Showing posts with label Young Adult Reading Challenge 2014. Show all posts
Showing posts with label Young Adult Reading Challenge 2014. Show all posts

Thursday, 11 December 2014

[Book Review] Dash & Lily's Book of Dares

Dash & Lily’s Book of Dares
by Rachel Cohn and David Levithan
260 halaman, dipublikasikan 26 Oktober 2010 oleh Knopf Books for Young Readers
Young Adult, Humor, Christmas

Menjelang pertengahan Desember, musim mulai berganti. Dan semakin mendekati Natal, semakin banyak Christmast Reads yang ingin saya baca, salah satunya ya buku ini. Dash & Lily’s Book of Dares adalah sebuah proyek kolaborasi antara Rachel Cohn dan David Levithan, dan merupakan novel Mr. Levithan kedua yang saya baca setelah Will Grayson, Will Grayson (yang juga merupakan proyek kolaborasi Mr. Levithan dengan John Green). Tidak mengherankan jika di sana sini saya merasakan aura-aura tulisan John Green yang ditandai dengan sarkasme tingkat tingginya. Jadi kalau kamu salah satu penyuka buku John Green dan mencari novel sejenis seperti milik beliau, Dash & Lily’s Book of Dares bisa dijadikan salah satu alternatif bacaan kamu.

***
Ketika sedang menjelajah “surga” pribadinya—atau biasa disebut masyarakat awam toko buku Strand—Dash tidak sengaja menemukan sebuah Moleskine* merah yang berada di antara tumpukan buku-buku yang ia jelajahi. Unsur kepo membuat Dash membuka Moleskine itu, dan ternyata di dalamnya berisi sebuah tantangan:

I’ve left some clues for you.

If you want them, turn the page.

If you don’t, put the book back on the shelf, please.

Namun bukannya mengembalikan Moleskine itu kepada si kasir seperti yang diinstruksikan ketika ia sudah menyelesaikan tantangan yang ada di dalamnya, Dash justru menantang sang penulis balik (dalam kasus ini, Lily) dengan tantangan lain dan menahan buku tersebut hingga Lily menyelesaikan tantangan yang ia berikan. Seperti yang dikatakan oleh Dash…. two can play this game.

Begitulah, Dash dan Lily saling “mengejar tantangan” dengan si Moleskine merah menjadi penghubung di antara mereka. Di dalam Moleskine, Dash dan Lily bisa menjadi orang terjujur di dunia. Berbagi rahasia, berbagi harapan, dan berbagi pengalaman yang mungkin tidak bisa mereka lakukan ketika Lily memutuskan untuk tidak meletakkan Moleskine di tempat awal atau Dash memutuskan untuk tidak membuka dan mengikuti instruksi-instruksi di dalamnya. 

But somehow, knowing the Moleskine was tucked away in my bag, containing our thoughts and clues, our imprints to each other, somehow that made me feel safe, like I could have this adventure and not get lost and not call my brother to save me. I could do this on my own, and not freak out that I had no idea what waited for me on the other side of this night.

Tapi secara tidak langsung, mereka mulai memasang standar tertentu terhadap diri masing-masing. Ide Lily tentang bagaimana sosok Dash, atau ide Dash tentang sosok Lily. Karena bagaimanapun, mereka berdua adalah dua orang asing yang belum pernah bertemu. Jadi apakah sosok nyata mereka akan sama seperti yang tulisan mereka siratkan, atau semuanya hanya perwujudan harapan alam bawah sadar yang terlalu tinggi?

Sofia’s words were nagging at me: Was Lily the girl in my head? And if she was, wasn’t reality bound to be dissapointing?

Saya sedang tidak ingin terlalu mengkritisi buku saat ini. Dengan berbagai tekanan kuliah dan badan yang setengah sakit, saya cuma ingin mengambil kesenangan murni dari membaca. Dan buku ini ternyata tidak mengecewakan!! Tidak cuma satu atau dua kali saya dilirik aneh sama orang-orang di sekitar saya karena tertawa tidak wajar. Tapi karena sahabat-sahabat saya sudah paham sama kelakuan saya sih, alhamdulillah mereka maklum (THANKS GUYYYSSSSS *give an unlimited amount of hugges and kisses*).


Buku ini diceritakan dari dua sudut pandang, dan ditata bergantian antar bab. Baik dari sudut pandang Lily maupun Dash, saya bisa menikmatinya dengan baik. Sebenarnya saya penasaran dengan cara Rachel Cohn dan David Levithan menyusun buku ini, apakah Rachel Cohn yang menulis bab Lily dan David Levithan yang menulis bab Dash? Atau mereka bersama-sama menyusun tiap-tiap babnya? Bagaimanapun teknik yang mereka gunakan, hasilnya sangat memuaskan. Mereka adalah tim yang cocok dalam menghasilkan karya yang indah dan menghibur.

Yang saya pengen bilang di sini, Dash & Lily’s Book of Dares cocok sekali untuk dibaca di suasana-suasana Desember. Desember galau dan ndekem di pojokan buat menangisi diri sendiri? PUHLEASEEE……. Pick this darn good book and cuddle up in your warm bed while the rain is pouring outside your window and devour it!!!!


The important people in our lives leave imprints. They may stay or go in the physical realm, but they are always there in your heart, because they helped form your heart. There’s no getting over that.



*Moleskine adalah sebuah merek buku catatan/ agenda yang begitu terkenal hingga kadang-kadang seseorang menyebut agenda—walaupun mereknya bukan Moleskine—dengan Moleskine. Seperti ketika kita menyebut air minum dalam kemasan dengan Aqua, atau kendaraan umum dengan Daihatsu (ya, saya tahu kamu sering melakukannya).
**Gambar disadur dari lpofimagination dan perpetualpages. Thank you guys!!
***Buku ini dibaca dalam rangka #bookishpinoysreadalong bulan Desember. Akhirnya bisa selesai juga hahaha.

Thursday, 4 December 2014

[Book Review] September Girls by Bennett Madison

September Girls by Bennett Madison
342 halaman, diterbitkan 21 Mei 2013 oleh Harper Collins
Young Adult

“Ever read a fairytale, Sam? They never end well.”

Suatu kebiasaan yang lagi santer banget saya lakukan adalah memilih buku tanpa membaca sinopsisnya terlebih dahulu. Perasaan terkejut ketika plot cerita tiba-tiba berbelok drastis….pasti tidak bisa saya rasakan kalau saya sudah baca sinopsisnya, because let’s face it….sinopsis mengungkap hampir sebagian besar cerita dan konflik. Sure, terkadang teknik ini bisa jadi bumerang bagi saya, karena bisa saja buku yang saya pilih tidak menarik (that happens a lot), atau yang lebih parah, buku tersebut mengangkat tema yang bagi saya sangat sensitif dan tidak bakal saya pilih jika saya tahu sejak awal.

September Girls adalah salah satu buku yang terpilih dari hasil random browsing ini. Kalau tidak salah, buku ini direkomendasikan oleh Goodreads di fitur baru mereka (rekomendasi yang masuk ke Home, bukan yang di sidebar kanan). Yang bikin saya kesengsem sejak awal adalah covernya yang simpel, cantik, tapi tetap ada unsur misteriusnya yang bikin penasaran. Sebenarnya cover yang pertama saya lihat adalah yang versi hardcover ini…


Sam, kakak laki-lakinya Jeff, dan ayah mereka memutuskan untuk berlibur musim panas di Outer Banks of North Carolina, sebuah keputusan sepihak yang diambil sang ayah atas nama untuk lebih menjalani hidup. Ironi sebenarnya, karena ayah merekalah yang menghabiskan beberapa bulan hidup seperti zombie setelah sang istri mendadak kabur ke Women’s Land.

Sesampainya di sana, keanehan mulai menghampiri Sam. Kemana pun ia pergi, akan banyak cewek luar biasa cantik yang meliriknya (mirip sama iklan Axe yang ada bidadari-bidadari jatuh dari langit). Jeff yang jauh lebih keren dari Sam aja hanya dipandang sebelah mata sama mereka. Gadis-gadis itu tidak hanya memiliki tampang luar biasa rupawan, tapi antara satu dengan lain nyaris mirip, hampir seperti saudara. Atau klan. Mereka sama-sama berambut pirang, memakai make up dan pakaian yang menantang, juga semuanya memakai flatshoes. Dan mereka ada di mana-mana….menjadi pelayan restoran, penjaga toko, penjaga bar, dan lain-lain.

