Showing posts with label Non Review. Show all posts
Showing posts with label Non Review. Show all posts

Wednesday, 20 September 2017

HEY IT'S BEEN A WHILE



Hai teman-teman. Kapan terakhir kali saya menyapa kalian?

Banyak sekali hal yang mungkin terlewat untuk diabadikan oleh blog ini sejak hiatus. Mari saya ringkaskan untuk kalian: 

(1) Setelah lulus S1 dan merasakan "kebebasan" fana, saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan S2. Alhamdulillah, Allah memudahkan niat saya untuk belajar lagi dengan didapatkannya Beasiswa Unggulan Kemendikbud 2017. Tidak hanya bebas SPP,  biaya hidup tiap bulan dan biaya buku saya ditanggung oleh pemerintah.

(2) Saat ini saya memasuki semester kedua, dan sudah gas pol buat persiapan thesis dan juga mengejar tugas setiap minggu. Huhuhu maafkan ya kalau beberapa bulan belum sempat update blog ini dan balesin komentar-komentar kalian. Saya janji akan semakin rajin curi-curi waktu apdet blog di antara sibuknya kebut tugas ban binge-watching drama Korea! (Hospital Ship is REALLY GOOD btw).
 
(3) Laptop saya rusak! File ebook hilang semua! Jujur inilah yang membuat saya sangat down dan selalu merasa tidak siap untuk kembali ke dunia per-blog-buku-an. Rasanya saya bukanlah pecinta buku tanpa adanya buku-buku yang saya sayangi itu. Untung sebagian sempat di-backup di laptop pacar DAN KEMARIN LAPTOP DIA SEMPAT EROR JUGA ASTAGA DAN LIKE AN ASSHOLE GIRLFRIEND I AM, HAL PERTAMA YANG SAYA KHAWATIRKAN ADALAH KOLEKSI EBOOK SAYA DAN BUKANNYA LAPTOP DIA. ((But they're my babies, tho))

(4) Walaupun belum menemukan waktu untuk berbagi review dan pendapat tentang buku, saya tetap rajin membaca novel dan bahkan kini sudah merambah ke biografi dan nonfiksi lain. Kalau sempat bakal saya share ya :) Bisa dibilang proses membaca saya lumayan melambat karena PERCY aka MY TRUSTY TAB rusaaaak juga. Cuma mengandalkan iBooks hape dan malas juga kalo kelamaan baca dari layar kecil. Tapi mengingat Percy sudah tua dan sepertinya memang saatnya pensiun, saya tidak banyak mengeluh. Sekarang sedang proses menabung lagi buat beli yang lebih bagus dan awet hehehe doakan ya!

Okedeh kayaknya segitu aja update dari saya. How about you, guys? Saya bakal senang sekali berbagi kabar dengan kalian di kolom komentar.

Have a nice day.



Bonus penampakan ribetnya saya tiap nugas di perpus:

 

Tuesday, 27 September 2016

Diskon Dadakan Periplus.com - Novel Sarah Dessen


Saint Anything adalah novel terbaru karya penulis YA favorit sepanjang masa, Sarah Dessen. Saya bilang terbaru—walaupun terbitnya sudah cukup lama yaitu sekitar tahun 2015 an—karena sejauh ini Sarah Dessen belum mengeluarkan novel lagi setelah Saint Anything. Biasanya Sarah Dessen rutin menerbitkan novelnya pada awal musim panas setiap tahun. Sudah seperti ritual sebelum musim panas lah bagi saya untuk memasukkan novel beliau dalam TBR list untuk dinikmati di sela-sela kesibukan kuliah (tidak ada musim panas yang santai di Indonesia huhu). Dalam akun twitternya, Sarah Dessen mengaku bahwa dia mengalami writer’s block, yang menyebabkan tahun ini dia harus “absen” untuk menghibur pembacanya. It’s okay guys, she deserves a break after published 12 novels.

Friday, 24 June 2016

Hello! It’s Me~

Hiya! Maaf ya saya sudah cukup lama tidak update blog ini. Maklum, bulan Juni tuh waktu sibuk-sibuknya ngurus skripsi. Alhamdulillah sekarang sudah resmi lulus dan menunggu wisuda. Semua jerih payah terbayar lunas rasanya dan saya sudah mulai bisa tidur dengan tenang hahaha.



