Sunday, 31 March 2019

A Walk Through My Precious Journals + Bonus

Sebagai seseorang yang suka nulis apa yang saya baca di buku catatan—I learned the hard way you can’t rely on your memory only when you read various of books and articles at daily basis—saya nggak pernah beli buku catatan. Pemikiran ini muncul setelah buku catatan saya sudah terisi sampai halaman paling belakang dan…. now what? Ya karena saya nggak punya pengalaman beli buku catatan kayak gini. Nggak tahu harus ke mana, sedia uang berapa, cari yang kayak apa. Buku catatan yang saya punya dan pakai selama ini adalah hadiah dari teman-teman.


Yang pertama adalah buku catatan Miniso hadiah dari teman kuliah, Mbak Ajeng. Ukurannya lebih kecil dari semua buku catatan yang saya punya. Kalau saya yang datang ke Miniso-nya sendiri, buku catatan kayak gini kelirik pun enggak. Tapi ternyata—saya sendiri pun kaget—saya sangat suka sama betapa enteng dan mudah buku catatan ini buat diselipkan di tas yang penuh kertas dan laptop. Di halaman-halaman awal isinya masih campur-campur, kebanyakan tentang artikel Medium dan buku yang saat itu saya baca. Semakin ke belakang, saya semakin sering menuliskan pemikiran saya tentang tema tesis yang saat itu nggak lebih dari angan-angan. Masih belum tahu cara penelitian, cara olah data, dan apa yang mau ditulis di Ms. Word. Segala teori dan potongan-potongan informasi berharga saya tulis dengan teliti, meskipun dengan tulisan acak-acakan. Modal yakin aja lah kalau suatu saat mereka bakal berguna. Lambat laun, potongan-potongan ide tersebut bermanifestasi menjadi sesuatu yang utuh dan siap diketik dengan gaya saya. Nggak perlu repot buka-buka jurnal lagi, karena dulu sudah repot-repot nulis manual dan disatukan di satu buku. You chose your battle, there’s no easy shortcut. Keberhasilan saya nulis tesis yang niat adalah berkat buku catatan ini.

Oke sebelum saya simpan buku catatan ini di kardus khusus tesis (biar kamar nggak penuh), mari kita abadikan apa saja sih yang ada di dalamnya.

Halaman paling depan khusus untuk untuk post-it "ide besar" yang dijadikan patokan arah tesis ini mau dibawa ke mana. Ada juga quotes dan penyemangat dari Mbak Arin yang mengandung ~typo~ tapi ku cuma bisa mringis karena.... I love her. I love her enough to NOT ruin her beautiful handwriting.


Selanjutnya adalah saksi kegalauan saya di awal penelitian untuk memilih alat ukur analisis. Banyak teori dan kelebihan kekurangan memakai alat X, Y, Z, dll, dst. Untuk yakin mau memilih alat yang mana, saya harus baca banyak jurnal internasional berindeks SCOPUS dan beneran bertapa. Pembelajaran yang saya dapatkan di masa-masa ini adalah semua berasal dari ide kecil yang muncul di saat-saat tidak terduga. Selalu sedia pulpen dan buku catatan biar ide bagus nggak hilang gara-gara pikun.



Nah bisa dilihat saya sudah mulai terlihat terdistraksi sama hal-hal yang nggak ada kaitannya sama tesis. Malah baca bukunya Stephen Hawking dan mencatat pidatonya. Tapi berkat catatan ini saya bisa jawab pertanyaan temen saya yang masih ragu "Beneran nggak sih bumi itu bulat?" [SPOILER: friendship is over]. Pidato Stephen Hawking juga sangat memotivasi saya yang saat itu lagi di titik motivasi terendah karena belum nemu salah satu komponen yang tepat buat tesis saya.



Terus saya mulai mengenal Medium. Sudah dalam taraf kesetanan sih pas inget berapa waktu yang saya habiskan buat baca artikel-artikel di sana. Ya gimana, saya menemukan tempat berkumpulnya orang-orang pinter yang sukarela berbagi ilmunya. Dapat banyak banget inspirasi dan pemikiran baru berkat Medium.


Terakhir adalah catatan ketika datang ke sesi kuliah dari keynote speaker konferensi internasional yang diadakan kampus. Untuk bisa datang ke kuliah ini sebenarnya harus bayar $$$$$$$, tapi karena saya waktu itu jadi LO dan MC, makanya bisa dapat free access.



Lanjut ke catatan kedua, yang saya pakai untuk mencatat SEMUA hal menarik dari apa yang saya baca. Buku ini adalah hadiah dari Astri dan keren banget, ada jaketnya. Tapi saya lebih suka bawa buku ini kemana-mana naked, karena lebih praktis dan enteng. Halamannya tidak bergaris, dan inilah yang membuka mata saya tentang seni mind-map dalam membuat catatan. Saya berhasil menemukan gaya saya sendiri dalam mencatat: penuh warna dari pulpen dan highlight serta dengan penempatan paragraf suka-suka. Siapa peduli soal kerapihan? Yang penting saya bisa menemukan informasi saat diperlukan. Saya yang dulu benci mind-map, sekarang malah mengaplikasikannya dalam catatan sehari-hari.








Dua buku catatan di atas menampol pola pikir jadul saya soal kesempurnaan: nggak perlu menyiksa diri gara-gara cari ukuran buku paling pas dan cara nulis catatan paling pas. Nih saya pakai dua buku catatan antimainstream di dua kegiatan penting dalam hidup dan semua baik-baik saja. Dunia masih terus berputar dan tugas berhasil diselesaikan. Pemikiran ini pada akhirnya saya aplikasikan ketika mencari buku catatan selanjutnya. Saya berencana untuk memakai loose leaf yang isinya masih utuh karena saya beli di minggu-minggu terakhir kuliah dan memakai ulang binder kuliah saya. Jadi, buat buku catatan ke depan saya nggak perlu keluar biaya sama sekali. (S E E! Periode ini pun secara teknis saya nggak beli buku catatan secara sadar, yang membutuhkan proses milih-milih dan bingung dan akhirnya beli tapi agak nggak puas. Is it a blessing or a curse???).

[Tepuk tangan buat diri saya di masa lalu karena sudah foreshadowing kalau saya bakal lebih suka mencatat di loose leaf polos sehingga 100 halaman ini bisa terpakai. Uang yang awalnya dianggarkan buat beli buku catatan bisa dialokasikan ke kebutuhan lain.]


I saved the best for the last, everybody. That is not the end. Masih ingat betapa teman-teman saya memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam bentuk buku catatan? ADA YANG LEBIH EXTRA, karena orang ini ngasih saya iPad. I wish I was kidding...

*wipe tears* i lov my frens. 

Dari mulai merek, ukuran, dan segala detailnya... persis sama impian saya yang dari kemarin berdarah-darah nabung buat beli sendiri dan sudah berkali-kali ke tokonya buat nyobain tapi ternyata harus bayar uang kuliah sebagai syarat sidang (meskipun ujung-ujungnya dapat pengembalian 100% beberapa bulan setelahnya). Makanya saya kaget campur bahagia sama surprise dia. Setiap saya memakai iPad ini, saya selalu berdoa biar ilmu yang saya serap juga menjadi berkah bagi teman saya itu. Sungguh karunia dari Allah begitu besar, saya selalu didekatkan sama orang-orang yang memudahkan proses belajar saya. Selama proses membaca (entah fiksi atau nonfiksi), ada perasaan dipukpuk dan dipeluk virtual sama teman-teman saya, sehingga mau nggak mau saya jadi super semangat menambah ilmu setiap hari. Lulus kuliah bukan berarti berhenti belajar, kan?

Wednesday, 27 March 2019

[Review Buku] Hunger: A Memoir of (My) Body oleh Roxane Gay


Ini adalah kali kedua saya mengetik ulasan memoir Hunger. Dan rupanya masih terlalu ngegas untuk standar ulasan buku yang harusnya netral. Oh, well. Maybe it’s not me, it’s you.

Sebelum ada Educated, Hunger sudah lebih dulu wara-wiri di linimasa berbagai media sosial. Banyak orang mengagung-agungkan memoir ini, sehingga ketika saya ingin membaca memoir lain pasca tamat Educated (ulasan bisa dibaca di sini)… buku ini menjadi pilihan pertama. Apa sih yang mereka maksud? 


Hunger adalah memoir yang ditulis oleh Roxane Gay. Saya tahu sekilas sama nama dia karena Emma Watson pernah memilih buku yang dia tulis (Bad Feminist) untuk dibaca di klub bukunya. Setelah melakukan riset dangkal, rupanya si penulis ini sangat terkenal di ranah literatur dunia; bukunya selalu laris, sering dipanggil untuk bicara di seminar, dll, dst. Apesnya, saya milih buku yang paling “jujur” dari dia untuk membentuk kesan pertama.

Di memoir ini, Roxane Gay sangat blak-blakan menceritakan kisah hidupnya sebagai seorang rape survivor. Di usia 12 tahun, dia diperkosa oleh pacar beserta teman-temannya di sebuah gubuk di tengah hutan. Kejadian tersebut menorehkan trauma yang sangat besar di hidup Roxane Gay, terutama saat dia memutuskan tidak akan memberitahu keluarganya dan bertingkah seperti segalanya baik-baik saja. Upaya coping yang dia pilih adalah dengan makan berlebih. Dia memiliki pemikiran bahwa dengan menutupi bentuk tubuhnya sehingga tidak jadi atraktif lagi, laki-laki akan menjauhinya. Dia juga melakukan tindakan-tindakan destruktif yang bikin saya…… geram…… dan nyaris menyerah. Sehabis tamat buku ini juga rasanya beraaat sekali mau bikin ulasan.

Tapi saya merasa harus meluruskan beberapa hal sama pengagum Roxane Gay di luar sana.

Begini, setiap membaca kebodohan masa remaja Roxane Gay, saya sadar sekali kalau saya punya kondisi yang sangat berbeda dengan dia. 100% sadar. Tapi bukan berarti saya nggak punya hak untuk protes. Saya tidak protes soal keputusan hidup dia. Live your life, by all means, Ms. Gay. Saya protes ke keputusan dia menulis memoir ini tanpa memikirkan apa reaksi dari pembaca-pembaca yang fanatik sama dia atau yang lebih buruk lagi, para survivor dari kejadian-kejadian seperti yang dialami oleh Roxane Gay. Pemikiran yang dimiliki oleh Roxane Gay menurut saya sangat brutal. Dia menyesal melakukan itu, tapi juga…nggak menyesal. Gimana ya menjelaskannya? Dia “secara intelektual” tahu dampak dari tindakan tersebut, namun tetap melakukannya. Yang berbahaya adalah, Roxane Gay sangat pintar menyusun kata. Banyak tindakan bodoh yang dia lakukan mendapatkan pembenaran (yang tampak) masuk akal karena secara ajaib, Roxane Gay mampu menemukannya. Bayangkan jika buku ini dibaca remaja-remaja polos yang belum memiliki pemikiran kritis. Mereka akan merasa “direpresentasi” oleh Roxane Gay—seseorang yang saat ini sangat sukses—sehingga mereka nggak akan sadar kalau tindakan atau pola pemikiran yang mereka miliki sebagai sarana coping sebenarnya sangat destruktif.