She was beautiful but she wasn’t; she was both beautiful and ugly at the same time. Her face changed the longer you looked at it, and the more you looked at it the more you couldn’t put all the pieces together. Just as it was starting to make sense, it all fell apart. She was a page in a book on a dream where you can’t read.

Mereka selalu tersenyum penuh arti kepada Sam, menantangnya untuk mengambil aksi lebih dulu. Tapi apa sebenarnya yang diinginkan para gadis itu dari Sam? Sedikit demi sedikit, Sam berhasil mengungkap siapa sebenarnya mereka. Tapi ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya mereka inginkan dari dirinya. Maka ketika Sam sadar ia mulai jatuh cinta dengan salah satu di antara mereka, dia tahu segalanya tidak akan berjalan dengan baik.

Novel ini dikisahkan dari dua sudut pandang yang ditata secara bergantian antara masing-masing babnya. Yang paling dominan adalah sudut pandang Sam, dan yang satunya adalah dari salah satu Girls (Sam menyebutnya seperti itu sih), Kristle. Bab-bab milik Kristle lebih menceritakan asal-usul bagaimana kaumnya tiba di pantai mistis itu (tau dong, mahkluk apa sebenarnya mereka?). Sebuah terobosan yang cerdas untuk menceritakan detail cerita tapi tetap bisa memakai sudut pandang pertama tokoh utama, karena si Sam masih dibiarkan penasaran, sedangkan para pembaca sudah mulai menyatukan kepingan-kepingan puzzlenya. Ditambah, banyak sekali informasi yang bisa saya gali seputar putri duyung…. tentang asal usul mereka, kehidupan mereka, dan pengetahuan lain yang luar biasa menarik. Tentunya, ini semua murni dari versi sang penulis. Bukan universal.

Our father is the Endlessness. Our mother is the Deepness. Our brothers are Speed and Calm. We are…

Yang perlu diperhatikan adalah novel ini memiliki alur yang lambaaaaaaaatttt sekali. Ibaratnya nih saya sampai harus nyeret diri sendiri buat melalui bab-bab awal. Tapi patut dicatat juga…. ini summer book lho, bukan fantasy atau dystopia yang memang tujuannya buat bikin dag dig dug tarakdungces dan bikin pembacanya jantungan. Sempat beberapa kali berdebat buat menyerah/ dnf dan pindah buku lain. Tapi kalo sama objek benda mati saja saya nggak bisa setia, gimana nasib pacar saya nanti? #EAAAAAAAA


Dan begitulah saudara-saudara, akhirnya pengorbanan saya tidak terbuang percuma. Awal-awal cerita memang hoamh banget karena penulis lagi giat-giatnya buat membangun latar dan penokohan, yang berubah mengikuti perpindahan keluarga Sam. Semakin lama, cerita semakin menguat dan akhirnya saya tidak perlu menyeret diri sendiri lagi (it’s just okay, I guess…. not amazing or anything). Karena sejak awal latar dan aspek-aspek lain sudah dibangun dengan baik….tidak ada bagian yang ambigu atau terkesan out of place. Lagian, saya sudah awal sudah bisa menebak makhluk macam apa si Girls ini.

Mungkin cukup terlambat untuk membaca September Girls di suasana yang sudah autumn seperti ini, tapi hey, summer books symbolizes freedom and I need a goddamn break and freedom right now.



It’s this beach. It’s what it’s all about. This is where people come to disappear.


PS: Review ini saya dedikasikan khususnya untuk New Auhor’s Reading Challenge karena beberapa bulan ini, saya lebih berfokus untuk melahap buku berseri atau buku terbitan author favorit saya. Juga Books in English Challenge…… ditambah Young Adult Challenge….. *eaa sebut aja semua, San*

Sorry I abandoned y’all!