Saya merasa skripsi merubah banyak hal pada kebiasaan membaca dan menulis saya. Yang paling signifikan adalah diversifikasi genre dalam tumpukan bacaan saya yang merambah ke genre autobiografi. Kalau dulu bacaan saya cuma di seputaran novel/ fiksi, sekarang mulai doyan untuk melahap cerita-cerita sukses tokoh terkenal. Sudah cukup banyak lhooo autobiografi yang berhasil saya tamatkan, dan di antaranya ada satu buku yang memberikan dampak begitu besar dalam merubah pola pikir dan membuka sudut pandang baru bagi saya. Menohok sekali~~~

Buku tersebut adalah….


Saya sangat sangat SANGAT merekomendasikan kamu, khususnya para perempuan, untuk membaca buku ini. Baik bagi kalian yang ingin memulai karir ataupun yang ingin menjadi ibu rumah tangga. Dosen saya pun setuju bahwa buku ini adalah buku bagus dan nggak asal tulis, karena selain berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri, isinya ditunjang oleh referensi jurnal-jurnal ilmiah internasional yang resmi.


Terus setelah lulus, what now, San? Ah~~~~ pertanyaan ini #sensitip. Jujur saja rencana awal saya adalah mencoba untuk cari beasiswa S2, dan bukannya langsung kerja. Jadi bisa dibilang saya sekarang lagi nganggur huhuhu. Pengen mengejar “ketertinggalan” bacaan novel saya selama setengah tahun nyekripsi juga sih, soalnya TBR (To-be-Read) list sudah menggunung. DAN!! Oh my God, saya hampir lupa bahas kalau saya lagi disibukkan dengan proyek menerjemahkan jurnal huahahaha. Sempat kirim CV ke berbagai penerbit novel dan belum ada jawaban (HIKS!!) akhirnya Allah memberi jalan lain lewat proyek menerjemahkan jurnal-jurnal ilmiah. Lumayan daripada bengong di rumah. Sudah ada beberapa jurnal yang saya selesaikan, mulai dari jurnal hukum hingga kedokteran (Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia). Agak senewen juga tiap ketemu istilah kedokteran asing, dan saya nyaris gila kalo harus ngetik istilah “hipertensi pulmonal” sekali lagi -,- Tapi saya sangat menikmati proses menerjemahkan ini lho, bahkan jauh lebih semangat dan rajin dibandingkan mengerjakan skripsi sendiri huahahaha. Nah, jadi kalau kalian ada kesulitan untuk menerjemahkan jurnal, baik itu untuk tugas kuliah atau keperluan lain, sok silahkan hubungi saya di nukhbahsany@gmail.com OK??? ;) #KODEKERAS


Lah jadi kemana-mana. Balik lagi tentang dampak skripsi di hidup saya, ya. Yang kedua adalah perubahan cara menulis. Saya akui memiliki blog aktif sangat membantu perkembangan kualitas menulis saya (jika membandingkan postingan jaman derita dulu sama yang sekarang), namun skripsi beneran bikin saya MELEK sama kualitas dan nada pada tulisan saya. Mungkin karena di skripsi saya harus baca ulang berkali-kali. Proses yang agak pengen bikin nangis sih. BECAUSE I LOVE READING BUT I HATE DOING IT FOR GRADE AND UNDER PRESSURE, YOU KNOW?? I LIKE WRITING BUT I HATE DOING IT FOR GRADE AND UNDER PRESSURE, YOU KNOWW??? THE STRUGGLE IS REAAAALLL.

Hal yang paling saya sadari adalah kebiasaan saya dalam menggunakan tanda baca koma yang banyak. Udah kayak…… udah kayak hobi aja! Iya!! Udah kayak The Kadarshians yang suka nambahin kata “…..like” di tiap batas kata yang mereka ucapin. I think I’m, like, doing it for, um, like, fun?? I don’t know!! I’m just, like, really like to do it???? *kemudian ditoyor dosen pembimbing*

I feel you LOL. Syukur sekarang saya sudah agak tobat hahaha semoga nggak kambuh lagi.


