Showing posts with label review 2015. Show all posts
Showing posts with label review 2015. Show all posts

Thursday, 12 November 2015

[Book Review] Gone Girl by Gillian Flynn

Gone Girl
penulis Gillian Flynn
422 halaman, Misteri/ Thriller
Rating: image
Dipublikasikan 22 September 2014 (First published June 2012)

What are you thinking, Amy? How are you feeling? Who are you? What have we done to each other? What will we do?

Di kota kecil Missiouri, seorang wanita cantik dilaporkan menghilang oleh sang suami tepat di ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Pintu rumah terbuka lebar dan terdapat barang-barang yang menunjukkan adanya bekas kekerasan. Polisi beserta detektif kompeten dilibatkan, simpati datang bertubi-tubi, dan reporter nasional bergerombol untuk mengabadikan tragedi hilangnya Amy Elliot Dunne.

Namun sejak awal terdapat banyak kejanggalan dalam kasus ini. Sang suami, Nick Dunne, seakan setengah hati dalam melakukan pencarian istrinya. Kebohongan demi kebohongan dia lempar ke polisi, hingga semakin lama bukti-bukti muncul untuk menjeratnya. Publik berbalik menyerang dan menuduh bahwa Nick sendiri yang membunuh istrinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Amy? Siapa yang salah?

He was the first naturally happy person I met who was my equal. He was brilliant and gorgeous and funny and charming and charmed. People liked him. Women loved him. I thought we would be the most perfect union: the happiest couple around. Not that love is a competition. But I don’t understand the point of being together if you’re not the happiest.

----------------------

Her mind was both wide and deep, and I got smarter being with her. And more considerate, and more active, and more alive, and almost electric…..

Menurut saya, Gone Girl ini adalah karya jenius. Sadis namun tetap menyuguhkan unsur romance yang dalam, menjadikan saya berkali-kali bergidik setiap cerita berbelok ke arah lain. Ada JUTAAN belokan di novel ini, dan pertanyaan “Apa yang sebenarnya terjadi pada Amy?” sudah terjawab sejak bagian awal cerita, membuat saya bertanya-tanya kegilaan apa yang sebenarnya dijanjikan oleh Gillian Flynn. Namun karena saya bukan pembaca setia genre misteri dan thriller, pendapat saya ini tidak begitu valid dan sedikit bias (sepertinya saya agak termakan hype filmnya karena saya ngefans dengan Rosamund Pike, si aktris pemeran Amy). Saya baru membaca sedikit buku misteri, dan in my humble opinion, saya merekomendasikan buku ini bagi kalian yang mencari referensi buku bacaan misteri/ thriller. 

FYI Gramedia sudah menerjemahkan buku ini dengan judul Gone Girl (Yang Hilang), disusul dengan karya Gillian Flynn lain, Dark Places (Tempat Gelap).



Dan review ini saya tutup dengan kutipan paling DEG!!! dari buku ini:

You’d think all women do is clean and bleed.


Sunday, 21 June 2015

[Book Review] Someone Like You by Sarah Dessen

Someone Like You
penulis Sarah Dessen
281 halaman, YA/ Realistic Fiction
Rating:  image
Dipublikasikan 1 Mei 1998 oleh Penguin

Because life is an ugly, awful place to not have a best friend.

Cerita dimulai ketika Halley harus meninggalkan camp musim panasnya dua minggu lebih awal setelah mendapat telepon dari Scarlett, sahabatnya. Dari telepon itulah Halley tahu bahwa Michael Sherwood, laki-laki yang dicintai Scarlett, baru saja meninggal. Dan lebih parah lagi, Scarlett rupanya mengandung bayi hasil hubungannya dengan Michael.

Sebagai sahabat yang sejak dulu selalu ditopang Scarlett, Halley merasa sekaranglah waktunya ia bertukar peran dengan sahabatnya itu. Scarlett membutuhkannya, dan dia bertekad untuk selalu ada serta mendukung keputusan Scarlett untuk mempertahankan bayinya. Namun ibu Halley yang seorang terapis membuat segalanya menjadi “alot”. Bagi ibunya, Halley mulai menunjukkan tanda-tanda sebagai remaja berontak. Apalagi sejak Halley dekat dengan Macon—sahabat Michael yang serba spontan dan populer—semakin renggang-lah hubungan ibu dan anak itu. Ibunya kemudian berusaha untuk “meredam” kenakalan anaknya ini menggunakan cara-cara yang malah semakin membuat Halley berontak. Tipikal orang tua, huh?

“Why don’t you ever wait a second and see what I’m planning, or thinking, before you burst in with your opinions and ideas? You never even give me a chance.”

