cukup tahu sama kapasitas diri, sejauh mana saya bisa maksa diri untuk melakukan sesuatu. Sebagai gantinya, saya tetapkan waktu selesainya di akhir tahun 2018.

Tujuan sebenarnya dari proyek ini tentu bukanlah buat pamer. Saya cukup sadar kalau followers saya sangat sedikit. Lagian, pencapaian saya bukan sesuatu yang WAH banget. Saya hanya ingin membuktikan sama diri sendiri, “Ini lho…kamu bisa berkarya. Minggu lalu, dua hari lalu, dan kemarin, kamu sudah sukses berkarya. Jangan potong rantai progress kamu hari ini!” 


Mungkin belum banyak yang tahu ya, tapi sejak pertengahan tahun 2018, saya mengalami kejadian yang sangat membuat terpukul. Semua semangat dalam hidup berasa tercabut sampai ke akarnya. Sulit sekali untuk memulai hari, padahal bagi saya pagi adalah cerminan kinerja saya sepanjang hari. Ketika pagi loyo, bisa ditebak seharian bakal males-malesan. Hasilnya? Berminggu-minggu saya cuma ngendon di kamar sambil meratapi nasib. Hingga akhirnya saya berpikir, enough is enough. Saya nggak bisa membuang waktu yang sangat berharga ini… di periode yang paling penting pada masa S2 ini… dengan berlarut dalam kesedihan. Hence, I started this awesome project.


Saya baru sadar saya itu jenius ketika saya memilih tema Pencapaian ini. Begini… untuk bisa mencapai sesuatu, kita biasanya memulai hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Untuk memulai itu, diperlukan rasa percaya diri dan bekal riset yang banyak (saya bukan tipe yang asal nyemplung ketika mau melakukan suatu hal). Dengan kata lain, beberapa bulan ini secara intens saya telah memaksa diri saya sendiri untuk keluar dari zona nyaman. Saya nggak cuma bangkit dari keterpurukan. Saya berlatih untuk maju ke depan.

Dan tahu nggak dari semua pencapaian, apa yang paling saya tekuni? Memasak.

Kenapa memasak? Karena saya lemah di bidang ini. Saya itu tipe yang nggak bisa sedep kalau masak. Kalau baca resep dan nemu kata-kata “garam secukupnya” atau “sesuai selera”, pasti langsung mutung. Saya juga kalau nyuguhi teh ke tamu itu pasti kalau enggak kelewat manis ya kelewat sepet. Pokoknya selalu ada sensasi kayak ada yang ninggal di tenggorokan gitu lah. Dengan adanya proyek ini, saya bertekad untuk belajar habis-habisan tentang teknik memasak. Untung ya sudah banyak banget media berbagi di internet, dari mulai Cookpad hingga Youtube. Kalau kuota lagi cekak, buka Cookpad. Kalau lagi di kos temen atau kafe yang wifi-nya kenceng, langsung borong download tutorial masak di Youtube. Sifat oportunis saya beneran keluar maksimal demi bikin proyek ini sukses (PS: bisa dilihat kemajuan saya di bidang per-teh-an di postingan ini).


Saya cukup bangga di penghujung tahun 2018 (akhir periode yang saya tentukan), saya masih konsisten untuk melakukan proyek Posting Pencapaian. Memang kalau bagi yang follow saya, cukup bikin kesel ya kok banyak foto masakan berterbaran. I know this is not what you signed up for when you clicked that Follow button. Tapi percayalah, saya nggak berharap like dari kalian kok. Saya juga nggak sedih kalau kalian nge-skip fotonya. Saya hanya butuh media untuk terus memotivasi. Dan sejauh ini, Instagram works wonder! Jadi saya mohon, abaikan saja kalau ada foto masakan saya nampang. 

