Monday, 31 December 2018

Menutup 2018

Di pertengahan tahun 2018, saya memulai suatu proyek rahasia. Sebenarnya proyek ini bukan baru banget, karena beberapa kali sebelumnya sudah pernah saya lakukan—cuma ya memang kurang intens saja hehe. Nama proyeknya adalah “Posting Pencapaian Kamu Hari Ini”. Instagram adalah media yang saya pilih. Makanya, kalau kalian follow akun IG saya, kelihatan kalau saya akhir-akhir ini rajin upload. Tipikal anak yang suka ngebut di akhir deadline.

Proyek ini terinspirasi dari #The100DaysProject yang digagas oleh Elle Luna dan Lindsey Jean Thompson. Mereka lebih ke seni lukis gitu. Nah karena saya nggak menekuni seni lukis, maka saya pilih Pencapaian saja. Anything, lah. Dan kenapa saya nggak ikut sekalian 100 hari intens? Karena saya nggak se-masokis itu sama diri sendiri LOL. Saya cukup tahu sama kapasitas diri, sejauh mana saya bisa maksa diri untuk melakukan sesuatu. Sebagai gantinya, saya tetapkan waktu selesainya di akhir tahun 2018.

Tujuan sebenarnya dari proyek ini tentu bukanlah buat pamer. Saya cukup sadar kalau followers saya sangat sedikit. Lagian, pencapaian saya bukan sesuatu yang WAH banget. Saya hanya ingin membuktikan sama diri sendiri, “Ini lho…kamu bisa berkarya. Minggu lalu, dua hari lalu, dan kemarin, kamu sudah sukses berkarya. Jangan potong rantai progress kamu hari ini!” 


Mungkin belum banyak yang tahu ya, tapi sejak pertengahan tahun 2018, saya mengalami kejadian yang sangat membuat terpukul. Semua semangat dalam hidup berasa tercabut sampai ke akarnya. Sulit sekali untuk memulai hari, padahal bagi saya pagi adalah cerminan kinerja saya sepanjang hari. Ketika pagi loyo, bisa ditebak seharian bakal males-malesan. Hasilnya? Berminggu-minggu saya cuma ngendon di kamar sambil meratapi nasib. Hingga akhirnya saya berpikir, enough is enough. Saya nggak bisa membuang waktu yang sangat berharga ini… di periode yang paling penting pada masa S2 ini… dengan berlarut dalam kesedihan. Hence, I started this awesome project.


Saya baru sadar saya itu jenius ketika saya memilih tema Pencapaian ini. Begini… untuk bisa mencapai sesuatu, kita biasanya memulai hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Untuk memulai itu, diperlukan rasa percaya diri dan bekal riset yang banyak (saya bukan tipe yang asal nyemplung ketika mau melakukan suatu hal). Dengan kata lain, beberapa bulan ini secara intens saya telah memaksa diri saya sendiri untuk keluar dari zona nyaman. Saya nggak cuma bangkit dari keterpurukan. Saya berlatih untuk maju ke depan.

Dan tahu nggak dari semua pencapaian, apa yang paling saya tekuni? Memasak.

Kenapa memasak? Karena saya lemah di bidang ini. Saya itu tipe yang nggak bisa sedep kalau masak. Kalau baca resep dan nemu kata-kata “garam secukupnya” atau “sesuai selera”, pasti langsung mutung. Saya juga kalau nyuguhi teh ke tamu itu pasti kalau enggak kelewat manis ya kelewat sepet. Pokoknya selalu ada sensasi kayak ada yang ninggal di tenggorokan gitu lah. Dengan adanya proyek ini, saya bertekad untuk belajar habis-habisan tentang teknik memasak. Untung ya sudah banyak banget media berbagi di internet, dari mulai Cookpad hingga Youtube. Kalau kuota lagi cekak, buka Cookpad. Kalau lagi di kos temen atau kafe yang wifi-nya kenceng, langsung borong download tutorial masak di Youtube. Sifat oportunis saya beneran keluar maksimal demi bikin proyek ini sukses (PS: bisa dilihat kemajuan saya di bidang per-teh-an di postingan ini).


