Showing posts with label New Author Reading Challenge 2015. Show all posts
Showing posts with label New Author Reading Challenge 2015. Show all posts

Monday, 18 May 2015

[Book Review] Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe

Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
penulis Benjamin Alire Sáens
368 halaman, YA/ LGBT
Rating: image
Dipublikasikan 21 Februari 2012 oleh Simon & Schuster


We all fight our own private wars.

Trigger Warning: LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) 

Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe mendapat perhatian dan pujian yang cukup besar di kalangan pembaca YA. Hype yang dibawa oleh buku ini sebenarnya sangatlah overwhelming (terlihat dari stiker-stiker penghargaan yang hampir menutupi sampul bukunya) dan sempat membuat saya ragu untuk memilihnya sebagai bacaan bulan ini. Lalu kemudian saya berpikir…. Dammit, I can read whatever I want.


And so I did.

Bagaimana menceritakan buku ini? Saya tidak tahu. Tidak ada plot cerita yang jelas. Singkatnya mungkin seperti ini: Aristotle (kemudian dikenal sebagai Ari) adalah seorang anak laki-laki dengan berbagai konflik di dalam dirinya. Suatu ketika Ari pergi ke kolam renang, dan dia bertemu Dante. Mereka kemudian menjadi sahabat.

Hubungan Ari dan Dante ini…. belum pernah saya temui di buku-buku YA lain. Mereka seperti bergravitasi satu sama lain. Berbeda dengan Ari yang senantiasa diliputi amarah dalam dirinya, Dante ini begitu murni. Dia adalah anak laki-laki paling manis di dunia dengan jiwa paling bebas yang pernah saya temui. Dante inilah yang mampu merubah cara pandang Ari terhadap dunia.

As Dante was watching me search through the lens of a telescope, he whispered, “Someday, I’m going to discover all the secret of the universe.”
That made me smile. “What are you going to do with all those secrets, Dante?”
“I’ll know what to do with them,” he said. “Maybe change the world.”
I believed him.

Dari teknik penulisan yang didominasi oleh percakapan antar tokoh (sampai kadang saya bingung line ini yang ngomong siapa, line berikutnya yang ngomong siapa), saya dapat lebih merasakan interaksi antartokoh. Seolah saya berada di sana, langsung mendengarkan mereka bertukar kata. +1.

Mungkin ini yang bisa saya katakan kenapa Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe bisa begitu dicintai pembacanya: gaya penulisannya begitu indah dan jujur. Dan terasa seperti naik roller coaster. Di beberapa bagian (terutama di awal) akan terasa dataaaaar karena buku ini hanya menceritakan kehidupan dua remaja biasa dan persahabatan mereka yang bisa dibilang juga cukup biasa. Alurnya cukup lambat dengan beberapa kejadian penting muncul. Mungkin satu dua baris akan menarik perhatian saya. Kemudian saya melanjutkan baca dan tiba-tiba…. BAM!!!! I CAN’T BREATHE! Kelak saya tahu kalau Benjamin Alire Sáens ini adalah seorang pujangga. Asdfghjkl.


Orangtua Ari dan Dante memegang peran sangat besar di sini. Mereka bahkan mendapat porsi yang hampir sama dengan Ari dan Dante sendiri. Hal yang tidak banyak ditemui di YA lain. Hubungan Ari dan Dante dengan masing-masing orang tua mereka mendapat perhatian besar dari saya, terutama ketika mereka saling bercanda. They had unique senses of humor. Sayang tokoh Susie Bryd dan Gina kurang dieksplor oleh penulis, sehingga membuat kemunculan mereka seolah hanya untuk membangkitkan/ menyelesaikan masalah yang dihadapi Ari.

"It's just that sometimes I have things running around inside me, these feelings. I don't always know what to do with them. That probably doesn't make any sense."

Tema LGBT yang diangkat oleh novel ini mungkin tidak begitu kontroversial di luar sana, tapi di masyarakat yang masih memegang unsur agama yang kuat akan muncul beberapa ketidakcocokan. Novel ini berusaha sejujur mungkin menggambarkan bagaimana nasib para LGBT (dalam kasus ini gay) di kalangan masyarakat tahun 1980-an, ketika hal-hal semacam itu masih sangat dipandang sebelah mata. Banyak sekali yang saya pelajari dari buku ini, dan saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mungkin memang harus membaca sendiri untuk menemukan sudut pandangnya masing-masing.

Bisa dibilang novel ini adalah jenis novel yang akan meninggalkan pembacanya untuk “berpikir” jauh setelah mereka menamatkannya. Dan mungkin, mungkin…. di luar sana, novel ini telah merubah banyak cara pandang orang-orang dan juga hidup mereka.