Kesimpulannya adalah...... sesulit apapun skripsi ini, nyatanya banyak hal positif yang bisa saya ambil melalui prosesnya. Enjoy the journey, not the destination katanya. Kalau kata saya sih berusaha nikmati prosesnya aja, maju terus walaupun mau nangis dan badmood selama berbulan-bulan #uhuk. Tapi jangan lupa untuk tetap menikmati “akhir perjalanannya” yang manis ini hahaha *ongkang-ongkang kaki sampe nanti wisuda*.


Sunday, 15 May 2016

BUKU KETIGA TO ALL THE BOYS I'VE LOVED BEFORE???????????

Halo. Sudah cukup lama ya saya nggak posting non-review. Kali ini mau berbagi info sih kalau….. ah kalian udah baca judulnya ya? IYA GUYSS!!!! BAKAL ADA SEKUEL BUAT KISAH LARA JEAN SONG DAN PETER KAVINSKY!!!!! Fakyeahhhhh. Bisa dibilang seri ini adalah YA Romance yang sangat, sangat sangat populer di kalangan pembaca, termasuk di Indonesia sendiri. Banyak banget peminatnya, dan termasuk seri yang paling sering ditanyakan pembaca blog ini ke saya. Maka dari itu demi kemaslahatan bersama, saya kasih bocoran infonya ke kalian. YOU’RE WELCOME!!!

Sumber dari akun twitter Jenny Han

Yep, kabar buruknya adalah novel ini baru terbit pada Spring tahun depan. Saya nggak yakin apakah Always and Forever, Lara Jean merupakan judul pasti untuk buku ketiga seri ini, but I guess we’ll see it soon! Mari kita jalani hari-hari penuh penantian panjaaaaaaang hingga novel ini diterbitkan. Tapi apasih yang enggak buat AA’ Peter Kavinsky #swoon



Ohya sekadar info nih, saya suka sekali lho sama cewek yang jadi model sampulnya. Selain cantik dan Asia campuran, cewek yang bernama asli Helen Chin ini sukses menggambarkan karakter Lara Jean Song melalui perannya sebagai si model sampul. Walaupun dia nggak dapet peran sebagai Lara Jean betulan di filmnya nanti (IYA FILMNYA LAGI PROSES!!! KEMANE JA LU????), saya tetep suka suka sukaaa sama dia. Perannya besar sekali untuk membuat seri ini tampak cute and vintage-y and chic and sweet aaaaaaand aaaaarrrrrrggggghhhhh #lostselfcontrol


Beyond excited for this sequel. What about you?  

Tuesday, 3 May 2016

#LoveMyTab

Akhir-akhir ini, saya lagi lengket banget sama Tab. Momok bab-bab sulit di skripsi saya sudah lewat, jadi sudah bisa bernapas lega dikit laaaah sambil curi-curi waktu buat baca novel. Pas juga momennya sama penulis-penulis favorit yang lagi rombongan menerbitkan novel mereka yang sudah ditunggu-tunggu sejak tahun lalu.

Saya sengaja tutup mata tuh sama fakta kalo Big Bad Wolf lagi ada di Indonesia #HUH #MELENGOS! Jahat banget kan… nggak paham apa mereka sama perasaan pecinta buku Semarangan macam saya ini yang nggak bisa ngapa-ngapain di saat yang di sono asyik dusel-duselan sambil rebutan novel impor muree. Nah buat menghibur diri, saya baca koleksi ebook di Tab aja. Saya kuat kok mz, kuat! :’)


Nih kenalan dulu. Tab saya namanya Percy. Tombol volumenya udah nggak fungsi, tapi nggak papa toh jarang digunain juga. Percy ini keluaran Advan, yang saya nggak mudeng serinya apa hahaha. Aku cinta kamu apa adanya Percy, no labeling!