Hal ini sempat membuat saya berpikir bahwa dalam novel-novel Dessen, mayoritas konfliknya muncul dari sosok ibu; mulai dari yang egois, overprotektif, pekerja keras hingga melupakan keluarga, tak acuh, suka mengatur, dan sebagainya. Sedangkan sosok sang ayah lebih seperti buffer, kalah peran dengan sosok ibu dan hanya muncul sebagai “pengurang” efek penghancur tanpa memberikan solusi bagi konfliknya. Penyelesaian konflik, hampir selalu hadir sebagai buah kerja keras karakter utama aka si remaja.  Memang benar jika karakter utama haruslah berkembang, dan tidak jarang pengembangan tokoh ini muncul setelah adanya konflik. Namun bakal lebih pantas jika sosok ayah ikut andil dalam penyelesaian konflik ini. Bagaimanapun, ayah adalah kepala keluarga yang posisinya di atas ibu. Just do your freakin' job okay, Dad?



Sosok Halley menghadapi beberapa konflik sekaligus. Walaupun di sini Scarlett lah yang mengalami masalah besar, Halley turut menopang dan mendukung keputusan Scarlett. Di sisi lain Halley juga sedang memulai hubungan dengan seorang cowok, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dua masalah itu dan masih ditambah dengan tekanan dari ibunya, saya cukup takjub karena si Halley ini tidak "meledak". Man, this year ain't picnic for Halley. Bagaimana cara Halley menghadapi semuanya bisa kalian ketahui di novel ini.

***

Someone Like You sepertinya termasuk karya Dessen yang tidak begitu populer bila dibandingkan karya-karyanya yang lain. Mengambil tema teenager’s pregnancy (yang mungkin tidak akan saya baca jika saja saya tahu sinopsisnya terlebih dahulu), sekali lagi Dessen menunjukkan kepiawainya untuk menunjukkan pada kita potret kehidupan remaja yang dihadapkan masalah besar sebagai konsekuensi dari tindakannya (walaupun mereka sudah super hati-hati). Cuma di sini Dessen “membuang” sosok si ayah bayi dari cerita, sehingga membuat pembacanya bertanya-tanya apa yang bakal terjadi seandainya Michael masih hidup. Apakah Michael (yang ketika awal-awal bertemu Scarlett sangat baik dan romantis) akan bersedia bertanggung jawab? Atau segala tingkah baik Michael ini hanyalah kesan pertama saja yang nantinya akan semakin luntur dan mulai menunjukkan watak aslinya? Segala what-ifs inilah yang membuat Someone Like You ini berbeda.

Nah guys memang benar kalau novel-novel karya Sarah Dessen tuh penting bagi remaja—khususnya cewek. Cukup sedih karena saya baru menyadarinya di usia yang sudah agak terlambat ini (DI MANA BUKU-BUKU DESSEN WAKTU SAYA MASIH AWAL-AWAL BELASAN HAAAAHHHH???). Bagi saya, Sarah Dessen sudah saya anggap sebagai guru kehidupan: karena dia sudah membuka cara pandang saya terhadap bagaimana seharusnya menghadapi masalah-masalah yang saya hadapi dan bagaimana seharusnya seorang cewek bertindak. Dan membaca novel-novel Sarah Dessen di masa sulit terasa seperti pulang…. kemudian bertemu dengan sahabat lama.

(Desain baru cover Someone Like You. Sama seperti cover atas dengan gambar kaki di pasir pantai, saya juga nggak ngerti apa maksud dari gambar kupu-kupu di dalam toples ini).



Kutipan-kutipan penting dalam novel ini:

I had no idea what to do or what came next. All I knew was that she needed me and I was here. And for now, that was about the best we could do.

“I’ve given lots of people chances,” she said suddenly, as if Marion was still in the room to hear her. “But there’s only so much faith you can have in people.”

“Don’t be a fool. Don’t give up something important to hold onto someone who can’t even say they love you.”

I deserved to grow, and to change, to become all the girls I could ever be over the course of my life, each one better than the last.

“I told him he wasn’t what I’d thought he was,” I said. “That he let me down, and I couldn’t see him anymore. And I said goodbye.”

Like everything else, she’d made her choice and she’s stick to it, everyone else be damned.

There are some things in this world you could rely on, like a sure bet. And when they let you down, shifting from where you’ve carefully placed them, it shakes your faith, right where you stand.

Monday, 18 May 2015

[Book Review] Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe

Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
penulis Benjamin Alire Sáens
368 halaman, YA/ LGBT
Rating: image
Dipublikasikan 21 Februari 2012 oleh Simon & Schuster


We all fight our own private wars.

Trigger Warning: LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) 

Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe mendapat perhatian dan pujian yang cukup besar di kalangan pembaca YA. Hype yang dibawa oleh buku ini sebenarnya sangatlah overwhelming (terlihat dari stiker-stiker penghargaan yang hampir menutupi sampul bukunya) dan sempat membuat saya ragu untuk memilihnya sebagai bacaan bulan ini. Lalu kemudian saya berpikir…. Dammit, I can read whatever I want.


