Monday, 18 February 2019

[Review Buku] 99 Percent Mine oleh Sally Thorne

We’re all shareholders in Tom Valeska: Jamie, Megan, and me. His mom and my parents. Loretta and Patty. Everyone who’s ever met him wants a piece of him, because he’s the best person there is. I quickly count up all of those people. I include his dentist and doctor. Maybe he’s only 1 percent mine. That has to be enough. I have to share.

Ini dia buku baru dari Sally Thorne yang lagi dipuji-puji banyak booktuber akhir-akhir ini. Karena saya suka The Hating Game—novel  debut dia—makanya saya coba baca 99 Percent MineAm I liking it as much as The Hating Game? Surprisingly, no.

Mari kita ulas.

99 Percent Mine mengambil cerita yang sangat berbeda dengan The Hating Game, baik dari segi kepribadian tokoh, latar belakang cerita, serta alur. Tokoh utama kita di sini, Darcy Barrett, baru saja mewarisi rumah dari neneknya, Loretta. Wasiat yang diberikan oleh Loretta adalah agar rumah bobrok itu direnovasi dengan budget yang sudah disiapkan untuk kemudian dijual. Hasil penjualan rumah tersebut nantinya akan dibagi dua dengan saudara kembar Darcy, Jamie Barrett. Jamie sangat suka uang, sehingga ketika Darcy mengusir kenalan Jamie yang akan membeli rumah itu dengan harga tinggi (in her defense, though, he was rude to a mourning family), Jamie marah besar dan memutuskan untuk hengkang dari sana. 

Konsekuensi dari hengkangnya Jamie adalah Darcy harus mengawasi sendirian proyek renovasi rumah Loretta. Untungnya, kontraktor yang dipilih oleh keluarga Barrett adalah Tom Valeska, sahabat Darcy dan Jamie sejak kecil sekaligus buffer bagi keduanya. Tom baru pertama kali mengambil proyek sebagai pemilik dan penanggungjawab perusahaan miliknya sendiri, sehingga dia merasakan tekanan yang besar untuk bekerja dengan sempurna. Keberadaan Darcy yang sudah lama naksir Tom tidak mempermudah pekerjaan dia dan budget pas-pasan yang disediakan Loretta membuat dia semakin sulit untuk menyelesaikannya dengan baik.

"I'm the client. I'm his best friend's sister. I'm Mr. and Mrs. Barrett's weak-hearted daughter. I'm the liability he swore to take care of."

Cukup jarang saya ketemu sama penulis yang rela kerja keras buat membangun dari nol unsur-unsur dalam novel barunya. Tapi Sally Thorne mau, dan saya mengapresiasinya. Saya cukup simpati sama penulis, karena dia memiliki tekanan yang berat di buku kedua ini. Karya debutnya diterima dengan sangat baik oleh pembaca, dan karya keduanya sangat dinanti. Untuk akhirnya bisa menerbitkan buku kedua, pasti diperlukan motivasi dan semangat kerja yang sangat tinggi.

Cuma….. saya tidak bisa simpati sama tokoh-tokoh di 99 Percent Mine. Protagonis kita, Darcy, digambarkan sebagai seorang wanita yang berusaha membangun imej kuat tetapi sebenarnya super rapuh. Maklum, kerja sebagai bartender mengharuskan dia buat tegas biar nggak diremehkan sama lelaki gahar atau lelaki anak mama atau lainnya. Tapi, gimana saya bisa menikmati cerita dari sudut pandang Darcy kalau sejak awal cerita, kerjaan dia cuma membanding-bandingkan diri dengan Megan, tunangan Tom a.k.a. cowok yang dia taksir sejak remaja dan sudah seperti keluarga sendiri. Mungkin karena bertentangan dengan prinsip yang saya anut, saya merasa setiap Darcy membandingkan dirinya dengan Megan (yang anggun, yang kalem, pokoknya yang segala di dirinya jauh lebih baik dari Darcy), dia menjadi semakin pathetic di mata saya. Stahp it, gurl. That’s so NOT COOL. 

Saya juga risih banget sama Darcy dan Tom yang SEPANJANG CERITA jelas-jelas saling suka tapi sok-sok buang muka dan nggak butuh. GEMASSS, karena 99% masalah di novel ini nggak bakal kejadian kalau mereka saling terbuka dan bicara layaknya orang dewasa. Dan ngomong-ngomong soal keterbukaan nih, saya pada akhirnya hilang respect sama Tom karena ternyata oh ternyata dialah biang kerok yang menyembunyikan paspor Darcy hanya biar Darcy nggak pergi meninggalkan Tom lagi. Sebuah alasan yang nggak masuk akal sih, karena toh ketika Darcy memutuskan untuk tinggal bersama Tom dalam rangka mengurus renovasi rumah warisan Loretta, Tom-lah yang secara religius menolak semua flirting dari Darcy. KAN BINGUNG YA NI COWOK MAUNYA APA SEBENARNYA. Selain menjengkelkan, tingkah Tom menurut saya NGGAK PANTAS UNTUK DILAKUKAN. Ya balik lagi ke masalah consent sih: kamu nggak berhak membatasi siapapun untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Menyembunyikan paspor dalam kasus ini termasuk upaya licik dan manipulatif—condong ke kriminal juga—dalam membatasi hak dan kebebasan Darcy apalagi dilakukan murni demi agenda pribadi Tom (bukannya demi masalah kesehatan jantung Darcy atau gimana). First he stole your paspor, and then what? [SPOILER] Menambah rasa tidak suka saya pada Tom adalah di akhir cerita, Tom BERANI-BERANINYA kabur dari proyek dan.... pergi? Dua bulan? Sampai akhirnya Jamie dan Darcy yang menyelesaikan proyek renovasinya???? Untuk seseorang yang baru merintis karir lewat (uhuk) jalur nepotisme, Tom nyalinya gede juga yah. Who cares about integrity, anyway? *dripping in sarcasm* Ku tak mengerti kenapa banyak yang suka sama problematic Tom ini.


Kayaknya saya memang punya masalah kronis sama cowok yang suka diem-diem ae terus mendadak kabooooorrr deh, tapi, logis kan kalau saya kesel? What he did was so NOT gentleman.

Dan kalau kalian mau tahu siapa yang jahat di novel ini, menurut saya adalah mendiang Loretta. Dia yang pertama kali menyeret Darcy ke bandara untuk mendapatkan “ketenangan batin” setelah bertingkah bodoh di depan Tom, sehingga dialah yang bertanggung jawab terhadap masalah yang dialami Darcy setelah pulang dari perjalanan pertamanya itu dan sifat suka kabur yang dimiliki Darcy. Kamu boleh nyentrik, kamu boleh berpikiran out of the box, tetapi mengajarkan sifat pengecut kepada keturunan sendiri itu enggak banget. She should be ashamed of herself, setidaknya ganti rugi lah dengan ngasih hak waris rumah sepenuhnya ke Darcy. Biar uang dia makin banyak dan bisa bayar psikolog paling kompeten dan mahal untuk menyembuhkan kebiasaan jeleknya itu.

Begitulah. Jamie yang digambarkan sebagai mata duitan dan suka main perempuan jadi terlihat sangat angelic dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Ha! Moral dari cerita ini berarti: untuk tampak tidak asshole meskipun kamu asshole: hiduplah dengan orang-orang yang lebih problematik dari kamu. Suddenly, you're the saint one! Logic, amiright??


Terlepas dari masalah di atas, saya cuma berharap siapa pun yang membaca novel ini bisa memfilter hal-hal negatif yang ada dan nggak berpikir: “Waw, demi menunjukkan cintanya ke cewek yang suka kabur ke luar negeri, lelaki ini menyembunyikan paspor si cewek. Akhirnya si cewek sadar. Dan mereka jadian. Bahagia. Terharu. Couple goals.”NOT cute, guys. Inilah alasan sebenarnya saya nulis review ini, meskipun mata sudah capek lihat layar dan tangan sudah pegal ngetik dari pagi: kita harus berhenti meromantisasi sifat manipulatif dan abusif, dan menikmati novel dengan filter yang tepat

Cukup kecewa saya dengan Sally Thorne. Saya harap novel dia selanjutnya bakal lebih baik lagi.

Sunday, 10 February 2019

[Review Buku] Queen of Air and Darkness oleh Cassandra Clare


This is basically me trying to read ALL of genres that possibly exist out there, so bear with me.

Queen of Air and Darkness adalah buku ketiga dan terakhir dari seri The Dark Artifices, terbit Desember 2018 lalu. Buku ini juga merupakan yang paling tebal di antara karya Cassandra Clare yang lain, total 912 halaman. Jadi, menamatkannya merupakan prestasi tersendiri bagi saya yang barusan bangkit dari reading slump dan berusaha membabat habis tumpukan TBR fiksi. Ya know, saya sering baca buku tebal… tapi baca buku ini setelah lama nggak pegang novel, rasanya seperti senam 30 menit penuh setelah libur olahraga berbulan-bulan. I was dying and wheezing while at it.

Saya awalnya memulai buku ini dengan otak yang benar-benar kosong tentang akhir cerita buku kedua. Untuk mengatasinya, saya baca bab terakhir dari Lord of Shadows dan ternyata…WOW. Brutal sekali cliffhanger-nya. [SPOILER] Untuk me-refresh kalian juga nih, di bagian akhir Lord of Shadow diceritakan kalau Robert Lightwood selaku Inquisitor menerima permohonan Emma dan Julian untuk mengasingkan mereka demi mencegah kutukan parabatai. Namun segera setelah itu, kekacauan terjadi karena para Shadowhunter tidak percaya dengan kesaksian Annabel—yang bangkit dari kematian dengan bantuan Black Volume of the Dead—kalau dialah yang membunuh Malcolm (bukannya Zara). Annabel juga memperingatkan para Shadowhunter kalau King of Unseelie sedang merencanakan serangan yang dapat melumpuhkan steele sehingga kekuatan mereka akan sama seperti para mortal. Meskipun Annabel mengatakan itu semua sambil memegang Mortal Sword, mereka tetap nggak percaya dan malah menyerang Annabel sehingga dia ((SNAPPED)) dan menyerang Robert dan Lizzy. They both D E A D

Dan itu semua terjadi di bab terakhir, saudara-saudara.

Jadi, bisa dimengerti kan kalau saya baca Queen of Air and Darkness sampai ngos-ngosan. Padahal baru bab awal. Kayak kalau baru pertama senam gitu, dua menit sudah dying, dan masih harus menghadapi dua puluh delapan menit sisanya.


Kisah di buku ini dimulai tepat setelah kekacauan yang diakibatkan oleh Annabel terjadi. Bukan sehari setelahnya, atau sejam setelahnya. Benar-benar satu detik setelah scene terakhir di buku Lord of Shadow. Annabel menghilang bersama Black Volume of the Dead ke Unseelie Court. Keluarga Blackthorn berduka dengan kematian Livvy. Dan yang paling parah, Horace berhasil menduduki jabatan sebagai Inquisitor dengan didukung oleh Cohort, menjadikan mereka memiliki kuasa untuk mewujudkan ambisi jahat dalam menghancurkan Downworlders.

Emma dan Julian pada akhirnya mendapatkan hukuman dari Inquisitor Horace karena dianggap menjadi biang kerok dari muncul (dan hilangnya) Annabel dan rusaknya Mortal Sword. Mereka harus berangkat ke Faerie untuk mengambil Black Volume of the Dead. Yang mereka tidak tahu, sebenarnya misi itu adalah jebakan. Tak lama setelah Emma dan Julian pergi ke Faerie, beberapa anggota Cohort menyusul untuk membunuh mereka. Rencananya, kematian Emma dan Julian akan dikambinghitamkan sebagai ulah para fey sehingga para Shadowhunter yang masih sangsi dengan agenda Horace akan berbalik mendukungnya.


Kalau membicarakan sinopsis dari buku setebal ini, saya nggak sanggup meng-cover-nya dalam satu artikel review. Intinya, banyak hal yang terjadi. Maklum ya, karena ini adalah buku terakhir, jadi mungkin semua akan diikat dan dibabat habis ke dalam 912 halaman. Saya merasa di awal buku ini, semua tokoh punya agendanya sendiri-sendiri. Padahal ini adalah saat dimana mereka harus bersatu untuk mengalahkan King of Unseelie uhuk mirip Game of Thrones uhuk. Paling sebal sama kelakuan Ty sih. Sampai gregetan sendiri bacanya. Ya kan dia sudah tahu ya gimana nggak stabilnya Annabel sebagai seorang yang dibangkitkan dari kematian. Nah, dia masih mau nyoba membangkitkan Livvy? Apalagi untuk kasus Livvy yang jasadnya dikremasi, Ty harus mencari tubuh baru. Dengan kata lain, membahayakan orang lain yang tubuhnya akan dipakai. Selain itu…

“Didn’t you hear hear what Shade said? The Livvy we get back might not be anything like our Livvy. Your Livvy.”
Ty followed him out into the water. Mist was coming down to touch the water, surrounding them in white and gray.“If we do the spell correctly, she will be. That’s all. We have to do it right.”

