Sunday, 30 August 2026

Membaca Ulang Seri Throne of Glass

Kalau lihat status di Goodreads, saya masuk kategori sudah pernah baca seri Throne of Glass. Bertahun-tahun lalu, waktu mulai kuliah S1. Ketika anyar rilis mulai tahun 2013, saya langsung baca berturut-turut: Throne of Glass, Crown of Midnight, dan Heif of Fire. Makanya saya familiar sama Celaena, Chaol, Dorian, Manon, serta kejadian-kejadian besar yang terjadi di seri ini. Bukan anak kemarin sore, lah. NAMUN, kalau mencoba mengingat-ingat bagaimana pengalaman membacanya, duh, sulit. Saya cenderung ingat apa yang terjadi, bukannya mengapa peristiwa itu penting. Saya tahu nama-nama karakternya, tapi tidak mengenali dan memahami sifatnya. Karena itulah, ketika saya membaca ulang seri ini, rasanya seperti membaca pertama kali. Terlalu banyak yang berubah antara Sany yang dulu membaca buku 1-3, dengan Sany sekarang yang baca buku 1-6.

Masa baru lulus SMA, kemampuan Bahasa Inggris saya masih minim. Baca buku-buku semacam ini hanya pakai modal nekat, diupayakan sambil jalan. Saya memang bisa mengikuti cerita, mengenali peristiwa-peristiwa penting.... yha, cukup lah untuk survive halaman demi halaman. Konsentrasi yang saya keluarkan untuk memahami 1 novel utuh? Besar sekali. Perhatian saya habis untuk menerjemahkan bahasa, sehingga abai terhadap interpretasi cerita. Apakah saya paham kalimat ini dengan benar? Kata ini (yang saya belum tahu artinya), apakah perlu saya cari di kamus atau ditabrak saja? Konsekuensinya, ruang mental untuk melihat apa yang terjadi di bawah permukaan plot menjadi sangat minim. Karakter A marah, tapi saya nggak menangkap kenapa kemarahan itu krusial terhadap keseluruhan cerita. Ada pengungkapan plot twist besar terjadi, yang kekagetannya akan lebih gurih terasa jika saya bisa menangkap bibit petunjuk yang ditanam penulis di ratusan halaman sebelumnya. Saya belum punya kebebasan bahasa yang cukup untuk benar-benar membedahnya. 

Sekarang, kemampuan Bahasa Inggris saya memang meningkat jauh. Ditambah, cara saya mendekati fiksi juga ikut meningkat. Saya lebih memperhatikan struktur cerita, karakter dan hubungan mereka, motivasi, kontradiksi, dan konsekuensi dari pilihan-pilihan yang diambil. Mengapa penulis perlu kasih detail ini? Mengapa karakter ini merespon seperti ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain. Lebih banyak bertanya-tanya gitu deh. Kayaknya memang nampak sebagai masalah pada plot, ternyata setelah digali, merupakan masalah karakter/relasi/kekuasaan/ketakutan/loyalitas/identitas/dll/dst. Hal ini tentu diakibatkan dari pertama saya baca Throne of Glass dan pembacaan saat ini, terbentang ratusan buku lain yang sudah saya selesaikan. Saya sudah punya perpustakaan internal di otak, yang secara otomatis akan memproses seperti algoritma ketika terpapar dengan cerita baru. Pola-pola mudah dikenali, meski bukan berarti semua jadi gampang ditebak. Saya mulai melihat kekhasan Sarah J. Maas dalam membagikan informasi, bagaimana konflik yang nampak kecil ternyata dilatarbelakangi persoalan emosional yang besar, bagaimana karakter melindungi diri lewat amarah atau humor, bagaimana karakter bisa loyal ke satu pihak namun juga benci kepadanya sekaligus, bagaimana ketidakkonsistenan karakter bukan melulu diakibatkan penulis yang kurang mahir, bagaimana suatu keputusan yang diambil seorang karakter bisa nampak masuk tidak akal namun berubah menjadi masuk akal jika melihat betapa terbatasnya informasi yang didapatkan penulis tersebut. Sekarang saya mudah jengkel jika terlalu didikte oleh penulis (Sarah J. Maas, unfortunately, cukup sering melakukannya). Saya tidak biasa juga menerima karakter sebagai seseorang yang digambarkan hanya memiliki 1 dimensi sifat.

Akumulasi pengalaman membaca ini menjadi bekal saya menjalani reread Throne of Glass, setelah menamatkan ACOTAR dan Crescent City. Apa yang saya pelajari? Berkaitan dengan masalah yang saya hadapi akhir-akhir ini sih, saya jadi tidak terlalu cepat percaya pada penilaian pertama seorang karakter. Tidak penting apakah Celaena, Chaol, Dorian itu terkategorikan sebagai karakter yang baik, benar, menjengkelkan, heroik, atau menyebalkan. Penggalian paling penting adalah apakah yang membuat mereka bersikap seperti itu, apa yang mereka salah pahami, apa yang mereka lindungi, apa yang tidak bisa mereka akui, dan perubahan apa yang mereka tunjukkan ketika plot memuncak. Keterampilan ini terbawa ke kehidupan sehari-hari. Manusia di sekitar saya menjadi sulit untuk dikerucutkan menjadi 1 kategori sifat, karena saya mengakui, saya tidak memiliki seluruh informasi yang diperlukan untuk menilai orang tersebut. Melalui kebiasaan membaca fiksi, saya setidaknya terbiasa menempatkan diri dalam perspektif-perspektif yang saling bertentangan. Dua orang yang mengalami kejadian sama, bisa merespon dengan cara berbeda dan saya tidak bisa menyalahkan tindakan mereka secara absolut. Saya menjadi lebih berhati-hati untuk tidak merasa perilaku yang terlihat mata layak untuk dijadikan indikator utama pelabelan sifat seseorang. Terdapat jarak antara tindakan dan motivasi serta versi konflik dari berbagai sudut pandang. Saya sebagai pembaca fiksi, terlatih untuk lebih sabar dalam memandang hubungan antar manusia di kehidupan sehari-hari.

Apakah saya melihat Celaena secara berbeda saat ini? Apakah sifat yang saya labeli sebagai kesombongan, saat ini terdeteksi sebagai sebuah mekanisme pertahanan? Apakah keputusan yang sebelumnya nampak sederhana, jadi terlihat lapisan-lapisan kompleksitasnya disertai potensi pihak-pihak yang akan terdampak? Apakah saya memahami Chaol? Apakah peran Dorian jadi lebih krusial? Apakah ada karakter yang dulu saya abaikan, malah terasa paling signifikan karena ada pertimbangan/empati yang dulu tidak mampu saya alokasikan? Ugh. Teks di seri ini tidak berubah sejak pertama ditulis, namun keseluruhan interpretasi saya terhadapnya menjadi sangat berbeda . Sungguh indikator peningkatan diri paling tidak terduga yang saya lakukan selama ini.

Saya tidak pernah tidak bersyukur telah ngotot suka membaca, terlepas dari apa pendapat orang-orang di sekitar dan betapa nggak pahamnya waktu itu sama apa yang saya baca. Kalian juga jangan berhenti membaca. Sudah pintar pun masih sering kesandung, apalagi kalau tidak pintar.

No comments:

Post a Comment