Friday, 22 February 2019

Buku Masak dan Hal-hal Baik Tentangnya #2

Kali ini saya mau memperluas pengetahuan kuliner dengan membaca dua buku masak dari negara berbeda. Yang pertama berjudul Authentic Polish Cooking, ditulis oleh Marianna Dworak. Resep-resep yang ada di dalamnya merupakan resep tradisional Polandia yang sering dimasak oleh keluarga penulis, kebanyakan diambil dari catatan buku resep milik ibunya.


Saya suka sekali dengan buku resep ini, karena membuka mata saya kalau ternyata masakan Polandia itu enak-enak dan mudah. Masing-masing resepnya cuma butuh beberapa bahan saja (kayaknya nggak ada yang lebih dari 10 jenis bahan deh) dan hampir semua tersedia di toko-toko dekat rumah. Cuma ya ada beberapa bahan yang sempat bikin saya sangsi karena—uhuk—mahal. Contohnya nih, sour cream. Karena kita orang Indonesia nggak pakai sour cream untuk memasak sehari-hari dan kebanyakan yang dijual di toko itu impor, jadinya harganya lumayan mahal ya untuk standar bumbu kita. Apalagi sekali masak cuma butuh berapa sendok saja kan, sayang kalau sisanya cuma nganggur di kulkas. Contoh lainnya sih pasta tomat (bukan saus tomat lho ya), yang dilemanya hampir sama kayak sour creamharganya cukup mahal dan kemasannya kaleng. Sekali dibuka, bingung cara menyimpannya. Malas juga sih mindah-mindah ke Tupperware gitu.

Tapi kalau dijadikan menu akhir minggu sepertinya layak deh dengan pengorbanan riweuh-nya. Penulis menekankan kalau masakan Polandia bakal maksimal citarasanya kalau dimasak sejak berjam-jam sebelumnya, sehingga cocok kalau dimasak untuk acara makan bersama keluarga yang santai. Kuncinya adalah jangan tergoda untuk cari jalan pintas. Dari mulai potong-potong bahan, bikin kaldu, dan lain sebagainya… nikmati dengan baik. Makanya, bisa dibilang proses memasak hidangan Polandia merupakan media bonding yang cocok sekali buat anggota keluarga. Saya sudah menandai beberapa menu yang terlihat enak dan pas sama selera sekeluarga, kapan-kapan akan kita eksekusi.


Buku kedua adalah Stir-frying to the Sky’s Edge (gila nih judulnya keren banget) yang ditulis oleh Grace Young. Ini adalah kitab untuk kalian yang suka tumis-menumis ala masakan Tiongkok. Sejak bagian pendahuluan, saya sudah terpikat banget sama dedikasi penulisnya—yang bekerja sebagai instruktur masak internasional—buat bawa wok miliknya keliling dunia. Bahkan, dia punya metode khusus biar wok kesayangannya bisa masuk hand carry, walaupun itu berarti dia harus selalu CEMAAAS tiap naruh tasnya di bagian scanner. Tukang cemas tapi tetap dilakuin demi hasil sempurna? Honestly, I can relate

Stir-frying to the Sky’s Edge lebih “berbobot” daripada Authentic Polish Cooking karena ada banyak sekali pengetahuan yang dibagikan penulis mengenai alat-alat dan teknik yang membuat makanan yang ditumis menjadi super nikmat. Ini membuat saya agak pinter dikit waktu jalan ke bagian alat permasakan di toko perabot. Sudah nggak asal milih produk terus langsung bawa ke kasir, karena ada pertimbangan khusus yang disesuaikan sama kebutuhan masak keluarga saya. Info yang diberikan sangat jelas, masuk akal, dan dilengkapi dengan ukuran-ukuran yang kita perlukan dalam satuan inchi. She knows what she’s talking about, guys. Penulis benar-benar sudah dalam taraf master, memperlakukan proses memasak lebih sebagai seni dan bukannya sekadar kegiatan memenuhi kebutuhan perut. I stan a professional queen.