Saya cukup bangga di penghujung tahun 2018 (akhir periode yang saya tentukan), saya masih konsisten untuk melakukan proyek Posting Pencapaian. Memang kalau bagi yang follow saya, cukup bikin kesel ya kok banyak foto masakan berterbaran. I know this is not what you signed up for when you clicked that Follow button. Tapi percayalah, saya nggak berharap like dari kalian kok. Saya juga nggak sedih kalau kalian nge-skip fotonya. Saya hanya butuh media untuk terus memotivasi. Dan sejauh ini, Instagram works wonder! Jadi saya mohon, abaikan saja kalau ada foto masakan saya nampang. 

Dari kolase di Instagram, saya bisa melihat secara nyata betapa banyak progress yang saya alami. Yang kelihatan di sana mungkin cuma “Wah, Sany bisa bikin banyak masakan juga ya.” Tapi dari lubuk hati terdalam, diri saya yang pertengahan tahun lalu lembek macam kentang tumbuk sadar, kalau 6 bulan ini saya belajar banyak pengetahuan soal bahan dan teknik masak, beli investasi berbagai alat masak dan bumbu-bumbu yang belum pernah dipakai sebelumnya, serta interaksi sama banyak ahli masakmulai dari Ibu temen sampai para Ibu-ibu hits pemilik akun masak saya ajak ngobrol. I did something beside crying. I did a lot of things, actually. Dan itulah tujuan sesungguhnya dari proyek ini. Untuk menyadarkan diri kalau saya bisa survive melewati tragedi besar dalam hidup melalui hal-hal kecil nan positif yang saya lakukan untuk diri sendiri. I cooked at my sad days, I cooked at my happy days, and I ordered GoFood on my stressful-thesis-deadline days. I always made sure my belly is full with delicious goodness, no matter how shattered my heart was. That was how I supported my own self.


Tentu ada yang dikorbankan. Karena waktu senggang teralihkan untuk nonton video tutorial dan baca artikel self-help di Medium (because, you know, I needed help), proyek baca saya jadi keteteran. Goodreads nggak ke-update, blog nggak keurus, novel baru yang tahun lalu ditunggu-tunggu rilis pun nggak kepegang. Tapi itu yang dinamakan hidup ya…kita bertumbuh dan berprogres. Penurunan angka baca di Goodreads tidak mempresentasikan penurunan kualitas hidup saya. Bahkan, banyak yang merasa tahun ini saya mengalami peningkatan kualitas hidup yang super pesat. Saya jadi tahu bagaimana rasanya dikhianati, saya jadi tahu siapa yang teman siapa yang hilang, saya jadi bisa mengenal diri sendiri secara lebih mendalam, dan yang paling penting…saya tahu saya bisa bangkit ketika dibuat jatuh. 2018 grows me through pains and struggles, and for that I’m forevel grateful.

Terima kasih 2018 buat pembelajaran yang sangat berharga. Saya siap menyambut 2019 dengan proyek-proyek hebat berikutnya.

Friday, 28 December 2018

[Review Singkat] Turtles All the Way Down


Target baca novel tahun ini keteteran banget. Saya cuma sempat baca beberapa. Apa aja-nya sih...saya lupa (RIP akun Goodreads yang nggak pernah diperbarui). Makanya, untuk mengobati rasa bersalah di penghujung tahun ini, kemarin saya baca novelnya John Green yang paling anyar... Turtles All the Way Down (TATWD). Saya sengaja pilih ini karena John Green adalah penulis favorit putri Bill Gates, Phoebe. Novel ini masuk dalam rekomendasi tahunan Bill Gates di websitenya, gatesnotes.com tahun lalu. Dan karena saya sudah bertekad mau mengikuti jejak baca Bill Gates, saya pikir, why not

"I've read a couple of John's books and enjoyed each one, and his latest is no exception. Turtles All the Way Down tells a story of Aza Holmes, a high school student from Indianapolis. When a local billionaire goes missing and a $100,000 reward is offered for information about his disappearance, she and her best friend decide to track him down."

