Saturday, 24 August 2013

Shadow Kiss (Vampire Academy #3)



Shadow Kiss by Richelle Mead

Penerbit Matahati

505 halaman

Whoa. Bila diibaratkan kurva, sekuel Vampire Academy ini semakin lama semakin naik grafiknya. Kalau awal-awal saya nggak begitu tertarik, sekarang saya sukaaa banget sama ceritanya.Banyak yang bilang kalau novel terbaik dari series ini adalah Shadow Kiss. OMG THEY'RE TOTALLY RIGHT!!!

Enam bulan lagi, Rose akan lulus dan menjadi pengawal Lissa yang sesungguhnya. Tapi……sebelumnya para dhampir harus melalui ujian praktek. Masing-masing dhampir akan dipasangkan dengan Moroi. Para dhampir diharuskan menjaga Moroi mereka selama 24 jam/6 minggu. Rose, yang sudah positif thinking bakal dipasangkan dengan Lissa, harus kecewa karena Lissa akan dikawal dengan Eddie. Sedangkan dia dipasangkan dengan Christian Ozera. 

“Kau akan bekerja dengan baik bersama Lissa,” kata Dimitri. “Karena kau sudah mengenalnya, dan kalian memiliki ikatan batin. Tapi suatu saat nanti, di suatu tempat, kau bisa saja mengawal Moroi yang lain. Kau harus mempelajari cara mengawal seseorang yang sama sekali belum pernah bekerja sama denganmu.”
 


Dan…… ini salah satu yang bikin saya seneng sama buku ketiga. Ada banyak peran Adrian di sini. Entah ya saya kok lebih suka sama Adrian daripada Dimitri. Okeeeeey, Dimitri itu ganteng, gagah, lembut, perhatian, pokoknya suami-able banget. Tapi Adrian? Dia seperti sahabat yang pengen kamu bunuh saking njengkelinnya, tapi kamu nggak berani ngelakuinnya soalnya bakal bikin kamu sedih kalo nggak ada dia lagi.

“Jangan takut, Dhampir Kecil. Kau mungkin saja dikelilingi awan, tapi bagiku kau selalu terlihat seperti matahari.” Aku memutar bola mata. Adrian menjatuhkan rokok ke trotoar lalu mematikannya dengan menginjaknya. “Aku pergi dulu. Sampai jumpa.” Adrian membungkukkan tubuh dengan gagah lalu berjalan menuju penginapan untuk tamu.
“Kau baru saja menyampah!” aku berteriak.
“Tak tersentuh hukum, Rose,” Adrian balas berteriak. “Tak tersentuh hukum.”
 


Suasana hati Rose begitu buruk dengan keputusan Akademi. Apalagi, akhir-akhir ini dia melihat hantu Mason yang sering muncul dan mengejutkannya. Hantu Mason yang berwajah muram seakan ingin memberi tahu Rose sesuatu. Rose masih menyangkal kalau itu benar-benar Mason. Ia berpikir mungkin itu cuma khayalannya saja. Tapi, hantu Mason kembali muncul di saat yang tidak tepat, di saat penguji (para pengawal yang menyamar menjadi Strigoi) sedang menyerang mereka dan menyebabkan Rose dihukum.

[SPOILER ALERT] Satu yang bikin saya gregetan baca ini adalah di saat Rose dan Dimitri sudah membulatkan tekad untuk hidup bersama (mengabaikan segala tanggung jawab mereka sebagai pengawal Lissa), serangan Strigoi besar-besaran terjadi di Akademi, sesuai dengan isyarat Mason). Ada beberapa dhampir dan Moroi yang diculik, sehingga membuat beberapa Moroi dan pengawal melakukan misi penyelamatan di suatu gua yang ditunjukkan hantu Mason.

Memang banyak Moroi, dhampir, dan pengawal yang meninggal. Tapi, di antara semua korban yang ada, hanya jasad Dimitri yang hilang. Ouch, my heart is broke.


“Mason, apa Dimitri sudah mati?”
Mason menggelengkan kepala.
“Apa dia masih hidup?”
Mason menggelengkan kepala.
Tidak mati maupun hidup. Dunia seakan mengambang di sekelilingku, percikan warna menari-nari di depan mataku. Kurang makan membuat kepalaku serasa melayang, dan aku nyaris pingsan. Aku harus bisa mengendalikan diri. Aku harus mengajukan pertanyaan berikutnya. Dari semua korban yang ada… dari semua korban yang bisa mereka pilih, tentunya mereka tidak akan memilih DImitri.
“Apa dia… apa Dimitri berubah menjadi Strigoi?”
Mason ragu sejenak, seolah takut menjawab pertanyaanku, lalu—dia mengangguk.



Seolah semua belum cukup, Rose punya satu hal yang harus dikerjakan. Dulu, sebelum berubah menjadi Strigoi, Rose dan Dimitri sudah berjanji bahwa mereka lebih baik mati dari pada menjadi Strigoi, mahkluk tak berjiwa yang tak berperasaan dan hanya haus akan darah dan membunuh korban mereka. Oleh karena itu, Rose memutuskan untuk keluar dari Akademi dan mencari Dimitri. Membunuh Dimitri dengan tangannya sendiri.

Dimitri, Rose, dan Lissa
Walaupun termasuk penerbit kecil (maksudnya tidak sebesar penerbit Gramedia), kualitas bukunya bagus banget. Dari mulai kertasnya yang tebal, terjemahannya yang bagus, dan tidak ada kalimat atau kata yang typo/ ambigu. Wah editor sama penerjemahnya pasti teliti banget nih. Sayang, covernya nggak begitu menarik
 

2 comments: