Friday, 19 April 2019

[Review Buku] An Anonymous Girl oleh Greer Hendricks & Sarah Pekkanen

Di ulasan Little Fires Everywhere, untuk pertama kalinya saya memakai buku catatan dengan loose leaf polos. Rupanya, saya nggak bisa bikin catatan yang “lurus” seperti ketika pakai buku catatan polos berjilid. Tulisan saya di situ pun jadi acak-acakan dan paragrafnya naik-naik ke puncak gunung. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk beli loose leaf dengan pola titik-titik (dotted) dan kotak-kotak (grid) untuk membantu saya nulis lurus tanpa mendistraksi mata dari garis yang dibuat oleh pabrik. Ini bukan semata pembelian impulsif di atas jam 12 malam sih, karena sesungguhnya paling nggak bisa saya tuh pakai loose leaf bergaris yang umum dijual di toko. Garisnya terlalu tebal sehingga tintanya bakal balapan sama tinta pulpen saya. Kesimpulannya, g o o d b y e money.


Paket datang tepat sebelum saya berangkat menginap beberapa hari di rumah teman, sehingga saya cuma punya sedikit waktu buat ambil foto. Cukup kaget sama ukurannya yang segede kotak sepatu. Pikir saya, pantas saja mahal… karena ternyata kertasnya tebaaaaal dan saya pesannya banyaaaaak (harus beli minimal 5 barang biar bisa bebas dari ongkos kirim uhuk). Ketebalan lembaran loose leaf yang dua kali lipat dari yang biasa kita beli di toko dikarenakan fungsi sesungguhnya bukan buat nulis catatan biasa, tapi untuk brush lettering. Wow, secara tidak sadar saya naik kelas dari tukang nulis sembarangan menjadi insan a e s t h e t I c. 

Uang saya nggak sia-sia sih, karena terjadi perbaikan mencengangkan pada catatan saya untuk novel yang minggu ini saya baca: An Anonymous Girl.


Can we appreciate this beauties~

An Anonymous Girl merupakan novel thriller yang direkomendasikan Goodreads, menempati peringkat kedua setelah The Silent Patient. Alasan saya lebih pilih ini adalah tagline mereka yang bilang kalau novel ini “psikologi” banget. Cocok sama saya yang lagi mendalami ilmu ini. Hitung-hitung, cari ilmu dan hiburan sekaligus gitu. Saya memang sepertinya sedang jengah sama nonfiksi yang membutuhkan banyak konsentrasi dan ruang ingat.


Novel ini bercerita tentang Jessica, seorang MUA yang tertarik untuk berpartisipasi dalam penelitian seorang psikiater di New York, Dr. Shields, mengenai etika dan moralitas. Jessica bersedia untuk menjadi subjek wawancara—dia dapat info ini dari hasil curi dengar percakapan telepon klien riasnya—karena sedang membutuhkan uang untuk pengobatan adiknya. Bayaran yang diberikan oleh Dr. Shields tidak main-main, 500 USD sekali datang (jadi malu yang kemarin cuma ngasih gelas ke responden). Jessica tidak sadar, dengan mengintervensi penelitian ini, dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya membuka kenangan menyakitkan, yang kemudian akan menariknya dalam intrik kehidupan keluarga Dr. Shields yang berbahaya.

Menurut saya, ada dua plot twist besar di novel ini. Yang pertama: Dr. Shields adalah seorang perempuan. Reaksi saya terwakili dengan baik dengan pemikiran Jessica berikut:

I don’t know why I assumed she was male. Thinking back, I realize Ben only called her “Dr. Shields.” The way I incorrectly pictured her probably says something about me.

Kenapa ya kita secara otomatis menganggap mayoritas orang-orang yang pintar dan sukses itu laki-laki—kecuali kalau memang sejak awal secara spesifik subjek yang dipakai adalah “she” dan bukannya “he”? Dengan banyaknya buku feminis dan memoir perempuan-perempuan sukses di dunia yang sudah saya baca, saya kira saya tidak akan terjebak dalam plot twist ini. Rupanya tidak juga. Padahal, sampul bukunya juga jelas-jelas menampilkan foto dua perempuan. Bukti kalau saya masih perlu banyak belajar untuk mengkoreksi pola pikir yang masih suka kebawa arus stereotip gender.

Plot twist kedua adalah tujuan utama Dr. Shields melakukan penelitian ini. Alasan Dr. Shields melakukan penelitian mengenai etika dan moral adalah untuk membuktikan apakah sifat tidak setia yang dimiliki suaminya merupakan sesuatu yang terjadi satu kali saja atau memiliki kemungkinan untuk terulang. Dengan kata lain, Dr. Shields menggunakan ilmu pengetahuan untuk menebak pola perilaku perselingkuhan suaminya sendiri. Pada akhirnya, terdapat dua pertanyaan yang ingin dijawab oleh Dr. Shields: (1) Haruskah hukuman yang diterima Thomas sepadan dengan kesalahan yang dia lakukan? dan (2) Apakah korban punya hak untuk menentukan pertanggungjawaban yang layak diterima pelaku?

…an affair shatters a relationship, leaving the betrayed to grapple with feelings of rage and pain. Forgiveness is not always possible, forgetting is unrealistic.

GUYS! Guuuuyyyyssss! Jangan pernah macam-macam sama seorang intelektual kalau kalian nggak mau punya nasib seperti suami Dr. Shields, Thomas. Novel ini benar-benar membuka mata saya kalau kalian berani cari gara-gara sama seseorang macam Dr. Shields, pembalasan yang kalian terima akan sangat terencana, menyakitkan, dan nyaris tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Mereka dapat memanipulasi pembenaran yang sangat meyakinkan dan memiliki banyak akses untuk mewujudkan rencananya.


Saya harus menekankan di sini kalau tindakan Dr. Shields tidak bisa diterima, baik sebagai seorang profesional maupun sebagai istri. Namun, sifat buruknya muncul akibat perlakuan suaminya. Sayang rasanya melihat seorang yang begitu brilian harus “rusak” karena tindakan seseorang yang egois. 

Every lifetime contains pivot points—sometimes flukes of destiny, sometimes seemingly preordained—that shape and eventually cement one’s path.
These moments, as unique to each individual as strands of DNA, can at their best cause the sensation of a catapult into the shimmer of stars. At the opposite extreme, they can feel like a descent into quicksand.