See, nggak ada yang bilang kalau Livvy yang mereka bangkitkan bisa seperti Livvy yang dulu. Ty cuma mengarang sesuatu yang pengen dia dapatkan dan mengeksklusi fakta lain. What a creep. Saya sering ketemu sama orang macam Ty. Nggak pernah beres jalan pikirnya.

Ada lagi yang bikin saya sebal: Julian Blackthorn. Di buku ini, dia minta tolong sama Magnus buat menumpulkan rasa cinta yang dimiliki ke Emma, karena tanda-tanda kutukan parabatai sudah muncul. Tapi mantra yang diberikan sama Magnus membuat dia benar-benar kehilangan semua emosi yang dimiliki Julian, pada akhirnya dia jadi nggak peduli siapapun kecuali dirinya sendiri dan agenda yang dia miliki. Kalau ini saya yakin Julian resmi jadi sosiopat. Kasihan Emma.

The taste of betrayal was bitter in her mouth, more bitter that the copper of blood.

Tapi bukan Emma namanya kalau dia nggak berani mengutarakan apa yang dia yakini benar. Bahkan ke Julian, orang yang paling dia sayang.

“That’s what I always loved about you, even before I was in love with you. You never thought for a second about it diminishing about you to have a girl as your warrior partner, you never acted as if I was anything less than your complete equal. You never for a moment made me feel like I had to be weak for you to be strong.”

Konflik tentang Julian ini benar-benar menunjukkan kepada pembaca bagaimana dark-nya dia sebagai seorang protagonis. Sejak buku 1, Julian tampak sebagai seorang penyayang dan rela melakukan apapun demi keluarganya dan Emma. Pembaca kadang luput dengan penekanan apapun yang menjadi batas tindakan Julian. Selama tidak merugikan keluarga Blackthorn atau Emma, so be it. Nah melalui transformasi Julian menjadi seseorang tanpa emosi ini, pembaca melalui sudut pandang Emma akhirnya ditunjukkan seberapa toxic sifat Julian jika dia berjalan dengan agendanya sendiri. Hmm, nggak keliatan atraktif lagi kan? Manipulatif kan? Nggak enak kan dikibulin?

Plotnya yang nggak jelas bikin saya bingung sama apa tujuan sebenarnya di buku ini. Menghancurkan ikatan parabatai? Membalas dendam ke Annabel? Mengalahkan Horace dan Cohort? Menghilangkan blight? Mengalahkan Faerie? Loh, kok mendadak ada Sebastian Morgenstern lagi? Ketidakjelasan ini menjadikan ceritanya lompat-lompat dan bikin saya sebagai pembaca bingung sebenarnya arahnya kemana. Lagi asyik baca scene Julian & Emma dan sebentar lagi peak, eh mendadak di-cut dan pindah ke sudut pandang Diana dan Gwyn. Rasa deg-degan yang sudah terbangun dengan baik jadi bubar. Pas balik ke scene Julian & Emma, sudah nggak seasyik sebelumnya. Pas satu konflik selesai, eh ternyata ada konflik lanjutan. And don’t get me start with the biggest conflict of all, Julian and Emma’s parabatai. Walaupun pada akhirnya [SPOILER] ikatan mereka hancur setelah mereka berubah menjadi true Nephilim dan heavenly fire menghilangkan ikatan parabatai mereka yang unholy—seperti saat heavenly fire membakar habis ikatan unholy antara Jace dan Sebastian—sehingga Julian & Emma finally lived happily ever after as a couple…. eksekusinya menurut saya benar-benar mendadak dan nggak ada pembahasan sama sekali tentang heavenly fire ini dari jaman pertama mereka sadar jatuh cinta. SAYA MERASA KECOLONGAN.

Makanya, saya cuma kasih 3 bintang buat buku ini. I liked it. Tapi ya gitu aja sih hahaha. 3 bintang atas nama pertemanan lama, karena di sini banyak tokoh kesayangan saya muncul lagi dengan porsi besar, antara lain Jace & Clary, Alec & Magnus, dan yang paling saya sayangi…. TESSA GRAY & JEM CARSTAIRS MY LUV. Tanpa mereka, mungkin saya baru tamat baca bukunya 2 tahun lagi. Atau malah did not finish.

Dan you know what??? Dengan total 912 halaman dan ending yang seperti itu??? Saya rasa bakal ada seri baru lagi dari Cassandra Clare.


Cassandra Clare really milking that daaarn dead cow.

Thursday, 31 January 2019

[Review Buku] The Kiss Quotient oleh Helen Hoang


Sedang cari novel New Adult yang ringan dan menghibur? Saya sarankan untuk baca The Kiss Quotient.

Ini adalah kali kedua saya baca The Kiss Quotient, novel debut Helen Hoang. Oktober lalu, saya memilih novel ini sebagai bacaan hiburan di tengah break tesis. Tapi karena waktu itu saya terlalu tegang buat menunggu follow-up dari informan, pada akhirnya huruf-huruf cuma numpang lewat saja, nggak masuk ke otak. Untuk menebus kesalahan saya, hari ini saya memutuskan untuk membaca ulang novel ini.

Dulu saya memilih untuk baca The Kiss Quotient karena alasan receh: sampulnya mirip dengan The Hating Game yang ditulis oleh Sally Thorne (rekomen juga!). Yang saya suka dari The Kiss Quotient—tanpa mengurangi kesukaan pada The Hating Game, karena memang nggak ada niat untuk membandingkan—adalah fokus penulis pada tokoh protagonis yang memiliki sindrom asperger. Ini lho alasan saya suka baca novel, karena novel yang bagus dapat menyajikan tema yang sebelumnya asing bagi saya dengan cara yang unik dan memikat hingga halaman terakhir, sehingga saya bisa belajar dan refreshing secara bersamaan. Inspirasi untuk menulis kisah yang berkaitan dengan sindrom asperger didapatkan setelah penulis divonis menderita sindrom ini tahun 2016 lalu, membuat saya belajar memahami sindrom asperger dari orang yang merasakannya secara langsung dan bukannya modal sotoy. Selain itu, penulis juga selalu berusaha memasukkan unsur diversifikasi pada tokoh-tokoh yang ditulis, khususnya menekankan representasi orang Vietnam. Helen Hoang, siapapun kamu… aku ngefans!

