Tuesday, 19 March 2019

Maret: Kembali ke Novel, Menyambung Pertemanan, dan Mempertahankan Ketenangan Batin

Salah satu sumber stres saya adalah ketidakmampuan untuk membuat ulasan buku setelah menjadikan “mengulas setiap buku yang dibaca” salah satu resolusi 2019. Sejauh ini, sudah ada 4 buku yang tamat tanpa satu pun terulas. Saya merasa gagal, dan secara tidak langsung menimbulkan perasaan bersalah untuk lanjut baca buku lain. Untuk mengatasinya, saya memutuskan untuk membuat ulasan singkat di postingan ini saja. Buku-buku (kurang beruntung karena tidak mendapatkan perhatian penuh saya dalam ulasan panjang lebar per-posting) antara lain:


Tahereh Mafi menghidupkan kembali seri Shatter Me dengan diterbitkannya Restore Me. Buku ini adalah proyek baca ulang karena dua minggu lagi, buku kelimanya (Defy Me) akan terbit. Restore Me menyajikan unsur menonjol dibandingkan novel distopia lain, yaitu menunjukkan ke pembaca apa yang terjadi setelah musuh besar (dalam hal ini pemerintah yang korup) dikalahkan. Yang mengikuti seri ini dari awal sekali pasti merasakan betapa berkembangnya tokoh Juliette Ferrars hingga akhirnya menduduki jabatan sebagai Supreme Commander Amerika Utara. Di buku ini juga akhirnya dijelaskan LATAR dari keseluruhan cerita Shatter Me, suatu hal yang menurut saya masih gaje waktu dulu menamatkan Ignite Me. Tiga poin ini membuat keputusan Tahereh Mafi untuk menerbitkan Restore Me tidak sia-sia (I concluded that she wasn’t trying to milking the cash cow) meskipun cukup berani juga ya mengingat masa kejayaan distopia sudah lewat dan fandom seri ini enggak besar-besar banget. Cukup menikmati buku ini meskipun tidak dalam taraf terikat secara emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya.


AKHIRNYA. Sesuatu yang kita nantikan sedari dulu: cerita dari sudut pandang Kenji Kishimoto, satu-satunya tokoh yang waras dan selalu meluruskan tindakan gila dari tokoh-tokoh lainnya! Kita bisa tahu apa konflik batin yang selama ini dialami Kenji (yang mengkonfirmasi teori bahwa orang yang di luar menampilkan emosi paling ceria adalah yang di dalam hatinya paling merasakan kesedihan) dan pengalamannya naksir cewek untuk pertama kalinya. My sweet baby boy, I feel like a proud mama here *wipe fake tears*. Di novella ini juga dijelaskan secara lebih detail APA SIH YANG SEBENARNYA TERJADI DI AKHIR CERITA RESTORE ME. 


Saya menamatkan Daisy Jones & The Six melalui versi audiobooknya. Keputusan yang tepat, karena format dari novel ini adalah…wawancara? Secara singkat novel ini menceritakan upaya seorang penulis biografi dalam mengungkap alasan Daisy Jones & The Six, band paling legendaris di tahun 1970-an, untuk membubarkan diri di puncak karir mereka. Setiap tokoh memiliki naratornya sendiri (suami Taylor Jenkins Reid bahkan ikut menyumbang suara) sehingga ketika kita mendengar versi audiobook, kita serasa mendengarkan percakapannya secara langsung. Lebih hidup, lebih mengalir, dan lebih membuat penasaran. Jempol buat narator Daisy Jones; suaranya yang sengau dan serak macam penyanyi yang sering merokok benar-benar sesuai dengan kepribadian Daisy. Namun, narator kesukaan saya justru yang mengisi suara Karen; pelafalannya melengking di bagian-bagian yang tepat sehingga dialog yang dia bawakan memiliki kesan flirty, in a very interesting way. 

Seperti Restore Me, saya menyukai novel ini tetapi tidak memiliki keterikatan emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Taylor Jenkins Reid memang selalu menciptakan tokoh yang manusiawi dan jujur, sehingga ada beberapa sifat dari tokoh yang saya nggak suka. Kemudian, format wawancaranya bikin saya nggak bisa menikmati alur dengan maksimal. Menurut saya, kekuatan Taylor Jenkins Reid sebagai penulis adalah kemampuannya membangun suspensi dan menarik emosi pembaca melalui narasi. Maka ketika narasi ditiadakan di novel ini, agak goyah gitu pondasinya. Sama-sama punya tokoh utama yang b-e-a-c-h-y, saya lebih suka The Seven Husbands of Evelyn Hugo (ulasannya bisa dibaca di sini).


Ini juga merupakan proyek baca ulang, dilakukan karena saya pengen baca novel ketiga dan keempatnya tapi lupaaa sama apa yang terjadi di novel kedua (buku pertamanya sudah pernah saya ulas di sini). No Charm Intended adalah novel yang menyelamatkan kewarasan saya di satu minggu penuh stres melalui ceritanya yang ringan dan bubbly. Nggak ada tekanan untuk menebak siapa pembunuhnya, karena saya sudah pernah baca tapi lupa plus lagi nggak begitu kompetitif juga. Saya justru lebih fokus ke Chasel vs Adrian (PS: saya tim Chasel!) dalam merebut perhatian Cora. Kadang memang kita perlu berhenti dan bernapas sejenak tanpa terlalu mengkritisi kekurangan dalam novel yang kita baca. Sekarang saya sedang membaca novel ketiganya, karena otak masih membutuhkan bacaan ringan minim konflik.


Selain membaca novel-novel di atas, beberapa waktu belakangan saya habiskan untuk mengeksplor beberapa kafe untuk memaksimalkan pengalaman membaca saya. Yang paling saya suka adalah tempat yang sepi, minim musik, dan (surprisingly) tanpa wifi. 



Selain itu, saya juga berkesempatan untuk ngobrol berkualitas dengan teman-teman dekat. Dari mulai teman lama, teman yang sudah berbulan-bulan nggak ketemu karena double degree, hingga teman baru yang langsung seperti sahabat. Dari pertemuan-pertemuan ini, saya menyadari kalau banyak perempuan hebat di hidup saya, dengan perjuangan dan prestasinya masing-masing.

Termasuk dalam aktivitas bolang kita adalah pergi ke toko buku untuk kemudian keluar tanpa membawa bungkusan apapun melainkan menambah wishlist yang semakin menggunung. Karena kita nggak cuma pengen satu, dua, atau tiga buku, tetapi SEDERET sekaligus yang per bukunya nggak ada yang lebih murah dari Rp 350.000. We're such wild girls, indeed.



(Sebentar lagi saya akan berpenghasilan tinggi, tunggu ya kalian semua akan saya borong!)

Begitulah wrap up dari saya di bulan yang sangat se-lo ini. Mungkin beberapa minggu ini saya memang butuh istirahat total secara mental dan fisik. Beruntung sekali saya punya banyak buku bagus untuk membuat otak terus bekerja. Nanti kalau sudah siap, saya akan kembali dengan ulasan yang panjaaaaaang dan lebaaaaaaaaaaar.

Monday, 11 March 2019

[Review Buku] Six of Crows dan Crooked Kingdom oleh Leigh Bardugo

Sungguh kebahagiaan yang hakiki karena akhirnya… AKHIRNYA… saya memutuskan untuk membabat beberapa fiksi yang sudah lama mangkrak di timbunan. Hal ini saya lakukan sebagai cleansing palate setelah tamat baca banyak nonfiksi; biar nggak mudah bosan dan memberikan sedikit ruang di otak untuk istirahat.


