Showing posts with label 4.5 stars. Show all posts
Showing posts with label 4.5 stars. Show all posts

Friday, 2 December 2016

[Review Buku] Forget Me Knot oleh Mary Marks

Forget Me Knot (A Quilting Mystery #1)
penulis Mary Marks
384 halaman, New Adult (NA)/ Misteri
Rating: image
Dipublikasikan 7 Januari 2014 oleh Kensington

Welcome to San Fernando Valley, California, where Martha Rose and her coterie of quilters are enjoying life on the good side of retirement—until murder pulls a stitch out of their plans…
Martha and her besties Lucy and Birdie are set to expand their Quilty Tuesdays by inviting newcomer Claire Terry into their group. Though at forty Claire’s a tad younger than their average age, her crafty reputation could perk up their patchwork proceedings, especially as they prepare for the fancy quilt show coming to town. But when they arrive at Claire’s home and find her dead inside the front door, and her exquisite, prize-winning quilts soon missing, Martha is not one to leave a mystery unraveled. Especially if she wants to stop a killer from establishing a deadly pattern…

Seperti yang sudah dibahas di review Death Among the Doilies, saya akan lebih sering membaca dan mereview novel semi-misteri ke depannya, dalam rangka mengurangi timbunan yang beberapa waktu lalu saya dapatkan. Surprisingly, saya sangat menyukai plot cerita dari novel-novel sejenis ini. Desain sampul yang cantik dan cerita yang unik juga memberikan kesan fresh dan membuat saya nggak sabar buat membaca setiap seri yang ada!

Saturday, 17 September 2016

[Review Buku] It Ends With Us oleh Colleen Hoover

It Ends With Us
penulis Colleen Hoover
384 halaman, New Adult (NA)/ Contemporary Romance
Rating: image
Dipublikasikan 2 Agustus 2016 oleh Simon & Schuster Ltd.

I think about how sometimes, no matter how convinced you are that your life will turn out a certain way, all that certainty can be washed away with a simple change in tide.

Hayo siapa yang sudah nunggu-nunggu buku ini buat diterjemahkan? Saya baca duluan lhooooo #ditabok

Friday, 3 June 2016

[Review Buku] Adulthood is A Myth: A "Sarah's Scribbles" Collection oleh Sarah Andersen

Adulthood is a Myth: A “Sarah’s Scribbles” Collection
penulis Sarah Andersen
109 halaman, Graphic Novels/ Humor
Rating: image
Dipublikasikan 8 Maret 2016 oleh Andrews McMeel Publishing

Pertama kenal dengan Sarah Andersen itu melalui akun tumblrnya. Dia jago sekali bikin komik yang “menohok” batin saking GUE BANGET dan penuh ironi kehidupan sehari-hari. Padahal ya sebenarnya yang dia bahas gitu-gitu aja, hal yang saking biasanya kita alami sampe nggak ngeh lagi. Tapi kalau diolah sama dia, bisaaaaa banget bikin ketawa. Dan ketika tahu dia menerbitkan kumpulan komiknya dalam sebuah buku, saya tahu saya harus baca!

Wednesday, 11 May 2016

[Review Buku] When We Collided oleh Emery Lord

When We Collided
penulis Emery Lord
352 halaman, Young Adult
Rating: image
Dipublikasikan 5 April 2016 oleh Bloomsburry USA Childrens

“Maybe we’re dying planets, Jonah, being drawn into darkness.” I hold  my right palm against his cheek, and I wish I could touch him with both my hands. “When we collided, we bounced each other back into orbit. And now we have to do that—we have to return to our own paths because that’s what we gave each other.”

Vivi sangat menyukai Verona Cove, tempat tinggalnya yang baru. Dari pantainya yang indah, suasananya yang menenangkan, hingga warga lokalnya yang ramah. Dia ingin tinggal di Verona Cove selamanya, tidak hanya pada musim panas ini saja.

Hingga tidak sengaja Vivi masuk ke kehidupan Jonah dan kelima saudaranya. Sosok Vivi yang ceria, penuh energi, dan unik tanpa dia sadari telah menghilangkan awan duka di keluarga Jonah. Jonah, bersama dua kakaknya yang sepanjang waktu tinggal di Verona Cove, selama enam bulan belakangan kepayahan dalam mengurus adik-adiknya sejak kematian sang ayah. Dia juga harus mengurus ibunya yang menolak bangun dari tempat tidur, sambil tetap bekerja di restoran peninggalan ayahnya, Tony’s. Vivi dengan segala keceriannya berhasil membuat musim panas ini menjadi jauh menyenangkan bagi Jonah dan keluarganya.


