Saturday, 4 May 2013

Review: Aidoru no Sekai ni Yoroshiku! (Bunga Sakura yang Mekar di Tokyo) by Orihara Ran



Judul: Aidoru no Sekai ni Yoroshiku- Bunga Sakura yang Mekar di Tokyo
Penulis: Orihara Ran
Penerbit: DIVA Press
Jumlah halaman: 498
Rating: ♥♥♥♥





Rekor nih baca novel dalam sehari. Mungkin karena kelewat pengangguran ya ._.
Aidoru no Sekai ni Yoroshiku, sepertinya punya arti Bunga Sakura yang Mekar di Tokyo (seperti judulnya), walaupun di judul Jepangnya nggak ada embel-embel Tokyo. Hah! Tapi tau apa sih saya soal Bahasa Jepang, jaman SMA aja nilai Bahasa Jepang saya jebluk. Entah kenapa Kiki Sensei dulu masih bisa sabar ngadepin saya, mungkin karena masih banyak yang lebih parah dari saya ya huahahaha *dirudal ALSTE 2012 dari berbagai arah*
Di tengah hingar-bingar dan ketenaran Drama Korea beserta boyband-girlbandnya, novel ini hadir bagai embun di pagi hari *taeah embun*, bersetting di Jepang. Sakurada Mine adalah gadis imut berjiwa preman yang hidup di desa terpencil yang  bahkan tidak tampak di peta. Dia hanya tinggal berdua dengan kakeknya. Di ulang tahunnya yang ke-15, kakeknya tiba-tiba menghilang dan meninggalkan pesan untuknya. Sang kakek memberitahu dia adalah putri dari pasangan artis terkenal di Jepang, Sakurada Youji dan Maki Ema, yang meninggal karena kecelakaan. Berita kematian mereka pun diikuti dengan gosip berbumbu yang mencoreng nama baik keluarga Sakurada. Oleh karena itu, Mine harus  berusaha keras masuk sekolah khusus artis di Tokyo: A Gakuen, dan menjadi artis besar dengan menyamar sebagai Fukuda Mine. Dia harus menjadi artis besar dan membersihkan nama baik keluarganya.
Yang namanya bakat ya, Mine langsung mendulang kehebohan karena gebrakan barunya di bidang entertainmen (?). Kebanyakan murid di sana adalah artis, yah minimal sudah berpengalaman di bidang keartisan lah. Hanya Mine yang belum tau apa-apa. Tapi kurang mantap ya kalau nggak ada konflik “lelaki” di sini. Oleh karena itu saya perkenalkan Saudara-saudara kepada cowok-cowok ganteng yang berpotensi menjadi cinta segitiga.... Asaoka Ichi dan Yasufuku Hyogo!!!! Garing ya? Iya.

“Nah…, terlepas dari dia tampan atau tidak, cinta jelas bukan bermula dari situ. Apa kamu tahu, ketika kamu menyukai seseorang, di matamu, dialah orang yang paling tampan? Padahal, bisa saja semua orang berkata dia jelek. Intinya, karena kamu suka, kamu jadi bisa melihatnya dari sisi terbaik yang ia punya. Sedangkan orang lain tak bisa melihatnya. Sampai di sini, kamu paham?” (halaman 252)
***
Memang sih ceritanya agak ke-Korea gitu. Mengingatkan pada Dream High. Dan pertama kali saya baca novel ini, saya kira ini novel terjemahan lho!! Apalagi nama penulisnya Orihara Ran (belakangan saya ketahui nama asli penulisnya Rachma Nindyasari, arek Suroboyo). Jujur, saya nggak nyangka. Soalnya saya bener-bener larut dalam penjabaran si penulis tentang hal-hal yang berbau Jepang, juga kisahnya yang Jepang banget. Bakat si Mine di bidang akting ini juga mengingatkan saya sama Drama Korea Skip Beat!, yang tokoh ceweknya agak sinting itu, entah siapa namanya.
Yah novel ini ringan dan manis, bahasanya juga lincah dan menyenangkan buat dibaca. Satu lagi novel tanpa penjabaran hiperbolis yang saya temukan. Saya juga diajak memandang bagaimana otak jenius seseorang bekerja. Selama 19 tahun ini, saya belum tahu apa sebenarnya bakat yang saya punya. Kalo hobi, banyak. Tapi mencermati cara Mine menganalisa masalah-masalah yang dia hadapi dan cara dia memecahkannya… pake apa itu namanya? Ah ya, intuisi. Saya kagum sekaligus iri. Saya nggak tahu selama ini intuisi saya pergi ke mana :(
Kekurangan untuk novel ini….. apa ya? Mungkin covernya kali, entah kenapa saya agak nggak sreg sama cewek yang madep belakang itu. Tapi capalah aku ini (ʃ_⌣̀ )/ *nestapa*
Makasih Nanda sudah minjemin novel yang bagus dan menghibur, sangat mengurangi kepenatan. Kalo masih ada novel bagus lagi, mohon jangan sungkan-sungkan ya ;) *kode* *kodebanget* *KODEEEEEEE*