Fiksi pertama yang terbaca adalah Six of Crows karya Leigh Bardugo. Ini adalah lanjutan dari trilogi The Shadow of Bone, dengan setting dan tokoh yang berasal dari belahan dunia lain. Saya sengaja melewatkan trilogi The Shadow and Bone karena setelah lihat ulasan sana-sini, banyak yang kecewa sama jalan cerita dan sifat abusif Darkling ke Alina. Konsekuensinya sih di bab-bab awal saya bingung sama beberapa istilah yang ada (Grisha? Heartrender? Fabrikator?). Untungnya saya cepat paham dari penjelasan ulang dari penulis—ya know, di bab awal biasanya kan banyak penjelasan singkat tentang istilah yang ada atau kejadian di buku sebelumnya—jadi bisa langsung ngegas untuk menikmati ceritanya.

Six of Crows menceritakan petualangan 6 kriminal (Kaz, Inej, Nina, Matthias, Jordan, dan Wylan) dalam menjalankan misi super mustahil: menyelamatkan ilmuwan Bo Yul-Bayur, penemu jurda parem yang sedang mendekam di Ice Court. Jurda parem adalah semacam opium yang bisa meningkatkan kekuatan Grisha berkali-kali lipat, namun memberikan efek adiktif bagi pemakainya. Di tangan yang salah, jurda parem dapat memicu pembunuhan massal, menghancurkan perdamaian dunia, serta mengganggu kestabilan ekonomi. Namun, bukan itu yang menjadi motivasi Kaz menerima misi tersebut. Kaz bersedia melakukannya karena Council melalui Jan Van Eck berjanji untuk memberikan 30 juta kruge jika Kaz dan komplotannya berhasil membawa Bo Yul-Bayur hidup-hidup. 

Inilah alasan pertama suka sama seri ini: realistis! Tidak ada kata-kata mutiara kalau “ini semua demi kebaikan dunia” dan lain sebagainya. Sekali penjahat tetap penjahat, okay

“Just trust me, Nina.”
“I wouldn’t trust you to tie my shoes without stealing the laces, Kaz.”

Alasan kedua yang membuat saya suka sama seri ini adalah pembangunan karakter. Menghabiskan waktu bersama mereka, mau nggak mau kita akan sayang. Ini semua berkat penggambaran tokoh yang sangat apik dari Leigh Bardugo, setiap tokoh punya keunikan dan sifat yang menonjol sehingga membedakannya satu sama lain. Kalian bisa minta sama saya buat menjelaskan seperti apa Kaz dan saya bisa kasih esai sebanyak tiga halaman penuh untuk menjawabnya (I just don’t want to LOL but you get what I’m saying, right?). Selain itu, Leigh Bardugo juga tidak ragu untuk memberikan keterbatasan pada tiap tokoh: Kaz memiliki cacat permanen setelah jatuh dari lantai dua sehingga dia membutuhkan tongkat untuk membantunya berjalan, Inej punya sejarah dijual di rumah bordil sehingga bersentuhan dengan lawan jenis membuatnya tidak nyaman, Matthias punya loyalitas yang tinggi dengan mantan pasukannya terdahulu—drüskelle—jadi pembaca masih selalu menebak-nebak apakah dia bakal mengkhianati Kaz, dan masalah-masalah pribadi tokoh lainnya yang memunculkan rasa empati dari kita. Ketika kita tahu kekurangan mereka namun tetap sayang, that’s true love. Fakta ini bikin saya sadar kalau baru kali ini saya  bisa terikat secara emosional dengan tokoh fiksi dan mewek waktu harus pisah sama mereka di Crooked Kingdom. Ini membuktikan kalau penulis tidak harus menciptakan tokoh super sempurna untuk menangkap hati pembaca.

Alasan ketiga adalah TENSION BUILDING! Harus banget dikapital karena….asdfghjklzxcvrtpq gemaaashhh. Duologi ini adalah contoh paling bagus untuk menunjukkan apa itu s l o w b u r n. Kalian mendukung hubungan Kaz dan Inej? Nina dan Matthias? Good luck for that. Meskipun cinta Kaz ke Inej tidak perlu diragukan lagi (kita tahu di detik Kaz mencabut bola mata Oomen dan melempar tubuhnya keluar kapal, thankyouverymuch, nggak peduli berapa kali Kaz sok-sok bilang Inej itu aset yang “mudah tergantikan”), kalian nggak bakal menyaksikan mereka bersentuhan tangan lebih dari dua detik. Begitu pula dengan Nina dan Matthias. But you’ll still love them anyway, and will root for them throughout the story.

Terakhir, dan merupakan poin paling penting bagi calon penulis di luar sana, adalah betapa rapinya Leigh Bardugo menyusun plot cerita. Plot utama dijelaskan dengan baik di sekitaran bab kedua atau ketiga (membebaskan Bo Yul-Bayur), dan plot-plot yang menggiring ke plot utama memiliki ketegangan yang semakin lama semakin intens, membuat perhatian pembaca tidak mudah kendor. Di bagian awal sekali, dijabarkan efek jurda parem dari tokoh-tokoh tidak signifikan, sehingga cerita berangkat dari permulaan yang memancing rasa penasaran pembaca tanpa perlu mengenalkan 6 tokoh utama. Kita tahu jurda parem berbahaya, sehingga kita bakal peduli betapa pentingnya misi yang nantinya dijalankan Kaz dan kawan-kawan. Plot utama pada akhirnya terselesaikan dengan plot twist, sehingga memberikan ruang bagi penulis untuk melanjutkan ke Crooked Kingdom. Saya? Bersyukur masih dikasih buku sekuel. Penulis? Senang dapat kontrak tambahan. Penerbit? Senang dengan loyalitas fandom yang menjanjikan penjualan yang besar. Calon penulis coba deh catat teknik dari Leigh Bardugo ini, biar cerita kalian tersaji dengan baik. Karena nyatanya, BANYAK sekali novel yang saya baca tidak dilandasi plot yang bagus, kadang di 100 halaman pertama konflik sudah selesai. Halaman sisanya? Tidak jelas arahnya kemana.


Crooked Kingdom. Sungguh lika-liku yang menguras emosi pembaca. Secara singkat: karena Six of Crows ditulis secara utuh dan bertindak sebagai fondasi yang kuat (dalam hal-hal yang telah saya sebutkan di atas), pengalaman membaca sekuelnya jadi sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Terutama, ketika kita diberikan info mengenai masa lalu dari tokoh-tokoh kesayangan kita. Mereka seperti berlomba-lomba untuk punya masa lalu paling kelam, tetapi khusus buat masa lalu Inej….UGH gimana saya nggak protektif, coba, sama dia? Let her get her well-deserved happiness! Tapi karena penulis adil, nggak hanya Inej yang harus menderita, karena mereka berenam harus menghadapi bayangannya masing-masing sambil menyelesaikan misi-misi berbahaya. Secara pribadi, saya suka sekali dengan pilihan-pilihan yang mereka ambil untuk menghadapinya.

Saya sebenarnya mau cerita panjang soal Crooked Kingdom ini, tapi takut spoilerYang jelas, saya suka sekali sama endingnya! Kaz dan Inej memang punya dinamika yang bagus, dan pada akhirnya, Kaz memilih untuk membahagiakan Inej. You can see how much he’s whipped by her from his final decision, and we—readers—really love him for that. Dan tidak seperti di novel-novel lain yang dengan bangga memproklamirkan bahwa cinta bisa menyembuhkan semua penghalang, duologi ini menyajikan kenyataan pahit bahwa ada batasan yang bahkan tidak bisa dilalui oleh kekuatan cinta. Trauma Kaz dan Inej masih ada, terus menghalangi mereka untuk melakukan kontak fisik yang sangat lumrah dilakukan pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta. Selain itu, pergumulan batin Matthias yang telah dicuci otak sejak kecil tentang kaum Nina yang jahat dan harus dibasmi selalu muncul. Matthias membutuhkan "suara hati" lainsuara hati yang mencintai Ninauntuk mengalahkannya, membuat dia harus selalu membela Nina, 24/7 di dalam otak dan hatinya sendiri. Realistis, dan sekali lagi menjelaskan ke pembaca bahwa cinta tidak bisa mengalahkan segalanya secara BOOM... instan. Love is a strong commitment and continuous hard work, indeed.