Lucu mungkin ya bagi Bill Gates membaca buku tentang perasaan anak seorang milyuner yang hidup dalam bayang-bayang identitas ayahnya. Bahkan dia sempat bercanda, "While I hope I'm nothing like the morally bankrupt Russellhe wants to give all of his money to his pet lizard and was under investigation for fraud and bribery—I think my own kids can relate to some of Davis' experiences." Jadi makin semangat deh untuk membaca novel ini; untuk tahu gimana rasanya jadi Phoebe Gates. OK.

Permulaan cerita berjalan mulus. Bahkan saya sempat tertawa berkali-kali. Humor cerdas khas John Green terasa kental sekali dalam tokoh Aza. Tapi, semakin lama, alurnya mulai melambat. Deskripsi John Green tentang OCD yang dialami Aza juga mulai membuat saya nggak nyaman karena? Saya sedikit bisa relate

Tapi overall, saya cukup menikmati novel ini sebagai selingan segar di antara banyak biografi dan buku psikologi yang saya baca tahun ini. Tidak se-memorable Looking for Alaska, I might say. Cuma saya sangat menghargai karya TATWD lebih pada…novel ini merupakan bukti nyata kesuksesan John Green untuk keluar dari bayang-bayang kespektakuleran The Fault in Our Stars. Terus berkarya, Mr. Green!


Saya membaca novel ini dalam dua format: ebook dan audiobook. Menurut saya narator audiobooknya bagus. Cuma ya nggak yang spektakuler gitu. Kadang saya bosan sama cara dia membawakan cerita. Tapi, karena saya akhir-akhir ini lagi hobi jadi bibik (nyuci piring, ngelap kaca, ngepel), versi audiobook ini sangat membantu saya biar kerjanya nggak sambil bengong. Paling nggak bisa saya kalau otak nganggur. Bisa ngelantur kemana-mana nanti. Jadi ya, saya cukup merekomendasikan versi audiobooknya. 

Thursday, 13 December 2018

India dari Sudut Pandang The Economist

Minggu ini saya tergugah dengan salah satu artikel dari The Economist. Dari semua isu penting yang dibahas (Brexit, Presiden Perancis vs Yellow Vest, USA, satelit, dan lain-lain), saya justru penasaran dengan pembahasan singkat tentang masalah yang sedang dialami India. 

Ok u got my attention, sir.

Yep, India sedang menderita karena polusi.

Saturday, 1 December 2018

Serba-serbi Teh

“Tea is more delicate than coffee, infinitely more interesting than water, healthier and more subtle than soda. It is the perfect beverage—one that can be drunk frequently and in great quantities with pleasure and without guilt.”

Salah satu teman setia saya ketika membaca buku, menulis jurnal, atau mengerjakan tesis adalah teh. Seringnya kopi sih, tapi saya akan menyeduh teh ketika dosis kopi yang masuk ke badan sudah overload. Teh yang pertama kali saya konsumsi itu suatu merek teh celup punya Bapak yang astaga super sepat dan meninggalkan rasa tidak nyaman di tenggorokan ketika ditelan. Apa yang bisa dinikmati dari minuman seperti ini?

[Spoiler: bukan tehnya yang nggak enak, sayaahh yang bikinnya ngawur]

Namun, pertanyaan besar itulah yang akhirnya membuat saya melakukan riset SUPER MENDALAM tentang teh. Saya baca buku yang khusus membahas teh, nonton video-video di Youtube tentang teh, hingga menumbuhkan kebiasaan untuk berdiri lama sekali di rak bagian teh ketika pergi ke supermarket hanya untuk melihat dan memegang macam-macam teh yang mereka jual. Am I competent or just weird?

Thursday, 29 November 2018

Artikel The Economist: "Why Suicide is Falling Around the World."—So What Gitu, Loh?

