Wednesday, 10 July 2019

[Review Buku] Garlic and Sapphires oleh Ruth Reichl


(Sany dengan ikhlas menerima takdir kalau memoar adalah genre favoritnya tahun ini).

Yep. Memoar lagi. Kali ini dari bidang kuliner, yaitu dari sudut pandang seorang kritikus makanan terkemuka New York Times, Ruth Reichl. Garlic and Sapphires ini sebenarnya buku lawas (terbit tahun 2005) tapi karena lebih terjangkau dari memoar terbaru Ruth Reichl, Save Me the Plums, yang terbit April 2019 kemarin dan lagi anteng nangkring di peringkat atas daftar laris Amazon, Bookdepository, dan Goodreads, saya akhirnya baca yang ini dulu. Lagipula, banyak ulasan yang menyarankan untuk mulai baca dari Garlic and Sapphires, jadi saya nggak berasa jelata banget lah ngalah nggak milih Save Me the Plums.

Kisah Ruth di buku ini dimulai ketika ia mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai kritikus makanan baru koran NYT. Mulanya ia tidak ingin menerimanya dan tetap ingin bertahan di LA Times, namun godaan untuk bekerja dengan jurnalis dan editor paling unggul di dunia membuatnya luluh juga. Terlebih, suami dan anaknya sangat mendukung kenaikan karir Ruth. 

Ruth yakin ia memiliki kompetensi yang cukup untuk mengemban jabatan sebagai kritikus makanan bagi koran sekelas NYT. Yang Ruth belum pahami adalah semua restoran berbintang di seantero Amerika sudah bersiap-siap untuk menyambutnya: foto dirinya dan sang suami dipajang di papan karyawan tiap restoran, seluruh staf diharuskan menghapalkan hal-hal kecil (bahkan konyol) tentang Ruth dan suami demi memfasilitasi selera mereka ketika makan, serta diberlakukan sayembara berhadiah uang dalam jumlah besar bagi staf yang dapat mengenali Ruth untuk pertama kalinya di restoran. Semua itu diketahui Ruth dua bulan sebelum ia mulai bekerja di NYT, jadi bayangkan saja tekanan seperti apa yang ia alami. Ruth merasa, penampilannya yang normal memiliki potensi untuk menghasilkan bias bagi penilaiannya.

“The King of Spain is waiting in the bar, but your table is ready.”

Dimulailah petualangan Ruth untuk mengelabui restoran-restoran terkemuka tersebut dalam mengenalinya. Dibantu oleh sahabat ibunya, penjual rambut palsu yang baru dikenalnya, rekan-rekannya di NYT, bahkan terkadang oleh suami dan anaknya yang masih balita, Ruth menciptakan berbagai alter ego untuk menutupi identitas aslinya. Di sini Ruth tidak hanya berpura-pura, tetapi benar-benar mendalami perannya sebagai sosok yang sama sekali bukan dirinya. Dari mulai latar belakang, tingkah laku, hingga mimik muka benar-benar ia pikirkan dan kuasai. Untuk memperkuat pendapatnya mengenai restoran yang akan dinilai, Ruth mendatangi restoran tersebut berkali-kali; sebagian sebagai Ruth Reichl si kritikus makanan NYT dan sisanya sebagai orang biasa (Terlalu tua? Terlalu gembel? Terlalu acuh untuk membuat reservasi? Terlalu rewel?). At this point she's my role model at research, tbh.

Taktik Ruth bisa dibilang berhasil: di ulasan pertamanya, ia menurunkan predikat bintang empat yang dibanggakan Le Cirque karena mereka tidak ramah pada pasangan lansia yang berkunjung ke sana (spoiler: lansia tersebut adalah Ruth yang sedang menyamar dan Carol). Namun ia bukan kritikus yang kejam tanpa alasan, karena buktinya Lespinasse mampu mendapatkan predikat bintang empat atas dedikasi para stafnya. Daniel (yang mengancam bos Ruth agar mendapatkan ulasan super positif) pun pada akhirnya tetap mendapatkan bintang empat setelah Ruth memastikan ia (tentunya di balik penyamaran) dan temannya mendapatkan pelayanan yang adil seperti saat ia datang bersama bosnya.

Yang saya suka, Ruth menekankan pentingnya diversifikasi ke restoran-restoran Asia dengan blusukan ke resto sempit dan sumpek—benar-benar berseberangan dari selera kritikus sebelumnya yang sangat pro Eropa. Kalangan yang ingin ia beri informasi adalah rakyat Amerika dengan pendapatan rata-rata, sehingga ia tidak bisa terus-menerus mengulas restoran mewah. Ruth benar-benar menggunakan kekuatan jabatannya dengan bijak, meskipun dia harus menghadapi pembaca snobby yang kerap meninggalkan pesan telepon tidak sopan dan harus selalu waspada dengan beberapa rekan kerjanya yang siap menantikan kejatuhannya. Detail yang paling saya ingat adalah di masa itu (1990-an), Ruth sudah memprediksi bahwa restoran BBQ ala Korea akan sangat diminati karena bisa memfasilitasi selera masyarakat berbagai budaya. I mean, look at us now. Benar-benar definisi seorang profesional.

Karena ini memoar, kisah yang dialami Ruth adalah nyata dan benar terjadi. Meskipun beberapa detail mungkin “dihaluskan” atau “dikilaukan” agar tampak lebih menarik pembaca, saya rasa dedikasi kerja Ruth sangat patut diacungi jempol. Keribetan yang harus Ruth hadapi menunjukkan bahwa apapun tipe pekerjaan kalian, tantangan itu selalu ada. Semua bergantung pada cara kita menghadapinya. Kebetulan Ruth memilih jalan yang out of the box dan tampak seperti cuplikan film James Bond, sehingga tantangan kerja kita sendiri nampak duniawi dan membosankan. Yang paling penting sebenarnya bukan seberapa kerennya, tetapi seberapa efektifnya upaya menghadapi tantangan tersebut.


Garlic and Sapphires merupakan pengalaman membaca yang sangat menyenangkan. Setelah lama terbelenggu sakit mata (yang langsung dilanjut oleh sakit flu!), saya akhirnya bisa menyelesaikan sebuah buku yang benar-benar menghibur dengan tetap mendapat banyak ilmu darinya #tetep #nggakmaurugi. Pertanyaan besarnya adalah: akankah saya lanjut ke Save Me the Plums? ENTAH YA. MASIH BANYAK BUKU BAGUS YANG NGANTRI BUAT SAYA BACA. 



Edit 11 Juli 2019:
Saya beneran mencelat bangun jam 3 pagi karena ada satu bagian dari buku ini yang mendadak nyambung sama memori di otak sampai mengganggu tidur pulas yang langka saya dapat akhir-akhir ini (sakit mata bikin tidur miring nggak enak dan flu bikin susah napas waktu tidur, fyi). 

Oke, jadi saat Ruth mulai bangkit dari critic-block, ia memutuskan untuk mengikuti saran Ed Levine, seseorang yang sangat paham sama seluk-beluk kekayaan kuliner New York. Di salah satu perburuan makanan enak di yang mereka lakukan, Ed berkata seperti ini:

“The Middle Eastern place is going to be one of our last stops,” he said. “I want to take you to Carroll Gardens first. But we’re going to make an unscheduled stop before we go to Brooklyn. I want you to meet Jim Leahy at the Sullivan Street Bakery. Okay?” Ed was looking straight at me as he talked. “He’s an amazing guy,” he continued, still looking my way. “When Jim talks about bread it’s like he’s speaking in tongues. Besides, we might as well pick up a little snack to tide us over.”

Kemarin nama Jim ini asal lewat saja di otak. Tapi ketika ditambah oleh kata “Sullivan,” bel di otak berbunyi nyaring—fakta kalau dibutuhkan beberapa jam pasca ulasan ini diterbitkan benar-benar menunjukkan betapa capeknya otak saya akhir-akhir ini—karena buku resep Jim Leahy secara asal-asalan saya masukkan ke daftar TBR Goodreads bahkan sebelum Garlic and Sapphires saya temukanGimana bisa dua buku yang jaraknya bisa sangat jauh ini (Garlic and Sapphires terbit tahun 2005 sedangkan The Sullivan Street Bakery Cookbook terbit tahun 2017) muncul secara terpisah di hidup saya dalam jeda beberapa hari saja? Wow, benang merah yang sangat ajaib bisa tertarik lurus tanpa gubetan rumit.


(Yhaw now that I wrote it, I’m going straight back to sleep. Goodbye).

Sunday, 7 July 2019

y’all better appreciate my inner beauty ‘cause my outer one is so mediocre

Selamat Hari Minggu!

Kali ini saya nggak sharing soal ulasan buku dulu, karena sejak beberapa hari lalu lagi berjuang buat mencegah sakit mata. Meskipun di rumah nggak ada bocah (teman-teman saya pada ketularan ponakan atau adiknya gitu), kayaknya saya tertular ketika pergi ke mall

Otomatis, kegiatan membaca pun ikut dikurangi. Di hari-hari awal sempat kagok sih, bikin sadar kalau selama ini nggak pernah absen sama kegiatan membaca khususnya di pagi hari sambil ngopi. Tapi saya jadi punya alasan untuk cari-cari kesibukan yang biasanya nggak pernah dilakukan. Sedikit demi sedikit, saya meng-Konmari-kan lemari pakaian dan lemari buku di kamar. Sehari satu bagian rak, biar nggak terekspos terlalu banyak debu. Terus, saya juga coba-coba beberapa resep super cepat biar makanan serumah nggak itu-itu aja. So far, saya cukup menikmati kehidupan menganggur ini. Tapi kayaknya, nggak bisa betah kalau gaya hidup seperti ini diteruskan.

Paling gampang nyetok sambel pecel yang enak. Tiap malas masak tinggal rebus sayur dan nyeduh sambelnya, terus masak lauk protein sederhana.

Dari kegiatan Konmari lemari baju, saya bisa lebih mengenal diri saya sendiri. Pertama, saya jadi tahu kalau baju saya sangat sedikit, and I’m okay with that. Mulanya saya kira baju yang itu-itu saja diakibatkan kemalasan memutar tumpukan baju, tapi rupanya murni karena pilihannya terbatas. Saya sempat ganti gaya berpakaian (lebih nyaman pakai baju yang lebih panjang hingga ke lutut), jadi baju-baju yang agak pendek semasa kuliah S1 dulu secara berkala tereliminasi tanpa benar-benar tergantikan. Yang kemudian mengarah pada poin kedua, dimana saya jadi ngeh kalau model baju yang saya pakai itu-itu saja, and I'm still okay with that! Saya bahkan nggak punya satu pun celana jeans. Ini merupakan hasil dari rasa nyaman sama model baju/celana merek X, terus lebih memilih beli kain berbagai warna untuk kemudian diduplikasi sekaligus di tukang jahit. Di titik tertentu belanja baju di mall berhenti jadi agenda yang terlaksana dan kegiatan memilih-milih motif di toko kain lebih memunculkan perasaan bahagia. Penjahit saya sampai gedek sendiri tiap saya datang dengan bertumpuk-tumpuk kain beraneka rupa setelah sebelumnya menghilang dari peredaran dia selama lebih dari 6 bulan. 


Setelah menyingkirkan pakaian yang benar-benar tidak terpakai lagi (sambil mengucapkan terima kasih secara tulus karena sudah membantu saya selama bertahun-tahun), saya jadi lebih teliti ketika ingin menambah koleksi. Dua kain di atas sudah lama menumpuk di kamar karena saya belum menemukan model yang tepat dan praktis dan nyaman SEKALIGUS. Meskipun pakaian bukan hal yang menjadi prioritas utama hidup, saya lebih bahagia kalau setiap pagi nggak perlu pusing mix ‘n match atasan, bawahan, warna kerudung, DAN sepatu tapi tetap terlihat cute dan jauh dari kata gembel (It's incredibly complicated to simplify your life).

Tapi kemudian saya jadi berpikir, memiliki baju yang terbatas membuat saya bisa lebih mengapresiasi mereka. Yang saya pakai adalah hasil berburu motif paling sesuai sama selera yang sudah dipilih berjam-jam lamanya (so you can say that my clothes are the absolute WINNERS and wearing them made me somewhat proud); harga keseluruhannya jauh lebih rendah dari model masternya (so my peasant mindset is satisfied); kegiatan berkemas baju jadi lebih cepat (so my lazy self could spend more on procrastination agendas); sambil tetap terlihat rapi selalu (karena model yang saya pilih adalah tipe baju kantoran kasual dengan celana kain). Saya jadi paham deh sama keputusan Steve Jobs sama Mark Zuck buat pakai baju dengan model yang sama setiap hari. Benar-benar menghemat RAM otak.

Oh okay jadi merembet kemana-mana postingan ini. Intinya, tidak ada hal menyenangkan yang bisa saya bagi ke kalian mengenai kegiatan membaca minggu ini. Pencapaian saya masih di situ-situ saja. Tapi saya juga tidak mau memandang kemandegan proses baca ini sebagai sebuah kerugian—saya tetap belajar ilmu kehidupan di masa ketika otak saya idling. Saya jadi bisa lebih mengenal diri sendiri terutama ketika seluruh fisik dan mental sedang sibuk bersatu buat melawan virus dan penyakit yang memperlambat kinerja mereka. You go, you! 

Btw, saat ini sih masih memprioritaskan memoar ini, sambil tetap menyambi banyak buku-buku lain karena saya selalu serakah:


Doakan kondisi mata cepat kembali normal jadi saya bisa segera menamatkannya. 

Friday, 28 June 2019

Klub Buku Artis Internasional, Milik Siapa yang Sudah Saya Baca?

Goodreads baru saja menerbitkan postingan baru mengenai rangkuman daftar bacaan yang dimiliki beberapa artis terkenal dalam klub-klub buku mereka. Karena saya melihat beberapa buku yang sudah saya tamatkan tapi belum pernah diulas ada di daftar-daftar itu, saya kira bakal cukup praktis untuk membahasnya di postingan ini *hey look at me cheatin’ confidently.* Tapi serius deh, bangga juga menemukan fakta kalau buku-buku yang terbaca belakangan dianggap penting dan berdampak oleh artis-artis hebat. Apa saja buku yang saya baca itu? Here ya go.


Setelah sadar kalau Roxane Gay bukan termasuk penulis yang saya suka, saya tidak pernah ngarep bisa nyambung sama daftar bacaan Emma Watson. Don’t get me wrong, I 100% agree that women should strive to be the best and deserve to be treated equally as men. Tapi rasanya energi saya nggak bisa sekuat mereka-mereka yang selalu membahas isu ini. Pandangan tersebut agak cair waktu saya tahu Pachinko masuk daftar bacaan Emma Watson. Secara umum, saya suka sama jalan cerita Pachinko. Konon katanya sang penulis membutuhkan waktu 30 tahun buat menulis novel ini—I will remember this detail everytime I thought I’m no more than a procrastination clown—jadi lumrah kalau pembaca setia Min Jin Lee memiliki ekspektasi yang sangat tinggi akan karyanya. Ekspektasi yang, untungnya, bisa dipenuhi dengan baik. Novel ini mampu menyuguhkan cerita 4 generasi yang dibalut unsur sejarah kelam Korea ketika masih dijajah oleh Jepang secara utuh dan saling berkaitan. Saya sangat bisa menikmati jalannya cerita tanpa harus terlalu larut dalam sedih-sedih yang kayaknya nggak pernah luput dari tema historical fiction. Apalagi, saya waktu itu beli Pachinko di Periplus.com waktu promo, dengan harga Rp116.000 saja. Jadi, kesan saya sama Pachinko memang positif luar dalam.

Novel yang menyerupai Pachinko menurut saya adalah The Island of Sea Women. Kalau kalian sering nonton variety show atau drama Korea yang membahas generasi “ikan duyung” Jeju, mungkin bakal suka sama ceritanya. Saya jujur saja menyerah di bab awal karena nggak cocok sama gaya penulisan Lisa See, padahal saya tertarik sekali dengan tema yang ditawarkan. Mungkin akan mencoba untuk baca ulang beberapa waktu ke depan.


Michelle Obama. MY QUEEN. Melihat beliau pidato saat masih jadi first lady delapan tahun lamanya, saya sangat berekspektasi tinggi ketika berita soal beliau menulis buku keluar. Dan saya tidak kecewa! Saking sukanya sama memoar ini, saya waktu itu bacanya hemat banget dan sering sekali buka paragraf-paragraf yang sudah teranotasi ketika lagi butuh asupan motivasi dosis tinggi. Memoar ini bukan tentang Michelle Obama, melainkan tentang Michelle LaVaughn Robinson, seorang anak perempuan minoritas yang tumbuh dengan ambisi dan semangat belajar yang sangat besar. Profesional, cemerlang, dan penuh kharisma, kita bakal menyaksikan sosok seperti apa yang bisa mendampingi Barack Obama memenangkan kursi presidensebagai kandidat African American pertama kalinya dalam sejarah Amerika Serikatdua kali berturut-turut. Kata orang, di balik setiap figur sukses ada pasangan yang setia mendampinginya dalam susah dan sedih. Michelle adalah sosok penting yang kuat berdiri sendiri, tapi luar biasa jika digabungkan dengan visi dan semangat Barack Obama. Menurut saya, pesan yang mau disampaikan oleh Michelle kepada perempuan-perempuan di seluruh dunia melalui memoar ini adalah: jangan pernah malu untuk punya ambisi besar dan standar yang tinggi dalam bekerja; kuatlah berdiri sendiri sebelum menopang impian orang lain (terutama pasangan); dan jadilah partner yang baik satu sama lain.


Ada dua buku yang sudah saya baca di sini: The Night Tiger sama Daisy Jones and the Six. Saya sudah pernah bahas Daisy, jadi di sini mau ngobrol tentang The Night Tiger saja. Singkatnya sih, THE NIGHT TIGER ADALAH FIKSI TERBAIK YANG SAYA BACA TAHUN INI. Padahal sudah akhir Bulan Juni ya, masih belum ada yang menandingi kecemerlangan The Night Tiger. Penulis secara luwes menggabungkan Young Adult, Historical Fiction, dan Magical Realism dengan detail-detail yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa. Selain itu, latar yang dipilih adalah Malaya jaman dulu, sehingga saya sebagai orang Indonesia familiar dengan beberapa istilah yang dipakai. Untuk pertama kalinya, saya merasa direpresentasi oleh diversifikasi literatur yang memang sedang marak dilakukan. Terbaca di Bulan Februari, saya masih takut untuk membuat ulasan khusus mengenai masterpiece ini karena nggak pernah merasa siap meluapkan semua pemikiran yang saya punya. Saya harap siapapun yang menerjemahkan novel ini ke versi Indonesia bisa mengabadikan nuansa mistis yang ada dengan baik.

Link postingan Goodreads yang saya jadikan acuan: https://www.goodreads.com/blog/show/1631-which-celebrity-book-club-is-right-for-you?int=Soapbox_2019_Jun&int_sub=Blog_1631

Saturday, 15 June 2019

Yang Saya Pelajari dari Video “How Bill Gates Reads Books”


…adalah saya punya kebiasaan yang serupa dengan beliau. Di video singkat dari Quartz ini (2 menit 11 detik tepatnya), Bill Gates membahas 4 kebiasaan membaca yang bisa membuat beliau menamatkan sekitar 50 buku per tahun. Saya tahun lalu cuma baca 11 buku (2018 adalah tahun berat yang membuat saya harus mengesampingkan kegiatan membaca), tetapi di Januari-Juni 2019 ini saya sudah tamat 33 buku. Melesat jauh, bukan? Dan kebanyakan di antara buku-buku tersebut adalah nonfiksi yang masuk nominasi atau rekomendasi figur-figur terkenal. Selain masa break pasca lulus kuliah yang panjang, saya memang sengaja mempraktekkan beberapa kebiasaan membaca yang berbeda dibandingkan tahun lalu. Saya ubah semua, karena keputusan-keputusan baru melahirkan semangat membaca yang baru juga. Apa saja kebiasaan saya di tahun 2019 ini yang serupa dengan kebiasaan Bill Gates?


Tahun 2019 saya rajin banget nulis apa yang saya baca. Kalau baca buku fisik, bukunya akan penuh banget sama stabilo, anotasi, sama post-it. Kalau baca ebook, pasti ada berlembar-lembar halaman di jurnal khusus yang membahas paragraf favorit dan pembahasan saya soal buku tersebut (ebook-nya sendiri pun penuh stabilo dari aplikasi Books). Kapanpun saya sedih, saya menghadiahi diri sendiri pulpen warna-warni. Ketika stabilo sudah tanda-tanda mau habis, saya langsung beli penggantinya. Semuanya demi mempertahankan kebiasaan menulis di margin buku/jurnal. Bahkan saya sendiri kagum dengan semangat membara saya soal catat-mencatat ini.

Tetapi saya belum sampai pada tahap seperti Bill Gates: memiliki pandangan kontra sehingga “ngomel” panjang lebar di margin buku. Pengetahuan saya atas bidang yang luas masih rendah, palingan sebatas “setuju” atau “tidak setuju”, bukannya “tidak setuju, ini pendapat 5 peneliti di buku-buku mereka yang mengkontra argumen tersebut…” Semakin banyak buku dari berbagai genre yang terbaca, saya rasa saya bisa semakin dekat dengan standar milik Bill Gates.


INI adalah poin yang sedang susah payah saya usahakan. Seseorang pernah mengatakan kalau preferensi saya itu anget-anget tai ayam, dan beneran kelihatan terutama ketika disodori buku baru yang kelihatan menarik. Buku-buku yang sebelumnya baru setengah baca jadi mendadak terlupakan. Ulangi terus siklus itu dan stres yang berlebihan sukses muncul. Tahun ini saya berusaha lebih bertanggung jawab dengan buku yang saya pilih, dan sejauh ini cukup berhasil. Sebuah proses yang positif!


Matthew Walker, PhD di bukunya Why We Sleep mengatakan kalau eksposur terhadap sinar dari layar iPad di sore hari membuat otak kita menunda melepaskan melatonin. Hasilnya, kita susah ngantuk meskipun sudah tiduran di kasur berjam-jam. Karena itu, sedikit demi sedikit saya mengurangi penggunaan gawai di sore-malam hari. Buku fisik jadi preferensi baru di tahun 2019. Meskipun di saat-saat darurat, saya masih bisa mengakses buku-buku saya baik di iPad, ponsel, maupun laptop (teknologi sinkronisasi Apple adalah karunia terindah dari ilmu pengetahuan). Tetapi kalau harus memilih, buku fisik menawarkan "fitur" membolak-balik halaman buku yang sudah penuh coretan dan stabilo yang "tidak sempurna." Cemong-cemong yang saya torehkan di tiap lembar buku tersebut sangat menenangkan batin saya—suatu sensasi yang tidak bisa diberikan oleh aplikasi Books yang sangat presisi. 


Saya belajar dari Bill Gates soal poin ini: lebih baik tidak usah membaca sekalian kalau waktu luang yang ada cuma 5-15 menit. Membaca yang efektif minimal 1 jam, tidak boleh diganggu sama siapa pun. Dengan teknik sok sibuk ini, buku paling “ilmiah” pun bakal bisa terpahami dengan baik (tidak bisa dihapalkan isinya tidak apa, yang penting saya paham; toh sudah saya catat di buku poin-poin yang penting). Karena itu saya suka sekali menenteng buku kemana-mana, siapa tahu waktu luang satu jam (atau lebih) itu datang.