Terus, Roxane Gay sadar nggak sih kalau nggak semua orang yang mengalami obesitas itu terobsesi sama penerimaan publik? Dia merasa seperti jadi “juru bicara” universal kaum obesitas dan menyimpulkan kalau segala upaya diet yang mereka lakukan itu hanya untuk diterima oleh publik atau, minimal, menghindari lirikan-lirikan yang menghakimi dari orang-orang di sekitar. Hasilnya? Dia selalu menyalahkan orang-orang yang selama ini berinteraksi sama dia: kenapa sih nggak bisa menerima orang obesitas dengan tulus? Kenapa fasilitas publik tidak ramah sama kaum obesitas? Ditambah berbagai pertanyaan merengek lainnya yang menyalahkan dunia tanpa berefleksi pada diri sendiri terlebih dahulu. I don’t know, man…. saya setuju sama masalah fasilitas publik, tetapi saya rasa nggak semua kaum obesitas haus atas penerimaan publik seperti Roxane Gay. Dan karena Roxane Gay merasa dia boleh jadi jubir universal kaum yang mengalami obesitas, saya juga merasa pantas jadi jubir universal dari kaum “seberang”—*roll  eyes* dia merasa dunia terbagi dalam dua kelompok HUFT—a.k.a dari masyarakat yang selalu menghakimi: Mungkin… mungkin ya… kaum kami *roll eyes* ketika melihat ke kalian itu…. sebenarnya tidak ada pemikiran aneh-aneh yang muncul di pikiran kita. Ya memang lagi lihat-lihat aja dan kebetulan tatapan kita bertemu waktu saya lihat ke arah sampeyan. Nggak semua orang sejahat itu.

Dan ini murni pendapat saya sebagai anak ekonomi: daripada mengeluhkan soal industri F.A.S.H.U.N. yang nggak pernah memfasilitasi kaum obesitas dengan pakaian yang menarik dan nyaman, kenapa enggak menjadikan fenomena ini sebagai kesempatan bisnis? Bayangkan kalau Roxane Gay mendorong pembacanya untuk memfasilitasi kebutuhan pakaian bagus bagi kaum obesitas dan bukannya cuma mengeluh untuk kemudian diamini pembaca fanatiknya di seluruh dunia. Pasti bakal lebih banyak hal baik terjadi dengan dibacanya buku ini.


[Okay. Sejak awal saya harusnya mengikuti kata hati saja karena data historis menunjukkan saya paling nggak bisa ikutan rame-rame kayak gini; kebanyakan ujung-ujungnya saya benci sama buku yang dimaksud dan bencinya sendirian. Now I feel extremely lonely in this island, everybody just boarded that damn ship].

Saya harus bilang, gaya menulis dia bagus. Bagus banget malah, terbukti dari banyaknya kalimat yang saya highlight. Tapi ya itu, problematik. Dan sangat berbahaya ketika suara penuh pengaruh macam Roxane Gay digunakan secara nggak bijak. Saya berharap orang-orang yang membaca memoir ini tidak terseret ke pola pikir negatif dan destruktif Roxane Gay. Masih banyak orang baik di dunia ini. Have faith in people, guysDan yang paling penting: coba sekuat tenaga untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Mencintai diri sendiri bisa dimulai dengan tindakan mengedukasi diri tentang hal yang menurut kalian penting dan berkaitan langsung dengan hidup kalian daripada koar-koar menyalahkan dunia (atau yang lebih parah, menyalahkan pemerintah). Jangan jadi seperti Roxane Gay. 

Tuesday, 19 March 2019

Maret: Kembali ke Novel, Menyambung Pertemanan, dan Mempertahankan Ketenangan Batin

Salah satu sumber stres saya adalah ketidakmampuan untuk membuat ulasan buku setelah menjadikan “mengulas setiap buku yang dibaca” salah satu resolusi 2019. Sejauh ini, sudah ada 4 buku yang tamat tanpa satu pun terulas. Saya merasa gagal, dan secara tidak langsung menimbulkan perasaan bersalah untuk lanjut baca buku lain. Untuk mengatasinya, saya memutuskan untuk membuat ulasan singkat di postingan ini saja. Buku-buku (kurang beruntung karena tidak mendapatkan perhatian penuh saya dalam ulasan panjang lebar per-posting) antara lain:


Tahereh Mafi menghidupkan kembali seri Shatter Me dengan diterbitkannya Restore Me. Buku ini adalah proyek baca ulang karena dua minggu lagi, buku kelimanya (Defy Me) akan terbit. Restore Me menyajikan unsur menonjol dibandingkan novel distopia lain, yaitu menunjukkan ke pembaca apa yang terjadi setelah musuh besar (dalam hal ini pemerintah yang korup) dikalahkan. Yang mengikuti seri ini dari awal sekali pasti merasakan betapa berkembangnya tokoh Juliette Ferrars hingga akhirnya menduduki jabatan sebagai Supreme Commander Amerika Utara. Di buku ini juga akhirnya dijelaskan LATAR dari keseluruhan cerita Shatter Me, suatu hal yang menurut saya masih gaje waktu dulu menamatkan Ignite Me. Tiga poin ini membuat keputusan Tahereh Mafi untuk menerbitkan Restore Me tidak sia-sia (I concluded that she wasn’t trying to milking the cash cow) meskipun cukup berani juga ya mengingat masa kejayaan distopia sudah lewat dan fandom seri ini enggak besar-besar banget. Cukup menikmati buku ini meskipun tidak dalam taraf terikat secara emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya.


