Saturday, 17 September 2016

[Review Buku] It Ends With Us oleh Colleen Hoover

It Ends With Us
penulis Colleen Hoover
384 halaman, New Adult (NA)/ Contemporary Romance
Rating: image
Dipublikasikan 2 Agustus 2016 oleh Simon & Schuster Ltd.

I think about how sometimes, no matter how convinced you are that your life will turn out a certain way, all that certainty can be washed away with a simple change in tide.

Hayo siapa yang sudah nunggu-nunggu buku ini buat diterjemahkan? Saya baca duluan lhooooo #ditabok


Saya kaget dengan antusiasme pembaca blog ini sama review Confess yang mencapai ribuan penayangan. Padahal saya ya cuma misuh-misuh aja di sana. Mungkin karena belum diterjemahkan ya, jadi banyak yang penasaran. Nah, makanya buat novel ini saya usahakan bikin reviewnya juga walaupun badan capek dan mata udah siwer. Baik ya saya hehehe.

Seperti yang sudah dijelaskan di review November 9, novel Colleen Hoover tu untung-untungan banget buat selera saya. Kalau bagus ya menurut saya masuknya bagus bangeeet sampe bikin susah move on, kalau jelek ya jeleknya ampun-ampunan sampai pengen banting bukunya deh rasanya. Tapi ah, jangan….. mahal bok wkwk (novel-novel Colleen Hoover ini nggak tau kenapa mahal banget bisa di atas 200 ribuan kalau penerbitnya Atria). Untuk hak terbit It Ends With Us tidak dimonopoli oleh penerbit Atria lagi seperti masa awal-awal karir menulis Colleen Hoover, sehingga penerbit Simon & Schuster bisa menerbitkannya dengan harga yang lebih terjangkau. Di Periplus novel ini cuma 160 ribu, dan ada diskon member jadi 144 ribu saja saudara-saudara. Buruan samber gih, soalnya It Ends With Us itu bagus bangeeeeeet.


Novel ini bercerita tentang Lily Bloom, wanita 24 tahun yang tinggal di Boston. Ayahnya baru saja meninggal, dan walaupun Lily tidak menyukai sang ayah, kematiannya membuat Lily butuh waktu untuk menenangkan pikirannya—di rooftop gedung milik orang lain. Di tempat itu Lily bertemu dengan Ryle, si ganteng yang berprofesi sebagai neurosurgeon (terkesan cheesy kan, tapi eksekusinya bagus banget dan membuat pertemuan ini tidak terkesan cheesy!). Lily dan Ryle saling berbagi cerita, dan tumpahlah semua uneg-uneg Lily terhadap sang ayah yang begitu abusif kepada ibunya. Sang ayah bahkan hampir membunuh Atlas, teman Lily ketika berumur 15 tahun yang homeless. Lily pikir, dia tidak akan bertemu dengan orang asing ini lagi kan, jadi apa salahnya mengeluarkan semua keluh kesah yang ia pendam selama ini?

Well, salah besar.

Beberapa bulan kemudian Lily bertemu kembali dengan Ryle. Singkat cerita, Lily semakin mengenal Ryle sebagai seorang yang pintar dan selalu membuatnya bahagia. Adik Ryle pun menjadi sahabat pertama yang ia miliki sekaligus karyawan terbaik yang membantunya mendirikan toko bunga impiannya dari nol. Namun saat hubungan mereka sudah semakin dekat, Lily dipertemukan kembali dengan Atlas. Sembilan tahun membawa perubahan besar bagi Atlas. Dia kini sudah mapan, memiliki sebuah restoran bernama Bib’s sekaligus menjadi chef terbaik di Boston. Tidak ada dilema di hati Lily, sungguh, hingga ia merasakan pukulan pertama dari Ryle.

Fifteen seconds. That’s all it takes to completely change everything about a person.

Mau tidak mau saya membandingkan novel ini dengan Confess, entah karena alasan apa. Dari segi desain sampul, saya lebih menyukai It Ends With Us. Lebih niat gitu. Dari segi cerita? Saya jauuuuuh lebih suka It Ends With Us jugak! Astaga, jauh jauh jauh banget. Dual POV tidak diberlakukan di sini, jadi kita hanya akan memandang cerita dari sudut Lily Bloom saja. Kerasa sekali runtutnya cerita kalau Colleen Hoover memakai teknik single POV seperti ini. Plotnya juga bagus, dengan “kebetulan-kebetulan” yang bisa penulis buat sedemikian rupa hingga tidak nampak seperti kebetulan di mata saya. Bagian flashbacknya juga rapi sehingga saya tidak pusing mengikuti alur ceritanya yang bolak-balik.

