Tahun 2017 silam, timeline Twitter saya sangat ramai oleh berita tentang Harvey Weinstein yang diduga menyalahgunakan kekuasaannya sebagai produser terkemuka untuk melakukan pelecehan seksual terhadap banyak perempuan yang menjadi bawahannya. Beberapa korban maju memberikan kesaksian. Banyak pihak membenarkan. Namun, banyak juga yang menganggap korban cuma mencari perhatian dan “toh artis X juga terkenal genit sana sini.” Setahun kemudian, berita sejenis mencuat, kali ini menyasar Hakim Mahkamah Agung Brett Kavanaugh. Dampaknya lebih besar, hingga memunculkan gerakan #IBelieveHer khususnya dari perempuan-perempuan di Amerika Serikat.