Setelah membaca buku Factfulness, saya jadi sadar kalau selama ini, kita selalu dicecoki oleh pemberitaan yang cenderung negatif, menjelekkan pemerintah, atau tidak mendidik. Pada portal berita, misalnya, jurnalis lebih suka mengambil sisi ekstrem yang negatif, karena data historis menunjukkan artikel-artikel itulah yang sering dibuka oleh pembaca. Hal ini juga bisa kita lihat pada fenomena tayangan TV tidak mendidik yang berisik dan haha-hihi, malah yang sering memuncaki rating TV nasional. Oleh karena itu, pemberitaan The Economist tentang penurunan angka bunuh diri global benar-benar menggugah perhatian saya karena tidak hanya menyoroti sisi positif dari sebuah fenomena yang kita kurang awas, tetapi juga penyebab-penyebabnya.


Sunday, 25 November 2018

[Review Drama] Because This is My First Life

Ketika diminta untuk menyebutkan genre favorit… saya tidak pernah kepikiran untuk menjawab “puisi.” Mungkin terkesan agak gimana gitu ya… tetapi memang selama ini puisi yang saya baca tidak pernah mengena di hati. Setelah beberapa kali gagal mencerna karya-karya penulis kekinian terkenal (Lang Leav? Rupi Kaur? Amanda Lovelace?) saya menyerah.

Hingga akhirnya saya kemarin marathon drama Korea “Because This is My First Life.” 


Btw, saya tuh sebelum tahu ini malah ngikutinnya drama The Beauty Inside, yang mana lebih baru dan kurang nonton dua episode lagi tamat. Di The Beauty Inside, Saya merasa chemistry Lee Min Ki dan Seo Hyun Jin dapet banget. Tapi karena nggak ada akses wifi kemarin, akhirnya malah buka folder timbunan drama dan nonton Because This is My First Life.

Monday, 29 October 2018

[Book Review] Leonardo da Vinci oleh Walter Isaacson


Dua minggu lalu saya membaca biografi Leonardo da Vinci. Walter Isaacson, sang penulis, juga mempublikasikan biografi Steve Jobs yang sudah saya baca tahun lalu. Saya suka dengan gaya menulis Mr. Isaacson. Sangat indah tapi tidak mengabaikan informasi yang diberikan. Karena Steve Jobs memiliki keterkaitan dengan Leonardo da Vinci, maka saya sempatkan waktu untuk membaca biografi sang legenda lukis ini.

“He saw beauty in both art and engineering, and his ability to combine them was what made him a genius.”—Steve Jobs.

Saturday, 27 October 2018

[Review Buku] The Defining Decade oleh Meg Jay, PhD

Masa muda adalah masa yang berapi-api, katanya…

Beberapa waktu lalu saya membaca buku karangan seorang psikolog dan Associate Professor of Education di University of Virginia. Beliau memiliki kepercayaan tinggi bahwa masa yang paling menentukan kesuksesan hidup kita ke depan adalah pada usia 20-an. Tentu selain didasarkan dari penelitian, beliau sudah mengamati banyak kliennya. Banyak yang seusia saya yang hidup tanpa perspektif dan tujuan pasti, atau yang lebih buruk lagi, yang usia 30-an dan 40-an sangat menyesal atas kurangnya visi hidup di usia 20-an mereka sehingga harus membayar dalam jumlah yang besar, baik dalam hal profesionalitas, kisah cinta, keadaan ekonomi, bahkan dalam hal keturunan. Karena itulah buku ini beliau tulis, dan saya rasa kita semua perlu membacanya dengan seksama agar tidak mengulang penyesalan mereka.

Banyak sih yang dibahas di sini, tapi saya cuma mau menceritakan ke kalian beberapa poin yang saya rasa penting ya:

Sunday, 22 July 2018

[Review Buku] Self Disruption oleh Rhenald Kasali


Self-disruption adalah buku yang mahal menurut standar saya (padahal cuma 98 ribu huft) karena waktu beli kemarin kondisi ekonomi lagi fluktuasi parah. Tapi karena melihat nama Rhenald Kasali, ya akhirnya asal bawa aja ke kasir (if you’re a business student, try to read his books to stay up to date to global economic’s develompment) sambil harap-harap cemas waktu gesek ATM. Si miskin ini akhirnya berhasil membawa pulang buku impiannya.