Buat yang belum tahu, saya beli Percy pake duit sendiri lho. Nabung sekitar setengah tahunan. Waktu itu saya kurang puas sama layar hape Android yang saya pake soalnya layarnya cuilik, yaaah walaupun sudah berjasa menemani saya baca novel banyak. Sempat maju mundur juga mau beli Tab atau EReader. Kisaran harga sama, tapi punya plus minusnya sendiri. Nah masalahnya adalah saya tuh punya hobi ngidam-an, jadi saya juga nggak yakin sebenarnya Tab ini kebutuhan atau keinginan. Kalau kata pacar saya sih, hobi saya itu hobi anget-anget tai ayam -.-

Untuk memastikan keseriusan saya dalam mengeluarkan uang sebanyak itu, waktu itu saya bertekad untuk menabung 20ribu dari tiap novel yang saya tamatkan (di hape saya yang layarnya kecil itu!!!). Niat banget kan. Makanya tahun lalu saya kayak pindah haluan jadi pembaca ebook dan menghindari buku fisik. Sekalian laaah mengurangi timbunan ebook, melancarkan bahasa Inggris, sama puasa beli buku fisik. Sempat kangen perasaan membalik-balik kertas waktu baca sih, tapi saya harus lanjut terus! Kurang dikit lagi!! Itu mantra saya tiap udah mau nyerah atau mulai males: KURANG DIKIT LAGI WOYYYY!!!

Mungkin karena saya dapet Percy ini dari perjuangan keras, saya sayang banget sama dia. Ibaratnya, beli dari hasil baca buku….terus digunain untuk baca buku juga. Ikatan saya ke Percy udah masuk taraf spiritual gitu deh. Soalnya sejak ada dia, hidup saya jauh lebih mudah. Nggak perlu bingung mau bawa novel buku apa hari ini ke kampus, tinggal pastiin aja baterenya full dan semua koleksi ebook saya udah masuk ke memorinya. Ohya, Percy ini walaupun dual SIM tapi nggak pernah saya pasang SIM card lho. Cukup saya aktifkan airplane mode-nya aja. Itu bikin baterenya awet berhari-hari kecuali kalo lagi saya pake buat marathon. Memorinya juga bergantung sama kapasitas internalnya aja, nggak pake memory card. Masih sisa buanyakkkk sampe sekarang, padahal ebook yang ada di situ ribuan. How I love technology!


Percy sudah menemani saya selama lebih dari satu setengah tahun. Lancar, nggak pernah rewel. Kalau ditanya apa ada rencana buat upgrade Percy ke ereader yang lebih baik sih…… yaaaaah saya baru bayangin mau nabung lagi aja udah kerasa ngos-ngosannya, jadi kayaknya nggak dulu deh. Pake Percy saat ini udah cukup kok, kan cuma untuk baca novel aja. Tapi kalo dikasih iPad mini saya nggak nolak, lho (sengaja dibold biar pesannya tersampaikan). Serius ini!


Xoxo,

Sany.

Thursday, 11 February 2016

Rekomendasi Buku Februari (Luv Luv Luuuurvvvvee)

Hai semua! Di bulan Februari yang semakin mendekati tanggal 14 ini paling asik kalau dilalui bersama novel-novel unyu yang bikin hati berbunga-bunga. Jangan khawatir kalau kamu jomblo, karena cowok-cowok ganteng di novel berikut siap bikin kamu jatuh cinta lagi. Dan lagi.

Ini dia daftar novel-novel yang PAS banget dibaca di Bulan Februari:

Buku yang sudah diterjemahkan

To All the Boys I’ve Loved Before Series by Jenny Han
Seri ini termasuk yang paling sering ditanyakan sama temen-temen pembaca blog ini. Dua-duanya sudah diterjemahkan oleh Penerbit Spring dengan sampul asli yang cantik dan terkesan vintage di atas. Super unyu dan bikin galau mau milih mau jadi Tim Peter Kavinsky atau Tim John Ambrose McClaren! Kalau saya pribadi sih jadi Tim Lara Jean. Fakyeah Lara Jean!


There You’ll Find Me by Jenny Jones (review bisa dibaca di sini)
Salah satu buku terbaik yang saya baca tahun lalu! Sudah diterjemahkan sama Gramedia walaupun kualitas terjemahannya masih kurang maksimal. Irlandia…. Beckett Rush…… gosh sepertinya saya harus baca ulang novel ini. Kangen.


