Buku kedua "Project Menghabiskan TBR di Rak" tamat terbaca: Sisters in Yellow yang ditulis oleh Mieko Kawakami. Selesai dalam periode yang cukup singkat berkat banyaknya libur di Bulan Mei. Layaknya novel fiksi yang ditulis dengan baik, saya "terpaksa" merefleksikan hal-hal yang sebelumnya nggak sempat dipikirkan di antara tumpukan pekerjaan sehari-hari.
Hal lain yang saya suka dari novel ini adalah keberhasilan penulis untuk melabeli nama pada emosi-emosi atau pengalaman-pengalaman perempuan yang jarang dibahas dengan serius oleh penulis lain: rasa malu karena tidak tahu cara melakukan sesuatu akibat tidak pernah diajari oleh orang rumah, rasa takut menjadi beban, keinginan dicintai dengan tetap memiliki kendali atas diri sendiri, rasa lelah karena terus-menerus hidup dengan mengkalkulasi risiko, rasa iri ke orang-orang yang hidupnya nampak mudah, keinginan punya tempat pulang, rasa takut tempat pulang yang dibuat mendadak terenggut, dll. Emosi dan pengalaman ini sebenarnya akrab ya untuk kita rasakan, tapi membacanya dalam kalimat-kalimat yang diterjemahkan dengan baik, membuat saya tuh kayak mikir: ohhhh yayaya, dulu saya mengalami hal itu.... valid ya ternyata kalau bingung dan marah. Atau: saya bisa paham sih kenapa Hana bereaksi seperti itu. Sering juga: ARGHHHH mereka nggak perlu se-struggle itu kalau mereka mau bikin ID palsu, toh udah banyak melakukan hal kriminal kan, sekalian ajaaa.
Sisters in Yellow terasa lebih dari sekadar cerita gelap perjuangan perempuan yang terluka, melainkan jadi medium refleksi dan pengingat apa yang mencegah perempuan untuk melakukan aktualisasi diri. Nggak bisa bermodalkan semangat dan potensi aja, kemandirian perlu sumber daya. Kita perlu merasa aman dulu sebelum bisa menjadi diri sendiri. Tapi juga, novel ini menjelaskan bahwa uang bukan jawaban untuk semua luka. Penderitaan karakter-karakternya tidak diromantisasi untuk menunjukkan bahwa orang miskin pasti lebih kuat/tulus/murni. Sebaliknya, kita menyaksikan bahwa seseorang yang menderita akan lebih cenderung mengambil keputusan yang sulit dilogika akal sehat. Kurang adil menghakimi mereka, karena harusnya kita melihat di balik pilihan yang mereka pilih, sebenarnya alternatif apa saja yang tersedia bagi mereka?
Saya suka uang. Saya ingin makin banyak orang menganggap uang dalam kehidupan perempuan bukan melulu berkaitan dengan sifat matre. Saya berdoa semua perempuan di dunia ini bisa aman secara finansial. Saya berharap semua perempuan punya kesempatan dan pondasi kuat untuk memajukan hidupnya serta mewujudkan semua mimpinya.
No comments:
Post a Comment