Saturday, 27 April 2019

A Letter of Apology (And My Sad Attempt to Make It Right)

Saya keluar dari lubang vakum untuk menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya untuk teman-teman yang sudah meninggalkan komentar di blog ini tetapi belum dibalas. Sesungguhnya, saya sudah berusaha membalasnya. Tetapi, blogspot kadang tidak mendeteksi saya sebagai User dan komentar yang sudah saya tulis pada akhirnya tidak terposting. Meskipun hanya ada dua komentar (pembaca lain cenderung menyapa saya lewat DM instagram @nukhbahsany atau lewat email nukhbahsany@gmail.com), fakta ini cukup membuat saya tidak enak hati karena kalian sungguh sangat baik sama saya namun saya terlalu gaptek untuk membalas kebaikan kalian. Jadi, saya memutuskan untuk membalasnya lewat satu postingan blog saja ya, biar lebih gampang ngetiknya.

Sakinah on Maret: Kembali ke Novel, Menyambung Pertemanan, dan Mempertahankan Ketenangan Batin commented:
Sepertinya bulan ini lagi kalang - kabut yah ka... keep fighting yah ku selalu menunggu review nya loooh..
Pertama jadi silent reader nih.. tapi reviewnya kaka tuh sangaaaaaaat inspiring bangeeet.. sampe - sampe mau mulai lagi nih buat namatin buku buku yg belum selesai... hehe

SANY:
Percaya atau enggak, saya saat ini lagi dalam posisi paling nganggur haha tetapi memang paling nggak bisa buat diem aja karena otak gampang bosan. Akhirnya bikin resolusi untuk mencatat semua yang saya baca di buku catatan dan memposting ulasannya di blog. Selain bikin kelihatan sibuk, metode ini sukses bikin otak saya lebih aktif buat mengolah informasi yang masuk. Jadi, saya nggak nggih-nggih aja, gitu, waktu membaca. Tetap berusaha sekritis mungkin karena saya merasa saya punya beban pertanggungjawaban moral buat kalian yang baca blog saya.
Alhamdulillah kalau ulasan yang saya tulis menginspirasi buat kalian membaca buku. Jujur saya nggak pernah menyangka kalau ada orang-orang yang serius ngikutin blog saya, apalagi sampai tergugah atau termotivasi buat membaca buku gara-gara saya. Huhuhu selalu terharu saya tuh tiap ada yang komen kayak gini *wipe tears* terutama di masa-masa ketika saya lagi sedih banget atau lagi down, bikin semangat buat nulis ulasan-ulasan yang lebih bermanfaat lagi. Terima kasih yaa sudah baik sekali sama saya, Sakinah. Semoga sukses dan semakin rajin membaca!

Farah Putrizeti on [Review Buku] Educated oleh Tara Westover commented:
Hai! Terima kasih atas review menarik dan on-point ini.
Saya setuju dengan poin tentang bagaimana pendidikan sayangnya tidak menjadi fokus dalam memoir ini. Saya berharap dampak pendidikan dalam mengubah Tara menjadi individu yang lebih baik ditekankan dalam memoirnya. Eh ternyata pembaca malah dibuat emosi karena Keluarga Westover yang disfungsional...

SANY:
Halo. Wah terima kasih ya sudah mampir di ulasan ini! Sepertinya memang banyak yang kurang sreg ya tentang fokus pendidikan Tara yang tidak terlalu ditekankan. Apalagi letaknya di bagian belakang, setelah beratus-ratus lembar penuh cerita derita Tara. Beberapa orang terlanjur menyerah (did not finish) karena nggak kuat—atau memang nggak peduli—sama kisah Tara sehingga nggak dapat cerita perjuangan Tara untuk kuliah. Padahal, kisah kuliah dia bagus sekali, membuat kita lebih bersyukur karena kita bisa belajar dengan nyaman dan memotivasi kita buat belajar lebih keras. Tinggal diperdalam dan dijelaskan lebih lengkap saja. Mungkin karena ini memoir dan bukannya self-help, ya, jadi porsinya tidak mendominasi.

Saya harap ke depannya masalah blogpost ini bisa diperbaiki. In the meantime, tolong jangan ragu buat menyapa saya di platform-platform manapun. Saya nggak judes kok, cuma gaptek saja haha! (Well, saya nggak gaptek-gaptek amat sih. Khusus buat blogpost ini memang bandel banget setting-nya). Sapaan dari kalian selalu bikin saya semakin bersemangat buat nulis di sini.

Sampai jumpa di ulasan buku selanjutnya! 

Wednesday, 24 April 2019

[Review Buku] Keep Going oleh Austin Kleon

Beberapa hari ini saya mengalami reading block terparah sepanjang sejarah membaca saya. Setelah saya analisis, penyebab utamanya adalah sifat serakah yang saya punya. Katakan saat ini saya membaca buku A, sudah sampai beberapa bab dan teranotasi dengan baik. Tidak lama, buku B yang sudah saya tunggu-tunggu terbit. Akhirnya nggak sabar untuk baca buku B. Baru juga dapat setengah, pesanan buku C dari tiga minggu lalu datang. Langsung disampul dan dibaca di tempat. Begitu terus sampai akhirnya otak saya bingung dan tertekan. Apapun yang saya baca rasanya tidak bisa teresapi dengan baik. 

Akhirnya saya mengambil langkah besar untuk mengkandangkan semua buku-buku ke rak dan BERJANJI PADA DIRI SENDIRI UNTUK NGGAK NGUTAK-ATIK BUKU-BUKU ITU LAGI kecuali kalau memang pengen masokis dan mengulang perasaan tidak menyenangkan itu. Sebagai gantinya, selama beberapa hari ini saya lebih intens dalam hal ibadah, olahraga, dan menonton drama. 


Kemudian, saya menemukan fakta bahwa penulis favorit saya, Austin Kleon, baru saja menerbitkan buku ketiganya, Keep Going. Buku ini bisa dibilang datang di saat tepat, yaitu ketika otak saya sudah benar-benar terprogram ulang dan fresh. Bukunya yang tipis dan penuh coretan-coretan dari penulis benar-benar memanjakan mata dan otak sekaligus. Selain itu, pembaca semakin dipermudah dengan kemampuan penulis untuk menyampaikan ide-idenya dalam tulisan yang ringkas dan menggunakan bahasa ringan seperti yang digunakan sehari-hari. Yang paling penting bagi saya adalah konten di dalamnya, yaitu pembahasan yang khusus ditujukan bagi seniman yang sedang menghadapi masa-masa sulit. Meskipun saya bukan seniman, banyak pemikiran-pemikiran dari penulis yang bisa diterapkan ke fase hidup saya yang saat ini sedang kurang motivasi dan krisis inspirasi.

Dari semua ide yang diajukan penulis, yang paling mengena bagi saya adalah “Make List,” karena sudah saya praktekkan sejak lama. Kegiatan menulis jurnal terbukti ampuh untuk meluapkan perasaan sekaligus mencatat kemajuan proses kita dari tahun ke tahun. Tidak peduli apakah hari tersebut adalah hari tersibuk atau hari terkelam di kehidupan saya, saya selalu menyempatkan waktu sekitar 5 menit untuk mencatat apa saja yang terjadi hari itu (hari terkelam menurut saya adalah hari dimana isi jurnal sangat juicy dan “berbobot”). Tentu ada hari-hari ketika saya lupa nulis atau cenderung masa bodoh dengan kegiatan yang saya masukkan di dalamnya, tetapi outlier seperti itu hanya sekitar 10% dari keseluruhan. Seingat saya, kebiasaan ini dimulai setelah menamatkan buku pertama penulis, Steal Like an Artist, dan semakin intens setelah menamatkan buku ketiganya. Jadi, saya memang berhutang budi sekali sama Austin Kleon mengenai kebiasaan yang membentuk kepribadian saya saat ini.

“Your list is your past and your future. Carry at all times. Prioritize: today, this week, and eventually. You will someday die with items still on your list, but for now, while you live, your list helps prioritize what can be done in your limited time.”
—Tom Sachs

Di poin “Make List” ini, selain memberi berbagai rekomendasi “daftar” yang bisa kita buat untuk memaksimalkan kegiatan kita, penulis juga menyarankan untuk membaca ulang apa yang sudah kita tulis selama ini. Bagian ini cukup menyeramkan buat saya, mengingat ada beberapa hal yang sepertinya belum siap saya baca (that good old days, full of happy memories). Namun, saya rasa cepat atau lambat saya harus melakukannya. Tinggal menunggu saat yang tepat, yang penting saat ini sudah diniatkan.

Saya juga suka sama poin “Finish Each Day and Be Done With It,” karena ide utamanya adalah seberat apapun harimu, berjuanglah sampai di penghujung hari agar bisa STOP, istirahat sekaligus introspeksi, untuk kemudian siap-siap untuk berjuang lagi esok hari. Tidak perlu terlalu menghajar diri jika kinerja kita hari ini tidak memenuhi standar pribadi kita. Saya selalu punya standar sangat tinggi terhadap apa yang saya lakukan atau impikan untuk diraih, jadi saran penulis untuk “go easy on yourself, a little self-forgiveness goes a along way” terasa seperti kompres dingin buat hati yang mulai cenut-cenut karena merasa gagal.

A day that seems like waste now might turn out to have a purpose or use or beauty to it later on.

Dalam hal pikiran yang sedang suntuk atau stres berkepanjangan, penulis menyarankan untuk jalan kaki. Pergi keluar rumah setiap hari, tidak peduli jam berapa kamu bangun (beberapa orang suka menyerah duluan kalau waktu mulai mereka nggak cukup pagi bagi standar khalayak umum, akhirnya alasan “besok aja” terus deh) sambil bawa headset atau kamera HP untuk memfasilitasi inspirasi. Pokoknya jalan duluan lah; jauh atau dekat, sudah mandi apa belum, di kampus atau di kantor, sendirian atau bareng-bareng (saya sih merekomendasikannya sendirian). Niscaya pikiran-pikiran yang mbulet akan satu-persatu terurai.

Walking really is a magic cure for people who want to think straight. “Solvitur ambulando,” said Diogenes the Cynic two millennia ago. “It is solved by walking.”

Selain jalan kaki, penulis juga menyarankan untuk beberes, meskipun menurutnya metode Marie Kondo tidak akan cocok bagi seniman. Beberes di sini lebih ke proses menyibukkan tangan agar otak punya ruang untuk berpikir bebas. Mekanismenya hampir sama seperti aktivitas kerajinan tangan, yang sudah saya buktikan merupakan media paling asyik buat bengong produktif. Hasil akhirnya bukan aneka kerajinan yang lucu, melainkan ruang kerja yang lebih rapi dan bersih dari debu. Saat beberes juga seniman biasanya akan menemukan printilan-printilan yang akan memunculkan ide kreatif baginya. Poin beberes ini lebih saya aplikasikan dalam bentuk mengucek pakaian dan menjemurnya secara manual (jadi nggak pakai mesin cuci, lumayan hemat listrik hehe), mencuci piring dan perkakas masak kotor yang ada setiap lewat dapur (yang, selalu saja menumpuk hmph), mengepel lantai kamar, dan yang paling elit adalah mengelap kaca besar di kamar. Percaya atau tidak, semuanya benar-benar menenangkan. Dan karena saya melakukannya sedikit demi sedikit, rasa puas karena sudah menciptakan ruang buat bengong produktif cenderung melebihi rasa capeknya.


Poin terakhir, yang menurut saya paling magical, adalah “Plant Your Garden.” Secara harfiah, saya sudah menanami taman di belakang rumah saya, jadi saya agak mengerti sih fungsi dari tanam-menanam ini buat ketenangan batin. Tetapi penulis di sini lebih menekankan filosofi pohon maple milik Corita Kent. Pohon maple yang bersemi paling meriah adalah yang berhasil bertahan menghadapi musim dingin paling parah sebelumnya. Ketika gundul dan nampak hampir mati, tidak ada yang percaya kalau pohon itu bakal sukses bertahan. Namun, justru di periode itulah dia berproses mati-matian. Tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga menabung nutrisi untuk blooming di periode ketika dia siap nanti.

“That, in a way, is very much how I feel about my life,” she said. “Whether it will ever be recognizable by anyone else I don’t know, but I feel that great new things are happening very quietly inside me. And I know these things have a way, like the maple tree, of finally bursting out in some form.”

For Kent, the tree came to represent creativity itself. Like a tree, creative work has seasons. Part of the work is to know which season you’re in, and act accordingly. In winter, “the tree looks dead, but we know it is beginning a very deep process, out of which will come spring and summer.”