Jujur saya agak nggak minat sama bagian seasoning a wok karena…kayaknya saya nggak bakal mau repot-repot deh. Tapi saya nggak mau menutup kemungkinan kalau di masa depan, bisa jadi saya penasaran. Toh nyatanya, dulu saya pernah sok-sok nggak mau repot masak manual per bahan. Lihat deh sekarang, saya malah sangat menikmati prosesnya. Saya jadi sadar, rupanya sangat theurapeutic motong-motong sayur sambil dengerin audiobook, atau mitilin bayam di depan laptop sambil nonton drama korea (sungguh sangat bibik). Kalau pada akhirnya di masa depan saya terobsesi sama wok, buku ini bakal jadi rujukan pertama yang saya buka karena saya cuma mau ngikutin titah dari seorang Q U E E N of wok. Jadi, baca sekilas dulu sekarang. Besok-besok, baru dihayati dan dipraktekkan.

Oh ya, informasi lain yang dibagi penulis adalah bahan-bahan yang biasa digunakan untuk tumis-menumis. Dari mulai sayur, empon-empon, bermacam saus dan kecap, jenis mi, hingga jenis minyak yang dipakai dijelaskan dengan sangat baik. Penulis juga ngasih tips gimana cara memilih dan mengolah bahan yang segar. Membaca buku ini mengubah pola pikir saya. Sebelumnya, saya memimpikan punya mertua yang pinter masak dan bakal mengajari saya berbagai pengetahuan dapur sambil bonding. Setelah baca ini, saya justru ingin menjadi si mertua itu; ramah dan sabar mengajarkan ilmu memasak ke seseorang yang anak saya cintai. Tentu tujuannya bukan biar dia bisa melayani anak saya; anak saya harus bisa menyuplai kebutuhan hidupnya sendiri. I just want to be that nice old lady, okay? Yang nggak suka nyiksa calon menantu dan memperlakukannya seperti anak kandung sendiri. After all, the're gonna be MY children too. Dan dengan buku ini, impian saya jadi mungkin. Terima kasih banyak, penulis! Pokoknya saya sangat merekomendasikan buku Stir-frying to the Sky’s Edge buat kalian yang mau belajar teori masak dari tahap pemula hingga ahli.


Saya sangat puas dengan bacaan buku-buku masak minggu ini. Sebagai seorang yang suka pilih-pilih makanan dan cepat bosan dengan menu yang itu-itu saja, saya senang bisa menandai berbagai menu internasional untuk dicoba di kemudian hari. Pengetahuan tentang teknik dan alat masak juga nambah secara signifikan berkat dua buku ini. Minggu depan sepertinya bakal mencoba baca buku masak lain, dari negara lain.

Monday, 18 February 2019

[Review Buku] 99 Percent Mine oleh Sally Thorne

We’re all shareholders in Tom Valeska: Jamie, Megan, and me. His mom and my parents. Loretta and Patty. Everyone who’s ever met him wants a piece of him, because he’s the best person there is. I quickly count up all of those people. I include his dentist and doctor. Maybe he’s only 1 percent mine. That has to be enough. I have to share.

Ini dia buku baru dari Sally Thorne yang lagi dipuji-puji banyak booktuber akhir-akhir ini. Karena saya suka The Hating Game—novel  debut dia—makanya saya coba baca 99 Percent MineAm I liking it as much as The Hating Game? Surprisingly, no.

Mari kita ulas.

99 Percent Mine mengambil cerita yang sangat berbeda dengan The Hating Game, baik dari segi kepribadian tokoh, latar belakang cerita, serta alur. Tokoh utama kita di sini, Darcy Barrett, baru saja mewarisi rumah dari neneknya, Loretta. Wasiat yang diberikan oleh Loretta adalah agar rumah bobrok itu direnovasi dengan budget yang sudah disiapkan untuk kemudian dijual. Hasil penjualan rumah tersebut nantinya akan dibagi dua dengan saudara kembar Darcy, Jamie Barrett. Jamie sangat suka uang, sehingga ketika Darcy mengusir kenalan Jamie yang akan membeli rumah itu dengan harga tinggi (in her defense, though, he was rude to a mourning family), Jamie marah besar dan memutuskan untuk hengkang dari sana. 