And so I did.

Bagaimana menceritakan buku ini? Saya tidak tahu. Tidak ada plot cerita yang jelas. Singkatnya mungkin seperti ini: Aristotle (kemudian dikenal sebagai Ari) adalah seorang anak laki-laki dengan berbagai konflik di dalam dirinya. Suatu ketika Ari pergi ke kolam renang, dan dia bertemu Dante. Mereka kemudian menjadi sahabat.

Hubungan Ari dan Dante ini…. belum pernah saya temui di buku-buku YA lain. Mereka seperti bergravitasi satu sama lain. Berbeda dengan Ari yang senantiasa diliputi amarah dalam dirinya, Dante ini begitu murni. Dia adalah anak laki-laki paling manis di dunia dengan jiwa paling bebas yang pernah saya temui. Dante inilah yang mampu merubah cara pandang Ari terhadap dunia.

As Dante was watching me search through the lens of a telescope, he whispered, “Someday, I’m going to discover all the secret of the universe.”
That made me smile. “What are you going to do with all those secrets, Dante?”
“I’ll know what to do with them,” he said. “Maybe change the world.”
I believed him.

Dari teknik penulisan yang didominasi oleh percakapan antar tokoh (sampai kadang saya bingung line ini yang ngomong siapa, line berikutnya yang ngomong siapa), saya dapat lebih merasakan interaksi antartokoh. Seolah saya berada di sana, langsung mendengarkan mereka bertukar kata. +1.

Mungkin ini yang bisa saya katakan kenapa Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe bisa begitu dicintai pembacanya: gaya penulisannya begitu indah dan jujur. Dan terasa seperti naik roller coaster. Di beberapa bagian (terutama di awal) akan terasa dataaaaar karena buku ini hanya menceritakan kehidupan dua remaja biasa dan persahabatan mereka yang bisa dibilang juga cukup biasa. Alurnya cukup lambat dengan beberapa kejadian penting muncul. Mungkin satu dua baris akan menarik perhatian saya. Kemudian saya melanjutkan baca dan tiba-tiba…. BAM!!!! I CAN’T BREATHE! Kelak saya tahu kalau Benjamin Alire Sáens ini adalah seorang pujangga. Asdfghjkl.


Orangtua Ari dan Dante memegang peran sangat besar di sini. Mereka bahkan mendapat porsi yang hampir sama dengan Ari dan Dante sendiri. Hal yang tidak banyak ditemui di YA lain. Hubungan Ari dan Dante dengan masing-masing orang tua mereka mendapat perhatian besar dari saya, terutama ketika mereka saling bercanda. They had unique senses of humor. Sayang tokoh Susie Bryd dan Gina kurang dieksplor oleh penulis, sehingga membuat kemunculan mereka seolah hanya untuk membangkitkan/ menyelesaikan masalah yang dihadapi Ari.

"It's just that sometimes I have things running around inside me, these feelings. I don't always know what to do with them. That probably doesn't make any sense."

Tema LGBT yang diangkat oleh novel ini mungkin tidak begitu kontroversial di luar sana, tapi di masyarakat yang masih memegang unsur agama yang kuat akan muncul beberapa ketidakcocokan. Novel ini berusaha sejujur mungkin menggambarkan bagaimana nasib para LGBT (dalam kasus ini gay) di kalangan masyarakat tahun 1980-an, ketika hal-hal semacam itu masih sangat dipandang sebelah mata. Banyak sekali yang saya pelajari dari buku ini, dan saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mungkin memang harus membaca sendiri untuk menemukan sudut pandangnya masing-masing.

Bisa dibilang novel ini adalah jenis novel yang akan meninggalkan pembacanya untuk “berpikir” jauh setelah mereka menamatkannya. Dan mungkin, mungkin…. di luar sana, novel ini telah merubah banyak cara pandang orang-orang dan juga hidup mereka.

“Sometimes, don’t you just want to stand up and yell out all the cuss words you’ve learned?”


Yes, Ari. I do.

Monday, 11 May 2015

[Book Review] Things We Know by Heart by Jessi Kirby

Things We Know by Heart
penulis Jessi Kirby
304 halaman, YA/ Death
Rating: image
Dipublikasikan 21 April 2015 oleh Harper Teen


Alone. I've felt that way for so long.

400 hari sejak kematian Trent karena kecelakaan, Quinn masih saja diliputi duka dan seolah berhenti menikmati hidup. Dia tidak mendaftar kuliah, berhenti nongkrong bareng teman-temannya, dan menghabiskan waktu hanya untuk menghitung hari-hari pasca kematian Trent. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah 4 orang penerima donor yang masih berhubungan baik dengannya dan keluarga Trent. Melalui mereka, Quinn merasa bahwa Trent masih “ada”. Dia merasa lebih bisa menerima bahwa walaupun dia harus kehilangan Trent, banyak orang yang terselamatkan karenanya.