Buku ini adalah jawaban dari keinginan saya untuk membaca buku biografi perusahaan yang tidak membosankan. Saya selalu tertarik untuk mengetahui seluk beluk dan jatuh bangunnya suatu perusahaan, tapi nggak pernah bisa sabar dalam membaca narasi yang bertele-tele. Makanya, pembahasan Rhenald Kasali tentang proses disrupsi diri PT Adaro Energy ini pas banget karena infonya sudah terfokus.

Seperti yang kita tahu, Adaro mulanya merupakan perusahaan batu bara. Bisnis batu bara belakangan memang lagi lesu terutama setelah Amerika Serikat menerapkan teknologi hydraulic fracturing dan mulai diterapkannya energi baru terbarukan (EBT) pada pembangkit-pembangkit listrik di berbagai negara. Oleh karena itu, informasi yang ada di buku ini sangat penting karena ketika perusahaan batu bara lainnya bangkrut, Adaro ini justru mampu bertahan dan bertumbuh. Apa rahasia mereka?

“…berubah bukan karena dipaksa atasan atau pemilik perusahaan, tapi karena sadar kalau mereka harus berubah.”

Pesan yang selalu mereka tekankan adalah jangan terlalu nyaman ketika mengalami suatu kesuksesan. Selalu persiapkan diri karena kita tidak dapat mencegah gelombang disrupsi yang pasti akan muncul dan memengaruhi bisnis kita. Mindset itulah yang membuat mereka rajin melakukan ekspansi bisnis. Karena mindset itu pula, setelah tamat baca ini, saya makin nggak guilty dalam mengeluarkan uang untuk mendukung pengembangan diri saya, misal nih: beli buku waktu jalan-jalan ke Gramedia, daftar seminar yang bayar pake duit sendiri dan diadakan di kota lain, daftar kursus-kursus di bidang yang memang belum mahir, dan rajin-rajin ke lab buat ngerjain tesis (yang kemudian pasti bikin pengen jajan atau ngemall). Hidup beberapa bulan ini jadi penuh dengan proses belajar, namun dengan pace yang nggak ngoyo karena dilakukan dengan fun dan disambi sama jalan-jalan (I have amazing friends, thanks God. Also, BALANCE!!!). Pokoknya apapun yang bikin kualitas diri saya nambah ketika lulus nanti….


[kemudian nggak bisa jajan skincare sebulan karena impulsif] [yaudalaya otak dulu baru nanti mikir muka]

Masih banyak (BANYAK BANGET!) pembelajaran (baik praktik, teori, maupun pandangan unik penulis) yang dituangkan dalam buku ini. Misalnya, teknologi sebenarnya bukan jawaban mutlak untuk melawan gelombang disrupsi. Yang namanya investasi teknologi itu mahal, apa iya manfaat yang kita dapet sepadan sama duit yang dikeluarkan? Dihitung dulu deh dengan seksama. Terus, pemerintah tuh sebenarnya lagi mencoba mematahkan dominasi asing di bisnis-bisnis alam, tapi enggak pakai cara ngasal. Tetap harus menggunakan strategi bisnis yang fair, karena biar gimanapun kita masih butuh investasi asing. Dan yang paling bikin kagum, upaya mereka untuk mensejahterakan masyarakat sekitar (dan juga Indonesia) melalui hasil aktivitas bisnis mereka, sehingga bakal lebih mudah untuk mendapat bantuan dari pemerintah dalam hal pengembangan bisnis. Jadi kepentingan mereka terpenuhi, dan kelebihannya bisa dinikmati bersama oleh warga sekitar. Pinter kan?

Kalian kayaknya memang harus baca sendiri deh biar bisa tau apa saya maksud. Karena abis ini saya harus revisi dan bobo gasik biar besok nggak bangun kesiangan lagi lol.