Konsekuensi dari hengkangnya Jamie adalah Darcy harus mengawasi sendirian proyek renovasi rumah Loretta. Untungnya, kontraktor yang dipilih oleh keluarga Barrett adalah Tom Valeska, sahabat Darcy dan Jamie sejak kecil sekaligus buffer bagi keduanya. Tom baru pertama kali mengambil proyek sebagai pemilik dan penanggungjawab perusahaan miliknya sendiri, sehingga dia merasakan tekanan yang besar untuk bekerja dengan sempurna. Keberadaan Darcy yang sudah lama naksir Tom tidak mempermudah pekerjaan dia dan budget pas-pasan yang disediakan Loretta membuat dia semakin sulit untuk menyelesaikannya dengan baik.

"I'm the client. I'm his best friend's sister. I'm Mr. and Mrs. Barrett's weak-hearted daughter. I'm the liability he swore to take care of."

Cukup jarang saya ketemu sama penulis yang rela kerja keras buat membangun dari nol unsur-unsur dalam novel barunya. Tapi Sally Thorne mau, dan saya mengapresiasinya. Saya cukup simpati sama penulis, karena dia memiliki tekanan yang berat di buku kedua ini. Karya debutnya diterima dengan sangat baik oleh pembaca, dan karya keduanya sangat dinanti. Untuk akhirnya bisa menerbitkan buku kedua, pasti diperlukan motivasi dan semangat kerja yang sangat tinggi.

Cuma….. saya tidak bisa simpati sama tokoh-tokoh di 99 Percent Mine. Protagonis kita, Darcy, digambarkan sebagai seorang wanita yang berusaha membangun imej kuat tetapi sebenarnya super rapuh. Maklum, kerja sebagai bartender mengharuskan dia buat tegas biar nggak diremehkan sama lelaki gahar atau lelaki anak mama atau lainnya. Tapi, gimana saya bisa menikmati cerita dari sudut pandang Darcy kalau sejak awal cerita, kerjaan dia cuma membanding-bandingkan diri dengan Megan, tunangan Tom a.k.a. cowok yang dia taksir sejak remaja dan sudah seperti keluarga sendiri. Mungkin karena bertentangan dengan prinsip yang saya anut, saya merasa setiap Darcy membandingkan dirinya dengan Megan (yang anggun, yang kalem, pokoknya yang segala di dirinya jauh lebih baik dari Darcy), dia menjadi semakin pathetic di mata saya. Stahp it, gurl. That’s so NOT COOL. 

Saya juga risih banget sama Darcy dan Tom yang SEPANJANG CERITA jelas-jelas saling suka tapi sok-sok buang muka dan nggak butuh. GEMASSS, karena 99% masalah di novel ini nggak bakal kejadian kalau mereka saling terbuka dan bicara layaknya orang dewasa. Dan ngomong-ngomong soal keterbukaan nih, saya pada akhirnya hilang respect sama Tom karena ternyata oh ternyata dialah biang kerok yang menyembunyikan paspor Darcy hanya biar Darcy nggak pergi meninggalkan Tom lagi. Sebuah alasan yang nggak masuk akal sih, karena toh ketika Darcy memutuskan untuk tinggal bersama Tom dalam rangka mengurus renovasi rumah warisan Loretta, Tom-lah yang secara religius menolak semua flirting dari Darcy. KAN BINGUNG YA NI COWOK MAUNYA APA SEBENARNYA. Selain menjengkelkan, tingkah Tom menurut saya NGGAK PANTAS UNTUK DILAKUKAN. Ya balik lagi ke masalah consent sih: kamu nggak berhak membatasi siapapun untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Menyembunyikan paspor dalam kasus ini termasuk upaya licik dan manipulatif—condong ke kriminal juga—dalam membatasi hak dan kebebasan Darcy apalagi dilakukan murni demi agenda pribadi Tom (bukannya demi masalah kesehatan jantung Darcy atau gimana). First he stole your paspor, and then what? [SPOILER] Menambah rasa tidak suka saya pada Tom adalah di akhir cerita, Tom BERANI-BERANINYA kabur dari proyek dan.... pergi? Dua bulan? Sampai akhirnya Jamie dan Darcy yang menyelesaikan proyek renovasinya???? Untuk seseorang yang baru merintis karir lewat (uhuk) jalur nepotisme, Tom nyalinya gede juga yah. Who cares about integrity, anyway? *dripping in sarcasm* Ku tak mengerti kenapa banyak yang suka sama problematic Tom ini.


