Monday, 11 March 2019

[Review Buku] Six of Crows dan Crooked Kingdom oleh Leigh Bardugo

Sungguh kebahagiaan yang hakiki karena akhirnya… AKHIRNYA… saya memutuskan untuk membabat beberapa fiksi yang sudah lama mangkrak di timbunan. Hal ini saya lakukan sebagai cleansing palate setelah tamat baca banyak nonfiksi; biar nggak mudah bosan dan memberikan sedikit ruang di otak untuk istirahat.


Fiksi pertama yang terbaca adalah Six of Crows karya Leigh Bardugo. Ini adalah lanjutan dari trilogi The Shadow of Bone, dengan setting dan tokoh yang berasal dari belahan dunia lain. Saya sengaja melewatkan trilogi The Shadow and Bone karena setelah lihat ulasan sana-sini, banyak yang kecewa sama jalan cerita dan sifat abusif Darkling ke Alina. Konsekuensinya sih di bab-bab awal saya bingung sama beberapa istilah yang ada (Grisha? Heartrender? Fabrikator?). Untungnya saya cepat paham dari penjelasan ulang dari penulis—ya know, di bab awal biasanya kan banyak penjelasan singkat tentang istilah yang ada atau kejadian di buku sebelumnya—jadi bisa langsung ngegas untuk menikmati ceritanya.

Six of Crows menceritakan petualangan 6 kriminal (Kaz, Inej, Nina, Matthias, Jordan, dan Wylan) dalam menjalankan misi super mustahil: menyelamatkan ilmuwan Bo Yul-Bayur, penemu jurda parem yang sedang mendekam di Ice Court. Jurda parem adalah semacam opium yang bisa meningkatkan kekuatan Grisha berkali-kali lipat, namun memberikan efek adiktif bagi pemakainya. Di tangan yang salah, jurda parem dapat memicu pembunuhan massal, menghancurkan perdamaian dunia, serta mengganggu kestabilan ekonomi. Namun, bukan itu yang menjadi motivasi Kaz menerima misi tersebut. Kaz bersedia melakukannya karena Council melalui Jan Van Eck berjanji untuk memberikan 30 juta kruge jika Kaz dan komplotannya berhasil membawa Bo Yul-Bayur hidup-hidup. 

Inilah alasan pertama suka sama seri ini: realistis! Tidak ada kata-kata mutiara kalau “ini semua demi kebaikan dunia” dan lain sebagainya. Sekali penjahat tetap penjahat, okay

“Just trust me, Nina.”
“I wouldn’t trust you to tie my shoes without stealing the laces, Kaz.”

Alasan kedua yang membuat saya suka sama seri ini adalah pembangunan karakter. Menghabiskan waktu bersama mereka, mau nggak mau kita akan sayang. Ini semua berkat penggambaran tokoh yang sangat apik dari Leigh Bardugo, setiap tokoh punya keunikan dan sifat yang menonjol sehingga membedakannya satu sama lain. Kalian bisa minta sama saya buat menjelaskan seperti apa Kaz dan saya bisa kasih esai sebanyak tiga halaman penuh untuk menjawabnya (I just don’t want to LOL but you get what I’m saying, right?). Selain itu, Leigh Bardugo juga tidak ragu untuk memberikan keterbatasan pada tiap tokoh: Kaz memiliki cacat permanen setelah jatuh dari lantai dua sehingga dia membutuhkan tongkat untuk membantunya berjalan, Inej punya sejarah dijual di rumah bordil sehingga bersentuhan dengan lawan jenis membuatnya tidak nyaman, Matthias punya loyalitas yang tinggi dengan mantan pasukannya terdahulu—drüskelle—jadi pembaca masih selalu menebak-nebak apakah dia bakal mengkhianati Kaz, dan masalah-masalah pribadi tokoh lainnya yang memunculkan rasa empati dari kita. Ketika kita tahu kekurangan mereka namun tetap sayang, that’s true love. Fakta ini bikin saya sadar kalau baru kali ini saya  bisa terikat secara emosional dengan tokoh fiksi dan mewek waktu harus pisah sama mereka di Crooked Kingdom. Ini membuktikan kalau penulis tidak harus menciptakan tokoh super sempurna untuk menangkap hati pembaca.

Alasan ketiga adalah TENSION BUILDING! Harus banget dikapital karena….asdfghjklzxcvrtpq gemaaashhh. Duologi ini adalah contoh paling bagus untuk menunjukkan apa itu s l o w b u r n. Kalian mendukung hubungan Kaz dan Inej? Nina dan Matthias? Good luck for that. Meskipun cinta Kaz ke Inej tidak perlu diragukan lagi (kita tahu di detik Kaz mencabut bola mata Oomen dan melempar tubuhnya keluar kapal, thankyouverymuch, nggak peduli berapa kali Kaz sok-sok bilang Inej itu aset yang “mudah tergantikan”), kalian nggak bakal menyaksikan mereka bersentuhan tangan lebih dari dua detik. Begitu pula dengan Nina dan Matthias. But you’ll still love them anyway, and will root for them throughout the story.