Monday, 14 March 2016

[Review Buku] A Dash of Magic oleh Kathryn Littlewood

A Dash of Magic (The Bliss Bakery #2)
penulis Kathryn Littlewood, penerjemah Sujantrini Liza
298 halaman, Middle Grade Book/ Cooking
Rating: image
Dipublikasikan Agustus 2013 oleh Mizan Fantasi

“Kalau kau menang, yang jelas tidak mungkin, aku akan berhenti menjual Bahan Sihir Lily, dan aku akan mengembalikan Booke. Dan, kau bisa terus mengunci buku itu di lemari dalam lemari pendinginmu dan membiarkan kekuatannya terbuang sia-sia. Tapi, kalau aku menang—dan aku akan menang—kau harus bersumpah padaku bahwa tidak seorang pun dari anggota keluargamu yang aneh, kampungan, dan norak itu akan pernah mendekatiku ataupun Booke lagi.”

Sudah sembilan bulan berlalu sejak Bliss Cookery Booke—buku resep ajaib warisan nenek moyang keluarga Bliss—lenyap dicuri oleh Bibi Lily. Sejak itu pula, kota Calamity Falls menjadi lesu karena toko roti keluarga Bliss yang biasanya menjual roti-roti pembawa kebahagiaan kehilangan “daya magisnya” dan hanya menjual roti-roti biasa.


Saturday, 13 February 2016

[Review Buku] The Thing About Jellyfish oleh Ali Benjamin

The Thing About Jellyfish
penulis Ali Benjamin
352 halaman, YA/ Death
Rating: image
Dipublikasikan 22 September 2015 oleh Little, Brown Books for Young Readers


SINOPSIS:

Suzy Swanson is pretty sure she knows the real reason Franny Jackson died. Everyone says that there’s no way to be certain…that sometimes things just happen. But Suzy knows there must be a better explanation—a scientific one. Haunted by the loss of her former best friend — and by a final, terrible moment that passed between them — she retreats into a silent world of her own imagination.  Convinced that Franny’s death was the result of a freak jellyfish sting, she crafts a plan to prove the truth, even if it means traveling around the globe… alone. As she prepares, she learns astonishing things about the universe around her… and discovers the potential for love and hope in her own backyard.


REVIEW:

Saya beruntung menemukan buku ini di antara tumpukan TBR (To-be Read) books yang semakin menggunung. Baru kali ini sebuah buku berhasil membuat saya “berpikir keras”, terlepas dari genrenya yang masuk YA middle grade. Yang saya suka, buku ini sudah menjerat minat saya sejak kalimat pertama:


Sunday, 21 June 2015

[Book Review] Someone Like You by Sarah Dessen

Someone Like You
penulis Sarah Dessen
281 halaman, YA/ Realistic Fiction
Rating:  image
Dipublikasikan 1 Mei 1998 oleh Penguin

Because life is an ugly, awful place to not have a best friend.

Cerita dimulai ketika Halley harus meninggalkan camp musim panasnya dua minggu lebih awal setelah mendapat telepon dari Scarlett, sahabatnya. Dari telepon itulah Halley tahu bahwa Michael Sherwood, laki-laki yang dicintai Scarlett, baru saja meninggal. Dan lebih parah lagi, Scarlett rupanya mengandung bayi hasil hubungannya dengan Michael.

Sebagai sahabat yang sejak dulu selalu ditopang Scarlett, Halley merasa sekaranglah waktunya ia bertukar peran dengan sahabatnya itu. Scarlett membutuhkannya, dan dia bertekad untuk selalu ada serta mendukung keputusan Scarlett untuk mempertahankan bayinya. Namun ibu Halley yang seorang terapis membuat segalanya menjadi “alot”. Bagi ibunya, Halley mulai menunjukkan tanda-tanda sebagai remaja berontak. Apalagi sejak Halley dekat dengan Macon—sahabat Michael yang serba spontan dan populer—semakin renggang-lah hubungan ibu dan anak itu. Ibunya kemudian berusaha untuk “meredam” kenakalan anaknya ini menggunakan cara-cara yang malah semakin membuat Halley berontak. Tipikal orang tua, huh?

“Why don’t you ever wait a second and see what I’m planning, or thinking, before you burst in with your opinions and ideas? You never even give me a chance.”

Hal ini sempat membuat saya berpikir bahwa dalam novel-novel Dessen, mayoritas konfliknya muncul dari sosok ibu; mulai dari yang egois, overprotektif, pekerja keras hingga melupakan keluarga, tak acuh, suka mengatur, dan sebagainya. Sedangkan sosok sang ayah lebih seperti buffer, kalah peran dengan sosok ibu dan hanya muncul sebagai “pengurang” efek penghancur tanpa memberikan solusi bagi konfliknya. Penyelesaian konflik, hampir selalu hadir sebagai buah kerja keras karakter utama aka si remaja.  Memang benar jika karakter utama haruslah berkembang, dan tidak jarang pengembangan tokoh ini muncul setelah adanya konflik. Namun bakal lebih pantas jika sosok ayah ikut andil dalam penyelesaian konflik ini. Bagaimanapun, ayah adalah kepala keluarga yang posisinya di atas ibu. Just do your freakin' job okay, Dad?



