Showing posts with label 4 stars. Show all posts
Showing posts with label 4 stars. Show all posts

Friday, 9 December 2016

[Review Buku] Knot in My Backyard oleh Mary Marks

Knot in My Backyard (Quilting Mystery #2)
penulis Mary Marks
352 halaman, New Adult (NA)/ Misteri
Rating: image
Dipublikasikan 4 November 2014 oleh Kensington

A diamond brocade pattern is more quilter Martha Rose's style than a baseball diamond - especially when it comes to the new eyesore of a stadium ruining her lovely San Fernando Valley neighborhood. Martha doesn't know a bunt from a bundt cake, but when she stumbles upon the battered body of baseball coach Dax Martin, she doesn't need a scorecard to know it's foul play. LAPD homicide detective Arlo Beavers is convinced one of her neighbors is responsible. But Martha and her fellow quilters Lucy and Birdie soon discover a whole field of suspects who might have wanted to take the coach out of the game permanently.

Martha Rose meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya di novel pertama seri ini, Forget Me Knot. Sebenarnya saya tidak berencana untuk melanjutkan seri ini terlebih dahulu, mungkin tahun depan atau kapan, tapi godaan terlalu kuat hehehe, apalagi setelah tahu “konflik” apa yang dialami Martha Rose di sini. Akhirnya, novel ini habis dalam waktu semalam deh *no shame*.

Sunday, 27 November 2016

[Review Buku] The Last Chinese Chef oleh Nicole Mones

The Last Chinese Chef
penulis Nicole Mones
278 halaman, NA/ Cultural/ Travel
Rating: image
Dipublikasikan 4 Mei 2007 oleh Houghton Mifflin Harcourt

This alluring novel of friendship, love, and cuisine brings the best-selling author of Lost in Translation and A Cup of Light to one of the great Chinese subjects: food. As in her previous novels, Mones’s captivating story also brings into focus a changing China—this time the hidden world of high culinary culture.
When Maggie McElroy, a widowed American food writer, learns of a Chinese paternity claim against her late husband’s estate, she has to go immediately to Beijing. She asks her magazine for time off, but her editor counters with an assignment: to profile the rising culinary star Sam Liang.
In China Maggie unties the knots of her husband’s past, finding out more than she expected about him and about herself. With Sam as her guide, she is also drawn deep into a world of food rooted in centuries of history and philosophy. To her surprise she begins to be transformed by the cuisine, by Sam’s family—a querulous but loving pack of cooks and diners—and most of all by Sam himself. The Last Chinese Chef is the exhilarating story of a woman regaining her soul in the most unexpected of places.

Buat kalian yang tertarik untuk mengenal Tiongkok dari sudut pandang kulinernya, saya rasa novel ini merupakan sarana yang tepat. The Last Chinese Chef bercerita tentang Maggie, jurnalis kolom khusus American food yang harus pergi ke Tiongkok untuk mengurus masalah paternity claim. Seorang wanita misterius mengaku pernah memiliki hubungan istimewa dengan mendiang suaminya, dan kini menuntut sebagian/ seluruh harta suami Maggie atas nama hak buah hati perselingkuhan mereka.

Monday, 14 November 2016

Rekomendasi NA (Chicklit): The Wedding Belles!

Cukup lama juga saya tidak membuat postingan khusus rekomendasi buku. Kali ini, saya yang lagi ketagihan baca novel genre New Adult (chicklit) bakal membagi rekomendasi seri The Wedding Belles. Buat kamu yang suka sama Crossfire series (Bared to You dan kawan-kawan), mungkin bisa menjadikan The Wedding Belles sebagai alternatif bacaan kamu setelah tamat baca buku kelima Crossfire, One with You, dan bingung mau ngapain lagi di hidup yang kejam dan Gideon-less ini.

Secara singkat, The Wedding Belles merupakan perusahaan wedding planning elit yang dikelola oleh tiga perempuan muda, Brooke, Heather, dan Alexis. Karena eksklusif, klien mereka kebanyakan berasal dari golongan sosialita dan artis. Kebayang dong bagaimana mewahnya feel dalam seri ini. Masing-masing dari ketiga perempuan tersebut akan mendapatkan petualangannya sendiri dalam menemukan sang laki-laki impian dan menyusun pernikahan terindah versi mereka, jadi silahkan pilih pasangan favoritmu ya!


Thursday, 3 November 2016

[Review Buku] Murder with Macaroni and Cheese oleh A.L. Herbert

Murder with Macaroni and Cheese
(A Mahalia Watkins Soul Food Mystery #2)
penulis A.L. Herbert
288 halaman halaman, NA/ Misteri
Rating: image
Dipublikasikan 30 Agustus 2016 oleh Kensington

Mahalia’s Sweet Tea is known for serving the best soul food in Prince George’s County, Maryland. But owner Halia also likes to indulge in soma á la carte detective work. Can she solve the murder of a former “mean girl” when a high school reunion takes a deadly turn?
When the organizing committee for her upcoming high school reunion desperately needs a caterer, Halia agrees to help out. Soon she’s serving up her signature macaroni and cheese and famous chicken wings to a host of appreciative ex-classmates. Some folks have blossomed since graduation. Others, like manipulative Raynell Rollins, currently married to a former football star, haven’t changed nearly enough.
When Raynell is found dead the morning after the reunion, the roll call of possible suspects could fill the school gymnasium. Extra-marital affairs, mega-church scandals and sports secrets… Raynell had her perfectly manicured hand in a lot of sticky situations. With her cousin Wavonne’s bungling assistance—and a helping of unwelcome dating advice from her mother, Celia—Halia is on course to track down the killer, before she becomes the alumna most likely to meet an untimely end…
Features delicious recipes from Mahalia’s Sweet Tea, including Double Crust Chicken Pot Pie and Chocolate Marshmallow Cake!

Ingat ketika saya bilang kalau kisah dari Halia dan kawan-kawan di Murder with Fried Chicken and Waffles ini “nanggung”? Well, saya bersyukur tidak mutung baca seri ini berdasarkan prasangka buku pertamanya, karena di buku kedua….. mereka mengalami perkembangan yang sangat signifikan!!

Monday, 6 June 2016

[Review Buku] The Unexpected Everything oleh Morgan Matson

The Unexpected Everything
penulis Morgan Matson
518 halaman, YA/ Realistic Fiction
Rating: image
Dipublikasikan 5 Mei 2016 oleh Simon & Schuster


“So,” I said, turning my head and looking up at him. “Where were we?”

Saya jatuh cinta dengan karya Morgan Matson sejak membaca Amy and Roger’s Epic Detour. Kemudian Second Chance Summer sukses membuat Morgan Matson jadi penulis all-time-favorite yang masuk radar. Setiap buku yang ia terbitkan (biasanya setahun sekali) bakal saya baca. Tahun ini adalah milik The Unexpected Everything (TUE). Saya mengikuti banget lho proses pembuatan novel ini, soalnya si Morgan Matson selalu mem-posting perjalanan pembuatan novel ini sejak diprint pertama kali (masih 600 halaman lebih) hingga akhirnya fresh keluar dari gudang penerbit. Dia juga update kisah book tour yang ia jalani dan membagi playlist yang ia mainkan selama menulis TUE. Seru banget lah pokoknya. Secara pribadi saya suka sekali dengan keterbukaan dari penulis seperti ini. Kita sebagai pembaca jadi merasa lebih dekat dan lebih “memiliki” novel ini. Pengalaman membaca pun jadi terasa berbeda.

Wednesday, 4 May 2016

[Review Buku] The Crown oleh Kiera Cass

The Crown (The Selection #5)
penulis Kiera Cass
288 halaman, Young Adult Fantasy/ Dystopia
Rating: image
Dipublikasikan 3 Mei 2016 oleh Harper Teen

“I’m telling you, Eady, wars and treaties and even countries will all come and go. But your life is yours, singular and sacred, and you should be with the person who makes it feel that way every blessed second you live it.”

OMG.

OMG. OMG.

Buku ini………. OMG!!! Jujur saja saya sempat MEH gitu waktu Kiera Cass dulu mengumumkan desain sampulnya, karena……..ewh jelek banget. Sepertinya untuk The Selection pihak penerbit tidak memakai model yang sama, jadi antara novel ke-4 (The Heir) sama The Crown ini si Eadlyn mukanya berbeda. Tapi yang sampul ini ada yang bikin kerasa OFF gitu.  Mungkin karena posenya yang kurang pas dan gaunnya kurang slim fit hahaha kedodoran bo’. Kesan anggun si Princess Eadlyn pun nggak saya rasakan. Terus niiiih saya juga nggak begitu terkesan sama kisah di buku 4. Makanya saya sebenarnya memulai baca The Crown ini sambil agak ogah-ogahan.

TAPI!!! Tapiiiiii…….

Tuesday, 12 April 2016

[Review Buku] One with You oleh Sylvia Day

One with You (Crossfire #5)
penulis Sylvia Day
464 halaman, Adult Fiction/ Contemporary
Rating: image
Dipublikasikan 5 April 2016 oleh St. Martin’s Griffin


AKHIRNYA! You guyssss…. kalian tau nggak berapa lama penantian saya buat baca buku ini. GAHHHHHH……..


Pasti nggak asing kan sama seri ini. Keempat bukunya sudah diterjemahkan sama Gramedia kok. Itu lho, Bared to You dan kawan-kawannya. Saya sudah ngikutin buku ini lamaaa sekali hingga akhirnya tiba saat buku terakhir ini terbit. Semua harus berakhir huhuhu.


Wednesday, 3 February 2016

[Review Buku] Good in Bed oleh Jennifer Weiner

Good in Bed (Cannie Shapiro #1)
penulis Jennifer Weiner
375 halaman, New Adult/ Chick-lit
Rating: image
Dipublikasikan 2 April 2002

New Adult sebenarnya bukan genre yang saya gandrungi. Saya masih berkiblat sama Young Adult kok sodara-sodarah, soalnya masih pas sama usia saya yang kinyis-kinyis ini *ditabok*. Tapi karena salah satu resolusi 2016 saya adalah Read Diverse Books a.k.a. keluar dari zona nyaman YA, makanya saya coba-coba aja nyicip novel NA kali ini. Bukannya nggak suka sih sama genre ini. NA yang bagus buanget menurut saya juga banyak. Tapi saya ngerasa “berat” aja baca novel-novel macam ini. Masalah yang terkandung di dalamnya biasanya sangat kompleks. Bikin saya nggak mau cepet-cepet jadi dewasa hahaha.

Setelah gagal total baca Paranormal Romance kemarin, tentu saya agak ketar-ketir dong soal milih NA mana yang bakal dibaca. Karena saya tuh ngasal milihnya. Tau ada penulis yang namanya Jennifer Weiner aja baru kali ini, dan usut punya usut, Good in Bed ternyata karya debut dia. Syukurlah, saya nggak salah pilih. Karena novel ini bagus banget dan membawa pesan penting bagi pembacanya. Gaya penulisannya juga bagus, realistis. Top lah untuk ukuran penulis debut waktu itu.


Protagonis di novel ini—Cannie Shapiro—adalah seorang jurnalis (why? WHY?? Saya sering banget baca NA yang tokoh utamanya jurnalis) di Philadelphia Examiner. Hidupnya sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi sejak Bruce—mantan kekasihnya—mendapatkan pekerjaan baru sebagai penulis rubrik Good in Bed di Moxie dan menulis artikel “Loving a Larger Woman”, Cannie jadi merasa insecure. Bruce membeberkan kehidupan pribadinya bersama si “C”, si perempuan berbadan “di atas normal” yang seolah-olah tidak ingin dicintai dengan tulus olehnya dan malah terus bermuram durja atas kondisi badannya.

There were a thousand words that could have described me—smart, funny, kind, generous. But the word I picked—the word that I believed the world had picked for me—was fat.

Walapun identitasnya tidak ditampilkan secara gamblang, orang-orang terdekatnya tahu bahwa si C yang dimaksud Bruce adalah Cannie. Yang lebih parah, artikel itu juga mengelabui pikiran Cannie sendiri sehingga dia berpikir bahwa memutuskan Bruce adalah suatu kesalahan. Karena, yaaaah, lihat saja kondisi Cannie sekarang. Lajang gemuk menyedihkan. Bruce benar-benar mencintainya. Setidaknya berdasarkan artiker “Loving a Larger Woman” yang dia tulis. Dia harus mendapatkan Bruce kembali!

Cannie lantas mendaftarkan diri ke program milik University of Pennsylvania’s Weight and Eating Disorders Clinic, di mana ia bertemu teman-teman seperjuangan dan Dr. K, dokter ramah yang selalu sabar walaupun Cannie sering memunculkan "masalah" di setiap pertemuan programnya.

“Fat people aren’t stupid,” I continued. “But every single weight-loss program I’ve ever been to treats us like we are—as if as soon as they explain that broiled chicken is better than fried, and frozen yogurt’s better than ice cream, and that if you take a hot bath instead of eating pizza, we’re going to all turn into Courteney Cox.”