Kayaknya saya memang punya masalah kronis sama cowok yang suka diem-diem ae terus mendadak kabooooorrr deh, tapi, logis kan kalau saya kesel? What he did was so NOT gentleman.

Dan kalau kalian mau tahu siapa yang jahat di novel ini, menurut saya adalah mendiang Loretta. Dia yang pertama kali menyeret Darcy ke bandara untuk mendapatkan “ketenangan batin” setelah bertingkah bodoh di depan Tom, sehingga dialah yang bertanggung jawab terhadap masalah yang dialami Darcy setelah pulang dari perjalanan pertamanya itu dan sifat suka kabur yang dimiliki Darcy. Kamu boleh nyentrik, kamu boleh berpikiran out of the box, tetapi mengajarkan sifat pengecut kepada keturunan sendiri itu enggak banget. She should be ashamed of herself, setidaknya ganti rugi lah dengan ngasih hak waris rumah sepenuhnya ke Darcy. Biar uang dia makin banyak dan bisa bayar psikolog paling kompeten dan mahal untuk menyembuhkan kebiasaan jeleknya itu.

Begitulah. Jamie yang digambarkan sebagai mata duitan dan suka main perempuan jadi terlihat sangat angelic dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Ha! Moral dari cerita ini berarti: untuk tampak tidak asshole meskipun kamu asshole: hiduplah dengan orang-orang yang lebih problematik dari kamu. Suddenly, you're the saint one! Logic, amiright??


Terlepas dari masalah di atas, saya cuma berharap siapa pun yang membaca novel ini bisa memfilter hal-hal negatif yang ada dan nggak berpikir: “Waw, demi menunjukkan cintanya ke cewek yang suka kabur ke luar negeri, lelaki ini menyembunyikan paspor si cewek. Akhirnya si cewek sadar. Dan mereka jadian. Bahagia. Terharu. Couple goals.”NOT cute, guys. Inilah alasan sebenarnya saya nulis review ini, meskipun mata sudah capek lihat layar dan tangan sudah pegal ngetik dari pagi: kita harus berhenti meromantisasi sifat manipulatif dan abusif, dan menikmati novel dengan filter yang tepat

Cukup kecewa saya dengan Sally Thorne. Saya harap novel dia selanjutnya bakal lebih baik lagi.

Sunday, 10 February 2019

[Review Buku] Queen of Air and Darkness oleh Cassandra Clare


This is basically me trying to read ALL of genres that possibly exist out there, so bear with me.

Queen of Air and Darkness adalah buku ketiga dan terakhir dari seri The Dark Artifices, terbit Desember 2018 lalu. Buku ini juga merupakan yang paling tebal di antara karya Cassandra Clare yang lain, total 912 halaman. Jadi, menamatkannya merupakan prestasi tersendiri bagi saya yang barusan bangkit dari reading slump dan berusaha membabat habis tumpukan TBR fiksi. Ya know, saya sering baca buku tebal… tapi baca buku ini setelah lama nggak pegang novel, rasanya seperti senam 30 menit penuh setelah libur olahraga berbulan-bulan. I was dying and wheezing while at it.

