Monday, 16 March 2015

[Book Review] Confess by Colleen Hoover

Confess
penulis Colleen Hoover
320 halaman, New Adult/ Contemporary Romance
Rating: 
Dipublikasikan 10 Maret 2015 oleh Atria Books

SINOPSIS:
Auburn Reed has her entire life mapped out. Her goals are in sight and there’s no room for mistakes. But when she walks into a Dallas art studio in search of a job, she doesn’t expect to find a deep attraction to the enigmatic artist who works there, Owen Gentry.

For once, Auburn takes a risk and puts her heart in control, only to discover Owen is keeping major secrets from coming out. The magnitude of his past threatens to destroy everything important to Auburn, and the only way to get her life back on track is to cut Owen out of it.

The last thing Owen wants is to lose Auburn, but he can’t seem to convince her that truth is sometimes a subjective as art. All he would have to do to save their relationship is confess. But in this case, the confession can be much more destructive than the actual sin…


REVIEW:

Auburn kesulitan mencari uang untuk membayar jasa seorang pengacara. Pekerjaan utamanya sebagai karyawan salon tidak bisa menutup besarnya biaya yang ia butuhkan. Di usianya yang ke-21, hidupnya berantakan karena dia terlalu banyak mengambil keputusan yang salah di hidupnya. Setiap hari ia hanya menangisi nasib buruknya dan berharap keajaiban akan datang dan menyelamatkannya.

Keajaiban akhirnya datang dalam bentuk tanda HELP WANTED, Knock to Apply di sebuah bangunan yang selalu ia lewati ketika berangkat dan pulang bekerja.


Awalnya Auburn sangsi, karena Owen, sang pemilik bangunan yang ternyata juga merupakan studio itu bersedia membayar $100 per jamnya. What kind of weirdo does that? Apa pekerjaan yang sebenarnya ditawarkan oleh Owen? Pertanyaan itu terjawab ketika Auburn memasuki studio milik Owen yang ternyata, akan dibuka untuk pameran kurang satu jam lagi. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di studio tersebut, Auburn langsung terpesona dengan lukisan-lukisan yang ada di sana. Bukan hanya karena lukisan-lukisan tersebut luar biasa indah (beberapa gambar lukisan dilampirkan dalam buku ini), tapi karena setiap lukisan diwakili oleh secarik kertas Pengakuan a.k.a Confess. Tiap harinya, orang-orang menuliskan Pengakuan di secarik kertas kecil dan memasukannya ke selot pintu studio Owen, yang kemudian akan dijadikan inspirasi olehnya dalam melukis. Pengakuan-pengakuan itulah yang membuat tiap lukisan begitu indah, jujur, dan menuntut untuk didengar (ok well, dibaca… atau dilihat, you know what I mean). Berbagai emosi langsung berkecamuk dalam diri Auburn ketika melihat dan membaca Pengakuan di tiap-tiap lukisan yang ada di sana.

Di luar segala prasangka yang Auburn punya, dia ternyata menikmati pekerjaan barunya sebagai asisten Owen dalam melayani pengunjung pameran. Ditambah, uang yang ia hasilkan cukup untuk menumbuhkan kembali harapannya dalam menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi.

Namun pertemuannya dengan Owen menyeretnya dalam masalah yang lebih besar. Masalah yang mengancamnya untuk kehilangan orang yang selama ini susah payah ia perjuangkan.

Source

Saya sudah baca beberapa novel Colleen Hoover, namun belum semua. Hal ini mungkin sudah cukup saya jadikan bukti bahwa saya berpendapat CoHo memakai formula yang nyaris sama di novel-novelnya. Kalau di Confess ini, mungkin bedanya ada di ketiadaan puisi yang selama ini setia muncul di beberapa judul… setahu saya sih yang pakai puisi itu Slammed, Point of Retreat, This Girl, dan Ugly Love. Plot cerita, kondisi emosi tokoh (dalam artian apa yang saya rasakan ketika membaca narasi dari tokoh-tokohnya), gaya penulisan…. sama. Bisa dibilang ini membuat CoHo memiliki gaya yang khas di mata saya dibanding penulis lain, namun di sisi lain saya juga mulai bosan ketika ia membahas hal itu lagi, itu lagi. Pakai cara yang begitu lagi, begitu lagi.