Sunday, 16 November 2014

[Book Review] Racing Savannah

Racing Savannah
penulis Miranda Kenneally
304 halaman, Young Adult/ Realistic Fiction

“I get what you’re saying. I really do. And I’d hate to hurt you. This sport has never safe or easy. But when you already have nothing, shouldn’t you take a risk to try to find something different?”

Masih ingat kalau saya berniat melahap semua companion books dari Catching Jordan? Yeah, I did, one by one. Dan saya sama sekali nggak menyesal!! Racing Savannah merupakan buku keempat dari Hundred Oaks series yang mengambil setting serta plot cerita yang sangat berbeda dari buku-buku sebelumnya (well, dunno about Stealing Parker cause I skipped that book). Menurut saya ini adalah poin lebih yang membuat Racing Savannah istimewa. Miranda Kenneally selalu memilih tokoh dengan latar belakang yang berbeda antara satu sama lain, dan sejauh ini Savannah adalah yang paling saya suka! Hanya butuh satu hari buat menamatkannya.


Ayah Savannah mendapatkan tawaran untuk menjadi head groom di Cedar Hill, Tennessee. Cedar Hill merupakan farm tempat pelatihan kuda yang jauh lebih elit dibandingkan tempat ayahnya bekerja dulu. Dengan kondisi keuangan yang sedang kurang mulus karena utang, ditambah mereka sedang menanti kelahiran anggota baru, tentu mereka tidak bisa begitu saja menolak kesempatan emas ini. Untuk membantu meringankan beban keluarganya, Savannah berusaha untuk mendapatkan pekerjaan sebagai exercise rider, dengan bekal pengalamannya berkutat dengan kuda sejak ia berumur empat tahun.

Ketika ia ingin meminta pekerjaan ke pimpinannya itulah, Savannah tidak sengaja bertemu dengan Jack Goodwin. Kudanya, Tennesse Star hilang kendali dan kabur setelah menjatuhkan sang rider. Kemampuannya menenangkan Star membuat ia mendapatkan pekerjaan sebagai exercise rider karena ternyata, Jack adalah pemilik Cedar Hill. Sang ayah, Mr. Goodwin, memasrahkan farm ini kepada putranya walaupun ia masih berusia 17 tahun, karena nantinya dialah yang akan mewarisi bisnis-bisnis keluarga Goodwin.

"I love my dad, but I'm never gonna end up working for minimum wage like him. I want more."

Berbeda dari ayahnya yang sudah merasa cukup dengan pekerjaannya saat ini, Savannah ingin mengejar sesuatu yang lebih dalam hidupnya. Dan dengan bekal bahwa dia satu-satunya yang bisa menjinakkan Star, dia dipercaya Jack untuk menjadi jockey bagi Star agar kuda itu memenangkan pertandingan. Ia tidak hanya menjadi jockey perempuan satu-satunya di Cedar Hill….tetapi jockey perempuan termuda yang pernah ada. Pekerjaannya sebagai jockey memberikannya kesempatan untuk mendapatkan uang lebih bagi keluarganya, terutama untuk calon adik perempuannya yang akan lahir. Selain itu, keterlibatannya dengan kepengurusan Star tidak hanya membuatnya dekat dengan kuda yang hebat tapi manja itu, tapi juga kepada pemiliknya, Jack.


It’s like whenever we’re not at Cedar Hill, we’re normal. Normal people, normal friends, flirting like crazy. Playing waitress at his dinner party the other night seems a million miles away. He’s not my boss out here under the stars.

Tapi di sinilah masalahnya. Jack selalu manis dan super baik kepada Savannah ketika di sekolah tapi mendadak bertingkah serius ketika mereka sedang berada di Cedar Hill. Di satu saat Jack flirting habis-habisan ke Savannah, menit berikutnya dia bakal santai menggandeng cewek lain. Sorry but I think Jack’s kind of a douche. Saya sama sekali tidak respect sama Jack. Laki-laki yang tidak bisa membela pendapatnya sendiri tidak pantas diperjuangkan.

 “Mr. Goodwin would never allow his son to date you.”
It hurts hearing Dad say thay. Because I know it’s true. I’ve heard it from Mr. Goodwin’s own mouth.

