Thursday, 21 May 2026

[Review Buku] Yesteryear oleh Cari Claire Burke

 

Mau tidak mau saya jadi salah satu "tersangka" dari fenomena di atas. Biasanya checkout 1 atau 2 judul buku per bulan, mulai Bulan Juni ini, saya memutuskan tidak merencanakan budget pembelian buku dulu kecuali saat momen spontan main ke mall yang ada toko bukunya atau ke pembukaan renovasi Gramedia baru dan menemukan judul yang tepat. Masih ada dana 1,1 juta belum dikembalikan Periplus terlepas dari janji mereka meningkatkan pelayanan (prettttt), jadi kayak ada rem otomatis sendiri gitu untuk tidak menghabiskan gaji sejak rupiah terus melemah. Beberapa skincare, gak repurchase. Alat lukis, alhamdulillah aman bisa kepake bertahun-tahun ke depan. Tapi untuk buku, suatu barang yang ketika sudah selesai terbaca, jarang dibuka lagi? Stop stop STOP.

Kemarin, saya melakukan pengecekan ke rak buku. Memisahkan judul yang sudah dibaca, sudah dibaca tapi berhenti di tengah-tengah, dan yang belum dibaca. Lumayan, ada lebih dari 20 judul. Di satu sisi menyesal kenapa tidak menimbun di atas jumlah yang ada mumpung harga saat itu masih murah. Tapi di sisi lain bersyukur karena saya bijak mengalokasikan uang. Lagipula saya mood reader, kecuali judul nonfiksi, kayaknya numpuk buku nggak masuk kategori tindakan membawa "untung". Habiskan tumpukan-tumpukan itu, baru beli lagi. Berapa pun harganya, kalau kepengen, ya dibeli. Daripada beli buku murah tapi bukan judul yang nggak prioritas pengen dibaca, pada akhirnya akan dilungsurkan/diloakkan.

Buku pertama sejak unofficial book buying ban yang saya pilih adalah Yesteryear, karya debut dari Caro Claire Burke. Novel ini menceritakan tentang Natalie Heller Mills, influencer tradwife yang membangun citra hidup sebagai istri relijius yang dapat menyeimbangkan peran sebagai ibu dari banyak anak dan pengelola bisnis hasil kebun dan peternakan organik di lahannya yang luas dan estetik. Pokoknya, mustahil sekaligus menginspirasi apa yang mereka lakukan, karena kalau kita jadi mereka, kayaknya nggak sanggup menyisihkan waktu, energi, dan perhatian sebanyak itu untuk mengeksekusi semua aktivitas rumah tangga (plus bisnis!) tanpa bantuan orang lain. Karena citra yang ditunjukkan ya sengaja tidak menampilkan orang-orang di balik layarnya. Natalie menampilkan sisi ideal kehidupan "di masa lalu" penuh kesederhanaan (yang sebenarnya tidak sederhana), hingga pada akhirnya ia benar-benar terlempar ke masa lalu secara misterius. Gimana rasanya benar-benar harus hidup di lingkungan tanpa listrik, tanpa alat elektronik canggih yang ditanam (dan ditutupi panel sehingga nampak tidak ada), dan tanpa bantuan orang-orang sewaan yang ia gaji?

Sebenarnya, banyak hal menarik yang dibawa oleh novel ini. Premisnya terasa "wah" dan sesuai dengan preferensi banyak pengguna media sosial perempuan saat ini. Bikin penasaran juga, mau dibawa kemana arahnya, satir sosial atau eksplorasi kisah di balik layar untuk menunjukkan sudut pandang mereka? Masalahnya, setelah menamatkan novel ini, banyak hal terasa nanggung/belum tuntas. Ide dan tema memang punya potensi yang besar: kritik tentang budaya tradwife, sindiran kepada influencer yang menjual kehidupan rumah tangga dan privasi anak sebagai konten, seramnya hidup di masa lalu, horornya postpartum yang tidak diselamatkan siapa pun, agama, sampai ke feminisme. Tapi, seperti kurang digali. Fantasi tradwife memang palsu, tapi kenapa Natalie membutuhkan citra itu? Apa yang sebenarnya ia cari dari kehidupan yang ia pasarkan: Ingin hidup aman? Dapat kendali atas aset yang di atas kertas adalah nama suaminya? Dapat status? Didapuk sebagai pionir tradwife? Akan sangat berbeda pengalaman bacanya (in a good way) jika konsepnya dimatangkan lagi oleh penulis. 

Unsur time travel juga terasa seperti alat penyampai pesan, tidak terasa seperti setting yang hidup dan kompleks. Pada akhirnya, potensi historical horror pada novel ini terbuang. Apalagi ditambah dengan nanggungnya karakter Natalie. Oke deh, dia dibuat sebagai karakter yang sulit disukai (seperti karakter-karakter novel R.F. Kuang) karena narsistik, performatif, dan oportunis. Tapi, ruang untuk memahami Natalie tidak disiapkan dengan baik. Dia seperti samsak tinju aja, alias kayak objek kritik, dan bukannya seorang individu yang rumit dan memiliki sisi rapuh, ketakutan, ambisius, dan kontradiktif yang juga menderita akibat beban postpartum dan dipaksa untuk jadi sosok "laki-laki" dalam keluarganya. Mungkin, ke-nanggung-an ini disebabkan oleh banyaknya checklist yang ingin difinalisasi penulis. Ingin mengatakan banyak hal, namun belum mampu mengimbanginya dengan kedalaman naratif.

Terlepas dari beberapa catatan di atas, saya harus mengakui bahwa novel ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Bahasanya mengalir, konfliknya mudah dikenali, bahkan kita sudah punya role model di dunia nyata (Ballerina Farm? Nara Smith?) untuk membantu memvisualisasikan apa yang dimaksud oleh penulis. Saya tidak perlu bekerja keras dalam memproses informasi di dalamnya, tapi tetap punya banyak bahan untuk dipikirkan setelah tamat. Dibaca di sela-sela aktivitas, tidak perlu lama roaming buat masuk ke tengah plot cerita meski sempat ter-jeda dengan pekerjaan yang sangat menekan otak. Berkat novel ini, saya jadi bangkit dari semi-reading slump. Cocok sebagai pembuka project menghabiskan TBR buku fisik di rak.

No comments:

Post a Comment