*Btw, setelah baca buku ini saya jadi pengen baca buku Astra: On Becoming Pride of the Nation. Atau, buku terbarunya Rhenald Kasali yang harganya naik gas pol itu. Ingin cepat bekerja cerdas rasanya, agar tidak mudah jantungan ketika lihat price tag buku impian.

Friday, 8 June 2018

[Rekomendasi Manga] Love So Life karya Kaede Kouchi

Halo, haloo. Apa kabar kalian?

Saya resmi sudah selesai semester 3 nih, jadi sudah bisa cerita-cerita lagi ke kalian soal buku yang baru selesai dibaca. Hmm, kali ini bukan buku sih, tapi manga.

Bisa dibilang, saya jarang banget baca manga. Gimana ya, susah sekali sih cari manga yang beneran mengena di hati. Terakhir baca itu 2 tahun lalu, waktu lagi suka-sukanya sama Yotsuba & I berkat rekomendasi dari penulis YA favorit Laini Taylor. Tapi sejak tamat Yotsuba, nggak ada lagi manga yang terpegang.

Nah, kebetulan banget kemarin saya iseng browsing di aplikasi MangaRock (buat yang suka baca manga, bisa deh didownload… lumayan banyak judul manga yang bisa dibaca secara gratis). Dalam genre Slice of Life, saya tergugah untuk membuka Love So Life karya Kaede Kouchi. Alasannya picik sih, yaitu karena sampulnya bagus hahaha. Terus setelah dicek, eh ada 111 chapters dan statusnya sudah tamat (bukan ongoing). Menyenangkan!


Dan saya jatuh cinta.

Love So Life (iya judulnya aneh) bercerita tentang Shiharu Nakamura, seorang yatim piatu penghuni panti asuhan yang sangat suka anak-anak. Pokoknya, dia keibuan banget. Padahal mah masih SMA. Saking senengnya main sama anak-anak, dia sampe kerja paruh waktu di penitipan anak dan punya cita-cita buat punya penitipan anak sendiri ketika sudah lulus kuliah nanti. Nah, dari semua anak-anak yang dititipkan di tempat Shiharu bekerja ini, ada dua bayi kembar—Aoi Matsunaga (cowok) dan Akane Matsunaga (cewek)—yang masih berusia 2 tahun. Mereka sangat rewel, takut sama orang asing, dan hobinya nangis. Cumaaa, kalau sama Shiharu, mereka itu anteeeeng banget. Nempel kayak perangko dan nurut banget sama semua kata-kata Shiharu. Semua orang sampe bingung ini Shiharu rahasianya apa.


they’re so CUTE

Begitu tahu kehebatan Siharu, guardian Akane dan Aoi—Seiji Matsunaga—yang super sibuk dan nggak sempat meluangkan waktu buat keduanya, langsung melamar Shiharu buat jadi babysitter si kembar. Seiji ini bekerja sebagai pembawa acara TV nasional yang sangat profesional ketika di depan kamera namun tinggal sesendok otaknya ketika di rumah. Jadi ya kerjaan Shiharu selain ngurus Aoi dan Akane tuh juga nyeret Seiji yang suka pingsan di depan pintu.

Sebenernya nih, Seiji ini adalah paman dari si kembar. Ibu si kembar baru saja meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sang suami yang sangat terpukul kemudian mendadak hilang dan meninggalkan si kembar dalam titipan seorang kerabat. Seiji, yang masih bujang dan tidak tega menyusahkan orang lain, akhirnya nekat mengasuh mereka meskipun jadwal pekerjaannya sangatlah padat (Seiji ini tentu saja sangat tampan dan mapan dan mengayomi layaknya para eye-candy di tiap manga. Udah gitu dia baik banget pula ya ampun untung ku masih bisa berpijak di realita).