Jadi bagaimana bisa Savannah mempertahankan pilihan hatinya jika bukan hanya Jack tidak pantas diperjuangkan, tapi juga bakal terlalu banyak yang ia korbankan? Jika ia mengambil pilihan yang salah, bukan hanya keluarganya nantinya akan kehilangan sumber penghidupan mereka, tetapi juga Savannah akan kehilangan pekerjaannya yang dicintainya sebagai jockey.

Di samping Jack, masih ada masalah lain yang menyita di pikiran Savannah…. yaitu kuliah. Savannah memang tidak pernah menonjol dalam akademis, dan dia berharap akan bekerja di dunia yang dicintainya, horseriding. Bersekolah di Hundred Oaks High School bagi keluarga Savannah sudah merupakan pencapaian yang hebat karena baik ayah dan ibunya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, tapi Savannah menyadari bahwa kehidupannya dan keluarganya tidak akan pernah maju jika ia tidak berusaha mati-matian untuk melawan nasib. Ia tidak ingin dua puluh tahun dari sekarang, ia masih bekerja di Cedar Hill dengan pangkat rendahan. Whoa, pemikiran yang sangat bagus dan dewasa bagi remaja seusia itu.


Salah satu tokoh pendukung yang menarik perhatian saya adalah Rory Whitfield, yang ternyata adalah adik Will (dari Stealing Parker). Aaaaaah saya menyesal sekali kenapa saya bisa skip baca Stealing Parker, karena sepertinya pasangan ini punya porsi yang cukup besar dalam Hundred Oaks series. Dan buat kamu yang suka sama Will+Parker…. pssst bakal ada kejutan besar di buku ini :”) Nggak cuma Will dan Parker, tapi bakal muncul wajah-wajah lama seperti Jordan+Sam dan Kate+Matt, walaupun tidak sebanyak Will+Parker.
Persahabatan antara Savannah, Rory, dan Vanessa termasuk unik dan cukup memberikan ruang gerak yang membuat pembaca tidak bosan dicecokin drama antara Savannah dan Jack. Miranda Kenneally berhasil menangkap suasana countryside dengan baik dan walaupun topik seputar kuda adalah hal yang asing bagi saya, saya bisa memahaminya dengan baik. Dan menikmatinya! (AAAAAHHHHH take me go thereeeee!!). Teknik penulisannya tidak perlu ditanyakan lagi, dan ada keseimbangan antara kisah cinta, persahabatan, dan keluarga. Porsinya pas.


Racing Savannah merupakan kisah rich-boy-meets-poor-girl paling bagus yang saya baca. Banyak yang saya pelajari dari buku ini, dan pastinya Savannah menginspirasi saya buat kuliah lebih rajin lagi, karena…. Hey, I’m way luckier than her right? I should be grateful.

PS: Annie Winters muncul sekilas di buku ini. Dan dia bakal punya kisahnya sendiri di buku kelima Breathe, Annie, Breathe.



Message from Miranda Kenneally:
With this book, Racing Savannah, I wanted to show readers that no matter who you are, where you come from, what you look like, how much money you have—you have the right to go after whatever you want. You have the right to make your dreams come true. Of course, you have to work hard too. Please don’t ever put yourself down. Figure out what you like about yourself and keep learning and going after what you want like Savannah. You rock!

Monday, 20 October 2014

[Book Review] On the Fence

On the Fence
penulis Kasie West
296 halaman, Young Adult/ Contemporary/ Realistic Fiction

“You are in our family.”
“No, I’m not.”
“In all the ways that matter. I told you the other night that you’re stuck. You can’t disown us now.”
“I don’t want to,” he whispered.

Kalau kamu sedang mencari bacaan ringan, dengan tema yang bukan hanya cinta tapi juga keluarga yang meninggalkan perasaan hangat di dalam hati, novel-novel karya Kasie West ini adalah pilihan yang tepat. Saya sudah baca The Distance Between Us, dan sejak saat itu saya bertekad untuk membaca semua novel lain karya beliau. Saya suka ketika membaca buku membuat saya bisa melupakan sejenak stres dan tekanan dalam hidup, bisa tersenyum sampai pipi sakit, dan bisa membuat saya tersadar bahwa saya itu sudah sangat beruntung dengan kondisi saya saat ini. Walaupun saya kadang mikir, heck….where’s my super hot and kindhearted boy?