Jadi, kita memang harus paham dengan periode dimana kita berada (serta tanaman apa yang akan kita tanam). Saat ini sih saya masih di periode musim dingin, sedang mempersiapkan diri untuk merekah di musim semi nanti. Mengetahui posisi kita saat ini benar-benar membantu dalam penentuan timeline/rencana kita ke depan. Selain itu, menyenangkan kan melihat masa vakum kita dari segi positif? Ini semua mungkin terjadi berkat buku kecil ini. Dan sebenarnya, masih banyak poin bagus yang diberikan oleh penulis dalam hal menumbuhkan inspirasi di masa sulit, tetapi rasanya tidak mungkin untuk membahas semua poinnya di ulasan ini. Yang jelas, saya akan selalu (dan selalu!) berhutang budi kepada Austin Kleon atas pola pikir yang spektakuler dan positif, yang sudah memberikan perubahan besar pada kehidupan saya.

Every day is a potential seed that we can grow into something beautiful. There’s no time for despair. “The thing to rejoice in is the fact that one had the good fortune to be born,” said the poet Mark Strand. “The odds against being born are astronomical.” None of us know how many days we’ll have, so it’d be a shame to waste the ones we get.

Friday, 19 April 2019

[Review Buku] An Anonymous Girl oleh Greer Hendricks & Sarah Pekkanen

Di ulasan Little Fires Everywhere, untuk pertama kalinya saya memakai buku catatan dengan loose leaf polos. Rupanya, saya nggak bisa bikin catatan yang “lurus” seperti ketika pakai buku catatan polos berjilid. Tulisan saya di situ pun jadi acak-acakan dan paragrafnya naik-naik ke puncak gunung. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk beli loose leaf dengan pola titik-titik (dotted) dan kotak-kotak (grid) untuk membantu saya nulis lurus tanpa mendistraksi mata dari garis yang dibuat oleh pabrik. Ini bukan semata pembelian impulsif di atas jam 12 malam sih, karena sesungguhnya paling nggak bisa saya tuh pakai loose leaf bergaris yang umum dijual di toko. Garisnya terlalu tebal sehingga tintanya bakal balapan sama tinta pulpen saya. Kesimpulannya, g o o d b y e money.


Paket datang tepat sebelum saya berangkat menginap beberapa hari di rumah teman, sehingga saya cuma punya sedikit waktu buat ambil foto. Cukup kaget sama ukurannya yang segede kotak sepatu. Pikir saya, pantas saja mahal… karena ternyata kertasnya tebaaaaal dan saya pesannya banyaaaaak (harus beli minimal 5 barang biar bisa bebas dari ongkos kirim uhuk). Ketebalan lembaran loose leaf yang dua kali lipat dari yang biasa kita beli di toko dikarenakan fungsi sesungguhnya bukan buat nulis catatan biasa, tapi untuk brush lettering. Wow, secara tidak sadar saya naik kelas dari tukang nulis sembarangan menjadi insan a e s t h e t I c. 

Uang saya nggak sia-sia sih, karena terjadi perbaikan mencengangkan pada catatan saya untuk novel yang minggu ini saya baca: An Anonymous Girl.


Can we appreciate this beauties~

An Anonymous Girl merupakan novel thriller yang direkomendasikan Goodreads, menempati peringkat kedua setelah The Silent Patient. Alasan saya lebih pilih ini adalah tagline mereka yang bilang kalau novel ini “psikologi” banget. Cocok sama saya yang lagi mendalami ilmu ini. Hitung-hitung, cari ilmu dan hiburan sekaligus gitu. Saya memang sepertinya sedang jengah sama nonfiksi yang membutuhkan banyak konsentrasi dan ruang ingat.


Novel ini bercerita tentang Jessica, seorang MUA yang tertarik untuk berpartisipasi dalam penelitian seorang psikiater di New York, Dr. Shields, mengenai etika dan moralitas. Jessica bersedia untuk menjadi subjek wawancara—dia dapat info ini dari hasil curi dengar percakapan telepon klien riasnya—karena sedang membutuhkan uang untuk pengobatan adiknya. Bayaran yang diberikan oleh Dr. Shields tidak main-main, 500 USD sekali datang (jadi malu yang kemarin cuma ngasih gelas ke responden). Jessica tidak sadar, dengan mengintervensi penelitian ini, dia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya membuka kenangan menyakitkan, yang kemudian akan menariknya dalam intrik kehidupan keluarga Dr. Shields yang berbahaya.

Menurut saya, ada dua plot twist besar di novel ini. Yang pertama: Dr. Shields adalah seorang perempuan. Reaksi saya terwakili dengan baik dengan pemikiran Jessica berikut:

I don’t know why I assumed she was male. Thinking back, I realize Ben only called her “Dr. Shields.” The way I incorrectly pictured her probably says something about me.

Kenapa ya kita secara otomatis menganggap mayoritas orang-orang yang pintar dan sukses itu laki-laki—kecuali kalau memang sejak awal secara spesifik subjek yang dipakai adalah “she” dan bukannya “he”? Dengan banyaknya buku feminis dan memoir perempuan-perempuan sukses di dunia yang sudah saya baca, saya kira saya tidak akan terjebak dalam plot twist ini. Rupanya tidak juga. Padahal, sampul bukunya juga jelas-jelas menampilkan foto dua perempuan. Bukti kalau saya masih perlu banyak belajar untuk mengkoreksi pola pikir yang masih suka kebawa arus stereotip gender.

Plot twist kedua adalah tujuan utama Dr. Shields melakukan penelitian ini. Alasan Dr. Shields melakukan penelitian mengenai etika dan moral adalah untuk membuktikan apakah sifat tidak setia yang dimiliki suaminya merupakan sesuatu yang terjadi satu kali saja atau memiliki kemungkinan untuk terulang. Dengan kata lain, Dr. Shields menggunakan ilmu pengetahuan untuk menebak pola perilaku perselingkuhan suaminya sendiri. Pada akhirnya, terdapat dua pertanyaan yang ingin dijawab oleh Dr. Shields: (1) Haruskah hukuman yang diterima Thomas sepadan dengan kesalahan yang dia lakukan? dan (2) Apakah korban punya hak untuk menentukan pertanggungjawaban yang layak diterima pelaku?

…an affair shatters a relationship, leaving the betrayed to grapple with feelings of rage and pain. Forgiveness is not always possible, forgetting is unrealistic.

GUYS! Guuuuyyyyssss! Jangan pernah macam-macam sama seorang intelektual kalau kalian nggak mau punya nasib seperti suami Dr. Shields, Thomas. Novel ini benar-benar membuka mata saya kalau kalian berani cari gara-gara sama seseorang macam Dr. Shields, pembalasan yang kalian terima akan sangat terencana, menyakitkan, dan nyaris tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Mereka dapat memanipulasi pembenaran yang sangat meyakinkan dan memiliki banyak akses untuk mewujudkan rencananya.


Saya harus menekankan di sini kalau tindakan Dr. Shields tidak bisa diterima, baik sebagai seorang profesional maupun sebagai istri. Namun, sifat buruknya muncul akibat perlakuan suaminya. Sayang rasanya melihat seorang yang begitu brilian harus “rusak” karena tindakan seseorang yang egois. 

Every lifetime contains pivot points—sometimes flukes of destiny, sometimes seemingly preordained—that shape and eventually cement one’s path.
These moments, as unique to each individual as strands of DNA, can at their best cause the sensation of a catapult into the shimmer of stars. At the opposite extreme, they can feel like a descent into quicksand.

Sejujurnya, hampir semua tokoh di novel ini nggak ada yang beres sih (kecuali Noah). Jessica yang di sini tampak sebagai korban di antara hubungan Dr. Shields dan Thomas pun sebenarnya sangat problematic karena (a) dia diam-diam mendengarkan ulang pesan suara dari ponsel klien MUA-nya, Taylor, dan (b) dia mengaku sebagai “Taylor” ketika kenalan dengan Noah. Jessica melakukan itu semua tanpa perasaan bersalah sedikit pun, bikin saya curiga jangan-jangan dia sosiopat. Nggak kaget, sih, ketika Jessica mengakui perbuatannya ke Taylor demi mendapat informasi tentang orang yang pertama menawarkan 500 USD tersebut, si Taylor langsung cemas dan melangkah mundur sedikit demi sedikit. You’re rather scary, sis

Begitulah ulasan suka-suka dari saya. Setelah membaca dari awal sampai akhir, saya bisa membenarkan sih kalau novel ini memang psikologi banget, khususnya bagian bab Dr. Shields. Tetapi ya novel ini menurut saya b aja, dengan akhir cerita yang dipaksakan. Agak melebih-lebihkan kalau novel ini masuk genre thriller, karena nggak bikin deg-degan juga. Pelajaran yang bisa saya ambil dari tragedi di novel ini cuma: kalian boleh kok pakai behavioral science untuk menebak pola perilaku seseorang (khususnya yang menyakiti kita), tapi mbok ya jangan dijadikan penelitian beneran gitu .-.