Colleen Hoover membahas bagaimana rasanya terjebak di sebuah hubungan abusif tanpa terkesan men-judge sama sekali. Hal ini membuat It Ends With Us cenderung lebih dalam dan personal bagi saya. Novel ini membuat saya berpikir bahwa tidak seharusnya kita melabeli perempuan yang bertahan dalam hubungan tidak sehat sebagai seseorang yang “bodoh” atau “lemah.” Seriously, novel ini membuat segalanya yang saya pertanyakan menjadi masuk akal. Argumen-argumen Colleen Hoover dapat saya terima dengan baik, dan percayalah bahwa keputusan yang Lily ambil di sini adalah hal-hal yang mungkin akan saya pilih jika saya ada di posisinya (semoga jangan sampai ya). Mungkin untuk kalian bisa memahami kata-kata saya ini, kalian harus baca sendiri bukunya.

She’ll pity me. She’ll wonder why I never left him. She’ll wonder how I let myself get to this point. She’ll wonder all the same things I used to wonder about why my own mother when I saw her in my same situation. People spend so much time wondering why the women don’t leave. Where are all the people who wonder why the men are even abusive? Isn’t that where the only blame should be placed?

Memang ya baca novel-novel Colleen Hoover ini harus disesuaikan dengan mood dulu. Bisa dibilang It Ends With Us adalah novel yang tepat pada saat yang tepat bagi saya. Saya Team Atlas banget lah di sini, walaupun terkesan berkhianat gitu lebih milih chef daripada dokter.


Berikut ini adalah novel-novel Colleen Hoover diurutkan dari yang paling saya suka sampai yang paling tidak saya suka ya:

Maybe Someday
Paling favorit deh selamanya! Saya belum membuat reviewnya ya, karena tidak yakin apakah saya bisa merangkai kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya buat novel ini. Tapi, ah….kalian bakal tahu sendiri ketika membacanya.

Slammed Series
Harusnya It Ends With Us menempati urutan kedua, tapi Slammed Series adalah novel Colleen Hoover yang saya baca pertama kali. Kesan saya akan seri ini sangat mendalam, sehingga penempatannya ke peringkat kedua lebih ke masalah sentimental saja.

It Ends With Us
Saya rasa tidak perlu dibahas lagi, sudah saya jarbarkan panjang lebar di atas.

November 9

Ugly Love
Saya punya love & hate relationship sama novel satu ini. Di satu sisi saya tidak suka sama perlakuan Miles ke Tate, tapi di sisi lain saya suka sekali dengan bagaimana kisah mereka dituturkan oleh Colleen Hoover. Endingnya juga bikin saya gagal benci hehehe memang ini bener-bener Ugly Love.

Never Never Series
Novel ini sangat unik bagi saya. Dulu jauh sebelum membacanya, saya sempat “termakan” oleh review orang lain yang mengatakan bahwa novel ini kacrut dan sangat tidak direkomendasikan oleh ybs. Membuat saya menahan novel ini di TBR entah berapa lamanya. Namun, setelah saya baca….tidak seburuk yang saya kira. Sangat menikmatinya malah. Dan ada untungnya juga lho saya menunggu, karena saat saya baca ini tepat banget sama terbitnya buku ketiga yang juga buku terakhirnya. HA! No cliffhanger for me!
Jadikan pelajaran saja ya, review itu bukanlah kiblat yang harus kita percayai 100% dengan pasrah. Karena ya memang sifatnya subyektif, bisa saja jelek bagi orang belum tentu jelek juga buat kamu.

Confess
UGHHHHHH.........

3 comments:

  1. Waah, saya juga suka banget maybe somedaynya collen hoover mbak. super suka.
    tapi kayaknya emang sulit bikin review-nya. butuh telepati buat bener bener menyalurkan perasaan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. YUP :) nggak tau juga nanti versi terjemahannya bisa sama-sama bikin patah hati apa nggak pas baca

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete