Sunday, 31 May 2026

[Review Buku] Sisters in Yellow oleh Mieko Kawakami

Buku kedua "Project Menghabiskan TBR di Rak" tamat terbaca: Sisters in Yellow yang ditulis oleh Mieko Kawakami. Selesai dalam periode yang cukup singkat berkat banyaknya libur di Bulan Mei. Layaknya novel fiksi yang ditulis dengan baik, saya "terpaksa" merefleksikan hal-hal yang sebelumnya nggak sempat dipikirkan di antara tumpukan pekerjaan sehari-hari.

Thursday, 21 May 2026

[Review Buku] Yesteryear oleh Caro Claire Burke

 

Mau tidak mau saya jadi salah satu "tersangka" dari fenomena di atas. Biasanya checkout 1 atau 2 judul buku per bulan, mulai Bulan Juni ini, saya memutuskan tidak merencanakan budget pembelian buku dulu kecuali saat momen spontan main ke mall yang ada toko bukunya atau ke pembukaan renovasi Gramedia baru dan menemukan judul yang tepat. Masih ada dana 1,1 juta belum dikembalikan Periplus terlepas dari janji mereka meningkatkan pelayanan (prettttt), jadi kayak ada rem otomatis sendiri gitu untuk tidak menghabiskan gaji sejak rupiah terus melemah. Beberapa skincare, gak repurchase. Alat lukis, alhamdulillah aman bisa kepake bertahun-tahun ke depan. Tapi untuk buku, suatu barang yang ketika sudah selesai terbaca, jarang dibuka lagi? Stop stop STOP.

Tuesday, 19 May 2026

Alasan Berhenti Membeli Buku dari Periplus

Duh, berat sekali menulisnya.

Belum pernah saya se-kecewa ini dengan toko buku manapun. 

Jadi kronologinya, Periplus.com sempat memberikan diskon besar bagi boxset Twilight Saga, 61%!!!!

Sebagai seorang yang memberikan tempat khusus bagi Twilight (buku yang memulai hobi dan semangat membaca) di rak, tentu hal seperti ini tidak boleh dilewatkan. Saya pun melakukan konfirmasi dengan admin Periplus.com di kolom chat bawah dan mendapatkan jawaban seperti di bawah ini:

Bayangkan betapa kaget saya ketika beberapa hari kemudian mengecek progress pesanan dan mendapati di-cancel dengan alasan seperti ini:


I mean.....

Dari tanggan 8 Mei 2026 hingga 18 Mei 2026, saya tidak mendapatkan respon apapun terkait uang yang nyangkut di sana. Sudah kontak email CS, meneror kolom chat web, bahkan beberapa kali menghubungi admin Shopee akun Periplus (karena hanya admin Shopee yang merespon). Bayangkan perasaan teraduk-aduk karena ketidakpastian ini. Paling disayangkan adalah kesan saya ke Twilight yang awalnya positif akan selamanya tertempel oleh pengalaman tidak menyenangkan karena kualitas pelayanan yang lepas tangan. Selain itu, budget ini kalau tidak nyangkut, sebenarnya akan saya pakai untuk eksekusi diskon Gramedia x MNC. Belum lagi, pengumuman cancel datang ketika saya lagi santer-santernya nulis draft buku, yang kemudian karena bete, jadi berhenti total dan sampai sekarang masih terus self-bribe biar bisa jalan kenceng lagi. Jadi, kerugian saya dari kejadian ini sangat sangat besar dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan vocer pembelian 100 ribu rupiah. 

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk say goodbye dengan Periplus, toko buku yang sudah saya beli dari tahun 2013. Apa yang akan saya lakukan ke depan? Hmmm mungkin ini pertanda untuk menghabiskan dulu tumpukan TBR di rumah. Kemudian kalau suatu hari saya ingin beli buku judul tertentu, saya bisa ke Water Lily Gramedia atau Opentrolley. Kemarin sempat PO dari Water Lily dan dapat bonus banyak sekali.

Update: refund masuk ke rekening saya pada 29 Mei 2026, jadi uang saya ngendap di sana selama total 21 hari. Voucher dari mereka tidak saya gunakan. 

Thursday, 25 December 2025

Menutup 2025

Goodreads sudah melaporkan progress membaca saya di tahun 2025. Total buku terbaca: 47. Total halaman terbaca: 17.557. Meningkat signifikan dari tahun lalu. Dan meski saya bukan tipe yang mendewakan angka sebagai tujuan pencapaian utama, dari data tersebut saya bisa menarik kesimpulan bahwa di tahun ini.... saya bisa mengelola waktu membaca dengan lebih baik. 

Saturday, 29 November 2025

Monday, 6 October 2025

Buku (-buku) Terbaik 2025?

My therapist friend noted that after writing that one blogpost, my condition seemed to be better. So I should write more. Ini seperti meme Ria Ricis yang, saya pamit.... kemudian nggak lama kemudian, saya kembali (pls tell me you get the reference!). Tanpa malu saya balik lagi dan lagi buat nyerocos hal nggak penting setelah sebelumnya menghilang berpuluh-puluh purnama.

Lantas, apa yang bisa saya yap-kan kali ini?

Mungkin tentang novel yang kemarin barusan tamat, The Borrowed milik Chan Ho-kei (disclaimer: dibaca di Hari Sabtu dan Minggu sambil multitasking berbagai aktivitas nginem sehingga bukan sebuah tanda privilej perempuan tanpa beban keluarga itu, ya). 

Saturday, 13 September 2025

Saya Mau Melukis Juga, Harus Mulai dari Mana?

Dari strategi budgeting untuk beli alat.

Empat tahun berlalu sejak memulai hobi melukis dengan medium gouache. Yang kemudian merembet ke pensil, pen, pensil warna, soft pastel, oil pastel, dan yang paling baru cat air. Saya cukup pede untuk memberikan penilaian bahwa hobi ini bukanlah hobi yang murah. Namun, tidak mustahil untuk dipilih. Dulu saya juga belum mampu menyisihkan budget melimpah untuk membeli alat-alat yang diperlukan. Sempat beberapa kali salah beli, mengakibatkan hanya terpakai di awal-awal saja untuk kemudian bikin penuh kamar, yang untungnya bisa di-giveaway ke teman. Karena itu, perlu dicatat preferensi saya adalah quality over quantity. Alias, lebih baik nyicil beli per bulan 1-3 warna/produk artist-grade daripada gegabah beli 1 set lengkap (puluhan warna) produk student-grade. Bukan berarti anti student-grade juga. Arrrghhhh bingung menjelaskan. Disclaimer, ini cocok untuk dompet saya, semoga cocok juga untuk kalian. Saya urutkan dari momen saya membelinya, ya.

Monday, 11 August 2025

On Being an Actual Adult....

Semakin saya bertambah usia dan bertemu berbagai jenis manusia, ternyata ada banyak pembelajaran yang harus saya ambil dengan cara yang tidak menyenangkan.

Salah satunya adalah kebiasaan berbagi.

Terlihat dari rekam jejak blog, bisa dikatakan blog ini ada karena saya suka yapping tentang buku-buku yang saya baca. Bacaan apa yang disukai, tidak disukai, dan yang saya rekomendasikan untuk dipilih karena nggak mau sesuatu yang bagus itu tidak diketahui khalayak.....

Thursday, 2 February 2023

Progress Membaca Januari 2023

Dance of Thieves adalah salah satu buku yang saya beli ketika mampir ke Periplus Jogja. Bulky dan cukup berat, saya bela-belain tenteng keluar masuk Malioboro Mall dan Starbucks dan juga jalan kaki panjang menuju parkiran di ujung jalan sono. Buku ini bercerita tentang Jase Ballanger yang baru saja diangkat sebagai Patrei (semacam raja) setelah ayahnya meninggal secara mendadak. Di masa-masa berkabung ini, banyak musuh siap menyerang untuk mengambil alih wilayah dan bisnis keluarga Ballanger. Salah satu pesan terakhir ayah Jase adalah untuk mengundang Queen of Venda untuk hadir dan mengakui wilayah mereka sehingga baik kawan maupun lawan dapat lebih menghargai kedaulatan mereka. Sebelum itu tercapai, Jase perlu waspada penuh terhadap segala bentuk gangguan yang terjadi di wilayahnya, termasuk ketika Kazi membuat keributan dengan salah satu penjual pasar. Namun, satu tindakan ceroboh membuat mereka berdua tertangkap segerombolan penjual budak untuk dijadikan pekerja tambang di negara jauh sana. Terjebak bersama Kazi thanks to rantai di antara kedua kaki mereka, Jase, yang harus segera kembali ke keluarganya untuk menghadiri upacara pemakaman ayahnya (simbol Patrei pengganti siap mengambil alih) harus memutar otak untuk bisa keluar dari situasi ini. Dua tokoh utama di series ini memiliki misinya masing-masing dan saya sangat menghargai penulis yang menciptakan tokoh all-around green flag semacam Jase Ballanger. Bikin saya semangat buat lanjut ke sekuelnya.

Sunday, 1 January 2023

2022 ➡️ 2023

Another year. Another reflection.

Berakhir 1 tahun tanpa kabar di blog ini. Mungkin beberapa bisa saya singkat pada poin-poin berikut:

Friday, 28 October 2022

[Review Buku] The Reading List oleh Sara Nisha Adams

Halo. Sudah lama saya tidak duduk sebentar untuk ngobrol tentang buku.

Setahun belakangan, saya merasakan preferensi membaca berubah dari nonfiksi menjadi fiksi. Membaca yang awalnya merupakan proses edukatif, berganti jadi sebuah sarana rekreatif. Karena itu, setelah menamatkan 1 buku, biasanya akan langsung lompat ke buku berikutnya tanpa ada proses internalisasi. They did their job, so I'll move on to other book to continue the job. Proses yang....dibilang kurang sehat? Saya jadi nggak bisa memaksimalkan hikmah yang seharusnya bisa didapat. Dan kurang bisa take notes tentang kondisi diri. Tapi, cara tersebut cukup membantu saya melanjutkan hari-hari yang penuh stres. 

Biar ada sedikit faedah (hehe) untuk buku yang saat ini saya baca, mau saya laporkan di blog. Saya lagi baca sebuah novel, nih, yang saking bisa bersimpati dengan karakter-karakter di dalamnya, bikin saya menghabiskan banyak stabilo beraneka warna.

Friday, 4 June 2021

Progress Membaca Januari - Mei 2021

Di awal pandemi, saya si introvert naif merasa sangat secure karena berpikir waktu untuk melakukan hobi-hobi egois akan jadi semakin panjang. Yah, salah satunya membaca. Berapa buku yang saat itu saya ekspektasikan akan terbabat habis? Enam puluh? Seratus?

Realitanya sih, dari pandemi dimulai hingga akhir tahun 2020, saya NYARIS tidak bisa menamatkan satu pun buku! Yang pada akhirnya tertamatkan pun tidak disertai dengan pengalaman yang enjoyable, sehingga sering terpikir, "Apa gunanya membaca jika tidak mendatangkan percikan rasa bahagia dan takjub atas informasi baru?" Karena itu, di awal tahun 2021, saya tidak berekspektasi muluk-muluk. Di Goodreads pun, saya hanya mematok goal untuk menamatkan 3 buku saja dalam satu tahun. Yeah, the bar is really that low. Mau baca, silahkan. Mau libur dan cari hobi baru, silahkan. Toh, belajar nggak cuma datang dari buku.

Makanya, heran juga saya ketika per akhir Mei, saya berhasil menamatkan 6 buku. Genre terpilih macam-macam, disesuaikan dengan suasana hati saat itu. 


Poisoner in Chief adalah buku PO ketika masih jaman suka baca biografi sejarah. Nunggunya lama banget, dan setelah melewati proses maju-mundur, eliminasi-eh nggak jadi dieliminasi, trus eh nekat beli (dengan saldo-saldo terakhir di rekening), pada akhirnya saya membacanya dengan ekspektasi yang nggak wajar tingginya. Memang sih informasi yang dijabarkan lengkap, tapi saya tuh merasa ada yang kurang. Bisa jadi saya nggak cocok sama gaya penulisannya, atau memang saya nggak peduli-peduli amat setelah informasi yang menggugah saya sebelumnya sudah terjawab oleh penulis di awal bab, atau..... karena buku ini gagal memberikan konklusi yang jelas. Sisi positifnya sih, saya jadi paham tentang detail MK-ULTRA dan betapa teganya penguasa yang mengatasnamakan kepentingan satu negara untuk menjustifikasi tindakan keji dan tidak manusiawi. 

Wednesday, 18 November 2020

Progress Membaca Bulan November 2020 (Sejauh Ini)

Rasanya aneh tidak menulis blogpost setelah sebelumnya cukup rajin "laporan" di sini. Mau gimana ya, kenyataannya memang belum ada buku yang saya tamatkan lagi. Jadi, sekarang saya mau cerita saja buku-buku yang lagi terbaca. Kondisinya memang belum pada tamat, jadi beberapa pendapat mungkin bisa berubah suatu hari nanti:


Monday, 2 November 2020

[Review Buku] The Searcher oleh Tana French, The Room-maid oleh Sariah Wilson, dan The Unhoneymooners oleh Christina Lauren

Better done than perfect. Di awal Bulan November ini, saya mau merekap buku-buku yang sudah terbaca tapi belum diulas pada Bulan Oktober dalam satu postingan. Semuanya fiksi. Dan semuanya berkesan. 