Dari sinilah kita akan mengikuti kehidupan Shiharu bersama si kembar dan Seiji. Hari demi hari, Shiharu selalu setia mengajari dan mendukung si kembar agar mandiri dan tidak rewel. Saya suka banget deh sama metode yang dipakai Shiharu dalam mendidik si kembar. Penuh kasih layaknya seorang ibu dan nggak pernah pake kekerasan atau membentak. Insting keibuan Shiharu ini muncul dari ingatan singkatnya tentang sosok ibu yang menemaninya di tahun-tahun awal kehidupannya, sebelum sang ibu meninggal dunia. Pelajaran yang dipetik di sini adalah perilaku dan pemikiran seorang ibu memang jadi copy carbon pada anaknya kelak. Pilihlah calon istri yang mengayomi keluarga, sahabat.

Dari gambar yang disajikan, saya bisa banget menangkap cerita yang ingin disampaikan penulis. Kelucuan si kembar, pribadi Shiharu yang hangat dan memang layak buat dicintai semua orang, serta upaya maksimal Seiji untuk berusaha memahami bayi-bayi ini meskipun dia minim pengalaman. Luuuuuv.

Kecintaan saya semakin bertambah ketika semakin hari, si kembar semakin bertumbuh dan menjadi balita yang sangat well-mannered. Saya udah merasa kayak mereka anak saya sendiri cuy :’), bangga banget tiap mereka berusaha memecahkan masalah-masalah kecil dan saling membantu satu sama lain. Paling mewek di chapter 78 sih, pas mereka running errands sendiri untuk pertama kalinya dengan beli saos tomat ke minimarket. CUTENESS OVERLOAD!!!



Saya nggak tahu ya apakah manga ini sudah diterjemahkan di Indonesia, karena tiap ke rak manga tuh saya bawaannya pusing mulu (sampulnya pada rame-rame jadi bingung mau fokus kemana). Yang jelas, Love So Life ini memang banyak kesamaan gaya penceritaan dengan Yotsuba & I, dan kayaknya selera saya tuh yang model-model begitu. Kalian ada rekomendasi lain nggak ya? Pokoknya yang masuknya ke slice of life sama comedy gitu. Bakal membantu banget buat saya menghilangkan bosan hehe.

Saturday, 28 April 2018

[Review Buku] Love Yourself Like Your Life Depends On It


Seiring bertambahnya umur, saya menyadari bahwa saat ini sedang terjadi transisi pada preferensi baca saya. Buku digital di iBooks teratas didominasi genre nonfiksi. Ketika pergi ke toko buku, bagian yang dituju adalah self-improvement dan moslem. Novel sudah tidak menjadi bagian besar hidup saya. They served me well, and now it’s time to move forward to another amazing journey.

Saya juga mulai menghargai kualitas di atas kuantitas. Jika dulu bangga luar biasa menenteng novel jumbo di atas 500 halaman, saat ini lebih suka memilih buku yang tipis-tipis saja. Dengan catatan, buku tersebut berbobot dan menambah value diri sendiri ke depannya. Ditambah, buku tipis lebih nyaman dibawa di tas ketika beban punggung sudah dimonopoli oleh laptop.


Salah satu buku yang membawa dampak besar bagi hidup saya adalah buku tipis dengan sampul tidak menarik, Love Yourself Like Your Life Depends on It. Buku ini direkomendasikan oleh salah satu penulis favorit saya di Medium. Dari buku ini, saya belajar untuk mencintai diri sendiri dan percaya kepada kapabilitas yang saya miliki untuk menyelesaikan suatu tugas besar.

“This day, I vow to myself to love myself, to treat myself as someone I love truly and deeply—in my thought, my actions, the choices I make, the experiences I have, each moment I am conscious, I make the decision: I LOVE MYSELF.”

Hal yang saya suka dari buku ini adalah betapa sederhananya tugas yang harus pembaca lakukan untuk sukses keluar dari lubang depresi. Cukup ucapkan pada diri sendiri: I love myself. I love myself. I love myself. Tidak peduli kita percaya apa tidak. Ucapkan saja dulu. Konstan dan tanpa lelah. Otak lama-kelamaan akan memprioritaskan pikiran tersebut dan pada akhirnya mempercayainya.

Your job is purely to love yourself. Truly and deeply. Feel it. Again and again. Make it your single-minded focus. The mind and body will respond automatically. They don’t have a choice.