“Sometimes, don’t you just want to stand up and yell out all the cuss words you’ve learned?”


Yes, Ari. I do.

Sunday, 19 April 2015

[Book Review] All the Bright Places by Jennifer Niven

All the Bright Places
penulis Jennifer Niven
400 halaman, YA-Depression, Suicide
Dipublikasikan 6 Januari 2015 oleh Knopf Book for Young Reader


An exhilarating and heart-wrenching love story about a girl who learn to live from a boy who intends to die.

Theodore Finch is fascinated by death. Every day he thinks of ways he might die, but every day he also searches for—and manage to find—something to keep him here, and alive, and awake.
Violet Markey lives for the future, counting the days until graduation, when she can escape her small Indiana town and her aching grief in the wake of her sister’s death.


Review Singkat All the Bright Places:

Saya suka buku ini. 5-bintang-suka, rela-begadang-sampai-pagi-buat-menamatkannya-suka. Gaya penulisannya sendiri sedikit mengingatkan dengan gaya penulisan John Green. Malahan secara umum si Finch ini bikin agak de javu dengan Miles Halter/ Pudge (Looking for Alaska) dan Quentin “Q” Jacobsen (Paper Towns). Walaupun begitu saya lebih bisa menikmati gaya penulisan Jennifer Niven (sorry Mr. Green!).

“The problem with people is they forget that most of the time it’s small things that count.”

All the Bright Places adalah novel YA pertama dari Jennifer Niven. Beliau aslinya adalah penulis novel-novel New Adult, dan walaupun baru kali pertama dia menjajal ladang YA, tidak ada kesan kaku atau amatir di sini. Sebaliknya, saya merasakan bahwa All the Bright Places adalah suatu karya personal bagi Jennifer (bahkan situs germmagazine.com benar-benar ada dan ter-update sesuai dengan yang disebutkan di novel). Berdasarkan Author’s note di bagian akhir buku, buku ini terinspirasi dari pengalaman masa muda Jennifer (yang menurut saya sungguh tragis karena seseorang di usia sebelia itu harus mengalami begitu banyak kehilangan). TEARS, TEARS EVERYWHERE.

Novel ini baru diterbitkan awal Januari 2015 lalu, namun pengurusan hak cipta untuk adaptasi filmnya sudah selesai sejak pertengahan 2014. Konon katanya, Elle Fanning  akan memerankan Violet. GO VIOLET REMARKEY-ABLE!!!


“…here’s what I think: I think I’ve got a map in my car that wants to be used, and I think there are places we can go that need to be seen. Maybe no one else will ever visit them and appreciate them or take the time to think they’re important, but maybe even the smallest places mean something. And if not, maybe they can mean something to us. At the very least, by the time we leave, we know we will have seen it, this great state of ours. So come on. Let’s go. Let’s count for something. Let’s get off that ledge.”

Sunday, 5 April 2015

[Book Review] Made You Up by Fransesca Zappia

Made You Up
penulis Francesca Zappia
448 halaman, Young Adult/ Mental Illness
Rating:  image
Dipublikasikan 19 Mei 2015 oleh Greenwillow Books

 SINOPSIS:
Reality, it turns out, is often not what you perceive it to be—sometimes, there really is someone out to get you. Made You Up tells the story of Alex, a high school senior unable to tell the difference between real life and delusion. This is a compelling and provoking literary debut that will appeal to fans of Wes Anderson, Silver Linings Playbook, and Liar.

Alex fights a daily battle to figure out the difference between reality and delusion. Armed with a take-no-prisoners-attitude, her camera, a Magic 8-Ball, and her only ally (her little sister), Alex wages a war agains her schizophrenia, determined to stay sane long enough to get into college. She’s pretty optimistic about her chances until classes begin, and she runs into Miles. Didn’t she imagine him? Before she knows it, Alex is making friends, going to parties, falling in love, and experiencing all the usual rites of passage for teenagers. But Alex is used to being crazy. She’s not prepared for normal.
Funny, provoking, and ultimately moving, this debut novel featuring the quintessential unreliable narrator will have readers turning the pages and trying to figure out what is real and what is made up.


REVIEW:

Alexandra didiagnosis menderita schizophrenia sejak kecil. Schizophrenia, menyebabkan Alex tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya rekaan alam bawah sadarnya. Karena itulah ia tidak yakin apakah insiden Pembebasan Lobster ketika ia berumur tujuh tahun benar-benar terjadi. Dan apakah anak laki-laki bermata biru yang membantunya melepaskan lobster-lobster itu nyata atau hanya khayalannya belaka.

Bertahun-tahun ia mencoba melawan penyakitnya itu. Ke manapun Alex pergi, ia selalu membawa kamera untuk mengabadikan setiap momen yang ia lihat. Sesampainya di rumah, Alex akan mencetak foto-foto tersebut untuk memastikan mana yang nyata dan mana yang bukan. Walaupun ia tahu kalau kadang-kadang otaknya memainkan trik aneh, mau tak mau Alex menjadi orang yang paranoid. Dia selalu melakukan parameter check, memastikan siapa saja orang yang ada di sekitarnya, dan memeriksa apakah ada tanda-tanda bahaya mengancam untuk menyerangnya.

I didn’t have the luxury of taking reality for granted. And I wouldn’t say I hated people who did, because that’s just about everyone. I didn’t hate them. They didn’t live in my world. But that never stopped me from wishing I lived in theirs.

Usahanya untuk melebur menjadi normal mulai menunjukkan tanda-tanda kegagalannya ketika ia bertemu dengan Miles Ritcher di sekolahnya yang baru. Miles mengingatkan Alex kepada si anak laki-laki bermata biru di Insiden Pembebasan Lobster dahulu. Setelah sekian lama meyakini suatu hal hanya khayalan belaka, Alex harus menabahkan diri bahwa kalaupun benar Miles adalah teman pertamanya dulu….. jelas tidak lagi sekarang. Miles yang super jenius rupanya menjadikan “Mengganggu Alex” sebagai hobi favorit nomor satu sedunia. Tapi bukan berarti Alex diam saja, karena Alex lah satu-satunya penghuni sekolah ini yang menjadi korban jahil Miles dan berani melawan.

When he finished reading, he did something so surprising that I almost dropped the Bunsen burner and set the kid across from me on fire. He laughed. Our neighbors turned to stare at us, because Miles Ritcher laughing was one of those things that the Mayans had predicted would signal the end of the world. He wasn’t particularly loud about it, but it was Miles laughing, a sound no mortal had ever heard before.

Pengalaman membaca buku ini merupakan hal baru yang unik bagi saya karena si tokoh utama sendiri pun tidak tahu mana yang benar-benar terjadi dan mana yang cuma khayalan. Kadang saya bingung dengan ke mana cerita mengarah, tapi lama-kelamaan saya mengerti apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang penulis. Brilian, penuh kejutan, dan menggugah rasa penasaran! Luar biasa ketika saya tahu bagaimana cara otak seseorang yang *ehem sori* agak berbeda dari kita bekerja, karena bukan berarti ada yang kurang dari diri mereka. Justru sebaliknya, cara berpikir mereka benar-benar unik sehingga membuat saya merasa kalau otak saya ini membosankan dan lambat.  I need moooore inspiration juices for my brain.


Dan yang bikin saya takjub lagi nih, Made You Up ini merupakan sebuah karya debut! Francesca Zappia benar-benar masuk kategori penulis favorit saya sekarang. Tokoh Alexandra yang dia buat ini sangat likeable. Pintar, kuat (dalam artian nerd tapi nggak bakal tinggal diam kalo kena bully), dan super witty. Nggak ada yang lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu di kepala seseorang yang tahu bagaimana memaikainya dengan baik (terlepas dari eror yang sering terjadi. Tapi karena ini takdir Tuhan, saya bisa maklum). Apalagi gaya penulisan dan humornya juga pas. Endingnya apalagi, benar-benar di luar dugaan saya. Rada bingung juga sih dengan eksekusi dari masalah-masalah yang muncul…. atau ini hanya perasaan Dek Sany saja? *halah apasih*

Saya beruntung mendapatkan ARC novel luar biasa ini dan guys, you guys…….read this book ASAP!


“People say teenagers think they’re immortal, and I agree with that. But I think there’s a difference between thinking you’re immortal and knowing you can survive. Thinking you’re immortal leads to arrogance, thinking you deserve the best. Surviving means having the worst thrown at you and being able to continue on despite that. It means striving for what you want most, even when it seems out of your reach, even when everything is working against you. And after you’ve survived, you get over it. And you live.”

Friday, 13 March 2015

[Book Review] I'll Meet You There by Heather Demetrios

I’ll Meet You There
penulis Heather Demetrios
400 halaman, Young Adult/ Contemporary Romance
Rating: image
dipublikasikan 3 Februari 2015 oleh Henry Colt & Co. BYR

SINOPSIS:
If seventeen-year-old Skylar Evans were a typical Creek View girl, her future would involve a double-wide trailer, a baby on her hip, and the graveyard shift at Taco Bell. But after graduation, the only standing between straightedge Skylar and art school are three minimum-wage months of summer. Skylar can taste the freedom—that is, until her mother loses her job and everything starts coming apart. Torn between her dreams and the people she loves, Skylar realizes everything she’s ever worked for is on the line.