Saturday, 24 October 2020

[Review Buku] Mexican Gothic oleh Silvia Moreno-Garcia


Oke. Karena saya lagi dapat sedikit udara segar dan juga lagi istirahat dari kegiatan melukis (biar nggak burnout), saya mau cerita saja tentang novel yang saya tamatkan sebelum membaca The Invisible Life of Addie LaRue, yaitu Mexican Gothic.


Wednesday, 21 October 2020

[Review Buku] The Invisible Life of Addie LaRue oleh V. E. Schwab

Kemarin saya sempat bilang kalau novel yang bagus adalah yang bisa bikin saya peduli sama karakternya. Ternyata, sekarang saya menemukan tingkatan di atasnya lagi, yaitu novel yang bisa bikin saya mempelajari passion dari karakter dalam buku dan mencobanya! Benar-benar berinvestasi pakai uang dan waktu, memulai dari nol dan berbodoh-bodoh ria sampai akhirnya bisa merasakan kepuasan batin yang dialami karakter.


Thursday, 8 October 2020

[Review Buku] Beach Read oleh Emily Henry


Beach Read adalah novel genre romance-comedy yang baru saja saya tamatkan. Premis ceritanya tentang dua penulis rival, January Andrews dan Augustus “Gus” Everett, yang “kebetulan” bertemu kembali setelah January pindah ke North Bear Shores, Michigan. January mewarisi beach house milik ayahnya yang (1) baru ia ketahui keberadaannya setelah ayahnya meninggal dan (2) dibeli untuk “memfasilitasi” kehidupan rahasia sang ayah dengan selingkuhannya. Sebagai anak kesayangan yang selama ini menganggap ayahnya sosok sempurna, penemuan tersebut sungguh mengguncang January hingga ia sulit untuk menulis novel kelimanya. She’s dealing with betrayal on top of massive grief, hal yang benar-benar berseberangan dengan tema bubbly, feel-good story, with a touch of happily ever after ending, kiblat tunggalnya dalam menulis.

Sunday, 4 October 2020

[Acara TV] Three Meals a Day: Fishing Village 5


Three Meals a Day termasuk acara ragam Korea yang rutin saya ikuti tiap tahun. Konsep acara ini adalah sekelompok selebriti ibukota yang tinggal di desa terpencil selama beberapa hari dan harus menopang hidup mereka (makan 3x sehari) dari hasil bekerja di sana. Jika lokasinya di gunung, berarti mereka harus berkebun, jadi buruh tani, atau usaha-usaha lainnya. Jika lokasinya di pulau, mereka kemungkinan bergantung besar pada hasil melaut dan hasil kebun. 

[Review Buku] The Guest List oleh Lucy Foley


Pemilihan novel ini sebenarnya spontan saja: saya buka situs Amazon Book, klik Best Book of the Month, pada “by Category” memilih Mystery and Thrillers, dan menyeleksi yang kira-kira ratingnya masih tinggi meskipun yang menilai banyak. Sebelumnya tidak pernah tahu Lucy Foley sebagai penulis, tidak fanatik juga dengan genre thriller. Hanya blind faith sambil berdoa…. PLEASE (!!!) jangan kecewakan saya seperti buku yang terbaca sebelumnya.

Dan memang buku ini sama sekali tidak mengecewakan.

Friday, 2 October 2020

[Review Buku] The Tea Room on the Bay oleh Rachel Burton


The Tea Room on the Bay merupakan novel contemporary yang menceritakan tentang Eloise Caron (Ellie) yang memiliki The Two Teas, sebuah kafe teh artisan sukses di Sanderson Bay. Ellie yang sebelumnya merupakan mahasiswa PhD di York University “kabur” ke kota kecil dan membeli kafe milik Paman-Bibinya setelah Marcus, mantan pacarnya, mendadak memutuskan hubungan dan “mencari jati diri” ke Thailand. Tipikal kota kecil dengan masyarakat yang akrab satu sama lain, kafe milik Ellie melengkapi kehidupan warga Sanderson Bay dalam beraktivitas. Keinginan Ellie untuk membangun hidup baru yang lebih baik pun makin terpenuhi ketika Ben Lawson, lelaki tampan bermata abu-abu, datang berkunjung ke Sanderson Bay.