Sosok Halley menghadapi beberapa konflik sekaligus. Walaupun di sini Scarlett lah yang mengalami masalah besar, Halley turut menopang dan mendukung keputusan Scarlett. Di sisi lain Halley juga sedang memulai hubungan dengan seorang cowok, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dua masalah itu dan masih ditambah dengan tekanan dari ibunya, saya cukup takjub karena si Halley ini tidak "meledak". Man, this year ain't picnic for Halley. Bagaimana cara Halley menghadapi semuanya bisa kalian ketahui di novel ini.

***

Someone Like You sepertinya termasuk karya Dessen yang tidak begitu populer bila dibandingkan karya-karyanya yang lain. Mengambil tema teenager’s pregnancy (yang mungkin tidak akan saya baca jika saja saya tahu sinopsisnya terlebih dahulu), sekali lagi Dessen menunjukkan kepiawainya untuk menunjukkan pada kita potret kehidupan remaja yang dihadapkan masalah besar sebagai konsekuensi dari tindakannya (walaupun mereka sudah super hati-hati). Cuma di sini Dessen “membuang” sosok si ayah bayi dari cerita, sehingga membuat pembacanya bertanya-tanya apa yang bakal terjadi seandainya Michael masih hidup. Apakah Michael (yang ketika awal-awal bertemu Scarlett sangat baik dan romantis) akan bersedia bertanggung jawab? Atau segala tingkah baik Michael ini hanyalah kesan pertama saja yang nantinya akan semakin luntur dan mulai menunjukkan watak aslinya? Segala what-ifs inilah yang membuat Someone Like You ini berbeda.

Nah guys memang benar kalau novel-novel karya Sarah Dessen tuh penting bagi remaja—khususnya cewek. Cukup sedih karena saya baru menyadarinya di usia yang sudah agak terlambat ini (DI MANA BUKU-BUKU DESSEN WAKTU SAYA MASIH AWAL-AWAL BELASAN HAAAAHHHH???). Bagi saya, Sarah Dessen sudah saya anggap sebagai guru kehidupan: karena dia sudah membuka cara pandang saya terhadap bagaimana seharusnya menghadapi masalah-masalah yang saya hadapi dan bagaimana seharusnya seorang cewek bertindak. Dan membaca novel-novel Sarah Dessen di masa sulit terasa seperti pulang…. kemudian bertemu dengan sahabat lama.

(Desain baru cover Someone Like You. Sama seperti cover atas dengan gambar kaki di pasir pantai, saya juga nggak ngerti apa maksud dari gambar kupu-kupu di dalam toples ini).



Kutipan-kutipan penting dalam novel ini:

I had no idea what to do or what came next. All I knew was that she needed me and I was here. And for now, that was about the best we could do.

“I’ve given lots of people chances,” she said suddenly, as if Marion was still in the room to hear her. “But there’s only so much faith you can have in people.”

“Don’t be a fool. Don’t give up something important to hold onto someone who can’t even say they love you.”

I deserved to grow, and to change, to become all the girls I could ever be over the course of my life, each one better than the last.

“I told him he wasn’t what I’d thought he was,” I said. “That he let me down, and I couldn’t see him anymore. And I said goodbye.”

Like everything else, she’d made her choice and she’s stick to it, everyone else be damned.

There are some things in this world you could rely on, like a sure bet. And when they let you down, shifting from where you’ve carefully placed them, it shakes your faith, right where you stand.

Sunday, 5 April 2015

[Book Review] Made You Up by Fransesca Zappia

Made You Up
penulis Francesca Zappia
448 halaman, Young Adult/ Mental Illness
Rating:  image
Dipublikasikan 19 Mei 2015 oleh Greenwillow Books

 SINOPSIS:
Reality, it turns out, is often not what you perceive it to be—sometimes, there really is someone out to get you. Made You Up tells the story of Alex, a high school senior unable to tell the difference between real life and delusion. This is a compelling and provoking literary debut that will appeal to fans of Wes Anderson, Silver Linings Playbook, and Liar.

Alex fights a daily battle to figure out the difference between reality and delusion. Armed with a take-no-prisoners-attitude, her camera, a Magic 8-Ball, and her only ally (her little sister), Alex wages a war agains her schizophrenia, determined to stay sane long enough to get into college. She’s pretty optimistic about her chances until classes begin, and she runs into Miles. Didn’t she imagine him? Before she knows it, Alex is making friends, going to parties, falling in love, and experiencing all the usual rites of passage for teenagers. But Alex is used to being crazy. She’s not prepared for normal.
Funny, provoking, and ultimately moving, this debut novel featuring the quintessential unreliable narrator will have readers turning the pages and trying to figure out what is real and what is made up.