Saya awalnya memulai buku ini dengan otak yang benar-benar kosong tentang akhir cerita buku kedua. Untuk mengatasinya, saya baca bab terakhir dari Lord of Shadows dan ternyata…WOW. Brutal sekali cliffhanger-nya. [SPOILER] Untuk me-refresh kalian juga nih, di bagian akhir Lord of Shadow diceritakan kalau Robert Lightwood selaku Inquisitor menerima permohonan Emma dan Julian untuk mengasingkan mereka demi mencegah kutukan parabatai. Namun segera setelah itu, kekacauan terjadi karena para Shadowhunter tidak percaya dengan kesaksian Annabel—yang bangkit dari kematian dengan bantuan Black Volume of the Dead—kalau dialah yang membunuh Malcolm (bukannya Zara). Annabel juga memperingatkan para Shadowhunter kalau King of Unseelie sedang merencanakan serangan yang dapat melumpuhkan steele sehingga kekuatan mereka akan sama seperti para mortal. Meskipun Annabel mengatakan itu semua sambil memegang Mortal Sword, mereka tetap nggak percaya dan malah menyerang Annabel sehingga dia ((SNAPPED)) dan menyerang Robert dan Lizzy. They both D E A D

Dan itu semua terjadi di bab terakhir, saudara-saudara.

Jadi, bisa dimengerti kan kalau saya baca Queen of Air and Darkness sampai ngos-ngosan. Padahal baru bab awal. Kayak kalau baru pertama senam gitu, dua menit sudah dying, dan masih harus menghadapi dua puluh delapan menit sisanya.


Kisah di buku ini dimulai tepat setelah kekacauan yang diakibatkan oleh Annabel terjadi. Bukan sehari setelahnya, atau sejam setelahnya. Benar-benar satu detik setelah scene terakhir di buku Lord of Shadow. Annabel menghilang bersama Black Volume of the Dead ke Unseelie Court. Keluarga Blackthorn berduka dengan kematian Livvy. Dan yang paling parah, Horace berhasil menduduki jabatan sebagai Inquisitor dengan didukung oleh Cohort, menjadikan mereka memiliki kuasa untuk mewujudkan ambisi jahat dalam menghancurkan Downworlders.

Emma dan Julian pada akhirnya mendapatkan hukuman dari Inquisitor Horace karena dianggap menjadi biang kerok dari muncul (dan hilangnya) Annabel dan rusaknya Mortal Sword. Mereka harus berangkat ke Faerie untuk mengambil Black Volume of the Dead. Yang mereka tidak tahu, sebenarnya misi itu adalah jebakan. Tak lama setelah Emma dan Julian pergi ke Faerie, beberapa anggota Cohort menyusul untuk membunuh mereka. Rencananya, kematian Emma dan Julian akan dikambinghitamkan sebagai ulah para fey sehingga para Shadowhunter yang masih sangsi dengan agenda Horace akan berbalik mendukungnya.


Kalau membicarakan sinopsis dari buku setebal ini, saya nggak sanggup meng-cover-nya dalam satu artikel review. Intinya, banyak hal yang terjadi. Maklum ya, karena ini adalah buku terakhir, jadi mungkin semua akan diikat dan dibabat habis ke dalam 912 halaman. Saya merasa di awal buku ini, semua tokoh punya agendanya sendiri-sendiri. Padahal ini adalah saat dimana mereka harus bersatu untuk mengalahkan King of Unseelie uhuk mirip Game of Thrones uhuk. Paling sebal sama kelakuan Ty sih. Sampai gregetan sendiri bacanya. Ya kan dia sudah tahu ya gimana nggak stabilnya Annabel sebagai seorang yang dibangkitkan dari kematian. Nah, dia masih mau nyoba membangkitkan Livvy? Apalagi untuk kasus Livvy yang jasadnya dikremasi, Ty harus mencari tubuh baru. Dengan kata lain, membahayakan orang lain yang tubuhnya akan dipakai. Selain itu…

“Didn’t you hear hear what Shade said? The Livvy we get back might not be anything like our Livvy. Your Livvy.”
Ty followed him out into the water. Mist was coming down to touch the water, surrounding them in white and gray.“If we do the spell correctly, she will be. That’s all. We have to do it right.”

See, nggak ada yang bilang kalau Livvy yang mereka bangkitkan bisa seperti Livvy yang dulu. Ty cuma mengarang sesuatu yang pengen dia dapatkan dan mengeksklusi fakta lain. What a creep. Saya sering ketemu sama orang macam Ty. Nggak pernah beres jalan pikirnya.

