Showing posts with label 3.5 stars. Show all posts
Showing posts with label 3.5 stars. Show all posts

Saturday, 6 May 2017

[Review Buku] Always and Forever, Lara Jean oleh Jenny Han

Always and Forever, Lara Jean
(buku ketiga dan terakhir dari seri To All the Boys I’ve Loved Before)
penulis Jenny Han
336 halaman, Young Adult
Rating: image
Dipublikasikan 2 Mei 2017 oleh Simon & Schuster Book

Dalam wawancaranya dengan salah satu jurnalis berita online, Jenny Han mengaku bahwa masih ada dua poin mengenai kisah Lara Jean yang belum sempat dieksplor pada buku kedua, PS I Still Love You. Salah satu poinnya adalah bagaimana Lara Jean menyambut masa-masa kelulusan SMA dan masuk universitas.

Karena itulah Jenny Han merasa masih bisa membuka kembali kisah Lara Jean dan Peter Kavinsky di buku ketiga (dan juga terakhir, suwer deh kali ini yang terakhir >.<) walaupun pada mulanya seri To All the Boys I’ve Loved Before direncanakan berakhir pada buku kedua.

Ekspektasi pada buku ketiga sungguh besar, karena siapa yang bisa menolak untuk bertemu kembali dengan keluarga Song dan uhuk, my luv Peter Kavinsky? Dan setelah kurang lebih setahun menunggu, plus sedikit kecewa karena tanggal terbitnya mundur hingga Mei, akhirnya kita bisa menikmati hangatnya kisah hidup Lara Jean bersama orang-orang di sekitarnya sekali lagi.

Wednesday, 3 May 2017

Review Buku Pertama Saya Sejak Hiatus: Holding Up the Universe

Dua tahun lalu saya membaca sebuah novel bertema mental health+suicide dan novel tersebut mengubah cara saya memandang dunia ini. Penulisnya saat itu masih terasa asing, walaupun demikian kata-kata yang ia tulis sangatlah indah dan tragis dan lucu. Pokoknya semua perasaan campur aduk jadi satu ketika membacanya. Saya pun merasakan keterikatan yang amat sangat kepada kedua tokohnya, terutama si tokoh laki-laki, walaupun saya tidak menderita penyakit mental yang sama dengannya.

Sudah tahu novel apa yang saya maksud? (gambar di sebelah gede banget yak)

Novel fenomenal tersebut adalah All the Bright Places (ATBP), karya Jennifer Niven. Pasti beberapa dari kalian sudah tidak asing lagi ya. Atau mungkin sudah pada membacanya, karena sejak terbit novel ini udah booming banget dan menjadi PENGHANCUR HATI PARA PEMBACANYA UHUK!!!

Thursday, 10 November 2016

[Review Audiobook] One True Loves oleh Taylor Jenkins Reid

One True Loves
penulis Taylor Jenkins Reid, narator Julia Whelan
Unabriged Audiobook, 8 jam 15 menit
NA (New Adult)/ Contemporary Romance
Rating: image
Dipublikasikan Juni 2016 oleh Dreamscape Media, LLC

Salah satu cara jitu untuk menghilangkan bosan saat malas membaca buku (gasp! Shocking!) bagi saya adalah dengan mendengarkannya. Ya, para pembaca jaman sekarang sudah begitu dimanjakan oleh beberapa alternatif thanks to technology. Tinggal pindah file audiobook ke HP, siap sedia headset, dan seseorang akan membacakannya untukmu. Mulai dari lembar pertama hingga terakhir. Nggak ada alasan lagi deh buat males-malesan.

Saturday, 4 April 2015

[Book Review] The Start of Me and You by Emery Lord

Bagi para penggemar YA kontemporer, sayang rasanya kalau melewatkan nama Emery Lord. Sebagai penulis baru, Emery Lord memang masih kalah beken jika dibandingkan dengan nama-nama sekaliber Sarah Dessen, Stephanie Perkins, atau Gayle Forman. Tapi kalau dilihat dari sisi kualitas, beuuuhhhh saya jamin nggak kalah deh!!!