Yang jadi masalah adalah Confess diceritakan bergantian dari sudut pandang Auburn dan Owen. Kemotonan pada gaya penulisan menyebabkan baik suara Auburn dan suara Owen bagi saya sama. Terlebih, si Owen ini makin kesini makin mirip sama Will Cooper-nya Slammed Series. Duh, jeng. Aku kudu piye. Seharusnya diceritakan dari salah satu tokoh aja cukup lah, daripada jadinya kayak gini.

Dan duh, kemana perginya CoHo yang dulu sering bikin hancur perasaan saya? Jalan cerita Confess ini jauuuuuh banget dari ekspektasi yang saya pasang. Hambar, terlalu banyak drama, dan bikin pusing saking capeknya saya rolled eyes rolled eyes mulu. Karena ketika masalah datang, yang seharusnya kamu lakuin adalah berpikir dan cari solusi biar masalahnya cepetan selesai. Bukannya malah flashback ke masa lalu dan sibuk nyusun kata-kata puitis.

Untungnya Confess ini lumayan asyik juga buat ngabisin waktu, daripada bengong. Dan syukur deh sukses menarik saya dari book hangover yang akhir-akhir ini lagi melanda. Apalagi banyak gambar lukisan keren yang ada di beberapa bagian buku. Oooookay, I guess. 

Kesimpulannya….. Confess ini enggak sekacrut Ugly Love. Tapi tetep aja, tidak memenuhi harapan saya sebagai penggemar lama CoHo. Jadi dua bintang cukup lah, atas nama masa lalu, ok?


Some secrets should never turn into confessions. I know that better than anyone.


Novel ini saya rekomendasikan buat yang belum pernah baca karya Colleen Hoover sebelumnya. Kalau sudah pernah, yaudah berarti jangan hahaha.

Friday, 13 March 2015

[Book Review] I'll Meet You There by Heather Demetrios

I’ll Meet You There
penulis Heather Demetrios
400 halaman, Young Adult/ Contemporary Romance
Rating: image
dipublikasikan 3 Februari 2015 oleh Henry Colt & Co. BYR

SINOPSIS:
If seventeen-year-old Skylar Evans were a typical Creek View girl, her future would involve a double-wide trailer, a baby on her hip, and the graveyard shift at Taco Bell. But after graduation, the only standing between straightedge Skylar and art school are three minimum-wage months of summer. Skylar can taste the freedom—that is, until her mother loses her job and everything starts coming apart. Torn between her dreams and the people she loves, Skylar realizes everything she’s ever worked for is on the line.

Nineteen-year-old Josh Mitchell had a different ticket out of Creek View: the Marines. But after his leg is blown off in Afghanistan, he returns home, a shell of the cocksure boy he used to be. What brings Skylar and Josh together is working at the Paradise—a quirky motel off California’s dusty Highway 99. Despite their differences their shared isolation turns into an unexpected friendship and soon, something deeper.


REVIEW:

When we were freshman, Chris and I had promised each other that we’d be the ones to get out—we called it our Sacred Pact. We nagged each other all throughout high school, when one of us wanted to be lazy or give in to giving up. Whenever I liked a boy, Chris had been all, The pact! The Pact! Because, of course, romance was bad for GPAs.

Saya punya pendapat yang cukup beragam mengenai I’ll Meet You There. Secara pribadi, saya sangat menikmati membaca buku ini…..atau mungkin terlalu menikmati? Entahlah, butuh waktu lebih dari satu bulan bagi saya untuk menamatkannya. Bukan karena ceritanya membosankan loh ya, saya cuma ingin benar-benar memahami cerita yang disuguhkan oleh sang penulis dengan tidak terburu-buru membacanya.