REVIEW:

Alexandra didiagnosis menderita schizophrenia sejak kecil. Schizophrenia, menyebabkan Alex tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan alam bawah sadarnya. Karena itulah ia tidak yakin apakah insiden Pembebasan Lobster ketika ia berumur tujuh tahun benar-benar terjadi. Dan apakah anak laki-laki bermata biru yang membantunya melepaskan lobster-lobster itu nyata atau hanya khayalannya belaka.

Bertahun-tahun ia mencoba melawan penyakitnya itu. Ke manapun Alex pergi, ia selalu membawa kamera untuk mengabadikan setiap momen yang ia lihat. Sesampainya di rumah, Alex akan mencetak foto-foto tersebut untuk memastikan mana yang nyata dan mana yang bukan. Walaupun ia tahu kalau kadang-kadang otaknya memainkan trik aneh, mau tak mau Alex menjadi orang yang paranoid. Dia selalu melakukan parameter check, memastikan siapa saja orang yang ada di sekitarnya, dan memeriksa apakah ada tanda-tanda bahaya mengancam untuk menyerangnya.

I didn’t have the luxury of taking reality for granted. And I wouldn’t say I hated people who did, because that’s just about everyone. I didn’t hate them. They didn’t live in my world. But that never stopped me from wishing I lived in theirs.

Usahanya untuk melebur menjadi normal mulai menunjukkan tanda-tanda kegagalannya ketika ia bertemu dengan Miles Ritcher di sekolahnya yang baru. Miles mengingatkan Alex kepada si anak laki-laki bermata biru di Insiden Pembebasan Lobster dahulu. Setelah sekian lama meyakini suatu hal hanya khayalan belaka, Alex harus menabahkan diri bahwa kalaupun benar Miles adalah teman pertamanya dulu….. jelas tidak lagi sekarang. Miles yang super jenius rupanya menjadikan “Mengganggu Alex” sebagai hobi favorit nomor satu sedunia. Tapi bukan berarti Alex diam saja, karena Alex lah satu-satunya penghuni sekolah ini yang menjadi korban jahil Miles dan berani melawan.

When he finished reading, he did something so surprising that I almost dropped the Bunsen burner and set the kid across from me on fire. He laughed. Our neighbors turned to stare at us, because Miles Ritcher laughing was one of those things that the Mayans had predicted would signal the end of the world. He wasn’t particularly loud about it, but it was Miles laughing, a sound no mortal had ever heard before.

Pengalaman membaca buku ini merupakan hal baru yang unik bagi saya karena si tokoh utama sendiri pun tidak tahu mana yang benar-benar terjadi dan mana yang cuma khayalan. Kadang saya bingung dengan ke mana cerita mengarah, tapi lama-kelamaan saya mengerti apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang penulis. Brilian, penuh kejutan, dan menggugah rasa penasaran! Luar biasa ketika saya tahu bagaimana cara otak seseorang yang *ehem sori* agak berbeda dari kita bekerja, karena bukan berarti ada yang kurang dari diri mereka. Justru sebaliknya, cara berpikir mereka benar-benar unik sehingga membuat saya merasa kalau otak saya ini membosankan dan lambat.  I need moooore inspiration juices for my brain.


Dan yang bikin saya takjub lagi nih, Made You Up ini merupakan sebuah karya debut! Francesca Zappia benar-benar masuk kategori penulis favorit saya sekarang. Tokoh Alexandra yang dia buat ini sangat likeable. Pintar, kuat (dalam artian nerd tapi nggak bakal tinggal diam kalo kena bully), dan super witty. Nggak ada yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu di kepala seseorang yang tahu bagaimana memaikainya dengan baik (terlepas dari eror yang sering terjadi. Tapi karena ini takdir Tuhan, saya bisa maklum). Apalagi gaya penulisan dan humornya juga pas. Endingnya apalagi, benar-benar di luar dugaan saya. Rada bingung juga sih dengan eksekusi dari masalah-masalah yang muncul…. atau ini hanya perasaan Dek Sany saja? *halah apasih*

Saya beruntung mendapatkan ARC novel luar biasa ini dan guys, you guys…….read this book ASAP!


“People say teenagers think they’re immortal, and I agree with that. But I think there’s a difference between thinking you’re immortal and knowing you can survive. Thinking you’re immortal leads to arrogance, thinking you deserve the best. Surviving means having the worst thrown at you and being able to continue on despite that. It means striving for what you want most, even when it seems out of your reach, even when everything is working against you. And after you’ve survived, you get over it. And you live.”

Friday, 13 March 2015

[Book Review] I'll Meet You There by Heather Demetrios

I’ll Meet You There
penulis Heather Demetrios
400 halaman, Young Adult/ Contemporary Romance
Rating: image
dipublikasikan 3 Februari 2015 oleh Henry Colt & Co. BYR

SINOPSIS:
If seventeen-year-old Skylar Evans were a typical Creek View girl, her future would involve a double-wide trailer, a baby on her hip, and the graveyard shift at Taco Bell. But after graduation, the only standing between straightedge Skylar and art school are three minimum-wage months of summer. Skylar can taste the freedom—that is, until her mother loses her job and everything starts coming apart. Torn between her dreams and the people she loves, Skylar realizes everything she’s ever worked for is on the line.