Sejujurnya, hampir semua tokoh di novel ini nggak ada yang beres sih (kecuali Noah). Jessica yang di sini tampak sebagai korban di antara hubungan Dr. Shields dan Thomas pun sebenarnya sangat problematic karena (a) dia diam-diam mendengarkan ulang pesan suara dari ponsel klien MUA-nya, Taylor, dan (b) dia mengaku sebagai “Taylor” ketika kenalan dengan Noah. Jessica melakukan itu semua tanpa perasaan bersalah sedikit pun, bikin saya curiga jangan-jangan dia sosiopat. Nggak kaget, sih, ketika Jessica mengakui perbuatannya ke Taylor demi mendapat informasi tentang orang yang pertama menawarkan 500 USD tersebut, si Taylor langsung cemas dan melangkah mundur sedikit demi sedikit. You’re rather scary, sis

Begitulah ulasan suka-suka dari saya. Setelah membaca dari awal sampai akhir, saya bisa membenarkan sih kalau novel ini memang psikologi banget, khususnya bagian bab Dr. Shields. Tetapi ya novel ini menurut saya b aja, dengan akhir cerita yang dipaksakan. Agak melebih-lebihkan kalau novel ini masuk genre thriller, karena nggak bikin deg-degan juga. Pelajaran yang bisa saya ambil dari tragedi di novel ini cuma: kalian boleh kok pakai behavioral science untuk menebak pola perilaku seseorang (khususnya yang menyakiti kita), tapi mbok ya jangan dijadikan penelitian beneran gitu .-.

Yeah, funeral to your career.

Saturday, 6 April 2019

[Review Buku] Little Fires Everywhere oleh Celeste Ng


Saat ini saya sedang membaca nonfiksi Why We Sleep, sebuah kumpulan informasi mengenai manfaat tidur berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis selama 20 tahun terakhir. Meskipun buku tersebut menarik dan penuh ilmu, di pertengahan saya merasa lelah dan memutuskan untuk mencari hiburan dengan membaca sebuah novel: Little Fires Everywhere. Yang lucu, bukannya terhibur, saya malah kerja gara-gara novel ini. Ketika mencapai halaman sekian, saya menyambar pulpen dan kertas buat mencatat semua hal yang terpikirkan oleh otak. W H YCan we just… take a p e a c e f u l break???


Novel ini sudah diterjemahkan oleh Penerbit Spring tahun lalu, membuat saya sadar kalau saya itu ketinggalan banyak ya waktu vakum tesis kemarin. Penulisnya Celeste Ng, yang sudah sering saya dengar dari banyak Booktuber dan sering lihat tweet dia wara-wiri di linimasa. Secara singkat, Little Fires Everywhere menceritakan tentang terganggunya kedamaian dan keteraturan warga Shaker Heights—sebuah kawasan elit di Cleveland—yang diakibatkan oleh dua skandal besar: kebakaran yang terjadi di rumah Mrs. Richardson dan perebutan hak asuh Mirabelle McCullough oleh keluarga McCullough dan ibu kandungnya. Apakah kedua hal ini berkaitan?

Kalau kalian mengharapkan cerita misteri dengan ketegangan yang menjadi-jadi di setiap halamannya, sepertinya novel ini kurang sesuai untuk kalian. Saya merasa novel ini lebih ke YA atau NA (tergantung pada sudut pandang pembaca), karena penulis sangat berfokus pada pembangunan karakter-karakter dan interaksinya satu sama lain sehingga tidak begitu memedulikan soal pemecahan misteri kebakaran yang terjadi. Melalui alurnya yang cenderung lambat, pembaca akan diajak untuk mengenal setiap karakter lengkap dengan problematikanya masing-masing, dari mulai para remaja (Pearl, Lexy, Moody, Trip) hingga orang dewasa (Mia Warren, Mr. dan Mrs. Richardson, Mr. dan Mrs. McCullough, Bebe). Penggambarannya yang utuh membuat saya memiliki keterikatan emosional yang cukup erat dengan mereka, hal yang jarang terjadi ketika membaca literatur fiksi. 

Yang sangat mengagumkan adalah kemampuan penulis untuk menabrakkan kehidupan Mrs. Richardson dengan Mia Warren—dua sosok ibu yang sangat bertolak belakang—melalui anak-anak mereka dan skandal bayi Mirabelle. Dari sini pembaca akan terombang-ambing untuk mendukung kubu yang mana. Bahkan saya, yang sejak awal pro kubu Mrs. Richardson, pada akhirnya bisa melihat sudut pandang Mia dengan baik (yah meskipun ada satu tindakannya yang nggak bisa saya terima).

Bagian yang saya sukai adalah kilas balik kehidupan Mia. Penulis jelas melakukan riset yang sangat baik tentang fotografi dan sekolah seni karena latar dan aura masa lalu Mia bisa saya bayangkan dengan jelas. Perjalanan panjang Mia untuk menjadi fotografer profesional pun terjabarkan dengan sangat keren. Saya—dengan dua sel otak tersisa yang bebal ini—berhasil menangkap pesan dari lika-liku kehidupan Mia bahwa profesionalitas didapat dari kerja keras, mengorbankan uang yang tidak sedikit (mahasiswa seni pasti ngerti), dan kalau kurang beruntung seperti Mia, perjalanan kita akan sangat sepi karena orang-orang di sekitar kita nggak ada yang mengerti dan peduli. “Keunikan” dan “bakat” nggak jatuh begitu saja dari langit. Dan ketika kita bekerja sangat keras, Tuhan akan memberikan karunia-Nya dalam bentuk orang-orang yang tepat dalam mendukung dan menuntun pertumbuhan proses kita. Momen saat Mr. Wilkinson dan Pauline muncul, saya senyum-senyum sendiri. Khususnya Pauline. Saya sangat menyukai metode mengajar yang dia berikan ke mahasiswanya. 

Over the next few classes Pauline treated Mia just like any other student. They learned to wind film into the camera, how to compose a photo, how to calculate the proper aperture and width. All of this Mia knew already, from Mr. Wilkinson’s tutelage and her own experimentations over the years. As Pauline explained it, however, her intuitive feelings about how to shape her shots became more conscious. She learned to articulate her reasons for choosing a specific f-stop, to not only find the settings that made it look right but to explain why it looked right that specific way.

Menurut saya itulah inti dari proses mendidik: kita tidak ingin mengkloning diri kita (persepsi diri, sudut pandang, dll) ke mahasiswa, melainkan menambah wawasan mereka sehingga mereka mampu memilih keputusan hidup dengan lebih bijak dan bertanggung jawab. Yang dimaksud Pauline dengan bertanggung jawab adalah untuk Mia mampu mengartikulasikan alasannya memilih suatu hal dengan baik, tidak sekadar “Ya memang pasnya kayak gitu, Prof,” atau alasan murah lainnya. Berbakat bukan berarti bergantung sepenuhnya pada intuisi.