Tema yang diangkat Heather Demetrios sebenarnya sederhana, tanpa ada plot twist yang bombastis. Menceritakan tentang dua remaja muda, Skylar dan Josh, kita diajak untuk mengenali kehidupan masyarakat pinggiran kota yang hidup dan bernapaskan kemiskinan. Skylar, yang harus mengambil 3 pekerjaan di luar waktu sekolahnya untuk membayar tagihan sehari-hari….. dan Josh, yang walaupun sudah merasakan kebebasan sementara dengan menjadi tentara yang dikirim ke Afghanistan, harus kembali dengan trauma berat dan kehilangan sebelah kakinya. Karena, tahu sendiri lah, hidup itu bisa sebegitu jahatnya. Josh yang mengerti rasanya memiliki rumah di luar Creek View, mengerti kekeraskepalaan Skylar untuk segera keluar dari kota kecil ini. 

The other towns needed us: you can’t have the light without the dark, right? Maybe our darkness was necessary for other people to see their light.

Jelas di sini Heather Demetrios benar-benar menuangkan segala kemampuannya dalam I’ll Meet You There. Disamping bakat luar biasanya dalam menulis, dia melakukan riset mendalam kepada beberapa mantan Marine (termasuk ayahnya sendiri!). Nggak heran di bab-bab Josh yang walaupun pendek, saya benar-benar bisa merasakan emosi gelap Josh sebagai mantan prajurit yang harus kembali ke kampung halamannya dalam keadaan kurang, baik dari sisi fisik maupun emosional.

Berbeda dengan Skylar (saya suka sekali sama nama dia!). Heather Demetrios berhasil menciptakan sosok tokoh utama yang kuat dan tabah. Skylar bukan tipe heroine humoris manis yang membuat kamu menyukainya sejak paragraf-paragraf pertama. Dibesarkan dalam lingkungan yang keras, saya menemukan bahwa sosok Skylar lumayan pahit. Ketika tinggal selangkah lagi dia bisa menggenggam tiket keluarnya dari Creek View, cobaan datang. Hal yang dialami Skylar cukup menjengkelkan bagi saya, karena yang menghalangi Skylar untuk mendapatkan kebebasannya adalah ibunya sendiri. Ibu seharusnya menjadi pelindung dan pendukung bagi anaknya, bukan malah jadi beban. Ya, saya tahu ibunya sedang berduka karena kehilangan suami yang merupakan belahan jiwanya. La la la….. Tapi Skylar juga kehilangan sosok ayah. Hidup tanpa ayah dan sekarang ibunya tidak bisa membantunya menopang hidup karena "berduka"......well, forgive me for being this cranky.

Why is it that some people in the world get to wake up in beautiful houses with fairly normal parents and enough food in the fridge while the rest of us have to get by on the scraps the universe throws at us? And we gobble them up, so grateful. What the hell are we grateful for?

Novel ini terasa begitu realistis sampai saya takut untuk menamatkannya.

Namun terlepas dari kebencian mereka terhadap Creek View, Skylar dan Josh tetap dapat menemukan keindahan di sana... kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang mungkin bagi penduduk lain Creek View tampak tidak berharga. Saya jadi penasaran buat tahu seperti apa Creek View versi I'll Meet You There di kehidupan nyata.

Mungkin saya tidak mendapat pengalaman yang sama dengan Skylar dan Josh, yang harus terjebak di kota kecil nan terisolasi serta dipenuhi oleh orang-orang yang betah tinggal di sana. Tapi satu hal yang sama, saya ingin keluar dari kota yang selama ini menaungi saya. Saya haus pengalaman untuk merasakan kehidupan di luar Semarang, walaupun dalam waktu yang sebentar. And hell yeah I did.


Terlepas dari hal-hal di atas, pengalaman membaca I’ll Meet You There terasa seperti tiket sekali perjalanan bagi saya. Tidak ada keinginan sama sekali untuk membaca ulang di masa mendatang. Satu kali saja cukup, dan saya senang karena sudah benar-benar menikmatinya di perjalanan pertama—dan terakhir—ini.