Begitulah pengalaman saya membaca buku yang sempat ngetren sekali di tahun 2015. Ketika ramai-ramainya sudah bubar, saya baru merasakan betapa layaknya seri ini mendapatkan hype-nya dulu. I love them all, they’re my babies. Especially Inej and Nina, our badass queens who's supporting one another. They have my whole heart forever. Saya bakal sangat menantikan novel ketiganya yang bakal terbit entah kapan (YES IT’S CONFIRMED THAT WE’LL GET ANOTHER SEQUEL!!! I’M FREAKING OUT HERE). 


PS: Saya secara pribadi nggak merekomendasikan membaca duologi ini dalam format audiobook. Mendengar sampel audiobooknya, saya malah trauma gara-gara suara naratornya Kaz. Sungguh merusak imajinasi dan bikin menyesal. Lagipula, istilah bahasa yang dipakai Leigh Bardugo terbilang tidak lumrah sehingga otak saya lebih fokus ke mikir mereka ngomong apa daripada menikmati ceritanya. Format novel adalah pilihan yang paling bagus. You can fight me on this.

Sunday, 3 March 2019

[Review Buku] Educated oleh Tara Westover


Kali ini saya berkesempatan untuk membaca salah satu buku rekomendasi Bill Gates yang sedang hangat dibicarakan oleh khalayak, Educated. Karena buku ini adalah buku yang beliau rekomendasikan dengan semangat sekuat ketika membahas Factfulness—dan saya super jatuh cinta dengan Factfulness—maka saya sempatkan untuk membacanya di minggu tenang pasca keributan tesis selesai. 

Buku ini adalah sebuah memoir, secara tuntas menceritakan kisah hidup Tara Westover. Siapa Tara hingga orang sepenting Bill Gates terkagum-kagum dengan dia? Tara adalah anak seorang pemulung (saya nggak tau ya pekerjaan resmi bapaknya ini apa, tapi kayaknya lebih ke mulung deh) yang tinggal di lembah gunung di Idaho. Semua anak di keluarga Tara tidak ada yang sekolah dan tidak pernah tahu apa itu rumah sakit. Bahkan, hanya 3 dari 6 anak yang punya akta kelahiran. Penyebabnya? Si Bapak memiliki ketakutan besar kalau pemerintah merupakan anggota Illuminati yang melakukan propaganda untuk mencuci otak anak-anak melalui sekolah. Di sisi lain, ahli medis dianggap menyalahi kodrat manusia karena si Bapak percaya Tuhanlah yang memberi penyakit, maka Tuhan pula yang akan memberi kesembuhan. Si Bapak ini tipe yang suka menelan ayat kitab suci mentah-mentah (misal, di Isaiah disebutkan kalau “Butter and honey shall he eat, that he may know to refuse the evil, and choose the good.” Nah, si Bapak ini menginterpretasikan secara harfiah kalau salah satu di antara susu atau madu itu baik, sedangkan satunya jahat. Kemudian, dia bakal halu dan bilang kalau Tuhan membisiki dia yang baik itu madu. Jadilah sepanjang sisa hidup, mereka bakal menghindari susu, keju, dan yoghurt dan menimbun bergalon-galon madu. Sereal juga dikunyahin gitu aja meskipun seret). Si Bapak juga tipe yang percaya 31 Desember 1999 adalah akhir dunia karena komputer tidak bisa menerima input 00 dari 2000, sehingga sejak bertahun-tahun sebelumnya dia dan sekeluarga ngebut buat nimbun makanan, bensin, dan obat-obatan herbal untuk menyambut kiamat itu. Sekeluarga? Manut aja.

Si Bapak—and I cannot stress this enough—adalah sumber dari darah tinggi saya semingguan ini. Bahkan ketika sudah jelas terbukti kalau dunia masih berputar dengan normal pasca 31 Desember 1999, dia masih punya cukup harga diri buat membuat teori-teori ekstrem lain berkaitan dengan cara hidup keluarganya. Tara jatuh dan kakinya tertusuk besi di tempat sampah? Oles ramuan herbal buatan ibunya. Badan Luke (kakak Tara) terbakar karena bajunya tidak sengaja tertumpahan bensin dari mobil rongsokan dan terpantik api? Oles ramuan herbal buatan ibunya. Si ibu habis kecelakaan dan muncul benjolan yang semakin lama menghitam di atas matanya—yang kemudian diketahui sebagai Racoon Eyes, tanda cedera otak serius? Berdiam saja di basemen yang gelap sampai memar dan pusingnya hilang. 

Bisa dikatakan, sebagai keluarga yang menentang pergi ke rumah sakit, ada BANYAK SEKALI kejadian yang mengharuskan mereka untuk ke sana. Tapi karena bapaknya kolot, dan si ibu manut, mereka harus menahan rasa sakit dan… tetap menjalani aktivitas layaknya biasanya. Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi pada anggota keluarga dipandang si Bapak sebagai ujian Tuhan bagi keluarga dan terutama bagi si istri. Si Bapak percaya bahwa seperti dirinya, sang istri adalah manusia khusus pilihan Tuhan yang diutus untuk membawa kesembuhan bagi orang-orang “taat” yang menentang ilmu medis modern (karena, you know, ilmu medis modern tidak sesuai dengan perintah Tuhan). Jadi bisa dikatakan, pekerjaan si istri sebagai bidan tanpa lisensi dan pembuat ramuan jadi seperti musibah sekaligus anugerah bagi mereka. 

Such a crazy family.

Di kemudian hari akan diketahui bahwa si Bapak menderita penyakit mental. Tidak dapat dipastikan lebih ke bipolar disorder atau schizophrenia, karena yang bersangkutan tidak pernah menemui dokter langsung. Yang jelas, sungguh ironis ya bahwa ketakutan si Bapak terhadap dokter justru yang menghalanginya untuk mendapatkan perawatan untuk sembuh. Dan pada akhirnya, keluarganyalah yang harus membayar semua penderitaannya.

Then a part of me understands, even as I begin to argue against it, that my humiliation was the cause of that pleasure. It was not an accident or side effect. It was the objective.

Saya kira, nggak ada yang bisa mengalahkan kegilaan si Bapak. Tapi ternyata ada. Shawn, kakak Tara, sukses membuat hidup Tara menderita lahir batin. Shawn ini tipikal remaja bandel yang suka bikin keributan di gang komplek. Di keluarganya sendiri pun, Shawn melakukan banyak tindakan abusif, baik verbal maupun nonverbal. Meskipun dia kadang bisa jadi kakak paling perhatian dan protektif bagi Tara, saat-saat ketika sifat jahatnya keluar ini… bikin saya… geram… dan… pengen langsung tutup buku dan melupakan niat untuk menamatkannya. 

Semakin hari, tindakan si Bapak dan Shawn semakin menjadi-jadi. Bahkan, mereka seperti “menarik” orang-orang gila lainnya untuk bergabung di keluarga mereka. Seperti ketika si Bapak kena kebakaran parah dan hampir setengah tubuhnya hancur (the irony and the karma YOUKNOWWHATIMEAN). Selamatnya dia dari tragedi itu—meskipun dengan cacat permanen—tanpa bantuan rumah sakit menjadikan bisnis obat herbal sang ibu laris manis di seantero Amerika. Karyawan yang dipekerjaan sudah tidak seperti rekan kerja, tapi lebih ke pengikut relijius yang memandang si Bapak sebagai utusan Tuhan. Ada pula tambahan anggota keluarga baru, yaitu dia-yang-saya-nggak-mau-repot-buat-ngingat-namanya yang pada akhirnya jadi istri Shawn meskipun sudah tahu watak dan tindakan Shawn seperti apa. Saya nggak tega ketika Tara membahas momen istri Shawn kabur ke rumah mertuanya tanpa sepatu sehabis kena kumatnya Shawn, but homegirl saw that coming though.

Satu-satunya yang menyelamatkan Tara untuk tidak lagi terjebak dalam keluarga gila adalah keputusannya buat belajar mati-matian dan ikut kejar paket. Akhirnya Tara diterima di BYU dan pindah ke dormitory. Tara benar-benar menceritakan perjuangannya dalam menyadari kalau cara hidup dan berpikir tarzannya itu nggak lazim; dari yang nggak pernah cuci tangan setelah dari kamar mandi, nggak pernah membereskan sampah dan buah yang busuk, hingga menahan sakit gigi dan demam meskipun rasanya sudah kayak mau mati. Tindakan ndableg-nya bikin Tara dijauhi teman satu dorm dan satu kampus, dan baru mulai berubah ketika Tara datang ke gereja buat konseling dengan Romonya.

Untungnya, Tara cepat berubah dan malah menjadikan pengalamannya ini sebagai poros dari esai-esai yang dia tulis. Hasilnya, tulisan Tara memiliki suatu keunikan yang menarik perhatian dosennya. Kombinasi dari ide unik dan tetap grounded pada teori-teori dari buku membuat Tara mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan di Cambridge dan Harvard. Seseorang yang mulanya bukan siapa-siapa ini, pada akhirnya bisa mendapat gelar PhD dari universitas-universitas Ivy League.

Menurut saya, konflik mengenai tindakan abusif keluarga Tara dan bagaimana ia menanggapinya merupakan poin yang membuat banyak pembaca memberikan 5 bintang dan pada akhirnya membuat Educated memenangkan nominasi Goodreads kategori Memoir-Autobiography. Buku ini adalah representasi dari korban tindakan abusif yang pada akhirnya bisa sadar, bangkit, dan melawannya dengan bantuan pendidikan. Di masa ketika tindakan abusif banyak diglorifikasi dan diromantisasi pada novel-novel Young Adult dan New Adult, Educated ini jadi semacam “pengingat” pada pembaca bahwa tindakan abusif, baik verbal maupun nonverbal, tidak selayaknya dimaklumi. Dan selemah apapun kondisi kalian saat ini (ibu rumah tangga yang bergantung sepenuhnya pada finansial dari suami, anak yang belum punya pekerjaan, kekasih yang terlanjur cinta meskipun sudah diperlakukan secara buruk, dsb), jalan keluar itu ada. Tara buktinya. 

I could not judge her for her choice, but in that moment I knew I could not choose it for myself. Everything I had worked for, all my years of study, had been to purchase for myself this one privilege: to see and experience more truths than those given to me by my father, and to use those truths to construct my own mind. I had come to believe that the ability to evaluate many ideas, many histories, many points of view, was at the heart of what it means to self-create. If I yielded now, I would lose more than an argument. I would lose custody of my own mind. This was the price I was being asked to pay, I understood that now. What my father wanted to cast from me wasn’t a demon: it was me.

Namun, meskipun pesan yang disampaikan oleh Tara positif, saya merasa tidak dapat menangkapnya dengan baik. Hal ini dikarenakan Tara lebih berfokus pada cerita derita, lengkap dengan detail-detail menjijikkannya (saya sebenarnya oke-oke saja lho tanpa harus dikasih tahu seperti apa luka yang dimiliki Tara dan keluarganya ketika kena musibah). Pembahasan Tara soal sekolah dan perubahan-perubahan hidupnya, yang menurut saya harus ditonjolkan, malah kurang. Ya judulnya aja Educated gitu, masak pembahasan soal edukasinya nggak mendominasi? Kejadiannya memang sudah diurutkan menurut waktu terjadinya, tetapi mengingat ada prinsip “berita yang negatif akan lebih menarik perhatian dan lebih melekat di pikiran pembaca,” kesan saya ke buku ini jadi lebih soal keluarga gila Tara dan bukannya perjuangan Tara dalam keluar dari cengkeram kebebalan keluarganya.

Saya merasakan momen #relatable dengan Tara ketika dia membahas upaya Prof. Steinberg dan Dr. Terry untuk meyakinkan dia melanjutkan pendidikan ke Harvard (saat itu Tara sudah di Cambridge). Masa-masa ketika esainya dipuji—meskipun sudah jelas karena bagus dan membutuhkan pengorbanan begadang berhari-hari—membuat Tara semakin insecure dengan kemampuan yang dimiliki. Mungkin memang sudah sewajarnya perasaan itu ada, untuk mencegah kita cepat berpuas diri dan sombong. Dan mungkin memang orang-orang macam Tara dan saya membutuhkan sosok-sosok seperti Prof. Steinberg dan Dr. Kerry untuk bilang “Just go on submit your goddamn paper!!!!!” Momen ini benar-benar menenangkan saya karena... waw, orang sehebat Tara saja merasakan hal seperti ini. Saya nggak perlu menyalahkan diri sendiri ketika perasaan tidak menyenangkan ini muncul. Hanya perlu baca ulang esai kita, edit sesuai standar kita, dan submit dengan bismillah!

“Dr. Kerry smiled. “You should trust Professor Steinberg. If he says you’re a scholar—‘pure gold,’ I heard him say—then you are.”
“This is a magical place,” I said. “Everything shines here.”
“You must stop yourself from thinking like that,” Dr. Kerry said, his voice raised. “You are not fool’s gold, shining only under a particular light. Whomever you become, whatever you make yourself into, that is who you always were. It was always in you. Not in Cambridge. In you. You are gold. And returning to BYU, or even to that mountain you came from, will not change who you are. It may change how others see you, it may even change how you see yourself—even gold appears dull in some lighting—but that is the illusion. And it always was.”

Momen #relatable lain adalah ketika Tara pulang ke rumah orang tuanya waktu pertengahan tesis dan terjebak bersama Shawn yang sudah lama memendam amarah ke Tara. Setelah selamat, insting Tara adalah langsung pergi ke bandara terdekat dan kabur. Tapi, ada sisi rasional di diri Tara yang langsung teriak, “LAPTOP MASIH DI RUMAH. DATA-DATA TESISKU DI SANA SEMUA.” I laughed out loud because that’s the thing that’d sure as heck made me go back home and retrieve my laptop, even if that means I had to confront Shawn again. Tidak ada yang bisa memisahkan mahasiswa semester akhir dengan bayi tesisnya, lemme tell ya!!


Begitulah review panjang lebar saya tentang Educated. Sungguh melelahkan tapi juga mengajarkan pada saya sebuah sudut pandang baru mengenai privilege dan keuntungan mengenyam pendidikan. Oh ya, saya membaca buku ini dalam versi audiobook, murni karena naratornya adalah Julia Whelan. Suaranya yang sendu tapi merdu sangat cocok dalam membangun setting kehidupan Tara Westover. Berkat membaca audiobook, saya mengalami sebuah keajaiban dalam hidup: lantai mendadak bersih dan dipel setiap hari, jemuran terlipat dengan rapi, kaca-kaca jadi kinclong tanpa debu, dan sayur-sayur terpotong rapi sebelum dimasak. Akankah hal seperti ini terjadi lagi? Kita lihat saja akan ada buku bagus apa di masa depan.

Friday, 22 February 2019

Buku Masak dan Hal-hal Baik Tentangnya #2

Kali ini saya mau memperluas pengetahuan kuliner dengan membaca dua buku masak dari negara berbeda. Yang pertama berjudul Authentic Polish Cooking, ditulis oleh Marianna Dworak. Resep-resep yang ada di dalamnya merupakan resep tradisional Polandia yang sering dimasak oleh keluarga penulis, kebanyakan diambil dari catatan buku resep milik ibunya.