Nineteen-year-old Josh Mitchell had a different ticket out of Creek View: the Marines. But after his leg is blown off in Afghanistan, he returns home, a shell of the cocksure boy he used to be. What brings Skylar and Josh together is working at the Paradise—a quirky motel off California’s dusty Highway 99. Despite their differences their shared isolation turns into an unexpected friendship and soon, something deeper.


REVIEW:

When we were freshman, Chris and I had promised each other that we’d be the ones to get out—we called it our Sacred Pact. We nagged each other all throughout high school, when one of us wanted to be lazy or give in to giving up. Whenever I liked a boy, Chris had been all, The pact! The Pact! Because, of course, romance was bad for GPAs.

Saya punya pendapat yang cukup beragam mengenai I’ll Meet You There. Secara pribadi, saya sangat menikmati membaca buku ini…..atau mungkin terlalu menikmati? Entahlah, butuh waktu lebih dari satu bulan bagi saya untuk menamatkannya. Bukan karena ceritanya membosankan loh ya, saya cuma ingin benar-benar memahami cerita yang disuguhkan oleh sang penulis dengan tidak terburu-buru membacanya.

Tema yang diangkat Heather Demetrios sebenarnya sederhana, tanpa ada plot twist yang bombastis. Menceritakan tentang dua remaja muda, Skylar dan Josh, kita diajak untuk mengenali kehidupan masyarakat pinggiran kota yang hidup dan bernapaskan kemiskinan. Skylar, yang harus mengambil 3 pekerjaan di luar waktu sekolahnya untuk membayar tagihan sehari-hari….. dan Josh, yang walaupun sudah merasakan kebebasan sementara dengan menjadi tentara yang dikirim ke Afghanistan, harus kembali dengan trauma berat dan kehilangan sebelah kakinya. Karena, tahu sendiri lah, hidup itu bisa sebegitu jahatnya. Josh yang mengerti rasanya memiliki rumah di luar Creek View, mengerti kekeraskepalaan Skylar untuk segera keluar dari kota kecil ini. 

The other towns needed us: you can’t have the light without the dark, right? Maybe our darkness was necessary for other people to see their light.

Jelas di sini Heather Demetrios benar-benar menuangkan segala kemampuannya dalam I’ll Meet You There. Disamping bakat luar biasanya dalam menulis, dia melakukan riset mendalam kepada beberapa mantan Marine (termasuk ayahnya sendiri!). Nggak heran di bab-bab Josh yang walaupun pendek, saya benar-benar bisa merasakan emosi gelap Josh sebagai mantan prajurit yang harus kembali ke kampung halamannya dalam keadaan kurang, baik dari sisi fisik maupun emosional.

Berbeda dengan Skylar (saya suka sekali sama nama dia!). Heather Demetrios berhasil menciptakan sosok tokoh utama yang kuat dan tabah. Skylar bukan tipe heroine humoris manis yang membuat kamu menyukainya sejak paragraf-paragraf pertama. Dibesarkan dalam lingkungan yang keras, saya menemukan bahwa sosok Skylar lumayan pahit. Ketika tinggal selangkah lagi dia bisa menggenggam tiket keluarnya dari Creek View, cobaan datang. Hal yang dialami Skylar cukup menjengkelkan bagi saya, karena yang menghalangi Skylar untuk mendapatkan kebebasannya adalah ibunya sendiri. Ibu seharusnya menjadi pelindung dan pendukung bagi anaknya, bukan malah jadi beban. Ya, saya tahu ibunya sedang berduka karena kehilangan suami yang merupakan belahan jiwanya. La la la….. Tapi Skylar juga kehilangan sosok ayah. Hidup tanpa ayah dan sekarang ibunya tidak bisa membantunya menopang hidup karena "berduka"......well, forgive me for being this cranky.

Why is it that some people in the world get to wake up in beautiful houses with fairly normal parents and enough food in the fridge while the rest of us have to get by on the scraps the universe throws at us? And we gobble them up, so grateful. What the hell are we grateful for?

Novel ini terasa begitu realistis sampai saya takut untuk menamatkannya.

Namun terlepas dari kebencian mereka terhadap Creek View, Skylar dan Josh tetap dapat menemukan keindahan di sana... kebahagiaan-kebahagiaan sederhana yang mungkin bagi penduduk lain Creek View tampak tidak berharga. Saya jadi penasaran buat tahu seperti apa Creek View versi I'll Meet You There di kehidupan nyata.

Mungkin saya tidak mendapat pengalaman yang sama dengan Skylar dan Josh, yang harus terjebak di kota kecil nan terisolasi serta dipenuhi oleh orang-orang yang betah tinggal di sana. Tapi satu hal yang sama, saya ingin keluar dari kota yang selama ini menaungi saya. Saya haus pengalaman untuk merasakan kehidupan di luar Semarang, walaupun dalam waktu yang sebentar. And hell yeah I did.


Terlepas dari hal-hal di atas, pengalaman membaca I’ll Meet You There terasa seperti tiket sekali perjalanan bagi saya. Tidak ada keinginan sama sekali untuk membaca ulang di masa mendatang. Satu kali saja cukup, dan saya senang karena sudah benar-benar menikmatinya di perjalanan pertama—dan terakhir—ini.

My blood was carbonated, and I was awake and young and alive, and screw everything because this moment was mine.


Monday, 2 March 2015

NARC 2015 Update (Jan-Feb)

Januari

The Pirate Next Door by Jennifer Ashley
Novel historical fiction pertama saya dan suka banget!!! Heroine milik Jennifer Ashley ini selalu strong dan witty tanpa perlu dibuat-buat. Saya sudah mencapai buku ketiga dari seri ini dan menyimpan buku keempatnya ketika mood untuk historical fiction muncul kembali.

Falling into Place by Amy Zhang
Novel bertema bullying yang disorot dari pihak si penggencet. Banyak banget yang saya pelajari dari buku ini; tentang apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk, dan yang paling penting tentang bagaimana sebaiknya kita memperlakukan orang lain. Sangat saya rekomendasikan!


Wish You Were Italian by Kristin Rae
Traveling? Italia? Cocok baca buku ini. Review sudah diposting.

Fallen Too Far by Abby Glines
Pendapat pertama saya mengenai buku ini adalah duh dan meh. Tapi nyatanya, saya sudah tamat sebagian besar buku dari seri ini dan sangat familiar dengan para penduduk Rosemary Beach. Teknik penulisan Abby Glines semakin lama semakin membaik lah. Kacrutnya cuma di buku pertama aja. So if you curious, you have to bear this first book.


For Real by Alison Cherry
Termasuk buku baru yang underrated padahal bagus. Review sudah diposting.

The Girl in 6E by Alessandra Torre
Bikin penasaran banget. Tapi cuma itu aja sih strong point dari buku ini. Jatohnya, membaca buku ini terasa seperti lagi balapan, pengen cepet-cepet nyampe akhir cerita. Bobotnya sih nggak ada wkwk.


Februari 


Wait for You by J. Lynn
KECEWA, KECEWA, KECEWA. Tipikal cerita standar good girl meets bad boy. Apalagi eksekusinya jelek banget. Meh.


Diposting untuk New Author’s Reading Challenge Periode Januari-Februari 2015

Monday, 9 February 2015

[Book Review] For Real by Alison Cherry

For Real
penulis Alison Cherry
340 halaman, Young Adult
Rating:  image
Dipublikasikan 9 Desember 2014 oleh Delacorte Press

Why do you want to be on this show (besides the million-dollar prize)?
MIRANDA: I spent the last year dating a self-involved, cheating asshole who wants to be famous. He’s on your show. I’m here to keep him from succeeding.
ME: I’m here to support my sister. Letting her loose in the world of reality TV on her own world would be like tossing a baby into a swimming pool without water wings.

Kalau kalian mengharapkan novel bertema road trip antar dua sahabat (seperti yang disiratkan oleh cover) siap-siap aja untuk kecewa. Eits jangan khawatir, novel ini menjanjikan premis yang jauh lebih baik kok: reality show! Tahu sendirilah, udah buanyak banget penulis yang mengangkat tema road trip sampai saya capek sendiri ngikutinnya. Tapi kalau reality show… wah saya belum pernah baca tuh sebelumnya. Maka ketika tahu seseorang bersedia membagi informasi tentang dunia reality show, saya siap menyambutnya dengan tangan terbuka.


Miranda baru saja putus dengan pacarnya, Samir, yang memang dari radius lima mil sudah mengeluarkan aura brngsk. Baru ketemu beberapa menit saja, Claire sudah tahu bahwa pacar (atau tepatnya mantan) kakaknya itu adalah cowok paling arogan, narsis, dan menyebalkan di muka bumi. Dan firasatnya langsung terbukti ketika Samir mengkhianati dan mempermalukan kakaknya di depan teman-temannya, tepat seminggu sebelum Miranda dan Samir pindah untuk tinggal bersama.