They say time heals all wounds, but meeting those people that afternoon—a makeshift family of strangers brought together by one person—healed more in me than all the time that passed in the days that had come before.

Trent menyumbangkan 5 organ tubuhnya ketika meninggal. Dari kelima penerima donor itulah, hanya 4 orang yang bersedia untuk “menjangkau” pihak keluarga pendonor. Sang penerima organ jantung, tidak pernah membalas surat yang dikirim Quinn. Awalnya Quinn berusaha mengabaikan perasaan mengganjal ini, tapi lama-kelamaan dia tidak tahan dengan misteri sang penerima organ paling penting bagi Trent ini.

Dimulai dari investigasi kecil-kecilan di internet selama berbulan-bulan dengan mencocokkan semua data yang ada, Quinn akhirnya bisa menemukan sang penerima donor. Pencariannya menuntun Quinn ke sebuah blog milik seorang gadis, yang menceritakan kisah perjuangan sang adik, Colton Thomas, melawan penyakit jantung yang ia derita. Yang hampir merenggut nyawanya, kalau saja organ donor tidak segera tiba.  Operasi sukses, dan kini Colton sudah pulih serta menjalani kehidupan yang nyaris normal. Dan tinggal tidak jauh dari Quinn berada.

Seharusnya Quinn berhenti di situ. Tapi dia merasa dia harus melihat Colton, walaupun dari jauh. (Dari kepo, Quinn ini berubah jadi stalker). Namun takdir rupanya menuntunnya untuk mengenal secara dekat siapa sebenarnya penerima jantung Trent ini.

For so long, I was the one with his heart. I just need to see where it is now.


Sejak awal saya merasa kesulitan untuk menyatu dengan cerita. Banyak sebenarnya yang menyebabkan saya kurang sreg. Yang paling mengganggu adalah sifat Quinn yang mencintai secara berlebihan, bahkan ketika orang yang dicintainya sudah tiada (dia bahkan menyebut dirinya sebagai 18-year-old widow. Hmpfh). Cintanya, membuat dia melanggar beberapa batas (bahkan hukum!) yang mungkin bisa saja menyeretnya ke masalah serius. Hal itu pula, yang membuat hubungan yang dimiliki Quinn dan Colton ini bisa dibilang berlandaskan kebohongan besar—atau rahasia, kalau mau dipandang sebagai hal positif. Karena Quinn sejak awal tidak mengaku siapa sebenarnya dia, dan Colton selalu menyembunyikan fakta bahwa dia pernah sakit dan selalu sembunyi-sembuyi ketika waktu minum obat tiba. Kebohongan/ rahasia/ whatever ini bikin saya bertanya-tanya, jadi yang disuka sama Quinn dari Colton sebenarnya apa? Karena Colton membawa jantung orang yang pernah dicintainya, atau karena lama-kelamaan dia mengenal Colton dan mulai membuka dirinya untuk menjalani kembali hidup dengan bantuan Colton?

As hard as we both tried, and as much as we both wanted it to be otherwise we are made of our pasts, and our pains, our joys and our losses. It’s in the very fibers of our beings. Written on our hearts. The only thing we can do now is listen to what’s in them.

Tapi yang aneh di sini, saya bisa memaklumi sifat Quinn dan lanjut baca sampai tamat. Bahkan menikmatinya! What the heck is wrong with me? Kalau buku lain, pasti sudah saya DNF-kan dan pindah ke judul lain.  

Mungkin alasan utama saya bisa betah adalah gaya penulisan Jessi Kirby ini bagus. Luar biasa bagus. Saya bisa merasakan ketenangan mengalir dari kata demi kata yang dia tulis. Membaca buku ini, menenangkan sekaligus membangkitkan emosi-emosi dari dalam diri saya. Nah, nggak semua penulis bisa menciptakan efek seperti itu ke para pembacanya. Dan please, jangan baca buku ini di publik. Emotional breakdown ain’t pretty.


Things We Know by Heart…. benar-benar sepadan dengan penantian yang saya berikan. Tapi dibandingkan karya Jessi Kirby yang lain, buku ini bukan merupakan yang terbaik. Bagi yang ingin mengenal karya-karya Jessi Kirby, saya sarankan untuk memulai dari buku lain terlebih dahulu. Golden? Moonglas? In Honor? Take your pick!

Sunday, 19 April 2015

[Book Review] All the Bright Places by Jennifer Niven

All the Bright Places
penulis Jennifer Niven
400 halaman, YA-Depression, Suicide
Dipublikasikan 6 Januari 2015 oleh Knopf Book for Young Reader


An exhilarating and heart-wrenching love story about a girl who learn to live from a boy who intends to die.

Theodore Finch is fascinated by death. Every day he thinks of ways he might die, but every day he also searches for—and manage to find—something to keep him here, and alive, and awake.
Violet Markey lives for the future, counting the days until graduation, when she can escape her small Indiana town and her aching grief in the wake of her sister’s death.


Review Singkat All the Bright Places:

Saya suka buku ini. 5-bintang-suka, rela-begadang-sampai-pagi-buat-menamatkannya-suka. Gaya penulisannya sendiri sedikit mengingatkan dengan gaya penulisan John Green. Malahan secara umum si Finch ini bikin agak de javu dengan Miles Halter/ Pudge (Looking for Alaska) dan Quentin “Q” Jacobsen (Paper Towns). Walaupun begitu saya lebih bisa menikmati gaya penulisan Jennifer Niven (sorry Mr. Green!).

“The problem with people is they forget that most of the time it’s small things that count.”

All the Bright Places adalah novel YA pertama dari Jennifer Niven. Beliau aslinya adalah penulis novel-novel New Adult, dan walaupun baru kali pertama dia menjajal ladang YA, tidak ada kesan kaku atau amatir di sini. Sebaliknya, saya merasakan bahwa All the Bright Places adalah suatu karya personal bagi Jennifer (bahkan situs germmagazine.com benar-benar ada dan ter-update sesuai dengan yang disebutkan di novel). Berdasarkan Author’s note di bagian akhir buku, buku ini terinspirasi dari pengalaman masa muda Jennifer (yang menurut saya sungguh tragis karena seseorang di usia sebelia itu harus mengalami begitu banyak kehilangan). TEARS, TEARS EVERYWHERE.

Novel ini baru diterbitkan awal Januari 2015 lalu, namun pengurusan hak cipta untuk adaptasi filmnya sudah selesai sejak pertengahan 2014. Konon katanya, Elle Fanning  akan memerankan Violet. GO VIOLET REMARKEY-ABLE!!!


“…here’s what I think: I think I’ve got a map in my car that wants to be used, and I think there are places we can go that need to be seen. Maybe no one else will ever visit them and appreciate them or take the time to think they’re important, but maybe even the smallest places mean something. And if not, maybe they can mean something to us. At the very least, by the time we leave, we know we will have seen it, this great state of ours. So come on. Let’s go. Let’s count for something. Let’s get off that ledge.”

Sunday, 5 April 2015

[Book Review] Made You Up by Fransesca Zappia

Made You Up
penulis Francesca Zappia
448 halaman, Young Adult/ Mental Illness
Rating:  image
Dipublikasikan 19 Mei 2015 oleh Greenwillow Books

 SINOPSIS:
Reality, it turns out, is often not what you perceive it to be—sometimes, there really is someone out to get you. Made You Up tells the story of Alex, a high school senior unable to tell the difference between real life and delusion. This is a compelling and provoking literary debut that will appeal to fans of Wes Anderson, Silver Linings Playbook, and Liar.

Alex fights a daily battle to figure out the difference between reality and delusion. Armed with a take-no-prisoners-attitude, her camera, a Magic 8-Ball, and her only ally (her little sister), Alex wages a war agains her schizophrenia, determined to stay sane long enough to get into college. She’s pretty optimistic about her chances until classes begin, and she runs into Miles. Didn’t she imagine him? Before she knows it, Alex is making friends, going to parties, falling in love, and experiencing all the usual rites of passage for teenagers. But Alex is used to being crazy. She’s not prepared for normal.
Funny, provoking, and ultimately moving, this debut novel featuring the quintessential unreliable narrator will have readers turning the pages and trying to figure out what is real and what is made up.


REVIEW:

Alexandra didiagnosis menderita schizophrenia sejak kecil. Schizophrenia, menyebabkan Alex tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan alam bawah sadarnya. Karena itulah ia tidak yakin apakah insiden Pembebasan Lobster ketika ia berumur tujuh tahun benar-benar terjadi. Dan apakah anak laki-laki bermata biru yang membantunya melepaskan lobster-lobster itu nyata atau hanya khayalannya belaka.

Bertahun-tahun ia mencoba melawan penyakitnya itu. Ke manapun Alex pergi, ia selalu membawa kamera untuk mengabadikan setiap momen yang ia lihat. Sesampainya di rumah, Alex akan mencetak foto-foto tersebut untuk memastikan mana yang nyata dan mana yang bukan. Walaupun ia tahu kalau kadang-kadang otaknya memainkan trik aneh, mau tak mau Alex menjadi orang yang paranoid. Dia selalu melakukan parameter check, memastikan siapa saja orang yang ada di sekitarnya, dan memeriksa apakah ada tanda-tanda bahaya mengancam untuk menyerangnya.

I didn’t have the luxury of taking reality for granted. And I wouldn’t say I hated people who did, because that’s just about everyone. I didn’t hate them. They didn’t live in my world. But that never stopped me from wishing I lived in theirs.

Usahanya untuk melebur menjadi normal mulai menunjukkan tanda-tanda kegagalannya ketika ia bertemu dengan Miles Ritcher di sekolahnya yang baru. Miles mengingatkan Alex kepada si anak laki-laki bermata biru di Insiden Pembebasan Lobster dahulu. Setelah sekian lama meyakini suatu hal hanya khayalan belaka, Alex harus menabahkan diri bahwa kalaupun benar Miles adalah teman pertamanya dulu….. jelas tidak lagi sekarang. Miles yang super jenius rupanya menjadikan “Mengganggu Alex” sebagai hobi favorit nomor satu sedunia. Tapi bukan berarti Alex diam saja, karena Alex lah satu-satunya penghuni sekolah ini yang menjadi korban jahil Miles dan berani melawan.

When he finished reading, he did something so surprising that I almost dropped the Bunsen burner and set the kid across from me on fire. He laughed. Our neighbors turned to stare at us, because Miles Ritcher laughing was one of those things that the Mayans had predicted would signal the end of the world. He wasn’t particularly loud about it, but it was Miles laughing, a sound no mortal had ever heard before.

Pengalaman membaca buku ini merupakan hal baru yang unik bagi saya karena si tokoh utama sendiri pun tidak tahu mana yang benar-benar terjadi dan mana yang cuma khayalan. Kadang saya bingung dengan ke mana cerita mengarah, tapi lama-kelamaan saya mengerti apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang penulis. Brilian, penuh kejutan, dan menggugah rasa penasaran! Luar biasa ketika saya tahu bagaimana cara otak seseorang yang *ehem sori* agak berbeda dari kita bekerja, karena bukan berarti ada yang kurang dari diri mereka. Justru sebaliknya, cara berpikir mereka benar-benar unik sehingga membuat saya merasa kalau otak saya ini membosankan dan lambat.  I need moooore inspiration juices for my brain.


Dan yang bikin saya takjub lagi nih, Made You Up ini merupakan sebuah karya debut! Francesca Zappia benar-benar masuk kategori penulis favorit saya sekarang. Tokoh Alexandra yang dia buat ini sangat likeable. Pintar, kuat (dalam artian nerd tapi nggak bakal tinggal diam kalo kena bully), dan super witty. Nggak ada yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu di kepala seseorang yang tahu bagaimana memaikainya dengan baik (terlepas dari eror yang sering terjadi. Tapi karena ini takdir Tuhan, saya bisa maklum). Apalagi gaya penulisan dan humornya juga pas. Endingnya apalagi, benar-benar di luar dugaan saya. Rada bingung juga sih dengan eksekusi dari masalah-masalah yang muncul…. atau ini hanya perasaan Dek Sany saja? *halah apasih*

Saya beruntung mendapatkan ARC novel luar biasa ini dan guys, you guys…….read this book ASAP!


“People say teenagers think they’re immortal, and I agree with that. But I think there’s a difference between thinking you’re immortal and knowing you can survive. Thinking you’re immortal leads to arrogance, thinking you deserve the best. Surviving means having the worst thrown at you and being able to continue on despite that. It means striving for what you want most, even when it seems out of your reach, even when everything is working against you. And after you’ve survived, you get over it. And you live.”

Saturday, 4 April 2015

[Book Review] The Start of Me and You by Emery Lord

Bagi para penggemar YA kontemporer, sayang rasanya kalau melewatkan nama Emery Lord. Sebagai penulis baru, Emery Lord memang masih kalah beken jika dibandingkan dengan nama-nama sekaliber Sarah Dessen, Stephanie Perkins, atau Gayle Forman. Tapi kalau dilihat dari sisi kualitas, beuuuhhhh saya jamin nggak kalah deh!!!

Memulai debut di tahun 2014 dengan karyanya Open Road Summer (yang KEREN GILA OH MY GOD), nama Emery Lord langsung masuk dalam radar saya sebagai penulis favorit. Nggak cuma bagi saya sih, demam Open Road Summer sempat membanjiri beberapa media sosial dan teman-teman pecinta buku lain. Bahkan hingga sekarang saya masih agak kesengsem gitu kalo ada yang bahas Matt Finch---> EEEEE MY 2014 BOOK BOYFRIEND!

Tahun ini, Emery Lord kembali dengan karya barunya, The Start of Me and You. Saya beruntung bisa mendapatkan copy buku ini dua hari setelah tanggal terbitnya, yang berarti saya bisa cari alasan buat kabur sejenak dari tugas kuliah yang semakin lama semakin menggunung ini.

The Start of Me and You bercerita tentang Paige Hancock yang selalu terbelenggu dalam persepsi masyarakat sebagai “Girl Whose Boyfriend Drowned”. Ya, sejak kematian Aaron lebih dari setahun yang lalu, Paige masih saja mendapatkan tatapan iba dan simpati berlebihan dari mayoritas orang yang ia temui. Setiap dia siap untuk move on, selalu ada saja yang mengingatkannya melalui “That Look”.