Saya suka sekali dengan buku resep ini, karena membuka mata saya kalau ternyata masakan Polandia itu enak-enak dan mudah. Masing-masing resepnya cuma butuh beberapa bahan saja (kayaknya nggak ada yang lebih dari 10 jenis bahan deh) dan hampir semua tersedia di toko-toko dekat rumah. Cuma ya ada beberapa bahan yang sempat bikin saya sangsi karena—uhuk—mahal. Contohnya nih, sour cream. Karena kita orang Indonesia nggak pakai sour cream untuk memasak sehari-hari dan kebanyakan yang dijual di toko itu impor, jadinya harganya lumayan mahal ya untuk standar bumbu kita. Apalagi sekali masak cuma butuh berapa sendok saja kan, sayang kalau sisanya cuma nganggur di kulkas. Contoh lainnya sih pasta tomat (bukan saus tomat lho ya), yang dilemanya hampir sama kayak sour creamharganya cukup mahal dan kemasannya kaleng. Sekali dibuka, bingung cara menyimpannya. Malas juga sih mindah-mindah ke Tupperware gitu.

Tapi kalau dijadikan menu akhir minggu sepertinya layak deh dengan pengorbanan riweuh-nya. Penulis menekankan kalau masakan Polandia bakal maksimal citarasanya kalau dimasak sejak berjam-jam sebelumnya, sehingga cocok kalau dimasak untuk acara makan bersama keluarga yang santai. Kuncinya adalah jangan tergoda untuk cari jalan pintas. Dari mulai potong-potong bahan, bikin kaldu, dan lain sebagainya… nikmati dengan baik. Makanya, bisa dibilang proses memasak hidangan Polandia merupakan media bonding yang cocok sekali buat anggota keluarga. Saya sudah menandai beberapa menu yang terlihat enak dan pas sama selera sekeluarga, kapan-kapan akan kita eksekusi.


Buku kedua adalah Stir-frying to the Sky’s Edge (gila nih judulnya keren banget) yang ditulis oleh Grace Young. Ini adalah kitab untuk kalian yang suka tumis-menumis ala masakan Tiongkok. Sejak bagian pendahuluan, saya sudah terpikat banget sama dedikasi penulisnya—yang bekerja sebagai instruktur masak internasional—buat bawa wok miliknya keliling dunia. Bahkan, dia punya metode khusus biar wok kesayangannya bisa masuk hand carry, walaupun itu berarti dia harus selalu CEMAAAS tiap naruh tasnya di bagian scanner. Tukang cemas tapi tetap dilakuin demi hasil sempurna? Honestly, I can relate

Stir-frying to the Sky’s Edge lebih “berbobot” daripada Authentic Polish Cooking karena ada banyak sekali pengetahuan yang dibagikan penulis mengenai alat-alat dan teknik yang membuat makanan yang ditumis menjadi super nikmat. Ini membuat saya agak pinter dikit waktu jalan ke bagian alat permasakan di toko perabot. Sudah nggak asal milih produk terus langsung bawa ke kasir, karena ada pertimbangan khusus yang disesuaikan sama kebutuhan masak keluarga saya. Info yang diberikan sangat jelas, masuk akal, dan dilengkapi dengan ukuran-ukuran yang kita perlukan dalam satuan inchi. She knows what she’s talking about, guys. Penulis benar-benar sudah dalam taraf master, memperlakukan proses memasak lebih sebagai seni dan bukannya sekadar kegiatan memenuhi kebutuhan perut. I stan a professional queen.

Jujur saya agak nggak minat sama bagian seasoning a wok karena…kayaknya saya nggak bakal mau repot-repot deh. Tapi saya nggak mau menutup kemungkinan kalau di masa depan, bisa jadi saya penasaran. Toh nyatanya, dulu saya pernah sok-sok nggak mau repot masak manual per bahan. Lihat deh sekarang, saya malah sangat menikmati prosesnya. Saya jadi sadar, rupanya sangat theurapeutic motong-motong sayur sambil dengerin audiobook, atau mitilin bayam di depan laptop sambil nonton drama korea (sungguh sangat bibik). Kalau pada akhirnya di masa depan saya terobsesi sama wok, buku ini bakal jadi rujukan pertama yang saya buka karena saya cuma mau ngikutin titah dari seorang Q U E E N of wok. Jadi, baca sekilas dulu sekarang. Besok-besok, baru dihayati dan dipraktekkan.

Oh ya, informasi lain yang dibagi penulis adalah bahan-bahan yang biasa digunakan untuk tumis-menumis. Dari mulai sayur, empon-empon, bermacam saus dan kecap, jenis mi, hingga jenis minyak yang dipakai dijelaskan dengan sangat baik. Penulis juga ngasih tips gimana cara memilih dan mengolah bahan yang segar. Membaca buku ini mengubah pola pikir saya. Sebelumnya, saya memimpikan punya mertua yang pinter masak dan bakal mengajari saya berbagai pengetahuan dapur sambil bonding. Setelah baca ini, saya justru ingin menjadi si mertua itu; ramah dan sabar mengajarkan ilmu memasak ke seseorang yang anak saya cintai. Tentu tujuannya bukan biar dia bisa melayani anak saya; anak saya harus bisa menyuplai kebutuhan hidupnya sendiri. I just want to be that nice old lady, okay? Yang nggak suka nyiksa calon menantu dan memperlakukannya seperti anak kandung sendiri. After all, the're gonna be MY children too. Dan dengan buku ini, impian saya jadi mungkin. Terima kasih banyak, penulis! Pokoknya saya sangat merekomendasikan buku Stir-frying to the Sky’s Edge buat kalian yang mau belajar teori masak dari tahap pemula hingga ahli.


Saya sangat puas dengan bacaan buku-buku masak minggu ini. Sebagai seorang yang suka pilih-pilih makanan dan cepat bosan dengan menu yang itu-itu saja, saya senang bisa menandai berbagai menu internasional untuk dicoba di kemudian hari. Pengetahuan tentang teknik dan alat masak juga nambah secara signifikan berkat dua buku ini. Minggu depan sepertinya bakal mencoba baca buku masak lain, dari negara lain.

Monday, 18 February 2019

[Review Buku] 99 Percent Mine oleh Sally Thorne

We’re all shareholders in Tom Valeska: Jamie, Megan, and me. His mom and my parents. Loretta and Patty. Everyone who’s ever met him wants a piece of him, because he’s the best person there is. I quickly count up all of those people. I include his dentist and doctor. Maybe he’s only 1 percent mine. That has to be enough. I have to share.

Ini dia buku baru dari Sally Thorne yang lagi dipuji-puji banyak booktuber akhir-akhir ini. Karena saya suka The Hating Game—novel  debut dia—makanya saya coba baca 99 Percent MineAm I liking it as much as The Hating Game? Surprisingly, no.

Mari kita ulas.

99 Percent Mine mengambil cerita yang sangat berbeda dengan The Hating Game, baik dari segi kepribadian tokoh, latar belakang cerita, serta alur. Tokoh utama kita di sini, Darcy Barrett, baru saja mewarisi rumah dari neneknya, Loretta. Wasiat yang diberikan oleh Loretta adalah agar rumah bobrok itu direnovasi dengan budget yang sudah disiapkan untuk kemudian dijual. Hasil penjualan rumah tersebut nantinya akan dibagi dua dengan saudara kembar Darcy, Jamie Barrett. Jamie sangat suka uang, sehingga ketika Darcy mengusir kenalan Jamie yang akan membeli rumah itu dengan harga tinggi (in her defense, though, he was rude to a mourning family), Jamie marah besar dan memutuskan untuk hengkang dari sana. 

Konsekuensi dari hengkangnya Jamie adalah Darcy harus mengawasi sendirian proyek renovasi rumah Loretta. Untungnya, kontraktor yang dipilih oleh keluarga Barrett adalah Tom Valeska, sahabat Darcy dan Jamie sejak kecil sekaligus buffer bagi keduanya. Tom baru pertama kali mengambil proyek sebagai pemilik dan penanggungjawab perusahaan miliknya sendiri, sehingga dia merasakan tekanan yang besar untuk bekerja dengan sempurna. Keberadaan Darcy yang sudah lama naksir Tom tidak mempermudah pekerjaan dia dan budget pas-pasan yang disediakan Loretta membuat dia semakin sulit untuk menyelesaikannya dengan baik.