Cannie tidak tahu bahwa dia akan mendapatkan petualangan luar biasa yang menyadarkannya bahwa di dunia ini banyak hal yang jauh lebih penting dibandingkan menurunkan berat badan demi seorang cowok.


Novel ini mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri, baik secara fisik maupun mental. Banyak hal penting yang saya pahami dari novel ini. Secara pribadi, saya kagum dengan usaha Cannie dalam menemukan jati diri dan kebahagiannya: lajang bukan berarti sendiri, masih ada keluarga dan sahabat yang siap menemani; memiliki badan yang lebih besar bukan aib, asalkan sehat dan mampu menopang dan membantu kita dalam menjalani aktivitas sehari-hari; dan siapa yang butuh cowok menyedihkan yang menjelek-jelekkan diri kita di muka publik HAHHHHH?????

Mengikuti jejak Cannie sejak awal sekali, bikin saya agak sedih untuk berpisah dengan buku ini. Dan heck, saya tidak mau spoiler sebenarnya, tapi saya suka ketika Cannie di akhir cerita akhirnya mendapatkan pekerjaan yang dulu sempat menjatuhkannya. Sweet revenge, huh?

“But what we’re really trapped by is perceptions. You think you need to lose weight for someone to love you. I think if I gain weight, no one will love me. What we really need,” she said, pounding the bar for emphasis, “is to just stop thinking of ourselves as bodies and start thinking of ourselves as people.”


FYI, buku ini sudah diterjemahkan Gramedia lho teman-teman, bahkan sudah dicetak ulang. Buat yang malas baca versi bahasa Inggris, sok atuh bisa dijadikan alternatif baca. Dan ini bukan novel erotika lho ya, walaupun desain sampulnya seperti itu. Kayaknya yang bikin desain sampul agak salah kaprah sama keseluruhan ceritanya -,-


Saya merekomendasikan novel ini kepada semua pecinta chicklit maupun yang baru menjajal genre ini. Kita butuh lebih banyak novel seperti ini sodara-sodara.

Thursday, 12 November 2015

[Book Review] Gone Girl by Gillian Flynn

Gone Girl
penulis Gillian Flynn
422 halaman, Misteri/ Thriller
Rating: image
Dipublikasikan 22 September 2014 (First published June 2012)

What are you thinking, Amy? How are you feeling? Who are you? What have we done to each other? What will we do?

Di kota kecil Missiouri, seorang wanita cantik dilaporkan menghilang oleh sang suami tepat di ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Pintu rumah terbuka lebar dan terdapat barang-barang yang menunjukkan adanya bekas kekerasan. Polisi beserta detektif kompeten dilibatkan, simpati datang bertubi-tubi, dan reporter nasional bergerombol untuk mengabadikan tragedi hilangnya Amy Elliot Dunne.

Namun sejak awal terdapat banyak kejanggalan dalam kasus ini. Sang suami, Nick Dunne, seakan setengah hati dalam melakukan pencarian istrinya. Kebohongan demi kebohongan dia lempar ke polisi, hingga semakin lama bukti-bukti muncul untuk menjeratnya. Publik berbalik menyerang dan menuduh bahwa Nick sendiri yang membunuh istrinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Amy? Siapa yang salah?

He was the first naturally happy person I met who was my equal. He was brilliant and gorgeous and funny and charming and charmed. People liked him. Women loved him. I thought we would be the most perfect union: the happiest couple around. Not that love is a competition. But I don’t understand the point of being together if you’re not the happiest.

----------------------

Her mind was both wide and deep, and I got smarter being with her. And more considerate, and more active, and more alive, and almost electric…..

Menurut saya, Gone Girl ini adalah karya jenius. Sadis namun tetap menyuguhkan unsur romance yang dalam, menjadikan saya berkali-kali bergidik setiap cerita berbelok ke arah lain. Ada JUTAAN belokan di novel ini, dan pertanyaan “Apa yang sebenarnya terjadi pada Amy?” sudah terjawab sejak bagian awal cerita, membuat saya bertanya-tanya kegilaan apa yang sebenarnya dijanjikan oleh Gillian Flynn. Namun karena saya bukan pembaca setia genre misteri dan thriller, pendapat saya ini tidak begitu valid dan sedikit bias (sepertinya saya agak termakan hype filmnya karena saya ngefans dengan Rosamund Pike, si aktris pemeran Amy). Saya baru membaca sedikit buku misteri, dan in my humble opinion, saya merekomendasikan buku ini bagi kalian yang mencari referensi buku bacaan misteri/ thriller. 

FYI Gramedia sudah menerjemahkan buku ini dengan judul Gone Girl (Yang Hilang), disusul dengan karya Gillian Flynn lain, Dark Places (Tempat Gelap).



Dan review ini saya tutup dengan kutipan paling DEG!!! dari buku ini:

You’d think all women do is clean and bleed.


Monday, 11 May 2015

[Book Review] Things We Know by Heart by Jessi Kirby

Things We Know by Heart
penulis Jessi Kirby
304 halaman, YA/ Death
Rating: image
Dipublikasikan 21 April 2015 oleh Harper Teen


Alone. I've felt that way for so long.

400 hari sejak kematian Trent karena kecelakaan, Quinn masih saja diliputi duka dan seolah berhenti menikmati hidup. Dia tidak mendaftar kuliah, berhenti nongkrong bareng teman-temannya, dan menghabiskan waktu hanya untuk menghitung hari-hari pasca kematian Trent. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah 4 orang penerima donor yang masih berhubungan baik dengannya dan keluarga Trent. Melalui mereka, Quinn merasa bahwa Trent masih “ada”. Dia merasa lebih bisa menerima bahwa walaupun dia harus kehilangan Trent, banyak orang yang terselamatkan karenanya.

They say time heals all wounds, but meeting those people that afternoon—a makeshift family of strangers brought together by one person—healed more in me than all the time that passed in the days that had come before.

Trent menyumbangkan 5 organ tubuhnya ketika meninggal. Dari kelima penerima donor itulah, hanya 4 orang yang bersedia untuk “menjangkau” pihak keluarga pendonor. Sang penerima organ jantung, tidak pernah membalas surat yang dikirim Quinn. Awalnya Quinn berusaha mengabaikan perasaan mengganjal ini, tapi lama-kelamaan dia tidak tahan dengan misteri sang penerima organ paling penting bagi Trent ini.

Dimulai dari investigasi kecil-kecilan di internet selama berbulan-bulan dengan mencocokkan semua data yang ada, Quinn akhirnya bisa menemukan sang penerima donor. Pencariannya menuntun Quinn ke sebuah blog milik seorang gadis, yang menceritakan kisah perjuangan sang adik, Colton Thomas, melawan penyakit jantung yang ia derita. Yang hampir merenggut nyawanya, kalau saja organ donor tidak segera tiba.  Operasi sukses, dan kini Colton sudah pulih serta menjalani kehidupan yang nyaris normal. Dan tinggal tidak jauh dari Quinn berada.

Seharusnya Quinn berhenti di situ. Tapi dia merasa dia harus melihat Colton, walaupun dari jauh. (Dari kepo, Quinn ini berubah jadi stalker). Namun takdir rupanya menuntunnya untuk mengenal secara dekat siapa sebenarnya penerima jantung Trent ini.

For so long, I was the one with his heart. I just need to see where it is now.


Sejak awal saya merasa kesulitan untuk menyatu dengan cerita. Banyak sebenarnya yang menyebabkan saya kurang sreg. Yang paling mengganggu adalah sifat Quinn yang mencintai secara berlebihan, bahkan ketika orang yang dicintainya sudah tiada (dia bahkan menyebut dirinya sebagai 18-year-old widow. Hmpfh). Cintanya, membuat dia melanggar beberapa batas (bahkan hukum!) yang mungkin bisa saja menyeretnya ke masalah serius. Hal itu pula, yang membuat hubungan yang dimiliki Quinn dan Colton ini bisa dibilang berlandaskan kebohongan besar—atau rahasia, kalau mau dipandang sebagai hal positif. Karena Quinn sejak awal tidak mengaku siapa sebenarnya dia, dan Colton selalu menyembunyikan fakta bahwa dia pernah sakit dan selalu sembunyi-sembuyi ketika waktu minum obat tiba. Kebohongan/ rahasia/ whatever ini bikin saya bertanya-tanya, jadi yang disuka sama Quinn dari Colton sebenarnya apa? Karena Colton membawa jantung orang yang pernah dicintainya, atau karena lama-kelamaan dia mengenal Colton dan mulai membuka dirinya untuk menjalani kembali hidup dengan bantuan Colton?

As hard as we both tried, and as much as we both wanted it to be otherwise we are made of our pasts, and our pains, our joys and our losses. It’s in the very fibers of our beings. Written on our hearts. The only thing we can do now is listen to what’s in them.

Tapi yang aneh di sini, saya bisa memaklumi sifat Quinn dan lanjut baca sampai tamat. Bahkan menikmatinya! What the heck is wrong with me? Kalau buku lain, pasti sudah saya DNF-kan dan pindah ke judul lain.  

Mungkin alasan utama saya bisa betah adalah gaya penulisan Jessi Kirby ini bagus. Luar biasa bagus. Saya bisa merasakan ketenangan mengalir dari kata demi kata yang dia tulis. Membaca buku ini, menenangkan sekaligus membangkitkan emosi-emosi dari dalam diri saya. Nah, nggak semua penulis bisa menciptakan efek seperti itu ke para pembacanya. Dan please, jangan baca buku ini di publik. Emotional breakdown ain’t pretty.


Things We Know by Heart…. benar-benar sepadan dengan penantian yang saya berikan. Tapi dibandingkan karya Jessi Kirby yang lain, buku ini bukan merupakan yang terbaik. Bagi yang ingin mengenal karya-karya Jessi Kirby, saya sarankan untuk memulai dari buku lain terlebih dahulu. Golden? Moonglas? In Honor? Take your pick!

Sunday, 16 November 2014

[Book Review] Racing Savannah

Racing Savannah
penulis Miranda Kenneally
304 halaman, Young Adult/ Realistic Fiction

“I get what you’re saying. I really do. And I’d hate to hurt you. This sport has never safe or easy. But when you already have nothing, shouldn’t you take a risk to try to find something different?”

Masih ingat kalau saya berniat melahap semua companion books dari Catching Jordan? Yeah, I did, one by one. Dan saya sama sekali nggak menyesal!! Racing Savannah merupakan buku keempat dari Hundred Oaks series yang mengambil setting serta plot cerita yang sangat berbeda dari buku-buku sebelumnya (well, dunno about Stealing Parker cause I skipped that book). Menurut saya ini adalah poin lebih yang membuat Racing Savannah istimewa. Miranda Kenneally selalu memilih tokoh dengan latar belakang yang berbeda antara satu sama lain, dan sejauh ini Savannah adalah yang paling saya suka! Hanya butuh satu hari buat menamatkannya.


Ayah Savannah mendapatkan tawaran untuk menjadi head groom di Cedar Hill, Tennessee. Cedar Hill merupakan farm tempat pelatihan kuda yang jauh lebih elit dibandingkan tempat ayahnya bekerja dulu. Dengan kondisi keuangan yang sedang kurang mulus karena utang, ditambah mereka sedang menanti kelahiran anggota baru, tentu mereka tidak bisa begitu saja menolak kesempatan emas ini. Untuk membantu meringankan beban keluarganya, Savannah berusaha untuk mendapatkan pekerjaan sebagai exercise rider, dengan bekal pengalamannya berkutat dengan kuda sejak ia berumur empat tahun.

Ketika ia ingin meminta pekerjaan ke pimpinannya itulah, Savannah tidak sengaja bertemu dengan Jack Goodwin. Kudanya, Tennesse Star hilang kendali dan kabur setelah menjatuhkan sang rider. Kemampuannya menenangkan Star membuat ia mendapatkan pekerjaan sebagai exercise rider karena ternyata, Jack adalah pemilik Cedar Hill. Sang ayah, Mr. Goodwin, memasrahkan farm ini kepada putranya walaupun ia masih berusia 17 tahun, karena nantinya dialah yang akan mewarisi bisnis-bisnis keluarga Goodwin.

"I love my dad, but I'm never gonna end up working for minimum wage like him. I want more."

Berbeda dari ayahnya yang sudah merasa cukup dengan pekerjaannya saat ini, Savannah ingin mengejar sesuatu yang lebih dalam hidupnya. Dan dengan bekal bahwa dia satu-satunya yang bisa menjinakkan Star, dia dipercaya Jack untuk menjadi jockey bagi Star agar kuda itu memenangkan pertandingan. Ia tidak hanya menjadi jockey perempuan satu-satunya di Cedar Hill….tetapi jockey perempuan termuda yang pernah ada. Pekerjaannya sebagai jockey memberikannya kesempatan untuk mendapatkan uang lebih bagi keluarganya, terutama untuk calon adik perempuannya yang akan lahir. Selain itu, keterlibatannya dengan kepengurusan Star tidak hanya membuatnya dekat dengan kuda yang hebat tapi manja itu, tapi juga kepada pemiliknya, Jack.