Untuk menghibur kakaknya itulah, Claire mengajukan alternatif balas dendam yang bakal lebih menyakitkan bagi Samir. Mereka akan mengikuti Around the World, mengikuti jejak Samir yang sudah lebih dahulu lolos menjadi peserta. Around the World merupakan reality show yang mengajak pesertanya keliling dunia untuk memenuhi tantangan-tantangan tertentu, dan tim yang paling terakhir memenuhi tantangan akan tereliminasi (and say goodbye to 1 million dollars). Miranda dan Claire akan bekerja sama untuk mengeliminasi Samir, yang juga berarti bakal mengakhiri jalan karirnya di depan televisi selamanya. (Man, girls can be such a freakin bitch, so just don’t messing around with us okay? It’ll end dirty).

“I know it’s not something you’d normally do. But come on, don’t you want to take him down in front of the whole world? Everyone would remember that. Every single time he went to an audition, he’d be ‘that guy who got his butt handed to him by his ex-girlfriend on TV.’ Nobody would ever respect him again.”

Dengan pengetahuan tak-terbatas Claire terhadap reality show (thanks to all those endless reality shows marathons) dan cerita “menyedihkan” Miranda, mereka memantapkan diri untuk mengikuti audisi dadakan. Claire bertekad untuk membantu kakaknya membalas dendam dan juga memperbaiki hubungan kakak-beradik mereka yang selama ini renggang. Dan kamu tahu apa yang mengejutkan? Mereka benar-benar lolos audisi!! Para produser menelan bulat-bulat cerita mereka. Tim lain yang lolos bersama mereka adalah Will dan Lou. Claire tidak menyangka bahwa Will, cowok cute yang ia kenal ketika mereka mengantri audisi juga terpilih. Tapi dengan senyum manis dan kepribadiannya yang supel, siapa yang bisa menolak Will? 


Malapetaka dimulai ketika tema Around the World tahun ini diumumkan: Around the World in Eighty Dates. Yang artinya….. masing-masing peserta akan berpasangan laki-laki—perempuan. Yang artinya…… Miranda dan Claire harus terpisah. Yang artinya……………… bakal ada kemungkinan Miranda untuk berpasangan dengan Samir.



Yang bikin saya cukup terkejut adalah destinasi pertama mereka: Surabaya! Yep, seneng rasanya waktu tahu kalo ada seorang penulis yang mau repot-repot menyorot negara kita. Di kota Surabaya pula!!! (biasanya kan, Bali lagi…. Bali lagi….). Selain Surabaya, destinasi dan tantangan mereka di negara lain juga unik-unik lho :))) Jangan kira perjalanan mereka bakal super mewah dan jalan-jalan cantik aja ya, karena produser mereka getol sekali mengerjai mereka dengan tantangan paling EWH dan aneh. Saya masih geli ketika Claire dan Will (mereka berpasangan di tantangan ini!) harus minta tolong sama penduduk lokal bernama Taufik untuk mencari ikan asin dan srikaya di Pasar Pabean :’)))) bener-bener ditulis ‘ikan asin’ dan ‘srikaya’ di kertas tantangan mereka. Bikin saya agak bersyukur juga sih sama negara-negara macam kita gini soalnya selain punya bahasa nasional sendiri, kita tetep diwajibkan buat mempelajari bahasa universal semacam Bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dll. Jadi jatohnya nggak manja dan malas belajar.

“And the next question. Um….if you could only eat food beginning with one letter of the alphabet for the rest of your life, which letter would you choose?”
“Ooh, good one.” He thinks about it for a minute, and I take that time to concentrate on banishing my blush. “I’d choose P. I’d be able to have pizza and pasta and pad Thai and peanut butter. And pie, obviously.”
“What would you put the peanut butter on?”
“Pumpernickel. With peach preserves.”
I laugh. “Nice.”



Dunia reality show ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh Claire. Marathon beberapa acara TV pun tidak terbukti mampu mempersiapkan diri pada kenyataan pahit yang harus ia alami sewaku mengikuti Around the World: di reality show…. tidak ada yang benar-benar real.

“Claire…you know there’s nothing actually real about reality show, right?”
“Yeah, of course I know that. The producers manipulate the story and fabricate drama. And thins are filmed out of order, and—“
“No, I mean, everything. You don’t have to be yourself when the cameras are on. People come on these shows, and they get characterized as the nerds, or the daredevils, or the bimbos, but that isn’t necessarily who they really are, it’s just who they’ve become for the producers and the viewers. You can be anyone you want.”