My blood was carbonated, and I was awake and young and alive, and screw everything because this moment was mine.


Monday, 2 March 2015

NARC 2015 Update (Jan-Feb)

Januari

The Pirate Next Door by Jennifer Ashley
Novel historical fiction pertama saya dan suka banget!!! Heroine milik Jennifer Ashley ini selalu strong dan witty tanpa perlu dibuat-buat. Saya sudah mencapai buku ketiga dari seri ini dan menyimpan buku keempatnya ketika mood untuk historical fiction muncul kembali.

Falling into Place by Amy Zhang
Novel bertema bullying yang disorot dari pihak si penggencet. Banyak banget yang saya pelajari dari buku ini; tentang apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk, dan yang paling penting tentang bagaimana sebaiknya kita memperlakukan orang lain. Sangat saya rekomendasikan!


Wish You Were Italian by Kristin Rae
Traveling? Italia? Cocok baca buku ini. Review sudah diposting.

Fallen Too Far by Abby Glines
Pendapat pertama saya mengenai buku ini adalah duh dan meh. Tapi nyatanya, saya sudah tamat sebagian besar buku dari seri ini dan sangat familiar dengan para penduduk Rosemary Beach. Teknik penulisan Abby Glines semakin lama semakin membaik lah. Kacrutnya cuma di buku pertama aja. So if you curious, you have to bear this first book.


For Real by Alison Cherry
Termasuk buku baru yang underrated padahal bagus. Review sudah diposting.

The Girl in 6E by Alessandra Torre
Bikin penasaran banget. Tapi cuma itu aja sih strong point dari buku ini. Jatohnya, membaca buku ini terasa seperti lagi balapan, pengen cepet-cepet nyampe akhir cerita. Bobotnya sih nggak ada wkwk.


Februari 


Wait for You by J. Lynn
KECEWA, KECEWA, KECEWA. Tipikal cerita standar good girl meets bad boy. Apalagi eksekusinya jelek banget. Meh.


Diposting untuk New Author’s Reading Challenge Periode Januari-Februari 2015

Thursday, 19 February 2015

[Book Review] Second Chance Summer by Morgan Matson

Second Chance Summer
by Morgan Matson
468 halaman, Young Adult/ Contemporary Romance
Rating:  image 
Dipublikasikan 7 Mei 2013 oleh Simon & Schuster

“Hi, kid,” he said. “What’s the news?” 

Setiap dihadapkan pada situasi yang sulit, hal pertama yang dilakukan oleh Taylor Edwards adalah kabur. Harfiah. Begitu seringnya hal ini terjadi sehingga ibunya tidak perlu merasa repot untuk panik. Namun ayahnya tahu kapan harus menjemput Taylor, lalu mengajaknya membeli es krim dan membicarakan masalahnya. Hal itu selalu menjadi rahasia kecil mereka.


Keluarga Edwards memang bukan tipe yang selalu dekat dan hangat, dan mereka pun terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sehingga jarang menghabiskan waktu bersama. Maka dari itu, ketika ayah Taylor didiagnosis menderita kanker pankreas stadium empat dan memiliki permintaan untuk menghabiskan musim panas terakhir bersama keluarganya di Lake Phoenix, Taylor tahu kabur bukanlah jalan terbaik untuk menghadapi semua ini.

It wasn’t until now, when every day I had with my father was suddenly numbered, that I realized just how precious they had been. A thousand moments that I had just taken for granted—mostly because I assumed that there would be a thousand more.

Lima tahun mencoba kabur dari Lake Phoenix dan segala masalah yang belum terselesaikan, mau tak mau Taylor harus menghadapi konsekuensi dari tindakan cerobohnya dahulu. Di samping mendampingi ayahnya (yang masih sibuk bekerja dengan semua kiriman paket rutin dari kantornya), Taylor berusaha membangun kembali hubungan yang retak dengan sahabatnya Lucy, dan mantan pacarnya ketika berumur dua belas tahun, Henry—yang bisa dikatakan tidak menyambut kedatangan Taylor dengan antusias.


Mungkin yang saya suka dari novel ini adalah bahwa Taylor tidak sibuk bermuram durja terhadap cobaan yang sedang dihadapi keluarganya. Waktu yang mereka miliki terbatas, jadi mereka berusaha untuk membuat setiap detiknya berharga. Tidak melulu nempel ke sang ayah, Taylor pun menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kesalahannya lima tahun lalu satu per satu, membantu kakaknya yang super brainiac yang lagi naksir cewek untuk pertama kalinya, mengajarkan pada adiknya pentingnya punya sahabat, dan lebih mendekatkan diri dengan ibunya. Lama-kelamaan dia tersadar bahwa musibah yang menimpa keluarganya ini justru mampu untuk membuat mereka semua kembali akrab dan bertingkah seperti layaknya keluarga, saling menopang satu sama lain.

I kept thinking back to all those nights in Connecticut, when I was out the door as soon as dinner was over, yelling my plans behind me as I headed to my car, ready for my real night—my time with my family just something to get through as quickly as possible. And now that the time we had together was limited, I was holding on to it, trying to stretch it out, all the while wishing I’d appreciated what I’d had earlier.

Saking menikmati cerita dan momen family-bonding mereka, saya sampe nggak begitu ambil pusing sama masalah Taylor dan Henry. Ya, ya, Henry memang memiliki porsi yang cukup besar di novel ini, tapi bagi saya dia cuma pelengkap saja. Pemanis buat unsur cinta di novel YA. Yah walaupun saya akui sebagai cowok dia cukup swoon-worthy dan boyfriend material (HELL YEAH HE’S MY BOYFRIEND MATERIAL!!!), saya lebih terfokus dengan hubungan Taylor dengan keluarga dan sahabatnya. Because when life is getting tough, you can’t just thinking about all luuuuuuv.

Satu yang saya nggak suka sama novel ini adalah tingkah Morgan Matson yang mengulur-ulur informasi tentang apa yang terjadi lima tahun lalu. Uuuughhh ganggu banget deh pokoknya. Selain itu? Sempurna. Morgan Matson berhasil membuat novel yang begitu lengkap namun kompleks. I can’t even….

Jujur saja, membaca (dan menamatkan) novel ini merupakan hal yang sulit bagi saya. Ada saat-saat ketika situasi terasa begitu berat, sehingga memaksa saya untuk berhenti selama beberapa hari untuk kembali ke realita. Saya benar-benar menikmati dan menghayati setiap kejadian yang ada di novel ini—dan ini bukan sesuatu yang sering terjadi terlepas dari banyaknya novel yang saya baca—sehingga takut rasanya untuk mencapai halaman akhir. Keluarga yang mencoba tabah untuk sang ayah, dan sang ayah yang mencoba kuat demi menenangkan hati orang-orang terkasihnya. Semua kepura-puraan ini terlalu berat untuk saya terima karena saya tahu, seiring waktu mereka harus semakin berusaha. Lebih berpura-pura antar satu sama lain.

Membaca Second Chance Summer bagi saya seperti mengembalikan kepercayaan kepada Morgan Matson setelah sebelumnya kecewa berat dengan Since You’ve Been Gone. Amy and Roger’s Epic Detour memang istimewa, tapi Second Chance Summer-lah yang benar-benar berhasil memenangkan hati saya.

Serius deh, saya benar-benar merekomendasikan novel ini.

Karya lain Morgan Matson:


Since You’ve Been Gone: 
Amy and Roger’s Epic Detour:  image

Monday, 9 February 2015

[Book Review] For Real by Alison Cherry

For Real
penulis Alison Cherry
340 halaman, Young Adult
Rating:  image
Dipublikasikan 9 Desember 2014 oleh Delacorte Press

Why do you want to be on this show (besides the million-dollar prize)?
MIRANDA: I spent the last year dating a self-involved, cheating asshole who wants to be famous. He’s on your show. I’m here to keep him from succeeding.
ME: I’m here to support my sister. Letting her loose in the world of reality TV on her own world would be like tossing a baby into a swimming pool without water wings.