Dari kolase di Instagram, saya bisa melihat secara nyata betapa banyak progress yang saya alami. Yang kelihatan di sana mungkin cuma “Wah, Sany bisa bikin banyak masakan juga ya.” Tapi dari lubuk hati terdalam, diri saya yang pertengahan tahun lalu lembek macam kentang tumbuk sadar, kalau 6 bulan ini saya belajar banyak pengetahuan soal bahan dan teknik masak, beli investasi berbagai alat masak dan bumbu-bumbu yang belum pernah dipakai sebelumnya, serta interaksi sama banyak ahli masakmulai dari Ibu temen sampai para Ibu-ibu hits pemilik akun masak saya ajak ngobrol. I did something beside crying. I did a lot of things, actually. Dan itulah tujuan sesungguhnya dari proyek ini. Untuk menyadarkan diri kalau saya bisa survive melewati tragedi besar dalam hidup melalui hal-hal kecil nan positif yang saya lakukan untuk diri sendiri. I cooked at my sad days, I cooked at my happy days, and I ordered GoFood on my stressful-thesis-deadline days. I always made sure my belly is full with delicious goodness, no matter how shattered my heart was. That was how I supported my own self.


Tentu ada yang dikorbankan. Karena waktu senggang teralihkan untuk nonton video tutorial dan baca artikel self-help di Medium (because, you know, I needed help), proyek baca saya jadi keteteran. Goodreads nggak ke-update, blog nggak keurus, novel baru yang tahun lalu ditunggu-tunggu rilis pun nggak kepegang. Tapi itu yang dinamakan hidup ya…kita bertumbuh dan berprogres. Penurunan angka baca di Goodreads tidak mempresentasikan penurunan kualitas hidup saya. Bahkan, banyak yang merasa tahun ini saya mengalami peningkatan kualitas hidup yang super pesat. Saya jadi tahu bagaimana rasanya dikhianati, saya jadi tahu siapa yang teman siapa yang hilang, saya jadi bisa mengenal diri sendiri secara lebih mendalam, dan yang paling penting…saya tahu saya bisa bangkit ketika dibuat jatuh. 2018 grows me through pains and struggles, and for that I’m forevel grateful.

Terima kasih 2018 buat pembelajaran yang sangat berharga. Saya siap menyambut 2019 dengan proyek-proyek hebat berikutnya.

Friday, 28 December 2018

[Review Singkat] Turtles All the Way Down


Target baca novel tahun ini keteteran banget. Saya cuma sempat baca beberapa. Apa aja-nya sih...saya lupa (RIP akun Goodreads yang nggak pernah diperbarui). Makanya, untuk mengobati rasa bersalah di penghujung tahun ini, kemarin saya baca novelnya John Green yang paling anyar... Turtles All the Way Down (TATWD). Saya sengaja pilih ini karena John Green adalah penulis favorit putri Bill Gates, Phoebe. Novel ini masuk dalam rekomendasi tahunan Bill Gates di websitenya, gatesnotes.com tahun lalu. Dan karena saya sudah bertekad mau mengikuti jejak baca Bill Gates, saya pikir, why not

"I've read a couple of John's books and enjoyed each one, and his latest is no exception. Turtles All the Way Down tells a story of Aza Holmes, a high school student from Indianapolis. When a local billionaire goes missing and a $100,000 reward is offered for information about his disappearance, she and her best friend decide to track him down."

Lucu mungkin ya bagi Bill Gates membaca buku tentang perasaan anak seorang milyuner yang hidup dalam bayang-bayang identitas ayahnya. Bahkan dia sempat bercanda, "While I hope I'm nothing like the morally bankrupt Russellhe wants to give all of his money to his pet lizard and was under investigation for fraud and bribery—I think my own kids can relate to some of Davis' experiences." Jadi makin semangat deh untuk membaca novel ini; untuk tahu gimana rasanya jadi Phoebe Gates. OK.