Nineteen-year-old Josh Mitchell had a different ticket out of Creek View: the Marines. But after his leg is blown off in Afghanistan, he returns home, a shell of the cocksure boy he used to be. What brings Skylar and Josh together is working at the Paradise—a quirky motel off California’s dusty Highway 99. Despite their differences their shared isolation turns into an unexpected friendship and soon, something deeper.


REVIEW:

When we were freshman, Chris and I had promised each other that we’d be the ones to get out—we called it our Sacred Pact. We nagged each other all throughout high school, when one of us wanted to be lazy or give in to giving up. Whenever I liked a boy, Chris had been all, The pact! The Pact! Because, of course, romance was bad for GPAs.

Saya punya pendapat yang cukup beragam mengenai I’ll Meet You There. Secara pribadi, saya sangat menikmati membaca buku ini…..atau mungkin terlalu menikmati? Entahlah, butuh waktu lebih dari satu bulan bagi saya untuk menamatkannya. Bukan karena ceritanya membosankan loh ya, saya cuma ingin benar-benar memahami cerita yang disuguhkan oleh sang penulis dengan tidak terburu-buru membacanya.

Tema yang diangkat Heather Demetrios sebenarnya sederhana, tanpa ada plot twist yang bombastis. Menceritakan tentang dua remaja muda, Skylar dan Josh, kita diajak untuk mengenali kehidupan masyarakat pinggiran kota yang hidup dan bernapaskan kemiskinan. Skylar, yang harus mengambil 3 pekerjaan di luar waktu sekolahnya untuk membayar tagihan sehari-hari….. dan Josh, yang walaupun sudah merasakan kebebasan sementara dengan menjadi tentara yang dikirim ke Afghanistan, harus kembali dengan trauma berat dan kehilangan sebelah kakinya. Karena, tahu sendiri lah, hidup itu bisa sebegitu jahatnya. Josh yang mengerti rasanya memiliki rumah di luar Creek View, mengerti kekeraskepalaan Skylar untuk segera keluar dari kota kecil ini. 

The other towns needed us: you can’t have the light without the dark, right? Maybe our darkness was necessary for other people to see their light.

Jelas di sini Heather Demetrios benar-benar menuangkan segala kemampuannya dalam I’ll Meet You There. Disamping bakat luar biasanya dalam menulis, dia melakukan riset mendalam kepada beberapa mantan Marine (termasuk ayahnya sendiri!). Nggak heran di bab-bab Josh yang walaupun pendek, saya benar-benar bisa merasakan emosi gelap Josh sebagai mantan prajurit yang harus kembali ke kampung halamannya dalam keadaan kurang, baik dari sisi fisik maupun emosional.

Berbeda dengan Skylar (saya suka sekali sama nama dia!). Heather Demetrios berhasil menciptakan sosok tokoh utama yang kuat dan tabah. Skylar bukan tipe heroine humoris manis yang membuat kamu menyukainya sejak paragraf-paragraf pertama. Dibesarkan dalam lingkungan yang keras, saya menemukan bahwa sosok Skylar lumayan pahit. Ketika tinggal selangkah lagi dia bisa menggenggam tiket keluarnya dari Creek View, cobaan datang. Hal yang dialami Skylar cukup menjengkelkan bagi saya, karena yang menghalangi Skylar untuk mendapatkan kebebasannya adalah ibunya sendiri. Ibu seharusnya menjadi pelindung dan pendukung bagi anaknya, bukan malah jadi beban. Ya, saya tahu ibunya sedang berduka karena kehilangan suami yang merupakan belahan jiwanya. La la la….. Tapi Skylar juga kehilangan sosok ayah. Hidup tanpa ayah dan sekarang ibunya tidak bisa membantunya menopang hidup karena "berduka"......well, forgive me for being this cranky.

Why is it that some people in the world get to wake up in beautiful houses with fairly normal parents and enough food in the fridge while the rest of us have to get by on the scraps the universe throws at us? And we gobble them up, so grateful. What the hell are we grateful for?

Novel ini terasa begitu realistis sampai saya takut untuk menamatkannya.

Namun terlepas dari kebencian mereka terhadap Creek View, Skylar dan Josh tetap dapat menemukan keindahan di sana... kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang mungkin bagi penduduk lain Creek View tampak tidak berharga. Saya jadi penasaran buat tahu seperti apa Creek View versi I'll Meet You There di kehidupan nyata.