Yeah, funeral to your career.

Saturday, 6 April 2019

[Review Buku] Little Fires Everywhere oleh Celeste Ng


Saat ini saya sedang membaca nonfiksi Why We Sleep, sebuah kumpulan informasi mengenai manfaat tidur berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis selama 20 tahun terakhir. Meskipun buku tersebut menarik dan penuh ilmu, di pertengahan saya merasa lelah dan memutuskan untuk mencari hiburan dengan membaca sebuah novel: Little Fires Everywhere. Yang lucu, bukannya terhibur, saya malah kerja gara-gara novel ini. Ketika mencapai halaman sekian, saya menyambar pulpen dan kertas buat mencatat semua hal yang terpikirkan oleh otak. W H YCan we just… take a p e a c e f u l break???


Novel ini sudah diterjemahkan oleh Penerbit Spring tahun lalu, membuat saya sadar kalau saya itu ketinggalan banyak ya waktu vakum tesis kemarin. Penulisnya Celeste Ng, yang sudah sering saya dengar dari banyak Booktuber dan sering lihat tweet dia wara-wiri di linimasa. Secara singkat, Little Fires Everywhere menceritakan tentang terganggunya kedamaian dan keteraturan warga Shaker Heights—sebuah kawasan elit di Cleveland—yang diakibatkan oleh dua skandal besar: kebakaran yang terjadi di rumah Mrs. Richardson dan perebutan hak asuh Mirabelle McCullough oleh keluarga McCullough dan ibu kandungnya. Apakah kedua hal ini berkaitan?

Kalau kalian mengharapkan cerita misteri dengan ketegangan yang menjadi-jadi di setiap halamannya, sepertinya novel ini kurang sesuai untuk kalian. Saya merasa novel ini lebih ke YA atau NA (tergantung pada sudut pandang pembaca), karena penulis sangat berfokus pada pembangunan karakter-karakter dan interaksinya satu sama lain sehingga tidak begitu memedulikan soal pemecahan misteri kebakaran yang terjadi. Melalui alurnya yang cenderung lambat, pembaca akan diajak untuk mengenal setiap karakter lengkap dengan problematikanya masing-masing, dari mulai para remaja (Pearl, Lexy, Moody, Trip) hingga orang dewasa (Mia Warren, Mr. dan Mrs. Richardson, Mr. dan Mrs. McCullough, Bebe). Penggambarannya yang utuh membuat saya memiliki keterikatan emosional yang cukup erat dengan mereka, hal yang jarang terjadi ketika membaca literatur fiksi. 

Yang sangat mengagumkan adalah kemampuan penulis untuk menabrakkan kehidupan Mrs. Richardson dengan Mia Warren—dua sosok ibu yang sangat bertolak belakang—melalui anak-anak mereka dan skandal bayi Mirabelle. Dari sini pembaca akan terombang-ambing untuk mendukung kubu yang mana. Bahkan saya, yang sejak awal pro kubu Mrs. Richardson, pada akhirnya bisa melihat sudut pandang Mia dengan baik (yah meskipun ada satu tindakannya yang nggak bisa saya terima).

Bagian yang saya sukai adalah kilas balik kehidupan Mia. Penulis jelas melakukan riset yang sangat baik tentang fotografi dan sekolah seni karena latar dan aura masa lalu Mia bisa saya bayangkan dengan jelas. Perjalanan panjang Mia untuk menjadi fotografer profesional pun terjabarkan dengan sangat keren. Saya—dengan dua sel otak tersisa yang bebal ini—berhasil menangkap pesan dari lika-liku kehidupan Mia bahwa profesionalitas didapat dari kerja keras, mengorbankan uang yang tidak sedikit (mahasiswa seni pasti ngerti), dan kalau kurang beruntung seperti Mia, perjalanan kita akan sangat sepi karena orang-orang di sekitar kita nggak ada yang mengerti dan peduli. “Keunikan” dan “bakat” nggak jatuh begitu saja dari langit. Dan ketika kita bekerja sangat keras, Tuhan akan memberikan karunia-Nya dalam bentuk orang-orang yang tepat dalam mendukung dan menuntun pertumbuhan proses kita. Momen saat Mr. Wilkinson dan Pauline muncul, saya senyum-senyum sendiri. Khususnya Pauline. Saya sangat menyukai metode mengajar yang dia berikan ke mahasiswanya. 