Permulaan cerita berjalan mulus. Bahkan saya sempat tertawa berkali-kali. Humor cerdas khas John Green terasa kental sekali dalam tokoh Aza. Tapi, semakin lama, alurnya mulai melambat. Deskripsi John Green tentang OCD yang dialami Aza juga mulai membuat saya nggak nyaman karena? Saya sedikit bisa relate

Tapi overall, saya cukup menikmati novel ini sebagai selingan segar di antara banyak biografi dan buku psikologi yang saya baca tahun ini. Tidak se-memorable Looking for Alaska, I might say. Cuma saya sangat menghargai karya TATWD lebih pada…novel ini merupakan bukti nyata kesuksesan John Green untuk keluar dari bayang-bayang kespektakuleran The Fault in Our Stars. Terus berkarya, Mr. Green!


Saya membaca novel ini dalam dua format: ebook dan audiobook. Menurut saya narator audiobooknya bagus. Cuma ya nggak yang spektakuler gitu. Kadang saya bosan sama cara dia membawakan cerita. Tapi, karena saya akhir-akhir ini lagi hobi jadi bibik (nyuci piring, ngelap kaca, ngepel), versi audiobook ini sangat membantu saya biar kerjanya nggak sambil bengong. Paling nggak bisa saya kalau otak nganggur. Bisa ngelantur kemana-mana nanti. Jadi ya, saya cukup merekomendasikan versi audiobooknya. 

Thursday, 13 December 2018

India dari Sudut Pandang The Economist

Minggu ini saya tergugah dengan salah satu artikel dari The Economist. Dari semua isu penting yang dibahas (Brexit, Presiden Perancis vs Yellow Vest, USA, satelit, dan lain-lain), saya justru penasaran dengan pembahasan singkat tentang masalah yang sedang dialami India. 

Ok u got my attention, sir.

Yep, India sedang menderita karena polusi.

Saturday, 1 December 2018

Serba-serbi Teh

“Tea is more delicate than coffee, infinitely more interesting than water, healthier and more subtle than soda. It is the perfect beverage—one that can be drunk frequently and in great quantities with pleasure and without guilt.”

Salah satu teman setia saya ketika membaca buku, menulis jurnal, atau mengerjakan tesis adalah teh. Seringnya kopi sih, tapi saya akan menyeduh teh ketika dosis kopi yang masuk ke badan sudah overload. Teh yang pertama kali saya konsumsi itu suatu merek teh celup punya Bapak yang astaga super sepat dan meninggalkan rasa tidak nyaman di tenggorokan ketika ditelan. Apa yang bisa dinikmati dari minuman seperti ini?

[Spoiler: bukan tehnya yang nggak enak, sayaahh yang bikinnya ngawur]

Namun, pertanyaan besar itulah yang akhirnya membuat saya melakukan riset SUPER MENDALAM tentang teh. Saya baca buku yang khusus membahas teh, nonton video-video di Youtube tentang teh, hingga menumbuhkan kebiasaan untuk berdiri lama sekali di rak bagian teh ketika pergi ke supermarket hanya untuk melihat dan memegang macam-macam teh yang mereka jual. Am I competent or just weird?

Thursday, 29 November 2018

Artikel The Economist: "Why Suicide is Falling Around the World."—So What Gitu, Loh?

Setelah membaca buku Factfulness, saya jadi sadar kalau selama ini, kita selalu dicecoki oleh pemberitaan yang cenderung negatif, menjelekkan pemerintah, atau tidak mendidik. Pada portal berita, misalnya, jurnalis lebih suka mengambil sisi ekstrem yang negatif, karena data historis menunjukkan artikel-artikel itulah yang sering dibuka oleh pembaca. Hal ini juga bisa kita lihat pada fenomena tayangan TV tidak mendidik yang berisik dan haha-hihi, malah yang sering memuncaki rating TV nasional. Oleh karena itu, pemberitaan The Economist tentang penurunan angka bunuh diri global benar-benar menggugah perhatian saya karena tidak hanya menyoroti sisi positif dari sebuah fenomena yang kita kurang awas, tetapi juga penyebab-penyebabnya.