Charlie—oke, Charlotte sebenarnya—tumbuh dalam lingkungan penuh laki-laki. Ayahnya, tiga orang kakak laki-lakinya (Jerom, Nathan, Gage), dan Braden… yang merupakan tetangga mereka sejak kecil dan selalu menghabiskan waktu bersama keluarga Charlie. Belum lagi para anggota tim sportnya. Bagi Charlie, keluarganya adalah segalanya.

It was true that you could tell a lot about someone by the way they played a game. I knew Jerom was a leader, Nathan followed all the rules to a T, and Gage was laid-back, in it for the fun. What about Braden? What had I learned about Braden over the years from watching him play? He was a team player, never hogged the ball or took it when he couldn’t deliver. He hung in the background a lot, waiting until someone needed assistance. So he was…what? Observant? Not selfish?

Tapi sekuat apapun Charlie menyangkal, tetap muncul perasaan mengganjal bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ibunya meninggal ketika Charlie masih berumur enam tahun, yang hingga sekarang masih memberikannya mimpi buruk (literally). Ayahnya mungkin sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membesarkan Charlie sebagai seorang perempuan normal, tapi pengetahuan ayahnya sangat terbatas. You know what I mean…. stuffs that only a Mom know…. first period, bra, conditioner, even make up…..

I still remembered when I was thirteen and my dad approached me one day. Sweat beaded his upper lip. “Charlie,” he’s said. “Carol at work said you might need a bra.” He said it so fast I almost didn’t catch it. Then both of our faces reddened. “I could take you shopping,” he added. “I guess they have stores where they help you get fitted…and stuff.”

Belum apa-apa saya sudah meleleh sama satu laki-laki di hidup Charlie ini. Bukan hal mudah bagi seorang polisi berwibawa untuk menemani anaknya berbelanja bra. But he tried. So hard, that my heart feels hurt. Kerennya nih, terlepas dari segala ketidaktahuannya akan “masalah perempuan”, Ayah Charlie tahu kapan harus lembut dan kapan harus keras terhadap Charlie. Maka ketika untuk kesekian kalinya Charlie tertilang karena ngebut, ayahnya memutuskan bahwa Charlie harus bertanggung jawab untuk mengganti uang denda tilang itu. Dengan part-time job.

Ironi, Charlie yang tidak tahu apa-apa soal fashion dan make up pun mendapat kerja di sebuah butik. Dan tidak hanya sebatas pramuniaga. Sejak bekerja di butik, Charlie mulai mendapatkan potongan-potongan kehidupan yang hilang dari dirinya. Dia mulai pakai baju yang lebih feminim (aturan kerja), hangout bersama para cewek, belajar dandan walaupun sebatas jadi “kanvas” demo make up, dan flirting dengan cowok. Hal yang sebelumnya tidak pernah dia pikir akan terjadi di hidupnya. Tapi semuanya dia lakukan tanpa sepengetahuan keluarganya. Dia cuma belum sanggup menghadapi reaksi kakak-kakaknya (dan terutama ayahnya).

Selain sisi tomboy dan sisi feminim yang disandang Charlie, ia punya satu sisi lain lagi. Charlie di hadapan Braden. Charlie yang sering bertukar pikiran dengan Braden di pagar mereka. Bagian yang paling saya suka adalah permainan kecil siapa-yang-lebih-mengerti yang selalu mereka lempar satu sama lain. Ah, that little denial feeling when we realize we fall in love with our bestfriend.

Memang, bakal ada sedikit drama di sini. Tapi lebih untuk pengembangan karakter. Suka gemes deh kalo tokoh utama ngelakuin hal bodoh dan kita di sini cuma bisa….


Drama inilah yang bikin saya cuma kasih 3 bintang buat buku ini di Goodreads, seharusnya sih bisa lah dapet 4 bintang.