Buku yang belum diterjemahkan

My Life Next Door by Huntley Fitzpatrick
Satu kata: JaseGarrett. Oke itu curang. Tapi Jase Garrett merupakan salah satu book boyfriend yang cukup konstan di hidup saya. Novel ini sering sekali saya baca ulang terutama kalau lagi super suntuk atau pengen merasakan hidup dengan keluarga Garrett lagi. *sigh* Jase Garrett……


Isla and the Happily Ever After by Stephanie Perkins
Kalau soal cerita supermanis dengan latar Paris, Stephanie Perkins ini juaranya! Dari ketiga novel seri Anna and the French Kiss, FYI yang paling nendang menurut saya adalah Isla. I shipped Isla and Josh so hard I don’t even care about anything else!


Dan buku terakhir….

Open Road Summer by Emery Lord
Kalau kalian kangen sama Taylor Swift ala era sebelum Red album a.k.a. ketika masih jadi penyanyi country, wajib banget baca Open Road Summer! Novel ini tidak melulu membahas cinta kok, tapi juga persahabatan dan keluarga. Saking jatuh cinta sama ceritanya, saya sampai bela-belain beli versi fisiknya yang harganya nggak bersahabat sama kantong mahasiswa ini huhu (maklum dollar makin naik). Biar bisa dielus-elus gitu... *ditabok*


Nah. Itu dia buku rekomendasi saya untuk Bulan Februari. Tenaaaang, semua sudah teruji standar ke-unyu-annya dan cocoooook dibaca sambil ngumpet di bawah selimut atau sambil gandeng tangan pacar tersayang. EAAAAA.

Sampai jumpa di rekomendasi buku selanjutnya ya teman-teman!

Tuesday, 12 January 2016

Mendengarkan + Mengakses Audiobook untuk Pemula

Halo. Mungkin ini telat banget, tapi selamat tahun baru 2016 ya teman-teman! Baru sempat buka blog dan balas komen-komen nih hehe. EHEHEHE.


Kali ini saya mau berbagi pengalaman soal hobi yang akhir-akhir ini lagi demen banget dilakuin, yaitu dengerin audiobook. Apa sih audiobook itu? Jadiiiii audiobook adalah buku/ novel, tapi dalam bentuk MP3. Akan ada narator yang membacakan cerita, kata demi kata, dari awal sampai akhir. Nah makanya jangan heran kalau audiobook sebuah buku bisa berdurasi sampai tujuh atau bahkan sembilan jam! Sang narator ini akan berbeda-beda di setiap judul buku (kecuali buku seri), dan menyesuaikan gender dari tokoh utamanya (yaiyalah). Nggak perlu takut bakal bosen sama cerita, soalnya narator yang dipilih pasti punya gaya khas sendiri dalam membacakan cerita sehingga mampu “menghidupkan” novel yang ia baca. Ekspresif gitu, setara kualitas dengan dubber film animasi luar negeri, dengan suara yang bisa berubah-ubah ketika mereka membawakan percakapan dialog. Lucu.


Beberapa keunggulan audiobook menurut saya itu:
1. Praktis. Karena formatnya MP3, jadi tinggal saya download trus pindah ke HP. Selalu bawa headset kemana-mana dan voila! hidup terasa jauh lebih mudah (ini lebay). Kita bisa menikmati novel kapan saja, di mana saja, dan pas ngapain aja. Literally. Orang luar negeri biasa mendengarkan audiobook sambil nge-gym, jogging, atau ketika perjalanan jauh sendirian di mobil (uhuk jombs). Tapi saya belum mampu sampai taraf ini, jatuhnya malah nggak konsen ngapa-ngapain XD.
2. Pengalaman mendengarkan cerita secara langsung bakal terasa berbeda dibandingkan dengan membaca kata-kata. Lebih “hidup” gitu.
3. Ini nih yang keren. Audiobook bisa jadi wahana latihan listening dan speaking Bahasa Inggris yang manjur sekali buat saya yang masih belajar bahasa asing ini.
4. DAN, mendengarkan audiobook bisa dijadikan alternatif buat kita yang matanya terlalu lelah untuk mantengin tulisan/ layar ebook lama-lama. Sekali-kali saya mau memanjakan mata hehe sudah terlalu lama melototin jurnal yang tulisannya kayak koran. Capek.

Bagaimana tips untuk mendengarkan audiobook pertama kali?

Buat pemula seperti saya, lebih disarankan untuk memilih audiobook dengan jalan cerita yang ringan atau sesuai dengan jenis bacaan favorit sebelumnya, sekadar untuk menyesuaikan telinga dengan otak dulu. Misalnya ya kalau kamu biasanya baca YA, lebih baik memilih audiobook novel YA dan bukannya novel klasik. Karena di audiobook YA kamu bakal lebih familiar dengan istilah-istilah yang ada. ATAU nih biar lebih familiar lagi, kamu bisa dengerin audiobook dari novel yang sudah pernah kamu baca sebelumnya. Selain mendapatkan perspektif baru dari cerita yang disajikan, hal ini juga bisa mengurangi tingkat salah kaprah dari kata-kata bahasa Inggris yang kamu dengar. Ini adalah metode yang saya pilih ketika pertama mendengarkan audiobook dulu.


Audiobook pertama yang saya baca adalah Looking for Alaska karya John Green (I HIGHLY RECOMMEND THIS BOOK FOR YOU). Novel ini dibacakan oleh Jeff Woodman, narator paling the best lah pokoknya menurut saya. Lucunya dapet, centilnya dapet (padahal naratornya cowo), tapi pronouncationnya tetep jelas. Saya sering ketawa-ketawa sendiri tiap dengerin audiobook ini. Selain Looking for Alaska, saya juga baru menamatkan duologi dari Jenny Han yaitu To All the Boys I’ve Love Before dan PS I Still Love You. Keduanya novel yang sangat ringan dan bikin saya jatuh cinta lagi dan lagi sama John Ambrose McClaren (sorry Peter K!).



Bagaimana mengakses audiobook buat kita yang ber-budget limit?

Kalau beli online, audiobook ini mahal banget, bisa sampai dua atau tiga kali lipat harga paperbacknya. Males banget kan. Untungnya, yang namanya internet tuh adaaaaa aja jalan pintasnya. Saya biasa mendownload audiobook dari vk.com (saya biasanya search di sini dan sini) karena pilihannya sangat banyak. Website ini memang agak ribet tapi kalau kita tahu bagaimana mencarinya, wuidiiih surga audiobook deh pokoknya. Cukup tambahkan extension ke browser yang kamu pakai (saya pakai VKONTAKRE.RU Downloader for Firefox) untuk menambahkan ikon download di websitenya. Nggak ribet, dan karena hampir semua novel ada, jadi worth it banget.

[klik gambar di atas untuk resolusi yang lebih jelas]

Audiobook yang terdownload biasanya bakal dibagi-bagi menjadi beberapa part. Tapi karena semua bagian tersedia, nggak begitu masalah deh. Filenya berformat MP3, yang nantinya bisa kamu pindah ke gadget dan didengarkan di music player. Gampang kan?

Untuk kekurangannya, hmm karena mendownload nonofficial kali ya, jadi kita nggak bisa sesuka hati mendengarkan per bab. Harus rajin ingat-ingat di mana kita mendengarkan terakhir kali. Tapi karena saya pake Tab dan bukan hape buat segala aktivitas book-related, nggak begitu masalah karena music player Tab saya ya cuma dipake buat file-file audiobook ini hehehe.


Oiya sekadar tambahan buat tips mendengarkan audiobook: kalian nggak perlu terburu-buru. Dilakuin sesempatnya aja, dan secukupnya. Kalau tujuh jam didengerin sekali duduk, bisa panas nanti telinganya. Saya biasanya mendengarkan satu bab sekali buka Tab. Dan waktu mendengarkan yang paling saya sukai adalah sebelum tidur karena suasananya mendukung sekali. Tapi ini selera masing-masing sih. Do it as you like as long as you enjoy it!


Apa kalian suka mendengarkan audiobook juga? Atau masih ada yang kurang jelas sama ocehan saya di atas? I would reaaaaalllyyy appreciate it if you share your experience to me. Don’t hesitate to write on the comment box below and I wish you a haaaaaaappy day!!