Sebagai tambahan, saya selalu kepikiran sama komentar di atas. Karena setelah merenung cukup lama, bisa saya simpulkan kalau pilihan bacaan saya meskipun genre-nya berbeda jauh, temanya berkaitan. Misalnya nih, setelah baca Ego is the Enemy (ego), saya baca memoar When Breath Becomes Air (neurosurgeon, pengalaman humbling), kemudian lanjut Why We Sleep (neuroscience); setelah bikin tesis soal kompetensi yang dinilai dari tindakan pengusaha ketika menghadapi masa kritis, saya baca Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis (direfleksikan dengan ilmu psikologi tentang endurance individu dalam menangani krisis); dan masih ada beberapa kasus lain yang tidak bisa saya ingat-ingat sekarang. Tidak ada kesengajaan dari pemilihan bacaan-bacaan tersebut, tapi otak saya lama-lama bisa menarik benang merah di semua buku yang saya baca. Hasilnya, sedikit demi sedikit terbangun Big History dengan pondasi kuat (dari buku-buku yang ditulis oleh para ahli di bidangnya yang bisa mereka pertanggungjawabkan) di dalam benak saya. Sebuah penemuan yang menenangkan, karena meskipun saya tidak kuat dalam keterampilan menghapal dan terkesan “mudah lupa” sama apa yang barusan saya baca, detail-detail kecil semacam itu akan muncul ketika diperlukan dalam bentuk kesimpulan yang utuh. 


Begitulah kebiasaan membaca saya dengan mengacu pada kebiasaan membaca Bill Gates. Semoga bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam, “Gimana caranya Kak Sany bisa baca banyak buku?” atau sejenisnya yang sering saya jumpai ya.

Sunday, 9 June 2019

Wishlist 2019

Secara teori, saya punya waktu luang 24 jam dalam sehari. Tapi kadang, pekerjaan dadakan sering datang (dan saya bersyukur!) sehingga sulit untuk menerka berapa waktu yang saya punya untuk dialokasikan ke aktivitas membaca. Karena itulah, saya selalu membaca ketika menemukan waktu luang (standar membaca efektif adalah minimal satu jam sekali duduk membaca, lebih baik daripada curi-curi baca tiap lima menit/separagraf/disambi kegiatan lain). Untuk melakukannya, setidaknya satu buku selalu menemani saya kemana-mana. Bulan ini target saya adalah menamatkan buku ini:


Upheaval adalah buku rekomendasi Bill Gates untuk musim panas 2019. Saya sebenarnya naksir 3 dari 6 buku rekomendasi beliau, tapi karena harganya sungguh mahal (bahkan untuk versi paperback), baru bisa kecicil satu. I knowww, kebanyakan buku yang Bill Gates pilih merupakan hasil pemikiran bertahun-tahun dari seseorang yang mengabadikan hidup di bidang tersebut sehingga pantas dihargai segitu tetapi A GIRL STILL NEEDS A STEADY JOB OKAY. Upheaval pun pada akhirnya kebeli ketika Periplus mendiskonnya dari Rp270.000-an menjadi Rp210.000-an dan ongkirnya disubsidi cashback GoPay Rp20.000. Jadi, *ahem* bisa dong nih kabarin saya kalau ke depan bakal ada promo lagi *wink*.

Andai saya punya dana tak terbatas untuk beli buku, saya kepengen banget membeli buku-buku keren lainnya. Saya memilih dan memeringkat buku-buku di bawah berdasarkan kadar “penting”-nya buku ini untuk saya miliki dan baca. Untuk distabilo dan dianotasi. Untuk ditenteng kesana-kemari karena dengan memegang buku di tangan kiri dan stabilo di tangan kanan, saya jadi lebih semangat buat menantang diri sendiri memerangi keacuhan terhadap ilmu pengetahuan. Untuk dipajang di rak setelah ditamatkan sebagai tropi “ini nih saya sudah baca buku X” atau “wow penulis Y ngeluarin buku baru tahun ini, saya terkesan banget sama buku dia yang kemarin, sampai halaman-halamannya jadi lepek banget." Buku-buku yang saya maksud antara lain:

Saya sudah bahas ini di IG story kalau sis shoulda support another sis. Seluruh profit dari penjualan buku ini bakal disumbangkan ke yayasan yang fokus mendukung pengembangan perempuan dan… Melinda Gates gitu yang nulis. Baca interaksinya sama Bill Gates di website resmi mereka aja sudah senang banget, apalagi dikasih ratusan halaman dari dia. Bagi saya, Melinda Gates punya singgasana emas di samping Michelle Obama. 

Nine Pints mungkin buku yang paling sering saya cek di Periplus, nungguin kapan didiskonnya LOL apakah kalian cemas dengan traffic yang mendadak tinggi tapi tidak ada pembelian, wahai admin Periplus? Sejak baca Why We Sleep, saya jadi ketagihan baca buku yang bahas satu hal saja tapi secara mendalam dan penyampaiannya menyenangkan. Karena darah adalah sesuatu yang dekat dengan kita—seperti halnya tidur—maka ketika Bill Gates menyebutkan buku ini di daftarnya, saya langsung…. YEP. THERE IT IS. MY FUTURE BANK BALANCE DRAINER.

Welcome to the biggest, fastest, deadliest science book you'll ever read.
The world's largest land mammal could help us end cancer. The fastest bird is showing us how to solve a century-old engineering mystery. The oldest tree is giving us insights into climate change. The loudest whale is offering clues about the impact of solar storms.
For a long time, scientists ignored superlative life forms as outliers. Increasingly, though, researchers are coming to see great value in studying plants and animals that exist on the outermost edges of the bell curve.
As it turns out, there's a lot of value in paying close attention to the "oddballs" nature has to offer.
Go for a swim with a ghost shark, the slowest-evolving creature known to humankind, which is teaching us new ways to think about immunity. Get to know the axolotl, which has the longest-known genome and may hold the secret to cellular regeneration. Learn about Monorhaphis chuni, the oldest discovered animal, which is providing insights into the connection between our terrestrial and aquatic worlds. 
Superlative is the story of extreme evolution, and what we can learn from it about ourselves, our planet, and the cosmos. It's a tale of crazy-fast cheetahs and super-strong beetles, of microbacteria and enormous plants, of whip-smart dolphins and killer snakes.
This book will inspire you to change the way you think about the world and your relationship to everything in it.

Tahun ini saya lagi penasaran banget sama genre historical fiction. Cukup kaget juga kenapa lebih milih ini dibandingkan A Gentleman in Moscow yang direkomendasikan Bill Gates. Mungkin karena buku ini sudah berminggu-minggu memuncaki daftar novel HF dan memoir di Goodreads dan karena bulan lalu saya tergila-gila sama memoir, masih kerasa euforianya di pemrioritasan satu judul fiksi ini.

Masih ada puluhan buku yang ingin saya punya, tetapi saya sudah bertekad untuk mementingkan kualitas dibandingkan kuantitas, biar fokus 100% menyerap ilmu mereka sebelum pindah ke buku-buku lain. Empat buku di atas menyadarkan saya kalau selera baca saya sudah jauh berubah dan mungkin akan terus berubah ke depannya. Saya masih suka baca YA atau NA kok untuk menyegarkan otak di antara pergantian buku-buku berat, jadi jangan khawatir karena kalian nggak bakal kehilangan ulasan fiksi receh di blog ini. I wanted to shout this list at the universe because I’m sure I can afford them all in the future. I just HOPE that I’m not gonna be “too busy” to actually read them “recreationally”.

Sunday, 2 June 2019

[Review Buku] Field Notes on Love oleh Jennifer E. Smith


Sebagai intermezzo dari laporan yang harus saya selesaikan minggu ini, saya bakal mengulas novel terbaru dari penulis Young Adult favorit, Jennifer E. Smith, yang berjudul Field Notes on Love. Novel ini menurut saya cocok buat masuk ke daftar bacaan musim panas, karena temanya asyik buat dieksplor saat libur panjang tanpa beban kayak sekarang.

Field Notes on Love menceritakan tentang perjalanan dua remaja dalam menemukan jati diri. Mae sangat menyukai proses membuat film dan selalu dibanjiri pujian dari sana sini atas karyanya, sehingga penolakan dari universitas impiannya membuatnya tidak habis pikir: apa yang salah dari karya terbaiknya? Sedangkan Hugo adalah anak bungsu dari kembar enam yang tersohor di Surrey, Inggris. Hugo dan kelima saudara kembarnya hidup dalam eksposur dari media. Sang ibu mengabadikan kehidupan mereka ke blog dan buku, mall lokal menjadikan mereka ikon untuk lini fashion dan iklan, dan stasiun TV kadang melakukan wawancara tentang kehidupan mereka. Saking terkenalnya si kembar enam di Surrey, seorang konglomerat memberikan beasiswa penuh kepada mereka untuk bersekolah di University of Surrey. Tujuan utamanya tentu untuk mendongkrak publisitas kampus yang telah mendukungnya dalam meraih kesuksesan karir. Sayangnya, yang paling diinginkan oleh Hugo saat ini adalah mengambil gap year selepas lulus dari SMA untuk mencari jati dirinya dan terlepas dari identitas “satu dari kembar enam.”

Jalan hidup kedua remaja ini akhirnya berpapasan setelah pacar Hugo memutuskan hubungan mereka secara mendadak. Padahal, Hugo dan Margaret sudah merencanakan perjalanan panjang dengan kereta. Semua tiket dipesan atas nama Margaret Campbell, non-refundable dan non-transferable. Perjalanan ini adalah kesempatan pertama bagi Hugo untuk mencicipi kebebasan dan dengan mundurnya Margaret dari rencana… dia harus menemukan Margaret Campbell lain untuk menggantikannya.

Perlu dicatat bahwa Mae bukan kandidat utama yang dipilih Hugo, melainkan seorang wanita berusia 86 tahunan yang seumur hidup belum pernah merasakan perjalanan spontan. Detail ini membuat saya cukup senang karena tidak banyak “kebetulan” yang diciptakan oleh penulis. Yah, walaupun di detik-detik terakhir sang lady harus mundur karena alasan kesehatan. Setidaknya, terpilihnya Mae melewati transisi yang smooth

Karena genre-nya Young Adult, saya lebih menyoroti soal pengembangan karakter yang dialami oleh Mae dan Hugo. Kita bertemu Mae saat dia masih naif dan bingung: terlalu sering menerima pujian, dia jadi susah bangun ketika dirudung masalah. Ini adalah masalah klasik yang dialami orang-orang yang tidak pernah gagal. Mae susah menerima kritik dari orang lain karena dia beranggapan caranya adalah yang paling benar. Saya suka sekali dengan cara Jennifer E. Smith mengeksekusi tema ini. Dari mulai respon Mae ketika menerima kritik, denial yang dia lakukan, hingga upaya (yang secara tidak sadar akan menjadi hal “besar” bagi pengembangan karakternya) yang dia pilih ketika sudah memulai perjalanan, benar-benar menggambarkan perjuangan seseorang dalam mencari jati diri. Kondisi Mae pun meyakinkan saya untuk kelak jangan terlalu memuji-muji anak, karena pujian punya potensi untuk membuat mereka lengah dalam hal belajar, mengurangi kegigihan dalam berusaha, dan seperti Mae ini…. tidak mudah menerima fakta kalau dia ternyata tidak “sebaik” apa yang dikatakan orang-orang. 

“But the hurt and rejection and disappointment? It’ll help you grow as an artist. And it’ll all be worth it when you finally get it right.”

Saya tidak begitu yakin sama pengembangan karakter Hugo, karena sejak awal saya sudah sinis dengan impian yang ingin dia wujudkan. Sebagai seseorang yang harus berjuang untuk terus bersekolah, saya tidak bisa bersimpati dengan keputusannya untuk siap kehilangan beasiswa demi “keliling dunia.” Rasanya seperti berhadapan sama ABG yang terlalu lama stalk akun instagram bertajuk soul-searching (I KNOWWW you know what I’m talking about!! Yang postingannya nggak jauh-jauh dari individu dengan kulit terbakar matahari itu lhoooo, dengan latar laut SUPER biru atau langit yang SUPER biru juga, pluuuuus caption yang mengayo-ayokan buat mencari jati diri melalui jelajah alam). Di saat banyak mahasiswa terjebak hutang puluhan tahun demi bisa bayar kuliah (yang beneran marak terjadi di Amerika), tindakan Hugo jadi tampak egois di mata saya—terutama ketika kelima saudaranya akan terancam kehilangan beasiswa juga. After all, it’s for the publicity, okay?

Selain masalah Hugo ini, saya juga merasa tidak sreg sama premis “ketemu orang asing untuk kemudian traveling bersama selama semingguan naik kereta.” Tapi karena dari novelnya sendiri sudah sering dibahas sama tokoh-tokohnya, kebanyakan soal “Lu kagak takut kalau yang pasang iklan itu ternyata pembunuh berantai atau pedofil, kan?” saya merasa remaja-remaja yang baca bakal bisa memfilternya dengan baik (BISA KAN??? PLIS BILANG BISA. JANGAN SAMPAI NANTI KALIAN MALAH TERINSPIRASI BUAT JALAN-JALAN PAKAI METODE ANEH KAYAK GINI. KARENA LET ME TELL YA… RISIKO KETEMU PEMBUNUH BAYARAN ATAU PENJAHAT SEKSUAL LEBIH GEDE DARI KETEMU COWOK BRITISH CUTE).

Because the statistical probability of finding a travel companion like Hugo is...I don't even want to think about it.

Begitulah kesan saya soal novel ini. Khas Jennifer E. Smith banget lah, menggunakan pola ketemu orang asing dan pada akhirnya bisa menemukan jati diri yang selama ini dicari. Ada nuansa kalem gimanaa gitu kalau baca novel dia, membuat novel-novel dia cocok dibaca di penghujung hari—setelah seharian memeras otak buat bikin laporan. Meskipun di beberapa bagian terlalu cheesy atau overly quotable, saya cukup terhibur dengan karya dia. Asal tetap pakai filter ya bacanya? 

Someone recently told me that if you want something badly enough, you have to make your own magic. You have to lay it all on the line. And most of all, you have to be brave. When you grow up as one of six, it can be hard to say what you want. But that person was right. Which is why, no matter what ends up happening, I had to write this letter. Because some things are worth fighting for—and this is one of them.

Sunday, 26 May 2019

[Review Buku] When Breath Becomes Air oleh Paul Kalanithi


Mari kita bicara tentang When Breath Becomes Air.

Buku ini adalah sebuah memoar yang ditulis oleh Paul Kalanithi, seorang residen ahli bedah yang divonis menderita kanker paru-paru setahun sebelum masa residensinya selesai. Yang membuat memoar ini menarik perhatian saya adalah sebelum menempuh pendidikan kedokteran, Paul terlebih dahulu mendalami sastra Inggris dan human biology. Bahkan, tujuan utama Paul mempelajari ilmu kedokteran adalah untuk mencari jawaban yang tidak bisa didapatkan dari pendidikannya terdahulu: what makes human life meaningful?