Asperger syndrome (AS), also known as Asperger's, is a developmental disorder characterized by significant difficulties in social interaction and nonverbal communication, along with restricted and repetitive patterns of behavior and interests. (Wikipedia)

The Kiss Quotient menceritakan tentang Stella Lane, seorang ahli ekonometrika penderita sindrom asperger yang bekerja di perusahaan belanja online. Tugas utama Stella adalah menciptakan formula tentang pola belanja konsumen menggunakan statistika dan kalkulus, sehingga perusahaan nantinya bisa mengirimkan email berisi produk rekomendasi yang sesuai berdasarkan histori pembeliannya. Pekerjaan ini menantang, butuh konsentrasi penuh, dan tidak mengharuskan dia berinteraksi dengan banyak orang. Benar-benar Stella banget, pokoknya. Gaji besar? Check. Jenjang karir?Check. Lingkungan kerja damai? Check.

Namun, sifat antisosial Stella mulai meresahkan orang tuanya. Mengingat Stella adalah anak tunggal dan memasuki usia kepala tiga, mereka mulai mendesak dia untuk lebih berusaha membuka diri. Apalagi sejak Stella menolak kesempatan promosi yang ditawarkan bosnya dengan alasan nggak siap membawahi 5 anak buah…semakin menjadi-jadi deh tingkah ibunya. Mungkin karena Stella adalah good girl at heart, pada akhirnya dia berusaha belajar memperbaiki kemampuan membangun hubungan dengan cara……….menyewa escort.

"I'm awful at...what you do. But I want to get better. I think I can get better if someone would teach me. I'd like that person to be you."

The Kiss Quotient pada dasarnya adalah Pretty Woman dengan peran yang ditukarEscort pilihan Stella, Michael Phan, adalah penyejuk novel ini. LOL. Lama nggak baca novel, saya langsung disuguhin manusia macam Michael. Lemme tell ya why I love him:

Pertama, Michael sangat menghargai consent. Michael dapat membuat Stella merasa nyaman berinteraksi dengannya karena dia selalu memastikan Stella setuju untuk melakukan sesuatu sebelum benar-benar melakukannya. Michael juga selalu memperhatikan raut muka Stella sebelum mengambil suatu tindakan. Yang paling penting, Michael tidak pernah memaksa ketika Stella tidak siap dan langsung memutar otak biar Stella bisa nyaman kembali. No is a "no", guys. Not "try harder".

Kedua, Michael sangat bangga dengan kepintaran dan kesuksesan Stella. This by far is the time when I think he's at his sexiest:

"Why couldn't you be a doctor, then, E?" his mom asked as she peeled her tenth mango. "All I wanted was a doctor in the family, and not one of you could do that for me."
"Stella's a doctor," Michael said with a grin.
Her eyes rounded into giant buttons. "No, I'm not."
"Yes, you are. You have a PhD. That makes you a doctor. And you went to the University of Chicago, the best school for economies in the U.S, probably the world. You graduated magna cum laude."

Ketiga, Michael sayang keluarga dan bertanggung jawab. Kalian bakal tahu perjuangan dia ketika baca novel ini.

Keempat, penulis sejak awal sudah menyebutkan kalau Michael ini mirip sama artis Korea Danniel Henney. Fondasi kuat macam gini bikin pembaca mudah membayangkan dia. Mudah naksir juga.


Tetapi Michael tetap merupakan tokoh yang manusiawi di mata saya sebagai pembaca, terutama ketika dia berkali-kali mengungkapkan perasaan insecure atas masa lalunya. Sekali dua kali saya maklum. Lah, ini….lima juta kali ya mungkin doi meratapi fakta kalau gara-gara kelakuan bapaknya, doi jadi nggak pantas bersatu sama Stella. Michael, my dear… kamu kok jadi nggak begitu cakep lagi kalau ngeluh gitu terus.


Sedangkan Stella…. Saya jujur suka sekali sama semangat dia dalam bekerja. Nggak pernah sekalipun dia mengeluh meskipun akhir minggu harus dihabiskan di kantor. Dia sadar itu keputusan yang dia buat dengan sukarela. Senang rasanya membaca sebuah cerita dimana seorang perempuan karir begitu berdedikasi terhadap pilihan pekerjaan yang dia pilih dan nggak bergantung sepenuhnya pada laki-laki. Terus, dia nggak mengeluh berkepanjangan tentang asperger yang dialami. Justru dengan segala sumber daya dan keyakinan yang dia punya, dia bersedia untuk memperbaiki kemampuan sosialnya dari orang lain yang ahli. Dia selalu mendengar, dan kalau salah, dia nggak ragu buat minta maaf dan tanya gimana cara yang benar. Mempelajari sindrom asperger dari sudut pandang Stella Lane jadi lebih menyenangkan di mata saya.

“If you can't stand being with a woman who's more successful than you, then leave her alone. She's better off without you. If you actually love her, then know the value of that love and make it a promise. That is the only thing she needs from you.”

Novel ini mengajarkan pada saya pentingnya membangun hubungan melalui consent dan saling memahami kondisi satu sama lain. Menurut saya ini penting, karena penjelasan macam gini kadang masih tabu untuk dibicarakan. Bagaimana seharusnya kita diperlakukan oleh pasangan, bagaimana cara kita membalasnya, apa yang terjadi kalau pasangan memaksa... penting untuk dijadikan pegangan. Harus ada garis batas jelas yang nggak boleh dilewati, karena yang namanya hubungan itu tentang dua pihak. Kalau yang satu dirugikan, takutnya makin menjadi ketika hubungannya semakin serius.


Setahu saya novel ini belum diterjemahkan sama penerbit Indonesia. Kalaupun diterjemahkan, kayaknya bakal masuk kategori 21+ deh, karena banyak adegan steamy spesifik yang bikin kipas-kipas. Tapi eksekusinya bagus, bikin chemistry antara Stella dan Michael terjalin dengan kuat. Oh ya, ketika tadi saya update status baca di Goodreads, baru ngeh lho kalau The Kiss Quotient ini adalah serial. Jadi, kemungkinan kita bakal bisa baca kelanjutan kisah Stella dan Michael! Dan Mei tahun ini, novel lain dari Helen Hoang akan diterbitkan. Judulnya The Bride Test, merepresentasikan orang Vietnam juga. YASSS gimme!

Saturday, 26 January 2019

[Review Buku] One Child: The Story of China's Most Radical Experiment oleh Mei Fong


Many economists, however, agree that China's rapid economic rise had more to do with Beijing's moves to encourage foreign investment and private entrepreneurship than quota on babies.

Bacaan “serius” awal tahun disponsori oleh buku yang sempat bikin heboh bahkan hingga saat ini masih dilarang keberadaannya di China: One Child, The Story of China’s Most Radical Experiment. Sempat ragu untuk membahasnya di blog karena nggak yakin apakah saya bisa menyampaikan esensi dari buku ini secara netral. Tapi, mengingat alasan utama saya membaca buku ini adalah murni sebagai upaya memperluas cakrawala berpikir dan memahami dampak dari keputusan pemerintah mengeluarkan aturan yang membawa perubahan besar… saya akan mencoba untuk kritis dan netral sebisa mungkin (with my current emotional baggage, crowded mind, and all).

Kenapa harus netral? Karena topik yang sangat sensitif ini dibahas dari satu sudut pandang saja. Seorang jurnalis berketurunan Tionghoa yang tidak menetap di China sejak lahir  (hence, dia bukan salah satu yang merasakan langsung dampak aturan ini) melakukan penelitian dan menuliskannya dalam sebuah buku. Sudut pandang pemerintah? Tidak ada pembahasannya. Berdasarkan buku favorit saya sepanjang masa, Factfulness, kadang seorang jurnalis terlalu fokus pada pihak yang tertindas dan mengabaikan pihak yang sejahtera dari berlakunya sebuah aturan. Hal ini tentu menimbulkan pergeseran opini publik, terutama jika yang muncul bagian negatifnya saja. Buku ini dilarang kan keberadaannya? Apa alasan sesungguhnya dari pelarangan ini? Jadi, bisa saya katakan membaca buku ini benar-benar harus dengan kepala dingin dan mental yang stabil.

Sisi terang dari buku ini adalah saya tahu penulis benar-benar terjun ke lapangan (dia dapat penempatan di China oleh kantornya, Wall Street Journal, mulai tahun 2003) dan menyaksikan sendiri dampak dari aturan one child, terutama ketika gempa besar terjadi di Shifang. Meski hanya satu sisi, setidaknya cerita yang saya dapatkan lengkap. Terlebih, argumen-argumennya juga masuk akal, dengan data pendukung yang masih nyambung di otak. Jadi, rasa sangsinya masih di taraf yang wajar.

Problem the one-child policy would lead to: aging, son preference, a vastly diminished work force over time.

Menurut saya yang penting untuk disoroti dari dampak aturan one child ya 3 hal di atas, sih. Dengan alasan mencegah ledakan penduduk, China mewajibkan punya anak satu saja. Benar, beberapa dekade setelah aturan diberlakukan, akan terlihat penurunan jumlah penduduk. Tetapi ketika melihat rasio, akan kelihatan njomplangnya kelompok usia muda dengan usia tua. Kita bakal lebih banyak menjumpai warga usia lanjut di sana. Sedangkan kita tahu, mereka sudah tidak produktif dan justru membutuhkan banyak dana pensiun dan perawatan kesehatan. Bukannya yang diambil itu dari anggaran pemerintah? Atau lebih jelasnya sih, subsidi dari angkatan kerja produktif yang masih muda (yang, balik lagi, rasionya jauh lebih sedikit dari yang usia senja)? Ini bakal jadi PR yang berat bagi anak-anak tunggal di masa depan.

Yang kedua adalah preferensi untuk punya anak laki-laki *sigh*. Penjelasan dari buku ini agak brutal sih, karena faktanya, hanya demi mendapatkan anak laki-laki, warga negara di sana rela menggugurkan janin yang ketahuan perempuan atau bahkan menjual/membunuh/membuang bayi perempuan yang lahir. Pertamanya saya bingung, karena logikanya ya… kalau semua tetangga kalian nanam mangga, kenapa kalian ikut nanam mangga? Kenapa nggak nanam….pisang, misalnya? Kan jelas tuh waktu panen mangga massal, harganya bakal turun. Kita yang punya pohon pisang bakal berjaya. Tetapi kemudian saya sadar kalau di China, punya anak laki-laki berarti nama keluarga dan garis keturunan tidak akan punah. But still…. logika saya benar terjadi di masa sekarang, dimana banyak lelaki bujang kesulitan cari istri karena ketika menikah, calon pengantin perempuan membutuhkan mahar selangit (aturan dasar permintaan dan penawaran). 

Masalah ketiga adalah angkatan kerja masa depan yang menurun drastis, sedangkan China selama ini dikenal sebagai surganya mendirikan pabrik-pabrik bagi perusahaan asing. Sudah kelihatan kok penurunannya. Saat ini para mandor sudah harus nambahin bonus-bonus bagi karyawannya karena makin susah cari pengganti kalau ada karyawan yang rewel. Dari sisi karyawan memang bahagia. Tapi, apa perubahan ke depan yang harus dilakukan pemerintah dan perusahaan untuk menghadapi fenomena ini? Sudah siapkah? Biar… penambahan bonusnya nggak cuma demi mempertahankan karyawan aja gitu lho, tapi benar-benar setiap pihak yang terlibat dapat peningkatan value dari kondisi sebelumnya.


Temuan lain yang menarik bagi saya adalah pembahasan tentang ekspektasi. Sebagai anak satu-satunya, orang tua pasti memastikan si anak mendapatkan segalanya yang terbaik. Bahkan, kakek nenek pun ikut turun tangan. Tetapi, sampai kapan? Ketika kecil memang anak ini seperti punya banyak pelindung. Dua atau tiga puluh tahun kemudian deh… peran mereka bakal ditukar. Si anak bakal jadi tumpuan satu-satunya bagi sesepuhnya. Padahal, si anak juga harus mulai memikirkan masalah menikah dan keturunannya sendiri. Ini sama saja mempersiapkan si anak buat jadi sandwich generation, dengan serangan ganda ke atas karena nggak cuma harus ngurus ayah-ibu tapi juga ditambah kakek-nenek seorang diri.