Terakhir, dan merupakan poin paling penting bagi calon penulis di luar sana, adalah betapa rapinya Leigh Bardugo menyusun plot cerita. Plot utama dijelaskan dengan baik di sekitaran bab kedua atau ketiga (membebaskan Bo Yul-Bayur), dan plot-plot yang menggiring ke plot utama memiliki ketegangan yang semakin lama semakin intens, membuat perhatian pembaca tidak mudah kendor. Di bagian awal sekali, dijabarkan efek jurda parem dari tokoh-tokoh tidak signifikan, sehingga cerita berangkat dari permulaan yang memancing rasa penasaran pembaca tanpa perlu mengenalkan 6 tokoh utama. Kita tahu jurda parem berbahaya, sehingga kita bakal peduli betapa pentingnya misi yang nantinya dijalankan Kaz dan kawan-kawan. Plot utama pada akhirnya terselesaikan dengan plot twist, sehingga memberikan ruang bagi penulis untuk melanjutkan ke Crooked Kingdom. Saya? Bersyukur masih dikasih buku sekuel. Penulis? Senang dapat kontrak tambahan. Penerbit? Senang dengan loyalitas fandom yang menjanjikan penjualan yang besar. Calon penulis coba deh catat teknik dari Leigh Bardugo ini, biar cerita kalian tersaji dengan baik. Karena nyatanya, BANYAK sekali novel yang saya baca tidak dilandasi plot yang bagus, kadang di 100 halaman pertama konflik sudah selesai. Halaman sisanya? Tidak jelas arahnya kemana.


Crooked Kingdom. Sungguh lika-liku yang menguras emosi pembaca. Secara singkat: karena Six of Crows ditulis secara utuh dan bertindak sebagai fondasi yang kuat (dalam hal-hal yang telah saya sebutkan di atas), pengalaman membaca sekuelnya jadi sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Terutama, ketika kita diberikan info mengenai masa lalu dari tokoh-tokoh kesayangan kita. Mereka seperti berlomba-lomba untuk punya masa lalu paling kelam, tetapi khusus buat masa lalu Inej….UGH gimana saya nggak protektif, coba, sama dia? Let her get her well-deserved happiness! Tapi karena penulis adil, nggak hanya Inej yang harus menderita, karena mereka berenam harus menghadapi bayangannya masing-masing sambil menyelesaikan misi-misi berbahaya. Secara pribadi, saya suka sekali dengan pilihan-pilihan yang mereka ambil untuk menghadapinya.

Saya sebenarnya mau cerita panjang soal Crooked Kingdom ini, tapi takut spoilerYang jelas, saya suka sekali sama endingnya! Kaz dan Inej memang punya dinamika yang bagus, dan pada akhirnya, Kaz memilih untuk membahagiakan Inej. You can see how much he’s whipped by her from his final decision, and we—readers—really love him for that. Dan tidak seperti di novel-novel lain yang dengan bangga memproklamirkan bahwa cinta bisa menyembuhkan semua penghalang, duologi ini menyajikan kenyataan pahit bahwa ada batasan yang bahkan tidak bisa dilalui oleh kekuatan cinta. Trauma Kaz dan Inej masih ada, terus menghalangi mereka untuk melakukan kontak fisik yang sangat lumrah dilakukan pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta. Selain itu, pergumulan batin Matthias yang telah dicuci otak sejak kecil tentang kaum Nina yang jahat dan harus dibasmi selalu muncul. Matthias membutuhkan "suara hati" lainsuara hati yang mencintai Ninauntuk mengalahkannya, membuat dia harus selalu membela Nina, 24/7 di dalam otak dan hatinya sendiri. Realistis, dan sekali lagi menjelaskan ke pembaca bahwa cinta tidak bisa mengalahkan segalanya secara BOOM... instan. Love is a strong commitment and continuous hard work, indeed.


Begitulah pengalaman saya membaca buku yang sempat ngetren sekali di tahun 2015. Ketika ramai-ramainya sudah bubar, saya baru merasakan betapa layaknya seri ini mendapatkan hype-nya dulu. I love them all, they’re my babies. Especially Inej and Nina, our badass queens who's supporting one another. They have my whole heart forever. Saya bakal sangat menantikan novel ketiganya yang bakal terbit entah kapan (YES IT’S CONFIRMED THAT WE’LL GET ANOTHER SEQUEL!!! I’M FREAKING OUT HERE). 


PS: Saya secara pribadi nggak merekomendasikan membaca duologi ini dalam format audiobook. Mendengar sampel audiobooknya, saya malah trauma gara-gara suara naratornya Kaz. Sungguh merusak imajinasi dan bikin menyesal. Lagipula, istilah bahasa yang dipakai Leigh Bardugo terbilang tidak lumrah sehingga otak saya lebih fokus ke mikir mereka ngomong apa daripada menikmati ceritanya. Format novel adalah pilihan yang paling bagus. You can fight me on this.

No comments:

Post a Comment