Jujur saja, saya memulai buku ini dengan perasaan skeptikal karena pertama, tampilan cetak Vintage tidak nyaman untuk dibaca; spacing-nya terlalu lebar. Kedua, gaya penulisan Paul agak… tidak pas sama ekspektasi. Diterbitkan tahun 2017, When Breath Becomes Air tidak hanya menyabet predikat The Worldwide Bestseller, tetapi juga masuk daftar The Wellcome Book Prize. Versi yang saya punya dihiasi banyak pujian dari figur dan media terkemuka, dengan kata-kata seperti… lyrical, profound, moving, dan sejenisnya. Tentu saya jadi penasaran sebagus apa karya tulis seseorang yang sudah menekuni sastra selama puluhan tahun mengenai ilmu dan filosofi medis yang tampak sangat rumit dan penuh istilah asing. Namun ketika membaca, saya tidak merasakan apa yang dimaksud "pujian-pujian" tersebut. Heck, bahkan foreword dari Abraham Verghese pun terasa datar. Mungkin itu alasan saya menunda untuk melanjutkan baca buku ini sejak Bulan April (well, itu dan keserakahan saya).

Buku ini saya tenteng kemana-mana sebelum akhirnya bisa dibaca secara ngegas: ke dokter gigi tiap dua mingguan, ke kafe, ke gelato, bahkan ditaruh samping bantal biar pas bangun buat sahur bisa sambil baca. Dedikasi banget lol.

Baru sekitar halaman 51 mulai terasa flow yang baik dari cerita yang diutarakan Paul. Mungkin karena di bagian ini, Paul mulai menceritakan masa-masa ketika dia mengenyam pendidikan kedokteran setelah sebelumnya mendalami ilmu sastra dan biologi, suatu hal yang memantik rasa penasaran saya sejak awal. Karena latar belakang dua bidang tersebut, Paul memiliki mindset untuk memperlakukan pasiennya tidak sebagai “masalah untuk dipecahkan” atau sebatas “paycheck untuk membayar tagihan,” melainkan sebagai sesama manusia yang sedang dalam masa transisi dari hidup normal ke perjalanan panjang penuh rasa sakit dan putus asa. Paul secara khusus memberikan perhatian kepada keluarga pasien, karena mereka adalah pihak yang akan berjuang bersama si pasien. Sangat perlu untuk mengedukasi mereka tentang kondisi apa yang akan mereka hadapi bersama-sama. 

Amid the tragedies and failures, I feared I was losing sight of the singular importance of human relationships, not between patients and their families but between doctor and patient. Technical excellence was not enough. As a resident, my highest ideal was not saving lives—everyone dies eventually—but guiding a patient or family to an understanding of death or illness. When a patient comes in with a fatal head bleed, that first conversation with a neurosurgeon may forever color how the family remembers the death, from a peaceful letting go (“Maybe it was his time”) to an open sore of regret (“Those doctors didn’t listen! They didn’t even try to save him!”). When there’s no place for the scalpel, words are the surgeon’s only tool.

Inilah poin yang ingin saya konfirmasi melalui buku ini. Beberapa calon tenaga medis yang sempat saya kenal belum paham mengenai pentingnya membangun hubungan yang baik antara dokter dengan pasien beserta keluarganya. Dulu saya tidak paham kenapa mereka malah jengkel ketika ibu pasien curhat pakai bahasa daerah yang asing dan merepet. Atau, ngomel ke saya ketika ada keluarga yang tidak paham sama istilah njelimet yang mereka lontarkan (saya jawabnya: "Ya jelas mereka nggak mudeng, kan pas dosennya jelasin, mereka nggak ikut masuk ke kelas"). Tidak semua seperti itu, tetapi ketika saya nemu, saya jadi bertanya-tanya tentang pendidikan hubungan interpersonal seperti apa yang diajarkan ketika masih di kelas. I GET IT, y'all sleepy from pulling that endless night shifts. Tetapi keadaan tidak bersahabat yang tercipta pada akhirnya akan membuat pasien enggan untuk lebih terbuka dalam menceritakan kondisi kesehatannya.

I feared I was on the way to becoming Tolstoy’s stereotype of a doctor, preoccupied with empty formalism, focused on the rote treatment of disease—and utterly missing the larger human significance.

…the physician’s duty is not to stave off death or return patients to their old lives, but to take into our arms a patient and family whose lives have disintegrated and work until they can stand back up and face, and make sense of, their own existence.

Maka, pantas jika tulisan Paul dalam memoar ini dianggap sebagai acuan penting untuk membentuk mindset dan empati yang lebih baik bagi tenaga-tenaga medis di luar sana. Paul Kalanithi memilih jalur ini untuk memahami lebih mendalam apa arti hidup yang meaningful bagi pasien-pasien yang menjadi tanggungjawabnya sehingga dia bisa memilih tindakan yang tepat untuk mereka. Dan saya rasa, mindset-nya akan bagus sekali untuk diaplikasikan oleh calon-calon tenaga medis yang baru saja terjun ke dunia koas. Siapa yang mengira ilmu sastra bisa diaplikasikan sebaik ini di bidang kedokteran, huh? Membuat saya lebih mengapresiasi orang-orang yang mendalami ilmu berat ini (baik sastra, kedokteran, atau gabungan keduanya).

Neurosurgery requires a commitment to one’s own excellence and a commitment to another’s identity. The decision to operate at all involves an appraisal of one’s own abilities, as well as a deep sense of who the patient is and what she holds dear.

Doctors in highly charged fields met patients at inflected moments, the most authentic moments, where life and identity were under threat; their duty included learning what made that particular patient’s life worth living, and planning to save those things if possible—or to allow the peace of death if not. Such power required deep responsibility, sharing in guilt and recrimination.

Porsi yang cukup besar di memoar ini tentu ketika Paul pada akhirnya didiagnosis menderita kanker di paru-parunya. “Topi” yang dia pakai langsung berubah dari yang sebelumnya adalah dokter yang sangat disegani—digadang-gadang akan dipromosikan bahkan dipasrahi untuk memimpin sebuah lab dengan fasilitas mewah—menjadi pasien dengan pilihan pengobatan yang terbatas. It’s like he asked God for one thing and God gave him plenty: pada akhirnya Paul benar-benar paham apa makna hidup dan mati yang sesungguhnya, karena dia tidak hanya berkesempatan menjadi agen yang menghantarkan orang-orang pada kehidupan/kematian tetapi juga menjadi pihak yang secara khusus didatangi kematian. Saya cukup kagum dengan kemampuan Paul mengartikulasikan apa yang dia rasakan dan refleksikan dalam masa-masa tersulitnya itu, karena eksekusinya tidak terkesan cringey seperti buku-buku yang ditulis oleh pejuang kanker lain dan justru masuk ke dalam kategori informatif (bahkan bagi orang awam nggak mudengan macam saya). Buku ini jadi semacam legacy yang sangat berharga bagi kita semua—tidak hanya terbatas untuk tenaga medis saja—untuk membentuk pola pikir yang lebih baik, khususnya dalam hal memperlakukan sesama manusia dan menghargai hidup yang sudah diberikan Tuhan ke kita.


Membaca epilog, I felt like the shittiest person alive karena sudah ngomel soal gaya menulis Paul yang tidak sesuai ekspektasi ketika kenyataannya, dia menulis buku ini di bulan-bulan terakhir hidupnya. Ketika pikiran sudah susah untuk diajak konsentrasi, jari-jari susah digerakkan, dan berbagai keterbatasan fisik lain menghalanginya untuk menyelesaikan buku ini (istrinya menjelaskan bahwa When Breath Becomes Air adalah karya Paul yang baru setengah jadi, karena di tengah menulis ini kondisinya mendadak memburuk). Pandangan saya mengenai buku ini jadi lebih “ramah” karena dibutuhkan banyak pengorbanan dari sang penulis untuk menghantarkannya ke kita, agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sany, stop being so asshole to your books.

Our patients’ lives and identities may be in our hands, yet death always wins. Even if you are perfect, the world isn’t. The secret is to know that the deck is stacked, that you will lose, that your hands or judgment will slip, and yet still struggle to win for your patients. You can’t ever reach perfection, but you can believe in an asymptote toward which you are ceaselessly striving.