Wednesday, 16 December 2015

Kontroversi di Balik Desain Ulang Cover The Winner's Trilogy

Beberapa hari ini dunia perbloggerbukuan sedang dihebohkan oleh kabar dari Fierce Reads yang akan merombak total cover dari The Winner's Trilogy karya Marie Rutkoski. Saya, yang seharusnya anteng dan tetap fokus ngerjain skripsi, mau nggak mau tertarik untuk berhenti sebentar demi nyimak dengan seksama fenomena yang menimbulkan serangan demi serangan ke pihak-pihak yang terlibat. Mind you, saya belum membaca seri ini karena buku terakhirnya belum terbit. Namun untuk memberi pencerahan kepada kalian seperti apa sih akar dari permasalahan yang semakin merembet ke mana-mana ini, mari kita bandingkan cover Before dan After-nya saudara-saudara:





Yang kiri, adalah cover lama yang sudah beredar luas. Sedangkan yang sebelah kanan adalah cover baru yang akan menggantikan cover lama untuk versi hardcover dan softcover. Perlu saya tekankan sebelumnya, buku ketiga (The Winner’s Kiss) belum terbit. Jadi mungkin sebagian besar inti protes para pembaca adalah takdir tak terelakkan bagi pecinta buku kalo set buku mereka tidak akan matching. Ya apa benar?

Well, mungkin. Kami para book lovers memang secerewet itu mengenai masalah sampul buku. Sangatlah tidak masuk akal ketika penerbit mengganti desain cover di tengah-tengah ketika seri belum tamat. Dan mungkin ini sebatas pendapat subjektif saya (dengan diamini ribuan book lovers lain), tapi desain cover lama jauh lebih bagus dari pada yang baru. Saya mengutip dari mereka-mereka yang sudah baca, desain cover baru bahkan tidak nyambung dengan cerita yang dijanjikan. Kestrel, sang protagonist, bukanlah “pendekar yang akan berjuang menyelamatkan dunia” layaknya Katniss Everdeen atau Celaena Sadorthien. Saya di sini juga gantian mengamini para blogger lain yang berpendapat bahwa cover ini sedikit mengingatkan dengan desain cover Throne of Glass series (bahkan pose pada The Winner’s Curse mirip sekali dengan buku kedua dr ToG, Crown of Midnight).

Tentu masalah tidak akan berbuntut panjang kalau pihak Fierce Reads tidak memberikan pernyataan kontroversional bahwa alasan mereka merombak total desain covernya adalah untuk membuat “lebih banyak orang membaca seri ini” dan “cewek bergaun tidak tampak badass”.


Seperti diduga, muncul banyak reaksi negatif setelah pernyataan itu diberikan (tweet itu sendiri sudah dihapus oleh pihak Fierce Reads). Cewek badass tidak dilihat dari apakah dia memakai gaun atau tidak. Bahkan menurut sinopsis, Kestrel sejak awal sudah menolak keinginan ayahnya untuk bergabung dengan militer. Kestrel adalah tokoh yang sangat pintar dan licik yang menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi politik. Menurut saya itu sudah badass, dan tidak harus dilakukan dengan menggunakan celana. Tindakan Fierce Reads yang meng-Katnis Everdeen-kan Kestrel ini tentu ditolak mentah-mentah oleh para pembaca setia The Winner's Trilogy, karena menyerupakan seri ini dengan THG maupun ToG justru menghilangkan unsur unik yang sebelumnya dipamerkan seri ini melalui covernya.

Masalah “cewek bergaun tidak badass” pada akhirnya akan memunculkan stereotip bagi pembaca bahwa untuk menjadi seseorang yang hebat, perempuan harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang akan membatasinya dalam berkembang. Menjadi feminim tidak akan membuat seorang perempuan menjadi “kurang keren”. Hal ini patut diperjuangkan karena para pembaca YA kebanyakan adalah remaja yang masih mencari jati diri. Jika sejak awal mereka dicecoki teori bahwa menjadi feminim akan membatasi perempuan untuk menjadi apa yang mereka inginkan, nilai-nilai feminisme akan dijauhi bahkan ditinggalkan oleh pemilik gendernya sendiri.

Saya mengerti Fierce Reads bermaksud untuk membidik pasar yang lebih luas, dengan harapan tidak hanya perempuan saja yang menikmatinya tapi juga laki-laki (karena akui saja, mayoritas cowok akan berpikir dua kali untuk membaca buku bersampul seperti ini, apalagi membacanya di tempat umum). Atau mungkin mereka bermaksud untuk meniru kesuksesan dari franchise The Hunger Games, Throne of Glass, dan sejenisnya dengan membuat heroinnya nampak lebih “sangar” dalam balutan seragam tempur lengkap dengan senjata. Apapun alasan di balik desain ulang cover ini, keputusan mereka justru menjadi bumerang bagi Fierce Reads. Komentar negatif dilontarkan banyak pihak, baik secara langsung kepada mereka maupun melalui blogspost (yaa kayak saya ini).