“You are so clueless. I don’t believe you, the most stubborn girl in the world, would be willing to do that for a guy who’s not even worth the time or effort. You don’t have to pretend to be anyone.”

Aaaaaah saya suka sama buku ini. Terutama bagian percakapan Charlie dan Braden di pagar mereka. Tema keluarga memang selalu dipegang erat oleh Ms. West. Hubungan antara Charlie dengan kakak-kakaknya pun tidak hanya berjalan sebatas saudara. Mereka adalah sahabat, teman curhat, bodyguard, sekaligus musuh bebuyutan bagi Charlie. Tokoh-tokoh pendamping bener-bener bisa menyatu dengan tokoh utama, dan si tokoh utama pun bisa mengalami perkembangan di sepanjang cerita. Saya yang biasanya nggak begitu suka YA berbau sport pun malah bisa menikmati alur cerita dengan baik.

Saya seneng sekali sama perubahan yang dialami Charlie. Dia sebenarnya gadis baik, cuma belum tahu bagaimana "aturan main"-nya dalam kehidupan ini. Ketika dia mulai beradaptasi, ketika itulah sikap annoying-nya berkurang. Sekuat apa pun wanita, dia pasti punya satu titik kelemahan. Kita nggak bisa mengharapkan seseorang "mendadak" berubah jadi sekuat besi, atau sempurna tanpa celah. Kita semua punya kelemahan, cuma ada yang lebih pintar menutupinya. Dan guys, seputih apa pun kebohongan yang kita ucapkan, suatu saat akan berbalik ke kita juga. And not in a good way.

“That’s hard, when someone doesn’t meet our expectations.” She moved around to the other side of the table. “Sometimes we expect more than people are capable of giving at the moment.”

***
Buku lain dari Kasie West yang bakal saya baca dalam waktu dekat ini:


Dan YA Contemporary dari Kasie West yang akan terbit 5 Mei 2015 nanti. Can’t wait!


*) Thank you @ideklinz for allowed me to use your beautiful picture Xxxxx

Saturday, 11 October 2014

[Book Review] Things I Can't Forget

Things I Can’t Forget
penulis Miranda Kenneally
308 halaman, Young Adult/ Realistic Fiction

“I can tell he’s something you’re serious about.”
“How can you tell?”
“He makes you smile when not much does anymore. Even drawing doesn’t make you smile like that.”

Buat kamu yang rajin update buku-bukunya Miranda Kenneally, pasti tau dong kalau Things I Can’t Forget ini adalah companion novel dari Catching Jordan sama Stealing Parker?


Apa itu companion novel? Companion novel itu semacam sekuel, tapi dituturkan dari tokoh yang berbeda dari novel-novel sebelumnya. Biasanya si tokoh utama di companion novel ini sudah pernah muncul sekilas di buku sebelumnya (remember Isla?).

Sudah cukup lama sejak saya terakhir baca Catching Jordan. Mungkin karena temanya nggak sesuai sama selera, atau kemampuan Bahasa Inggris saya yang waktu itu masih belum lancar—bukunya belum diterjemahkan—saya lupa mayoritas ceritanya. Dan saya belum sempat baca yang Stealing Parker hiks. Ketika dihadapkan pada 5 novel Hundred Oaks punya Miranda Kenneally ini, saya langsung naksir sama cover Things I Can’t Forget. Jadi harap maklum kalau saya tidak akan membandingkannya dengan dua novel sebelumnya. (TERUS NGAPAIN BAHAS COMPANION NOVEL SEGALA WOY!!! *dibuang dari bumi*)


Kate baru saja lulus SMA dan akan menghabiskan musim panas sebagai counselor di Cumberland Creek summer camp. Awalnya rencana itu terlihat menyenangkan ketika ia menyusunnya bersama Emily. Tapi persahabatan mereka ternyata harus putus di tengah jalan sejak Emily dihadapkan pada keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang melibatkan Kate. Keputusan yang hingga saat ini masih membuat Kate mempertanyakan apakah Tuhan akan mengampuni dosanya…atau apakah menjadi seorang Kristen taat itu salah sehingga orang-orang menyebut dia Jesus Freak dan judgemental bitch (termasuk Emily).

