Thursday, 11 February 2016

Rekomendasi Buku Februari (Luv Luv Luuuurvvvvee)

Hai semua! Di bulan Februari yang semakin mendekati tanggal 14 ini paling asik kalau dilalui bersama novel-novel unyu yang bikin hati berbunga-bunga. Jangan khawatir kalau kamu jomblo, karena cowok-cowok ganteng di novel berikut siap bikin kamu jatuh cinta lagi. Dan lagi.

Ini dia daftar novel-novel yang PAS banget dibaca di Bulan Februari:

Buku yang sudah diterjemahkan

To All the Boys I’ve Loved Before Series by Jenny Han
Seri ini termasuk yang paling sering ditanyakan sama temen-temen pembaca blog ini. Dua-duanya sudah diterjemahkan oleh Penerbit Spring dengan sampul asli yang cantik dan terkesan vintage di atas. Super unyu dan bikin galau mau milih mau jadi Tim Peter Kavinsky atau Tim John Ambrose McClaren! Kalau saya pribadi sih jadi Tim Lara Jean. Fakyeah Lara Jean!


There You’ll Find Me by Jenny Jones (review bisa dibaca di sini)
Salah satu buku terbaik yang saya baca tahun lalu! Sudah diterjemahkan sama Gramedia walaupun kualitas terjemahannya masih kurang maksimal. Irlandia…. Beckett Rush…… gosh sepertinya saya harus baca ulang novel ini. Kangen.


Buku yang belum diterjemahkan

My Life Next Door by Huntley Fitzpatrick
Satu kata: JaseGarrett. Oke itu curang. Tapi Jase Garrett merupakan salah satu book boyfriend yang cukup konstan di hidup saya. Novel ini sering sekali saya baca ulang terutama kalau lagi super suntuk atau pengen merasakan hidup dengan keluarga Garrett lagi. *sigh* Jase Garrett……


Isla and the Happily Ever After by Stephanie Perkins
Kalau soal cerita supermanis dengan latar Paris, Stephanie Perkins ini juaranya! Dari ketiga novel seri Anna and the French Kiss, FYI yang paling nendang menurut saya adalah Isla. I shipped Isla and Josh so hard I don’t even care about anything else!


Dan buku terakhir….

Open Road Summer by Emery Lord
Kalau kalian kangen sama Taylor Swift ala era sebelum Red album a.k.a. ketika masih jadi penyanyi country, wajib banget baca Open Road Summer! Novel ini tidak melulu membahas cinta kok, tapi juga persahabatan dan keluarga. Saking jatuh cinta sama ceritanya, saya sampai bela-belain beli versi fisiknya yang harganya nggak bersahabat sama kantong mahasiswa ini huhu (maklum dollar makin naik). Biar bisa dielus-elus gitu... *ditabok*


Nah. Itu dia buku rekomendasi saya untuk Bulan Februari. Tenaaaang, semua sudah teruji standar ke-unyu-annya dan cocoooook dibaca sambil ngumpet di bawah selimut atau sambil gandeng tangan pacar tersayang. EAAAAA.

Sampai jumpa di rekomendasi buku selanjutnya ya teman-teman!

Wednesday, 3 February 2016

[Review Buku] Good in Bed oleh Jennifer Weiner

Good in Bed (Cannie Shapiro #1)
penulis Jennifer Weiner
375 halaman, New Adult/ Chick-lit
Rating: image
Dipublikasikan 2 April 2002

New Adult sebenarnya bukan genre yang saya gandrungi. Saya masih berkiblat sama Young Adult kok sodara-sodarah, soalnya masih pas sama usia saya yang kinyis-kinyis ini *ditabok*. Tapi karena salah satu resolusi 2016 saya adalah Read Diverse Books a.k.a. keluar dari zona nyaman YA, makanya saya coba-coba aja nyicip novel NA kali ini. Bukannya nggak suka sih sama genre ini. NA yang bagus buanget menurut saya juga banyak. Tapi saya ngerasa “berat” aja baca novel-novel macam ini. Masalah yang terkandung di dalamnya biasanya sangat kompleks. Bikin saya nggak mau cepet-cepet jadi dewasa hahaha.

Setelah gagal total baca Paranormal Romance kemarin, tentu saya agak ketar-ketir dong soal milih NA mana yang bakal dibaca. Karena saya tuh ngasal milihnya. Tau ada penulis yang namanya Jennifer Weiner aja baru kali ini, dan usut punya usut, Good in Bed ternyata karya debut dia. Syukurlah, saya nggak salah pilih. Karena novel ini bagus banget dan membawa pesan penting bagi pembacanya. Gaya penulisannya juga bagus, realistis. Top lah untuk ukuran penulis debut waktu itu.


Protagonis di novel ini—Cannie Shapiro—adalah seorang jurnalis (why? WHY?? Saya sering banget baca NA yang tokoh utamanya jurnalis) di Philadelphia Examiner. Hidupnya sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi sejak Bruce—mantan kekasihnya—mendapatkan pekerjaan baru sebagai penulis rubrik Good in Bed di Moxie dan menulis artikel “Loving a Larger Woman”, Cannie jadi merasa insecure. Bruce membeberkan kehidupan pribadinya bersama si “C”, si perempuan berbadan “di atas normal” yang seolah-olah tidak ingin dicintai dengan tulus olehnya dan malah terus bermuram durja atas kondisi badannya.

There were a thousand words that could have described me—smart, funny, kind, generous. But the word I picked—the word that I believed the world had picked for me—was fat.

Walapun identitasnya tidak ditampilkan secara gamblang, orang-orang terdekatnya tahu bahwa si C yang dimaksud Bruce adalah Cannie. Yang lebih parah, artikel itu juga mengelabui pikiran Cannie sendiri sehingga dia berpikir bahwa memutuskan Bruce adalah suatu kesalahan. Karena, yaaaah, lihat saja kondisi Cannie sekarang. Lajang gemuk menyedihkan. Bruce benar-benar mencintainya. Setidaknya berdasarkan artiker “Loving a Larger Woman” yang dia tulis. Dia harus mendapatkan Bruce kembali!

Cannie lantas mendaftarkan diri ke program milik University of Pennsylvania’s Weight and Eating Disorders Clinic, di mana ia bertemu teman-teman seperjuangan dan Dr. K, dokter ramah yang selalu sabar walaupun Cannie sering memunculkan "masalah" di setiap pertemuan programnya.

“Fat people aren’t stupid,” I continued. “But every single weight-loss program I’ve ever been to treats us like we are—as if as soon as they explain that broiled chicken is better than fried, and frozen yogurt’s better than ice cream, and that if you take a hot bath instead of eating pizza, we’re going to all turn into Courteney Cox.”


Cannie tidak tahu bahwa dia akan mendapatkan petualangan luar biasa yang menyadarkannya bahwa di dunia ini banyak hal yang jauh lebih penting dibandingkan menurunkan berat badan demi seorang cowok.


Novel ini mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri, baik secara fisik maupun mental. Banyak hal penting yang saya pahami dari novel ini. Secara pribadi, saya kagum dengan usaha Cannie dalam menemukan jati diri dan kebahagiannya: lajang bukan berarti sendiri, masih ada keluarga dan sahabat yang siap menemani; memiliki badan yang lebih besar bukan aib, asalkan sehat dan mampu menopang dan membantu kita dalam menjalani aktivitas sehari-hari; dan siapa yang butuh cowok menyedihkan yang menjelek-jelekkan diri kita di muka publik HAHHHHH?????

Mengikuti jejak Cannie sejak awal sekali, bikin saya agak sedih untuk berpisah dengan buku ini. Dan heck, saya tidak mau spoiler sebenarnya, tapi saya suka ketika Cannie di akhir cerita akhirnya mendapatkan pekerjaan yang dulu sempat menjatuhkannya. Sweet revenge, huh?

“But what we’re really trapped by is perceptions. You think you need to lose weight for someone to love you. I think if I gain weight, no one will love me. What we really need,” she said, pounding the bar for emphasis, “is to just stop thinking of ourselves as bodies and start thinking of ourselves as people.”


FYI, buku ini sudah diterjemahkan Gramedia lho teman-teman, bahkan sudah dicetak ulang. Buat yang malas baca versi bahasa Inggris, sok atuh bisa dijadikan alternatif baca. Dan ini bukan novel erotika lho ya, walaupun desain sampulnya seperti itu. Kayaknya yang bikin desain sampul agak salah kaprah sama keseluruhan ceritanya -,-


Saya merekomendasikan novel ini kepada semua pecinta chicklit maupun yang baru menjajal genre ini. Kita butuh lebih banyak novel seperti ini sodara-sodara.

Monday, 25 January 2016

[Review Buku] Half-Blood (Covenant #1) oleh Jennifer L. Armentrout

Half-Blood (Covenant #1)
penulis Jennifer L. Armentrout
281 halaman, YA/ Paranormal
Rating: image
Dipublikasikan 18 Oktober 2011 oleh Spencer Hill Press

Hmmmmmmmm. Gimana caranya bikin review jujur tapi tetep ramah hmmmmmmmmmm.


Saya memulai baca ini dengan ekspektasi yang cukup tinggi karena, well…. Jennifer L. Armentrout gitu. Karyanya udah buanyak (67 buku menurut Goodreads dengan genre dan nama pena yang bervariasi) trus reader sejatinya bejibun di Tumblr. Seri andalan JLA ini emang Lux Series, tapi saya lebih milih baca seri Covenant aja soalnya sampul-sampul buku Lux Series jelek bingo bikin ngilu ngilu gitu tiap liat hahaha.

Sebenarnya ini bukan buku pertama JLA yang saya baca. Dulu pernah sekali baca YA dari dia tapi nggak cocok soalnya menurut saya ceritanya LAME sama super bosenin. Tipikal kayak author yang belum nemu “nada” nulisnya gitu menurut saya. Masih gitu-gitu aja, lempeeng sepanjang cerita.


Hmmmm. Saya nggak bakal cerita keseluruhan bukunya kayak gimana. Tapi saya cuma pengen menekankan satu hal mengenai buku ini: CERITANYA MIRIP BANGET SAMA VAMPIRE ACADEMY SUMPAH. Nggak ngerti lagi. Awal-awal saya masih agak maklum gitu, soalnya kadang legenda atau cerita paranormal berakar dari satu kisah yang sama jadi nemu beberapa “kecelakaan” itu lumrah. Tapi makin dilanjut kok makin menjadi-jadi.


Udah bukan rahasia lagi kalo Vampire Academy tuh emang keren banget, dan bahkan saya bahkan dulu sempet suka sama Dimitri sebelum versi filmnya keluar dan doi diperanin sama om-om gendut yang bikin saya bergidik. Nah, baca buku ini tuuuuh rasanya kayak membangkitkan jiwa fangirl saya sama Vampire Academy bertahun-tahun lalu dan bikin emosi karena rip-off yang dilakuin sama JLA bikin kesan saya sama Vampire Academy tuh nggak se-spesial dulu. Saya nggak terima. Saya bete.


Hal ini bikin saya inget sama Cassandra Clare yang dibully habis-habisan karena The Mortal Instrument dianggap sebagai plagiasi Harry Potter. Yaaah seenggaknya Cassandra Clare kreatif, terus dia pinter muter-muterin cerita plus gaya nulisnya bagus jadi baca novel dia yang guede-guede itu tuh rasanya kayak naik roller coaster. Ada naik turunnya.

Lah novel ini? Datar. Ceritanya udah bisa ditebak sejak awal dan penulis nggak bisa kasih penekanan yang WAH waktu konfliknya muncul. Selain itu, dialognya kaku banget kayak textbook. Nggak bisa bayangin di kehidupan nyata orang ngomong FULL kayak gitu. Bikin feel saya sama buku ini makin datar aja. Tokoh utama senang, saya biasa aja. Tokoh utama kena masalah, saya biasa aja. Tokoh utama naksir sama cowok ganteng super baik (yang nggak bisa dia miliki, tentunya), I couldn't care less



Ugh. UGGGHHHHH.

Nggak ngerti kenapa novel plagiat gini bisa sampai dipublikasi. Dan saya lebih nggak ngerti lagi kenapa saya bisa jatoh di lubang yang sama dua kali. Kan berarti saya keledai ya .-.

Jadi intinya, saya sepertinya emang nggak cocok sama JLA. Nggak klik aja antara gaya nulis dia sama selera saya. Ternyata udah publish novel bejibun nggak menjamin kualitas seorang penulis, gengs. Nulisnya masih sekelas fanfiction, dan buku ini membuktikan kalo dia nggak ragu-ragu buat make cerita yang nggak orisinil. Ini bukan pendapat subjektif saya tok lho ya, banyak banget yang mikir sama kayak saya. Ya semoga JLA makin ke sini makin kreatip ya jeng, biar plagiasi kayak gini nggak keulang lagi.


Apa saya bakal baca buku lanjutannya? Mungkin. Saya penasaran kemana JLA bakal bawa cerita ini dan beberapa orang bilang kalo buku lanjutannya bagus. Tapi kalo buat novel-novel YA nya dia, saya udah males deh. Bikin capek hati aja soalnya -,-

Tuesday, 12 January 2016

Mendengarkan + Mengakses Audiobook untuk Pemula

Halo. Mungkin ini telat banget, tapi selamat tahun baru 2016 ya teman-teman! Baru sempat buka blog dan balas komen-komen nih hehe. EHEHEHE.


Kali ini saya mau berbagi pengalaman soal hobi yang akhir-akhir ini lagi demen banget dilakuin, yaitu dengerin audiobook. Apa sih audiobook itu? Jadiiiii audiobook adalah buku/ novel, tapi dalam bentuk MP3. Akan ada narator yang membacakan cerita, kata demi kata, dari awal sampai akhir. Nah makanya jangan heran kalau audiobook sebuah buku bisa berdurasi sampai tujuh atau bahkan sembilan jam! Sang narator ini akan berbeda-beda di setiap judul buku (kecuali buku seri), dan menyesuaikan gender dari tokoh utamanya (yaiyalah). Nggak perlu takut bakal bosen sama cerita, soalnya narator yang dipilih pasti punya gaya khas sendiri dalam membacakan cerita sehingga mampu “menghidupkan” novel yang ia baca. Ekspresif gitu, setara kualitas dengan dubber film animasi luar negeri, dengan suara yang bisa berubah-ubah ketika mereka membawakan percakapan dialog. Lucu.


Beberapa keunggulan audiobook menurut saya itu:
1. Praktis. Karena formatnya MP3, jadi tinggal saya download trus pindah ke HP. Selalu bawa headset kemana-mana dan voila! hidup terasa jauh lebih mudah (ini lebay). Kita bisa menikmati novel kapan saja, di mana saja, dan pas ngapain aja. Literally. Orang luar negeri biasa mendengarkan audiobook sambil nge-gym, jogging, atau ketika perjalanan jauh sendirian di mobil (uhuk jombs). Tapi saya belum mampu sampai taraf ini, jatuhnya malah nggak konsen ngapa-ngapain XD.
2. Pengalaman mendengarkan cerita secara langsung bakal terasa berbeda dibandingkan dengan membaca kata-kata. Lebih “hidup” gitu.
3. Ini nih yang keren. Audiobook bisa jadi wahana latihan listening dan speaking Bahasa Inggris yang manjur sekali buat saya yang masih belajar bahasa asing ini.
4. DAN, mendengarkan audiobook bisa dijadikan alternatif buat kita yang matanya terlalu lelah untuk mantengin tulisan/ layar ebook lama-lama. Sekali-kali saya mau memanjakan mata hehe sudah terlalu lama melototin jurnal yang tulisannya kayak koran. Capek.

Bagaimana tips untuk mendengarkan audiobook pertama kali?

Buat pemula seperti saya, lebih disarankan untuk memilih audiobook dengan jalan cerita yang ringan atau sesuai dengan jenis bacaan favorit sebelumnya, sekadar untuk menyesuaikan telinga dengan otak dulu. Misalnya ya kalau kamu biasanya baca YA, lebih baik memilih audiobook novel YA dan bukannya novel klasik. Karena di audiobook YA kamu bakal lebih familiar dengan istilah-istilah yang ada. ATAU nih biar lebih familiar lagi, kamu bisa dengerin audiobook dari novel yang sudah pernah kamu baca sebelumnya. Selain mendapatkan perspektif baru dari cerita yang disajikan, hal ini juga bisa mengurangi tingkat salah kaprah dari kata-kata bahasa Inggris yang kamu dengar. Ini adalah metode yang saya pilih ketika pertama mendengarkan audiobook dulu.


Audiobook pertama yang saya baca adalah Looking for Alaska karya John Green (I HIGHLY RECOMMEND THIS BOOK FOR YOU). Novel ini dibacakan oleh Jeff Woodman, narator paling the best lah pokoknya menurut saya. Lucunya dapet, centilnya dapet (padahal naratornya cowo), tapi pronouncationnya tetep jelas. Saya sering ketawa-ketawa sendiri tiap dengerin audiobook ini. Selain Looking for Alaska, saya juga baru menamatkan duologi dari Jenny Han yaitu To All the Boys I’ve Love Before dan PS I Still Love You. Keduanya novel yang sangat ringan dan bikin saya jatuh cinta lagi dan lagi sama John Ambrose McClaren (sorry Peter K!).



Bagaimana mengakses audiobook buat kita yang ber-budget limit?

Kalau beli online, audiobook ini mahal banget, bisa sampai dua atau tiga kali lipat harga paperbacknya. Males banget kan. Untungnya, yang namanya internet tuh adaaaaa aja jalan pintasnya. Saya biasa mendownload audiobook dari vk.com (saya biasanya search di sini dan sini) karena pilihannya sangat banyak. Website ini memang agak ribet tapi kalau kita tahu bagaimana mencarinya, wuidiiih surga audiobook deh pokoknya. Cukup tambahkan extension ke browser yang kamu pakai (saya pakai VKONTAKRE.RU Downloader for Firefox) untuk menambahkan ikon download di websitenya. Nggak ribet, dan karena hampir semua novel ada, jadi worth it banget.

[klik gambar di atas untuk resolusi yang lebih jelas]

Audiobook yang terdownload biasanya bakal dibagi-bagi menjadi beberapa part. Tapi karena semua bagian tersedia, nggak begitu masalah deh. Filenya berformat MP3, yang nantinya bisa kamu pindah ke gadget dan didengarkan di music player. Gampang kan?

Untuk kekurangannya, hmm karena mendownload nonofficial kali ya, jadi kita nggak bisa sesuka hati mendengarkan per bab. Harus rajin ingat-ingat di mana kita mendengarkan terakhir kali. Tapi karena saya pake Tab dan bukan hape buat segala aktivitas book-related, nggak begitu masalah karena music player Tab saya ya cuma dipake buat file-file audiobook ini hehehe.


Oiya sekadar tambahan buat tips mendengarkan audiobook: kalian nggak perlu terburu-buru. Dilakuin sesempatnya aja, dan secukupnya. Kalau tujuh jam didengerin sekali duduk, bisa panas nanti telinganya. Saya biasanya mendengarkan satu bab sekali buka Tab. Dan waktu mendengarkan yang paling saya sukai adalah sebelum tidur karena suasananya mendukung sekali. Tapi ini selera masing-masing sih. Do it as you like as long as you enjoy it!


Apa kalian suka mendengarkan audiobook juga? Atau masih ada yang kurang jelas sama ocehan saya di atas? I would reaaaaalllyyy appreciate it if you share your experience to me. Don’t hesitate to write on the comment box below and I wish you a haaaaaaappy day!!


Wednesday, 16 December 2015

Kontroversi di Balik Desain Ulang Cover The Winner's Trilogy

Beberapa hari ini dunia perbloggerbukuan sedang dihebohkan oleh kabar dari Fierce Reads yang akan merombak total cover dari The Winner's Trilogy karya Marie Rutkoski. Saya, yang seharusnya anteng dan tetap fokus ngerjain skripsi, mau nggak mau tertarik untuk berhenti sebentar demi nyimak dengan seksama fenomena yang menimbulkan serangan demi serangan ke pihak-pihak yang terlibat. Mind you, saya belum membaca seri ini karena buku terakhirnya belum terbit. Namun untuk memberi pencerahan kepada kalian seperti apa sih akar dari permasalahan yang semakin merembet ke mana-mana ini, mari kita bandingkan cover Before dan After-nya saudara-saudara:





Yang kiri, adalah cover lama yang sudah beredar luas. Sedangkan yang sebelah kanan adalah cover baru yang akan menggantikan cover lama untuk versi hardcover dan softcover. Perlu saya tekankan sebelumnya, buku ketiga (The Winner’s Kiss) belum terbit. Jadi mungkin sebagian besar inti protes para pembaca adalah takdir tak terelakkan bagi pecinta buku kalo set buku mereka tidak akan matching. Ya apa benar?

Well, mungkin. Kami para book lovers memang secerewet itu mengenai masalah sampul buku. Sangatlah tidak masuk akal ketika penerbit mengganti desain cover di tengah-tengah ketika seri belum tamat. Dan mungkin ini sebatas pendapat subjektif saya (dengan diamini ribuan book lovers lain), tapi desain cover lama jauh lebih bagus dari pada yang baru. Saya mengutip dari mereka-mereka yang sudah baca, desain cover baru bahkan tidak nyambung dengan cerita yang dijanjikan. Kestrel, sang protagonist, bukanlah “pendekar yang akan berjuang menyelamatkan dunia” layaknya Katniss Everdeen atau Celaena Sadorthien. Saya di sini juga gantian mengamini para blogger lain yang berpendapat bahwa cover ini sedikit mengingatkan dengan desain cover Throne of Glass series (bahkan pose pada The Winner’s Curse mirip sekali dengan buku kedua dr ToG, Crown of Midnight).

Tentu masalah tidak akan berbuntut panjang kalau pihak Fierce Reads tidak memberikan pernyataan kontroversional bahwa alasan mereka merombak total desain covernya adalah untuk membuat “lebih banyak orang membaca seri ini” dan “cewek bergaun tidak tampak badass”.


Seperti diduga, muncul banyak reaksi negatif setelah pernyataan itu diberikan (tweet itu sendiri sudah dihapus oleh pihak Fierce Reads). Cewek badass tidak dilihat dari apakah dia memakai gaun atau tidak. Bahkan menurut sinopsis, Kestrel sejak awal sudah menolak keinginan ayahnya untuk bergabung dengan militer. Kestrel adalah tokoh yang sangat pintar dan licik yang menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi politik. Menurut saya itu sudah badass, dan tidak harus dilakukan dengan menggunakan celana. Tindakan Fierce Reads yang meng-Katnis Everdeen-kan Kestrel ini tentu ditolak mentah-mentah oleh para pembaca setia The Winner's Trilogy, karena menyerupakan seri ini dengan THG maupun ToG justru menghilangkan unsur unik yang sebelumnya dipamerkan seri ini melalui covernya.

Masalah “cewek bergaun tidak badass” pada akhirnya akan memunculkan stereotip bagi pembaca bahwa untuk menjadi seseorang yang hebat, perempuan harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang akan membatasinya dalam berkembang. Menjadi feminim tidak akan membuat seorang perempuan menjadi “kurang keren”. Hal ini patut diperjuangkan karena para pembaca YA kebanyakan adalah remaja yang masih mencari jati diri. Jika sejak awal mereka dicecoki teori bahwa menjadi feminim akan membatasi perempuan untuk menjadi apa yang mereka inginkan, nilai-nilai feminisme akan dijauhi bahkan ditinggalkan oleh pemilik gendernya sendiri.

Saya mengerti Fierce Reads bermaksud untuk membidik pasar yang lebih luas, dengan harapan tidak hanya perempuan saja yang menikmatinya tapi juga laki-laki (karena akui saja, mayoritas cowok akan berpikir dua kali untuk membaca buku bersampul seperti ini, apalagi membacanya di tempat umum). Atau mungkin mereka bermaksud untuk meniru kesuksesan dari franchise The Hunger Games, Throne of Glass, dan sejenisnya dengan membuat heroinnya nampak lebih “sangar” dalam balutan seragam tempur lengkap dengan senjata. Apapun alasan di balik desain ulang cover ini, keputusan mereka justru menjadi bumerang bagi Fierce Reads. Komentar negatif dilontarkan banyak pihak, baik secara langsung kepada mereka maupun melalui blogspost (yaa kayak saya ini).

Marie Rutkoski, sebagai penulis yang hanya memiliki kuasa akan jalan cerita—dan tidak ada andilnya dalam perombakan desain sampul—merupakan pihak yang kena apesnya. Kritikan pun dilontarkan kepada sang penulis, padahal ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mencoba menenangkan pembacanya. Sudah berhari-hari, masiiiih aja ada yang protes ke dia. Kan kasihan. Really dude, you shoulda stop it.

Salah satu sisi positif dari masalah ini adalah saya lebih aware dengan keberadaan The Winner Trilogy. Kalau sebelumnya saya hanya mengagumi dari jauh, sekarang saya benar-benar tertarik untuk membacanya. Entah apakah ini tujuan utama mereka bikin kehebohan ini, atau saya emang orangnya salah fokus. Tapi beneran deh, saya jadi penasaran.


XO, 
Sany yang sedang mangkir dari skripsi

PS: buat kamu yang sudah terlanjur koleksi buku dengan cover lama dan nggak pengen mismatch, penerbit UK dan Australia sudah memberikan pernyataan bahwa mereka akan tetap menerbitkan buku ketiga dengan desain cover lama. YAY!


EDIT 12 JAN 2016:

Pihak Fierce Reads sudah mengumumkan pembatalan penggunaan desain sampul baru pada BUKU KETIGA VERSI HARDCOVER. Sedangkan desain baru tetap dipakai untuk versi paperback. Yeah, okay. I guess. I still cringe everytime I look at the new covers, though.