Monday, 16 March 2015

[Book Review] Confess by Colleen Hoover

Confess
penulis Colleen Hoover
320 halaman, New Adult/ Contemporary Romance
Rating: 
Dipublikasikan 10 Maret 2015 oleh Atria Books

SINOPSIS:
Auburn Reed has her entire life mapped out. Her goals are in sight and there’s no room for mistakes. But when she walks into a Dallas art studio in search of a job, she doesn’t expect to find a deep attraction to the enigmatic artist who works there, Owen Gentry.

For once, Auburn takes a risk and puts her heart in control, only to discover Owen is keeping major secrets from coming out. The magnitude of his past threatens to destroy everything important to Auburn, and the only way to get her life back on track is to cut Owen out of it.

The last thing Owen wants is to lose Auburn, but he can’t seem to convince her that truth is sometimes a subjective as art. All he would have to do to save their relationship is confess. But in this case, the confession can be much more destructive than the actual sin…


REVIEW:

Auburn kesulitan mencari uang untuk membayar jasa seorang pengacara. Pekerjaan utamanya sebagai karyawan salon tidak bisa menutup besarnya biaya yang ia butuhkan. Di usianya yang ke-21, hidupnya berantakan karena dia terlalu banyak mengambil keputusan yang salah di hidupnya. Setiap hari ia hanya menangisi nasib buruknya dan berharap keajaiban akan datang dan menyelamatkannya.

Keajaiban akhirnya datang dalam bentuk tanda HELP WANTED, Knock to Apply di sebuah bangunan yang selalu ia lewati ketika berangkat dan pulang bekerja.


Awalnya Auburn sangsi, karena Owen, sang pemilik bangunan yang ternyata juga merupakan studio itu bersedia membayar $100 per jamnya. What kind of weirdo does that? Apa pekerjaan yang sebenarnya ditawarkan oleh Owen? Pertanyaan itu terjawab ketika Auburn memasuki studio milik Owen yang ternyata, akan dibuka untuk pameran kurang satu jam lagi. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di studio tersebut, Auburn langsung terpesona dengan lukisan-lukisan yang ada di sana. Bukan hanya karena lukisan-lukisan tersebut luar biasa indah (beberapa gambar lukisan dilampirkan dalam buku ini), tapi karena setiap lukisan diwakili oleh secarik kertas Pengakuan a.k.a Confess. Tiap harinya, orang-orang menuliskan Pengakuan di secarik kertas kecil dan memasukannya ke selot pintu studio Owen, yang kemudian akan dijadikan inspirasi olehnya dalam melukis. Pengakuan-pengakuan itulah yang membuat tiap lukisan begitu indah, jujur, dan menuntut untuk didengar (ok well, dibaca… atau dilihat, you know what I mean). Berbagai emosi langsung berkecamuk dalam diri Auburn ketika melihat dan membaca Pengakuan di tiap-tiap lukisan yang ada di sana.

Di luar segala prasangka yang Auburn punya, dia ternyata menikmati pekerjaan barunya sebagai asisten Owen dalam melayani pengunjung pameran. Ditambah, uang yang ia hasilkan cukup untuk menumbuhkan kembali harapannya dalam menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi.

Namun pertemuannya dengan Owen menyeretnya dalam masalah yang lebih besar. Masalah yang mengancamnya untuk kehilangan orang yang selama ini susah payah ia perjuangkan.

Source

Saya sudah baca beberapa novel Colleen Hoover, namun belum semua. Hal ini mungkin sudah cukup saya jadikan bukti bahwa saya berpendapat CoHo memakai formula yang nyaris sama di novel-novelnya. Kalau di Confess ini, mungkin bedanya ada di ketiadaan puisi yang selama ini setia muncul di beberapa judul… setahu saya sih yang pakai puisi itu Slammed, Point of Retreat, This Girl, dan Ugly Love. Plot cerita, kondisi emosi tokoh (dalam artian apa yang saya rasakan ketika membaca narasi dari tokoh-tokohnya), gaya penulisan…. sama. Bisa dibilang ini membuat CoHo memiliki gaya yang khas di mata saya dibanding penulis lain, namun di sisi lain saya juga mulai bosan ketika ia membahas hal itu lagi, itu lagi. Pakai cara yang begitu lagi, begitu lagi.


Yang jadi masalah adalah Confess diceritakan bergantian dari sudut pandang Auburn dan Owen. Kemotonan pada gaya penulisan menyebabkan baik suara Auburn dan suara Owen bagi saya sama. Terlebih, si Owen ini makin kesini makin mirip sama Will Cooper-nya Slammed Series. Duh, jeng. Aku kudu piye. Seharusnya diceritakan dari salah satu tokoh aja cukup lah, daripada jadinya kayak gini.

Dan duh, kemana perginya CoHo yang dulu sering bikin hancur perasaan saya? Jalan cerita Confess ini jauuuuuh banget dari ekspektasi yang saya pasang. Hambar, terlalu banyak drama, dan bikin pusing saking capeknya saya rolled eyes rolled eyes mulu. Karena ketika masalah datang, yang seharusnya kamu lakuin adalah berpikir dan cari solusi biar masalahnya cepetan selesai. Bukannya malah flashback ke masa lalu dan sibuk nyusun kata-kata puitis.

Untungnya Confess ini lumayan asyik juga buat ngabisin waktu, daripada bengong. Dan syukur deh sukses menarik saya dari book hangover yang akhir-akhir ini lagi melanda. Apalagi banyak gambar lukisan keren yang ada di beberapa bagian buku. Oooookay, I guess. 

Kesimpulannya….. Confess ini enggak sekacrut Ugly Love. Tapi tetep aja, tidak memenuhi harapan saya sebagai penggemar lama CoHo. Jadi dua bintang cukup lah, atas nama masa lalu, ok?


Some secrets should never turn into confessions. I know that better than anyone.


Novel ini saya rekomendasikan buat yang belum pernah baca karya Colleen Hoover sebelumnya. Kalau sudah pernah, yaudah berarti jangan hahaha.

3 comments:

  1. CoHo kayaknya demen makai dua sudut pandang untuk cerita yang sama, sebenernya baus juga sih kita bisa tahu suara hati kedua tokoh utama tapi kalau mengulang, capek juga bacanya. tapi sejauh ini aku tetap selalu menunggu karya CoHo lainnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga anehnya gitu mbak. walaupun udah kecewa berat sama ugly love, pas tahu novel ini terbit langsung comot dan dibaca aja wkwk semacam guilty pleasure gitu lah. masih belum baca losing hope series sama maybe someday, yang katanya nih, karya coho yang paling bagus.
      tapi setelah ini mau libur bentar dari hal-hal yang berbau coho, biar nggak begitu bias haha.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete