Wednesday, 7 October 2015

Hey, I'm Back (Mostly)

Dari semua hal yang saya abaikan beberapa bulan ini, blog inilah yang paling parah. Sulit untuk berkonsentrasi menulis dan membaca novel ketika disibukkan oleh beberapa hal berturut-turut. KKN yang paling menyedot perhatian saya. Dibuang selama sebulan lebih di tempat antah-berantah yang sinyalnya naik turun bersama 8 mahasiswa plengeh lain membuat saya tidak sempat menyentuh ereader saya (ya, buku fisik terpaksa ditinggal demi alasan praktikal). Tapi saya tidak menyesali keputusan itu. 8 orang yang beberapa bulan sebelumnya benar-benar tidak pernah saya temui dan kenal dengan baik itu adalah sahabat dan keluarga baru saya, yang hingga kini masih berhubungan dengan sangat baik.


Kini setelah memasuki semester baru dan bebas memegang buku lagi DENGAN bayang-bayang skripsi di depan, saya jadi berpikir….apakah ini saat yang tepat untuk kabur, lagi? Sampai kapan? Walaupun, yah, sebenarnya skripsinya pun belum dikerjakan, rasa tidak tenang ketika nyelimur selalu terasa. Dan itulah yang membuat saya tidak begitu semangat membaca novel akhir-akhir ini.


Baru kemarin saya berhasil menamatkan satu buku secara tuntas, dari halaman awal hingga akhir tanpa lompat; Percy Jackson's Greek Gods karangan Rick Riordan. Buku yang sebenarnya bukan tipikal bacaan saya dan tidak bisa dikategorikan sebagai novel, melainkan sebuah buku sejarah yang sangat asyik untuk dibaca. Dalam hati saya mengagumi diri sendiri karena keluar dari reading slump/ reading block tidaklah mudah. MAN, THE AGONY. Reading slump itu, ditambah beberapa situasi yang terjadi, mengubah preferensi buku apa yang ingin saya baca. Saya adalah pembaca buku, dan saya akan membuat buku (emm, skripsi lebih tepatnya). Jadi saya akan memanfaatkan segala yang bisa saya manfaatkan agar skripsi ini cepat selesai (cough, judul, cough).


Hmm jadi mohon dimaklumi kalau beberapa bulan ke depan blog ini akan sepi atau muncul postingan-postingan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. I need this. I CAN do this.

Sunday, 21 June 2015

[Book Review] Someone Like You by Sarah Dessen

Someone Like You
penulis Sarah Dessen
281 halaman, YA/ Realistic Fiction
Rating:  image
Dipublikasikan 1 Mei 1998 oleh Penguin

Because life is an ugly, awful place to not have a best friend.

Cerita dimulai ketika Halley harus meninggalkan camp musim panasnya dua minggu lebih awal setelah mendapat telepon dari Scarlett, sahabatnya. Dari telepon itulah Halley tahu bahwa Michael Sherwood, laki-laki yang dicintai Scarlett, baru saja meninggal. Dan lebih parah lagi, Scarlett rupanya mengandung bayi hasil hubungannya dengan Michael.

Sebagai sahabat yang sejak dulu selalu ditopang Scarlett, Halley merasa sekaranglah waktunya ia bertukar peran dengan sahabatnya itu. Scarlett membutuhkannya, dan dia bertekad untuk selalu ada serta mendukung keputusan Scarlett untuk mempertahankan bayinya. Namun ibu Halley yang seorang terapis membuat segalanya menjadi “alot”. Bagi ibunya, Halley mulai menunjukkan tanda-tanda sebagai remaja berontak. Apalagi sejak Halley dekat dengan Macon—sahabat Michael yang serba spontan dan populer—semakin renggang-lah hubungan ibu dan anak itu. Ibunya kemudian berusaha untuk “meredam” kenakalan anaknya ini menggunakan cara-cara yang malah semakin membuat Halley berontak. Tipikal orang tua, huh?

“Why don’t you ever wait a second and see what I’m planning, or thinking, before you burst in with your opinions and ideas? You never even give me a chance.”

Hal ini sempat membuat saya berpikir bahwa dalam novel-novel Dessen, mayoritas konfliknya muncul dari sosok ibu; mulai dari yang egois, overprotektif, pekerja keras hingga melupakan keluarga, tak acuh, suka mengatur, dan sebagainya. Sedangkan sosok sang ayah lebih seperti buffer, kalah peran dengan sosok ibu dan hanya muncul sebagai “pengurang” efek penghancur tanpa memberikan solusi bagi konfliknya. Penyelesaian konflik, hampir selalu hadir sebagai buah kerja keras karakter utama aka si remaja.  Memang benar jika karakter utama haruslah berkembang, dan tidak jarang pengembangan tokoh ini muncul setelah adanya konflik. Namun bakal lebih pantas jika sosok ayah ikut andil dalam penyelesaian konflik ini. Bagaimanapun, ayah adalah kepala keluarga yang posisinya di atas ibu. Just do your freakin' job okay, Dad?



Sosok Halley menghadapi beberapa konflik sekaligus. Walaupun di sini Scarlett lah yang mengalami masalah besar, Halley turut menopang dan mendukung keputusan Scarlett. Di sisi lain Halley juga sedang memulai hubungan dengan seorang cowok, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dua masalah itu dan masih ditambah dengan tekanan dari ibunya, saya cukup takjub karena si Halley ini tidak "meledak". Man, this year ain't picnic for Halley. Bagaimana cara Halley menghadapi semuanya bisa kalian ketahui di novel ini.

***

Someone Like You sepertinya termasuk karya Dessen yang tidak begitu populer bila dibandingkan karya-karyanya yang lain. Mengambil tema teenager’s pregnancy (yang mungkin tidak akan saya baca jika saja saya tahu sinopsisnya terlebih dahulu), sekali lagi Dessen menunjukkan kepiawainya untuk menunjukkan pada kita potret kehidupan remaja yang dihadapkan masalah besar sebagai konsekuensi dari tindakannya (walaupun mereka sudah super hati-hati). Cuma di sini Dessen “membuang” sosok si ayah bayi dari cerita, sehingga membuat pembacanya bertanya-tanya apa yang bakal terjadi seandainya Michael masih hidup. Apakah Michael (yang ketika awal-awal bertemu Scarlett sangat baik dan romantis) akan bersedia bertanggung jawab? Atau segala tingkah baik Michael ini hanyalah kesan pertama saja yang nantinya akan semakin luntur dan mulai menunjukkan watak aslinya? Segala what-ifs inilah yang membuat Someone Like You ini berbeda.

Nah guys memang benar kalau novel-novel karya Sarah Dessen tuh penting bagi remaja—khususnya cewek. Cukup sedih karena saya baru menyadarinya di usia yang sudah agak terlambat ini (DI MANA BUKU-BUKU DESSEN WAKTU SAYA MASIH AWAL-AWAL BELASAN HAAAAHHHH???). Bagi saya, Sarah Dessen sudah saya anggap sebagai guru kehidupan: karena dia sudah membuka cara pandang saya terhadap bagaimana seharusnya menghadapi masalah-masalah yang saya hadapi dan bagaimana seharusnya seorang cewek bertindak. Dan membaca novel-novel Sarah Dessen di masa sulit terasa seperti pulang…. kemudian bertemu dengan sahabat lama.

(Desain baru cover Someone Like You. Sama seperti cover atas dengan gambar kaki di pasir pantai, saya juga nggak ngerti apa maksud dari gambar kupu-kupu di dalam toples ini).



Kutipan-kutipan penting dalam novel ini:

I had no idea what to do or what came next. All I knew was that she needed me and I was here. And for now, that was about the best we could do.

“I’ve given lots of people chances,” she said suddenly, as if Marion was still in the room to hear her. “But there’s only so much faith you can have in people.”

“Don’t be a fool. Don’t give up something important to hold onto someone who can’t even say they love you.”

I deserved to grow, and to change, to become all the girls I could ever be over the course of my life, each one better than the last.

“I told him he wasn’t what I’d thought he was,” I said. “That he let me down, and I couldn’t see him anymore. And I said goodbye.”

Like everything else, she’d made her choice and she’s stick to it, everyone else be damned.

There are some things in this world you could rely on, like a sure bet. And when they let you down, shifting from where you’ve carefully placed them, it shakes your faith, right where you stand.

Wednesday, 17 June 2015

Wishful Wednesday #22


Ezra Faulkner, cowok paling populer di sekolah, percaya bahwa semua orang pasti akan mengalami tragedi. Begitu pun dirinya. Pada suatu malam, pengemudi ceroboh menabrak Ezra sehingga menghancurkan lutut, karier atletik, dan kehidupan sosialnya.

Saat tersingkir dari kalangan anak keren, ia berkenalan dengan Cassidy Thorpe. Gadis itu melibatkan Ezra dalam petualangan tak berkesudahan. Namun, ketika asyik dengan persahabatan dan kisah cinta baru, Ezra jadi tahu bahwa ternyata ada orang-orang yang ia salah artikan.

Akibatnya, ia sekarang berpikir: kalau kecelakaan kemarin sudah menghantam dan mengubah seluruh hidupnya, apa yang akan terjadi jika tragedi lain menyusul?

Dahulu kala saya sudah pernah membuat review mengenai The Beginning of Everything. Buku ini merupakan salah satu life changing book bagi saya, bahkan di masa-masa awal saya membaca YA. Nggak heran lah kalau kesan saya sama daya “magis” buku ini kental sekali. Dan YESSSSS akhirnya penerbit Indonesia menerjemahkannya juga. Dari sinopsisnya sih sepertinya terjemahannya menjanjikan, tapi saya sudah pernah trauma sama buku favorit yang diterjemahkan dan malah jadinya jelek (uhuk There You’ll Find Me uhuk) jadi sepertinya masih harus mikir beberapa kali dulu ya sebelum memutuskan membeli ini.

Buku ini mulai terbit tanggal 22 Juni 2015 dan buat kalian yang penasaran sama ceritanya……….. GO GRAB ITTTTTTT.


Sunday, 31 May 2015

PS I Still Love You's Precious Quotes


God, why do I have to be a person who yearns so much? How horrible. How perfectly horrible.

I can see now that it’s the little things, the small efforts, that keep a relationship going. And I know now that in some small measure I have the power to hurt him and also the power to make it better. This discovery leaves me with an unsettling, queer sort of feeling in my chest for reasons I can’t explain.

“What will I do now that Peter’s not my boyfriend anymore?” I wonder out loud.
“You’ll just do what you did before he was your boyfriend, Alicia says. “You’ll go about your day, and you will miss him at first, but over time it will ease. It will lessen.”

“All you need is time, and you, little one, have all the time in the world.”

“I deserve better than that, you know? I deserve….. I deserve to be someone’s number one girl.

To feel so known, so understood. It’s such a wonderful feeling, I could cry. It’s something I’ll keep forever.

All this time I’ve been making excuse for him. I’ve been trusting Peter and not trusting my own gut. Why am I the one making all these concessions, pretending to be okay with something I’m not actually okay with? Just to keep him?

“Here’s the thing. My one piece of advice to you. You have to let yourself be fully present in every moment. Just be awake for it, do you know what I mean? Go all in and wring every last drop out of experience.”


Dear Lara Jean,
Well done.

Sany