Mungkin saya tidak mendapat pengalaman yang sama dengan Skylar dan Josh, yang harus terjebak di kota kecil nan terisolasi serta dipenuhi oleh orang-orang yang betah tinggal di sana. Tapi satu hal yang sama, saya ingin keluar dari kota yang selama ini menaungi saya. Saya haus pengalaman untuk merasakan kehidupan di luar Semarang, walaupun dalam waktu yang sebentar. And hell yeah I did.


Terlepas dari hal-hal di atas, pengalaman membaca I’ll Meet You There terasa seperti tiket sekali perjalanan bagi saya. Tidak ada keinginan sama sekali untuk membaca ulang di masa mendatang. Satu kali saja cukup, dan saya senang karena sudah benar-benar menikmatinya di perjalanan pertama—dan terakhir—ini.

My blood was carbonated, and I was awake and young and alive, and screw everything because this moment was mine.


Thursday, 19 February 2015

[Book Review] Second Chance Summer by Morgan Matson

Second Chance Summer
by Morgan Matson
468 halaman, Young Adult/ Contemporary Romance
Rating:  image 
Dipublikasikan 7 Mei 2013 oleh Simon & Schuster

“Hi, kid,” he said. “What’s the news?” 

Setiap dihadapkan pada situasi yang sulit, hal pertama yang dilakukan oleh Taylor Edwards adalah kabur. Harfiah. Begitu seringnya hal ini terjadi sehingga ibunya tidak perlu merasa repot untuk panik. Namun ayahnya tahu kapan harus menjemput Taylor, lalu mengajaknya membeli es krim dan membicarakan masalahnya. Hal itu selalu menjadi rahasia kecil mereka.


Keluarga Edwards memang bukan tipe yang selalu dekat dan hangat, dan mereka pun terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sehingga jarang menghabiskan waktu bersama. Maka dari itu, ketika ayah Taylor didiagnosis menderita kanker pankreas stadium empat dan memiliki permintaan untuk menghabiskan musim panas terakhir bersama keluarganya di Lake Phoenix, Taylor tahu kabur bukanlah jalan terbaik untuk menghadapi semua ini.

It wasn’t until now, when every day I had with my father was suddenly numbered, that I realized just how precious they had been. A thousand moments that I had just taken for granted—mostly because I assumed that there would be a thousand more.

Lima tahun mencoba kabur dari Lake Phoenix dan segala masalah yang belum terselesaikan, mau tak mau Taylor harus menghadapi konsekuensi dari tindakan cerobohnya dahulu. Di samping mendampingi ayahnya (yang masih sibuk bekerja dengan semua kiriman paket rutin dari kantornya), Taylor berusaha membangun kembali hubungan yang retak dengan sahabatnya Lucy, dan mantan pacarnya ketika berumur dua belas tahun, Henry—yang bisa dikatakan tidak menyambut kedatangan Taylor dengan antusias.


Mungkin yang saya suka dari novel ini adalah bahwa Taylor tidak sibuk bermuram durja terhadap cobaan yang sedang dihadapi keluarganya. Waktu yang mereka miliki terbatas, jadi mereka berusaha untuk membuat setiap detiknya berharga. Tidak melulu nempel ke sang ayah, Taylor pun menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kesalahannya lima tahun lalu satu per satu, membantu kakaknya yang super brainiac yang lagi naksir cewek untuk pertama kalinya, mengajarkan pada adiknya pentingnya punya sahabat, dan lebih mendekatkan diri dengan ibunya. Lama-kelamaan dia tersadar bahwa musibah yang menimpa keluarganya ini justru mampu untuk membuat mereka semua kembali akrab dan bertingkah seperti layaknya keluarga, saling menopang satu sama lain.

I kept thinking back to all those nights in Connecticut, when I was out the door as soon as dinner was over, yelling my plans behind me as I headed to my car, ready for my real night—my time with my family just something to get through as quickly as possible. And now that the time we had together was limited, I was holding on to it, trying to stretch it out, all the while wishing I’d appreciated what I’d had earlier.

Saking menikmati cerita dan momen family-bonding mereka, saya sampe nggak begitu ambil pusing sama masalah Taylor dan Henry. Ya, ya, Henry memang memiliki porsi yang cukup besar di novel ini, tapi bagi saya dia cuma pelengkap saja. Pemanis buat unsur cinta di novel YA. Yah walaupun saya akui sebagai cowok dia cukup swoon-worthy dan boyfriend material (HELL YEAH HE’S MY BOYFRIEND MATERIAL!!!), saya lebih terfokus dengan hubungan Taylor dengan keluarga dan sahabatnya. Because when life is getting tough, you can’t just thinking about all luuuuuuv.

Satu yang saya nggak suka sama novel ini adalah tingkah Morgan Matson yang mengulur-ulur informasi tentang apa yang terjadi lima tahun lalu. Uuuughhh ganggu banget deh pokoknya. Selain itu? Sempurna. Morgan Matson berhasil membuat novel yang begitu lengkap namun kompleks. I can’t even….

Jujur saja, membaca (dan menamatkan) novel ini merupakan hal yang sulit bagi saya. Ada saat-saat ketika situasi terasa begitu berat, sehingga memaksa saya untuk berhenti selama beberapa hari untuk kembali ke realita. Saya benar-benar menikmati dan menghayati setiap kejadian yang ada di novel ini—dan ini bukan sesuatu yang sering terjadi terlepas dari banyaknya novel yang saya baca—sehingga takut rasanya untuk mencapai halaman akhir. Keluarga yang mencoba tabah untuk sang ayah, dan sang ayah yang mencoba kuat demi menenangkan hati orang-orang terkasihnya. Semua kepura-puraan ini terlalu berat untuk saya terima karena saya tahu, seiring waktu mereka harus semakin berusaha. Lebih berpura-pura antar satu sama lain.

Membaca Second Chance Summer bagi saya seperti mengembalikan kepercayaan kepada Morgan Matson setelah sebelumnya kecewa berat dengan Since You’ve Been Gone. Amy and Roger’s Epic Detour memang istimewa, tapi Second Chance Summer-lah yang benar-benar berhasil memenangkan hati saya.

Serius deh, saya benar-benar merekomendasikan novel ini.

Karya lain Morgan Matson:


Since You’ve Been Gone: 
Amy and Roger’s Epic Detour:  image

Monday, 9 February 2015

[Book Review] For Real by Alison Cherry

For Real
penulis Alison Cherry
340 halaman, Young Adult
Rating:  image
Dipublikasikan 9 Desember 2014 oleh Delacorte Press

Why do you want to be on this show (besides the million-dollar prize)?
MIRANDA: I spent the last year dating a self-involved, cheating asshole who wants to be famous. He’s on your show. I’m here to keep him from succeeding.
ME: I’m here to support my sister. Letting her loose in the world of reality TV on her own world would be like tossing a baby into a swimming pool without water wings.

Kalau kalian mengharapkan novel bertema road trip antar dua sahabat (seperti yang disiratkan oleh cover) siap-siap aja untuk kecewa. Eits jangan khawatir, novel ini menjanjikan premis yang jauh lebih baik kok: reality show! Tahu sendirilah, udah buanyak banget penulis yang mengangkat tema road trip sampai saya capek sendiri ngikutinnya. Tapi kalau reality show… wah saya belum pernah baca tuh sebelumnya. Maka ketika tahu seseorang bersedia membagi informasi tentang dunia reality show, saya siap menyambutnya dengan tangan terbuka.


Miranda baru saja putus dengan pacarnya, Samir, yang memang dari radius lima mil sudah mengeluarkan aura brngsk. Baru ketemu beberapa menit saja, Claire sudah tahu bahwa pacar (atau tepatnya mantan) kakaknya itu adalah cowok paling arogan, narsis, dan menyebalkan di muka bumi. Dan firasatnya langsung terbukti ketika Samir mengkhianati dan mempermalukan kakaknya di depan teman-temannya, tepat seminggu sebelum Miranda dan Samir pindah untuk tinggal bersama.

Untuk menghibur kakaknya itulah, Claire mengajukan alternatif balas dendam yang bakal lebih menyakitkan bagi Samir. Mereka akan mengikuti Around the World, mengikuti jejak Samir yang sudah lebih dahulu lolos menjadi peserta. Around the World merupakan reality show yang mengajak pesertanya keliling dunia untuk memenuhi tantangan-tantangan tertentu, dan tim yang paling terakhir memenuhi tantangan akan tereliminasi (and say goodbye to 1 million dollars). Miranda dan Claire akan bekerja sama untuk mengeliminasi Samir, yang juga berarti bakal mengakhiri jalan karirnya di depan televisi selamanya. (Man, girls can be such a freakin bitch, so just don’t messing around with us okay? It’ll end dirty).

“I know it’s not something you’d normally do. But come on, don’t you want to take him down in front of the whole world? Everyone would remember that. Every single time he went to an audition, he’d be ‘that guy who got his butt handed to him by his ex-girlfriend on TV.’ Nobody would ever respect him again.”

Dengan pengetahuan tak-terbatas Claire terhadap reality show (thanks to all those endless reality shows marathons) dan cerita “menyedihkan” Miranda, mereka memantapkan diri untuk mengikuti audisi dadakan. Claire bertekad untuk membantu kakaknya membalas dendam dan juga memperbaiki hubungan kakak-beradik mereka yang selama ini renggang. Dan kamu tahu apa yang mengejutkan? Mereka benar-benar lolos audisi!! Para produser menelan bulat-bulat cerita mereka. Tim lain yang lolos bersama mereka adalah Will dan Lou. Claire tidak menyangka bahwa Will, cowok cute yang ia kenal ketika mereka mengantri audisi juga terpilih. Tapi dengan senyum manis dan kepribadiannya yang supel, siapa yang bisa menolak Will? 