Saturday, 18 May 2019

[Review Buku] What I Talk About When I Talk About Running oleh Haruki Murakami


Tahun 2013 adalah pertama kalinya saya serius mendalami literatur luar negeri. Masih ingat betul, salah satu buku yang saya pilih adalah milik Murakami: What I Talk About When I Talk About Running. Saya cari versi cetaknya, saya garis bawahi kata yang asing (banyak banget), dan saya baca sampai di titik saya menyerah. Saat itu saya tahu kalau Haruki Murakami adalah penulis hebat, sehingga karyanya pasti bagus. Tapi toh, saya tetap nggak mudeng di buku ini dia ngomong apa dan berhenti di bab kedua.

Enam tahun kemudian, saya membuka buku ini kembali. Kemampuan Bahasa Inggris saya sudah mengalami perbaikan yang signifikan, sampai di titik dimana saya nggak hanya ngerti dia ngomong apa, tetapi juga bisa merasakan emosi seperti apa yang Murakami tuturkan di kata-kata yang dia susun. Pada akhirnya, saya bisa memahami apa yang orang-orang elukan tentang kehebatan Murakami. Buku ini adalah media dimana saya bisa benar-benar melihat seperti apa buah dari kerja keras dan konsistensi mempelajari Bahasa Inggris tanpa henti.

Pain is inevitable. Suffering is optional.

What I Talk About When I Talk About Running adalah buku pertama (dan hingga saat ini, satu-satunya) Murakami yang saya baca. Pendekatan yang saya ambil sama seperti ketika membaca Roxane Gay: melalui memoir yang mereka tulis. Berbeda dengan Hunger milik Roxane Gay, saya bisa menerima What I Talk About When I Talk About Running. Dari sini saya mendapati kenyataan bahwa penulis tersohor baru bisa saya nikmati karyanya ketika saya sudah jelas bisa menikmati memoir mereka. Memoir yang merupakan refleksi “suara hati” si penulis menjadi acuan apakah saya satu visi (atau, tidak berada dalam kubu yang sangat berseberangan) dalam suatu hal.

Most of what I know about writing I’ve learned through running every day. These are practical, physical lessons. How much can I push myself? How much rest is appropriate—and how much is too much? How far can I take something and still keep it decent and consistent? When does it become narrow-minded and inflexible? How much should I be aware of the world outside, and how much should I focus on my inner world? To what extent should I be confident in my abilities, and when should I start doubting myself? I know that if I hadn’t become a long-distance runner when I became a novelist, my work would have been vastly different. How different? Hard to say. But something would have definitely been different.

Seperti judulnya, What I Talk About When I Talk About Running membahas tentang hobi besar Haruki Murakami: lari. Pandangannya mengenai olahraga yang dianggap orang-orang bisa memunculkan “inspirasi” bagi penulis (lari bukan metode untuk mencari inspirasi bagi Murakami, melainkan sarana untuk bisa menikmati waktu pribadi dalam diam demi mempertahankan kesehatan mentalnya), metode yang ia pakai untuk bisa menyelesaikan marathon, dan kesusahan-kesusahan yang ia alami yang jarang dibicarakan oleh pelari profesional pada umumnya, dipecah dalam 9 bab yang setiap babnya menceritakan perjuangannya menaklukkan marathon negara-negara berbeda. Pemikiran-pemikiran Murakami mengenai lari meresonansi caranya menulis buku. Dan secara tidak mengejutkan, saya merefleksikan pemikiran Murakami ke dalam etika kerja yang saya punya. 

Murakami (atau lebih tepatnya, si Penerjemah buku ini) mampu mengungkapkan dengan baik passion dari penulis serta pandangannya atas berbagai hal. Tulisan dari Murakami jadi tampak bernyawa dan memotivasi bagi saya. Meskipun buku ini diterbitkan hampir 10 tahun yang lalu, efeknya terasa sehebat buku nonfiksi bestseller terkini yang lagi nangkring di rak toko buku. Saya terutama suka dengan realisasi diri yang ada di balik kalimat-kalimat humble berikut:

What’s crucial is whether your writing attains the standards you’ve set for yourself.

At least that’s why I’ve put in the effort day after day: to raise my own level.

In long-distance running the only opponent you have to beat is yourself, the way you used to be.

I can see that during my twenties my worldview changed, and I matured.

I’ve gradually come to the realization that this kind of pain and hurt is a necessary part of life.

…and that’s why I’ve had to constantly keep my body in motion, in some cases pushing myself to the limit, in order to heal the loneliness I feel inside and to put it in perspective.

I’m the kind of person who has to experience something physically, actually touch something, before I have a clear sense of it. No matter what it is, unless I see it with my own eyes I’m not convinced.

…needless to say, it takes quite a bit of time, plus effort, to go through each stage, step by step, and arrive at a conclusion. Sometimes it takes too long, and by the time I’m convinced, it’s already too late. But what’re you going to do? That’s the kind of person I am.

Dari berbagai filosofi lari milik Murakami yang benar-benar merefleksikan kehidupan saya, terdapat satu kutipan yang benar-benar menggambarkan perjuangan saya dalam hal akademik. Murakami secara luwes menjelaskan perasaannya ketika menerjang jarak “batas aman” miliknya melalui kalimat: “Up to nineteen miles I’m sure I can run a good time, but past twenty-two miles I run out of fuel and start to get upset at everything. And at the end I feel like a car that’s run out of gas. But after I finish and some time has passed, I forget all the pain and misery and am already planning how I can run an even better time in the next race.” 

Ketika pertama menyusun rencana tesis, saya tahu saya akan menerjang batas aman yang seumur hidup saya punya. Jangan tanya semenderita apa saya waktu proses eksekusinya; sudah dalam taraf menyeret diri dari hari ke hari. Tetapi penderitaan itu saya alami dengan penuh kesadaran kalau hasil akhirnya dapat memberikan kemudahan bagi banyak pengusaha UMKM. Untuk mendapatkan hasil sesuai standar pribadi, saya benar-benar harus mendorong diri sendiri dengan iming-iming jajanan atau gelato atau drama korea. Saya jadi paham sama apa arti “musuh terbesar adalah diri sendiri,” karena hari ke hari, saya harus atur strategi biar progress saya maju ke depan dan bukannya mundur ke belakang (atau lebih parah, mandeg di tengah-tengah). Sebegitu sensitifnya saya sama tesis saat itu, waktu dekan saya bercanda “Gimana, kapan lanjut S3?” saya membalas dengan guyonan juga tapi sambil bergidik. Rupanya, ketika semua sudah selesai, beberapa bulan sudah lewat, saya mendapati kalau saya sudah siap jika memang takdir menuntun saya buat lanjut S3. Saya bahkan positif bisa lebih kuat dalam menanggung tekanan penelitian yang semakin rumit.

Just… accept me when I’m being dramatic. I just need to complain. After that, I’ll give my very best at every step needed.

Begitulah. Memoir dari Murakami ini memiliki peran besar untuk membantu saya “mengenali” diri saya sendiri, baik dalam hal filosofi hidup yang saya pegang maupun etika kerja yang saya lakukan selama ini. Saya dulu nggak sadar kalau saya sangat kompetitif, perfeksionis, dan persuasif—karena lebih sering menampilkan emosi mager dan bodo amat sama masalah orang lain. Saya juga ternyata mudah defensif ketika rencana hidup yang sudah ditata matang-matang diremehkan atau dianggap angin lalu ketika seorang lelaki meminta saya untuk give all up buat “jadi ibu rumah tangga saja”—padahal sebelumnya saya kira saya itu tipe yang mengikuti arus. Membaca buku ini benar-benar membuka mata tetapi juga menghabiskan waktu yang cukup lama karena sedikit-sedikit saya harus berhenti dan berpikir. Mengganggu flow membaca saya yang biasanya bisa tamat 5-6 buku per bulan.

Selain sebagai media refleksi, informasi berharga yang disajikan Murakami dalam memoir ini adalah penjelasan di balik layar mengenai kegagalan dan penderitaan dia selama berlatih untuk marathon. Kita tidak bisa menjumpai hal semacam ini di sembarang buku self-help. Kejujuran Murakami dalam mengakui kelemahannya dalam satu hal serta upaya gigihnya untuk tetap maju memantik motivasi di diri saya untuk terus meningkatkan kualitas diri dengan berani mengenali kelemahan-kelemahan yang saya punya. Hanya dengan begitu saya bisa tahu harus fokus improve di bagian mana.