"I'm the client. I'm his best friend's sister. I'm Mr. and Mrs. Barrett's weak-hearted daughter. I'm the liability he swore to take care of."

Cukup jarang saya ketemu sama penulis yang rela kerja keras buat membangun dari nol unsur-unsur dalam novel barunya. Tapi Sally Thorne mau, dan saya mengapresiasinya. Saya cukup simpati sama penulis, karena dia memiliki tekanan yang berat di buku kedua ini. Karya debutnya diterima dengan sangat baik oleh pembaca, dan karya keduanya sangat dinanti. Untuk akhirnya bisa menerbitkan buku kedua, pasti diperlukan motivasi dan semangat kerja yang sangat tinggi.

Cuma….. saya tidak bisa simpati sama tokoh-tokoh di 99 Percent Mine. Protagonis kita, Darcy, digambarkan sebagai seorang wanita yang berusaha membangun imej kuat tetapi sebenarnya super rapuh. Maklum, kerja sebagai bartender mengharuskan dia buat tegas biar nggak diremehkan sama lelaki gahar atau lelaki anak mama atau lainnya. Tapi, gimana saya bisa menikmati cerita dari sudut pandang Darcy kalau sejak awal cerita, kerjaan dia cuma membanding-bandingkan diri dengan Megan, tunangan Tom a.k.a. cowok yang dia taksir sejak remaja dan sudah seperti keluarga sendiri. Mungkin karena bertentangan dengan prinsip yang saya anut, saya merasa setiap Darcy membandingkan dirinya dengan Megan (yang anggun, yang kalem, pokoknya yang segala di dirinya jauh lebih baik dari Darcy), dia menjadi semakin pathetic di mata saya. Stahp it, gurl. That’s so NOT COOL. 

Saya juga risih banget sama Darcy dan Tom yang SEPANJANG CERITA jelas-jelas saling suka tapi sok-sok buang muka dan nggak butuh. GEMASSS, karena 99% masalah di novel ini nggak bakal kejadian kalau mereka saling terbuka dan bicara layaknya orang dewasa. Dan ngomong-ngomong soal keterbukaan nih, saya pada akhirnya hilang respect sama Tom karena ternyata oh ternyata dialah biang kerok yang menyembunyikan paspor Darcy hanya biar Darcy nggak pergi meninggalkan Tom lagi. Sebuah alasan yang nggak masuk akal sih, karena toh ketika Darcy memutuskan untuk tinggal bersama Tom dalam rangka mengurus renovasi rumah warisan Loretta, Tom-lah yang secara religius menolak semua flirting dari Darcy. KAN BINGUNG YA NI COWOK MAUNYA APA SEBENARNYA. Selain menjengkelkan, tingkah Tom menurut saya NGGAK PANTAS UNTUK DILAKUKAN. Ya balik lagi ke masalah consent sih: kamu nggak berhak membatasi siapapun untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Menyembunyikan paspor dalam kasus ini termasuk upaya licik dan manipulatif—condong ke kriminal juga—dalam membatasi hak dan kebebasan Darcy apalagi dilakukan murni demi agenda pribadi Tom (bukannya demi masalah kesehatan jantung Darcy atau gimana). First he stole your paspor, and then what? [SPOILER] Menambah rasa tidak suka saya pada Tom adalah di akhir cerita, Tom BERANI-BERANINYA kabur dari proyek dan.... pergi? Dua bulan? Sampai akhirnya Jamie dan Darcy yang menyelesaikan proyek renovasinya???? Untuk seseorang yang baru merintis karir lewat (uhuk) jalur nepotisme, Tom nyalinya gede juga yah. Who cares about integrity, anyway? *dripping in sarcasm* Ku tak mengerti kenapa banyak yang suka sama problematic Tom ini.


Kayaknya saya memang punya masalah kronis sama cowok yang suka diem-diem ae terus mendadak kabooooorrr deh, tapi, logis kan kalau saya kesel? What he did was so NOT gentleman.

Dan kalau kalian mau tahu siapa yang jahat di novel ini, menurut saya adalah mendiang Loretta. Dia yang pertama kali menyeret Darcy ke bandara untuk mendapatkan “ketenangan batin” setelah bertingkah bodoh di depan Tom, sehingga dialah yang bertanggung jawab terhadap masalah yang dialami Darcy setelah pulang dari perjalanan pertamanya itu dan sifat suka kabur yang dimiliki Darcy. Kamu boleh nyentrik, kamu boleh berpikiran out of the box, tetapi mengajarkan sifat pengecut kepada keturunan sendiri itu enggak banget. She should be ashamed of herself, setidaknya ganti rugi lah dengan ngasih hak waris rumah sepenuhnya ke Darcy. Biar uang dia makin banyak dan bisa bayar psikolog paling kompeten dan mahal untuk menyembuhkan kebiasaan jeleknya itu.

Begitulah. Jamie yang digambarkan sebagai mata duitan dan suka main perempuan jadi terlihat sangat angelic dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Ha! Moral dari cerita ini berarti: untuk tampak tidak asshole meskipun kamu asshole: hiduplah dengan orang-orang yang lebih problematik dari kamu. Suddenly, you're the saint one! Logic, amiright??


Terlepas dari masalah di atas, saya cuma berharap siapa pun yang membaca novel ini bisa memfilter hal-hal negatif yang ada dan nggak berpikir: “Waw, demi menunjukkan cintanya ke cewek yang suka kabur ke luar negeri, lelaki ini menyembunyikan paspor si cewek. Akhirnya si cewek sadar. Dan mereka jadian. Bahagia. Terharu. Couple goals.”NOT cute, guys. Inilah alasan sebenarnya saya nulis review ini, meskipun mata sudah capek lihat layar dan tangan sudah pegal ngetik dari pagi: kita harus berhenti meromantisasi sifat manipulatif dan abusif, dan menikmati novel dengan filter yang tepat

Cukup kecewa saya dengan Sally Thorne. Saya harap novel dia selanjutnya bakal lebih baik lagi.

Sunday, 10 February 2019

[Review Buku] Queen of Air and Darkness oleh Cassandra Clare


This is basically me trying to read ALL of genres that possibly exist out there, so bear with me.

Queen of Air and Darkness adalah buku ketiga dan terakhir dari seri The Dark Artifices, terbit Desember 2018 lalu. Buku ini juga merupakan yang paling tebal di antara karya Cassandra Clare yang lain, total 912 halaman. Jadi, menamatkannya merupakan prestasi tersendiri bagi saya yang barusan bangkit dari reading slump dan berusaha membabat habis tumpukan TBR fiksi. Ya know, saya sering baca buku tebal… tapi baca buku ini setelah lama nggak pegang novel, rasanya seperti senam 30 menit penuh setelah libur olahraga berbulan-bulan. I was dying and wheezing while at it.

Saya awalnya memulai buku ini dengan otak yang benar-benar kosong tentang akhir cerita buku kedua. Untuk mengatasinya, saya baca bab terakhir dari Lord of Shadows dan ternyata…WOW. Brutal sekali cliffhanger-nya. [SPOILER] Untuk me-refresh kalian juga nih, di bagian akhir Lord of Shadow diceritakan kalau Robert Lightwood selaku Inquisitor menerima permohonan Emma dan Julian untuk mengasingkan mereka demi mencegah kutukan parabatai. Namun segera setelah itu, kekacauan terjadi karena para Shadowhunter tidak percaya dengan kesaksian Annabel—yang bangkit dari kematian dengan bantuan Black Volume of the Dead—kalau dialah yang membunuh Malcolm (bukannya Zara). Annabel juga memperingatkan para Shadowhunter kalau King of Unseelie sedang merencanakan serangan yang dapat melumpuhkan steele sehingga kekuatan mereka akan sama seperti para mortal. Meskipun Annabel mengatakan itu semua sambil memegang Mortal Sword, mereka tetap nggak percaya dan malah menyerang Annabel sehingga dia ((SNAPPED)) dan menyerang Robert dan Lizzy. They both D E A D

Dan itu semua terjadi di bab terakhir, saudara-saudara.