Memulai debut di tahun 2014 dengan karyanya Open Road Summer (yang KEREN GILA OH MY GOD), nama Emery Lord langsung masuk dalam radar saya sebagai penulis favorit. Nggak cuma bagi saya sih, demam Open Road Summer sempat membanjiri beberapa media sosial dan teman-teman pecinta buku lain. Bahkan hingga sekarang saya masih agak kesengsem gitu kalo ada yang bahas Matt Finch---> EEEEE MY 2014 BOOK BOYFRIEND!

Tahun ini, Emery Lord kembali dengan karya barunya, The Start of Me and You. Saya beruntung bisa mendapatkan copy buku ini dua hari setelah tanggal terbitnya, yang berarti saya bisa cari alasan buat kabur sejenak dari tugas kuliah yang semakin lama semakin menggunung ini.

The Start of Me and You bercerita tentang Paige Hancock yang selalu terbelenggu dalam persepsi masyarakat sebagai “Girl Whose Boyfriend Drowned”. Ya, sejak kematian Aaron lebih dari setahun yang lalu, Paige masih saja mendapatkan tatapan iba dan simpati berlebihan dari mayoritas orang yang ia temui. Setiap dia siap untuk move on, selalu ada saja yang mengingatkannya melalui “That Look”.

Untuk itulah di tahun ajaran baru ini Paige bertekad untuk menjadi Paige yang baru. Dibantu oleh tiga sahabatnya; Tessa, Morgan, dan Kayleigh…. Paige mulai membuat daftar hal-hal apa saja yang ingin dilakukannya. Daftarnya pun tidak muluk-muluk; dia ingin mulai datang ke party setelah lebih dari satu tahun jadi tikus mondok, ingin dekat dengan cowok lagi, ingin aktif dalam ekstrakulikuler, travel, dan yang terakhir….dia ingin menghilangkan ketakutannya akan berenang.

Daftarnya itulah yang menggiringnya untuk dekat kepada Ryan Chase, crushnya sejak bertahun-tahun lalu. Ryan si populer yang baru saja diputuskan oleh Leanne berubah menjadi penyendiri karena gerombolan yang biasanya mengerumuninya berpindah kubu ke Leanne. Hanya Max, sepupunya yang pindah dari Coventry School yang selalu terlihat bersama Ryan. Lucu sebenarnya, karena Max dan Ryan sangat bertolak belakang. Di saat Ryan memancarkan aura populer, Max ini seperti hanya meneriakkan satu hal: NERD NERD NERD!

Terlepas dari tujuan utamanya untuk dekat (pacaran maksudnya) dengan Ryan, Paige ini justru mendapatkan sahabat-sahabat baru. Nggak bakal terpikir sebelumnya bahwa regu 4 orangnya akan berubah jadi 6. Dan inilah poin super yang saya suka dari The Start of Me and You…. nilai persahabatan yang dijunjung tinggi! Nggak terhitung lagi deh berapa kali mereka menyelamatkan satu sama lain. Saya selalu mikir “Errr I wanna a friendship like that!” dan nggak bisa berhenti takjub dengan pengorbanan yang mereka lakukan setiap ada di antara mereka yang kena masalah.

Dan sepanjang cerita, saya bingung mana di antara Ryan dan Max yang akan dipilih oleh Paige. Di satu sisi Ryan ini selalu baik dan super gentleman ke Paige, dan di sisi lain Max juga selalu nyambung dan siap membantu Paige menyelesaikan masalah-masalahnya. Apalagi Max dan Paige sama-sama nerd (PRIDE AND PREJUDICE REFERENCE WITS! JANIE!). Tapi nggak perlu khawatir, nggak bakal ada cinta segitiga kok di sini. Lagian, Paige kelewat sibuk untuk mengejar cowok mati-matian. Poin lebih lagi untuk buku ini.