Malapetaka dimulai ketika tema Around the World tahun ini diumumkan: Around the World in Eighty Dates. Yang artinya….. masing-masing peserta akan berpasangan laki-laki—perempuan. Yang artinya…… Miranda dan Claire harus terpisah. Yang artinya……………… bakal ada kemungkinan Miranda untuk berpasangan dengan Samir.



Yang bikin saya cukup terkejut adalah destinasi pertama mereka: Surabaya! Yep, seneng rasanya waktu tahu kalo ada seorang penulis yang mau repot-repot menyorot negara kita. Di kota Surabaya pula!!! (biasanya kan, Bali lagi…. Bali lagi….). Selain Surabaya, destinasi dan tantangan mereka di negara lain juga unik-unik lho :))) Jangan kira perjalanan mereka bakal super mewah dan jalan-jalan cantik aja ya, karena produser mereka getol sekali mengerjai mereka dengan tantangan paling EWH dan aneh. Saya masih geli ketika Claire dan Will (mereka berpasangan di tantangan ini!) harus minta tolong sama penduduk lokal bernama Taufik untuk mencari ikan asin dan srikaya di Pasar Pabean :’)))) bener-bener ditulis ‘ikan asin’ dan ‘srikaya’ di kertas tantangan mereka. Bikin saya agak bersyukur juga sih sama negara-negara macam kita gini soalnya selain punya bahasa nasional sendiri, kita tetep diwajibkan buat mempelajari bahasa universal semacam Bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dll. Jadi jatohnya nggak manja dan malas belajar.

“And the next question. Um….if you could only eat food beginning with one letter of the alphabet for the rest of your life, which letter would you choose?”
“Ooh, good one.” He thinks about it for a minute, and I take that time to concentrate on banishing my blush. “I’d choose P. I’d be able to have pizza and pasta and pad Thai and peanut butter. And pie, obviously.”
“What would you put the peanut butter on?”
“Pumpernickel. With peach preserves.”
I laugh. “Nice.”



Dunia reality show ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh Claire. Marathon beberapa acara TV pun tidak terbukti mampu mempersiapkan diri pada kenyataan pahit yang harus ia alami sewaku mengikuti Around the World: di reality show…. tidak ada yang benar-benar real.

“Claire…you know there’s nothing actually real about reality show, right?”
“Yeah, of course I know that. The producers manipulate the story and fabricate drama. And thins are filmed out of order, and—“
“No, I mean, everything. You don’t have to be yourself when the cameras are on. People come on these shows, and they get characterized as the nerds, or the daredevils, or the bimbos, but that isn’t necessarily who they really are, it’s just who they’ve become for the producers and the viewers. You can be anyone you want.”

Hal itulah yang membuat saya agak jengkel sama Claire, karena dia sombong. Padahal pengetahuan yang ia gembor-gemborkan itu hanyalah beberapa tipuan dasar yang ditanamkan para produser untuk diyakini para penontonnya. Kalau bukan karena bantuan pasangan-pasangan timnya, mungkin Claire sudah tereliminasi dari awal. Maka dari itu nggak heran di Around the World in Eighty Dates, Claire terkesan seperti peserta yang paling polos. Dan menyedihkan, karena bahkan Miranda pun berulang kali “menjatuhkan” dia baik saat mereka melakukan tantangan atau saat mini interview.

Kalau saya jadi Miranda sih, saya juga bakal jengkel. Claire mulai membelok dari tujuan awal mereka mengeliminasi Samir sih dan malah menghabiskan setiap waktunya untuk mengejar Will, bahkan ketika Claire dan Will sudah tidak satu tim lagi. Masuknya sudah bukan tahap kepo lagi, tapi stalker. Claire juga cenderung men-judge peserta lain dari penampilan dan latar belakang mereka. Uggghhh.


Tapi itulah yang membuat novel ini istimewa di mata saya. Sikap menyebalkan Claire mengingatkan saya sama diri saya sendiri di masa lalu (walau nggak separah dia sih) ketika masih silly, menyebalkan, judgemental, dan sok tahu. Di Around the World inilah Claire belajar untuk mengenali kesalahannya dan berubah jadi lebih baik, nggak jarang melalui komentar pedas orang lain. Andai saja saya baca novel ini sejak dulu—wkwk padahal juga baru terbit beberapa bulan yang lalu—pasti saya juga bisa mengenali kesalahan saya dan belajar lebih cepat.

Secara umum, For Real ini adalah novel yang super menyenangkan!!! Gaya penulisannya bagus, tidak ada fakta yang dilebih-lebihkan di tiap destinasi mereka, dan plotnya selalu memberikan kejutan bagi pembacanya. Bikin saya penasaran buat membaca karya lain Alison Cherry. Kalau ditanya apakah saya bakal membaca ulang novel ini di lain waktu, jawabannya adalah YA!!! Ayo dong penerbit Indonesia terjemahin novel ini!