Jadi, bisa dimengerti kan kalau saya baca Queen of Air and Darkness sampai ngos-ngosan. Padahal baru bab awal. Kayak kalau baru pertama senam gitu, dua menit sudah dying, dan masih harus menghadapi dua puluh delapan menit sisanya.


Kisah di buku ini dimulai tepat setelah kekacauan yang diakibatkan oleh Annabel terjadi. Bukan sehari setelahnya, atau sejam setelahnya. Benar-benar satu detik setelah scene terakhir di buku Lord of Shadow. Annabel menghilang bersama Black Volume of the Dead ke Unseelie Court. Keluarga Blackthorn berduka dengan kematian Livvy. Dan yang paling parah, Horace berhasil menduduki jabatan sebagai Inquisitor dengan didukung oleh Cohort, menjadikan mereka memiliki kuasa untuk mewujudkan ambisi jahat dalam menghancurkan Downworlders.

Emma dan Julian pada akhirnya mendapatkan hukuman dari Inquisitor Horace karena dianggap menjadi biang kerok dari muncul (dan hilangnya) Annabel dan rusaknya Mortal Sword. Mereka harus berangkat ke Faerie untuk mengambil Black Volume of the Dead. Yang mereka tidak tahu, sebenarnya misi itu adalah jebakan. Tak lama setelah Emma dan Julian pergi ke Faerie, beberapa anggota Cohort menyusul untuk membunuh mereka. Rencananya, kematian Emma dan Julian akan dikambinghitamkan sebagai ulah para fey sehingga para Shadowhunter yang masih sangsi dengan agenda Horace akan berbalik mendukungnya.


Kalau membicarakan sinopsis dari buku setebal ini, saya nggak sanggup meng-cover-nya dalam satu artikel review. Intinya, banyak hal yang terjadi. Maklum ya, karena ini adalah buku terakhir, jadi mungkin semua akan diikat dan dibabat habis ke dalam 912 halaman. Saya merasa di awal buku ini, semua tokoh punya agendanya sendiri-sendiri. Padahal ini adalah saat dimana mereka harus bersatu untuk mengalahkan King of Unseelie uhuk mirip Game of Thrones uhuk. Paling sebal sama kelakuan Ty sih. Sampai gregetan sendiri bacanya. Ya kan dia sudah tahu ya gimana nggak stabilnya Annabel sebagai seorang yang dibangkitkan dari kematian. Nah, dia masih mau nyoba membangkitkan Livvy? Apalagi untuk kasus Livvy yang jasadnya dikremasi, Ty harus mencari tubuh baru. Dengan kata lain, membahayakan orang lain yang tubuhnya akan dipakai. Selain itu…

“Didn’t you hear hear what Shade said? The Livvy we get back might not be anything like our Livvy. Your Livvy.”
Ty followed him out into the water. Mist was coming down to touch the water, surrounding them in white and gray.“If we do the spell correctly, she will be. That’s all. We have to do it right.”

See, nggak ada yang bilang kalau Livvy yang mereka bangkitkan bisa seperti Livvy yang dulu. Ty cuma mengarang sesuatu yang pengen dia dapatkan dan mengeksklusi fakta lain. What a creep. Saya sering ketemu sama orang macam Ty. Nggak pernah beres jalan pikirnya.

Ada lagi yang bikin saya sebal: Julian Blackthorn. Di buku ini, dia minta tolong sama Magnus buat menumpulkan rasa cinta yang dimiliki ke Emma, karena tanda-tanda kutukan parabatai sudah muncul. Tapi mantra yang diberikan sama Magnus membuat dia benar-benar kehilangan semua emosi yang dimiliki Julian, pada akhirnya dia jadi nggak peduli siapapun kecuali dirinya sendiri dan agenda yang dia miliki. Kalau ini saya yakin Julian resmi jadi sosiopat. Kasihan Emma.

The taste of betrayal was bitter in her mouth, more bitter that the copper of blood.

Tapi bukan Emma namanya kalau dia nggak berani mengutarakan apa yang dia yakini benar. Bahkan ke Julian, orang yang paling dia sayang.

“That’s what I always loved about you, even before I was in love with you. You never thought for a second about it diminishing about you to have a girl as your warrior partner, you never acted as if I was anything less than your complete equal. You never for a moment made me feel like I had to be weak for you to be strong.”

Konflik tentang Julian ini benar-benar menunjukkan kepada pembaca bagaimana dark-nya dia sebagai seorang protagonis. Sejak buku 1, Julian tampak sebagai seorang penyayang dan rela melakukan apapun demi keluarganya dan Emma. Pembaca kadang luput dengan penekanan apapun yang menjadi batas tindakan Julian. Selama tidak merugikan keluarga Blackthorn atau Emma, so be it. Nah melalui transformasi Julian menjadi seseorang tanpa emosi ini, pembaca melalui sudut pandang Emma akhirnya ditunjukkan seberapa toxic sifat Julian jika dia berjalan dengan agendanya sendiri. Hmm, nggak keliatan atraktif lagi kan? Manipulatif kan? Nggak enak kan dikibulin?

Plotnya yang nggak jelas bikin saya bingung sama apa tujuan sebenarnya di buku ini. Menghancurkan ikatan parabatai? Membalas dendam ke Annabel? Mengalahkan Horace dan Cohort? Menghilangkan blight? Mengalahkan Faerie? Loh, kok mendadak ada Sebastian Morgenstern lagi? Ketidakjelasan ini menjadikan ceritanya lompat-lompat dan bikin saya sebagai pembaca bingung sebenarnya arahnya kemana. Lagi asyik baca scene Julian & Emma dan sebentar lagi peak, eh mendadak di-cut dan pindah ke sudut pandang Diana dan Gwyn. Rasa deg-degan yang sudah terbangun dengan baik jadi bubar. Pas balik ke scene Julian & Emma, sudah nggak seasyik sebelumnya. Pas satu konflik selesai, eh ternyata ada konflik lanjutan. And don’t get me start with the biggest conflict of all, Julian and Emma’s parabatai. Walaupun pada akhirnya [SPOILER] ikatan mereka hancur setelah mereka berubah menjadi true Nephilim dan heavenly fire menghilangkan ikatan parabatai mereka yang unholy—seperti saat heavenly fire membakar habis ikatan unholy antara Jace dan Sebastian—sehingga Julian & Emma finally lived happily ever after as a couple…. eksekusinya menurut saya benar-benar mendadak dan nggak ada pembahasan sama sekali tentang heavenly fire ini dari jaman pertama mereka sadar jatuh cinta. SAYA MERASA KECOLONGAN.

Makanya, saya cuma kasih 3 bintang buat buku ini. I liked it. Tapi ya gitu aja sih hahaha. 3 bintang atas nama pertemanan lama, karena di sini banyak tokoh kesayangan saya muncul lagi dengan porsi besar, antara lain Jace & Clary, Alec & Magnus, dan yang paling saya sayangi…. TESSA GRAY & JEM CARSTAIRS MY LUV. Tanpa mereka, mungkin saya baru tamat baca bukunya 2 tahun lagi. Atau malah did not finish.

Dan you know what??? Dengan total 912 halaman dan ending yang seperti itu??? Saya rasa bakal ada seri baru lagi dari Cassandra Clare.


Cassandra Clare really milking that daaarn dead cow.

Thursday, 31 January 2019

[Review Buku] The Kiss Quotient oleh Helen Hoang


Sedang cari novel New Adult yang ringan dan menghibur? Saya sarankan untuk baca The Kiss Quotient.