AKHIRNYA. Sesuatu yang kita nantikan sedari dulu: cerita dari sudut pandang Kenji Kishimoto, satu-satunya tokoh yang waras dan selalu meluruskan tindakan gila dari tokoh-tokoh lainnya! Kita bisa tahu apa konflik batin yang selama ini dialami Kenji (yang mengkonfirmasi teori bahwa orang yang di luar menampilkan emosi paling ceria adalah yang di dalam hatinya paling merasakan kesedihan) dan pengalamannya naksir cewek untuk pertama kalinya. My sweet baby boy, I feel like a proud mama here *wipe fake tears*. Di novella ini juga dijelaskan secara lebih detail APA SIH YANG SEBENARNYA TERJADI DI AKHIR CERITA RESTORE ME. 


Saya menamatkan Daisy Jones & The Six melalui versi audiobooknya. Keputusan yang tepat, karena format dari novel ini adalah…wawancara? Secara singkat novel ini menceritakan upaya seorang penulis biografi dalam mengungkap alasan Daisy Jones & The Six, band paling legendaris di tahun 1970-an, untuk membubarkan diri di puncak karir mereka. Setiap tokoh memiliki naratornya sendiri (suami Taylor Jenkins Reid bahkan ikut menyumbang suara) sehingga ketika kita mendengar versi audiobook, kita serasa mendengarkan percakapannya secara langsung. Lebih hidup, lebih mengalir, dan lebih membuat penasaran. Jempol buat narator Daisy Jones; suaranya yang sengau dan serak macam penyanyi yang sering merokok benar-benar sesuai dengan kepribadian Daisy. Namun, narator kesukaan saya justru yang mengisi suara Karen; pelafalannya melengking di bagian-bagian yang tepat sehingga dialog yang dia bawakan memiliki kesan flirty, in a very interesting way. 

Seperti Restore Me, saya menyukai novel ini tetapi tidak memiliki keterikatan emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Taylor Jenkins Reid memang selalu menciptakan tokoh yang manusiawi dan jujur, sehingga ada beberapa sifat dari tokoh yang saya nggak suka. Kemudian, format wawancaranya bikin saya nggak bisa menikmati alur dengan maksimal. Menurut saya, kekuatan Taylor Jenkins Reid sebagai penulis adalah kemampuannya membangun suspensi dan menarik emosi pembaca melalui narasi. Maka ketika narasi ditiadakan di novel ini, agak goyah gitu pondasinya. Sama-sama punya tokoh utama yang b-e-a-c-h-y, saya lebih suka The Seven Husbands of Evelyn Hugo (ulasannya bisa dibaca di sini).


Ini juga merupakan proyek baca ulang, dilakukan karena saya pengen baca novel ketiga dan keempatnya tapi lupaaa sama apa yang terjadi di novel kedua (buku pertamanya sudah pernah saya ulas di sini). No Charm Intended adalah novel yang menyelamatkan kewarasan saya di satu minggu penuh stres melalui ceritanya yang ringan dan bubbly. Nggak ada tekanan untuk menebak siapa pembunuhnya, karena saya sudah pernah baca tapi lupa plus lagi nggak begitu kompetitif juga. Saya justru lebih fokus ke Chasel vs Adrian (PS: saya tim Chasel!) dalam merebut perhatian Cora. Kadang memang kita perlu berhenti dan bernapas sejenak tanpa terlalu mengkritisi kekurangan dalam novel yang kita baca. Sekarang saya sedang membaca novel ketiganya, karena otak masih membutuhkan bacaan ringan minim konflik.


Selain membaca novel-novel di atas, beberapa waktu belakangan saya habiskan untuk mengeksplor beberapa kafe untuk memaksimalkan pengalaman membaca saya. Yang paling saya suka adalah tempat yang sepi, minim musik, dan (surprisingly) tanpa wifi. 



Selain itu, saya juga berkesempatan untuk ngobrol berkualitas dengan teman-teman dekat. Dari mulai teman lama, teman yang sudah berbulan-bulan nggak ketemu karena double degree, hingga teman baru yang langsung seperti sahabat. Dari pertemuan-pertemuan ini, saya menyadari kalau banyak perempuan hebat di hidup saya, dengan perjuangan dan prestasinya masing-masing.

Termasuk dalam aktivitas bolang kita adalah pergi ke toko buku untuk kemudian keluar tanpa membawa bungkusan apapun melainkan menambah wishlist yang semakin menggunung. Karena kita nggak cuma pengen satu, dua, atau tiga buku, tetapi SEDERET sekaligus yang per bukunya nggak ada yang lebih murah dari Rp 350.000. We're such wild girls, indeed.



(Sebentar lagi saya akan berpenghasilan tinggi, tunggu ya kalian semua akan saya borong!)

Begitulah wrap up dari saya di bulan yang sangat se-lo ini. Mungkin beberapa minggu ini saya memang butuh istirahat total secara mental dan fisik. Beruntung sekali saya punya banyak buku bagus untuk membuat otak terus bekerja. Nanti kalau sudah siap, saya akan kembali dengan ulasan yang panjaaaaaang dan lebaaaaaaaaaaar.

Monday, 11 March 2019

[Review Buku] Six of Crows dan Crooked Kingdom oleh Leigh Bardugo

Sungguh kebahagiaan yang hakiki karena akhirnya… AKHIRNYA… saya memutuskan untuk membabat beberapa fiksi yang sudah lama mangkrak di timbunan. Hal ini saya lakukan sebagai cleansing palate setelah tamat baca banyak nonfiksi; biar nggak mudah bosan dan memberikan sedikit ruang di otak untuk istirahat.


Fiksi pertama yang terbaca adalah Six of Crows karya Leigh Bardugo. Ini adalah lanjutan dari trilogi The Shadow of Bone, dengan setting dan tokoh yang berasal dari belahan dunia lain. Saya sengaja melewatkan trilogi The Shadow and Bone karena setelah lihat ulasan sana-sini, banyak yang kecewa sama jalan cerita dan sifat abusif Darkling ke Alina. Konsekuensinya sih di bab-bab awal saya bingung sama beberapa istilah yang ada (Grisha? Heartrender? Fabrikator?). Untungnya saya cepat paham dari penjelasan ulang dari penulis—ya know, di bab awal biasanya kan banyak penjelasan singkat tentang istilah yang ada atau kejadian di buku sebelumnya—jadi bisa langsung ngegas untuk menikmati ceritanya.