Hal itulah yang membuat saya agak jengkel sama Claire, karena dia sombong. Padahal pengetahuan yang ia gembor-gemborkan itu hanyalah beberapa tipuan dasar yang ditanamkan para produser untuk diyakini para penontonnya. Kalau bukan karena bantuan pasangan-pasangan timnya, mungkin Claire sudah tereliminasi dari awal. Maka dari itu nggak heran di Around the World in Eighty Dates, Claire terkesan seperti peserta yang paling polos. Dan menyedihkan, karena bahkan Miranda pun berulang kali “menjatuhkan” dia baik saat mereka melakukan tantangan atau saat mini interview.

Kalau saya jadi Miranda sih, saya juga bakal jengkel. Claire mulai membelok dari tujuan awal mereka mengeliminasi Samir sih dan malah menghabiskan setiap waktunya untuk mengejar Will, bahkan ketika Claire dan Will sudah tidak satu tim lagi. Masuknya sudah bukan tahap kepo lagi, tapi stalker. Claire juga cenderung men-judge peserta lain dari penampilan dan latar belakang mereka. Uggghhh.


Tapi itulah yang membuat novel ini istimewa di mata saya. Sikap menyebalkan Claire mengingatkan saya sama diri saya sendiri di masa lalu (walau nggak separah dia sih) ketika masih silly, menyebalkan, judgemental, dan sok tahu. Di Around the World inilah Claire belajar untuk mengenali kesalahannya dan berubah jadi lebih baik, nggak jarang melalui komentar pedas orang lain. Andai saja saya baca novel ini sejak dulu—wkwk padahal juga baru terbit beberapa bulan yang lalu—pasti saya juga bisa mengenali kesalahan saya dan belajar lebih cepat.

Secara umum, For Real ini adalah novel yang super menyenangkan!!! Gaya penulisannya bagus, tidak ada fakta yang dilebih-lebihkan di tiap destinasi mereka, dan plotnya selalu memberikan kejutan bagi pembacanya. Bikin saya penasaran buat membaca karya lain Alison Cherry. Kalau ditanya apakah saya bakal membaca ulang novel ini di lain waktu, jawabannya adalah YA!!! Ayo dong penerbit Indonesia terjemahin novel ini! 

Sunday, 25 January 2015

[Book Review] Wish You Were Italian by Kristin Rae

Wish You Were Italian (If Only #2)
penulis Kristin Rae
323 halaman, Young Adult/ Traveling
Dipublikasikan 6 Mei 2014 oleh BLOOMSBURY

From here on out, I’m not regretting this decision. I’m going to enjoy every minute, every catcall, every gelato scoop, sunset, pizza slice, and spaghetti strand. I’ll check in with everyone intermittently so they don’t get suspicious, take my prize-winning photographs, and have the experience of a lifetime. The kind of summer people only dream of. I’m going to live it.

Saya memulai membaca Wish You Were Italian dengan ekspektasi yang cukup tinggi, mungkin karena tema yang diusung adalah ITALI dan TRAVELING. Sejak dulu saya sudah jatuh cinta setengah mati dengan hal-hal yang berbau Eropa, apalagi kalo yang dibahas adalah kota-kota cantik dengan gedung-gedung bersejarah yang masih terawat dengan sangat baik sampai sekarang. Maka ketika akhirnya saya bisa mendapatkan copy yang merupakan buku kedua dari serial If Only, saya singkirkan semua TBR list yang sudah mengantri untuk segera melahap buku ini. Bahkan saya tidak membaca buku pertamanya (Fool Me Twice). 


Pippa seharusnya melanjutkan perjalanannya ke Florence-Italia untuk mengikuti program belajar Art History, tapi karena sejak awal ibunya-lah yang bersikeras agar Pippa ikut program itu, maka dia memutuskan untuk berhenti di Roma dan memulai perjalanannya sendiri. Karena berada di Eropa di saat libur musim panas? Hmmm…..

Berbekal jurnal perjalanan yang berisi “tugas” dari sahabatnya, uang cash pemberian Dad, dan kamera canggih hadiah dari Gram… untuk pertama kalinya Pippa mengikuti kata hatinya sendiri dan sekaligus membawa risiko besar yang harus ia tanggung ketika ia pulang nanti.

When in Rome…. eat gelato first.

Untungnya Pippa tidak harus berkeliaran sendirian di negeri orang. Ketika menikmati gelato untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan Darren dan Nina yang merupakan siswa asal Amerika yang datang ke Italia untuk tugas praktek. Darren dan Nina berbaik hati untuk menemani Pippa berkeliling Roma. Walaupun hanya bertemu sebentar dengan Darren, hari-hari Pippa di Italia jadi jauh lebih menyenangkan. Dan walaupun Darren bukan orang Italia (goal no. 10: Fall in love with an Italian!), muncul bibit-bibit suka di antara mereka (ya, ya, masing-masing masih dalam tahap denial).

Di Italia pula Pippa bertemu dengan Chiara, gadis yang tidak sengaja ia temui ketika Pippa membeli pastry. Chiara-lah yang menawari Pippa untuk tinggal di rumah bibinya di Riomaggiore selagi dia mengunjungi tempat yang terus-menerus direkomendasikan oleh beberapa orang yang ia temui, Cinque Terre. Apalagi Chiara ternyata punya sepupu seorang Italiano super ganteng, Bruno. Mendapatkan sahabat dan crush di Italia merupakan bonus luar biasa bagi Pippa dalam perjalanan ini.

**Saya tidak tahu apakah ini disebabkan karena saya ini orangnya super paranoid, tapi bertemu orang asing di Italia dan diajak menginap di rumahnya? Astaga, kalau saya jadi Pippa sih saya langsung pegang paspor erat-erat dan lari sejauh-jauhnya.


Iya, iya, ini cuma fiksi haha. Mungkin penulis mencoba untuk menonjolkan sikap ramah penduduk Italia, yes? Sejak kemunculan Bruno saudara-saudara, saya sudah curiga…. aduh bakal ada cinta segitiga nih keknya. Damn. Ternyata bener. Menurut ngana, di antara dua cowok itu, siapa yang bakal dipilih oleh Pippa ya kira-kira? Apakah Darren yang easygoing dan baik hati, atau Bruno si ganteng penuh kharisma—yang tentunya masuk kategori goal no. 10 dari daftar yang ia buat selama Pippa berada di Italia?


Kalau boleh jujur, sebagai buku dengan tema traveling, saya bisa kasih empat bintang. Jenis-jenis tempat yang dikunjungi Pippa beragam dan begitu menarik perhatian saya; dari mulai yang paling terkenal, yang wajib dikunjungi turis, hingga sudut kota yang sering luput dari perhatian penulis. Sebagai pembaca yang haus informasi akan Italia, saya bahagia. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk menamatkan buku ini karena waktu saya habis cuma buat googling. Kristin Rae hebat dalam mendeskripsikan tempat-tempat indah di Itali! Sebagian tempat yang dikunjungi Pippa antara lain:

ROMA





RIOMAGGIORE 
(tempat Pippa menginap bersama keluarga bibi Chiara)





(Nama-nama tempat di atas bakal kalian ketahui ketika kalian baca buku ini).

Sayangnya, Mrs. Rae kurang ahli dalam meramu plot cerita. Sebagai buku yang mengangkat tema romance, apalagi dengan betapa banyak potensi bisa yang digali dari sudut tempat, tokoh, dan cerita, novel ini menurut saya kualitasnya sangat kurang. Masalah utama yang paling mengganggu adalah gaya penulisannya. Kadang saya sreg, kadang tidak. Kadang ada penggalan-penggalan kalimat/ percakapan yang seharusnya bisa jadi istimewa, tapi karena eksekusinya jelek jadinya saya tidak bisa dapat feelnya. Dan terlalu banyak kebetulan. Saya bisa maklum kalau ini adalah novel fiksi dengan berbagai kemungkinan yang bisa muncul, tapi dengan berbagai keberuntungan dan kebetulan yang ada, malah jatuhnya jadi terasa klise. Dan cheesy. Tipe-tipe romance yang cuma bakal kamu temukan di film TV. Kurangnya kualitas penulisan dan kadar cheesy yang ada di dalamnya itulah yang membuat saya nggak bisa dapet feel antara Pippa dan Darren/ Pippa dan Bruno. Semuanya bisa tertebak. I NEED MOREEE CHEMISTRY IN THIS BOOK!!!!

Lihat kan bagaimana perjuangan saya menghadapi dilema ini. Di satu sisi saya suka dengan konten yang ada di dalamnya, tapi di sisi lain saya tidak suka. Apa di antara kalian ada yang sudah baca novel ini? 


Bagaimanapun pendapat saya mengenai buku ini, tetap tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk membaca buku ketiganya, Not in the Script (yang covernya juga lucu banget, walaupun masih lebih suka sama cover Wish You Were Italian sih). Dan juga baca buku pertamanya, Fool Me Twice! Ya ampun, kebiasaan buruk banget deh baca lompat-lompat gini. Seri If Only ini memang ditulis oleh 3 penulis yang berbeda, maka dari itu prasangka saya terhadap satu buku tidak bakal membuat saya menghindari buku-buku yang lainnya.

I noted this quote:

The perfect man needs more than a cute face and big biceps, because even those muscles will one day shrivel. But good character, hopefully, will not. List five attributes of the perfect man:
1.       Loyal
2.       Trustworthy
3.       Smart
4.       Funny
5.       Real

 And please…. please…. take me to Italia!