Friday, 3 May 2013

Review: PS I Love You- Cecily Ahern


Judul: P.S. I Love You
Penulis: Cecelia Ahern
Alih bahasa: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: Gramedia
Jumlah halaman: 632
Rating: ♥♥♥♥♥

Pembaca yang budiman,
Namaku Holly. Belum lama ini Gerry, suamiku, meninggal karena kanker. Sebelum penyakitnya mengganas, kami pasangan yang bahagia. Mungkin Gerry bukan pasangan sempurna, karena dia paling malas mematikan lampu kamar saat kami sudah meringkuk di balik selimut yang hangat. Akibatnya, tulang keringku sering terantuk kaki ranjang dan memar-memar.
Ketika Gerry tiada, aku kehilangan sahabatku, kekasihku, batu karangku, dan hidup ini terasa hampa. Namun Gerry tak membiarkanku sendiri. Dia meninggalkan seikat surat untuk kubuka setiap bulan. Seiring bulan-bulan berlalu, aku menjadi lebih tabah. Bersama sahabat dan keluargaku, aku menangis, tertawa, serta belajar mengenal dan menjalani hidup ini. Seperti kata Gerry di surat pertamanya,
Ingatlah semua kenangan manis kita, tapi jangan takut menciptakan kenangan-kenangan baru.
Hidup ini memang untuk dijalani dengan sepenuh hati. Dan rasanya nyaman juga ada malaikat yang mengawasi setiap langkahku.
Cinta sejati memang tak pernah mati...

Holly
PS: I love you
***
Belum pernah saya se-emosi ini pas baca novel. Dari halaman awal, saya udah nangis aja *damn*, bikin pandangan kabur dan makin sulit baca. Memang terkesan lebay, tapi novel ini berhasil menguras air mata saya beserta segepok tisu. Screw you global warming! Pilihannya cuma tisu atau bantal, dan saya nggak mau besok pagi harus jemur bantal yang pasti bakal mengundang pertanyaan dari orang rumah.

Holly ini orangnya tabah sekali ya :’) Dan dia beruntung punya sahabat yang menemaninya di saat-saat tersulit dan membantunya bangkit lagi. Sekarang saya tahu kenapa orang-orang memberikan rating tinggi buat novel ini. Dan Gerry… ah lelaki macam itu udah langka dan harus dikloning kayaknya. Pokoknya sepanjang baca, saya cuma bisa nangis, ketawa, nangis lagi, senyum-senyum, terus nangis lagi. Bahkan waktu tadi siang saya terpaksa ke bank dan lagi ngantri sambil baca ini, saya nyaris nangis lagi. Pembawaan yang terlalu emosional ini kadang memalukan juga. Tapi setelah saya tamat baca, ada perasaan lega yang aneh. Katanya sih, menangis bisa menghilangkan racun-racun di tubuh. Dan karena mungkin saya sudah habis berliter-liter air mata, saya merasa jauh jauh jauh lebih baik.
               