Six of Crows menceritakan petualangan 6 kriminal (Kaz, Inej, Nina, Matthias, Jordan, dan Wylan) dalam menjalankan misi super mustahil: menyelamatkan ilmuwan Bo Yul-Bayur, penemu jurda parem yang sedang mendekam di Ice Court. Jurda parem adalah semacam opium yang bisa meningkatkan kekuatan Grisha berkali-kali lipat, namun memberikan efek adiktif bagi pemakainya. Di tangan yang salah, jurda parem dapat memicu pembunuhan massal, menghancurkan perdamaian dunia, serta mengganggu kestabilan ekonomi. Namun, bukan itu yang menjadi motivasi Kaz menerima misi tersebut. Kaz bersedia melakukannya karena Council melalui Jan Van Eck berjanji untuk memberikan 30 juta kruge jika Kaz dan komplotannya berhasil membawa Bo Yul-Bayur hidup-hidup. 

Inilah alasan pertama suka sama seri ini: realistis! Tidak ada kata-kata mutiara kalau “ini semua demi kebaikan dunia” dan lain sebagainya. Sekali penjahat tetap penjahat, okay

“Just trust me, Nina.”
“I wouldn’t trust you to tie my shoes without stealing the laces, Kaz.”

Alasan kedua yang membuat saya suka sama seri ini adalah pembangunan karakter. Menghabiskan waktu bersama mereka, mau nggak mau kita akan sayang. Ini semua berkat penggambaran tokoh yang sangat apik dari Leigh Bardugo, setiap tokoh punya keunikan dan sifat yang menonjol sehingga membedakannya satu sama lain. Kalian bisa minta sama saya buat menjelaskan seperti apa Kaz dan saya bisa kasih esai sebanyak tiga halaman penuh untuk menjawabnya (I just don’t want to LOL but you get what I’m saying, right?). Selain itu, Leigh Bardugo juga tidak ragu untuk memberikan keterbatasan pada tiap tokoh: Kaz memiliki cacat permanen setelah jatuh dari lantai dua sehingga dia membutuhkan tongkat untuk membantunya berjalan, Inej punya sejarah dijual di rumah bordil sehingga bersentuhan dengan lawan jenis membuatnya tidak nyaman, Matthias punya loyalitas yang tinggi dengan mantan pasukannya terdahulu—drüskelle—jadi pembaca masih selalu menebak-nebak apakah dia bakal mengkhianati Kaz, dan masalah-masalah pribadi tokoh lainnya yang memunculkan rasa empati dari kita. Ketika kita tahu kekurangan mereka namun tetap sayang, that’s true love. Fakta ini bikin saya sadar kalau baru kali ini saya  bisa terikat secara emosional dengan tokoh fiksi dan mewek waktu harus pisah sama mereka di Crooked Kingdom. Ini membuktikan kalau penulis tidak harus menciptakan tokoh super sempurna untuk menangkap hati pembaca.

Alasan ketiga adalah TENSION BUILDING! Harus banget dikapital karena….asdfghjklzxcvrtpq gemaaashhh. Duologi ini adalah contoh paling bagus untuk menunjukkan apa itu s l o w b u r n. Kalian mendukung hubungan Kaz dan Inej? Nina dan Matthias? Good luck for that. Meskipun cinta Kaz ke Inej tidak perlu diragukan lagi (kita tahu di detik Kaz mencabut bola mata Oomen dan melempar tubuhnya keluar kapal, thankyouverymuch, nggak peduli berapa kali Kaz sok-sok bilang Inej itu aset yang “mudah tergantikan”), kalian nggak bakal menyaksikan mereka bersentuhan tangan lebih dari dua detik. Begitu pula dengan Nina dan Matthias. But you’ll still love them anyway, and will root for them throughout the story.

Terakhir, dan merupakan poin paling penting bagi calon penulis di luar sana, adalah betapa rapinya Leigh Bardugo menyusun plot cerita. Plot utama dijelaskan dengan baik di sekitaran bab kedua atau ketiga (membebaskan Bo Yul-Bayur), dan plot-plot yang menggiring ke plot utama memiliki ketegangan yang semakin lama semakin intens, membuat perhatian pembaca tidak mudah kendor. Di bagian awal sekali, dijabarkan efek jurda parem dari tokoh-tokoh tidak signifikan, sehingga cerita berangkat dari permulaan yang memancing rasa penasaran pembaca tanpa perlu mengenalkan 6 tokoh utama. Kita tahu jurda parem berbahaya, sehingga kita bakal peduli betapa pentingnya misi yang nantinya dijalankan Kaz dan kawan-kawan. Plot utama pada akhirnya terselesaikan dengan plot twist, sehingga memberikan ruang bagi penulis untuk melanjutkan ke Crooked Kingdom. Saya? Bersyukur masih dikasih buku sekuel. Penulis? Senang dapat kontrak tambahan. Penerbit? Senang dengan loyalitas fandom yang menjanjikan penjualan yang besar. Calon penulis coba deh catat teknik dari Leigh Bardugo ini, biar cerita kalian tersaji dengan baik. Karena nyatanya, BANYAK sekali novel yang saya baca tidak dilandasi plot yang bagus, kadang di 100 halaman pertama konflik sudah selesai. Halaman sisanya? Tidak jelas arahnya kemana.