Over the next few classes Pauline treated Mia just like any other student. They learned to wind film into the camera, how to compose a photo, how to calculate the proper aperture and width. All of this Mia knew already, from Mr. Wilkinson’s tutelage and her own experimentations over the years. As Pauline explained it, however, her intuitive feelings about how to shape her shots became more conscious. She learned to articulate her reasons for choosing a specific f-stop, to not only find the settings that made it look right but to explain why it looked right that specific way.

Menurut saya itulah inti dari proses mendidik: kita tidak ingin mengkloning diri kita (persepsi diri, sudut pandang, dll) ke mahasiswa, melainkan menambah wawasan mereka sehingga mereka mampu memilih keputusan hidup dengan lebih bijak dan bertanggung jawab. Yang dimaksud Pauline dengan bertanggung jawab adalah untuk Mia mampu mengartikulasikan alasannya memilih suatu hal dengan baik, tidak sekadar “Ya memang pasnya kayak gitu, Prof,” atau alasan murah lainnya. Berbakat bukan berarti bergantung sepenuhnya pada intuisi.

Before, Mia had taken photographs by feel, relying on instinct to tell her what was right and what was wrong. Pauline challenged her to be intentional, to plan her work, to make a statement in each photograph, no matter how straightforward the photo might seem. “Nothing is an accident,” Pauline would say, again and again.

Mrs. Richardson juga mendapatkan porsi kilas baliknya sendiri, tapi anehnya saya nggak begitu peduli hehe. Mungkin karena nggak ada pembelajaran berarti yang bisa saya dapat dari sana. Namun, kilas balik dari Mrs. Richardson mampu membuat saya lebih paham kenapa dia begitu keras sama Bebe (ibu kandung bayi Mirabelle). Bagi Mrs. Richardson, tugas seorang ibu adalah berkorban demi kebahagiaan anak. Mrs. Richardson merasa Bebe mengorbankan hal yang salah ketika dia meninggalkan bayi Mirabelle hingga sekarat sebelum akhirnya ditemukan para pemadam kebakaran. Bebe tidak layak diberikan kesempatan kedua, karena dengan dikabulkannya tuntutan Bebe, bayi Mirabelle akan kehilangan selimut keamanan yang selama ini disediakan keluarga McCullough. Inilah yang membuat saya tetap satu kubu dengan Mrs. Richardson, meskipun sudah disodori kilas balik Mia yang begitu memukau disertai argumen-argumen meyakinkan dari pengacara Bebe. Menurut saya, Bebe tidak layak untuk mengasuh bayi Mirabelle. There, I said it. And I'm gonna say it again: Bebe is not a good mother. So you must understand that her decision at the end of book made me LIVID. My blood was BOILING.


Karena itulah, bagi saya pribadi, Little Fires Everywhere masuk ke kategori NA. Saya lebih menyoroti konflik yang dimiliki oleh tokoh-tokoh dewasa yang ada di dalamnya dibandingkan tokoh-tokoh remajanya. Tentu saya bersimpati dengan keputusan Lexie, namun semua perasaan saya sudah disampaikan dengan baik oleh Mia:

“You’ll always be sad about this,” Mia said softly. “But it doesn’t mean you made the wrong choice. It’s just something that you have to carry.”

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Little Fires Everywhere bukanlah cerita misteri yang menegangkan. Saya bahkan sampai lupa buat mikirin siapa pelaku yang membakar rumah Mrs. Richardson. Tapi kalau memang Izzy yang melakukannya (seperti yang  diprediksi para tokoh sejak Bab 1), berarti pelajaran moral yang bisa dipetik di sini adalah: nggak usah sok-sokan ngasih kata-kata bijak penuh metafora ke ABG labil, karena sebelum Mia pergi, hal terakhir yang dia sampaikan ke Izzy adalah:

“Sometimes, just when you think everything’s gone, you find a way.” Mia racked her mind for an explanation. “Like after a prairie fire. I saw one, years ago, when we were in Nebraska. It seems like the end of the world. The earth is all scorched and black and everything green is gone. But after the burning the soil is richer, and new things can grow.” She held Izzy at arm’s length, wiped her cheek with a fingertip, smoothed her hair one last time. “People are like that, too, you know. They start over. They find a way.”