Selain mereka ber-6, masih ada beberapa tokoh lain yang saya suka. Misal Ms. Pepper, guru keren yang selalu saya dambakan sebagai guru/ dosen saya. Atau Grammy, yang walaupun sakit tapi selalu memberi Paige pandangan terbaiknya dan mendukung cita-citanya. Bisa dibilang alur dari buku ini terbilang lambat—plus tidak ada plot twist yang wow banget—tapi saya bisa menikmatinya dengan baik tanpa sedikitpun rasa bosan. ERRRR AND THAT CUTE POSTCARD NOTE IN THE ENDING REALLY MAKES MY DAY, EVERYONE!!

Overall, The Start of Me and You ini tidak sespektakuler Open Road Summer (yang bisa dimaklumi sebenarnya karena ORS adalah bacaan paling favorit saya di 2014), tapi merupakan angin segar bagi YA yang saya perhatikan makin ke sini makin nggak realistis aja.


I may still be stumbling through these steps, but at least I’m stumbling forward.

Thursday, 11 December 2014

[Book Review] Dash & Lily's Book of Dares

Dash & Lily’s Book of Dares
by Rachel Cohn and David Levithan
260 halaman, dipublikasikan 26 Oktober 2010 oleh Knopf Books for Young Readers
Young Adult, Humor, Christmas

Menjelang pertengahan Desember, musim mulai berganti. Dan semakin mendekati Natal, semakin banyak Christmast Reads yang ingin saya baca, salah satunya ya buku ini. Dash & Lily’s Book of Dares adalah sebuah proyek kolaborasi antara Rachel Cohn dan David Levithan, dan merupakan novel Mr. Levithan kedua yang saya baca setelah Will Grayson, Will Grayson (yang juga merupakan proyek kolaborasi Mr. Levithan dengan John Green). Tidak mengherankan jika di sana sini saya merasakan aura-aura tulisan John Green yang ditandai dengan sarkasme tingkat tingginya. Jadi kalau kamu salah satu penyuka buku John Green dan mencari novel sejenis seperti milik beliau, Dash & Lily’s Book of Dares bisa dijadikan salah satu alternatif bacaan kamu.

***
Ketika sedang menjelajah “surga” pribadinya—atau biasa disebut masyarakat awam toko buku Strand—Dash tidak sengaja menemukan sebuah Moleskine* merah yang berada di antara tumpukan buku-buku yang ia jelajahi. Unsur kepo membuat Dash membuka Moleskine itu, dan ternyata di dalamnya berisi sebuah tantangan:

I’ve left some clues for you.

If you want them, turn the page.

If you don’t, put the book back on the shelf, please.

Namun bukannya mengembalikan Moleskine itu kepada si kasir seperti yang diinstruksikan ketika ia sudah menyelesaikan tantangan yang ada di dalamnya, Dash justru menantang sang penulis balik (dalam kasus ini, Lily) dengan tantangan lain dan menahan buku tersebut hingga Lily menyelesaikan tantangan yang ia berikan. Seperti yang dikatakan oleh Dash…. two can play this game.

Begitulah, Dash dan Lily saling “mengejar tantangan” dengan si Moleskine merah menjadi penghubung di antara mereka. Di dalam Moleskine, Dash dan Lily bisa menjadi orang terjujur di dunia. Berbagi rahasia, berbagi harapan, dan berbagi pengalaman yang mungkin tidak bisa mereka lakukan ketika Lily memutuskan untuk tidak meletakkan Moleskine di tempat awal atau Dash memutuskan untuk tidak membuka dan mengikuti instruksi-instruksi di dalamnya. 

But somehow, knowing the Moleskine was tucked away in my bag, containing our thoughts and clues, our imprints to each other, somehow that made me feel safe, like I could have this adventure and not get lost and not call my brother to save me. I could do this on my own, and not freak out that I had no idea what waited for me on the other side of this night.

Tapi secara tidak langsung, mereka mulai memasang standar tertentu terhadap diri masing-masing. Ide Lily tentang bagaimana sosok Dash, atau ide Dash tentang sosok Lily. Karena bagaimanapun, mereka berdua adalah dua orang asing yang belum pernah bertemu. Jadi apakah sosok nyata mereka akan sama seperti yang tulisan mereka siratkan, atau semuanya hanya perwujudan harapan alam bawah sadar yang terlalu tinggi?

Sofia’s words were nagging at me: Was Lily the girl in my head? And if she was, wasn’t reality bound to be dissapointing?

Saya sedang tidak ingin terlalu mengkritisi buku saat ini. Dengan berbagai tekanan kuliah dan badan yang setengah sakit, saya cuma ingin mengambil kesenangan murni dari membaca. Dan buku ini ternyata tidak mengecewakan!! Tidak cuma satu atau dua kali saya dilirik aneh sama orang-orang di sekitar saya karena tertawa tidak wajar. Tapi karena sahabat-sahabat saya sudah paham sama kelakuan saya sih, alhamdulillah mereka maklum (THANKS GUYYYSSSSS *give an unlimited amount of hugges and kisses*).


Buku ini diceritakan dari dua sudut pandang, dan ditata bergantian antar bab. Baik dari sudut pandang Lily maupun Dash, saya bisa menikmatinya dengan baik. Sebenarnya saya penasaran dengan cara Rachel Cohn dan David Levithan menyusun buku ini, apakah Rachel Cohn yang menulis bab Lily dan David Levithan yang menulis bab Dash? Atau mereka bersama-sama menyusun tiap-tiap babnya? Bagaimanapun teknik yang mereka gunakan, hasilnya sangat memuaskan. Mereka adalah tim yang cocok dalam menghasilkan karya yang indah dan menghibur.

Yang saya pengen bilang di sini, Dash & Lily’s Book of Dares cocok sekali untuk dibaca di suasana-suasana Desember. Desember galau dan ndekem di pojokan buat menangisi diri sendiri? PUHLEASEEE……. Pick this darn good book and cuddle up in your warm bed while the rain is pouring outside your window and devour it!!!!


The important people in our lives leave imprints. They may stay or go in the physical realm, but they are always there in your heart, because they helped form your heart. There’s no getting over that.



*Moleskine adalah sebuah merek buku catatan/ agenda yang begitu terkenal hingga kadang-kadang seseorang menyebut agenda—walaupun mereknya bukan Moleskine—dengan Moleskine. Seperti ketika kita menyebut air minum dalam kemasan dengan Aqua, atau kendaraan umum dengan Daihatsu (ya, saya tahu kamu sering melakukannya).
**Gambar disadur dari lpofimagination dan perpetualpages. Thank you guys!!
***Buku ini dibaca dalam rangka #bookishpinoysreadalong bulan Desember. Akhirnya bisa selesai juga hahaha.

Monday, 20 October 2014

[Book Review] On the Fence

On the Fence
penulis Kasie West
296 halaman, Young Adult/ Contemporary/ Realistic Fiction

“You are in our family.”
“No, I’m not.”
“In all the ways that matter. I told you the other night that you’re stuck. You can’t disown us now.”
“I don’t want to,” he whispered.

Kalau kamu sedang mencari bacaan ringan, dengan tema yang bukan hanya cinta tapi juga keluarga yang meninggalkan perasaan hangat di dalam hati, novel-novel karya Kasie West ini adalah pilihan yang tepat. Saya sudah baca The Distance Between Us, dan sejak saat itu saya bertekad untuk membaca semua novel lain karya beliau. Saya suka ketika membaca buku membuat saya bisa melupakan sejenak stres dan tekanan dalam hidup, bisa tersenyum sampai pipi sakit, dan bisa membuat saya tersadar bahwa saya itu sudah sangat beruntung dengan kondisi saya saat ini. Walaupun saya kadang mikir, heck….where’s my super hot and kindhearted boy?