It’s like whenever we’re not at Cedar Hill, we’re normal. Normal people, normal friends, flirting like crazy. Playing waitress at his dinner party the other night seems a million miles away. He’s not my boss out here under the stars.

Tapi di sinilah masalahnya. Jack selalu manis dan super baik kepada Savannah ketika di sekolah tapi mendadak bertingkah serius ketika mereka sedang berada di Cedar Hill. Di satu saat Jack flirting habis-habisan ke Savannah, menit berikutnya dia bakal santai menggandeng cewek lain. Sorry but I think Jack’s kind of a douche. Saya sama sekali tidak respect sama Jack. Laki-laki yang tidak bisa membela pendapatnya sendiri tidak pantas diperjuangkan.

 “Mr. Goodwin would never allow his son to date you.”
It hurts hearing Dad say thay. Because I know it’s true. I’ve heard it from Mr. Goodwin’s own mouth.

Jadi bagaimana bisa Savannah mempertahankan pilihan hatinya jika bukan hanya Jack tidak pantas diperjuangkan, tapi juga bakal terlalu banyak yang ia korbankan? Jika ia mengambil pilihan yang salah, bukan hanya keluarganya nantinya akan kehilangan sumber penghidupan mereka, tetapi juga Savannah akan kehilangan pekerjaannya yang dicintainya sebagai jockey.

Di samping Jack, masih ada masalah lain yang menyita di pikiran Savannah…. yaitu kuliah. Savannah memang tidak pernah menonjol dalam akademis, dan dia berharap akan bekerja di dunia yang dicintainya, horseriding. Bersekolah di Hundred Oaks High School bagi keluarga Savannah sudah merupakan pencapaian yang hebat karena baik ayah dan ibunya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, tapi Savannah menyadari bahwa kehidupannya dan keluarganya tidak akan pernah maju jika ia tidak berusaha mati-matian untuk melawan nasib. Ia tidak ingin dua puluh tahun dari sekarang, ia masih bekerja di Cedar Hill dengan pangkat rendahan. Whoa, pemikiran yang sangat bagus dan dewasa bagi remaja seusia itu.


Salah satu tokoh pendukung yang menarik perhatian saya adalah Rory Whitfield, yang ternyata adalah adik Will (dari Stealing Parker). Aaaaaah saya menyesal sekali kenapa saya bisa skip baca Stealing Parker, karena sepertinya pasangan ini punya porsi yang cukup besar dalam Hundred Oaks series. Dan buat kamu yang suka sama Will+Parker…. pssst bakal ada kejutan besar di buku ini :”) Nggak cuma Will dan Parker, tapi bakal muncul wajah-wajah lama seperti Jordan+Sam dan Kate+Matt, walaupun tidak sebanyak Will+Parker.
Persahabatan antara Savannah, Rory, dan Vanessa termasuk unik dan cukup memberikan ruang gerak yang membuat pembaca tidak bosan dicecokin drama antara Savannah dan Jack. Miranda Kenneally berhasil menangkap suasana countryside dengan baik dan walaupun topik seputar kuda adalah hal yang asing bagi saya, saya bisa memahaminya dengan baik. Dan menikmatinya! (AAAAAHHHHH take me go thereeeee!!). Teknik penulisannya tidak perlu ditanyakan lagi, dan ada keseimbangan antara kisah cinta, persahabatan, dan keluarga. Porsinya pas.


Racing Savannah merupakan kisah rich-boy-meets-poor-girl paling bagus yang saya baca. Banyak yang saya pelajari dari buku ini, dan pastinya Savannah menginspirasi saya buat kuliah lebih rajin lagi, karena…. Hey, I’m way luckier than her right? I should be grateful.

PS: Annie Winters muncul sekilas di buku ini. Dan dia bakal punya kisahnya sendiri di buku kelima Breathe, Annie, Breathe.



Message from Miranda Kenneally:
With this book, Racing Savannah, I wanted to show readers that no matter who you are, where you come from, what you look like, how much money you have—you have the right to go after whatever you want. You have the right to make your dreams come true. Of course, you have to work hard too. Please don’t ever put yourself down. Figure out what you like about yourself and keep learning and going after what you want like Savannah. You rock!