Before, Mia had taken photographs by feel, relying on instinct to tell her what was right and what was wrong. Pauline challenged her to be intentional, to plan her work, to make a statement in each photograph, no matter how straightforward the photo might seem. “Nothing is an accident,” Pauline would say, again and again.

Mrs. Richardson juga mendapatkan porsi kilas baliknya sendiri, tapi anehnya saya nggak begitu peduli hehe. Mungkin karena nggak ada pembelajaran berarti yang bisa saya dapat dari sana. Namun, kilas balik dari Mrs. Richardson mampu membuat saya lebih paham kenapa dia begitu keras sama Bebe (ibu kandung bayi Mirabelle). Bagi Mrs. Richardson, tugas seorang ibu adalah berkorban demi kebahagiaan anak. Mrs. Richardson merasa Bebe mengorbankan hal yang salah ketika dia meninggalkan bayi Mirabelle hingga sekarat sebelum akhirnya ditemukan para pemadam kebakaran. Bebe tidak layak diberikan kesempatan kedua, karena dengan dikabulkannya tuntutan Bebe, bayi Mirabelle akan kehilangan selimut keamanan yang selama ini disediakan keluarga McCullough. Inilah yang membuat saya tetap satu kubu dengan Mrs. Richardson, meskipun sudah disodori kilas balik Mia yang begitu memukau disertai argumen-argumen meyakinkan dari pengacara Bebe. Menurut saya, Bebe tidak layak untuk mengasuh bayi Mirabelle. There, I said it. And I'm gonna say it again: Bebe is not a good mother. So you must understand that her decision at the end of book made me LIVID. My blood was BOILING.


Karena itulah, bagi saya pribadi, Little Fires Everywhere masuk ke kategori NA. Saya lebih menyoroti konflik yang dimiliki oleh tokoh-tokoh dewasa yang ada di dalamnya dibandingkan tokoh-tokoh remajanya. Tentu saya bersimpati dengan keputusan Lexie, namun semua perasaan saya sudah disampaikan dengan baik oleh Mia:

“You’ll always be sad about this,” Mia said softly. “But it doesn’t mean you made the wrong choice. It’s just something that you have to carry.”

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Little Fires Everywhere bukanlah cerita misteri yang menegangkan. Saya bahkan sampai lupa buat mikirin siapa pelaku yang membakar rumah Mrs. Richardson. Tapi kalau memang Izzy yang melakukannya (seperti yang  diprediksi para tokoh sejak Bab 1), berarti pelajaran moral yang bisa dipetik di sini adalah: nggak usah sok-sokan ngasih kata-kata bijak penuh metafora ke ABG labil, karena sebelum Mia pergi, hal terakhir yang dia sampaikan ke Izzy adalah:

“Sometimes, just when you think everything’s gone, you find a way.” Mia racked her mind for an explanation. “Like after a prairie fire. I saw one, years ago, when we were in Nebraska. It seems like the end of the world. The earth is all scorched and black and everything green is gone. But after the burning the soil is richer, and new things can grow.” She held Izzy at arm’s length, wiped her cheek with a fingertip, smoothed her hair one last time. “People are like that, too, you know. They start over. They find a way.”

 
*Tepok jidat kalau Izzy beneran ngebakar rumah keluarganya sendiri karena menelan mentah-mentah metafora Mia*

Tuesday, 2 April 2019

Book Haul 2019 (Mudah dan Murah Beli Buku Impor Tanpa Kartu Kredit)

Perasaan paling indah adalah menyambut abang paket yang mengantarkan pesanan buku yang sudah lama diorder. Butuh 20 hari-an bagi paket ini untuk sampai di rumah saya, karena perlu melalui proses impor dari penerbit negara asal. 


Untuk urusan beli buku impor, saya lebih suka beli di Periplus.com. Alasan utama sih harganya jauh lebih murah dari buku-buku impor di Toko Gunung Agung mall kota saya. Sisi negatifnya, dikirimnya agak lama karena tidak semua judul tersedia di gudang mereka. Buat saya nggak masalah, karena biasanya beli di sini ketika lagi menyelesaikan timbunan yang segunung. Pintar-pintar saja mengatur waktu “butuh”-nya (btw, saya saat ini lagi baca Why We Sleep sama Talking to My Daughter About the Economy. Tamatnya mundur dari perkiraan karena materi yang ada lumayan berat dan harus benar-benar diresapi. Makanya saya nggak rewel ke Periplus hehe).


Dua buku yang sudah lama menjadi wishlist sudah di tangan. Keduanya adalah hadiah kelulusan dari keluarga dalam bentuk vocer. Yang berarti, saya boleh milih judul apa pun asalkan nggak lebih dari dua. Perusahaan pengiriman yang saya pilih adalah SAP karena, you guessed it, ongkosnya paling murah. Pihak SAP mengantarkan paket saya dalam kondisi yang sangat baik, bahkan kardus Periplusnya masih kotak sempurna tanpa penyok sedikit pun. Buku yang ada di dalamnya mulus sekali, lebih mulus dari yang dipajang di rak buku.


Pilihan pertama saya adalah Ego is the Enemy dari Ryan Holiday. Saya! Ngefans! Banget! Sama! Dia! Tahu Ryan Holiday awalnya dari Medium, karena dia aktif banget membagikan tips untuk mengingat isi buku yang kita baca dan cara menulis artikel yang baik. Kemudian saya ikut daftar newsletter yang dia kirimkan tiap bulan, dimana dia membagikan daftar semua buku yang dia baca bulan itu dan buku bagus apa saja yang dia rekomendasikan. Nggak pernah kecewa sama newsletter dari dia. Kerennya, dengan pengetahuan sebanyak yang dia miliki, hal yang paling dia takutkan adalah ego. Di buku ini dia panjang lebar menjelaskan kenapa ego adalah hal yang harus kita kalahkan demi menjalani kehidupan penuh percaya diri dan bahagia. Being snobby is not cool, no matter how amazingly great you are. Gimana nggak makin ngefans coba sama Ryan Holiday? Senang akhirnya bisa beli buku dia satu per satu dan mendukungnya untuk terus berkarya. (Psssttt! Buku ini adalah buku favorit Tatjana Saphira, lho!).


Buku kedua adalah Whole Again. Saya memilih buku ini karena menurut saya, keterampilan untuk bangkit dari keterpurukan adalah hal yang harus dikuasai semua orang. Selain itu, dari semua buku self-help soal abuse yang saya baca preview-nya, yang paling sesuai dengan pola pikir saya adalah tulisan Jackson MacKenzie ini. Saya harap buku ini bisa memberikan pencerahan ke saya soal masalah yang masih sering terabaikan oleh remaja-remaja di sepenjuru dunia, emotional abuse, dan cara menghadapi serta menyembuhkannya. 


Itulah dua buku yang bakal menemani saya untuk beberapa minggu ke depan. Dua-duanya menyangkut psikologi, bidang yang lagi saya dalami secara serius. Saya sudah menyiapkan pulpen warna-warni dan post-it beraneka rupa untuk “menghancurkan” buku-buku ini. Wish me luck!

[Sany, the most organized person 2019]

Kalau kamu, lagi baca buku apa?

Sunday, 31 March 2019

A Walk Through My Precious Journals + Bonus

Sebagai seseorang yang suka nulis apa yang saya baca di buku catatan—I learned the hard way you can’t rely on your memory only when you read various of books and articles at daily basis—saya nggak pernah beli buku catatan. Pemikiran ini muncul setelah buku catatan saya sudah terisi sampai halaman paling belakang dan…. now what? Ya karena saya nggak punya pengalaman beli buku catatan kayak gini. Nggak tahu harus ke mana, sedia uang berapa, cari yang kayak apa. Buku catatan yang saya punya dan pakai selama ini adalah hadiah dari teman-teman.


Yang pertama adalah buku catatan Miniso hadiah dari teman kuliah, Mbak Ajeng. Ukurannya lebih kecil dari semua buku catatan yang saya punya. Kalau saya yang datang ke Miniso-nya sendiri, buku catatan kayak gini kelirik pun enggak. Tapi ternyata—saya sendiri pun kaget—saya sangat suka sama betapa enteng dan mudah buku catatan ini buat diselipkan di tas yang penuh kertas dan laptop. Di halaman-halaman awal isinya masih campur-campur, kebanyakan tentang artikel Medium dan buku yang saat itu saya baca. Semakin ke belakang, saya semakin sering menuliskan pemikiran saya tentang tema tesis yang saat itu nggak lebih dari angan-angan. Masih belum tahu cara penelitian, cara olah data, dan apa yang mau ditulis di Ms. Word. Segala teori dan potongan-potongan informasi berharga saya tulis dengan teliti, meskipun dengan tulisan acak-acakan. Modal yakin aja lah kalau suatu saat mereka bakal berguna. Lambat laun, potongan-potongan ide tersebut bermanifestasi menjadi sesuatu yang utuh dan siap diketik dengan gaya saya. Nggak perlu repot buka-buka jurnal lagi, karena dulu sudah repot-repot nulis manual dan disatukan di satu buku. You chose your battle, there’s no easy shortcut. Keberhasilan saya nulis tesis yang niat adalah berkat buku catatan ini.

Oke sebelum saya simpan buku catatan ini di kardus khusus tesis (biar kamar nggak penuh), mari kita abadikan apa saja sih yang ada di dalamnya.

Halaman paling depan khusus untuk untuk post-it "ide besar" yang dijadikan patokan arah tesis ini mau dibawa ke mana. Ada juga quotes dan penyemangat dari Mbak Arin yang mengandung ~typo~ tapi ku cuma bisa mringis karena.... I love her. I love her enough to NOT ruin her beautiful handwriting.


Selanjutnya adalah saksi kegalauan saya di awal penelitian untuk memilih alat ukur analisis. Banyak teori dan kelebihan kekurangan memakai alat X, Y, Z, dll, dst. Untuk yakin mau memilih alat yang mana, saya harus baca banyak jurnal internasional berindeks SCOPUS dan beneran bertapa. Pembelajaran yang saya dapatkan di masa-masa ini adalah semua berasal dari ide kecil yang muncul di saat-saat tidak terduga. Selalu sedia pulpen dan buku catatan biar ide bagus nggak hilang gara-gara pikun.



Nah bisa dilihat saya sudah mulai terlihat terdistraksi sama hal-hal yang nggak ada kaitannya sama tesis. Malah baca bukunya Stephen Hawking dan mencatat pidatonya. Tapi berkat catatan ini saya bisa jawab pertanyaan temen saya yang masih ragu "Beneran nggak sih bumi itu bulat?" [SPOILER: friendship is over]. Pidato Stephen Hawking juga sangat memotivasi saya yang saat itu lagi di titik motivasi terendah karena belum nemu salah satu komponen yang tepat buat tesis saya.



Terus saya mulai mengenal Medium. Sudah dalam taraf kesetanan sih pas inget berapa waktu yang saya habiskan buat baca artikel-artikel di sana. Ya gimana, saya menemukan tempat berkumpulnya orang-orang pinter yang sukarela berbagi ilmunya. Dapat banyak banget inspirasi dan pemikiran baru berkat Medium.


Terakhir adalah catatan ketika datang ke sesi kuliah dari keynote speaker konferensi internasional yang diadakan kampus. Untuk bisa datang ke kuliah ini sebenarnya harus bayar $$$$$$$, tapi karena saya waktu itu jadi LO dan MC, makanya bisa dapat free access.



Lanjut ke catatan kedua, yang saya pakai untuk mencatat SEMUA hal menarik dari apa yang saya baca. Buku ini adalah hadiah dari Astri dan keren banget, ada jaketnya. Tapi saya lebih suka bawa buku ini kemana-mana naked, karena lebih praktis dan enteng. Halamannya tidak bergaris, dan inilah yang membuka mata saya tentang seni mind-map dalam membuat catatan. Saya berhasil menemukan gaya saya sendiri dalam mencatat: penuh warna dari pulpen dan highlight serta dengan penempatan paragraf suka-suka. Siapa peduli soal kerapihan? Yang penting saya bisa menemukan informasi saat diperlukan. Saya yang dulu benci mind-map, sekarang malah mengaplikasikannya dalam catatan sehari-hari.








Dua buku catatan di atas menampol pola pikir jadul saya soal kesempurnaan: nggak perlu menyiksa diri gara-gara cari ukuran buku paling pas dan cara nulis catatan paling pas. Nih saya pakai dua buku catatan antimainstream di dua kegiatan penting dalam hidup dan semua baik-baik saja. Dunia masih terus berputar dan tugas berhasil diselesaikan. Pemikiran ini pada akhirnya saya aplikasikan ketika mencari buku catatan selanjutnya. Saya berencana untuk memakai loose leaf yang isinya masih utuh karena saya beli di minggu-minggu terakhir kuliah dan memakai ulang binder kuliah saya. Jadi, buat buku catatan ke depan saya nggak perlu keluar biaya sama sekali. (S E E! Periode ini pun secara teknis saya nggak beli buku catatan secara sadar, yang membutuhkan proses milih-milih dan bingung dan akhirnya beli tapi agak nggak puas. Is it a blessing or a curse???).

[Tepuk tangan buat diri saya di masa lalu karena sudah foreshadowing kalau saya bakal lebih suka mencatat di loose leaf polos sehingga 100 halaman ini bisa terpakai. Uang yang awalnya dianggarkan buat beli buku catatan bisa dialokasikan ke kebutuhan lain.]


I saved the best for the last, everybody. That is not the end. Masih ingat betapa teman-teman saya memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam bentuk buku catatan? ADA YANG LEBIH EXTRA, karena orang ini ngasih saya iPad. I wish I was kidding...

*wipe tears* i lov my frens. 

Dari mulai merek, ukuran, dan segala detailnya... persis sama impian saya yang dari kemarin berdarah-darah nabung buat beli sendiri dan sudah berkali-kali ke tokonya buat nyobain tapi ternyata harus bayar uang kuliah sebagai syarat sidang (meskipun ujung-ujungnya dapat pengembalian 100% beberapa bulan setelahnya). Makanya saya kaget campur bahagia sama surprise dia. Setiap saya memakai iPad ini, saya selalu berdoa biar ilmu yang saya serap juga menjadi berkah bagi teman saya itu. Sungguh karunia dari Allah begitu besar, saya selalu didekatkan sama orang-orang yang memudahkan proses belajar saya. Selama proses membaca (entah fiksi atau nonfiksi), ada perasaan dipukpuk dan dipeluk virtual sama teman-teman saya, sehingga mau nggak mau saya jadi super semangat menambah ilmu setiap hari. Lulus kuliah bukan berarti berhenti belajar, kan?

Wednesday, 27 March 2019

[Review Buku] Hunger: A Memoir of (My) Body oleh Roxane Gay


Ini adalah kali kedua saya mengetik ulasan memoir Hunger. Dan rupanya masih terlalu ngegas untuk standar ulasan buku yang harusnya netral. Oh, well. Maybe it’s not me, it’s you.

Sebelum ada Educated, Hunger sudah lebih dulu wara-wiri di linimasa berbagai media sosial. Banyak orang mengagung-agungkan memoir ini, sehingga ketika saya ingin membaca memoir lain pasca tamat Educated (ulasan bisa dibaca di sini)… buku ini menjadi pilihan pertama. Apa sih yang mereka maksud? 


Hunger adalah memoir yang ditulis oleh Roxane Gay. Saya tahu sekilas sama nama dia karena Emma Watson pernah memilih buku yang dia tulis (Bad Feminist) untuk dibaca di klub bukunya. Setelah melakukan riset dangkal, rupanya si penulis ini sangat terkenal di ranah literatur dunia; bukunya selalu laris, sering dipanggil untuk bicara di seminar, dll, dst. Apesnya, saya milih buku yang paling “jujur” dari dia untuk membentuk kesan pertama.

Di memoir ini, Roxane Gay sangat blak-blakan menceritakan kisah hidupnya sebagai seorang rape survivor. Di usia 12 tahun, dia diperkosa oleh pacar beserta teman-temannya di sebuah gubuk di tengah hutan. Kejadian tersebut menorehkan trauma yang sangat besar di hidup Roxane Gay, terutama saat dia memutuskan tidak akan memberitahu keluarganya dan bertingkah seperti segalanya baik-baik saja. Upaya coping yang dia pilih adalah dengan makan berlebih. Dia memiliki pemikiran bahwa dengan menutupi bentuk tubuhnya sehingga tidak jadi atraktif lagi, laki-laki akan menjauhinya. Dia juga melakukan tindakan-tindakan destruktif yang bikin saya…… geram…… dan nyaris menyerah. Sehabis tamat buku ini juga rasanya beraaat sekali mau bikin ulasan.

Tapi saya merasa harus meluruskan beberapa hal sama pengagum Roxane Gay di luar sana.

Begini, setiap membaca kebodohan masa remaja Roxane Gay, saya sadar sekali kalau saya punya kondisi yang sangat berbeda dengan dia. 100% sadar. Tapi bukan berarti saya nggak punya hak untuk protes. Saya tidak protes soal keputusan hidup dia. Live your life, by all means, Ms. Gay. Saya protes ke keputusan dia menulis memoir ini tanpa memikirkan apa reaksi dari pembaca-pembaca yang fanatik sama dia atau yang lebih buruk lagi, para survivor dari kejadian-kejadian seperti yang dialami oleh Roxane Gay. Pemikiran yang dimiliki oleh Roxane Gay menurut saya sangat brutal. Dia menyesal melakukan itu, tapi juga…nggak menyesal. Gimana ya menjelaskannya? Dia “secara intelektual” tahu dampak dari tindakan tersebut, namun tetap melakukannya. Yang berbahaya adalah, Roxane Gay sangat pintar menyusun kata. Banyak tindakan bodoh yang dia lakukan mendapatkan pembenaran (yang tampak) masuk akal karena secara ajaib, Roxane Gay mampu menemukannya. Bayangkan jika buku ini dibaca remaja-remaja polos yang belum memiliki pemikiran kritis. Mereka akan merasa “direpresentasi” oleh Roxane Gay—seseorang yang saat ini sangat sukses—sehingga mereka nggak akan sadar kalau tindakan atau pola pemikiran yang mereka miliki sebagai sarana coping sebenarnya sangat destruktif.

Terus, Roxane Gay sadar nggak sih kalau nggak semua orang yang mengalami obesitas itu terobsesi sama penerimaan publik? Dia merasa seperti jadi “juru bicara” universal kaum obesitas dan menyimpulkan kalau segala upaya diet yang mereka lakukan itu hanya untuk diterima oleh publik atau, minimal, menghindari lirikan-lirikan yang menghakimi dari orang-orang di sekitar. Hasilnya? Dia selalu menyalahkan orang-orang yang selama ini berinteraksi sama dia: kenapa sih nggak bisa menerima orang obesitas dengan tulus? Kenapa fasilitas publik tidak ramah sama kaum obesitas? Ditambah berbagai pertanyaan merengek lainnya yang menyalahkan dunia tanpa berefleksi pada diri sendiri terlebih dahulu. I don’t know, man…. saya setuju sama masalah fasilitas publik, tetapi saya rasa nggak semua kaum obesitas haus atas penerimaan publik seperti Roxane Gay. Dan karena Roxane Gay merasa dia boleh jadi jubir universal kaum yang mengalami obesitas, saya juga merasa pantas jadi jubir universal dari kaum “seberang”—*roll  eyes* dia merasa dunia terbagi dalam dua kelompok HUFT—a.k.a dari masyarakat yang selalu menghakimi: Mungkin… mungkin ya… kaum kami *roll eyes* ketika melihat ke kalian itu…. sebenarnya tidak ada pemikiran aneh-aneh yang muncul di pikiran kita. Ya memang lagi lihat-lihat aja dan kebetulan tatapan kita bertemu waktu saya lihat ke arah sampeyan. Nggak semua orang sejahat itu.

Dan ini murni pendapat saya sebagai anak ekonomi: daripada mengeluhkan soal industri F.A.S.H.U.N. yang nggak pernah memfasilitasi kaum obesitas dengan pakaian yang menarik dan nyaman, kenapa enggak menjadikan fenomena ini sebagai kesempatan bisnis? Bayangkan kalau Roxane Gay mendorong pembacanya untuk memfasilitasi kebutuhan pakaian bagus bagi kaum obesitas dan bukannya cuma mengeluh untuk kemudian diamini pembaca fanatiknya di seluruh dunia. Pasti bakal lebih banyak hal baik terjadi dengan dibacanya buku ini.


[Okay. Sejak awal saya harusnya mengikuti kata hati saja karena data historis menunjukkan saya paling nggak bisa ikutan rame-rame kayak gini; kebanyakan ujung-ujungnya saya benci sama buku yang dimaksud dan bencinya sendirian. Now I feel extremely lonely in this island, everybody just boarded that damn ship].

Saya harus bilang, gaya menulis dia bagus. Bagus banget malah, terbukti dari banyaknya kalimat yang saya highlight. Tapi ya itu, problematik. Dan sangat berbahaya ketika suara penuh pengaruh macam Roxane Gay digunakan secara nggak bijak. Saya berharap orang-orang yang membaca memoir ini tidak terseret ke pola pikir negatif dan destruktif Roxane Gay. Masih banyak orang baik di dunia ini. Have faith in people, guysDan yang paling penting: coba sekuat tenaga untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Mencintai diri sendiri bisa dimulai dengan tindakan mengedukasi diri tentang hal yang menurut kalian penting dan berkaitan langsung dengan hidup kalian daripada koar-koar menyalahkan dunia (atau yang lebih parah, menyalahkan pemerintah). Jangan jadi seperti Roxane Gay. 

Tuesday, 19 March 2019

Maret: Kembali ke Novel, Menyambung Pertemanan, dan Mempertahankan Ketenangan Batin

Salah satu sumber stres saya adalah ketidakmampuan untuk membuat ulasan buku setelah menjadikan “mengulas setiap buku yang dibaca” salah satu resolusi 2019. Sejauh ini, sudah ada 4 buku yang tamat tanpa satu pun terulas. Saya merasa gagal, dan secara tidak langsung menimbulkan perasaan bersalah untuk lanjut baca buku lain. Untuk mengatasinya, saya memutuskan untuk membuat ulasan singkat di postingan ini saja. Buku-buku (kurang beruntung karena tidak mendapatkan perhatian penuh saya dalam ulasan panjang lebar per-posting) antara lain:


Tahereh Mafi menghidupkan kembali seri Shatter Me dengan diterbitkannya Restore Me. Buku ini adalah proyek baca ulang karena dua minggu lagi, buku kelimanya (Defy Me) akan terbit. Restore Me menyajikan unsur menonjol dibandingkan novel distopia lain, yaitu menunjukkan ke pembaca apa yang terjadi setelah musuh besar (dalam hal ini pemerintah yang korup) dikalahkan. Yang mengikuti seri ini dari awal sekali pasti merasakan betapa berkembangnya tokoh Juliette Ferrars hingga akhirnya menduduki jabatan sebagai Supreme Commander Amerika Utara. Di buku ini juga akhirnya dijelaskan LATAR dari keseluruhan cerita Shatter Me, suatu hal yang menurut saya masih gaje waktu dulu menamatkan Ignite Me. Tiga poin ini membuat keputusan Tahereh Mafi untuk menerbitkan Restore Me tidak sia-sia (I concluded that she wasn’t trying to milking the cash cow) meskipun cukup berani juga ya mengingat masa kejayaan distopia sudah lewat dan fandom seri ini enggak besar-besar banget. Cukup menikmati buku ini meskipun tidak dalam taraf terikat secara emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya.


AKHIRNYA. Sesuatu yang kita nantikan sedari dulu: cerita dari sudut pandang Kenji Kishimoto, satu-satunya tokoh yang waras dan selalu meluruskan tindakan gila dari tokoh-tokoh lainnya! Kita bisa tahu apa konflik batin yang selama ini dialami Kenji (yang mengkonfirmasi teori bahwa orang yang di luar menampilkan emosi paling ceria adalah yang di dalam hatinya paling merasakan kesedihan) dan pengalamannya naksir cewek untuk pertama kalinya. My sweet baby boy, I feel like a proud mama here *wipe fake tears*. Di novella ini juga dijelaskan secara lebih detail APA SIH YANG SEBENARNYA TERJADI DI AKHIR CERITA RESTORE ME. 


Saya menamatkan Daisy Jones & The Six melalui versi audiobooknya. Keputusan yang tepat, karena format dari novel ini adalah…wawancara? Secara singkat novel ini menceritakan upaya seorang penulis biografi dalam mengungkap alasan Daisy Jones & The Six, band paling legendaris di tahun 1970-an, untuk membubarkan diri di puncak karir mereka. Setiap tokoh memiliki naratornya sendiri (suami Taylor Jenkins Reid bahkan ikut menyumbang suara) sehingga ketika kita mendengar versi audiobook, kita serasa mendengarkan percakapannya secara langsung. Lebih hidup, lebih mengalir, dan lebih membuat penasaran. Jempol buat narator Daisy Jones; suaranya yang sengau dan serak macam penyanyi yang sering merokok benar-benar sesuai dengan kepribadian Daisy. Namun, narator kesukaan saya justru yang mengisi suara Karen; pelafalannya melengking di bagian-bagian yang tepat sehingga dialog yang dia bawakan memiliki kesan flirty, in a very interesting way. 

Seperti Restore Me, saya menyukai novel ini tetapi tidak memiliki keterikatan emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Taylor Jenkins Reid memang selalu menciptakan tokoh yang manusiawi dan jujur, sehingga ada beberapa sifat dari tokoh yang saya nggak suka. Kemudian, format wawancaranya bikin saya nggak bisa menikmati alur dengan maksimal. Menurut saya, kekuatan Taylor Jenkins Reid sebagai penulis adalah kemampuannya membangun suspensi dan menarik emosi pembaca melalui narasi. Maka ketika narasi ditiadakan di novel ini, agak goyah gitu pondasinya. Sama-sama punya tokoh utama yang b-e-a-c-h-y, saya lebih suka The Seven Husbands of Evelyn Hugo (ulasannya bisa dibaca di sini).


Ini juga merupakan proyek baca ulang, dilakukan karena saya pengen baca novel ketiga dan keempatnya tapi lupaaa sama apa yang terjadi di novel kedua (buku pertamanya sudah pernah saya ulas di sini). No Charm Intended adalah novel yang menyelamatkan kewarasan saya di satu minggu penuh stres melalui ceritanya yang ringan dan bubbly. Nggak ada tekanan untuk menebak siapa pembunuhnya, karena saya sudah pernah baca tapi lupa plus lagi nggak begitu kompetitif juga. Saya justru lebih fokus ke Chasel vs Adrian (PS: saya tim Chasel!) dalam merebut perhatian Cora. Kadang memang kita perlu berhenti dan bernapas sejenak tanpa terlalu mengkritisi kekurangan dalam novel yang kita baca. Sekarang saya sedang membaca novel ketiganya, karena otak masih membutuhkan bacaan ringan minim konflik.


Selain membaca novel-novel di atas, beberapa waktu belakangan saya habiskan untuk mengeksplor beberapa kafe untuk memaksimalkan pengalaman membaca saya. Yang paling saya suka adalah tempat yang sepi, minim musik, dan (surprisingly) tanpa wifi. 



Selain itu, saya juga berkesempatan untuk ngobrol berkualitas dengan teman-teman dekat. Dari mulai teman lama, teman yang sudah berbulan-bulan nggak ketemu karena double degree, hingga teman baru yang langsung seperti sahabat. Dari pertemuan-pertemuan ini, saya menyadari kalau banyak perempuan hebat di hidup saya, dengan perjuangan dan prestasinya masing-masing.

Termasuk dalam aktivitas bolang kita adalah pergi ke toko buku untuk kemudian keluar tanpa membawa bungkusan apapun melainkan menambah wishlist yang semakin menggunung. Karena kita nggak cuma pengen satu, dua, atau tiga buku, tetapi SEDERET sekaligus yang per bukunya nggak ada yang lebih murah dari Rp 350.000. We're such wild girls, indeed.



(Sebentar lagi saya akan berpenghasilan tinggi, tunggu ya kalian semua akan saya borong!)

Begitulah wrap up dari saya di bulan yang sangat se-lo ini. Mungkin beberapa minggu ini saya memang butuh istirahat total secara mental dan fisik. Beruntung sekali saya punya banyak buku bagus untuk membuat otak terus bekerja. Nanti kalau sudah siap, saya akan kembali dengan ulasan yang panjaaaaaang dan lebaaaaaaaaaaar.

Monday, 11 March 2019

[Review Buku] Six of Crows dan Crooked Kingdom oleh Leigh Bardugo

Sungguh kebahagiaan yang hakiki karena akhirnya… AKHIRNYA… saya memutuskan untuk membabat beberapa fiksi yang sudah lama mangkrak di timbunan. Hal ini saya lakukan sebagai cleansing palate setelah tamat baca banyak nonfiksi; biar nggak mudah bosan dan memberikan sedikit ruang di otak untuk istirahat.


Fiksi pertama yang terbaca adalah Six of Crows karya Leigh Bardugo. Ini adalah lanjutan dari trilogi The Shadow of Bone, dengan setting dan tokoh yang berasal dari belahan dunia lain. Saya sengaja melewatkan trilogi The Shadow and Bone karena setelah lihat ulasan sana-sini, banyak yang kecewa sama jalan cerita dan sifat abusif Darkling ke Alina. Konsekuensinya sih di bab-bab awal saya bingung sama beberapa istilah yang ada (Grisha? Heartrender? Fabrikator?). Untungnya saya cepat paham dari penjelasan ulang dari penulis—ya know, di bab awal biasanya kan banyak penjelasan singkat tentang istilah yang ada atau kejadian di buku sebelumnya—jadi bisa langsung ngegas untuk menikmati ceritanya.

Six of Crows menceritakan petualangan 6 kriminal (Kaz, Inej, Nina, Matthias, Jordan, dan Wylan) dalam menjalankan misi super mustahil: menyelamatkan ilmuwan Bo Yul-Bayur, penemu jurda parem yang sedang mendekam di Ice Court. Jurda parem adalah semacam opium yang bisa meningkatkan kekuatan Grisha berkali-kali lipat, namun memberikan efek adiktif bagi pemakainya. Di tangan yang salah, jurda parem dapat memicu pembunuhan massal, menghancurkan perdamaian dunia, serta mengganggu kestabilan ekonomi. Namun, bukan itu yang menjadi motivasi Kaz menerima misi tersebut. Kaz bersedia melakukannya karena Council melalui Jan Van Eck berjanji untuk memberikan 30 juta kruge jika Kaz dan komplotannya berhasil membawa Bo Yul-Bayur hidup-hidup. 

Inilah alasan pertama suka sama seri ini: realistis! Tidak ada kata-kata mutiara kalau “ini semua demi kebaikan dunia” dan lain sebagainya. Sekali penjahat tetap penjahat, okay

“Just trust me, Nina.”
“I wouldn’t trust you to tie my shoes without stealing the laces, Kaz.”

Alasan kedua yang membuat saya suka sama seri ini adalah pembangunan karakter. Menghabiskan waktu bersama mereka, mau nggak mau kita akan sayang. Ini semua berkat penggambaran tokoh yang sangat apik dari Leigh Bardugo, setiap tokoh punya keunikan dan sifat yang menonjol sehingga membedakannya satu sama lain. Kalian bisa minta sama saya buat menjelaskan seperti apa Kaz dan saya bisa kasih esai sebanyak tiga halaman penuh untuk menjawabnya (I just don’t want to LOL but you get what I’m saying, right?). Selain itu, Leigh Bardugo juga tidak ragu untuk memberikan keterbatasan pada tiap tokoh: Kaz memiliki cacat permanen setelah jatuh dari lantai dua sehingga dia membutuhkan tongkat untuk membantunya berjalan, Inej punya sejarah dijual di rumah bordil sehingga bersentuhan dengan lawan jenis membuatnya tidak nyaman, Matthias punya loyalitas yang tinggi dengan mantan pasukannya terdahulu—drüskelle—jadi pembaca masih selalu menebak-nebak apakah dia bakal mengkhianati Kaz, dan masalah-masalah pribadi tokoh lainnya yang memunculkan rasa empati dari kita. Ketika kita tahu kekurangan mereka namun tetap sayang, that’s true love. Fakta ini bikin saya sadar kalau baru kali ini saya  bisa terikat secara emosional dengan tokoh fiksi dan mewek waktu harus pisah sama mereka di Crooked Kingdom. Ini membuktikan kalau penulis tidak harus menciptakan tokoh super sempurna untuk menangkap hati pembaca.

Alasan ketiga adalah TENSION BUILDING! Harus banget dikapital karena….asdfghjklzxcvrtpq gemaaashhh. Duologi ini adalah contoh paling bagus untuk menunjukkan apa itu s l o w b u r n. Kalian mendukung hubungan Kaz dan Inej? Nina dan Matthias? Good luck for that. Meskipun cinta Kaz ke Inej tidak perlu diragukan lagi (kita tahu di detik Kaz mencabut bola mata Oomen dan melempar tubuhnya keluar kapal, thankyouverymuch, nggak peduli berapa kali Kaz sok-sok bilang Inej itu aset yang “mudah tergantikan”), kalian nggak bakal menyaksikan mereka bersentuhan tangan lebih dari dua detik. Begitu pula dengan Nina dan Matthias. But you’ll still love them anyway, and will root for them throughout the story.

Terakhir, dan merupakan poin paling penting bagi calon penulis di luar sana, adalah betapa rapinya Leigh Bardugo menyusun plot cerita. Plot utama dijelaskan dengan baik di sekitaran bab kedua atau ketiga (membebaskan Bo Yul-Bayur), dan plot-plot yang menggiring ke plot utama memiliki ketegangan yang semakin lama semakin intens, membuat perhatian pembaca tidak mudah kendor. Di bagian awal sekali, dijabarkan efek jurda parem dari tokoh-tokoh tidak signifikan, sehingga cerita berangkat dari permulaan yang memancing rasa penasaran pembaca tanpa perlu mengenalkan 6 tokoh utama. Kita tahu jurda parem berbahaya, sehingga kita bakal peduli betapa pentingnya misi yang nantinya dijalankan Kaz dan kawan-kawan. Plot utama pada akhirnya terselesaikan dengan plot twist, sehingga memberikan ruang bagi penulis untuk melanjutkan ke Crooked Kingdom. Saya? Bersyukur masih dikasih buku sekuel. Penulis? Senang dapat kontrak tambahan. Penerbit? Senang dengan loyalitas fandom yang menjanjikan penjualan yang besar. Calon penulis coba deh catat teknik dari Leigh Bardugo ini, biar cerita kalian tersaji dengan baik. Karena nyatanya, BANYAK sekali novel yang saya baca tidak dilandasi plot yang bagus, kadang di 100 halaman pertama konflik sudah selesai. Halaman sisanya? Tidak jelas arahnya kemana.


Crooked Kingdom. Sungguh lika-liku yang menguras emosi pembaca. Secara singkat: karena Six of Crows ditulis secara utuh dan bertindak sebagai fondasi yang kuat (dalam hal-hal yang telah saya sebutkan di atas), pengalaman membaca sekuelnya jadi sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Terutama, ketika kita diberikan info mengenai masa lalu dari tokoh-tokoh kesayangan kita. Mereka seperti berlomba-lomba untuk punya masa lalu paling kelam, tetapi khusus buat masa lalu Inej….UGH gimana saya nggak protektif, coba, sama dia? Let her get her well-deserved happiness! Tapi karena penulis adil, nggak hanya Inej yang harus menderita, karena mereka berenam harus menghadapi bayangannya masing-masing sambil menyelesaikan misi-misi berbahaya. Secara pribadi, saya suka sekali dengan pilihan-pilihan yang mereka ambil untuk menghadapinya.

Saya sebenarnya mau cerita panjang soal Crooked Kingdom ini, tapi takut spoilerYang jelas, saya suka sekali sama endingnya! Kaz dan Inej memang punya dinamika yang bagus, dan pada akhirnya, Kaz memilih untuk membahagiakan Inej. You can see how much he’s whipped by her from his final decision, and we—readers—really love him for that. Dan tidak seperti di novel-novel lain yang dengan bangga memproklamirkan bahwa cinta bisa menyembuhkan semua penghalang, duologi ini menyajikan kenyataan pahit bahwa ada batasan yang bahkan tidak bisa dilalui oleh kekuatan cinta. Trauma Kaz dan Inej masih ada, terus menghalangi mereka untuk melakukan kontak fisik yang sangat lumrah dilakukan pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta. Selain itu, pergumulan batin Matthias yang telah dicuci otak sejak kecil tentang kaum Nina yang jahat dan harus dibasmi selalu muncul. Matthias membutuhkan "suara hati" lainsuara hati yang mencintai Ninauntuk mengalahkannya, membuat dia harus selalu membela Nina, 24/7 di dalam otak dan hatinya sendiri. Realistis, dan sekali lagi menjelaskan ke pembaca bahwa cinta tidak bisa mengalahkan segalanya secara BOOM... instan. Love is a strong commitment and continuous hard work, indeed.


Begitulah pengalaman saya membaca buku yang sempat ngetren sekali di tahun 2015. Ketika ramai-ramainya sudah bubar, saya baru merasakan betapa layaknya seri ini mendapatkan hype-nya dulu. I love them all, they’re my babies. Especially Inej and Nina, our badass queens who's supporting one another. They have my whole heart forever. Saya bakal sangat menantikan novel ketiganya yang bakal terbit entah kapan (YES IT’S CONFIRMED THAT WE’LL GET ANOTHER SEQUEL!!! I’M FREAKING OUT HERE). 


PS: Saya secara pribadi nggak merekomendasikan membaca duologi ini dalam format audiobook. Mendengar sampel audiobooknya, saya malah trauma gara-gara suara naratornya Kaz. Sungguh merusak imajinasi dan bikin menyesal. Lagipula, istilah bahasa yang dipakai Leigh Bardugo terbilang tidak lumrah sehingga otak saya lebih fokus ke mikir mereka ngomong apa daripada menikmati ceritanya. Format novel adalah pilihan yang paling bagus. You can fight me on this.