Crooked Kingdom. Sungguh lika-liku yang menguras emosi pembaca. Secara singkat: karena Six of Crows ditulis secara utuh dan bertindak sebagai fondasi yang kuat (dalam hal-hal yang telah saya sebutkan di atas), pengalaman membaca sekuelnya jadi sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Terutama, ketika kita diberikan info mengenai masa lalu dari tokoh-tokoh kesayangan kita. Mereka seperti berlomba-lomba untuk punya masa lalu paling kelam, tetapi khusus buat masa lalu Inej….UGH gimana saya nggak protektif, coba, sama dia? Let her get her well-deserved happiness! Tapi karena penulis adil, nggak hanya Inej yang harus menderita, karena mereka berenam harus menghadapi bayangannya masing-masing sambil menyelesaikan misi-misi berbahaya. Secara pribadi, saya suka sekali dengan pilihan-pilihan yang mereka ambil untuk menghadapinya.

Saya sebenarnya mau cerita panjang soal Crooked Kingdom ini, tapi takut spoilerYang jelas, saya suka sekali sama endingnya! Kaz dan Inej memang punya dinamika yang bagus, dan pada akhirnya, Kaz memilih untuk membahagiakan Inej. You can see how much he’s whipped by her from his final decision, and we—readers—really love him for that. Dan tidak seperti di novel-novel lain yang dengan bangga memproklamirkan bahwa cinta bisa menyembuhkan semua penghalang, duologi ini menyajikan kenyataan pahit bahwa ada batasan yang bahkan tidak bisa dilalui oleh kekuatan cinta. Trauma Kaz dan Inej masih ada, terus menghalangi mereka untuk melakukan kontak fisik yang sangat lumrah dilakukan pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta. Selain itu, pergumulan batin Matthias yang telah dicuci otak sejak kecil tentang kaum Nina yang jahat dan harus dibasmi selalu muncul. Matthias membutuhkan "suara hati" lainsuara hati yang mencintai Ninauntuk mengalahkannya, membuat dia harus selalu membela Nina, 24/7 di dalam otak dan hatinya sendiri. Realistis, dan sekali lagi menjelaskan ke pembaca bahwa cinta tidak bisa mengalahkan segalanya secara BOOM... instan. Love is a strong commitment and continuous hard work, indeed.


Begitulah pengalaman saya membaca buku yang sempat ngetren sekali di tahun 2015. Ketika ramai-ramainya sudah bubar, saya baru merasakan betapa layaknya seri ini mendapatkan hype-nya dulu. I love them all, they’re my babies. Especially Inej and Nina, our badass queens who's supporting one another. They have my whole heart forever. Saya bakal sangat menantikan novel ketiganya yang bakal terbit entah kapan (YES IT’S CONFIRMED THAT WE’LL GET ANOTHER SEQUEL!!! I’M FREAKING OUT HERE). 


PS: Saya secara pribadi nggak merekomendasikan membaca duologi ini dalam format audiobook. Mendengar sampel audiobooknya, saya malah trauma gara-gara suara naratornya Kaz. Sungguh merusak imajinasi dan bikin menyesal. Lagipula, istilah bahasa yang dipakai Leigh Bardugo terbilang tidak lumrah sehingga otak saya lebih fokus ke mikir mereka ngomong apa daripada menikmati ceritanya. Format novel adalah pilihan yang paling bagus. You can fight me on this.

Sunday, 3 March 2019

[Review Buku] Educated oleh Tara Westover


Kali ini saya berkesempatan untuk membaca salah satu buku rekomendasi Bill Gates yang sedang hangat dibicarakan oleh khalayak, Educated. Karena buku ini adalah buku yang beliau rekomendasikan dengan semangat sekuat ketika membahas Factfulness—dan saya super jatuh cinta dengan Factfulness—maka saya sempatkan untuk membacanya di minggu tenang pasca keributan tesis selesai. 

Buku ini adalah sebuah memoir, secara tuntas menceritakan kisah hidup Tara Westover. Siapa Tara hingga orang sepenting Bill Gates terkagum-kagum dengan dia? Tara adalah anak seorang pemulung (saya nggak tau ya pekerjaan resmi bapaknya ini apa, tapi kayaknya lebih ke mulung deh) yang tinggal di lembah gunung di Idaho. Semua anak di keluarga Tara tidak ada yang sekolah dan tidak pernah tahu apa itu rumah sakit. Bahkan, hanya 3 dari 6 anak yang punya akta kelahiran. Penyebabnya? Si Bapak memiliki ketakutan besar kalau pemerintah merupakan anggota Illuminati yang melakukan propaganda untuk mencuci otak anak-anak melalui sekolah. Di sisi lain, ahli medis dianggap menyalahi kodrat manusia karena si Bapak percaya Tuhanlah yang memberi penyakit, maka Tuhan pula yang akan memberi kesembuhan. Si Bapak ini tipe yang suka menelan ayat kitab suci mentah-mentah (misal, di Isaiah disebutkan kalau “Butter and honey shall he eat, that he may know to refuse the evil, and choose the good.” Nah, si Bapak ini menginterpretasikan secara harfiah kalau salah satu di antara susu atau madu itu baik, sedangkan satunya jahat. Kemudian, dia bakal halu dan bilang kalau Tuhan membisiki dia yang baik itu madu. Jadilah sepanjang sisa hidup, mereka bakal menghindari susu, keju, dan yoghurt dan menimbun bergalon-galon madu. Sereal juga dikunyahin gitu aja meskipun seret). Si Bapak juga tipe yang percaya 31 Desember 1999 adalah akhir dunia karena komputer tidak bisa menerima input 00 dari 2000, sehingga sejak bertahun-tahun sebelumnya dia dan sekeluarga ngebut buat nimbun makanan, bensin, dan obat-obatan herbal untuk menyambut kiamat itu. Sekeluarga? Manut aja.