Untuk itulah di tahun ajaran baru ini Paige bertekad untuk menjadi Paige yang baru. Dibantu oleh tiga sahabatnya; Tessa, Morgan, dan Kayleigh…. Paige mulai membuat daftar hal-hal apa saja yang ingin dilakukannya. Daftarnya pun tidak muluk-muluk; dia ingin mulai datang ke party setelah lebih dari satu tahun jadi tikus mondok, ingin dekat dengan cowok lagi, ingin aktif dalam ekstrakulikuler, travel, dan yang terakhir….dia ingin menghilangkan ketakutannya akan berenang.

Daftarnya itulah yang menggiringnya untuk dekat kepada Ryan Chase, crushnya sejak bertahun-tahun lalu. Ryan si populer yang baru saja diputuskan oleh Leanne berubah menjadi penyendiri karena gerombolan yang biasanya mengerumuninya berpindah kubu ke Leanne. Hanya Max, sepupunya yang pindah dari Coventry School yang selalu terlihat bersama Ryan. Lucu sebenarnya, karena Max dan Ryan sangat bertolak belakang. Di saat Ryan memancarkan aura populer, Max ini seperti hanya meneriakkan satu hal: NERD NERD NERD!

Terlepas dari tujuan utamanya untuk dekat (pacaran maksudnya) dengan Ryan, Paige ini justru mendapatkan sahabat-sahabat baru. Nggak bakal terpikir sebelumnya bahwa regu 4 orangnya akan berubah jadi 6. Dan inilah poin super yang saya suka dari The Start of Me and You…. nilai persahabatan yang dijunjung tinggi! Nggak terhitung lagi deh berapa kali mereka menyelamatkan satu sama lain. Saya selalu mikir “Errr I wanna a friendship like that!” dan nggak bisa berhenti takjub dengan pengorbanan yang mereka lakukan setiap ada di antara mereka yang kena masalah.

Dan sepanjang cerita, saya bingung mana di antara Ryan dan Max yang akan dipilih oleh Paige. Di satu sisi Ryan ini selalu baik dan super gentleman ke Paige, dan di sisi lain Max juga selalu nyambung dan siap membantu Paige menyelesaikan masalah-masalahnya. Apalagi Max dan Paige sama-sama nerd (PRIDE AND PREJUDICE REFERENCE WITS! JANIE!). Tapi nggak perlu khawatir, nggak bakal ada cinta segitiga kok di sini. Lagian, Paige kelewat sibuk untuk mengejar cowok mati-matian. Poin lebih lagi untuk buku ini.


Selain mereka ber-6, masih ada beberapa tokoh lain yang saya suka. Misal Ms. Pepper, guru keren yang selalu saya dambakan sebagai guru/ dosen saya. Atau Grammy, yang walaupun sakit tapi selalu memberi Paige pandangan terbaiknya dan mendukung cita-citanya. Bisa dibilang alur dari buku ini terbilang lambat—plus tidak ada plot twist yang wow banget—tapi saya bisa menikmatinya dengan baik tanpa sedikitpun rasa bosan. ERRRR AND THAT CUTE POSTCARD NOTE IN THE ENDING REALLY MAKES MY DAY, EVERYONE!!

Overall, The Start of Me and You ini tidak sespektakuler Open Road Summer (yang bisa dimaklumi sebenarnya karena ORS adalah bacaan paling favorit saya di 2014), tapi merupakan angin segar bagi YA yang saya perhatikan makin ke sini makin nggak realistis aja.


I may still be stumbling through these steps, but at least I’m stumbling forward.

Monday, 16 March 2015

[Book Review] Confess by Colleen Hoover

Confess
penulis Colleen Hoover
320 halaman, New Adult/ Contemporary Romance
Rating: 
Dipublikasikan 10 Maret 2015 oleh Atria Books

SINOPSIS:
Auburn Reed has her entire life mapped out. Her goals are in sight and there’s no room for mistakes. But when she walks into a Dallas art studio in search of a job, she doesn’t expect to find a deep attraction to the enigmatic artist who works there, Owen Gentry.

For once, Auburn takes a risk and puts her heart in control, only to discover Owen is keeping major secrets from coming out. The magnitude of his past threatens to destroy everything important to Auburn, and the only way to get her life back on track is to cut Owen out of it.

The last thing Owen wants is to lose Auburn, but he can’t seem to convince her that truth is sometimes a subjective as art. All he would have to do to save their relationship is confess. But in this case, the confession can be much more destructive than the actual sin…


REVIEW:

Auburn kesulitan mencari uang untuk membayar jasa seorang pengacara. Pekerjaan utamanya sebagai karyawan salon tidak bisa menutup besarnya biaya yang ia butuhkan. Di usianya yang ke-21, hidupnya berantakan karena dia terlalu banyak mengambil keputusan yang salah di hidupnya. Setiap hari ia hanya menangisi nasib buruknya dan berharap keajaiban akan datang dan menyelamatkannya.