Kalau kalian mengharapkan novel bertema road trip antar dua sahabat (seperti yang disiratkan oleh cover) siap-siap aja untuk kecewa. Eits jangan khawatir, novel ini menjanjikan premis yang jauh lebih baik kok: reality show! Tahu sendirilah, udah buanyak banget penulis yang mengangkat tema road trip sampai saya capek sendiri ngikutinnya. Tapi kalau reality show… wah saya belum pernah baca tuh sebelumnya. Maka ketika tahu seseorang bersedia membagi informasi tentang dunia reality show, saya siap menyambutnya dengan tangan terbuka.


Miranda baru saja putus dengan pacarnya, Samir, yang memang dari radius lima mil sudah mengeluarkan aura brngsk. Baru ketemu beberapa menit saja, Claire sudah tahu bahwa pacar (atau tepatnya mantan) kakaknya itu adalah cowok paling arogan, narsis, dan menyebalkan di muka bumi. Dan firasatnya langsung terbukti ketika Samir mengkhianati dan mempermalukan kakaknya di depan teman-temannya, tepat seminggu sebelum Miranda dan Samir pindah untuk tinggal bersama.

Untuk menghibur kakaknya itulah, Claire mengajukan alternatif balas dendam yang bakal lebih menyakitkan bagi Samir. Mereka akan mengikuti Around the World, mengikuti jejak Samir yang sudah lebih dahulu lolos menjadi peserta. Around the World merupakan reality show yang mengajak pesertanya keliling dunia untuk memenuhi tantangan-tantangan tertentu, dan tim yang paling terakhir memenuhi tantangan akan tereliminasi (and say goodbye to 1 million dollars). Miranda dan Claire akan bekerja sama untuk mengeliminasi Samir, yang juga berarti bakal mengakhiri jalan karirnya di depan televisi selamanya. (Man, girls can be such a freakin bitch, so just don’t messing around with us okay? It’ll end dirty).

“I know it’s not something you’d normally do. But come on, don’t you want to take him down in front of the whole world? Everyone would remember that. Every single time he went to an audition, he’d be ‘that guy who got his butt handed to him by his ex-girlfriend on TV.’ Nobody would ever respect him again.”

Dengan pengetahuan tak-terbatas Claire terhadap reality show (thanks to all those endless reality shows marathons) dan cerita “menyedihkan” Miranda, mereka memantapkan diri untuk mengikuti audisi dadakan. Claire bertekad untuk membantu kakaknya membalas dendam dan juga memperbaiki hubungan kakak-beradik mereka yang selama ini renggang. Dan kamu tahu apa yang mengejutkan? Mereka benar-benar lolos audisi!! Para produser menelan bulat-bulat cerita mereka. Tim lain yang lolos bersama mereka adalah Will dan Lou. Claire tidak menyangka bahwa Will, cowok cute yang ia kenal ketika mereka mengantri audisi juga terpilih. Tapi dengan senyum manis dan kepribadiannya yang supel, siapa yang bisa menolak Will? 


Malapetaka dimulai ketika tema Around the World tahun ini diumumkan: Around the World in Eighty Dates. Yang artinya….. masing-masing peserta akan berpasangan laki-laki—perempuan. Yang artinya…… Miranda dan Claire harus terpisah. Yang artinya……………… bakal ada kemungkinan Miranda untuk berpasangan dengan Samir.



Yang bikin saya cukup terkejut adalah destinasi pertama mereka: Surabaya! Yep, seneng rasanya waktu tahu kalo ada seorang penulis yang mau repot-repot menyorot negara kita. Di kota Surabaya pula!!! (biasanya kan, Bali lagi…. Bali lagi….). Selain Surabaya, destinasi dan tantangan mereka di negara lain juga unik-unik lho :))) Jangan kira perjalanan mereka bakal super mewah dan jalan-jalan cantik aja ya, karena produser mereka getol sekali mengerjai mereka dengan tantangan paling EWH dan aneh. Saya masih geli ketika Claire dan Will (mereka berpasangan di tantangan ini!) harus minta tolong sama penduduk lokal bernama Taufik untuk mencari ikan asin dan srikaya di Pasar Pabean :’)))) bener-bener ditulis ‘ikan asin’ dan ‘srikaya’ di kertas tantangan mereka. Bikin saya agak bersyukur juga sih sama negara-negara macam kita gini soalnya selain punya bahasa nasional sendiri, kita tetep diwajibkan buat mempelajari bahasa universal semacam Bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dll. Jadi jatohnya nggak manja dan malas belajar.

“And the next question. Um….if you could only eat food beginning with one letter of the alphabet for the rest of your life, which letter would you choose?”
“Ooh, good one.” He thinks about it for a minute, and I take that time to concentrate on banishing my blush. “I’d choose P. I’d be able to have pizza and pasta and pad Thai and peanut butter. And pie, obviously.”
“What would you put the peanut butter on?
“Pumpernickel. With peach preserves.”
I laugh. “Nice.”



Dunia reality show ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh Claire. Marathon beberapa acara TV pun tidak terbukti mampu mempersiapkan diri pada kenyataan pahit yang harus ia alami sewaku mengikuti Around the World: di reality show…. tidak ada yang benar-benar real.

“Claire…you know there’s nothing actually real about reality show, right?”
“Yeah, of course I know that. The producers manipulate the story and fabricate drama. And thins are filmed out of order, and—“
“No, I mean, everything. You don’t have to be yourself when the cameras are on. People come on these shows, and they get characterized as the nerds, or the daredevils, or the bimbos, but that isn’t necessarily who they really are, it’s just who they’ve become for the producers and the viewers. You can be anyone you want.”

Hal itulah yang membuat saya agak jengkel sama Claire, karena dia sombong. Padahal pengetahuan yang ia gembor-gemborkan itu hanyalah beberapa tipuan dasar yang ditanamkan para produser untuk diyakini para penontonnya. Kalau bukan karena bantuan pasangan-pasangan timnya, mungkin Claire sudah tereliminasi dari awal. Maka dari itu nggak heran di Around the World in Eighty Dates, Claire terkesan seperti peserta yang paling polos. Dan menyedihkan, karena bahkan Miranda pun berulang kali “menjatuhkan” dia baik saat mereka melakukan tantangan atau saat mini interview.

Kalau saya jadi Miranda sih, saya juga bakal jengkel. Claire mulai membelok dari tujuan awal mereka mengeliminasi Samir sih dan malah menghabiskan setiap waktunya untuk mengejar Will, bahkan ketika Claire dan Will sudah tidak satu tim lagi. Masuknya sudah bukan tahap kepo lagi, tapi stalker. Claire juga cenderung men-judge peserta lain dari penampilan dan latar belakang mereka. Uggghhh.


Tapi itulah yang membuat novel ini istimewa di mata saya. Sikap menyebalkan Claire mengingatkan saya sama diri saya sendiri di masa lalu (walau nggak separah dia sih) ketika masih silly, menyebalkan, judgemental, dan sok tahu. Di Around the World inilah Claire belajar untuk mengenali kesalahannya dan berubah jadi lebih baik, nggak jarang melalui komentar pedas orang lain. Andai saja saya baca novel ini sejak dulu—wkwk padahal juga baru terbit beberapa bulan yang lalu—pasti saya juga bisa mengenali kesalahan saya dan belajar lebih cepat.

Secara umum, For Real ini adalah novel yang super menyenangkan!!! Gaya penulisannya bagus, tidak ada fakta yang dilebih-lebihkan di tiap destinasi mereka, dan plotnya selalu memberikan kejutan bagi pembacanya. Bikin saya penasaran buat membaca karya lain Alison Cherry. Kalau ditanya apakah saya bakal membaca ulang novel ini di lain waktu, jawabannya adalah YA!!! Ayo dong penerbit Indonesia terjemahin novel ini!