Si Bapak—and I cannot stress this enough—adalah sumber dari darah tinggi saya semingguan ini. Bahkan ketika sudah jelas terbukti kalau dunia masih berputar dengan normal pasca 31 Desember 1999, dia masih punya cukup harga diri buat membuat teori-teori ekstrem lain berkaitan dengan cara hidup keluarganya. Tara jatuh dan kakinya tertusuk besi di tempat sampah? Oles ramuan herbal buatan ibunya. Badan Luke (kakak Tara) terbakar karena bajunya tidak sengaja tertumpahan bensin dari mobil rongsokan dan terpantik api? Oles ramuan herbal buatan ibunya. Si ibu habis kecelakaan dan muncul benjolan yang semakin lama menghitam di atas matanya—yang kemudian diketahui sebagai Racoon Eyes, tanda cedera otak serius? Berdiam saja di basemen yang gelap sampai memar dan pusingnya hilang. 

Bisa dikatakan, sebagai keluarga yang menentang pergi ke rumah sakit, ada BANYAK SEKALI kejadian yang mengharuskan mereka untuk ke sana. Tapi karena bapaknya kolot, dan si ibu manut, mereka harus menahan rasa sakit dan… tetap menjalani aktivitas layaknya biasanya. Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi pada anggota keluarga dipandang si Bapak sebagai ujian Tuhan bagi keluarga dan terutama bagi si istri. Si Bapak percaya bahwa seperti dirinya, sang istri adalah manusia khusus pilihan Tuhan yang diutus untuk membawa kesembuhan bagi orang-orang “taat” yang menentang ilmu medis modern (karena, you know, ilmu medis modern tidak sesuai dengan perintah Tuhan). Jadi bisa dikatakan, pekerjaan si istri sebagai bidan tanpa lisensi dan pembuat ramuan jadi seperti musibah sekaligus anugerah bagi mereka. 

Such a crazy family.

Di kemudian hari akan diketahui bahwa si Bapak menderita penyakit mental. Tidak dapat dipastikan lebih ke bipolar disorder atau schizophrenia, karena yang bersangkutan tidak pernah menemui dokter langsung. Yang jelas, sungguh ironis ya bahwa ketakutan si Bapak terhadap dokter justru yang menghalanginya untuk mendapatkan perawatan untuk sembuh. Dan pada akhirnya, keluarganyalah yang harus membayar semua penderitaannya.

Then a part of me understands, even as I begin to argue against it, that my humiliation was the cause of that pleasure. It was not an accident or side effect. It was the objective.

Saya kira, nggak ada yang bisa mengalahkan kegilaan si Bapak. Tapi ternyata ada. Shawn, kakak Tara, sukses membuat hidup Tara menderita lahir batin. Shawn ini tipikal remaja bandel yang suka bikin keributan di gang komplek. Di keluarganya sendiri pun, Shawn melakukan banyak tindakan abusif, baik verbal maupun nonverbal. Meskipun dia kadang bisa jadi kakak paling perhatian dan protektif bagi Tara, saat-saat ketika sifat jahatnya keluar ini… bikin saya… geram… dan… pengen langsung tutup buku dan melupakan niat untuk menamatkannya. 

Semakin hari, tindakan si Bapak dan Shawn semakin menjadi-jadi. Bahkan, mereka seperti “menarik” orang-orang gila lainnya untuk bergabung di keluarga mereka. Seperti ketika si Bapak kena kebakaran parah dan hampir setengah tubuhnya hancur (the irony and the karma YOUKNOWWHATIMEAN). Selamatnya dia dari tragedi itu—meskipun dengan cacat permanen—tanpa bantuan rumah sakit menjadikan bisnis obat herbal sang ibu laris manis di seantero Amerika. Karyawan yang dipekerjaan sudah tidak seperti rekan kerja, tapi lebih ke pengikut relijius yang memandang si Bapak sebagai utusan Tuhan. Ada pula tambahan anggota keluarga baru, yaitu dia-yang-saya-nggak-mau-repot-buat-ngingat-namanya yang pada akhirnya jadi istri Shawn meskipun sudah tahu watak dan tindakan Shawn seperti apa. Saya nggak tega ketika Tara membahas momen istri Shawn kabur ke rumah mertuanya tanpa sepatu sehabis kena kumatnya Shawn, but homegirl saw that coming though.

Satu-satunya yang menyelamatkan Tara untuk tidak lagi terjebak dalam keluarga gila adalah keputusannya buat belajar mati-matian dan ikut kejar paket. Akhirnya Tara diterima di BYU dan pindah ke dormitory. Tara benar-benar menceritakan perjuangannya dalam menyadari kalau cara hidup dan berpikir tarzannya itu nggak lazim; dari yang nggak pernah cuci tangan setelah dari kamar mandi, nggak pernah membereskan sampah dan buah yang busuk, hingga menahan sakit gigi dan demam meskipun rasanya sudah kayak mau mati. Tindakan ndableg-nya bikin Tara dijauhi teman satu dorm dan satu kampus, dan baru mulai berubah ketika Tara datang ke gereja buat konseling dengan Romonya.

Untungnya, Tara cepat berubah dan malah menjadikan pengalamannya ini sebagai poros dari esai-esai yang dia tulis. Hasilnya, tulisan Tara memiliki suatu keunikan yang menarik perhatian dosennya. Kombinasi dari ide unik dan tetap grounded pada teori-teori dari buku membuat Tara mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan di Cambridge dan Harvard. Seseorang yang mulanya bukan siapa-siapa ini, pada akhirnya bisa mendapat gelar PhD dari universitas-universitas Ivy League.

Menurut saya, konflik mengenai tindakan abusif keluarga Tara dan bagaimana ia menanggapinya merupakan poin yang membuat banyak pembaca memberikan 5 bintang dan pada akhirnya membuat Educated memenangkan nominasi Goodreads kategori Memoir-Autobiography. Buku ini adalah representasi dari korban tindakan abusif yang pada akhirnya bisa sadar, bangkit, dan melawannya dengan bantuan pendidikan. Di masa ketika tindakan abusif banyak diglorifikasi dan diromantisasi pada novel-novel Young Adult dan New Adult, Educated ini jadi semacam “pengingat” pada pembaca bahwa tindakan abusif, baik verbal maupun nonverbal, tidak selayaknya dimaklumi. Dan selemah apapun kondisi kalian saat ini (ibu rumah tangga yang bergantung sepenuhnya pada finansial dari suami, anak yang belum punya pekerjaan, kekasih yang terlanjur cinta meskipun sudah diperlakukan secara buruk, dsb), jalan keluar itu ada. Tara buktinya. 

I could not judge her for her choice, but in that moment I knew I could not choose it for myself. Everything I had worked for, all my years of study, had been to purchase for myself this one privilege: to see and experience more truths than those given to me by my father, and to use those truths to construct my own mind. I had come to believe that the ability to evaluate many ideas, many histories, many points of view, was at the heart of what it means to self-create. If I yielded now, I would lose more than an argument. I would lose custody of my own mind. This was the price I was being asked to pay, I understood that now. What my father wanted to cast from me wasn’t a demon: it was me.

Namun, meskipun pesan yang disampaikan oleh Tara positif, saya merasa tidak dapat menangkapnya dengan baik. Hal ini dikarenakan Tara lebih berfokus pada cerita derita, lengkap dengan detail-detail menjijikkannya (saya sebenarnya oke-oke saja lho tanpa harus dikasih tahu seperti apa luka yang dimiliki Tara dan keluarganya ketika kena musibah). Pembahasan Tara soal sekolah dan perubahan-perubahan hidupnya, yang menurut saya harus ditonjolkan, malah kurang. Ya judulnya aja Educated gitu, masak pembahasan soal edukasinya nggak mendominasi? Kejadiannya memang sudah diurutkan menurut waktu terjadinya, tetapi mengingat ada prinsip “berita yang negatif akan lebih menarik perhatian dan lebih melekat di pikiran pembaca,” kesan saya ke buku ini jadi lebih soal keluarga gila Tara dan bukannya perjuangan Tara dalam keluar dari cengkeram kebebalan keluarganya.

Saya merasakan momen #relatable dengan Tara ketika dia membahas upaya Prof. Steinberg dan Dr. Terry untuk meyakinkan dia melanjutkan pendidikan ke Harvard (saat itu Tara sudah di Cambridge). Masa-masa ketika esainya dipuji—meskipun sudah jelas karena bagus dan membutuhkan pengorbanan begadang berhari-hari—membuat Tara semakin insecure dengan kemampuan yang dimiliki. Mungkin memang sudah sewajarnya perasaan itu ada, untuk mencegah kita cepat berpuas diri dan sombong. Dan mungkin memang orang-orang macam Tara dan saya membutuhkan sosok-sosok seperti Prof. Steinberg dan Dr. Kerry untuk bilang “Just go on submit your goddamn paper!!!!!” Momen ini benar-benar menenangkan saya karena... waw, orang sehebat Tara saja merasakan hal seperti ini. Saya nggak perlu menyalahkan diri sendiri ketika perasaan tidak menyenangkan ini muncul. Hanya perlu baca ulang esai kita, edit sesuai standar kita, dan submit dengan bismillah!

“Dr. Kerry smiled. “You should trust Professor Steinberg. If he says you’re a scholar—‘pure gold,’ I heard him say—then you are.”
“This is a magical place,” I said. “Everything shines here.”
“You must stop yourself from thinking like that,” Dr. Kerry said, his voice raised. “You are not fool’s gold, shining only under a particular light. Whomever you become, whatever you make yourself into, that is who you always were. It was always in you. Not in Cambridge. In you. You are gold. And returning to BYU, or even to that mountain you came from, will not change who you are. It may change how others see you, it may even change how you see yourself—even gold appears dull in some lighting—but that is the illusion. And it always was.”

Momen #relatable lain adalah ketika Tara pulang ke rumah orang tuanya waktu pertengahan tesis dan terjebak bersama Shawn yang sudah lama memendam amarah ke Tara. Setelah selamat, insting Tara adalah langsung pergi ke bandara terdekat dan kabur. Tapi, ada sisi rasional di diri Tara yang langsung teriak, “LAPTOP MASIH DI RUMAH. DATA-DATA TESISKU DI SANA SEMUA.” I laughed out loud because that’s the thing that’d sure as heck made me go back home and retrieve my laptop, even if that means I had to confront Shawn again. Tidak ada yang bisa memisahkan mahasiswa semester akhir dengan bayi tesisnya, lemme tell ya!!


Begitulah review panjang lebar saya tentang Educated. Sungguh melelahkan tapi juga mengajarkan pada saya sebuah sudut pandang baru mengenai privilege dan keuntungan mengenyam pendidikan. Oh ya, saya membaca buku ini dalam versi audiobook, murni karena naratornya adalah Julia Whelan. Suaranya yang sendu tapi merdu sangat cocok dalam membangun setting kehidupan Tara Westover. Berkat membaca audiobook, saya mengalami sebuah keajaiban dalam hidup: lantai mendadak bersih dan dipel setiap hari, jemuran terlipat dengan rapi, kaca-kaca jadi kinclong tanpa debu, dan sayur-sayur terpotong rapi sebelum dimasak. Akankah hal seperti ini terjadi lagi? Kita lihat saja akan ada buku bagus apa di masa depan.