I laugh. “Thanks for swimming out to save me.”
He looks over at my face. “You saved me once too.”

Untungnya, kamp tidak semengerikan yang ia pikir. Okay, Megan si camp director memang sangat menyebalkan dan dia tidak punya satu orang pun teman seperti Emily. Tapi ketika Matt muncul, perlahan semuanya menjadi lebih mudah bagi Kate. Matt ini sedikit mengingatkan saya sama Jase Garrett di My Life Next Door. Tipe cowok baik-baik yang sayang keluarga. Pokoknya segala yang kamu lampirkan dalam daftar your-book-boyfriend deh. Matt yang tidak pernah pakai alas kaki karena ingin jadi pelari hebat, Matt kesayangan para campers, dan Matt yang setiap malam selalu menyeret kasur ke luar kabin milik Kate untuk menjaga Kate. Gosh, a boy I loved once did those things for me too, long ago.

Berbeda dari novel YA kebanyakan yang saya baca, unsur relijius di novel ini terasa kental sekali. Iman Kate sepertinya sangat diuji di sini. Dibesarkan sebagai seorang Kristen yang taat, Kate mau tak mau mengernyit ketika tahu bahwa para counselor cowok dan cewek saling berbagi kabin. Atau ketika tahu sahabat Parker ternyata gay. Berada dalam titik terendah dalam hidupnya, Kate harus tetap menyesuaikan diri dengan situasinya yang baru. Nah di sinilah Matt terlibat. Dia yang menarik Kate dari zona nyamannya. Dia yang menuntun Kate menemukan jawaban dan “pertanda” yang selama ini ia cari. Apa akhirnya Kate bisa memaafkan dirinya sendiri?

“Thank you,” I whisper, thinking about how he’s like a four-leaf clover. Something you don’t find often. I’d be stupid to mess things up with him just because he’s in a frat, especially when everything else about him fits just right.

Hubungan yang terjalin antara Kate dan Matt dibangun perlahan tapi dengan landasan yang kuat. I have a soft spot for a handsome goof, espesialy the faithful one. Sayang sekali sampai akhir cerita Kate belum mengalami perubahan yang begitu berarti. Oke, mungkin sedikit. Tapi seharusnya dia bisa lebih dari itu. Dari awal saya punya keyakinan yang cukup kuat buat Kate....yah bisa dibilang saya cukup kecewa sama dia.

Oh ya, di buku ini, Parker dan Will dapat jatah yang cukup banyak ternyata. Dan bikin saya nggak menyesal-menyesal amat skip baca buku tentang mereka wahaha #PLAK. Jordan sama Jacob juga muncul sekilas. Jadi buat kamu yang pengen ketemu sama tokoh-tokoh lama kesayanganmu, buku ini semacam reuni manis buat kalian.

Saya suka banget sama suasana kamp musim panas yang mendominasi setting buku ini. See, pengalaman masa kecil saya tentang kegiatan semacam itu hanya sebatas pramuka XD. Tipikal summer book, buku ini bikin saya pengen cepet-cepet packing dan pindah ke sana, atau minimal tinggal setahun dua tahun lah….ngerasain gimana suasana musim panas yang sebenarnya.

Things I Can’t Forget mungkin bukan salah satu novel YA spektakuler yang saya baca, tapi saya banyak belajar banyak hal di sini. Mungkin saya bakal baca buku Miranda Kenneally lainnya (walaupun buku kelima covernya nggak matching) :D


"Learning is never a bad thing. And neither is changing your mind about things... It's always good to reevaluate. To think and consider all sides."



*Foto utama disadur dari akun milik @teenbooksdaily. Terima kasih Jennifer, sudah mengijinkan saya memakai foto kamu untuk review ini. Please go check her instagram account, she’s so talented!!!!

Sunday, 13 April 2014

[Book Review] The Search for Sam by Pittacus Lore

The Search for Sam (The Lost Files #4)
penulis Pittacus Lore
144 halaman, Young Adult/ Science Fiction/ Aliens
Dipublikasikan 26 Desember 2012 oleh Harper Teen

I will live.