 Di akhir suratnya, Gerry menulis:
PS, I love you, Holly, dan aku tahu kau juga cinta padaku. Kau tidak membutuhkan barang-barang pribadiku untuk tetap mengenangku, kau tidak perlu menyimpannya sebagai bukti aku pernah ada atau tetap ada dalam pikiranmu. Kau tidak perlu mengenakan sweterku untuk merasakan pelukanku, dan aku ada di sisimu… selalu memeluk dan merangkulmu erat-erat.
*mbrebes mili*

Sebenarnya yang saya baca itu yang edisi cover film, dan saya berniat mau hunting novel ini yang sampulnya sama kayak di atas (yang saya baca sekarang pinjam  dari Perpusda, dengan kondisi yang sudah sangat memprihatinkan dan sepantasnya dimuseumkan saja. Jilidnya jebol dan halaman-halamannya keriting seperti habis kecebur, atau kena tumpahan air mata pembaca-pembacanya terdahulu *oke, ini lebay*), tapi kan itu cover versi luar kan. Ha ha!
“Tapi, Holly, tidak ada orang yang hidupnya selalu dipenuhi saat indah. Kalaupun ada, itu bukan lagi saat-saat indah. Tapi sesuatu yang normal. Bagaimana kau merasakan kebahagiaan bila tidak pernah mengalami kesedihan?”
Cerita yang indah, dengan ending yang nggak terduga. Kita memang sepantasnya menghargai setiap waktu yang dikasih Tuhan untuk mensyukuri hidup dan berbagi kebahagiaan dengan orang di sekitar kita, terutama yang kita sayang. Ah novel sebagus ini saya harus punya!!!!


Thursday, 2 May 2013

Review: The Notebook- Nicholas Sparks [Read on February]





 Judul: The Notebook- Buku Harian
Penulis: Nicholas Sparks
Penerjemah: Kathleen S.W
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 288





Sekembalinya dari medan perang, Noah Calhoun yang berusia 31 tahun senantiasa dihantui bayang-bayang gadis cantik yang dikenalnya empat belas tahun silam, dan amat dicintainya. Walau mereka tak pernah bertemu lagi, Noah merasa puas hidup dengan kenangan masa lalunya... namun tanpa terduga gadis itu kembali ke kotanya, untuk menemuinya sekali lagi.Allie Nelson, 29 tahun, kini sudah bertunangan dengan pria lain, namun ia menyadari bahwa cintanya pada Noah tak pernah pudar ditelan waktu. Tapi dunia mereka begitu berbeda. Menghadapi pernikahannya yang tinggal beberapa minggu lagi, Allie dipaksa untuk mempertanyakan, apa sebenarnya harapan-harapan dan impiannya untuk masa depan, dan dengan siapakah ia ingin menjalani masa depan itu.
“I love you. I am who I am because of you. You are every reason, every hope, and every dream I’ve ever had, and no matter what happens to us in the future, everyday we are together is the greatest day of my life. I will always be yours. ”
Memang ceritanya bagus, tapi mungkin cerita macam ini bukan favorit saya. Minim petualangan dan konflik, saya aja berkali-kali menguap meski belum sampai ketiduran. Novel ini adalah karya Nicholas Sparks yang pertama kali saya baca. Yeah walaupun begitu saya ternyata keterusan baca karya-karya Nicholas Sparks yang lainnya…. tapi hanya sebatas minjem di Perpusda. Perpusda memang sahabat sejati saya di kala minim anggaran dan pengen cari referensi baru. Suasananya juga menyenangkan, kecuali pas ada ibu-ibu nyebelin yang ngajak anak balitanya masuk dan ngajarin anaknya membaca dengan suara keras-keras di dalem ruangan kayak kemarin. C’mon, shut up! You’re in the library! *tendang* 

PS: karena novelnya sudah lama sekali saya kembalikan dan kemarin saya cari-cari di Perpusda ternyata masih dipinjem orang, jadi quote nya saya ambil dari PDF yang bahasa Inggris
PS. PS.: ini nih sampul novel aslinya yang Bahasa Inggris, saya sih lebih suka yang ini: 
PS.PS.PS.: review ini diikutsertakan dalam Finding New Authors Reading Challenge 2013