Exerting yourself to the fullest within your individual limits: that’s the essence of running, and a metaphor for life—and for me, for writing as well.

Saturday, 4 May 2019

[Favourite Quotes] King of Scars by Leigh Bardugo

People say we can understand a person from what she/he highlighted on the books they read. What passages really spoke to them? What wisdom they gathered from the characters’ dialogues? Or, what they thought about some provoking lines that convey their way of thinking? So, here’s my highlighted lines from Leigh Bardugo’s novel King of Scars. This is what you’ll see when you borrowed my tattered copy. Now you can judge me all you want. 


“A handsome monster husband who put a crown on her head? It’s a perfect fairy tale to sell to some starry-eyed girl. She can lock you in at night and kiss you sweetly in the morning, and Ravka will be secure.”

Pointless questions. There was no answer that would bring him back.

Saints, she missed him. The ache of his absence felt like a hook lodged inside her heart. The hurt was always there, but in moments like these, it was as if someone had seized hold of the line and pulled.

“The enemy is already inside you, the bad cells eating the others slowly, right there in your lungs. Unusual in a man so young. You’re dying, Captain Birgir,” she said softly, almost kindly. “I’m just going to help you along.”

Above all else, be thieves. Take the work of their enemies and turn it against them. It didn’t matter if Ravka got to the technology first as long as they found ways to make it better. The Fjerdans had developed an engine to drive wagons and armored tank battalions, so the Ravkans had made it powerful enough to move massive ships. The Fjerdans had built steel aircraft that didn’t require Squaller skill to pilot, so Ravka’s Fabrikators stole the design and constructed sleeker flyers in safer, lighter aluminum. The second rule? Be fast.

For Nikolai, a problem had always presented an opportunity no different than the one offered by a Fjerdan engine. You stripped it down to its parts, figured out what drove it, then used those pieces to build something that worked for you instead of against you.

It was one thing to find happiness and lose it, quite another to have someone else’s happiness thrust at you like an unwanted second slice of cake. Then again, she’d never refused a second slice of cake. This will be good for me, she told herself. Like green vegetables and lessons in arithmetic. And I’ll probably enjoy it just as much.

“Do that thing you do where you use too many words to say something simple and confuse the issue.”

“Try not to break her of it.”
No one has, Nina. No one ever will.
I’m not so sure, Matthias. War hadn’t done it. Captivity. Torture. But loss was something different, because she saw no end to it, only the far horizon, stretching on and on.

Little red bird, every day you choose the work of living. Every day you choose to go on. There is no failure here, Nina.

Zoya’s eyes were hard as gems. “I’m not here to debate theology with a mop handle.”

Tolya set the chess piece down. “Time and translation may have muddied the facts.”
“Let’s hope they were very muddied,” said Nikolai. “Possibly sunk in a swamp.”

“Sitting idle in the palace with nothing but her grief to occupy her mind was no good for her.”

“Hand me that brandy,” said Zoya. “I can’t tolerate this degree of stupidity on a clear head.”

“You may well be right,” said Nikolai, forcing himself to find the diplomacy that had always served him well. If you listened to a man’s words, you might learn his wants. The trick was to look into his heart and discover his needs. 

Since Nikolai could not be important, he turned his clever mind to the task of becoming charming. His mother was vain, so he paid her compliments. He dressed impeccably in colors that suited her tastes, and whenever he visited her, he made sure to bring her a small gift—a box of sweets, orchids from the hothouse. He pleased her friends with amusing gossip, recited bits of doggerel, and imitated his father’s ministers with startling accuracy. He became a favorite at the queen’s salons, and when he didn’t make an appearance, her ladies were known to exclaim, “Where is that darling boy?”
With his father, Nikolai spoke of hunting and horseflesh, subjects about which he cared nothing but that he knew his father loved. He praised his father’s witty conversation and astute observations and developed a gift for making the king feel both wise and worldly.

He did it because he liked learning the puzzle of each person. He did it because it felt good to feel his influence and understanding grow. But above all else, he did it because he knew he needed to rescue his country.

“But you can’t. So the question is whether you want to hate what you are and put yourself at greater risk of discovery, or accept this thing inside you and learn to control it.”

She wished she had Inej’s gift for spywork or Kaz’s gift for scheming, but she only seemed to have Jesper’s gift for bad decisions.

“You’ve spent your life only choosing the paths at which you knew you could excel. It’s made you lazy.”

“All fuels burn differently. Some faster, some hotter. Hate is one kind of fuel. But hate that began as devotion? That makes for another kind of flame.”

The idea that this was a thing he could face and conquer, or even be destroyed by, was so much easier to accept than the notion of a nightmare he would have to endure forever. He’d begun to believe this thing would be with him always. 

“Just listen to her. Ask her questions. Women don’t want to be seduced. They want to be seen and listened to. You can’t do either of those things if you’re thinking up strategies on how to win her over—or reciting the Fourth Epic of Kregi.”

“Keep reciting poetry and I will personally drown you in the lake,” said Tamar.

“He complained,” Nina said—and suddenly she had to look away, because it was not some fictional merchant who had come to mind but Matthias with his strict propriety and his disapproving glower and his loving, generous heart. “He complained all the time.”


“No. We didn’t always agree.” She smiled, tasting salt on her lips. “In fact, we almost never agreed. But he loved me. And I loved him.”

“It’s okay,” said Nina. “The hurt just still catches me by surprise. It’s a sneaky little podge.”

“I had hoped by now you would be further along.”
Zoya planted her fists on her hips. “I’m doing brilliantly.”

Men looked at her and wanted to believe they saw goodness beneath her armor, a kind girl, a gentle girl who would emerge if only given the chance. 

“Most women suffer thorns for the sake of the flowers. But we who would wield power adorn ourselves in flowers to hide the sting of our thorns.”

“Are we not all things?”

“this is where you belong. Here they will see the jewel you are inside, not just your pretty eyes.”

“And still the wound bleeds,” said the dragon. “You will never be truly strong until it closes.”
“I don’t want it to heal,” Zoya said angrily, her cheeks wet with tears. Below, she saw the version of Novokribirsk that existed in this twilight world, a black scar across the sands. “I need it.”
The wound was a reminder of her stupidity, of how readily she’d been willing to put her faith in the Darkling’s promise of strength and safety, of how easily she’d given up her power to him—and no one had needed to force her down the aisle to make her do it. She’d done it gladly. You and I are going to change the world, he’d told her. And she’d been fool enough to believe him.

“Every lover I’ve taken has asked about those scars. I make up a new story for each of them.”

“He left his mark on me and I on him. We did each other damage. It deserves to be remembered.”

“’Beware of power, Zoya. There is no amount of it that can make them love you.’”

“I wanted … strength. Safety. I never wanted to feel helpless again.”

“Nina tucked two tiny quail eggs into her skirts in case Trassel had a taste for the finer things, and found herself wondering if they might finish with sugared almond cookies. One could plot violent espionage and still hope for dessert.”

But each day he might endeavor to earn it. If he dared continue on with this wound in his heart. If he dared to be the man he was instead of praying to return to the man he’d once been.

“Stop punishing yourself for being someone with a heart. You cannot protect yourself from suffering. To live is to grieve. You are not protecting yourself by shutting yourself off from the world. You are limiting yourself, just as you did with your training.”

Zoya had loved him with all the greedy, worshipful need in her girlish heart. She had believed he prized her, that he cared for her. She would have done anything for him, fought and died for him. And he had known that.

“I haven’t been asking the right questions, have I? ”

“Are you all right?” he asked.
“Fine,” she replied.
“You’re sure?”
“Which one of us gets to kill the monk?”
“You’re fine.”