Charlie—oke, Charlotte sebenarnya—tumbuh dalam lingkungan penuh laki-laki. Ayahnya, tiga orang kakak laki-lakinya (Jerom, Nathan, Gage), dan Braden… yang merupakan tetangga mereka sejak kecil dan selalu menghabiskan waktu bersama keluarga Charlie. Belum lagi para anggota tim sportnya. Bagi Charlie, keluarganya adalah segalanya.

It was true that you could tell a lot about someone by the way they played a game. I knew Jerom was a leader, Nathan followed all the rules to a T, and Gage was laid-back, in it for the fun. What about Braden? What had I learned about Braden over the years from watching him play? He was a team player, never hogged the ball or took it when he couldn’t deliver. He hung in the background a lot, waiting until someone needed assistance. So he was…what? Observant? Not selfish?

Tapi sekuat apapun Charlie menyangkal, tetap muncul perasaan mengganjal bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ibunya meninggal ketika Charlie masih berumur enam tahun, yang hingga sekarang masih memberikannya mimpi buruk (literally). Ayahnya mungkin sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membesarkan Charlie sebagai seorang perempuan normal, tapi pengetahuan ayahnya sangat terbatas. You know what I mean…. stuffs that only a Mom know…. first period, bra, conditioner, even make up…..

I still remembered when I was thirteen and my dad approached me one day. Sweat beaded his upper lip. “Charlie,” he’s said. “Carol at work said you might need a bra.” He said it so fast I almost didn’t catch it. Then both of our faces reddened. “I could take you shopping,” he added. “I guess they have stores where they help you get fitted…and stuff.”

Belum apa-apa saya sudah meleleh sama satu laki-laki di hidup Charlie ini. Bukan hal mudah bagi seorang polisi berwibawa untuk menemani anaknya berbelanja bra. But he tried. So hard, that my heart feels hurt. Kerennya nih, terlepas dari segala ketidaktahuannya akan “masalah perempuan”, Ayah Charlie tahu kapan harus lembut dan kapan harus keras terhadap Charlie. Maka ketika untuk kesekian kalinya Charlie tertilang karena ngebut, ayahnya memutuskan bahwa Charlie harus bertanggung jawab untuk mengganti uang denda tilang itu. Dengan part-time job.

Ironi, Charlie yang tidak tahu apa-apa soal fashion dan make up pun mendapat kerja di sebuah butik. Dan tidak hanya sebatas pramuniaga. Sejak bekerja di butik, Charlie mulai mendapatkan potongan-potongan kehidupan yang hilang dari dirinya. Dia mulai pakai baju yang lebih feminim (aturan kerja), hangout bersama para cewek, belajar dandan walaupun sebatas jadi “kanvas” demo make up, dan flirting dengan cowok. Hal yang sebelumnya tidak pernah dia pikir akan terjadi di hidupnya. Tapi semuanya dia lakukan tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia cuma belum sanggup menghadapi reaksi kakak-kakaknya (dan terutama ayahnya).

Selain sisi tomboy dan sisi feminim yang disandang Charlie, ia punya satu sisi lain lagi. Charlie di hadapan Braden. Charlie yang sering bertukar pikiran dengan Braden di pagar mereka. Bagian yang paling saya suka adalah permainan kecil siapa-yang-lebih-mengerti yang selalu mereka lempar satu sama lain. Ah, that little denial feeling when we realize we fall in love with our bestfriend.

Memang, bakal ada sedikit drama di sini. Tapi lebih untuk pengembangan karakter. Suka gemes deh kalo tokoh utama ngelakuin hal bodoh dan kita di sini cuma bisa….


Drama inilah yang bikin saya cuma kasih 3 bintang buat buku ini di Goodreads, seharusnya sih bisa lah dapet 4 bintang.

“You are so clueless. I don’t believe you, the most stubborn girl in the world, would be willing to do that for a guy who’s not even worth the time or effort. You don’t have to pretend to be anyone.”

Aaaaaah saya suka sama buku ini. Terutama bagian percakapan Charlie dan Braden di pagar mereka. Tema keluarga memang selalu dipegang erat oleh Ms. West. Hubungan antara Charlie dengan kakak-kakaknya pun tidak hanya berjalan sebatas saudara. Mereka adalah sahabat, teman curhat, bodyguard, sekaligus musuh bebuyutan bagi Charlie. Tokoh-tokoh pendamping bener-bener bisa menyatu dengan tokoh utama, dan si tokoh utama pun bisa mengalami perkembangan di sepanjang cerita. Saya yang biasanya nggak begitu suka YA berbau sport pun malah bisa menikmati alur cerita dengan baik.

Saya seneng sekali sama perubahan yang dialami Charlie. Dia sebenarnya gadis baik, cuma belum tahu bagaimana "aturan main"-nya dalam kehidupan ini. Ketika dia mulai beradaptasi, ketika itulah sikap annoying-nya berkurang. Sekuat apa pun wanita, dia pasti punya satu titik kelemahan. Kita nggak bisa mengharapkan seseorang "mendadak" berubah jadi sekuat besi, atau sempurna tanpa celah. Kita semua punya kelemahan, cuma ada yang lebih pintar menutupinya. Dan guys, seputih apa pun kebohongan yang kita ucapkan, suatu saat akan berbalik ke kita juga. And not in a good way.

“That’s hard, when someone doesn’t meet our expectations.” She moved around to the other side of the table. “Sometimes we expect more than people are capable of giving at the moment.”

***
Buku lain dari Kasie West yang bakal saya baca dalam waktu dekat ini:


Dan YA Contemporary dari Kasie West yang akan terbit 5 Mei 2015 nanti. Can’t wait!


*) Thank you @ideklinz for allowed me to use your beautiful picture Xxxxx

Saturday, 11 October 2014

[Book Review] Things I Can't Forget

Things I Can’t Forget
penulis Miranda Kenneally
308 halaman, Young Adult/ Realistic Fiction

“I can tell he’s something you’re serious about.”
“How can you tell?”
“He makes you smile when not much does anymore. Even drawing doesn’t make you smile like that.”

Buat kamu yang rajin update buku-bukunya Miranda Kenneally, pasti tau dong kalau Things I Can’t Forget ini adalah companion novel dari Catching Jordan sama Stealing Parker?


Apa itu companion novel? Companion novel itu semacam sekuel, tapi dituturkan dari tokoh yang berbeda dari novel-novel sebelumnya. Biasanya si tokoh utama di companion novel ini sudah pernah muncul sekilas di buku sebelumnya (remember Isla?).

Sudah cukup lama sejak saya terakhir baca Catching Jordan. Mungkin karena temanya nggak sesuai sama selera, atau kemampuan Bahasa Inggris saya yang waktu itu masih belum lancar—bukunya belum diterjemahkan—saya lupa mayoritas ceritanya. Dan saya belum sempat baca yang Stealing Parker hiks. Ketika dihadapkan pada 5 novel Hundred Oaks punya Miranda Kenneally ini, saya langsung naksir sama cover Things I Can’t Forget. Jadi harap maklum kalau saya tidak akan membandingkannya dengan dua novel sebelumnya. (TERUS NGAPAIN BAHAS COMPANION NOVEL SEGALA WOY!!! *dibuang dari bumi*)


Kate baru saja lulus SMA dan akan menghabiskan musim panas sebagai counselor di Cumberland Creek summer camp. Awalnya rencana itu terlihat menyenangkan ketika ia menyusunnya bersama Emily. Tapi persahabatan mereka ternyata harus putus di tengah jalan sejak Emily dihadapkan pada keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang melibatkan Kate. Keputusan yang hingga saat ini masih membuat Kate mempertanyakan apakah Tuhan akan mengampuni dosanya…atau apakah menjadi seorang Kristen taat itu salah sehingga orang-orang menyebut dia Jesus Freak dan judgemental bitch (termasuk Emily).

I laugh. “Thanks for swimming out to save me.”
He looks over at my face. “You saved me once too.”

Untungnya, kamp tidak semengerikan yang ia pikir. Okay, Megan si camp director memang sangat menyebalkan dan dia tidak punya satu orang pun teman seperti Emily. Tapi ketika Matt muncul, perlahan semuanya menjadi lebih mudah bagi Kate. Matt ini sedikit mengingatkan saya sama Jase Garrett di My Life Next Door. Tipe cowok baik-baik yang sayang keluarga. Pokoknya segala yang kamu lampirkan dalam daftar your-book-boyfriend deh. Matt yang tidak pernah pakai alas kaki karena ingin jadi pelari hebat, Matt kesayangan para campers, dan Matt yang setiap malam selalu menyeret kasur ke luar kabin milik Kate untuk menjaga Kate. Gosh, a boy I loved once did those things for me too, long ago.

Berbeda dari novel YA kebanyakan yang saya baca, unsur relijius di novel ini terasa kental sekali. Iman Kate sepertinya sangat diuji di sini. Dibesarkan sebagai seorang Kristen yang taat, Kate mau tak mau mengernyit ketika tahu bahwa para counselor cowok dan cewek saling berbagi kabin. Atau ketika tahu sahabat Parker ternyata gay. Berada dalam titik terendah dalam hidupnya, Kate harus tetap menyesuaikan diri dengan situasinya yang baru. Nah di sinilah Matt terlibat. Dia yang menarik Kate dari zona nyamannya. Dia yang menuntun Kate menemukan jawaban dan “pertanda” yang selama ini ia cari. Apa akhirnya Kate bisa memaafkan dirinya sendiri?

“Thank you,” I whisper, thinking about how he’s like a four-leaf clover. Something you don’t find often. I’d be stupid to mess things up with him just because he’s in a frat, especially when everything else about him fits just right.

Hubungan yang terjalin antara Kate dan Matt dibangun perlahan tapi dengan landasan yang kuat. I have a soft spot for a handsome goof, espesialy the faithful one. Sayang sekali sampai akhir cerita Kate belum mengalami perubahan yang begitu berarti. Oke, mungkin sedikit. Tapi seharusnya dia bisa lebih dari itu. Dari awal saya punya keyakinan yang cukup kuat buat Kate....yah bisa dibilang saya cukup kecewa sama dia.

Oh ya, di buku ini, Parker dan Will dapat jatah yang cukup banyak ternyata. Dan bikin saya nggak menyesal-menyesal amat skip baca buku tentang mereka wahaha #PLAK. Jordan sama Jacob juga muncul sekilas. Jadi buat kamu yang pengen ketemu sama tokoh-tokoh lama kesayanganmu, buku ini semacam reuni manis buat kalian.

Saya suka banget sama suasana kamp musim panas yang mendominasi setting buku ini. See, pengalaman masa kecil saya tentang kegiatan semacam itu hanya sebatas pramuka XD. Tipikal summer book, buku ini bikin saya pengen cepet-cepet packing dan pindah ke sana, atau minimal tinggal setahun dua tahun lah….ngerasain gimana suasana musim panas yang sebenarnya.

Things I Can’t Forget mungkin bukan salah satu novel YA spektakuler yang saya baca, tapi saya banyak belajar banyak hal di sini. Mungkin saya bakal baca buku Miranda Kenneally lainnya (walaupun buku kelima covernya nggak matching) :D


"Learning is never a bad thing. And neither is changing your mind about things... It's always good to reevaluate. To think and consider all sides."



*Foto utama disadur dari akun milik @teenbooksdaily. Terima kasih Jennifer, sudah mengijinkan saya memakai foto kamu untuk review ini. Please go check her instagram account, she’s so talented!!!!