 
*Tepok jidat kalau Izzy beneran ngebakar rumah keluarganya sendiri karena menelan mentah-mentah metafora Mia*

Tuesday, 2 April 2019

Book Haul 2019 (Mudah dan Murah Beli Buku Impor Tanpa Kartu Kredit)

Perasaan paling indah adalah menyambut abang paket yang mengantarkan pesanan buku yang sudah lama diorder. Butuh 20 hari-an bagi paket ini untuk sampai di rumah saya, karena perlu melalui proses impor dari penerbit negara asal. 


Untuk urusan beli buku impor, saya lebih suka beli di Periplus.com. Alasan utama sih harganya jauh lebih murah dari buku-buku impor di Toko Gunung Agung mall kota saya. Sisi negatifnya, dikirimnya agak lama karena tidak semua judul tersedia di gudang mereka. Buat saya nggak masalah, karena biasanya beli di sini ketika lagi menyelesaikan timbunan yang segunung. Pintar-pintar saja mengatur waktu “butuh”-nya (btw, saya saat ini lagi baca Why We Sleep sama Talking to My Daughter About the Economy. Tamatnya mundur dari perkiraan karena materi yang ada lumayan berat dan harus benar-benar diresapi. Makanya saya nggak rewel ke Periplus hehe).


Dua buku yang sudah lama menjadi wishlist sudah di tangan. Keduanya adalah hadiah kelulusan dari keluarga dalam bentuk vocer. Yang berarti, saya boleh milih judul apa pun asalkan nggak lebih dari dua. Perusahaan pengiriman yang saya pilih adalah SAP karena, you guessed it, ongkosnya paling murah. Pihak SAP mengantarkan paket saya dalam kondisi yang sangat baik, bahkan kardus Periplusnya masih kotak sempurna tanpa penyok sedikit pun. Buku yang ada di dalamnya mulus sekali, lebih mulus dari yang dipajang di rak buku.


Pilihan pertama saya adalah Ego is the Enemy dari Ryan Holiday. Saya! Ngefans! Banget! Sama! Dia! Tahu Ryan Holiday awalnya dari Medium, karena dia aktif banget membagikan tips untuk mengingat isi buku yang kita baca dan cara menulis artikel yang baik. Kemudian saya ikut daftar newsletter yang dia kirimkan tiap bulan, dimana dia membagikan daftar semua buku yang dia baca bulan itu dan buku bagus apa saja yang dia rekomendasikan. Nggak pernah kecewa sama newsletter dari dia. Kerennya, dengan pengetahuan sebanyak yang dia miliki, hal yang paling dia takutkan adalah ego. Di buku ini dia panjang lebar menjelaskan kenapa ego adalah hal yang harus kita kalahkan demi menjalani kehidupan penuh percaya diri dan bahagia. Being snobby is not cool, no matter how amazingly great you are. Gimana nggak makin ngefans coba sama Ryan Holiday? Senang akhirnya bisa beli buku dia satu per satu dan mendukungnya untuk terus berkarya. (Psssttt! Buku ini adalah buku favorit Tatjana Saphira, lho!).


Buku kedua adalah Whole Again. Saya memilih buku ini karena menurut saya, keterampilan untuk bangkit dari keterpurukan adalah hal yang harus dikuasai semua orang. Selain itu, dari semua buku self-help soal abuse yang saya baca preview-nya, yang paling sesuai dengan pola pikir saya adalah tulisan Jackson MacKenzie ini. Saya harap buku ini bisa memberikan pencerahan ke saya soal masalah yang masih sering terabaikan oleh remaja-remaja di sepenjuru dunia, emotional abuse, dan cara menghadapi serta menyembuhkannya. 


Itulah dua buku yang bakal menemani saya untuk beberapa minggu ke depan. Dua-duanya menyangkut psikologi, bidang yang lagi saya dalami secara serius. Saya sudah menyiapkan pulpen warna-warni dan post-it beraneka rupa untuk “menghancurkan” buku-buku ini. Wish me luck!

[Sany, the most organized person 2019]

Kalau kamu, lagi baca buku apa?