Nilai lebih dari buku ini adalah metode yang diajarkan di dalamnya dapat diaplikasikan pada berbagai fase hidup, tidak terbatas pada mencintai diri sendiri saja. Sangat cocok bagi kita yang pastinya punya masalah-masalah spesifik yang berbeda dengan orang lain. Pilihan kata pada buku ini sangat indah dan relatable, poin penting yang harus dimiliki buku self-improvement dan sukses dieksekusi oleh penulis. Asyiknya, semua maksud berhasil dia sampaikan dengan singkat dan jelas dalam 99 halaman digital. Tidak ada waktu terbuang ketika mencoba memahami maksudnya.

Tamat baca ini, saya langsung memilih kata ajaib yang akan saya tanamkan pada pikiran terdalam saya. Kalimat yang saya pilih adalah: Aku bisa menyelesaikan tesis.

Aku bisa menyelesaikan tesis. Aku bisa menyelesaikan tesis.

Aku bisa menyelesaikan tesis.

Saya tambahkan keyakinan yang besar pada diri bahwa saya bisa. Saya mampu. Saya punya orang-orang yang siap membantu saya di saat jatuh-jatuhnya dan saya selalu ingat betapa banyak pihak bisa terbantu dengan hasil fisik dari inkubasi ide otak ini.

Terus. Berulang-ulang. Sampai otak dan badan saya bersinergi dalam meyakini kalau saya bisa menyelesaikan tesis ini.


Sampai saat ini, saya masih bersemangat untuk membaca jurnal dan buku acuan tesis. Yang paling penting, saya tidak sembunyi lagi dari dosen pembimbing. It's a win for me.

Wednesday, 11 April 2018

Portal Baru untuk Menambah Ilmu: MEDIUM


Buat kalian yang ngikutin akun Instagram saya, pasti beberapa hari ini terganggu banget sama spam di Instastory. Mohon maklum ya, saya lagi kampung banget sama salah satu aplikasi super keren yang direkomendasikan teman. Namanya Medium. Jadi tuh, aplikasi ini semacam blog mini tempat orang-orang hebat menulis artikel (yang hebat pula!), berbobot tapi singkat. Tiap artikel diberi keterangan durasi bacanya, sekitar 5-15 menit. Buat kalian yang kzl baca Line Today yang isinya Ayu Ting Ting dan artikel abal dari so-called jurnalis bermodalkan screenshot instagram artis dan informasi cetek, sepertinya Medium adalah alternatif membaca yang lebih berfaedah!

Saturday, 17 March 2018

Fanfiction Terbaik yang Pernah Saya Baca!

Fanfiction sebenarnya bukan pilihan utama saya ketika mencari bacaan. Karena seperti kita tahu, sebuah karya yang dipublikasi sendiri kadang tidak konsisten dan kurang rapi, mengingat tidak ada peran editor profesional di dalamnya. Namun, beberapa waktu lalu saya mendadak kangen dengan kisah Bella Swan dan Edward Cullen, and the movie kinda ruined the original story for me. Jadi, terpaksa deh lari ke fanfiction.


Terlepas dari ejekan banyak orang, saya tidak malu mengakui bahwa Twilight Saga adalah karya luar biasa yang mengubah (sebagian kecil) dunia literatur fiksi hingga menjadi seperti sekarang. Beberapa penulis terkenal pun mengaku bahwa Stephenie Meyer adalah inspirasi mereka dalam menulis. Meskipun tidak bisa dihindari kalau sebagian besar pembaca di Goodreads menganggap kalau karyanya itu sampah, tetep aja tuh banyak yang ketagihan buat baca ulang lagi dan lagi. Saya sendiri bisa mengenali bahwa Stephenie Meyer punya nadanya sendiri dalam menulis, yang membuat kita bisa “terbius” dan terasa seperti masuk dalam dunia fiksi ciptaannya (edisi terjemahan Bahasa Indonesia milik Gramedia juga sangat bagus dan sukses menyampaikan cerita layaknya versi asli. Good job penerjemah!).