Ekspektasi dari orang tua untuk menjadi SANGAT SUKSES pun pada akhirnya membuat banyak anak stres dan mengalami tuntutan tinggi dalam hal karir. Mereka harus jadi yang terbaik dari yang terbaik. Mereka jadi nggak punya waktu buat mencoba hal-hal baru dan nggak bisa belajar merasakan kegagalan (ya know what happen to us Asian when we going home with bad gradesSHAME!). Kegagalan nggak dianggap sebagai salah satu bentuk belajar, tetapi sebagai... kegagalan (ha!). Aib keluarga. Bikin rasa percaya diri terjun bebas. Horizon mereka jadi lebih sempit dan terfokus pada satu titik, dan terkadang titik tersebut adalah impian sang orang tua, bukan dari anaknya sendiri.

In that sense, the one-child policy can be judged a huge success, for it changed the mindset of Chinese people.

Masih banyak dampak lain yang terjadi berkat diberlakukannya aturan ini, baik dari sisi ekonomi, politik, hingga hubungan internasional. Saya sampai gedek sendiri lah bacanya. Faith in humanity destroyed, kakaaaa. Pantas sampai dilarang peredarannya di China ya, karena seperti membuka aib kegagalan negara dalam membuat satu aturan paling digadang-gadang dalam sejarah. 


Moral yang saya dapatkan dari buku ini adalah kita harus serahkan perkara bikin aturan ke yang berhak, mengingat aturan one child ini bukan disusun oleh para ahli ekonomi atau demografi atau fi-fi lainnya, melainkan disusun oleh rocket scientists. Banyak dampak langsung dan tidak langsung yang bakal otomatis terjadi macam domino, sehingga pertimbangan ahli tentu lebih meminimalkan risiko. Terus, penting juga buat membaca dengan kepala dingin buku-buku macam gini. Ambil informasi berharga, eliminasi propaganda politik, dan catat dengan baik. Mau gimana pun, pengalaman memang guru paling berharga. Tapi nggak asyik kan kalau masuk ke kelompok yang baper terus koar-koar di medsos padahal kita baru dapat info dari satu pihak saja?

Sekian dulu ulasan buku ini dari saya. Sungguh perjalanan yang terjal sampai akhirnya bisa menamatkan buku ini. Semoga cukup netral dan informatif ya buat kalian. Dan doakan saya bisa konsisten mengulas buku yang saya baca ke depannya. 

Wednesday, 2 January 2019

Menemukan Cinta Baru: Buku Masak dan Hal-hal Baik Tentangnya

Saya mengawali tahun 2019 dengan hobi baru: baca buku masak. Tepatnya, buku masak terbitan luar negeri.


Semua ini berkat Chrissy Teigen yang sukses menarik minat saya ke dunia perbuku-masak-an lewat Cravings dan Cravings: Hungry for More. Meski saya nggak bisa mereplikasi resep-resep luar biasa dia karena miskin keterbatasan biaya buat beli bahan-bahan, saya sangat SANGAT bahagia waktu membolak-balik Cravings 1 dan Cravings 2. Pengikut setia akun Chrissy pasti tahu ya betapa sassy-nya dia dalam mengekspresikan pikiran maupun membalas ejekan para trolls di dunia maya. Nah, kelucuan khas Chrissy terefleksikan dengan baik di buku masaknya, menjadikan bukunya itu nggak serius-serius banget. Memang mulanya banyak orang yang meremehkan niat Chrissy untuk berbagi resep masak gara-gara doi seorang model, yang erat dengan stereotip suka diet dan nggak “kenal” sama masakan enak. Namun, pada akhirnya orang-orang yang recook masakan-masakan dia malah jadi super ketagihan dan menjadikan Cravings 1 dan Cravings 2 sebagai sebuah quest untuk ditaklukkan (mungkin mereka nggak tahu kalau sebelum terkenal si Chrissy itu punya blog masakan berisi resep-resep mudah dan enak dan penuh tips lifehack. Lihat aja dari jumlah keju dan bacon yang dia rekomendasikan. It basically SCREAMS quality).  Interaksinya dengan John Legend yang SUPER PURE juga menjadi nilai lebih yang selalu saya tunggu-tunggu ketika membacanya.

Lama-kelamaan, membolak-balik buku dan majalah masak menjadi terapi tersendiri bagi saya buat menenangkan pikiran. Everything is fine! Here’s a picture of perfectly cooked pasta and grilled cheese as you like! And it comes with instructions!



Nggak peduli kita butuh 3 jenis keju dari 3 negara yang berbeda buat mengeksekusinya. Pura-pura acuh juga kalau buat bikin pasta ini, kita butuh cooking cream yang kalau beli di Superindo harganya bisa lebih dari Rp 30.000 sekotak kecil. Dan, nggak perlu tuh memperhitungkan fakta kalau di rumah, yang doyan makanan kayak beginian cuma saya. Asal ada gambar bagus dan narasi yang menghibur, saya anggap saya butuh buku masak itu.



Hal yang sama juga berlaku buat buku Scoop Adventures: The Best Ice Cream of The 50 States. Apa saya punya mesin es krim? Enggak, mahal banget cuy. Apa saya mau repot-repot pesan bahan es krim super langka yang mungkin cuma bisa didapatkan di Shoppee lewat pre-order dan diimpor khusus dari luar negeri dan harus beli dalam batch besar? No, I don’t have the patience. Apa saya punya kulkas yang kinerja freezer-nya oke? Waduh, kulkas saya yang sekarang aja sudah lama teriak minta diganti. But do all of that facts stop me from reading it, though?


Sebagai pecinta es krim dan gelato sejati, saya semangat banget waktu tahu buku ini adaDi luar sana, seorang yang sangat suka es krim membeli mesin pembuat es krim yang sangat mahal dan berepot-repot melakukan eksperimen berbagai resep es krim yang unik dan lezat. Kerennya, resep yang sudah susah-payah dia sempurnakan itu, dibagikan dengan suka rela di blog yang dia punya. Hingga akhirnya resep-resepnya disatukan dalam buku ini, dengan dibantu banyak pemilik kedai es krim lokal hebat di berbagai daerah penjuru dunia. Buku ini adalah bukti nyata dari konsep sharing is caring.

Mungkin karena saya sudah tahu betapa banyak cinta yang dituangkan dalam menyusun buku ini, membacanya menimbulkan perasaan bahagia yang sudah lama nggak saya rasakan. Semua itu didukung dengan bahasa penyampaiannya yang mudah dipahami, narasi yang sarat dengan informasi berharga seputar es krim, serta foto-fotonya  yang menggugah selera (saya mengapresiasi sekali usaha fotografer untuk mendapatkan foto-foto super keren di buku ini karena memotret es krim tidak mudah dan harus dilakukan S E G E R A setelah di-scoop mengingat es krim buatan rumahan melelehnya cepat). Secara keseluruhan, tiga buku di atas lebih manjur dari buku self-help manapun dalam membangun mood saya di awal tahun 2019.

Ini salah satu kalimat favorit saya dari penulis Scoop Adventures, karena merefleksikan dengan baik seberapa besar cinta saya pada hobi yang saat ini saya tekuni, memasak:

My love of all things ice cream stayed with me as I celebrated many milestones. Through college, marriage, moving across country, and starting my first real job, my passion for ice cream never wavered. My experiments with ice cream continued through it all…. Ice cream kept me grounded and focused on a passion while the rest of life flew by. Do I ever get sick of ice cream, you ask? Well, it is a lot like other things I love—I got sick of it every once in a while, but it is not long before I figure out I cannot live without it.

Dengan caranya tersendiri, buku-buku masak menawarkan pembelajaran penting buat saya, yaitu kita bisa berbagi cinta yang tulus tanpa merasa rugi. Kita membantu orang lain bahagia melalui resep makanan yang akan dia masak dengan tangan mereka sendiri. Atau skenario yang lebih baik lagi, kita menyediakan media bonding bagi mereka dan orang terkasih melalui sebuah kudapan lezat, tanpa perlu pergi ke restoran. The best part, though….we help them with STYLE. 


Saya nggak pernah menyangka bisa mendapatkan penghiburan dari buku masak. Apalagi buku masak luar negeri yang jelas-jelas resepnya nggak bakal saya replikasi. Tapi saya bersyukur karena sudah menemukan mereka, memutuskan untuk membaca mereka, dan bisa menyadari betapa besar dampak mereka ke perluasan perspektif yang sedang saya lakukan. Buku masak benar-benar “buku yang tepat di saat yang tepat” buat saya di tahun 2019. Saya rasa ini merupakan awal yang baik untuk kembali mendalami berbagai genre buku dan membaginya di blog buku yang sempat terabaikan tahun lalu.

Bonus: Salah satu resep dari buku Scoop Adventures. 5/5 stars. Klik gambar untuk melihat dengan jelas.



Monday, 31 December 2018

Menutup 2018

Di pertengahan tahun 2018, saya memulai suatu proyek rahasia. Sebenarnya proyek ini bukan baru banget, karena beberapa kali sebelumnya sudah pernah saya lakukan—cuma ya memang kurang intens saja hehe. Nama proyeknya adalah “Posting Pencapaian Kamu Hari Ini”. Instagram adalah media yang saya pilih. Makanya, kalau kalian follow akun IG saya, kelihatan kalau saya akhir-akhir ini rajin upload. Tipikal anak yang suka ngebut di akhir deadline.

Proyek ini terinspirasi dari #The100DaysProject yang digagas oleh Elle Luna dan Lindsey Jean Thompson. Mereka lebih ke seni lukis gitu. Nah karena saya nggak menekuni seni lukis, maka saya pilih Pencapaian saja. Anything, lah. Dan kenapa saya nggak ikut sekalian 100 hari intens? Karena saya nggak se-masokis itu sama diri sendiri LOL. Saya cukup tahu sama kapasitas diri, sejauh mana saya bisa maksa diri untuk melakukan sesuatu. Sebagai gantinya, saya tetapkan waktu selesainya di akhir tahun 2018.

Tujuan sebenarnya dari proyek ini tentu bukanlah buat pamer. Saya cukup sadar kalau followers saya sangat sedikit. Lagian, pencapaian saya bukan sesuatu yang WAH banget. Saya hanya ingin membuktikan sama diri sendiri, “Ini lho…kamu bisa berkarya. Minggu lalu, dua hari lalu, dan kemarin, kamu sudah sukses berkarya. Jangan potong rantai progress kamu hari ini!” 


Mungkin belum banyak yang tahu ya, tapi sejak pertengahan tahun 2018, saya mengalami kejadian yang sangat membuat terpukul. Semua semangat dalam hidup berasa tercabut sampai ke akarnya. Sulit sekali untuk memulai hari, padahal bagi saya pagi adalah cerminan kinerja saya sepanjang hari. Ketika pagi loyo, bisa ditebak seharian bakal males-malesan. Hasilnya? Berminggu-minggu saya cuma ngendon di kamar sambil meratapi nasib. Hingga akhirnya saya berpikir, enough is enough. Saya nggak bisa membuang waktu yang sangat berharga ini… di periode yang paling penting pada masa S2 ini… dengan berlarut dalam kesedihan. Hence, I started this awesome project.


Saya baru sadar saya itu jenius ketika saya memilih tema Pencapaian ini. Begini… untuk bisa mencapai sesuatu, kita biasanya memulai hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Untuk memulai itu, diperlukan rasa percaya diri dan bekal riset yang banyak (saya bukan tipe yang asal nyemplung ketika mau melakukan suatu hal). Dengan kata lain, beberapa bulan ini secara intens saya telah memaksa diri saya sendiri untuk keluar dari zona nyaman. Saya nggak cuma bangkit dari keterpurukan. Saya berlatih untuk maju ke depan.

Dan tahu nggak dari semua pencapaian, apa yang paling saya tekuni? Memasak.

Kenapa memasak? Karena saya lemah di bidang ini. Saya itu tipe yang nggak bisa sedep kalau masak. Kalau baca resep dan nemu kata-kata “garam secukupnya” atau “sesuai selera”, pasti langsung mutung. Saya juga kalau nyuguhi teh ke tamu itu pasti kalau enggak kelewat manis ya kelewat sepet. Pokoknya selalu ada sensasi kayak ada yang ninggal di tenggorokan gitu lah. Dengan adanya proyek ini, saya bertekad untuk belajar habis-habisan tentang teknik memasak. Untung ya sudah banyak banget media berbagi di internet, dari mulai Cookpad hingga Youtube. Kalau kuota lagi cekak, buka Cookpad. Kalau lagi di kos temen atau kafe yang wifi-nya kenceng, langsung borong download tutorial masak di Youtube. Sifat oportunis saya beneran keluar maksimal demi bikin proyek ini sukses (PS: bisa dilihat kemajuan saya di bidang per-teh-an di postingan ini).


