Wednesday, 2 January 2019

Menemukan Cinta Baru: Buku Masak dan Hal-hal Baik Tentangnya

Saya mengawali tahun 2019 dengan hobi baru: baca buku masak. Tepatnya, buku masak terbitan luar negeri.


Semua ini berkat Chrissy Teigen yang sukses menarik minat saya ke dunia perbuku-masak-an lewat Cravings dan Cravings: Hungry for More. Meski saya nggak bisa mereplikasi resep-resep luar biasa dia karena miskin keterbatasan biaya buat beli bahan-bahan, saya sangat SANGAT bahagia waktu membolak-balik Cravings 1 dan Cravings 2. Pengikut setia akun Chrissy pasti tahu ya betapa sassy-nya dia dalam mengekspresikan pikiran maupun membalas ejekan para trolls di dunia maya. Nah, kelucuan khas Chrissy terefleksikan dengan baik di buku masaknya, menjadikan bukunya itu nggak serius-serius banget. Memang mulanya banyak orang yang meremehkan niat Chrissy untuk berbagi resep masak gara-gara doi seorang model, yang erat dengan stereotip suka diet dan nggak “kenal” sama masakan enak. Namun, pada akhirnya orang-orang yang recook masakan-masakan dia malah jadi super ketagihan dan menjadikan Cravings 1 dan Cravings 2 sebagai sebuah quest untuk ditaklukkan (mungkin mereka nggak tahu kalau sebelum terkenal si Chrissy itu punya blog masakan berisi resep-resep mudah dan enak dan penuh tips lifehack. Lihat aja dari jumlah keju dan bacon yang dia rekomendasikan. It basically SCREAMS quality).  Interaksinya dengan John Legend yang SUPER PURE juga menjadi nilai lebih yang selalu saya tunggu-tunggu ketika membacanya.

Lama-kelamaan, membolak-balik buku dan majalah masak menjadi terapi tersendiri bagi saya buat menenangkan pikiran. Everything is fine! Here’s a picture of perfectly cooked pasta and grilled cheese as you like! And it comes with instructions!



Nggak peduli kita butuh 3 jenis keju dari 3 negara yang berbeda buat mengeksekusinya. Pura-pura acuh juga kalau buat bikin pasta ini, kita butuh cooking cream yang kalau beli di Superindo harganya bisa lebih dari Rp 30.000 sekotak kecil. Dan, nggak perlu tuh memperhitungkan fakta kalau di rumah, yang doyan makanan kayak beginian cuma saya. Asal ada gambar bagus dan narasi yang menghibur, saya anggap saya butuh buku masak itu.



Hal yang sama juga berlaku buat buku Scoop Adventures: The Best Ice Cream of The 50 States. Apa saya punya mesin es krim? Enggak, mahal banget cuy. Apa saya mau repot-repot pesan bahan es krim super langka yang mungkin cuma bisa didapatkan di Shoppee lewat pre-order dan diimpor khusus dari luar negeri dan harus beli dalam batch besar? No, I don’t have the patience. Apa saya punya kulkas yang kinerja freezer-nya oke? Waduh, kulkas saya yang sekarang aja sudah lama teriak minta diganti. But do all of that facts stop me from reading it, though?


Sebagai pecinta es krim dan gelato sejati, saya semangat banget waktu tahu buku ini adaDi luar sana, seorang yang sangat suka es krim membeli mesin pembuat es krim yang sangat mahal dan berepot-repot melakukan eksperimen berbagai resep es krim yang unik dan lezat. Kerennya, resep yang sudah susah-payah dia sempurnakan itu, dibagikan dengan suka rela di blog yang dia punya. Hingga akhirnya resep-resepnya disatukan dalam buku ini, dengan dibantu banyak pemilik kedai es krim lokal hebat di berbagai daerah penjuru dunia. Buku ini adalah bukti nyata dari konsep sharing is caring.

Mungkin karena saya sudah tahu betapa banyak cinta yang dituangkan dalam menyusun buku ini, membacanya menimbulkan perasaan bahagia yang sudah lama nggak saya rasakan. Semua itu didukung dengan bahasa penyampaiannya yang mudah dipahami, narasi yang sarat dengan informasi berharga seputar es krim, serta foto-fotonya  yang menggugah selera (saya mengapresiasi sekali usaha fotografer untuk mendapatkan foto-foto super keren di buku ini karena memotret es krim tidak mudah dan harus dilakukan S E G E R A setelah di-scoop mengingat es krim buatan rumahan melelehnya cepat). Secara keseluruhan, tiga buku di atas lebih manjur dari buku self-help manapun dalam membangun mood saya di awal tahun 2019.

Ini salah satu kalimat favorit saya dari penulis Scoop Adventures, karena merefleksikan dengan baik seberapa besar cinta saya pada hobi yang saat ini saya tekuni, memasak:

My love of all things ice cream stayed with me as I celebrated many milestones. Through college, marriage, moving across country, and starting my first real job, my passion for ice cream never wavered. My experiments with ice cream continued through it all…. Ice cream kept me grounded and focused on a passion while the rest of life flew by. Do I ever get sick of ice cream, you ask? Well, it is a lot like other things I love—I got sick of it every once in a while, but it is not long before I figure out I cannot live without it.

Dengan caranya tersendiri, buku-buku masak menawarkan pembelajaran penting buat saya, yaitu kita bisa berbagi cinta yang tulus tanpa merasa rugi. Kita membantu orang lain bahagia melalui resep makanan yang akan dia masak dengan tangan mereka sendiri. Atau skenario yang lebih baik lagi, kita menyediakan media bonding bagi mereka dan orang terkasih melalui sebuah kudapan lezat, tanpa perlu pergi ke restoran. The best part, though….we help them with STYLE. 

Saya nggak pernah menyangka bisa mendapatkan penghiburan dari buku masak. Apalagi buku masak luar negeri yang jelas-jelas resepnya nggak bakal saya replikasi. Tapi saya bersyukur karena sudah menemukan mereka, memutuskan untuk membaca mereka, dan bisa menyadari betapa besar dampak mereka ke perluasan perspektif yang sedang saya lakukan. Buku masak benar-benar “buku yang tepat di saat yang tepat” buat saya di tahun 2019. Saya rasa ini merupakan awal yang baik untuk kembali mendalami berbagai genre buku dan membaginya di blog buku yang sempat terabaikan tahun lalu.

Bonus: Salah satu resep dari buku Scoop Adventures. 5/5 stars. Klik gambar untuk melihat dengan jelas.



No comments:

Post a Comment