Ini adalah kali kedua saya baca The Kiss Quotient, novel debut Helen Hoang. Oktober lalu, saya memilih novel ini sebagai bacaan hiburan di tengah break tesis. Tapi karena waktu itu saya terlalu tegang buat menunggu follow-up dari informan, pada akhirnya huruf-huruf cuma numpang lewat saja, nggak masuk ke otak. Untuk menebus kesalahan saya, hari ini saya memutuskan untuk membaca ulang novel ini.

Dulu saya memilih untuk baca The Kiss Quotient karena alasan receh: sampulnya mirip dengan The Hating Game yang ditulis oleh Sally Thorne (rekomen juga!). Yang saya suka dari The Kiss Quotient—tanpa mengurangi kesukaan pada The Hating Game, karena memang nggak ada niat untuk membandingkan—adalah fokus penulis pada tokoh protagonis yang memiliki sindrom asperger. Ini lho alasan saya suka baca novel, karena novel yang bagus dapat menyajikan tema yang sebelumnya asing bagi saya dengan cara yang unik dan memikat hingga halaman terakhir, sehingga saya bisa belajar dan refreshing secara bersamaan. Inspirasi untuk menulis kisah yang berkaitan dengan sindrom asperger didapatkan setelah penulis divonis menderita sindrom ini tahun 2016 lalu, membuat saya belajar memahami sindrom asperger dari orang yang merasakannya secara langsung dan bukannya modal sotoy. Selain itu, penulis juga selalu berusaha memasukkan unsur diversifikasi pada tokoh-tokoh yang ditulis, khususnya menekankan representasi orang Vietnam. Helen Hoang, siapapun kamu… aku ngefans!

Asperger syndrome (AS), also known as Asperger's, is a developmental disorder characterized by significant difficulties in social interaction and nonverbal communication, along with restricted and repetitive patterns of behavior and interests. (Wikipedia)

The Kiss Quotient menceritakan tentang Stella Lane, seorang ahli ekonometrika penderita sindrom asperger yang bekerja di perusahaan belanja online. Tugas utama Stella adalah menciptakan formula tentang pola belanja konsumen menggunakan statistika dan kalkulus, sehingga perusahaan nantinya bisa mengirimkan email berisi produk rekomendasi yang sesuai berdasarkan histori pembeliannya. Pekerjaan ini menantang, butuh konsentrasi penuh, dan tidak mengharuskan dia berinteraksi dengan banyak orang. Benar-benar Stella banget, pokoknya. Gaji besar? Check. Jenjang karir?Check. Lingkungan kerja damai? Check.

Namun, sifat antisosial Stella mulai meresahkan orang tuanya. Mengingat Stella adalah anak tunggal dan memasuki usia kepala tiga, mereka mulai mendesak dia untuk lebih berusaha membuka diri. Apalagi sejak Stella menolak kesempatan promosi yang ditawarkan bosnya dengan alasan nggak siap membawahi 5 anak buah…semakin menjadi-jadi deh tingkah ibunya. Mungkin karena Stella adalah good girl at heart, pada akhirnya dia berusaha belajar memperbaiki kemampuan membangun hubungan dengan cara……….menyewa escort.

"I'm awful at...what you do. But I want to get better. I think I can get better if someone would teach me. I'd like that person to be you."

The Kiss Quotient pada dasarnya adalah Pretty Woman dengan peran yang ditukarEscort pilihan Stella, Michael Phan, adalah penyejuk novel ini. LOL. Lama nggak baca novel, saya langsung disuguhin manusia macam Michael. Lemme tell ya why I love him:

Pertama, Michael sangat menghargai consent. Michael dapat membuat Stella merasa nyaman berinteraksi dengannya karena dia selalu memastikan Stella setuju untuk melakukan sesuatu sebelum benar-benar melakukannya. Michael juga selalu memperhatikan raut muka Stella sebelum mengambil suatu tindakan. Yang paling penting, Michael tidak pernah memaksa ketika Stella tidak siap dan langsung memutar otak biar Stella bisa nyaman kembali. No is a "no", guys. Not "try harder".

Kedua, Michael sangat bangga dengan kepintaran dan kesuksesan Stella. This by far is the time when I think he's at his sexiest:

"Why couldn't you be a doctor, then, E?" his mom asked as she peeled her tenth mango. "All I wanted was a doctor in the family, and not one of you could do that for me."
"Stella's a doctor," Michael said with a grin.
Her eyes rounded into giant buttons. "No, I'm not."
"Yes, you are. You have a PhD. That makes you a doctor. And you went to the University of Chicago, the best school for economies in the U.S, probably the world. You graduated magna cum laude."

Ketiga, Michael sayang keluarga dan bertanggung jawab. Kalian bakal tahu perjuangan dia ketika baca novel ini.

Keempat, penulis sejak awal sudah menyebutkan kalau Michael ini mirip sama artis Korea Danniel Henney. Fondasi kuat macam gini bikin pembaca mudah membayangkan dia. Mudah naksir juga.


Tetapi Michael tetap merupakan tokoh yang manusiawi di mata saya sebagai pembaca, terutama ketika dia berkali-kali mengungkapkan perasaan insecure atas masa lalunya. Sekali dua kali saya maklum. Lah, ini….lima juta kali ya mungkin doi meratapi fakta kalau gara-gara kelakuan bapaknya, doi jadi nggak pantas bersatu sama Stella. Michael, my dear… kamu kok jadi nggak begitu cakep lagi kalau ngeluh gitu terus.


Sedangkan Stella…. Saya jujur suka sekali sama semangat dia dalam bekerja. Nggak pernah sekalipun dia mengeluh meskipun akhir minggu harus dihabiskan di kantor. Dia sadar itu keputusan yang dia buat dengan sukarela. Senang rasanya membaca sebuah cerita dimana seorang perempuan karir begitu berdedikasi terhadap pilihan pekerjaan yang dia pilih dan nggak bergantung sepenuhnya pada laki-laki. Terus, dia nggak mengeluh berkepanjangan tentang asperger yang dialami. Justru dengan segala sumber daya dan keyakinan yang dia punya, dia bersedia untuk memperbaiki kemampuan sosialnya dari orang lain yang ahli. Dia selalu mendengar, dan kalau salah, dia nggak ragu buat minta maaf dan tanya gimana cara yang benar. Mempelajari sindrom asperger dari sudut pandang Stella Lane jadi lebih menyenangkan di mata saya.

“If you can't stand being with a woman who's more successful than you, then leave her alone. She's better off without you. If you actually love her, then know the value of that love and make it a promise. That is the only thing she needs from you.”

Novel ini mengajarkan pada saya pentingnya membangun hubungan melalui consent dan saling memahami kondisi satu sama lain. Menurut saya ini penting, karena penjelasan macam gini kadang masih tabu untuk dibicarakan. Bagaimana seharusnya kita diperlakukan oleh pasangan, bagaimana cara kita membalasnya, apa yang terjadi kalau pasangan memaksa... penting untuk dijadikan pegangan. Harus ada garis batas jelas yang nggak boleh dilewati, karena yang namanya hubungan itu tentang dua pihak. Kalau yang satu dirugikan, takutnya makin menjadi ketika hubungannya semakin serius.


Setahu saya novel ini belum diterjemahkan sama penerbit Indonesia. Kalaupun diterjemahkan, kayaknya bakal masuk kategori 21+ deh, karena banyak adegan steamy spesifik yang bikin kipas-kipas. Tapi eksekusinya bagus, bikin chemistry antara Stella dan Michael terjalin dengan kuat. Oh ya, ketika tadi saya update status baca di Goodreads, baru ngeh lho kalau The Kiss Quotient ini adalah serial. Jadi, kemungkinan kita bakal bisa baca kelanjutan kisah Stella dan Michael! Dan Mei tahun ini, novel lain dari Helen Hoang akan diterbitkan. Judulnya The Bride Test, merepresentasikan orang Vietnam juga. YASSS gimme!