Saya cukup bangga di penghujung tahun 2018 (akhir periode yang saya tentukan), saya masih konsisten untuk melakukan proyek Posting Pencapaian. Memang kalau bagi yang follow saya, cukup bikin kesel ya kok banyak foto masakan berterbaran. I know this is not what you signed up for when you clicked that Follow button. Tapi percayalah, saya nggak berharap like dari kalian kok. Saya juga nggak sedih kalau kalian nge-skip fotonya. Saya hanya butuh media untuk terus memotivasi. Dan sejauh ini, Instagram works wonder! Jadi saya mohon, abaikan saja kalau ada foto masakan saya nampang. 

Dari kolase di Instagram, saya bisa melihat secara nyata betapa banyak progress yang saya alami. Yang kelihatan di sana mungkin cuma “Wah, Sany bisa bikin banyak masakan juga ya.” Tapi dari lubuk hati terdalam, diri saya yang pertengahan tahun lalu lembek macam kentang tumbuk sadar, kalau 6 bulan ini saya belajar banyak pengetahuan soal bahan dan teknik masak, beli investasi berbagai alat masak dan bumbu-bumbu yang belum pernah dipakai sebelumnya, serta interaksi sama banyak ahli masakmulai dari Ibu temen sampai para Ibu-ibu hits pemilik akun masak saya ajak ngobrol. I did something beside crying. I did a lot of things, actually. Dan itulah tujuan sesungguhnya dari proyek ini. Untuk menyadarkan diri kalau saya bisa survive melewati tragedi besar dalam hidup melalui hal-hal kecil nan positif yang saya lakukan untuk diri sendiri. I cooked at my sad days, I cooked at my happy days, and I ordered GoFood on my stressful-thesis-deadline days. I always made sure my belly is full with delicious goodness, no matter how shattered my heart was. That was how I supported my own self.


Tentu ada yang dikorbankan. Karena waktu senggang teralihkan untuk nonton video tutorial dan baca artikel self-help di Medium (because, you know, I needed help), proyek baca saya jadi keteteran. Goodreads nggak ke-update, blog nggak keurus, novel baru yang tahun lalu ditunggu-tunggu rilis pun nggak kepegang. Tapi itu yang dinamakan hidup ya…kita bertumbuh dan berprogres. Penurunan angka baca di Goodreads tidak mempresentasikan penurunan kualitas hidup saya. Bahkan, banyak yang merasa tahun ini saya mengalami peningkatan kualitas hidup yang super pesat. Saya jadi tahu bagaimana rasanya dikhianati, saya jadi tahu siapa yang teman siapa yang hilang, saya jadi bisa mengenal diri sendiri secara lebih mendalam, dan yang paling penting…saya tahu saya bisa bangkit ketika dibuat jatuh. 2018 grows me through pains and struggles, and for that I’m forevel grateful.

Terima kasih 2018 buat pembelajaran yang sangat berharga. Saya siap menyambut 2019 dengan proyek-proyek hebat berikutnya.

Friday, 28 December 2018

[Review Singkat] Turtles All the Way Down


Target baca novel tahun ini keteteran banget. Saya cuma sempat baca beberapa. Apa aja-nya sih...saya lupa (RIP akun Goodreads yang nggak pernah diperbarui). Makanya, untuk mengobati rasa bersalah di penghujung tahun ini, kemarin saya baca novelnya John Green yang paling anyar... Turtles All the Way Down (TATWD). Saya sengaja pilih ini karena John Green adalah penulis favorit putri Bill Gates, Phoebe. Novel ini masuk dalam rekomendasi tahunan Bill Gates di websitenya, gatesnotes.com tahun lalu. Dan karena saya sudah bertekad mau mengikuti jejak baca Bill Gates, saya pikir, why not

"I've read a couple of John's books and enjoyed each one, and his latest is no exception. Turtles All the Way Down tells a story of Aza Holmes, a high school student from Indianapolis. When a local billionaire goes missing and a $100,000 reward is offered for information about his disappearance, she and her best friend decide to track him down."

Lucu mungkin ya bagi Bill Gates membaca buku tentang perasaan anak seorang milyuner yang hidup dalam bayang-bayang identitas ayahnya. Bahkan dia sempat bercanda, "While I hope I'm nothing like the morally bankrupt Russellhe wants to give all of his money to his pet lizard and was under investigation for fraud and bribery—I think my own kids can relate to some of Davis' experiences." Jadi makin semangat deh untuk membaca novel ini; untuk tahu gimana rasanya jadi Phoebe Gates. OK.

Permulaan cerita berjalan mulus. Bahkan saya sempat tertawa berkali-kali. Humor cerdas khas John Green terasa kental sekali dalam tokoh Aza. Tapi, semakin lama, alurnya mulai melambat. Deskripsi John Green tentang OCD yang dialami Aza juga mulai membuat saya nggak nyaman karena? Saya sedikit bisa relate

Tapi overall, saya cukup menikmati novel ini sebagai selingan segar di antara banyak biografi dan buku psikologi yang saya baca tahun ini. Tidak se-memorable Looking for Alaska, I might say. Cuma saya sangat menghargai karya TATWD lebih pada…novel ini merupakan bukti nyata kesuksesan John Green untuk keluar dari bayang-bayang kespektakuleran The Fault in Our Stars. Terus berkarya, Mr. Green!


Saya membaca novel ini dalam dua format: ebook dan audiobook. Menurut saya narator audiobooknya bagus. Cuma ya nggak yang spektakuler gitu. Kadang saya bosan sama cara dia membawakan cerita. Tapi, karena saya akhir-akhir ini lagi hobi jadi bibik (nyuci piring, ngelap kaca, ngepel), versi audiobook ini sangat membantu saya biar kerjanya nggak sambil bengong. Paling nggak bisa saya kalau otak nganggur. Bisa ngelantur kemana-mana nanti. Jadi ya, saya cukup merekomendasikan versi audiobooknya. 

Thursday, 13 December 2018

India dari Sudut Pandang The Economist

Minggu ini saya tergugah dengan salah satu artikel dari The Economist. Dari semua isu penting yang dibahas (Brexit, Presiden Perancis vs Yellow Vest, USA, satelit, dan lain-lain), saya justru penasaran dengan pembahasan singkat tentang masalah yang sedang dialami India. 

Ok u got my attention, sir.

Yep, India sedang menderita karena polusi.