Sunday, 25 November 2018

[Review Drama] Because This is My First Life

Ketika diminta untuk menyebutkan genre favorit… saya tidak pernah kepikiran untuk menjawab “puisi.” Mungkin terkesan agak gimana gitu ya… tetapi memang selama ini puisi yang saya baca tidak pernah mengena di hati. Setelah beberapa kali gagal mencerna karya-karya penulis kekinian terkenal (Lang Leav? Rupi Kaur? Amanda Lovelace?) saya menyerah.

Hingga akhirnya saya kemarin marathon drama Korea “Because This is My First Life.” 


Btw, saya tuh sebelum tahu ini malah ngikutinnya drama The Beauty Inside, yang mana lebih baru dan kurang nonton dua episode lagi tamat. Di The Beauty Inside, Saya merasa chemistry Lee Min Ki dan Seo Hyun Jin dapet banget. Tapi karena nggak ada akses wifi kemarin, akhirnya malah buka folder timbunan drama dan nonton Because This is My First Life.

Monday, 29 October 2018

[Book Review] Leonardo da Vinci oleh Walter Isaacson


Dua minggu lalu saya membaca biografi Leonardo da Vinci. Walter Isaacson, sang penulis, juga mempublikasikan biografi Steve Jobs yang sudah saya baca tahun lalu. Saya suka dengan gaya menulis Mr. Isaacson. Sangat indah tapi tidak mengabaikan informasi yang diberikan. Karena Steve Jobs memiliki keterkaitan dengan Leonardo da Vinci, maka saya sempatkan waktu untuk membaca biografi sang legenda lukis ini.

“He saw beauty in both art and engineering, and his ability to combine them was what made him a genius.”—Steve Jobs.

Saturday, 27 October 2018

[Review Buku] The Defining Decade oleh Meg Jay, PhD

Masa muda adalah masa yang berapi-api, katanya…

Beberapa waktu lalu saya membaca buku karangan seorang psikolog dan Associate Professor of Education di University of Virginia. Beliau memiliki kepercayaan tinggi bahwa masa yang paling menentukan kesuksesan hidup kita ke depan adalah pada usia 20-an. Tentu selain didasarkan dari penelitian, beliau sudah mengamati banyak kliennya. Banyak yang seusia saya yang hidup tanpa perspektif dan tujuan pasti, atau yang lebih buruk lagi, yang usia 30-an dan 40-an sangat menyesal atas kurangnya visi hidup di usia 20-an mereka sehingga harus membayar dalam jumlah yang besar, baik dalam hal profesionalitas, kisah cinta, keadaan ekonomi, bahkan dalam hal keturunan. Karena itulah buku ini beliau tulis, dan saya rasa kita semua perlu membacanya dengan seksama agar tidak mengulang penyesalan mereka.

Banyak sih yang dibahas di sini, tapi saya cuma mau menceritakan ke kalian beberapa poin yang saya rasa penting ya:

Sunday, 22 July 2018

[Review Buku] Self Disruption oleh Rhenald Kasali


Self-disruption adalah buku yang mahal menurut standar saya (padahal cuma 98 ribu huft) karena waktu beli kemarin kondisi ekonomi lagi fluktuasi parah. Tapi karena melihat nama Rhenald Kasali, ya akhirnya asal bawa aja ke kasir (if you’re a business student, try reading his books to stay up to date to global economic’s develompment) sambil harap-harap cemas waktu gesek ATM. Si miskin ini akhirnya berhasil membawa pulang buku impiannya.

Buku ini adalah jawaban dari keinginan saya untuk membaca buku biografi perusahaan yang tidak membosankan. Saya selalu tertarik untuk mengetahui seluk beluk dan jatuh bangunnya suatu perusahaan, tapi nggak pernah bisa sabar dalam membaca narasi yang bertele-tele. Makanya, pembahasan Rhenald Kasali tentang proses disrupsi diri PT Adaro Energy ini pas banget karena infonya sudah terfokus.