Marie Rutkoski, sebagai penulis yang hanya memiliki kuasa akan jalan cerita—dan tidak ada andilnya dalam perombakan desain sampul—merupakan pihak yang kena apesnya. Kritikan pun dilontarkan kepada sang penulis, padahal ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mencoba menenangkan pembacanya. Sudah berhari-hari, masiiiih aja ada yang protes ke dia. Kan kasihan. Really dude, you shoulda stop it.

Salah satu sisi positif dari masalah ini adalah saya lebih aware dengan keberadaan The Winner Trilogy. Kalau sebelumnya saya hanya mengagumi dari jauh, sekarang saya benar-benar tertarik untuk membacanya. Entah apakah ini tujuan utama mereka bikin kehebohan ini, atau saya emang orangnya salah fokus. Tapi beneran deh, saya jadi penasaran.


XO, 
Sany yang sedang mangkir dari skripsi

PS: buat kamu yang sudah terlanjur koleksi buku dengan cover lama dan nggak pengen mismatch, penerbit UK dan Australia sudah memberikan pernyataan bahwa mereka akan tetap menerbitkan buku ketiga dengan desain cover lama. YAY!


EDIT 12 JAN 2016:

Pihak Fierce Reads sudah mengumumkan pembatalan penggunaan desain sampul baru pada BUKU KETIGA VERSI HARDCOVER. Sedangkan desain baru tetap dipakai untuk versi paperback. Yeah, okay. I guess. I still cringe everytime I look at the new covers, though.

Wednesday, 7 October 2015

Hey, I'm Back (Mostly)

Dari semua hal yang saya abaikan beberapa bulan ini, blog inilah yang paling parah. Sulit untuk berkonsentrasi menulis dan membaca novel ketika disibukkan oleh beberapa hal berturut-turut. KKN yang paling menyedot perhatian saya. Dibuang selama sebulan lebih di tempat antah-berantah yang sinyalnya naik turun bersama 8 mahasiswa plengeh lain membuat saya tidak sempat menyentuh ereader saya (ya, buku fisik terpaksa ditinggal demi alasan praktikal). Tapi saya tidak menyesali keputusan itu. 8 orang yang beberapa bulan sebelumnya benar-benar tidak pernah saya temui dan kenal dengan baik itu adalah sahabat dan keluarga baru saya, yang hingga kini masih berhubungan dengan sangat baik.


Kini setelah memasuki semester baru dan bebas memegang buku lagi DENGAN bayang-bayang skripsi di depan, saya jadi berpikir….apakah ini saat yang tepat untuk kabur, lagi? Sampai kapan? Walaupun, yah, sebenarnya skripsinya pun belum dikerjakan, rasa tidak tenang ketika nyelimur selalu terasa. Dan itulah yang membuat saya tidak begitu semangat membaca novel akhir-akhir ini.


Baru kemarin saya berhasil menamatkan satu buku secara tuntas, dari halaman awal hingga akhir tanpa lompat; Percy Jackson's Greek Gods karangan Rick Riordan. Buku yang sebenarnya bukan tipikal bacaan saya dan tidak bisa dikategorikan sebagai novel, melainkan sebuah buku sejarah yang sangat asyik untuk dibaca. Dalam hati saya mengagumi diri sendiri karena keluar dari reading slump/ reading block tidaklah mudah. MAN, THE AGONY. Reading slump itu, ditambah beberapa situasi yang terjadi, mengubah preferensi buku apa yang ingin saya baca. Saya adalah pembaca buku, dan saya akan membuat buku (emm, skripsi lebih tepatnya). Jadi saya akan memanfaatkan segala yang bisa saya manfaatkan agar skripsi ini cepat selesai (cough, judul, cough).


Hmm jadi mohon dimaklumi kalau beberapa bulan ke depan blog ini akan sepi atau muncul postingan-postingan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. I need this. I CAN do this.