Keajaiban akhirnya datang dalam bentuk tanda HELP WANTED, Knock to Apply di sebuah bangunan yang selalu ia lewati ketika berangkat dan pulang bekerja.


Awalnya Auburn sangsi, karena Owen, sang pemilik bangunan yang ternyata juga merupakan studio itu bersedia membayar $100 per jamnya. What kind of weirdo does that? Apa pekerjaan yang sebenarnya ditawarkan oleh Owen? Pertanyaan itu terjawab ketika Auburn memasuki studio milik Owen yang ternyata, akan dibuka untuk pameran kurang satu jam lagi. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di studio tersebut, Auburn langsung terpesona dengan lukisan-lukisan yang ada di sana. Bukan hanya karena lukisan-lukisan tersebut luar biasa indah (beberapa gambar lukisan dilampirkan dalam buku ini), tapi karena setiap lukisan diwakili oleh secarik kertas Pengakuan a.k.a Confess. Tiap harinya, orang-orang menuliskan Pengakuan di secarik kertas kecil dan memasukannya ke selot pintu studio Owen, yang kemudian akan dijadikan inspirasi olehnya dalam melukis. Pengakuan-pengakuan itulah yang membuat tiap lukisan begitu indah, jujur, dan menuntut untuk didengar (ok well, dibaca… atau dilihat, you know what I mean). Berbagai emosi langsung berkecamuk dalam diri Auburn ketika melihat dan membaca Pengakuan di tiap-tiap lukisan yang ada di sana.

Di luar segala prasangka yang Auburn punya, dia ternyata menikmati pekerjaan barunya sebagai asisten Owen dalam melayani pengunjung pameran. Ditambah, uang yang ia hasilkan cukup untuk menumbuhkan kembali harapannya dalam menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi.

Namun pertemuannya dengan Owen menyeretnya dalam masalah yang lebih besar. Masalah yang mengancamnya untuk kehilangan orang yang selama ini susah payah ia perjuangkan.

Source

Saya sudah baca beberapa novel Colleen Hoover, namun belum semua. Hal ini mungkin sudah cukup saya jadikan bukti bahwa saya berpendapat CoHo memakai formula yang nyaris sama di novel-novelnya. Kalau di Confess ini, mungkin bedanya ada di ketiadaan puisi yang selama ini setia muncul di beberapa judul… setahu saya sih yang pakai puisi itu Slammed, Point of Retreat, This Girl, dan Ugly Love. Plot cerita, kondisi emosi tokoh (dalam artian apa yang saya rasakan ketika membaca narasi dari tokoh-tokohnya), gaya penulisan…. sama. Bisa dibilang ini membuat CoHo memiliki gaya yang khas di mata saya dibanding penulis lain, namun di sisi lain saya juga mulai bosan ketika ia membahas hal itu lagi, itu lagi. Pakai cara yang begitu lagi, begitu lagi.


Yang jadi masalah adalah Confess diceritakan bergantian dari sudut pandang Auburn dan Owen. Kemotonan pada gaya penulisan menyebabkan baik suara Auburn dan suara Owen bagi saya sama. Terlebih, si Owen ini makin kesini makin mirip sama Will Cooper-nya Slammed Series. Duh, jeng. Aku kudu piye. Seharusnya diceritakan dari salah satu tokoh aja cukup lah, daripada jadinya kayak gini.

Dan duh, kemana perginya CoHo yang dulu sering bikin hancur perasaan saya? Jalan cerita Confess ini jauuuuuh banget dari ekspektasi yang saya pasang. Hambar, terlalu banyak drama, dan bikin pusing saking capeknya saya rolled eyes rolled eyes mulu. Karena ketika masalah datang, yang seharusnya kamu lakuin adalah berpikir dan cari solusi biar masalahnya cepetan selesai. Bukannya malah flashback ke masa lalu dan sibuk nyusun kata-kata puitis.

Untungnya Confess ini lumayan asyik juga buat ngabisin waktu, daripada bengong. Dan syukur deh sukses menarik saya dari book hangover yang akhir-akhir ini lagi melanda. Apalagi banyak gambar lukisan keren yang ada di beberapa bagian buku. Oooookay, I guess. 

Kesimpulannya….. Confess ini enggak sekacrut Ugly Love. Tapi tetep aja, tidak memenuhi harapan saya sebagai penggemar lama CoHo. Jadi dua bintang cukup lah, atas nama masa lalu, ok?


Some secrets should never turn into confessions. I know that better than anyone.


Novel ini saya rekomendasikan buat yang belum pernah baca karya Colleen Hoover sebelumnya. Kalau sudah pernah, yaudah berarti jangan hahaha.