Seperti yang kita tahu, Adaro mulanya merupakan perusahaan batu bara. Bisnis batu bara belakangan memang lagi lesu terutama setelah Amerika Serikat menerapkan teknologi hydraulic fracturing dan mulai diterapkannya energi baru terbarukan (EBT) pada pembangkit-pembangkit listrik di berbagai negara. Oleh karena itu, informasi yang ada di buku ini sangat penting karena ketika perusahaan batu bara lainnya bangkrut, Adaro ini justru mampu bertahan dan bertumbuh. Apa rahasia mereka?

“…berubah bukan karena dipaksa atasan atau pemilik perusahaan, tapi karena sadar kalau mereka harus berubah.”

Pesan yang selalu mereka tekankan adalah jangan terlalu nyaman ketika mengalami suatu kesuksesan. Selalu persiapkan diri karena kita tidak dapat mencegah gelombang disrupsi yang pasti akan muncul dan memengaruhi bisnis kita. Mindset itulah yang membuat mereka rajin melakukan ekspansi bisnis. Karena mindset itu pula, setelah tamat baca ini, saya makin nggak guilty dalam mengeluarkan uang untuk mendukung pengembangan diri saya, misal nih: beli buku waktu jalan-jalan ke Gramedia, daftar seminar yang bayar pake duit sendiri dan diadakan di kota lain, daftar kursus-kursus di bidang yang memang belum mahir, dan rajin-rajin ke lab buat ngerjain tesis (yang kemudian pasti bikin pengen jajan atau ngemall). Hidup beberapa bulan ini jadi penuh dengan proses belajar, namun dengan pace yang nggak ngoyo karena dilakukan dengan fun dan disambi sama jalan-jalan (I have amazing friends, thanks God. Also, BALANCE!!!). Pokoknya apapun yang bikin kualitas diri saya nambah ketika lulus nanti….


[kemudian nggak bisa jajan skincare sebulan karena impulsif] [yaudalaya otak dulu baru nanti mikir muka]

Masih banyak (BANYAK BANGET!) pembelajaran (baik praktik, teori, maupun pandangan unik penulis) yang dituangkan dalam buku ini. Misalnya, teknologi sebenarnya bukan jawaban mutlak untuk melawan gelombang disrupsi. Yang namanya investasi teknologi itu mahal, apa iya manfaat yang kita dapet sepadan sama duit yang dikeluarkan? Dihitung dulu deh dengan seksama. Terus, pemerintah tuh sebenarnya lagi mencoba mematahkan dominasi asing di bisnis-bisnis alam, tapi enggak pakai cara ngasal. Tetap harus menggunakan strategi bisnis yang fair, karena biar gimanapun kita masih butuh investasi asing. Dan yang paling bikin kagum, upaya mereka untuk mensejahterakan masyarakat sekitar (dan juga Indonesia) melalui hasil aktivitas bisnis mereka, sehingga bakal lebih mudah untuk mendapat bantuan dari pemerintah dalam hal pengembangan bisnis. Jadi kepentingan mereka terpenuhi, dan kelebihannya bisa dinikmati bersama oleh warga sekitar. Pinter kan?

Kalian kayaknya memang harus baca sendiri deh biar bisa tau apa saya maksud. Karena abis ini saya harus revisi dan bobo gasik biar besok nggak bangun kesiangan lagi lol.

*Btw, setelah baca buku ini saya jadi pengen baca buku Astra: On Becoming Pride of the Nation. Atau, buku terbarunya Rhenald Kasali yang harganya naik gas pol itu. Ingin cepat bekerja cerdas rasanya, agar tidak mudah jantungan ketika lihat price tag buku impian.