Ada lagi yang bikin saya sebal: Julian Blackthorn. Di buku ini, dia minta tolong sama Magnus buat menumpulkan rasa cinta yang dimiliki ke Emma, karena tanda-tanda kutukan parabatai sudah muncul. Tapi mantra yang diberikan sama Magnus membuat dia benar-benar kehilangan semua emosi yang dimiliki Julian, pada akhirnya dia jadi nggak peduli siapapun kecuali dirinya sendiri dan agenda yang dia miliki. Kalau ini saya yakin Julian resmi jadi sosiopat. Kasihan Emma.

The taste of betrayal was bitter in her mouth, more bitter that the copper of blood.

Tapi bukan Emma namanya kalau dia nggak berani mengutarakan apa yang dia yakini benar. Bahkan ke Julian, orang yang paling dia sayang.

“That’s what I always loved about you, even before I was in love with you. You never thought for a second about it diminishing about you to have a girl as your warrior partner, you never acted as if I was anything less than your complete equal. You never for a moment made me feel like I had to be weak for you to be strong.”

Konflik tentang Julian ini benar-benar menunjukkan kepada pembaca bagaimana dark-nya dia sebagai seorang protagonis. Sejak buku 1, Julian tampak sebagai seorang penyayang dan rela melakukan apapun demi keluarganya dan Emma. Pembaca kadang luput dengan penekanan apapun yang menjadi batas tindakan Julian. Selama tidak merugikan keluarga Blackthorn atau Emma, so be it. Nah melalui transformasi Julian menjadi seseorang tanpa emosi ini, pembaca melalui sudut pandang Emma akhirnya ditunjukkan seberapa toxic sifat Julian jika dia berjalan dengan agendanya sendiri. Hmm, nggak keliatan atraktif lagi kan? Manipulatif kan? Nggak enak kan dikibulin?

Plotnya yang nggak jelas bikin saya bingung sama apa tujuan sebenarnya di buku ini. Menghancurkan ikatan parabatai? Membalas dendam ke Annabel? Mengalahkan Horace dan Cohort? Menghilangkan blight? Mengalahkan Faerie? Loh, kok mendadak ada Sebastian Morgenstern lagi? Ketidakjelasan ini menjadikan ceritanya lompat-lompat dan bikin saya sebagai pembaca bingung sebenarnya arahnya kemana. Lagi asyik baca scene Julian & Emma dan sebentar lagi peak, eh mendadak di-cut dan pindah ke sudut pandang Diana dan Gwyn. Rasa deg-degan yang sudah terbangun dengan baik jadi bubar. Pas balik ke scene Julian & Emma, sudah nggak seasyik sebelumnya. Pas satu konflik selesai, eh ternyata ada konflik lanjutan. And don’t get me start with the biggest conflict of all, Julian and Emma’s parabatai. Walaupun pada akhirnya [SPOILER] ikatan mereka hancur setelah mereka berubah menjadi true Nephilim dan heavenly fire menghilangkan ikatan parabatai mereka yang unholy—seperti saat heavenly fire membakar habis ikatan unholy antara Jace dan Sebastian—sehingga Julian & Emma finally lived happily ever after as a couple…. eksekusinya menurut saya benar-benar mendadak dan nggak ada pembahasan sama sekali tentang heavenly fire ini dari jaman pertama mereka sadar jatuh cinta. SAYA MERASA KECOLONGAN.

Makanya, saya cuma kasih 3 bintang buat buku ini. I liked it. Tapi ya gitu aja sih hahaha. 3 bintang atas nama pertemanan lama, karena di sini banyak tokoh kesayangan saya muncul lagi dengan porsi besar, antara lain Jace & Clary, Alec & Magnus, dan yang paling saya sayangi…. TESSA GRAY & JEM CARSTAIRS MY LUV. Tanpa mereka, mungkin saya baru tamat baca bukunya 2 tahun lagi. Atau malah did not finish.

Dan you know what??? Dengan total 912 halaman dan ending yang seperti itu??? Saya rasa bakal ada seri baru lagi dari Cassandra Clare.


Cassandra Clare really milking that daaarn dead cow.